Athlete Empowerment and Environmental Conservation through CSR Partnership: Integrating Social Ecology Perspective on the Collaboration between Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Lahat and PT Bukit Pembangkit Innovative Faza Ikhwana1. Tommy Sahara1*. Imam Satrio Novianto1. Ikhsan Sanjaya1. Oki Pramadani1 Abstract Article Info *Correspondence Author PT Bukit Pembangkit Innovative How to Cite: Ikhawana. Sahara. Novianto. Sanjaya. Pramadani. Athlete Empowerment and Environmental Conservation through CSR Partnership: Integrating Social Ecology Perspective Collaboration Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Lahat and PT Bukit Pembangkit Innovative. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 4 . 2025, 88-99 Article History Submitted: 29 September 2025 Received: 1 October 2025 Accepted: 8 October 2025 This research analyzes the integration of athlete empowerment and environmental conservation through the Corporate Social Responsibility (CSR) partnership of PT Bukit Pembangkit Innovative (BPI) in Lahat Regency. South Sumatra, utilizing the perspective of Murray Bookchin's social ecology . The study is grounded in the socio-ecological challenges resulting from land conversion and forest degradation. The methodology employed is descriptive qualitative, with data collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation studies. The research focuses on evaluating two programs: Banjarsari Cipta Prestasi (FPTI Lahat Coachin. , which aims to produce high-achieving athletes and simultaneous agents of social-environmental change. and BAHARI Banjarsari . conservation initiativ. as the initial step for local reforestation. The results indicate that athlete coaching not only enhanced sporting achievement but also fostered ecological awareness through direct involvement in reforestation and greening activities across three villages. A total of 400 trees with ecological and economic value were planted, including Avocado. Bamboo. Bungur, and Bintaro. Cross-sector collaboration involving the company, the sports federation, village governments, and the Garis Milang nature community created a participatory and inclusive socio-ecological network. In conclusion, the CSR partnership of PT BPI serves as an integrative medium connecting human capacity building and environmental preservation simultaneously. This strategic model holds the potential for replication in other regions, as it successfully combines athletic achievement, community empowerment, and ecological sustainability within a single framework. Correspondence E-Mail: tommysahara@bpi-ipp. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. https://doi. org/10. 55381/jpm. https://prospectpublishing. id/ojs/index. php/jpm/index p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Keywords Corporate Social Responsibility (CSR. Program Integration. Social Ecology Creative Commons Share Alike CC-BY-SA: This work is licensed under a Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Creative Commons Attribution- Share-Alike 4. 0 International License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. which permits non-commercial use, reproduction, and distribution of the work without further permission provided the original work is attributed as specified on the Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat and Open Access pages. Pemberdayaan Atlet dan Konservasi Lingkungan melalui Kemitraan CSR: Integrasi Perspektif Ekologi Sosial pada Kolaborasi antara Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Lahat dan PT Bukit Pembangkit Innovative Faza Ikhwana1. Tommy Sahara1*. Imam Satrio Novianto1. Ikhsan Sanjaya1. Oki Pramadani1 Article Info *Korespondensi Penulis . PT Bukit Pembangkit Innovative Abstrak Penelitian ini menganalisis integrasi pemberdayaan atlet dan konservasi lingkungan melalui kemitraan CSR PT Bukit Pembangkit Innovative Email Korespondensi: tommysahara@bpi-ipp. com (BPI) di Kabupaten Lahat. Sumatera Selatan, menggunakan perspektif ekologi sosial Murray Bookchin . Penelitian dilatarbelakangi tantangan sosial-ekologis akibat alih fungsi lahan dan degradasi hutan. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi Penelitian berfokus pada evaluasi dua program: Banjarsari Cipta Prestasi (Pembinaan FPTI Laha. yang bertujuan mencetak atlet berprestasi tinggi sekaligus agen perubahan sosial-lingkungan. BAHARI Banjarsari . nisiatif konservas. sebagai langkah awal reboisasi Hasil menunjukkan bahwa pembinaan atlet tidak hanya meningkatkan prestasi olahraga, tetapi juga membentuk kesadaran ekologis melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan reboisasi dan penghijauan di tiga desa. Total penanaman mencapai 400 pohon bernilai ekologis dan ekonomis, yaitu Alpukat. Bambu. Bungur, dan Bintaro. Kolaborasi lintas sektor yang melibatkan perusahaan, federasi olahraga, pemerintah desa, dan komunitas Garis Milang menciptakan jejaring sosial-ekologis yang partisipatif dan inklusif. Kesimpulannya, kemitraan CSR PT BPI menjadi medium integratif yang menghubungkan pembangunan kapasitas manusia dan pelestarian lingkungan secara Model strategis ini berpotensi menjadi model replikasi di wilayah lain, karena berhasil menggabungkan prestasi olahraga, pemberdayaan komunitas, dan keberlanjutan ekologis dalam satu kerangka kerja. Kata Kunci Corporate Social Responsibility (CSR). Integrasi Program. Ekologi Sosial A Ikhwana, et al Pendahuluan Pembangunan berkelanjutan menuntut sinergi antara penguatan sumber daya manusia dan pelestarian lingkungan hidup. Pembangunan berkelanjutan menuntut adanya kemitraan yang adil lintas batas, sektor, dan masyarakat sebagai pendorong utama bagi pemahaman bersama dan solusi inovatif. Prinsip ini diabadikan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-17, yang secara khusus menekankan penguatan kemitraan global untuk mencapai semua tujuan (Dada dkk. , 2. Di tengah keterbatasan anggaran pemerintah serta kompleksitas tantangan sosial-ekologis, kemitraan antara sektor swasta dan komunitas lokal melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) menjadi alternatif strategis dalam mendorong perubahan yang inklusif dan berdampak ganda, yaitu pada peningkatan prestasi atlet dan perbaikan ekologis di Kabupaten Lahat. Berangkat dari isu tersebut, tulisan ini bertujuan untuk menganalisis peran kemitraan CSR oleh PT Bukit Pembangkit Innovative . elanjutnya disebut PT BPI) dalam mengintegrasikan pemberdayaan komunitas lokal dan konservasi lingkungan sebagai satu kesatuan strategi pembangunan berkelanjutan. Integrasi ini menjadi semakin relevan ketika mempertimbangkan kondisi ekologis di Kabupaten Lahat, di mana tekanan terhadap lingkungan terus meningkat akibat alih fungsi lahan, eksploitasi sumber daya alam, dan minimnya perlindungan terhadap ekosistem hutan. Kabupaten Lahat memiliki bentang hutan alam seluas 14% dari total wilayahnya, dengan luas mencapai 58,4 ribu hektare (KH. pada tahun 2020. Namun, pada tahun 2024 terjadi penyusutan sebesar 40 Ha, yang sebagian besar disebabkan oleh alih fungsi lahan menjadi pertanian permanen, industri komoditas keras seperti pertambangan, serta pemukiman warga (Global Forest Watch, 2. Kondisi ini mencerminkan dominasi aktivitas manusia dalam mengeksploitasi ruang hidup alami, sekaligus menunjukkan ketidakseimbangan antara kebutuhan ekonomi, sosial, dan keberlanjutan ekologis. Menurut Muttaqin dkk. , salah satu dampak alih fungsi lahan di Kabupaten Lahat adalah kontribusinya terhadap kejadian banjir bandang pada 9 Maret 2023. Analisis perubahan penggunaan lahan menunjukkan penurunan signifikan pada tutupan vegetasi, yaitu pengurangan lahan bervegetasi rapat sebesar 1,06% dan lahan bervegetasi sedang sebesar 5,82%, diiringi peningkatan lahan bervegetasi jarang sebesar 4,7%. Tekanan terhadap ekosistem hutan terus meningkat tanpa diimbangi oleh kebijakan perlindungan yang Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) yang komprehensif di bagian hulu, tengah, dan hilir untuk menjaga kondisi DAS serta memitigasi potensi bencana. Dalam konteks tersebut, konservasi lingkungan menjadi salah satu jawaban atas upaya pemulihan ekosistem hutan alam di Kabupaten Lahat. Wilayah ini memiliki potensi sumber daya alam yang besar serta generasi muda yang aktif. Dari 448. 