ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 ANALISA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELELAHAN KERJA PADA PEKERJA BAGIAN PRODUKSI DI ALUMUNIUM MANUFACTURING KOTA BATAM Malahyati Rusli Bintang1. Sukma Sahreny2. Isramilda3. Fidyan Khotimatul Arbi4. Doni5 1Fakultas Kedokteran Universitas Batam, bintang@univbatam. 2Fakultas Kedokteran Universitas Batam, sukmasahreni@univbatam. 3Fakultas Kedokteran Universitas Batam, isramilda@univbatam. 4Fakultas Kedokteran Universitas Batam, 102123075@univbatam. 5Fakultas Kedokteran Universitas Batam, 61120025@univbatam. ABSTRACT Background: : Work fatigue is a condition where the body runs out of energy due to the extension of the work done. Work fatigue increases work errors and decreases performance. Reduced performance equals reduced productivity at work. When the level of worker productivity is disrupted by physical and mental fatigue, the result is reduced company Methods: This research method is quantitative with an observational analytic research design with a cross sectional approach. The sample for this study were workers in the production section of PA (Castin. at Alumunium Manufacturing of Batam City totaling 40 people were selected based on inclusion and exclusion criteria. The analytical test used is the Chi-Square test and regresion logistic test. Results: Based on the results of the Chi-Square test on work intensity with work fatigue, it is known that there is a significant value of 0. 001 (<0. Namely states that there is a significant influence between work intensity and work fatigue. Then on the circadian rhythm with work fatigue the p-value is 0. 001 (<0. , which states that there is a significant influence between circadian rhythm and work fatigue. And on psychological state and work fatigue the p-value is 0. 001 (<0. , which states that there is a significant influence between psychological state and work fatigue. Based on the results above, it can be concluded that the most influential factor is work intensity with a p-value . and a coefficients beta value . Conclusion: Based on the results of the study it can be concluded that Ho is rejected, which means that there is a significant influence between work intensity, circadian rhythm and psychological state on work fatigue in production workers at Alumunium Manufacturing Indonesia. Batam City. Based on the results of the multivariate test, the most influential is work intensity. Keywords: Work Intensity. Circadian Rhythm. Psychological State, and Work Fatigue Universitas Batam Batam Batam Page 10 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 ABSTRAK Latar Belakang: Kelelahan kerja merupakan kondisi tubuh mengalami kehabisan energi karena perpanjangan kerja yang dilakukan. Kelelahan kerja meningkatkan kesalahan kerja dan menurunkan kinerja. Berkurangnya kinerja sama dengan berkurangnya produktivitas dalam bekerja. Ketika tingkat produktivitas pekerja terganggu oleh kelelahan fisik dan mental, maka akibatnya berkurangnya produktivitas perusahaan. Metode: Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel Penelitian ini adalah pekerja bagian produksi PA (Castin. di Alumunium Manufacturing Kota Batam berjumlah 40 orang yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eklusi. Uji analisis yang digunakan adalah uji Chi-Square Hasil: Berdasarkan hasil uji Chi-Square pada intensitas kerja dengan kelelahan kerja diketahui terdapat nilai signifikan yaitu sebesar 0,001 (<0,. Yaitu menyatakan terdapat pengaruh yang signifikan antara intensitas kerja dengan kelelahan kerja. Kemudian pada circadian rhythm dengan kelelahan kerja p-value sebesar 0,001 (<0,. , dimana menyatakan terdapat pengaruh yang signifikan antara circadian rhythm dengan kelelahan kerja. Dan pada keadaan psikologi dan kelelahan kerja p-value sebesar 0,001 (<0,. , dimana menyatakan terdapat pengaruh yang signifikan antara keadaan psikologi dengan kelelahan kerja. Berdasarkan hasil diatas dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling berpengaruh adalah intensitas kerja dengan p-value . dan nilai coefficients beta . Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak yang artinya terdapat pengaruh signifikan antara intensitas kerja, circadian rhythm dan keadaan psikologi terhadap kelelahan kerja pada pekerja bagian produksi di Alumunium Manufacturing Indonesia Kota Batam. Berdasarkan hasil uji multivariat yang berpengaruh adalah intensitas Kata Kunci: Intensitas Kerja, circadian rhythm, keadaan psikologi, dan Kelelahan Kerja Universitas Batam Batam Batam Page 11 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 PENDAHULUAN Pada para pekerja kelelahan merupakan kejadian umum yang sering terjadi jika seseorang bekerja. Kelelahan kerja merupakan kondisi dimana tubuh mengalami kehabisan energi karena perpanjangan kerja yang Kelelahan kerja juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi menurunnya efisiensi, performa kerja dan berkurangnya kekuatan atau ketahanan tubuh untuk terus melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan. Kelelahan mudah dicegah atau ditiadakan dengan berhenti bekerja dan beristirahat. Jika tenaga kerja telah mulai merasa lelah namun tetap memaksakan diri untuk bekerja, maka kelelahan akan semakin bertambah dan kondisi lelah demikian sangat mengganggu kelancaran pekerjaan dan juga berefek buruk kepada tenaga kerja yang bersangkutan1 Menurut National Library Of Medicine (NCBI) Keluhan kelelahan tinggi pada populasi umum dalam kisaran 18,3-27%. Prevalensi kelelahan yang lebih tinggi telah dilaporkan di banyak pengaturan operasional yang menyebabkan masalah kesehatan dan Menurut hasil penelitian, kelelahan adalah alasan umum bagi karyawan untuk berkonsultasi dengan dokter umum di lingkungan industri. Tingkat prevalensi kelelahan di industri tergantung pada instrumen yang digunakan telah dilaporkan antara 7 dan 45%2. Berdasarkan data dari International Labour Organization (ILO) pada tahun 2020 menyebutkan bahwa pada 100. pekerja didunia terdapat 24. 055 ribu pekerja mengalami kecelakaan kerja. Pada tahun 2021 International Labour Organization (ILO) mencatat pada 100. 000 pekerja didunia terjadi 861 ribu pekerja mengalami kasus kecelakaan kerja. Data dari BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosia. Ketenagakerjaan di Indonesia pada tahun 2017 angka kecelakaan kerja yang dilaporkan sebanyak 123. 041 kasus, pada tahun 2018 telah terjadi kecelakaan yang berada ditempat kerja sebanyak 114. 148 kasus dan tahun 2019 terdapat 77. 295 kasus. Hal ini Universitas Batam Batam Batam menunjukkan terjadinya penurunan kasus kecelakaan yang terjadi di tempat kerja sebesar Setiap tahunnya rata-rata BPJS Ketenagakerjaan melayani 130 ribu kasus kecelakaan kerja dari kasus ringan sampai dengan kasus-kasus yang berdampak fatal di lingkungan pekerjaan terutama di pabrik. Kelelahan kerja meningkatkan kesalahan kerja dan menurunkan kinerja. Berkurangnya produktivitas dalam bekerja. Ketika tingkat produktivitas pekerja terganggu oleh kelelahan fisik dan mental, maka akibat yang dapat dan Berdasarkan Pasal 5. PERMENAKER No. Tahun 2018, pengukuran dan pengendalian Lingkungan Kerja meliputi faktor: Fisik, kimia, biologi, ergonomic, dan keadaan Menurut buku Tarwaka . ada dua yaitu faktor internal yang terdiri dari usia, jenis kelamin, status gizi, riwayat penyakit, keadaan