Artikel Penelitian Artikel Penelitian Pengaruh Tekanan Telapak Kaki Bagian Depan terhadap Hubungan Massadan Tubuh Diabetes Tipe 2 di RSUD PemakaianIndeks Hak Tinggi Indeks Massa Tubuh Melitus Mahasiswi FKUI Dr. Adjidarmo Rangkasbitung Tahun 2016 Handy Winata*. Deswaty Furqonita**. Nyoman Murdana*** Budiman Hartono1. Fitriani 2 *Dosen bagian Anatomi FK UKRIDA Staf Pengajar Bagian Biologi Fakultas Kedokteran Kristen Krida Wacana **Dosen Anatomi Universitas FK UI Mahasiswa***Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana bagian Rehabilitasi Medik RSCM Alamat Korespondensi: budimanhrtn@yahoo. Alamat Korespondensi : Jl. Terusan Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510 E-mail: hand_y19@yahoo. Abstrak Indeks massa tubuh (IMT) dilakukan untuk memeriksa status nutrisi seseorang. Dari hasil Abstrak pemeriksaan IMT Pasien Pendahuluan. Pada dapat saat berdiri, berat seseorang badan di titik tumpu telapak rata pada bagian depan oleh tulang sesamoid pada kapitulum ossi metatarsal I serta kapituli osseum metatarsal Diabetestelapak yang di Hal II-IV dan melitus. bagian belakang tuberis kalkanei. ini oleh akan kenaikan apabila memakai hak tinggi, pada keadaan seperti ini tekanan akan lebih besar pada kaki bagian . esistensi Penelitian Perbedaan atau adanya masalah IMT pada seseorang juga dapat mengakibatkan perubahanhubungan dengan Penelitian ini dilakukan yang datang yang akan telapak kaki. RSUD Adjidarmo Rangkasbitung IMT >2,3. ketika memakai hak tinggi, yang akan memberi beban lebih besar pada kaki bagian depan. Tujuan. Data yang Hasil Menilai kaki data depan pada tinggi dan 16,25% 58,75% kaki bagian depan pada perbedaan IMT subjek penelitian. Metode. Survei deskriptif analitik dengan dengan obesitas 25% pasien dengan obesitas derajat kaki 2,18 bagian pasien depan . ,5%) tidak/bukan 1. Hasil. Pada pengaruh tekanan telapak IMT ,5%) normal dan tinggi didapat hasil uji analisis dengan P = 0,000. Dan pada pada pengaruh tekanan uji analisa nilai hak p-value 0,018 bagianDari hak tinggi, hak dengan 5 cm,sebesar tanpa hak IMT Dari cm, dan hak 5 cm dengan hak 12 cm didapat hasil uji analisis kesemuanya dengan P = 0,000. penelitian, penderita gula darah Kesimpulan. Terdapat obes tekanan untuk kaki bagian IMT depan dan hak tinggi Diabetes Dengan dan IMT. diharapkan dapat mencegah diabetes mellitus. Kata kunci : tekanan telapak kaki, sepatu hak tinggi, indeks massa tubuh. Kata kunci: Indeks Massa Tubuh, diabetes melitus tipe 2. Obesitas. Abstract Introduction. While standing, weight load on the pivot foot will be shared equally at the front by a Relationship Body Index with metatarsal Diabetes melitus sesamoid bone on the metatarsal Between ossiMass I and II-V and the back RSUD Dr. Adjidarmo Rangkasbitung foot by a medial processus tuberis calcanei. It would be different if wearing high heel, at this position plantar pressure will be greater on the forefoot. Difference or a problem on someone BMI can result inAbstract anatomic changes that will affect the pressure supported by the pivot foot, when standing normal or Body wearing mass index From the results toof forefoot. the BMI high(BMI) heel, is as to use ofa high which willstatus. give greater Patient risk to The aim of this research is to determine, how the effect of wearing high heel and body mass index Diabetes forefoot plantar pressure. Methods. Descriptive analytic survey with a cross-sectional design. high blood of decreasing by beta from and or Results. Effect of forefoot pressure atinsulin BMI acquired . nsulinplantar This when aims to effect of forefoot no wearing with diabetes This is done on with Internal Medicine no wearing with high high heel 5 cm 12 tocm. RSUDwith Adjidarmo Rangkasbitung 2016, who has BMI >2. Dataaiseffect P = 0. Conclusion. inForefoot BMI and when wearing high heel. The result from 80 respondent result in 16. 25% patient has risk in obesity, 58. 