141 total penduduk di Kabupaten Lahan sekitar 13,5% atau 60. 475 jiwa adalah anak muda usia 15-21 tahun (BPS. Jumlah anak muda tersebut menghadirkan peluang untuk untuk mengintegrasikan pembinaan anak muda berprestasi dengan kegiatan konservasi lingkungan. Dengan latar belakang dan potensi yang ada di Kabupaten Lahat tersebut. PT BPI, yang beroperasi di Kabupaten Lahat, berupaya mewujudkan transformasi sosial-ekologis melalui program pemberdayaan yang melibatkan anak-anak muda berprestasi di bidang keolahragaan yaitu atlet-atlet muda dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Lahat . elanjutnya disebut FPTI Lahat. Pemilihan Atlet FPTI sebagai subjek program didasari pada pengamatan PT BPI dalam meninjau kompetensi para atlet dan struktur organisasi atlet yang partisipatif, transparan, dan menunjukkan kemauan untuk berkembang. Sebelum adanya intervensi dari PT BPI. FPTI Lahat menunjukkan prestasi mereka dengan menyumbangkan 9 perak dan 2 perunggu di cabang olahraga panjat tebing pada Pekan Olahraga Provinsi (Porpro. Xi Sumatera Selatan tahun 2021. Melihat capaian prestasi A Ikhwana, et al FPTI Lahat. PT BPI meyakini bahwa FPTI dapat menjadi subjek program yang tepat. Dibuktikan dengan capaian setelah intervensi. FPTI Lahat pada Porprov XIV Sumatera Selatan tahun 2023 mendapatkan 8 emas, 5 perak, dan 10 perunggu (Sinar Lematang, 2. Selanjutnya, inisiatif ini tidak hanya berfokus pada pengembangan karakter dan prestasi olahraga, tetapi juga mengintegrasikan edukasi lingkungan sebagai bagian dari pembinaan generasi muda. Melalui program Pembinaan Federasi Panjat Tebing (FPTI) Kabupaten Lahat (Banjarsari Cipta Prestas. yang bertujuan memberdayakan atlet panjat tebing lokal untuk mencapai prestasi signifikan tidak hanya di bidang olahraga namun juga sosial dan lingkungan. Kemudian, program Bina Alam Hijau Asri Indah (BAHARI) Banjarsari yang menjadi sebuah inisiatif konservasi lingkungan yang dirancang sebagai langkah awal reboisasi di Kabupaten Lahat. merupakan hasil kolaborasi antara PT BPI dan FPTI Lahat, merupakan contoh konkret bagaimana CSR dapat menjembatani kebutuhan pembinaan karakter, pengembangan prestasi olahraga, dan edukasi ekologis secara simultan. Pendekatan ekologi sosial yang dikembangkan oleh Murray Bookchin menjadi kerangka teoritis yang relevan dalam studi ini. Bookchin . menekankan bahwa krisis lingkungan tidak dapat dipisahkan dari struktur sosial yang menindas dan hierarkis. Oleh karena itu, solusi ekologis harus melibatkan transformasi sosial yang demokratis dan Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kemitraan CSR dapat menjadi medium integratif antara pemberdayaan atlet dan konservasi lingkungan, serta mengeksplorasi dampak sosial-ekologis yang dihasilkan dari kolaborasi lintas sektor di tingkat Metode Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk mendefinisikan suatu keadaan atau fenomena secara apa adanya (Sukmadinata, 2. , dengan menekankan pemahaman mendalam terhadap konteks sosial dan ekologis yang melingkupi praktik integrasi pemberdayaan atlet dan konservasi lingkungan dalam program CSR di Kabupaten Lahat. Penelitian dilakukan di beberapa titik lokasi di Kabupaten Lahat yaitu Desa Jati. Desa Kuba, dan Bukit Batu Putri di Desa Padang. Fokus penelitian ini adalah menganalisis program