psikologi, dan antropometri. Faktor eksternal antara lain adalah Intensitas kerja, lamanya kerja, lingkungan, dan Circadian Rhythm4 Menurut hasil survey pendahuluan yang dilakukan dan ditujukan kepada 15 pekerja bagian produksi di Alumunium Manufacturing Kota Batam melalui survey wawancara dan kuesioner yaitu 3 dari 5 orang mengalami kelelahan kerja tinggi akibat dari circadian rhythm, kemudian 2 dari 5 orang mengalami kelelahan kerja tinggi akibat dari intensitas kerja, dan 3 dari 5 orang mengalami kelelahan kerja sedang akibat dari keadaan psikologi. Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk mencari tahu Faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada pekerja bagian produksi di Alumunium Manufacturing Kota Batam. Hal ini merupakan alasan peneliti untuk melakukan penelitian di Alumunium Manufacturing Kota Batam. Page 12 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dengan menggunakan data primer AukuisionerAy. Populasi pada penelitian ini adalah pekerja bagian produksi PA (Castin. Teknik pengambilan sampel menggunakan Total Sampling. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Distribusi Frekuensi Intensitas Kerja Berdasarkan Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Intensitas Kerja Frekuensi Persentase Intensitas Kerja . (%) Normal Shift Overtime Total hari kerja dalam 1 . minggu atau 8 . jam 1 . hari dan 40 . mpat pulu. jam 1 . minggu untuk 5 . hari kerja dalam 1 . Hal tersebut menyebabkan stabilitas pada tulang dan otot menjadi berkurang. Dengan kata lain, semakin tua seseorang, semakin tinggi resiko orang tersebut mengalami penurunan elastisitas pada tulang yang menjadi pemicu timbulnya gejala keluhan nyeri punggung bawah. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Circadian Rhythm Tabel 2. Distribusi Frekuensi berdasarkan Circadian Rhythm Circadian Frekuensi Persentase Rhythm . (%) Normal Tidak Normal Total Tabel 1 menunjukkan data bahwa dari 40 responden yang menjadi sample penelitian didapatkan hasil penelitian menunjukkan jumlah responden dengan intensitas kerja normal shift sebanyak 21 responden . ,5%) dan overtime yaitu sebanyak 19 responden . ,5%). Tabel 2 menunjukkan bahwa dari 40 responden yang menjadi sample penelitian didapatkan hasil penelitian menunjukkan jumlah responden dengan Circadian Rhythm Normal sebanyak 19 responden . ,5%) dan Circadian Rhythm Tidak Normal yaitu 21 responden . ,5%). Intensitas dapat diartikan keadaan seseorang untuk melakukan suatu kegiatan atau seberapa sering seseorang melakukan kegiatan yang ada, dengan sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan yang optimal. Intensitas kerja kategori overtime muncul akibat tuntutan ekonomi yang mengharuskan pekerja bekerja lebih sering, selain itu gerakan yang monoton, posisi kerja berdiri pada waktu yang lama dan intens, keadaan lingkungan kerja, dll juga dapat mempengaruhi. Intensitas merupakan tingkat keseringan seseorang dalam melakukan suatu kegiatan tertentu. Ritme sirkadian yang baik dan teratur memberikan efek yang bagus terhadap Secara alamiah, alam telah mengatur periodisasi waktu kerja dan istirahat. Siang hari disebut fase ergotropik, yaitu kinerja manusia berada pada puncaknya, sementara masa malam hari disebut fase trophotropik, yaitu terjadinya proses istirahat dan pemulihan tenaga. Tenaga kerja yang bekerja menggunakan sistem kerja begilir dan melakukannya dalam satu kali saja, maka circadian rhythms dapat kembali normal. Tetapi bila pekerja bekerja menggunakan sistem kerja bergilir secara terus menerus maka circadian rhythms tidak akan kembali Dengan tidak kembalinya circadian rhythms maka dapat mengakibatkan gangguan tidur dan berbagai