Berkala Ilmiah Pendidikan Volume 1 Nomor 3. Juli 2021 scidac plus PENERAPAN NILAI-NILAI ASWAJA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI PADA MASYARAKAT DESA BADRANSARI PUNGGUR LAMPUNG TENGAH Ali Mustofa 1*. Muhammad Yusuf 2. Dedi Setiawan 3 Institut Agama Islam MaAoarif NU (IAIMNU) Metro Lampung. Indonesia 1, 2, 3 alimustofa526@gmail. Abstrak Ahlussunah wal Jamaah adalah salah satu filosofi taat dalam Islam. Sesungguhnya pemahaman filosofi agama yang taat dimulai oleh Abu Al-Hasan al-Ash'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi. Munculnya Aswaja tidak dapat diisolasi dari gerinda yang muncul di antara tandan-tandan Islam setelah meninggalnya Khulafaur Rosyidin (Abu Bakr Assiddiq. Umar Khotab. Usman Affan, dan Ali Abi Tholi. Masyarakat Badransari mayoritas beragama Islam dan mengaku sebagai pengikut organisasi NU dan menganut ajarannya yaitu Aswaja. Dalam kegiatan beribadah, mereka melakukan kegiatan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh ajaran Aswaja yaitu mengutamakan sunnah Rasulullah. Kata Kunci: Nilai-nilai Aswaja. Kehidupan. Manusia. Abstract Ahlussunah wal Jamaah is one of the devout philosophies in Islam. In fact, the understanding of a devout religious philosophy was started by Abu Al-Hasan al-Ash'ari and Imam Abu Mansur al-Maturidi. The emergence of Aswaja cannot be isolated from the burrs that appeared among the Islamic clusters after the death of Khulafaur Rosyidin (Abu Bakr Assiddiq. Umar Khotab. Usman Affan, and Ali Abi Tholi. The majority of Badransari people are Muslim and claim to be followers of the NU organization and adhere to its teachings, namely Aswaja. In worship activities, they carry out activities in accordance with what is taught by Aswaja's teachings, namely prioritizing the sunnah of the Prophet. Keywords: Aswaja Values. Life. Society. PENDAHULUAN Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Kenyataan ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. AuBangsa Indonesia yang multikultural berarti masyarakat Indonesia yang mempunyai keragaman budayaAy (Harto, 2012: 26-. Nenek moyang bangsa ini sejak dahulu bahkan sudah mengenalkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, meskipun berbeda beda tetapi tetap satu. Semboyan ini tentunya sangat relevan dengan kondisi riil bangsa Indonesia yang memiliki tingkat pluralitas yang sangat tinggi serta majmuk. Namun dalam beberapa tahun terakhir warna keberagamaan yang khas di masyarakat Indonesia tengah menghadapi guncangan hebat dengan kehadiran fenomena radikalisme agama yang beberapa tahun ini sering muncul. Agama seharusnya dapat menjadi pendorong bagi umat manusia untuk selalu menegakkan perdamaian dan meningkatkan Artikel ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License A 2021 Ali Mustofa 1. Muhammad Yusuf 2. Dedi Setiawan 3 kesejahteraan bagi seluruh umat di bumi ini. Tetapi dalam beberapa hal justru agama malah menjadi sumber konflik ketika ia dipandang oleh penganutnya sebagai kebenaran mutlak yang harus disebarluaskan kepada umat lain di luar kelompoknya. Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, politik dan Organisasi NU menganut ajaran Ahlussunnah Wal JamaAoah (Aswaj. , dimana ajaran Aswaja merupakan ajaran yang menganut pada kelima sumber hukum. Kelima sumber hukum tersebut adalah AlQurAoan dan Hadits, ilmu Fiqih. IjmaAo dan Qiyas (Abrori et al. , 2022: . Selain itu. Aswaja juga merupakan Aupengikut sunnah nabi dan para sahabatnyaAy (Fealy, 2011: . , dalam bidang ilmu fiqih mengikuti salah satu mahdzab keempat Imam Sunni, yaitu Imam SyafiAoi. Imam Malik. Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad bin Hanbali. Didirikan pada tahun 1926 di Jombang, organisasi NU sampai sekarang mampu merekrut banyak anggota yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Anggota NU yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia, misalnya di Lampung, tepatnya di Kabupaten Lampung Timur. Masyarakat di Kabupaten Lampung Timur mengaku sebagai pengikut organisasi NU meskipun tidak tercatat secara resmi berapa jumlahnya. Akan tetapi, mereka melakukan ritual-ritual keagamaan menurut apa yang diajarkan oleh NU yaitu ajaran Aswaja. Salah satunya di Desa Badransari. Kecamatan Punggur yang menjadi lokasi dalam penelitian ini. Keikutsertaan masyarakat di Desa Badransari mengikut kegiatan NU hanya formalitas sebagai anggota Nahdliyin. Masyarakat Desa Badransari seratus persen beragama Islam dan mengaku sebagai pengikut organisasi NU dan menganut ajarannya yaitu Aswaja. Dalam kegiatan beribadah, mereka melakukan kegiatan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh ajaran Aswaja yaitu mengutamakan sunnah Rasulullah. Bukan hanya dalam kegiatan beribadah saja, akan tetapi dalam melakukan kegiatan sehari-hari, mereka juga mengacu pada apa yang diajarkan oleh NU dan Aswaja termasuk dalam memilih lembaga pendidikan. METODE Jenis yang dilakukan dalam penelitian ini merupakan penelitian lapangan . ield researc. Jenis penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan informasi yang diperoleh dari sasaran atau objek penelitian yang disebut informan atau responden melalui instrumen pengumpulan data seperti wawancara, observasi dan (Sugiono, 2014: . Data dikumpulkan dengan menggunakan metode wawancara semi Adapun narasumber dalam wawancara yang dilakukan adalah Ketua adat. Tokoh agama dan Masyarakat desa Badransari. Wawancara digunakan untuk mengumpulkan data tentang Penerapan NilaiNilai Aswaja Dalam Kehidupan Sehari-Hari Pada Masyarakat Desa Badransari Punggur Lampung Tengah. HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai-Nilai Ahlussunah Wal JamaAoah Pengertian nilai secara bahasa dijelaskan dalam KBBI bahwa nilai adalah Auharga . aksiran harg. , sebenarnya tidak ada ukuran yang pasti untuk menentukan (KBBI, 2005: . Menurut Steeman sebagaimana dikutip oleh SutarjoAdisusilo, nilai adalah sesuatu yang memberi makna hidup, yang member acuan, titik tolak dan tujuan hidup (Susilo, 2012: . Pada umumnya, kalangan Muslim akan menganggap pihaknya sebagai kelompok Ahlussunnah wa JamaAoah. Sebab, hanya kelompok inilah yang nantinya akan diridhai Allah pada hari akhirat nanti, sedangkan kelompok-kelompok lain yang jumlahnya banyak akan terlempar (Misrawi, 2010: . Aswaja memang suatu istilah yang memiliki banyak makna sehingga banyak golongan yang mengklaim dirinya sebagai aswaja. Ahlussunah Wal JamaAoah terdiri dari kata. Ahl berarti keluarga, golongan atau pengikut. AlSunnah, yaitu segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw. Sedangkan kata al-JamaAoah berarti sesuatu yang telah disepakati oleh Rasulullah dan para sahabat beliau pada masa Khulafa al-Rasyidin (Abu Bakar As Shidiq Ra. Umar bin Khattab Ra. Utsman bin Affan Ra, dan Ali bin Abi Thali. (Harits, 2010: . Di dalam Khittah Nahdlatul Ulama yang merupakan landasan berfikir, bersikap dan bertindak warga NU, disebutkan bahwa khittah NU adalah faham Ahlussunnahwal JamaAoah yang diterapkan menurut kondisi kemasyarakatan di Indonesia, meliputi dasardasar amal keagamaan maupun kemasyarakatan. Khittah NU juga digali dari intisari perjalanan sejarah khidmahnya dari masa ke masa. Dasar-dasar pendirian faham keagamaan NU tersebut menumbuhkan sikap kemasyarakatan yang bercirikan pada pokok ajaran aswaja, dalam sikap kemasyarakatan. Khittah NU menjelaskan 4 prinsip nilai Aswaja yaitu terdiri dari: Sikap Tasamuh Tasamuh bearsal dari kata yang berarti toleransi. Tasamuh berarti sikap tenggang rasa, saling menghormati dan saling menghargai sesama manusia untuk melaksanakan hak-haknya. Pada hakikatnya sikap tasamuh telah dimiliki oleh manusia sejak masih kanak-kanak, tetapi masih perlu untuk dibimbing (Ibrahim, 2002: . Sikap tasamuh tersebut adalah toleran terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furuAo dan menjadi masalah khilafiyah, serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan (Harits, 2010: . Toleran merupakan sikap yang dikembangkan dalam nilai-nilai Nahdlatul Ulama untuk menunjukkan sikap saling menghargai dan menghormati aktivitas yang dilakukan oleh orang lain. Karena