Pembinaan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Lahat . elanjutnya disebut dengan Banjarsari Cipta Prestas. dan Bina Alam Hijau Asri Indah . elanjutnya disebut dengan Bahari Banjarsar. , yang merupakan hasil kolaborasi antara PT BPI dan FPTI Lahat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan total 15 aktor kunci . yang memiliki pengalaman dan pengetahuan substansial mengenai program. Informan tersebut mencakup Koordinator CSR PT BPI. Ketua FPTI. Ketua Komunitas Garis Milang. Pelatih FPTI. Camat Pulau Pinang, serta Kepala Desa dan Ketua Karang Taruna dari 3 Desa (Jati. Kuba, dan Padan. , serta empat Atlet FPTI yang bergabung di Komunitas Garis Milang. Untuk menjamin validitas, kriteria inklusi ditetapkan bagi informan yang terlibat langsung dalam perancangan, pendanaan, dan pelaksanaan harian kedua program tersebut. Informan yang hanya memiliki pengetahuan umum atau keterlibatan pasif . idak terlibat dalam salah satu dari ketiga proses tersebu. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisis wawancara tematik untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan melaporkan pola-pola utama dalam data Analisis ini diperkaya dengan observasi partisipatif pada kegiatan konservasi dan pelatihan atlet, serta studi dokumentasi terhadap laporan program, media publikasi, dan kebijakan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan. A Ikhwana, et al Analisis dilakukan dengan merujuk pada model Miles dan Huberman, sebagaimana dijelaskan oleh Sugiyono . , yang meliputi empat tahapan utama: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dalam konteks penelitian ini, data yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi program program Banjarsari Cipta Prestasi dan Bahari Banjarsari diolah secara sistematis untuk mengidentifikasi polapola integrasi antara pembinaan atlet dan konservasi lingkungan. Proses reduksi data dilakukan dengan memilah informasi yang relevan terhadap tujuan penelitian, khususnya yang berkaitan dengan partisipasi komunitas, praktik ekologis, dan dinamika kemitraan CSR. Data yang telah diringkas kemudian disajikan dalam bentuk narasi tematik yang menggambarkan relasi sosial dan ekologis yang muncul di lapangan. Tahap akhir berupa penarikan kesimpulan dilakukan dengan mengaitkan temuan lapangan dengan kerangka teori ekologi sosial Murray Bookchin . , guna menafsirkan bagaimana program CSR dapat menjadi medium integratif antara pemberdayaan atlet dan konservasi lingkungan, serta mengeksplorasi dampak sosial-ekologis yang dihasilkan dari kolaborasi lintas sektor di tingkat Pembahasan Dinamika Integrasi Pembinaan Olahraga dan Aktivisme Ekologis Program utama dalam pemberdayaan atlet berada dalam payung program Pembinaan Federasi Panjat Tebing (FPTI) Kabupaten Lahat (Banjarsari Cipta Prestas. yang dalam pelaksanaanya melahirkan sub-sub program baru dan nantinya juga diintegrasikan dengan program lain. Program pembinaan atlet panjat tebing antara PT BPI dan FPTI Lahat, yang secara resmi dimulai melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada Januari 2025. Program ini dirancang sebagai upaya pembinaan berkelanjutan dari perjanjian kerja sama sejak November 2022, sekaligus pencarian bibit atlet potensial yang mampu berprestasi di tingkat daerah, provinsi, hingga nasional. Gambar 1. Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara PT BPI dan FPTI Lahat Sumber: Dokumentasi PT BPI, 2025 Intervensi PT BPI dalam pemberdayaan atlet panjat tebing di Kabupaten Lahat dilakukan dengan pendekatan yang terstruktur, berkelanjutan, dan berbasis kolaborasi lintas sektor. Penandatanganan perjanjian kerja sama sudah dilakukan sejak November 2022 dan dilanjutkan lagi pada tahun 2025. Intervensi perpanjangan ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Federasi Panjat Tebing A Ikhwana, et al Indonesia (FPTI) Kabupaten Lahat pada Januari 2025. BPI memposisikan diri tidak hanya sebagai penyedia dukungan finansial, tetapi juga sebagai aktor pembangunan sosial yang aktif dalam membentuk ekosistem pembinaan atlet muda. Intervensi ini dilaksanakan melalui serangkaian program yang mencakup pelatihan intensif, penyediaan fasilitas dan nutrisi, serta penyelenggaraan kegiatan penjaringan talenta. Sebagai bagian dari strategi penjaringan talenta muda. PT BPI dan FPTI Lahat menyelenggarakan Banjarsari Climbing Exhibition 2025 pada tanggal 29 Mei hingga 1 Juni Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 100 peserta dan bertujuan untuk menemukan atlet-atlet muda berbakat yang dapat dibina lebih lanjut dalam program intensif. Puncak dari rangkaian kegiatan ini adalah Launching Program Atlet Lokal Menuju Internasional (ALJUNA) pada 22 Agustus 2025, yang menandai komitmen jangka panjang PT BPI dalam mendukung atlet panjat tebing Kabupaten Lahat untuk menembus kompetisi nasional dan internasional. Dalam acara peluncuran, diperkenalkan sejumlah atlet binaan yang telah menunjukkan prestasi signifikan dan berhak mewakili Kabupaten Lahat pada Pekan Olahraga Provinsi (Porpro. Sumatera Selatan XV tahun 2025. Dari total 28 atlet yang berada di bawah naungan FPTI Lahat, sebanyak 20 atlet berhasil lolos ke Porprov XV. Jumlah ini menunjukkan peningkatan dibandingkan capaian pada Porprov XIV tahun 2023, di mana FPTI Lahat mengirimkan 15 atlet. Peningkatan jumlah atlet yang lolos ke tingkat provinsi ini mencerminkan efektivitas program pembinaan yang dijalankan, sekaligus memperkuat posisi Kabupaten Lahat sebagai salah satu pusat pengembangan olahraga panjat tebing di Sumatera Selatan. Gambar 2. Peluncuran atlet-atlet FPTI Lahat ke PORPROV XV Sumber: Dokumentasi PT BPI, 2025 A Ikhwana, et al Komitmen PT BPI terhadap pembinaan atlet tidak berhenti pada aspek kompetisi semata, melainkan juga diperluas ke ranah pelestarian lingkungan melalui integrasi antara olahraga dan ekologi. Atlet-atlet FPTI Lahat secara aktif bergabung dalam komunitas pecinta alam bernama Garis Milang. Komunitas ini menjadi wadah bagi para atlet untuk berkontribusi dalam kegiatan konservasi lingkungan dan PT BPI melakukan intervensi dengan menyertakan para atlet FPTI di Garis Milang berkontribusi pada gerakan konservasi lingkungan melalui Program Bina Alam Hijau Asri Indah (BAHARI) Banjarsari. Program Bahari Banjarsari dilaksanakan sebagai bentuk reboisasi dan penghijauan lahan di wilayah Kabupaten Lahat, dengan para atlet muda sebagai aktor utama dalam penanaman pohon dan penggerak partisipasi masyarakat lokal. Lokasi reboisasi dilaksanakan di 3 tempat, yaitu tepian sungai lematang dan tepian jalan daerah tebing di Desa Jati dan Desa Kuba, serta Bukit Batu Putri di Desa Padang. Pemilihan lokasi didasari rekomendasi dari komunitas Garis Milang dan memperhatikan ancaman banjir dan longsor yang bisa datang di masa depan di 3 lokasi tersebut yang berada di daerah rawan bencana, yaitu tepian sungai dan pinggir tebing. Sinergi antara pembinaan atlet dan pelestarian alam ini menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya manusia dapat berjalan beriringan dengan pembangunan ekologis yang berkelanjutan. Gambar 3. Program Bahari Banjarsari di Bukit Batu Putri Sumber: Dokumentasi PT BPI, 2025 Pelaksanaan kegiatan penanaman melibatkan berbagai pemangku kepentingan, antara lain kepala desa beserta perangkatnya, camat, komunitas penggiat lingkungan Garis Milang. Karang Taruna desa, serta masyarakat setempat. Kolaborasi lintas elemen ini menunjukkan bahwa upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan efektif apabila didukung oleh perencanaan yang terstruktur, intervensi yang tepat, serta partisipasi aktif dari seluruh aktor yang terlibat. Keberhasilan program tercermin dari tertanamnya seluruh bibit pohon yang telah dialokasikan di tiga desa sasaran. Partisipasi aktif dari CSR PT BPI, atlet