gejala lainnya. Menurut UU dan Regulasi No. 13 Tahun Setiap Pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja. Waktu kerja yang dimaksud yaitu 7 . jam 1 . hari dan 40 . mpat pulu. jam 1 . minggu untuk 6 . Universitas Batam Batam Batam Page 13 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 Gangguan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular karena adanya perubahan sekresi hormon, neurotransmitter, metabolisme, detak jantung. Neurotransmitter yang dipengaruhi irama sirkadian salah satunya adalah norepinefrin, neurotransmitter ini berperan dalam kerja mengendalikan tekanan darah, denyut jantung, dan tonus vaskural. Hal ini membuat tubuh tetap mampu beraktivitas normal meskipun terjadi perubahan kondisi lingkungan. Serotonin merupakan salah satu hormon yang ekskresinya dipengaruhi irama sirkadian, hormon ini berperan penting dalam aktivitas sehari-hari karena terlibat dalam perilaku motorik, emosi, dan suasana mental. Penilaian untuk pengukuran circadian rhythm ini dapat dilakukan dengan cara mengukur durasi lamanya istirahat, durasi lamanya istirahat juga berpengaruh terhadap circadian rhythm. Menurut buku Hidayat & Uliyah, 2015 penilaian tingkat risiko circadian rhythm pada pekerja meliputi : Normal yaitu pekerja beristirahat selama 6-7 jam dalam sehari. Tidak Normal yaitu pekerja beristirahat selama > 6-7 Jam atau < 6-7 jam dalam Distribusi Frekuensi Berdasarkan Keadaan Psikologi Tabel 3. Distribusi Frekuensi berdasarkan Keadaan Psikologi Keadaan Frekuensi . Psikologi Derajat Ringan Derajat Sedang Derajat Berat Total Persentase (%) Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 40 responden yang menjadi sample penelitian didapatkan hasil penelitian menunjukkan jumlah responden dengan keadaan psikologi derajat ringan yaitu sebanyak 19 responden . ,5%) , keadaan psikologi derajat sedang sebanyak 19 responden . ,5%) dan keadaan Universitas Batam Batam Batam psikologi Derajat Berat sebanyak 2 responden . ,0%). Keadaan individual yang dialami diluar pada hubungan inter personal karena dorongan psikologis yang kuat, timbulnya perasaan seakan tidak ada orang yang membantunya, depresi, perasaan terbelenggu dan putus asa. Keadaan psikologis muncul karena adanya stress berlebihan, dan sulit diatasi yang dapat mengantarkan individu pada keadaan yang lebih buruk dimana muncul apatisme, sinisme, dan frustasi. Penyebab Faktor Psikologi menurut permenker No. 5, 2018 meliputi. Ketidakjelasan/kepaksaan peran. Konflik peran. Beban kerja berlebih secara kualitatif. Beban kerja berlebih secara kuantitatif. Pengembangan karir. Tanggung jawab terhadap orang lain. Distribusi Frekuensi Kelelahan Kerja Berdasarkan Tabel 4. Distribusi Frekuensi berdasarkan Kelelahan Kerja Kelelahan Kerja Rendah Sedang Tinggi Sekali Total Frekuensi . Persentase (%) Tabel 4 menunjukkan bahwa dari 40 responden yang menjadi sample penelitian didapatkan hasil penelitian menunjukkan jumlah responden dengan kelelahan kerja dengan kategori rendah sebanyak 11 responden . ,5%), kelelahan kerja kategori sedang yaitu sebanyak 11 responden . ,5%), dan kelelahan kerja kategori tinggi sekali sebanyak 18 responden . ,0%). Perasaan Lelah yang berkadar tinggi dapat menyebabkan seseorang tidak mampu lagi bekerja sehingga berhenti bekerja sebagaimana mengakibatkan tenaga kerja yang bekerja fisik mengehentikan kegiatannya oleh karena merasa lelah, bahkan yang bersangkutan tertidur oleh karena kelelahan. Kelelahan Page 14 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 mudah dicegah atau ditiadakan dengan berhenti bekerja dan beristirahat. Jika tenaga kerja telah mulai merasa lelah namun tetap memaksakan diri untuk bekerja, maka