75% patient has risk in obesity grade 1, 25% has risk inshoes, 18 patients . 5%) don`t have diabetes Keywords: high-heeled 22 patients . 5%) are not sure have diabetes mellitus and 40 patient . 5 %) with diabetes mellitus. From analytic statistical test, p-value score 0. 018 show significant relation between BMI and diabetes mellitus. Body mass index (BMI) reflects a person's nutritional status and indicates whether a person is obese or not. Individuals who are overweight have the risk to suffer several Kedokt Meditek Volume 24. No. Okt-Des 2018 Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Diabetes Melitus Tipe 2 diseases such as diabetes mellitus. Diabetes mellitus is a metabolic disorder characterized by high blood glucose because of decreasing insulin secretion by beta pancreatic cell and or insulin function disturbance . nsulin resistanc. This study aimed to know the relationship between obesity with the incidence of diabetes mellitus type 2 among patients in RSUD Adjidarmo Rangkasbitung. Data is taken from medical records of patients who came to Internal Medicine policlinic in 2016. Individuals with BMI measure > 2. 3 were included in this study. Of the 80 patients, 16. 25% had obesity risk, of 75% patients had obesity class 1 and 25% patient had obesity class 2. Of all the samples, 18 patients . 5%) did not report of having diabetes mellitus. Twenty two patients . 5%) were not sure of having diabetes mellitus, whereas 40 patients . 5 %) suffered from diabetes mellitus. significant relation between BMI and diabetes mellitus was observed . -value score 0. From the results of the study. For obese patients it is recommended to reduce BMI and control blood sugar to early detect type 2 Diabetes mellitus. With the presence of early detection and appropriate treatment, it is expected to prevent Diabetes mellitus. Keywords : Body Mass Index. Diabetes mellitus type 2. Obesity. Pendahuluan Diabetes melitus merupakan salah stau jenis penyakit tidak menular yang sering ditemukan di masyarakat di seluruh dunia. Menurut Internasional of Diabetic Federation (IDF) tingkat prevalensi global penderita DM pada tahun 2014 sebesar 8,3% dari keseluruhan penduduk di dunia dan mengalami peningkatan pada tahun 2014 menjadi 387 juta kasus. 2 Indonesia merupakan negara yang menempati urutan ke 7, dengan jumlah penderita DM sekitar 8,5 juta orang, setelah Cina. India dan Amerika Serikat. Brazil. Rusia, dan Mexico. 3 Menurut data Riskesdas . terjadi peningkatan dari 1,1 % di tahun 2007 meningkat menjadi 2,1 % di tahun 2013 dari keseluruhan penduduk sebanyak 250 juta jiwa. Berdasarkan klasifikasi World Health Organization (WHO), diklasifikasikan menjadi lima golongan klinis, yaitu DM tergantung insulin (DM tipe . DM tidak tergantung insulin (DM tipe . DM berkaitan dengan malnutrisi (MRDM). DM karena toleransi glukosa terganggu (IGT), dan DM karena kehamilan (GDM). 5 Diabetes melitus seringkali tidak terdeteksi sebelum diagnosis dilakukan, sehingga morbiditas . erjadinya penyakit atau kondisi yang mengubah kesehatan dan kualitas hidu. dan mortalitas . Uji diagnostik diabetes melitus dilakukan pada mereka yang menunjukkan gejala atau tanda dengan salah satu risiko diabetes melitus yaitu usia Ou 45 tahun dan usia lebih muda yang disertai dengan faktor risiko seperti kebiasaan tidak aktif . idak banyak bergera. , turunan pertama Kedokt Meditek Volume 24. No. Okt-Des 2018 dari orang tua dengan diabetes melitus, riwayat melahirkan bayi dengan BB lahir bayi > 4000 g, atau riwayat diabetes melitus gestasional, hipertensi, kolesterol HDL O 35 mg/dL dan atau trigliserida Ou 250 mg/dL, menderita keadaan klinis lain yang terkait dengan resistensi insulin, adanya riwayat toleransi glukosa yang terganggu atau glukosa darah puasa terganggu sebelumnya, dan memiliki riwayat penyakit kardiovaskular. Diabetes Melitus tipe 2 bukan disebabkan oleh kurangnya sekresi insulin, namun