pada prinsipnya dasar kemanusiaan adalah fitrah. Umat yang toleran adalah yang dalam kehidupan kesehariannya bersemangat mencari kebenaran yang lapang, toleran, tanpa kefanatikan dan tidak terbelenggu jiwanya. Artinya toleransi membangun sebuah pandangan yang inklusif dan menjauhkan diri dari klaim kebenaran . ruth clai. yang bersifat tertutup (Rouf, 2010: . Sikap toleran terhadap perbedaan pandangan, baik dalam masalah keagamaan . erutama mengenai hal-hal yang bersifat furuAo . atau masalah-masalah khilafiyah . ang diperselisihka. , kemasyarakatan, maupun kebudayaan. Amar MaAoruf Nahi Munkar Secara harfiah Amar MaAoruf Nahi munkar adalah menyuruh kepada perbuatan yang baik dan melarang kepada perbuatan yang mungkar. Secara etimologi maAoruf berarti yang dikenal sedangkan munkar adalah suatu yang tidak dikenal. Menurut pendapat Muhammad Abduh mendefinisikan MaAoruf berarti apa yang di kenal . oleh akal sehat dan hati nurani. Sedangkan Munkar adalah sesuatu yang tidak di kenal baik oleh akal maupun hati nurani. Amar maAoruf adalah ketika seseorang memerintahkan orang lain ntuk bertauhid kepada Allah menaati-Nya, bertaqarrub kepada-Nya, berbuat baik kepada sesame manusia, sesuai dengan jalan fitrah dan kemaslahatan (Abduh, 2006: . Munkar secara bahasa istilah adalah seluruh perkara yang diingkari, dilarang, dan di cela, di cela pelakunya oleh syariAoat, maka termasuk ke dalam bentuk maksiat dan bidAoah. Dan merupakan perkara yang buruk, dan paling buruknya adalah sifat syirik kepada Allah SWT, mengingkari keesaannya dalam peribadahan atau ketuhanan-Nya, atau pada nama dan sifat-sifat-Nya (Shiddiqey, 2001: . Sikap Tawasuth dan IAotidal Tawasuth adalah suatu langkah pengambilan jalan tengah bagi dua kutub pemikiran yang ekstrem . , misalnya antara Qadariyyah dan Jabariyyah, antara skiptualisme ortodokos dengan rasionalisme MuAotazilah dan antara Sufismesalafi dan Sufisme falsafi. Dalam pengambilan jalan tengah ini juga disertai dengan sikap al-iqtishad . yang tetap memberikan ruang dialog bagi para pemikir yang berbeda-beda (Zuhri, 2010: . Sikap Tawazun Tawazun adalah sikap seimbang dalam berkhidmah. Menyerasikan khidmah kepada Allah SWT, khidmah kepada sesama manusia serta khidmah kepada lingkungan hidupnya. Menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini dan masa mendatang (Harits, 2010: . Dalam mengambil beragam keputusan. NU selalu mendasarkan pada syura . Konsep ini mempertimbangkan aspek-aspek keseimbangan dan kemaslahatan bersama . lmashalih alAoamma. Ketika ada perselisihan pendapat, yang harus dikedepankan adalah al mujadalah billatihiya ahsan . erdebatan rasional yang diorientasikan untuk kebaika. Penerapan Nilai Aswaja Dalam Kehidupan Masyarakat Desa Badransari Objektivasi NU dan nilai-nilai Aswaja akan berjalan terus menerus selama masyarakat Desa Badransari masih hidup. Tidak ada yang bisa mengubah NU dan nilai-nilai Aswaja yang telah lama berada di Desa Badransari. Karena masyarakat menganggap NU sebagai organisasi yang sudah sejak lama ada, dan Aswaja merupakan ajaran yang dianut oleh NU dan mereka yang mengaku sebagai pengikut dari NU, dimana ajaran tersebut merupakan ilmu yang harus dipatuhi dan aturan dari Tuhan. Masyarakat tidak menyadari jika merekalah yang menyebabkan ada dan bertahannya NU dan nilai-nilai Aswaja di Desa Badransari melalui kegiatan-kegiatan keagamaan yang mereka lakukan dan lembaga-lembaga berbasis NU yang mereka ikuti. Lebih lanjut lagi, ketika mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan yang menganut nilai-nilai Aswaja dan lembaga-lembaga berbasis NU, masyarakat Desa Badransari mengalami penyerapan nilainilai. Penyerapan nilai-nilai tersebut dilakukan secara berbeda oleh setiap individunya. Proses penyerapan nilai-nilai tersebut oleh Berger disebut proses Internalisasi. Dimana proses Internalisasi ini menentukan tindakan individu selanjutnya. Utamanya dalam pilihan pendidikan. Mengingat penduduk Desa Badransari selama ini memilih pendidikan yang berbasis Islam, baik lembaga pendidikan formal maupun Sehingga