kelelahan akan semakin bertambah dan kondisi lelah demikian sangat mengganggu kelancaran pekerjaan dan juga berefek buruk kepada tenaga kerja yang bersangkutan. Pengaruh dari keadaan yang menjadi sebab kelelahan tersebut seperti berkumpul dalam tubuh dan mengakibatkan perasaan lelah. Perasaan lelah demikian yang berkadar tinggi dapat menyebabkan seseorang tidak mampu lagi bekerja sehingga berhenti bekerja sebagaimana halnya kelelahan fisiologis yang menyebabkan tenaga kerja yang bekerja fisik menghentikan kegiatannya oleh karena merasa lelah bahkan yang bersangkutan tertidur oleh karena kelelahan. Keadaan dan perasaan lelah adalah reaksi fungsional pusat kesadaran yaitu otak . ortex celebr. , yang dipengaruhi oleh dua sistem antagonistis yaitu sistem penghambat . dan sistem penggerak . Sistem . yang mampu menurunkan. menyebabkan kecenderungan untuk tidur. Adapun sistem penggerak terdapat dalam formasio retikularis . ormation reticulari. yang dapat merangsang pusat vegetatif untuk konversi ergotropis dari organ dalam tubuh kearah kegiatan bekerja, berkelahi, melarikan diri, dan lain-lain. Maka berdasarkan konsep tersebut keadaan seseorang pada suatu saat sangat tergantung kepada hasil kerja antara dua sistem antagonistis yang dimaksud. Apabila sistem penghambat berada pada posisi lebih kuat daripada sistem penggerak, seseorang berada dalam kondisi lelah. Sebaliknya, apabila sistem penggerak lebih kuat dari sistem penghambat, maka seseorang berada dalam keadaan segar untuk aktif dalam kegiatan termasuk bekerja atau dapat diartikan orang tersebut tidak berada dalam kondisi Analisis Bivariat Hubungan Intensitas Kerja dengan Kelelahan Kerja Tabel 7. Analisis Hubungan intensitas kerja dengan kelelahan kerja Kelelahan Kerja Total P value Intensitas Sedang Tinggi Rendah Kerja Sekali Normal Shift 11 52,4 0,001 Overtime 10,5 17 89,5 19 Total Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara intensitas kerja dan kelelahan kerja pada pekerja bagian produksi di Alumunium Manufacturing tahun Dari hasil uji Chi-Square didapatkan pvalue sebesar 0,001 sehingga H01 ditolak dan Ha1 diterima. Kemudian pada intensitas kerja overtime dengan tingkat kelelahan kerja rendah, sedang, dan tinggi sekali sebanyak 19 responden dengan kategori tingkat kelelahan kerja terbanyak terdapat di kelelahan kerja tinggi sekali yaitu sebanyak 17 pekerja, hal ini dapat Universitas Batam Batam Batam disebabkan karena banyak pekerja mengambil kerja tambahan sehingga tidak mempunyai waktu untuk beristirahat. Intensitas kerja berhubungan dengan timbulnya rasa lelah pada pekerja, semakin tingginya intensitas kerja maka semakin tinggi risiko terjadinya kelelahan kerja, tetapi kelelahan kerja sifatnya sementara bisa pulihkan dengan beristirahat dengan cukup. Penelitian ini sejalan yang dilakukan oleh Anisyah T. A, dan Julian D. S . dimana hasil analisis data menggunakan Chi-Square didapatkan nilai p value 0,001 maka nilai Page 15 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 p<0,05, maka dapat dinyatakan terdapat hubungan antara intensitas kerja dengan kelelahan kerja pada karyawan bagian mixing. Di mana semakin intensnya karyawan bekerja selama seminggu maka, semakin tinggi pula kelelahan kerja pada karyawan bagian mixing. Sebaliknya jika semakin rendah intensitas kerja maka, semakin rendah pula kelelahan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia . intensitas merupakan suatu keadaan tingkatan atau ukuran intensnya. Intensitas merupakan tingkat keseringan seseorang dalam melakukan suatu kegiatan tertentu yang di dasarkan rasa senang terhadap kegiatan yang dilakukan, intensitasnya waktu seseorang dalam bekerja berkaitan dengan