FPTI, dan stakeholder lokal terjalin selama pelaksanaan program Bahari Banjarsari. Tiap-tiap aktor menjalankan fungsinya masing-masing untuk terwujudnya kelancaran pelaksanaan CSR PT BPI sebagai pihak yang melakukan intervensi kepada para stakeholder dan inisiator pelaksanaan program, atlet FPTI sebagai subjek pelaksana program, dan stakeholder lokal, seperti kepala desa, perangkat desa, serta karang taruna sebagai aktor yang memberikan dan menyediakan lokasi pelaksanaan program. A Ikhwana, et al Gambar 4. Koordinasi CSR PT BPI bersama Kepala Desa Jati. Desa Kuba, karang taruna, dan komunitas Garis Milang Sumber: Dokumentasi PT BPI, 2025 Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal Jumat 05 hingga Minggu 07 September 2025 di Kecamatan Pulau Pinang dan Merapi Selatan, dengan total penanaman sebanyak 400 pohon yang tersebar di tiga desa sasaran, yaitu A A A Desa Kuba: 100 pohon di sepanjang jalan dan aliran Sungai Lematang. Desa Jati: 100 pohon di sepanjang jalan dan bantaran Sungai Lematang. Desa Padang: 200 pohon di kawasan alam Bukit Batu Putri. Jenis tanaman yang ditanam mencakup pohon buah seperti alpukat yang memiliki nilai ekonomi tinggi, serta tanaman pelindung seperti bambu, bungur, dan bintaro. Pohonpohon ini tidak hanya berfungsi menyerap karbon, menjaga kualitas udara, menahan erosi, dan memperkuat daya dukung lingkungan, tetapi juga memberikan peluang nyata bagi masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi dari hasil panen buah di masa depan. Gambar 5. Kegiatan Penanaman Bibit Pohon di Jalan Desa Jati dan Tepian Sungai Lematang bersama Camat Pulau Pinang. Kepala Desa Jati, dan Komunitas Garis Milang. Sumber: Dokumentasi PT BPI, 2025 Selanjutnya, pada setiap lokasi penanaman dilakukan penandaan titik koordinat sebagai dasar untuk memantau perkembangan pertumbuhan pohon. Langkah ini merupakan bagian dari mekanisme monitoring dan evaluasi yang dirancang untuk A Ikhwana, et al memastikan keberlanjutan program, dengan harapan kegiatan penghijauan dapat diperluas ke wilayah yang lebih luas di masa mendatang. Proses pengawasan pertumbuhan pohon dilaksanakan secara kolaboratif oleh tim CSR PT BPI, komunitas Garis Milang. Karang Taruna, serta perangkat desa setempat. Sinergi lintas sektor ini diharapkan dapat memperkuat efektivitas program sekaligus membangun rasa kepemilikan bersama terhadap upaya konservasi lingkungan di tingkat lokal. Dinamika intervensi BPI mencerminkan adanya partisipasi aktif dari berbagai aktor Atlet muda tidak hanya berperan sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai subjek aktif dalam proses pembinaan dan kampanye lingkungan melalui komunitas Garis Milang dan Program Bahari Banjarsari. Pelatih dan pengurus FPTI Lahat berperan sebagai pendamping teknis sekaligus fasilitator pembentukan karakter. Komunitas lokal di Desa Jati. Kuba, dan Padang turut serta dalam mendukung kegiatan konservasi dan penyediaan ruang sosial bagi atlet. Partisipasi ini diperkuat melalui komunikasi dan koordinasi intensif yang dijalankan oleh PT BPI dan Garis Milang bersama para pemangku kepentingan lokal, termasuk kepala desa beserta jajaran pemerintah desa serta karang taruna di ketiga desa Perspektif Sosio-Ekologis Berangkat dari pandangan Bookchin . yang menilai bahwa hirearki dan struktur dalam sosial masyarakat berkaitan dan mempengaruhi cara pandang manusia terhadap Maka dari itu. Bookchin melanjutkan bahwa harus ada tatanan sosial masyarakat yang baru dan mendukung kebebasan manusia dan alam dari dominasi struktur-hirearkis yang menekan. Melalui pandangan Bookchin tersebut, tulisan ini menganalisis secara lebih lanjut bagaimana program Banjarsari Cipta Prestasi dan Bahari Banjarsari dalam perspektif ekologi sosial. Dalam segi struktur organisasi FPTI Lahat menjalankan sistem yang inklusif, sukarela, dan partisipatif. Setiap calon anggota yang