Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Improving Students' Understanding of Sholat Procedures at MA DDI Pasangkayu Through Demonstration Method: A Classroom Action Research Patmawati Muslimin1. Ratna2 1 MA DDI Pasangkayu 2 MIS Alkhairaat Pantabatu Correspondence: Patmawatimm89@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. Sholat, demonstration method. Islamic education. MA DDI Pasangkayu, practical skills, student engagement. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to improve students' understanding of the procedures of Sholat (Islamic praye. at MA DDI Pasangkayu using the demonstration method. The research focuses on enhancing students' practical knowledge and skills related to the proper execution of Sholat, which is a fundamental aspect of Islamic practice. The study is conducted in two cycles, each consisting of planning, action, observation, and reflection. In the first cycle, the demonstration method was applied, where the teacher demonstrated the correct steps of Sholat, and students were encouraged to imitate the actions. The second cycle included more interactive elements, such as peer teaching and additional feedback Data was collected through observation, interviews, and assessments to evaluate the effectiveness of the intervention. The results showed a significant improvement in students' ability to perform Sholat correctly, as well as their understanding of its spiritual significance. The study highlights the effectiveness of the demonstration method in teaching practical skills and suggests that this approach can be applied in other areas of religious education. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Sholat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim. Sebagai ibadah yang sangat penting. Sholat tidak hanya harus dilakukan dengan benar dari segi teknis, tetapi juga dengan pemahaman yang mendalam tentang tata cara dan makna spiritualnya. Namun, di banyak sekolah, termasuk MA DDI Pasangkayu, proses pembelajaran tentang tata cara Sholat masih seringkali terbatas pada teori tanpa adanya praktik yang cukup (Iskandar. Hal ini berdampak pada pemahaman siswa yang belum sepenuhnya menyeluruh, baik dalam hal teknik pelaksanaan Sholat maupun makna dari setiap gerakan yang dilakukan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa banyak siswa yang kesulitan dalam memahami tata cara Sholat meskipun telah mendapatkan penjelasan dari guru. Ini karena sebagian besar siswa hanya mengandalkan hafalan tanpa melakukan simulasi langsung atau praktek (Fatimah. Oleh karena itu, dibutuhkan metode yang lebih efektif untuk mengajarkan tata cara Sholat secara praktis dan menyeluruh, yang memungkinkan siswa memahami setiap langkah dengan lebih baik dan melaksanakannya dengan benar. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah metode Metode ini memungkinkan siswa untuk melihat langsung bagaimana tata cara Sholat dilakukan, serta memberi kesempatan bagi mereka untuk menirukan setiap gerakan yang diajarkan (Rahmawati, 2. Berdasarkan penelitian oleh Suryadi . , penggunaan metode demonstrasi terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman praktis siswa terhadap berbagai keterampilan, termasuk dalam pembelajaran agama, seperti pelaksanaan Sholat. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Namun, meskipun metode demonstrasi telah banyak digunakan dalam konteks pendidikan agama Islam, penerapannya dalam mengajarkan tata cara Sholat di MA DDI Pasangkayu masih belum optimal. Penelitian oleh Novita . menunjukkan bahwa banyak guru yang belum sepenuhnya memanfaatkan metode ini secara maksimal. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pelatihan bagi guru dalam mengimplementasikan metode demonstrasi secara sistematik dan efektif dalam pengajaran agama Islam. Kendala lain yang dihadapi adalah kurangnya fasilitas yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran Sholat. Di banyak sekolah, termasuk MA DDI Pasangkayu, fasilitas yang ada untuk mendukung pembelajaran agama, seperti ruang khusus atau alat peraga, masih terbatas (Faisal, 2. Padahal, penggunaan alat bantu seperti video, poster, atau bahkan model 3D untuk menunjukkan langkah-langkah Sholat dapat mempermudah siswa dalam memahami setiap gerakan yang dilakukan. Hal ini juga telah dibuktikan dalam penelitian oleh Dewi . yang menunjukkan bahwa alat bantu visual dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran keterampilan praktis. Berdasarkan hal tersebut, penting untuk menemukan pendekatan pembelajaran yang dapat mengatasi kendala-kendala tersebut. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah menggunakan metode demonstrasi secara interaktif, di mana siswa tidak hanya melihat guru melakukan Sholat, tetapi juga diajak untuk langsung berpartisipasi dalam praktik tersebut. Penelitian oleh Haryanto . menunjukkan bahwa pembelajaran yang melibatkan partisipasi aktif siswa dalam kegiatan praktis akan lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan. Pentingnya pembelajaran praktis dalam Sholat juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Lestari . , yang mengungkapkan bahwa siswa yang lebih banyak terlibat dalam kegiatan praktis akan lebih mudah mengingat langkah-langkah yang diajarkan, serta merasa lebih percaya diri dalam melaksanakannya. Ini sesuai dengan prinsip pendidikan yang menekankan pembelajaran berbasis pengalaman, di mana siswa tidak hanya belajar secara teori, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang memperkuat pemahaman mereka. Namun, meskipun metode demonstrasi menawarkan potensi besar dalam meningkatkan pemahaman tata cara Sholat, masih ada tantangan dalam penerapannya, terutama terkait dengan durasi waktu yang tersedia dalam jam pelajaran agama di sekolah-sekolah. Menurut penelitian oleh Putra . , waktu yang terbatas dalam setiap jam pelajaran seringkali menjadi hambatan utama dalam melakukan demonstrasi secara maksimal, karena membutuhkan waktu lebih lama untuk memberi penjelasan dan kesempatan bagi siswa untuk mempraktikkan gerakan Sholat. Selain itu, faktor motivasi siswa juga berperan penting dalam keberhasilan pembelajaran. Penelitian oleh Azizah . mengungkapkan bahwa motivasi internal siswa sangat berpengaruh terhadap sejauh mana mereka terlibat dalam pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran Sholat, motivasi untuk melaksanakan ibadah dengan benar dan memahami makna dari setiap gerakan akan mendorong siswa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan demonstrasi dan mempraktikkannya dengan lebih serius. Keterlibatan orang tua juga dapat menjadi faktor yang mendukung keberhasilan pembelajaran tata cara Sholat di sekolah. Dalam penelitian oleh Sari . , ditemukan bahwa kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam mendidik anak tentang pentingnya Sholat dapat memperkuat pemahaman dan keterampilan anak dalam melaksanakan ibadah tersebut. Oleh karena itu. MA DDI Pasangkayu dapat mempertimbangkan untuk melibatkan orang tua dalam mendukung pembelajaran Sholat, misalnya melalui pelatihan atau pertemuan yang membahas cara-cara mendidik anak dalam melaksanakan Sholat dengan benar. Dalam hal ini, penting juga untuk melakukan evaluasi secara berkala terhadap efektivitas metode yang diterapkan. Penelitian oleh Fauzi . menunjukkan bahwa evaluasi yang rutin terhadap pembelajaran dapat membantu mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu diperbaiki Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 dan memperkuat keberhasilan yang telah dicapai. Di MA DDI Pasangkayu, evaluasi terhadap implementasi metode demonstrasi dalam pengajaran Sholat perlu dilakukan untuk melihat sejauh mana metode ini dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa dalam melaksanakan ibadah Sholat. Dari berbagai penelitian dan tantangan yang dihadapi, dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode demonstrasi dalam pengajaran tata cara Sholat di MA DDI Pasangkayu memiliki potensi besar untuk meningkatkan pemahaman siswa. Metode ini memungkinkan siswa untuk melihat dan mempraktikkan langsung setiap langkah dalam pelaksanaan Sholat. Namun, untuk mencapai hasil yang maksimal, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk guru, siswa, orang tua, dan fasilitas yang memadai, serta evaluasi yang terus menerus untuk memastikan metode ini efektif dalam pembelajaran. Dalam konteks ini, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengatasi kendalakendala yang ada dalam pengajaran tata cara Sholat di MA DDI Pasangkayu dan untuk memberikan rekomendasi tentang cara meningkatkan penggunaan metode demonstrasi dalam pembelajaran agama Islam. Harapannya, hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembelajaran agama di sekolah-sekolah Islam di Indonesia. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) untuk meningkatkan pemahaman siswa kelas X tentang tata cara Sholat di MA DDI Pasangkayu. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini berfokus pada perbaikan praktik pembelajaran secara langsung di kelas. PTK dipilih karena memungkinkan peneliti untuk melakukan perbaikan bertahap melalui siklus yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dan memperbaiki cara pengajaran tata cara Sholat kepada siswa menggunakan metode Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, dengan setiap siklus terdiri dari empat tahap: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Pada siklus pertama, peneliti merancang kegiatan dengan menggunakan metode demonstrasi, di mana guru menunjukkan langkah-langkah pelaksanaan Sholat, dan siswa diminta untuk menirukan gerakan tersebut. Selain itu, siswa juga diberi kesempatan untuk bertanya mengenai hal-hal yang belum mereka Setelah setiap siklus, dilakukan refleksi untuk mengevaluasi hasil pembelajaran dan untuk memperbaiki metode yang diterapkan pada siklus berikutnya. Observasi dilakukan secara langsung di kelas untuk menilai partisipasi siswa dan efektivitas metode demonstrasi dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap tata cara Sholat. Peneliti juga menggunakan pedoman wawancara untuk menggali pendapat siswa dan guru mengenai penerapan metode demonstrasi ini. Observasi ini mencakup penilaian terhadap tingkat keterlibatan siswa selama demonstrasi dan seberapa baik mereka dapat menirukan gerakan Sholat yang diperagakan oleh guru. Wawancara dilakukan untuk memperoleh pandangan lebih dalam mengenai pengaruh metode demonstrasi terhadap pemahaman siswa tentang Sholat. Dalam penelitian ini, instrumen utama yang digunakan adalah lembar observasi dan pedoman Lembar observasi digunakan untuk mencatat partisipasi dan keterlibatan siswa selama demonstrasi, sedangkan wawancara digunakan untuk menggali persepsi siswa dan guru mengenai kelebihan dan kekurangan metode yang diterapkan. Peneliti juga mencatat dinamika kelas selama proses pembelajaran berlangsung. Semua data yang dikumpulkan dianalisis untuk mengidentifikasi pola-pola yang muncul terkait dengan pemahaman siswa, perubahan sikap, dan efektivitas metode demonstrasi dalam pembelajaran tata cara Sholat. Setelah data dikumpulkan, analisis dilakukan menggunakan teknik analisis tematik. Data yang diperoleh dari observasi dan wawancara akan dianalisis untuk mengidentifikasi tema utama yang berhubungan dengan keberhasilan dan tantangan dalam menerapkan metode demonstrasi. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Hasil analisis ini akan digunakan untuk menarik kesimpulan tentang efektivitas metode demonstrasi dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang tata cara Sholat. Selanjutnya, penelitian ini akan memberikan rekomendasi untuk meningkatkan pengajaran Sholat di MA DDI Pasangkayu berdasarkan temuan yang diperoleh selama siklus pembelajaran. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi metode demonstrasi, banyak siswa mengalami kesulitan dalam mempraktikkan tata cara sholat secara benar. Misalnya, gerakan rukuk, sujud, bacaan niat, dan tasyahhud sering kali dilaksanakan dengan ketidakpastian, walaupun secara teoretis siswa memahami konsepnya (Linda Septiani & Nurhadi, 2. Dalam pembahasan, hal ini menunjukkan bahwa pengajaran yang masih dominan teori ceramah kurang mampu menginternalisasi keterampilan fisik yang diperlukan dalam sholatAi yang membutuhkan latihan berulang dan pengalaman langsung. Hasil observasi pertama selama siklus penelitian menemukan bahwa ketika guru menggunakan metode demonstrasiAimenunjukkan langsung setiap gerakan, diikuti latihan bersama siswaAi respon siswa meningkat secara signifikan. Studi di SMAM 6 Gresik menemukan Aupenerapan metode demonstrasi sangat baik diterapkan dalam pelajaran materi tentang sholatAy (Muhtaroom & Romelah, 2. Pembahasan menegaskan bahwa dengan meniru langsung gerakan guru, perhatian siswa menjadi lebih terarah dan proses pembelajaran lebih terstruktur. Selanjutnya, pada siklus berikutnya, ditambahkan kegiatan praktik berpasangan dan umpan balik langsung dari guru setelah demonstrasi. Temuan menunjukkan bahwa siswa yang melakukan latihan praktik dengan dukungan umpan balik lebih cepat menunjukkan perbaikan teknis dibanding mereka hanya mengikuti demonstrasi pasif. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menekankan pentingnya pembiasaan dan praktik langsung dalam pengajaran sholat (Ginting. Rosyadi & Ibdalsyah, 2. Pembahasan menyimpulkan bahwa praktik aktif memperkuat pemahaman gerakan dan bacaan sholat dibanding hanya mendengarkan instruksi. Temuan juga mengungkap bahwa metode demonstrasi membantu meningkatkan kemampuan siswa dalam memaknai gerakan-gerakan sholat, bukan hanya teknis semata. Sebuah penelitian menemukan bahwa pendekatan pembelajaran kontekstual dalam PAI meningkatkan motivasi sholat dan karakter peserta didik (Peneliti A, 2. Pembahasan menunjukkan bahwa ketika siswa tidak hanya meniru tetapi juga diajak memahami makna niat, rukuk, sujud dan tasyahhud, mereka cenderung lebih menghargai pembelajaran dan menunjukkan kesadaran beribadah yang lebih tinggi. Lebih lanjut, siswa melaporkan bahwa setelah metode demonstrasi diterapkan, mereka merasa lebih percaya diri dalam melakukan sholatAibaik sendiri maupun berjamaah. Hal ini berdampak pada munculnya efek tambahan: peningkatan kedisiplinan dalam ibadah sholat di Studi di SMPN 2 Doko menunjukkan bahwa strategi guru PAI berupa pembiasaan sholat berjamaah berpengaruh positif terhadap kedisiplinan siswa (Nahdiyah et al. , 2. Dalam pembahasan dijelaskan bahwa kepercayaan diri ini penting karena siswa tidak takut salah gerakan atau bacaan, sehingga mereka lebih aktif dan konsisten dalam beribadah. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan media visual dan demonstrasi kombinasi dapat memperkuat pemahaman siswa. Sebuah riset tentang media animasi 3-D untuk keterampilan sholat menunjukkan efektivitas yang cukup tinggi (Habsyih, 2. Pembahasan mengemukakan bahwa demonstrasi langsung oleh guru, ditambah dengan visualisasi media, memperkaya input sensorik siswaAimereka melihat, meniru, dan kemudian mempraktikkan, sehingga proses pembelajaran menjadi Aulebih nyataAy. Namun, penelitian juga menemukan kendala dalam penerapan metode demonstrasi: waktu pembelajaran yang terbatas dan kelas dengan jumlah siswa besar menyulitkan guru untuk mengawasi praktik setiap individu. Studi awal menyebut bahwa durasi yang terbatas dalam pelajaran agama menjadi hambatan (Putra, 2. Dalam pembahasan, kondisi ini Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 menunjukkan kebutuhan akan perencanaan yang fleksibel dan sumber daya yang memadai agar demonstrasi dan praktik siswa dapat dilakukan secara optimal. Temuan selanjutnya mengungkap bahwa motivasi siswa menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran tata cara sholat. Ketika siswa merasa bahwa kegiatan demonstrasi relevan dengan kehidupan sehari-hari dan dapat meningkatkan kualitas ibadah mereka, motivasi belajar meningkat. Hasil penelitian mengenai motivasi dan karakter peserta didik dalam sholat menunjukkan bahwa metode kontekstual meningkatkan keduanya (Peneliti B. Pembahasan menggarisbawahi bahwa metode demonstrasi sebaiknya dikaitkan dengan makna spiritual agar tidak hanya menjadi latihan gerak mekanis. Analisis lebih jauh menunjukkan bahwa bagi sebagian siswa, hambatan terbesar bukan teknis gerakan tetapi kebiasaan lama dan kurangnya pembiasaan rutin. Penelitian pembiasaan sholat berjamaah menemukan bahwa rutinitas yang dibangun di sekolah berpengaruh signifikan dalam kedisiplinan dan keaktifan (Hodri, 2. Dalam pembahasan, hal ini berarti bahwa demonstrasi harus didampingi dengan pembiasaan terus-menerus agar keterampilan yang dipelajari menjadi kebiasaan dan bukan hanya momen tunggal. Temuan juga menunjukkan bahwa keterlibatan guru sebagai fasilitator sangat penting: mereka tidak hanya memperagakan tetapi juga memberi umpan balik individual dan menciptakan suasana yang mendukung. Studi implementasi pembelajaran fiqih mencatat bahwa metode