karena sel-sel sasaran insulin gagal atau tidak mampu merespon insulin secara Keadaan ini lazim disebut sebagai Auresistensi insulinAy. Resistensi insulin banyak terjadi akibat dari obesitas dan kurangnya aktivitas fisik serta penuaan. Pada penderita diabetes melitus tipe 2 dapat juga terjadi produksi glukosa hepatik yang berlebihan namun tidak terjadi pengrusakan sel-sel B Langerhans secara autoimun seperti diabetes melitus tipe 1. Defisiensi fungsi insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2 hanya bersifat relatif dan tidak absolute. Obesitas merupakan faktor risiko utama untuk terjadinya diabetes melitus. Hubungan antara diabetes melitus tipe 2 sangat 9 Obesitas dapat membuat sel tidak sensitif terhadap insulin . esisten insuli. Insulin di dalam tubuh berperan meningkatkan ambilan glukosa di banyak sel dan dengan cara ini juga mengatur metabolisme karbohidrat, sehingga jika terjadi resistensi insulin oleh sel. Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Diabetes Melitus Tipe 2 maka kadar gula di dalam darah juga dapat mengalami gangguan. Mengukur obesitas atau tidaknya seseorang . emak tubu. secara lansung sangat sulit dan sebagai pengganti dipakai Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu perbandingan berat badan . alam kilogra. dengan kuadrat tinggi badan . alam Berat badan . IMT = Tinggi badan . Berdasarkan PERKENI . , maka pembagian IMT dapat dibagi sebagai berikut: Tabel 1. Kategori Indeks Massa Tubuh (IMT) Berat badan kurang . Berat normal Berat berlebih . Dengan risiko Obes derajat I Obes derajat II IMT . g/m. <18,5 18,5-22,9 Ou23,0 23,0-24,9 25,0-29,9 >30 Sumber: Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan DM tipe 2 di Indonesia. PERKENI, 2011. Angka obesitas yang diukur dengan IMT berkaitan erat dengan intoleransi glukosa pada populasi perkotaan maupun pedesaan. Pasien yang datang berobat ke poliklinik penyakit dalam RSUD Dr Adjidarmo Rangkasbitung banyak yang mengalami obes sehingga peneliti tertarik untuk meneliti seberapa banyak pasien obes yang menderita DM tipe 2 dan penelitian ini belum pernah RSUD Adjidarmo Rangkasbitung. 80 pasien dengan IMT lebih dari normal (>2,. kemudian dari 80 pasien ini dilihat data kadar gula darahnya. Metodologi Penelitian Hasil Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian analitik dengan menggunakan desain cross sectional. Sampel diambil dari data rekam medis pasien dengan IMT lebih dari normal (> . yang datang berobat ke poliklinik penyakit dalam RSUD Dr Adjidarmo Rangkasbitung pada tahun 2016. Dari hasil pengumpulan data didapat sebanyak Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2017 Ae April 2017. Hasil yang diperoleh IMT pemeriksaan gula darah sewaktu pada 80 responden yang berobat ke poliklinik penyakit dalam RSUD Dr. Adjidarmo dapat dilihat pada Tabel Kaji Etik Penelitian ini dinyatakan telah lolos kaji etik dengan nomor 179/ SLKE-IM/ UKKW/ KE/ XI/ 2016 dari Komite Etik Penelitian Medis dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA). Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Indeks Masa Tubuh Valid Dengan Resiko Obes Derajat 1 Obes Derajat 2 Total Frekuensi Persentase Persentase valid 16,25 16,25 58,75 58,75 25,00 25,00 Kumulatif 16,25 Kedokt Meditek Volume 24. No. Okt-Des 2018 Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Diabetes Melitus Tipe 2 Tabel 1 dapat dilihat berdasarkan IMT responden terdiri dari beresiko obesitas, obesitas derajat 1 dan obesitas Dari 80 responden didapatkan data yaitu 13 pasien . ,25%) beresiko Terdapat 47 pasien . ,75%) obesitas derajat 1. Terdapat 20 pasien . %) obesitas derajat 2. Tabel 2 Distribusi Responden Menurut Hasil Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu Valid Bukan DM Belum Pasti DM Total Frekuensi Persentase Dari Tabel 2 dapat dilihat hasil pemeriksaan Gula Darah Sewaktu terdiri dari bukan diabetes melitus, belum pasti diabetes melitus dan dari diabetes melitus. Persentase valid Kumulatif responden didapatkan 18 pasien . ,5%) tidak/bukan diabetes melitus. 