bergabung ke FPTI melalui rekrutmen yang inklusif dan atas dasar kemauan sendiri. Sejak awal. FPTI menunjukan bentuk partisipasi tanpa paksaan yang merupakan pondasi dasar struktur yang bebas akan dominasi dan menindas. Pelatihan fisik yang diberikan kepada anggota FPTI secara sukarela dan berbasis kemampuan individu dapat dipahami sebagai tahap awal dari proses pemberdayaan sosial yang lebih luas. Meskipun pelatihan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan transformasi sosial dalam pengertian struktural seperti yang digagas oleh Murray Bookchin, ia tetap memiliki nilai strategis dalam membentuk kapasitas dasar individu untuk berpartisipasi aktif dalam komunitas. Dalam konteks ekologi sosial. Bookchin menekankan bahwa perubahan ekologis yang berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui transformasi sosial yang demokratis, egaliter, dan partisipatif. Oleh karena itu, pelatihan fisik yang bersifat inklusif dan sukarela dapat dilihat sebagai pintu masuk menuju keterlibatan yang lebih mendalam dalam struktur sosial yang bebas dari dominasi. Lebih lanjut, ketika anggota FPTI yang telah melalui pelatihan fisik kemudian bergabung dalam organisasi pecinta alam, yaitu Garis Milang, keterlibatan mereka mulai bergerak dari ranah individual ke ranah kolektif. Di sinilah prinsip ekologi sosial mulai terwujud secara lebih nyata. Melalui partisipasi aktif dalam kegiatan konservasi lingkungan, penanaman pohon, dan penggerakan masyarakat lokal, para atlet tidak hanya menjadi subjek pembangunan fisik, tetapi juga aktor sosial dalam gerakan ekologis berbasis komunitas. Proses ini mencerminkan struktur sosial yang demokratis sebagaimana diidealkan oleh Bookchin, di mana warga secara langsung terlibat dalam A Ikhwana, et al pengambilan keputusan dan tindakan kolektif untuk membentuk masyarakat yang berkelanjutan secara ekologis. Dalam konteks kolaborasi antar aktor, proses penanaman dan pemantauan pohon di tiga desa melibatkan kepala desa beserta perangkatnya, camat, komunitas Garis Milang. Karang Taruna, tim CSR PT BPI, dan masyarakat setempat. Kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan terwujudnya prinsip ekologi sosial: pengelolaan lingkungan dilakukan melalui jaringan sosial yang egaliter, partisipatif, dan saling mendukung, tanpa dominasi tunggal dari satu pihak. Penandaan titik koordinat untuk setiap lokasi penanaman menjadi bentuk konkret self-management komunitas, di mana pengawasan pertumbuhan pohon dilakukan secara kolektif dan transparan. Dalam kerangka Bookchin, praktik ini merepresentasikan desentralisasi kekuasaan dan distribusi tanggung jawab yang merata, sehingga setiap aktor memiliki peran setara dalam menjaga keberlanjutan ekosistem. Peran program CSR PT BPI dalam pembinaan atlet melalui Banjarsari Cipta Prestasi dan pelestarian lingkungan melalui Program Bahari Banjarsari dapat dipahami sebagai medium integratif yang menjembatani dua ranah penting: pembangunan kapasitas manusia dan pembangunan ekologis berbasis komunitas. Dalam perspektif ekologi sosial Murray Bookchin, integrasi ini mencerminkan upaya konkret untuk membentuk struktur sosial yang demokratis dan bebas dari dominasi, di mana manusia dan alam diposisikan secara setara dalam sistem sosial yang saling mendukung. Pendekatan ini secara mendasar menantang paradigma Corporate Social Responsibility (CSR) konvensional yang seringkali bersifat top-down, instrumental, dan berpotensi eksploitatif karena mengutamakan keuntungan korporasi di atas partisipasi komunitas dan pemulihan ekologis sejati. Program Banjarsari Cipta Prestasi berfokus pada pembinaan atlet muda melalui pelatihan fisik yang bersifat sukarela dan inklusif. Proses ini tidak hanya membentuk kemampuan atletik, tetapi juga membuka ruang bagi partisipasi sosial yang lebih luas. Ketika para atlet kemudian bergabung dalam organisasi Garis Milang