keadaan fisik yang dapat mempengaruhi kerja otot, kardiovaskular, sistem pernafasan dan lainnya sehingga menimbulkan kelelahan kerja. Menurut buku Tarwaka . berat ringannya beban kerja yang diterima oleh seorang tenaga kerja dapat digunakan untuk menentukan berapa lama seorang tenaga kerja dapat melakukan aktivitas pekerjaanya sesuai dengan kemampuan atau kapasitas kerja yang Dimana semakin berat beban kerja, maka akan semakin pendek waktu kerja seseorang untuk bekerja tanpa kelelahan dan gangguan fisiologis yang berarti atau Intensitas dapat diartikan keadaan seseorang untuk melakukan suatu kegiatan atau seberapa sering seseorang melakukan kegiatan yang ada, dengan sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan yang optimal. Intensitas merupakan durasi kerja yang dihabiskan seseorang dalam bekerja. Durasi kerja adalah waktu yang sudah ditentukan untuk melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan yang dapat dilakukan siang dan malam hari dengan melibatkan tenaga dalam tubuh dalam waktu tertentu. Menurut UU dan Regulasi No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan Setiap Pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja. Waktu kerja yang dimaksud yaitu 7 . jam 1 . hari dan 40 . mpat pulu. jam 1 . minggu untuk 6 . hari kerja dalam 1 . minggu atau 8 . jam 1 . hari dan 40 . mpat pulu. jam 1 . minggu untuk 5 . hari kerja dalam 1 . Sehingga Menurut UU No. 13, 2003 Tentang Ketenagakerjaan penilaian tingkat risiko pada intensitas kerja pekerja meliputi : Normal shift yaitu pekerja bekerja selama kurang dari 7 . jam sehari dan 40 . mpat pulu. jam 1 . minggu untuk 6 . hari kerja dalam 1 . minggu atau 8 . jam sehari dan 40 . mpat pulu. jam 1 . minggu untuk 5 . hari kerja dalam 1 . Overtime yaitu pekerja bekerja selama waktu kerja yang melebihi 7 . jam sehari dan 40 . mpat pulu. jam 1 . minggu untuk 6 . hari kerja dalam 1 . minggu atau 8 . jam sehari dan 40 . mpat pulu. jam 1 . minggu untuk 5 . hari kerja dalam 1 . Hubungan Circadian Rhythm dengan Kelelahan Kerja Tabel 8. Analisis Hubungan Circadian Rhythm dengan Kelelahan Kerja Kelelahan Kerja Total P value Circadian Sedang Rendah Tinggi Sekali Rhythm Normal 11 57,9 0,001 Tidak Normal Total Universitas Batam Batam Batam Page 16 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara Circadian Rhythm dengan Kelelahan Kerja pada pekerja di Alumunium Manufacturing Kota Batam Dari hasil uji Chi-Square didapatkan pvalue sebesar 0,001 sehingga H02 ditolak dan Ha2 diterima berarti terdapat hubungan antara Circadian Rhythm dengan kelelahan kerja pada pekerja di Alumunium Manufacturing Kota Batam 2023. Pada penelitian ini Circadian Rhythm diukur menggunakan kuesioner fisiologi tidur dan wawancara langsung kepada responden. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Juanda Rizki Darmayanti . didapatkan hasil uji statistik menggunakan Chi-Square menunjukkan p-value < 0,05 . maka dapat ditarik kesimpulan Ho ditolak Ha diterima yang artinya terdapat hubungan circadian rhythm dengan kelelahan kerja pada pekerja kantor. Circadian Rhythm merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh semua orang. Ritme sirkadian yang baik dan teratur memberikan efek yang bagus terhadap Secara alamiah, alam telah mengatur periodisasi waktu kerja dan istirahat. Siang hari disebut fase ergotropik, yaitu kinerja manusia berada pada puncaknya, sementara masa malam hari disebut fase trophotropik, yaitu terjadinya proses istirahat dan pemulihan tenaga. Tenaga kerja yang bekerja menggunakan sistem kerja begilir dan melakukannya dalam satu kali saja, maka circadian rhythms dapat kembali normal. Tetapi bila pekerja bekerja menggunakan sistem