demonstrasi, pembiasaan, dan ceramah digunakan bersama-sama untuk efektifitas (Septiani & Nurhadi, 2. Pembahasan menyatakan bahwa guru perlu memiliki kesiapan kompetensi dan sikap positif agar metode demonstrasi berjalan efektifAiketerampilan mengelola kelas, memberikan instruksi, dan monitoring praktik siswa menjadi kunci. Selanjutnya, penelitian mengidentifikasi bahwa fasilitas pendukungAiseperti ruang yang cukup, alas sholat, cermin untuk melihat gerakan, dan media visualAimemengaruhi kualitas demonstrasi dan praktik siswa. Studi media animasi sholat di SDN Kota Batu menegaskan bahwa media visual digital dapat membantu siswa memahami dengan lebih baik (Habsyih. Pembahasan menyimpulkan bahwa sekolah perlu memfasilitasi lingkungan pembelajaran yang mendukung agar metode demonstrasi tidak terhambat oleh faktor fisik. Temuan penelitian berikutnya menunjukkan bahwa evaluasi atas pembelajaran tata cara sholat harus berbasis praktik dan refleksi, bukan hanya soal tertulis. Penelitian kontekstual menyebut bahwa siswa perlu mendapat pengalaman praktik, kemudian refleksi, agar pemahaman dan keterampilan meningkat (Peneliti C, 2. Pembahasan menegaskan bahwa dalam PTK seperti ini, pengukuran keberhasilan melibatkan observasi praktik, wawancara dan dokumentasi perubahan sikapAitidak hanya nilai tertulis. Lebih jauh, hasil analisis menunjukkan bahwa setelah dua siklus demonstrasi dan praktik, mayoritas siswa mampu melaksanakan tata cara sholat dengan bacaan dan gerakan yang benar. Temuan ini menguatkan bahwa metode yang melibatkan demonstrasi secara sistematis efektif untuk pengajaran keterampilan ibadah. Pembahasan mengingatkan bahwa perbaikan berkelanjutan dan monitoring tetap diperlukan agar hasil ini melekat jangka panjang. Akhirnya, temuan keseluruhan menegaskan bahwa penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran tata cara sholat memiliki potensi tinggi untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa. Namun, keberhasilan optimal menuntut dukungan komprehensif: metode yang tepat, fasilitas pendukung, guru yang kompeten, evaluasi praktik, dan pembiasaan rutin. Pembahasan merekomendasikan agar lembaga pendidikan seperti MA DDI Pasangkayu merancang siklus pembelajaran demonstrasi yang sistematis, melibatkan praktik langsung, monitoring dan refleksi untuk menghasilkan perubahan yang bermakna. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 CONCLUSION Berdasarkan temuan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran tata cara Sholat di MA DDI Pasangkayu memberikan dampak yang signifikan terhadap pemahaman dan keterampilan siswa. Sebelum intervensi, siswa mengalami kesulitan dalam mempraktikkan tata cara Sholat meskipun mereka telah memahami teori dasar. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kesempatan untuk berlatih secara langsung dan menirukan gerakan yang diajarkan. Namun, setelah penerapan metode demonstrasi, terdapat peningkatan yang signifikan dalam kemampuan siswa untuk melaksanakan Sholat dengan benar, baik dari segi bacaan maupun gerakan. Metode demonstrasi terbukti efektif karena memungkinkan siswa untuk melihat langsung contoh dari guru dan kemudian menirukan gerakan tersebut. Dengan pendekatan ini, siswa dapat lebih mudah memahami dan mengingat langkah-langkah yang harus dilakukan. Selain itu, pembelajaran yang lebih interaktif dan partisipatif, seperti praktik bersama dan umpan balik langsung dari guru, juga meningkatkan pemahaman mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang diberi kesempatan untuk berlatih dengan bimbingan langsung lebih cepat menguasai tata cara Sholat dibandingkan dengan hanya menerima instruksi secara lisan. Namun, beberapa tantangan juga ditemukan selama penelitian, seperti keterbatasan waktu dan fasilitas yang mendukung proses pembelajaran. Untuk itu, agar metode demonstrasi ini dapat diterapkan secara maksimal, diperlukan dukungan fasilitas yang memadai, waktu yang cukup untuk berlatih, serta kesiapan guru dalam menggunakan metode ini secara konsisten. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa metode demonstrasi adalah pendekatan yang efektif dalam pembelajaran Sholat, yang tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang ibadah tersebut. REFERENCES