dan terlibat aktif dalam Program Bahari Banjarsari, mereka mengalami transisi dari individu yang dilatih secara fisik menjadi aktor kolektif dalam gerakan pelestarian lingkungan. Di sinilah PT BPI memainkan peran strategis sebagai fasilitator integrasi antara pembinaan manusia dan konservasi alam. Peran CSR PT BPI dalam memfasilitasi integrasi pembinaan atlet dan konservasi lingkungan melalui kedua program ini dapat dipahami sebagai medium yang menjembatani pembangunan kapasitas manusia dan pembangunan ekologis berbasis Pendekatan CSR yang dijalankan tidak semata berorientasi pada ekonomi atau reputasi perusahaan, tetapi juga pada pembentukan struktur sosial yang partisipatif dan ekologis, berlandaskan prinsip-prinsip ekologi sosial. Kedua program saling melengkapi: pembinaan atlet menciptakan individu yang berdaya dan sadar lingkungan, sementara program konservasi memberi ruang bagi mereka untuk berkontribusi dalam pembangunan ekologis komunitas. Integrasi ini menunjukkan bahwa CSR dapat menjadi medium transformasi sosial, di mana masyarakat tidak hanya menerima manfaat, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam menciptakan tatanan sosial yang lebih adil dan Kesimpulan Program kemitraan CSR PT BPI di Kabupaten Lahat menunjukkan bahwa pemberdayaan atlet dan konservasi lingkungan dapat diintegrasikan secara strategis untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Melalui kolaborasi FPTI Lahat. PT BPI tidak hanya membina prestasi olahraga, tetapi juga menanamkan kesadaran ekologis pada generasi muda. Program Banjarsari Cipta Prestasi membentuk atlet melalui pelatihan fisik. A Ikhwana, et al pembinaan karakter, dan dukungan fasilitas, sementara program Bahari Banjarsari mengajak mereka terlibat langsung dalam reboisasi dan penghijauan di tiga desa, menanam 400 pohon bernilai ekologis dan ekonomis. Pendekatan ini selaras dengan perspektif ekologi sosial Murray Bookchin, yang menekankan bahwa keberlanjutan lingkungan memerlukan transformasi sosial yang demokratis, egaliter, dan partisipatif. Pendekatan ini secara krusial menantang paradigma Corporate Social Responsibility (CSR) konvensional yang cenderung bersifat top-down dan berbasis donasi. Berbeda dengan CSR konvesional yang sering kali hanya memosisikan perusahaan sebagai penyedia dana . dan komunitas sebagai penerima pasif . , model kemitraan ini mendorong demokrasi sosial-ekologis Atlet tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga aktor perubahan yang menggerakkan komunitas melalui organisasi pecinta alam Garis Milang. Partisipasi aktif pemerintah desa, karang taruna, dan masyarakat memperkuat jejaring sosial-ekologis yang terbentuk. Hal ini terjadi karena inisiatif dan eksekusi program . eboisasi dan pembinaa. dihidupkan oleh partisipasi setara dan kepemilikan lokal, sehingga mengalihkan fokus dari keuntungan citra korporasi semata menuju transformasi sosial-lingkungan yang otentik dan berkelanjutan yang didorong dari akar rumput . ottom-u. Integrasi olahraga dan konservasi ini membuktikan bahwa CSR dapat berfungsi sebagai medium transformasi sosial yang nyata: membangun kapasitas manusia sekaligus memperkuat ekosistem lokal. Hasilnya adalah sinergi antara prestasi, kesadaran lingkungan, dan pemberdayaan komunitas, yang berpotensi menjadi model replikasi di wilayah lain. Dengan komitmen jangka panjang, program ini tidak hanya mencetak atlet berprestasi, tetapi juga generasi muda yang peduli dan berperan aktif dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Oleh karena itu, model integratif yang berbasis pada partisipasi komunitas dan pemanfaatan potensi lokal ini memiliki potensi besar untuk direplikasi dan diadaptasi di wilayah dengan tantangan sosial-ekologis serupa, seperti daerah yang terdampak alih fungsi lahan karena pertambangan, perkebunan monokultur, atau degradasi sumber daya alam. Daftar Pustaka