pada sub-bab selanjutnya akan dibahas proses Internalisasi nilai-nilai Aswaja dan NU yang kemudian dapat menentukan pilihan pendidikan mereka. Proses Internalisasi terdiri dari tahapan yang disebut Sosialisasi. Sosialisasi sendiri dibagi menjadi dua yaitu sosialisai primer, dan sosialisasi Sekunder. Dalam mengetahui apa itu sosialisasi primer dan sosialisasi Sekunder, kita perlu mengetahui arti sosialisasi itu sendiri. Sosialisasi menurut Berger merupakan proses pengenalan yang dialami oleh Individu ketika mengenal lingkungannya serta apapun yang ada di dalamnya. Sosialisasi primer merupakan sosialisasi yang terjadi ketika individu berada di dalam lingkungan Individu mulai menyerap nilai-nilai yang ada di dalam keluarga ketika dia masih kanak-kanak sampai dengan dia bergabung menjadi anggota masyarakat di lingkungannya. Sosialisasi primer sangat penting bagi individu, karena di dalam sosialisi primer, individu mulai menyerap apa yang diberikan oleh orang tua sebagai identitasnya. Warga yang terdapat dalam masyarakat Desa Badransari, merupakan keluarga yang hidup dengan nilai-nilai keagamaan yang masih kental. Nilai-nilai keagamaan yang dianut sebuah keluarga akan berlaku juga untuk seorang anggota keluarga yang baru lahir. Nilai-nilai keagamaan yang dianut di dalam keluarga masyarakat Desa Badransari, telah disebutkan di atas yaitu nilai-nilai Aswaja dan NU. Nilai-nilai Aswaja dan NU ini kemudian disalurkan kepada anggota keluarga mereka yang baru sebagai pengetahuan melalui cara-cara yang berbeda di setiap keluarga. Diantara nilai-nilai aswaja diantaranya tasamuh, tawasuth, tawazun dan iAotidal. Contoh perilaku tasamuh di Desa Badransari diantaranya: Mengembangkan sikap tenggang rasa Sebagai makhluk sosial kita harus mengembangan sikap tenggang rasa dengan sesama Tidak diperbolehkan saling berburuk sangka, saling menjelekan dan lain sebagainya. Gemar melakukan kegiatan sosial Dalam lingkungan bertetangga tidak bisa hidup sendiri, kita juga saling membutuhkan, tolong-menolong sesama tetangga misalnya kerja bakti, membuat pos ronda, arisan, menjenguk orang sakit, itu adalah salah satu kegiatan sosial yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Saling Menghormati Setiap manusia haruslah saling menghargai dan menghormati sesama manusia memberikan senyum, sapa itu adalah sebagian kecil kita menghormati sesama manusia. Contoh sikap tawasuth di Desa Badransari pengamalan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan contoh tawazun dalam kehidupan sehari-hari dengan menyeimbangkan antara urusan dunia dan akhirat. Proses yang telah dijalani masyarakat Desa Badransari, yaitu obyektivasi, internalisasi dan eksternalisasi, merupakan proses konstruksi sosial nilai-nilai Aswaja dan NU dalam memilih pendidikan masyarakat Desa Badransari. Dimana melalui ketiga proses tersebut, masyarakat telah mempertahankan NU dan nilai-nilai Aswaja di dalam kehidupannya. Masyarakat juga memberi bentuk bagi dirinya sendiri yaitu sebagai masyarakat NU. Sedangkan bagi Individu. NU dan nilai-nilai Aswaja disikapi secara berbeda meskipun pada umumnya individu tersebut menganut dan meyakininya. Cara mereka menyikapi NU dan nilai-nilai Aswaja secara berbeda itulah kemudian membentuk tindakan yang berbeda, misalnya dalam memilih pendidikan, meskipun pilihan tersebut jika ditarik. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penjabaran di atas. Warga yang terdapat dalam masyarakat Desa Badransari, merupakan keluarga yang hidup dengan nilai-nilai keagamaan yang masih kental. Nilai-nilai keagamaan yang dianut sebuah keluarga akan berlaku juga untuk seorang anggota keluarga yang baru lahir. Nilai-nilai keagamaan yang dianut di dalam keluarga masyarakat Desa Badransari, telah disebutkan di atas yaitu nilainilai Aswaja dan NU. Nilai-nilai Aswaja dan NU ini kemudian disalurkan kepada anggota keluarga mereka yang baru sebagai pengetahuan melalui cara-cara yang berbeda di setiap keluarga. Diantara nilai-nilai aswaja diantaranya tasamuh, tawasuth, tawazun dan iAotidal. DAFTAR PUSTAKA