22 pasien . ,5%) belum pasti diabetes melitus dan 40 pasien . ,0%) mengalami diabetes melitus. Tabel 3 Indeks Masa Tubuh (IMT) Penderita Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 Cross Tabulation Diabetes melitus Tipe 2 Bukan DM Belum Pasti DM IMT Total Total Dengan Resiko Obes Derajat 1 Obaes Derajat 2 Pada Tabel 3 didapatkan hasil pada pasien IMT dengan resiko . yang menderita DM sebanyak 2 pasien, pasien obes derajat 1. sebanyak 23 yang menderita DM dan pasien obes derjat 2 . sebanyak 15 yang menderita DM Berdasarkan hasil perhitungan analisa statistik diperoleh nilai p-value sebesar 0,018. jika nilai p-value < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima, maka dapat disimpulkan adanya hubungan yang bermakna antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Diabetes melitus (DM) tipe 2. Kedokt Meditek Volume 24. No. Okt-Des 2018 Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian di RSUD Dr. Adjidarmo Rangkasbitung diperoleh nilai p-value sebesar 0,018, jika nilai p-value < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti adanya hubungan yang bermakna antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Diabetes melitus (DM) tipe 2. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Muhammad Arif et al. pada Pegawai Seketariat Daerah Provinsi Riau. Namun hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ain Fathmi . di Rumah Sakit Umum Daerah Karang Anyar16 dan penelitian Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Diabetes Melitus Tipe 2 yang dilakukan oleh Adnan et al. di RS Tugurejo Semarang bahwa ada hubungan yang bermakna antara IMT dengan diabetes melitus tipe 2. Hal dikemukakan oleh Suyono . , bahwa faktor kegemukan/obesitas merupakan faktor risiko dari diabetes melitus tipe 2. Asupan nutrisi berlebihan secara terus menerus tanpa disertai aktivitas yang seimbang menyebabkan simpanan lemak menjadi berlebihan. 18 Selain asupan nutrisi beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diabetes melitus tipe 2 antara lain adalah . umur lebih dari 45 tahun, mempunyai riwayat keluarga, ras riwayat toleransi gula darah terganggu, riwayat gula darah puasa terganggu, hipertensi, dislipidemia dan riwayat diabetes gestasional atau melahirkan bayi dengan berat badan lahir lebih dari 4 kg. Pada Diabetes melitus tipe 2 orang yang mengalami kelebihan berat badan, kadar leptin dalam tubuh akan meningkat. Leptin adalah hormon yang berhubungan dengan gen Leptin berperan dalam hipotalamus untuk mengatur tingkat lemak tubuh, kemampuan untuk membakar lemak menjadi energi, dan rasa kenyang. Kadar leptin dalam plasma akan meningkat dengan meningkatnya berat badan. Leptin bekerja pada sistem saraf perifer dan saraf pusat. Peran leptin terhadap terjadinya resistensi yaitu leptin menghambat fosforilasi insulin receptor substrate-1 (IRS) yang mengakibatkan terlambatnya ambilan Sehingga terjadi peningkatan kadar gula dalam darah. Simpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui Hubungan Indeks Masa Tubuh dengan Diabetes melitus tipe 2 di RSUD Dr. Adjidarmo Rangkasbitung tahun 2016 dapat disimpulkan bahwa indeks massa tubuh memiliki hubungan yang bermakna dengan diabetes melitus tipe 2. Saran Pada peneliti selanjutnya disarankan meneliti faktor faktor yang berkaitan dengan pola hidup, seperti. pola tidur, stress, aktivitas, dan lain-lain yang dapat menyebabkan timbulnya diabetes melitus tipe 2. Bagi penderita obes disarankan untuk menurunkan IMT dan kontrol gula darah untuk mendeteksi dini diabetes melitus tipe 2. Bagi tenaga kesehatan dapat memberikan penyuluhan yang berkaitan dengan asupan nutisi dan melakukan deteksi dini diabetes melitus tipe 2 pada pasien pasien Dengan adanya deteksi dini dan pengobatan yang tepat diharapkan dapat mencegah diabetes melitus Daftar Pustaka