kerja bergilir secara terus menerus maka circadian rhythms tidak akan kembali Dengan tidak kembalinya circadian rhythms maka dapat mengakibatkan gangguan Universitas Batam Batam Batam tidur dan berbagai gejala lainnya. (Juliana, ,2. Gangguan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular karena adanya perubahan sekresi hormon, neurotransmitter, metabolisme, detak jantung. Neurotransmitter yang dipengaruhi irama sirkadian salah satunya adalah norepinefrin, neurotransmitter ini berperan dalam kerja mengendalikan tekanan darah, denyut jantung, dan tonus vaskural. Hal ini membuat tubuh tetap mampu beraktivitas normal meskipun terjadi perubahan kondisi lingkungan. Serotonin merupakan salah satu hormon yang ekskresinya dipengaruhi irama sirkadian, hormon ini berperan penting dalam aktivitas sehari-hari karena terlibat dalam perilaku motorik, emosi, dan suasana mental. Responden yang memiliki waktu istirahat > 8 jam atau < 8 jam dapat memicu adanya penurunan produktivitas kerja, hal ini karena waktu kerja dan waktu istirahat yang dimiliki oleh responden tidak sesuai dengan undangundang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Kurangnya waktu tidur pekerja dapat menyebabkan mudah mengalami Penilaian untuk pengukuran circadian rhythm ini dapat dilakukan dengan cara mengukur durasi lamanya istirahat, durasi lamanya istirahat juga berpengaruh terhadap circadian rhythm. Menurut buku Hidayat & Uliyah, 2015 penilaian tingkat risiko circadian rhythm pada pekerja meliputi : Normal yaitu pekerja beristirahat selama 7-8 jam dalam sehari. Tidak Normal yaitu pekerja beristirahat selama > 7-8 Jam atau < 7-8 jam dalam terus-menerus dalam. Page 17 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 Hubungan Keadaan Psikologi dengan Kelelahan Kerja Tabel 9. Analisis Hubungan Keadaan Psikologi dengan Kelelahan Kerja Kelelahan Kerja Keadaan Psikologi Derajat Ringan Derajat Sedang Berat Total Sedang Total Tinggi Sekali Rendah Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara Keadaan Psikologi dengan Kelelahan Kerja pada pekerja di Alumunium Manufacturing Kota Batam 2023. Dari hasil uji Chi-Square didapatkan p-value sebesar 0,001 sehingga H03 ditolak dan Ha3 diterima berarti terdapat hubungan antara Keadaan Psikologi dengan Kelelahan Kerja pada pekerja di Alumunium Manufacturing Kota Batam 2023. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Fitri NurAoaini . pada hasil uji statistic menggunakan uji chi square didapatkan nilai p-value sebesar 0,000 atau < 0,05 hal ini menunjukan bahwa dapat disimpulkan Ha ditolak dan H0 diterima yang artinya pada variable keadaan psikologi memiliki hubungan dengan variable kelelahan kerja pada pekerja PT. Cahaya Fajar Kaltim. Keadaan individual yang dialami diluar pada hubungan inter personal karena dorongan psikologis yang kuat, timbulnya perasaan seakan tidak ada orang yang membantunya, depresi, perasaan terbelenggu dan putus asa. Keadaan psikologis muncul karena adanya stress P value 0,001 berlebihan, dan sulit diatasi yang dapat mengantarkan individu pada keadaan yang lebih buruk dimana muncul apatisme, sinisme, dan frustasi. Penyebab Faktor Psikologi menurut permenker No. 5, 2018 meliputi : Ketidakjelasan/kepaksaan peran. Konflik peran. Beban kerja berlebih secara kualitatif. Beban kerja berlebih secara kuantitatif. Pengembangan karir, dan Tanggung jawab terhadap orang lain. Menurut Pasal 24 angka 5. Permenaker No. 5 Tahun 2018 memberikan rekomendasi tentang bagaimana cara pengendalian keadaan psikologi, diantaranya : Melakukan pemilihan, penempatan dan pendidikan pelatihan bagi tenaga kerja. Mengadakan program kebugaran bagi tenaga kerja. Mengadakan program Mengadakan organisasional secara memadai. Memberikan pengambilan keputusan. Mengubah struktur organisasi, fungsi dana tau dengan merancang kembali pekerjaan yang ada. Menggunakan system pemberian imbalan tertentu dan atau Pengendalian Hasil Analisa Multivariat Tabel 10. Analisis Multivariat Regresi Logistik Faktor Resiko Stroke Iskemik Variabel Step 1 Step 2 Circadian Intensitas Kerja Keadaan Psikologi Circadian Intensitas Kerja Universitas Batam Batam Batam Coefficients Beta 0,476 0,586 -0,110 0,440 0,511 0,001 0,003 0,619 0,000 0,000 Page 18 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 Berdasarkan hasil diatas dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling berpengaruh adalah intensitas kerja dengan p-value . dan nilai coefficients beta . karena intensitas kerja yang tinggi termasuk durasi kerja yang panjang, tugas berat dan minimnya waktu istirahat secara langsung mempengaruhi cadangan fisik seseorang, beban kerja yang tinggi dapat memicu kelelah mental dan stress karena tuntutan yang berlebihan kebutuh penyekesaian tugas. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah diteliti oleh peneliti dengan jumlah sampel sebanyak 40 responden tentang faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada pekerja bagian produksi di Alumunium Manufacturing Kota Batam Tahun 2023 dapat disimpulkan sebagai berikut: Dari 40 responden yang menjadi sampel penelitian didapatkan 21 responden . ,5%) berada dalam kategori intensitas kerja Normal Shift, sebanyak 19 responden . ,5%) berada dalam kategori Intensitas kerja Overtime. Dari 40 responden yang menjadi sampel penelitian didapatkan 19 responden . ,5%) berada dalam kategori Normal, dan sebanyak 21 responden . ,5%) berada dalam kategori circadian rhythm Tidak Normal. Dari 40 responden yang menjadi sampel penelitian didapatkan 19 responden . ,5%) berada dalam keadaan psikologi derajat ringan dan sebanyak 21 responden . ,5%) berada dalam kategori keadaan psikologi derajat sedang tinggi Dari 40 responden yang menjadi sampel penelitian didapatkan 11 responden . ,5%) berada dalam kategori kelelahan kerja rendah, 11 responden . ,5%) berada dalam kategori kelelahan kerja sedang, dan sebanyak 18 responden . ,0%) berada dalam kategori kelelahan kerja tinggi Universitas Batam Batam Batam Terdapat hubungan antara variabel intensitas kerja dengan kelelahan kerja pada pekerja bagian produksi divisi PA (Castin. di Alumunium Manufacturing dengan nilai p-value sebesar 0,001 (<0,. dan dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak. Terdapat hubungan antara variabel circadian rhythm dengan kelelahan kerja pada pekerja bagian produksi divisi PA (Castin. di Alumunium Manufacturing dengan nilai p-value sebesar 0,001 (<0,. , maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak. Terdapat hubungan antara variable keadaan psikologi dengan kelelahan kerja pada pekerja bagian produksi divisi PA (Castin. di Alumunium Manufacturing dengan nilai p-value sebesar 0,001 (<0,. , maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak. Berdasarkan hasil analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik dapat disimpulkan bahwa variabel yang memiliki hubungan paling dominan terhadap kelelahan kerja adalah variabel intensitas SARAN Diharapkan penelitian ini dapat menjadi informasi dan pengetahuan bagi pekerja dan perusahaan untuk dapat mengetahui tentang factor yang berhubungan dengan kelelahan risiko yang dapat menyebabkan terjadinya kelelahan kerja serta agar dapat mengurangi risiko yang terjadi. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada perusahaan Alumunium Manufacturing Kota Batam yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA