JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2025, 1-12 Strategi Komunikasi Program CeWoli Jawara Dinas Kesehatan Kota Bandung dalam Penyebaran Nyamuk Nugroho Piter Saputro1*. Iis Kurnia Nurhayati2 Universitas Telkom. Bandung. Indonesia nugrohopiters@gmail. Abstract Dengue fever (DHF) remains a major health problem in Bandung City, with Ujungberung Sub-district being one of the areas with the highest number of cases. The Bandung City Health Office launched the CeWoli Jawara program (Cegah DBD. Wolbachia Jagi Wargi Bandung Juar. as a communication strategy to enhance public understanding of Wolbachia mosquitoes in DHF prevention. This study aims to analyze the communication strategy implemented in disseminating information related to Wolbachia. The research employed a qualitative approach with a case study method, collecting data through in-depth interviews, observations, and document analysis from social media and official publications. The results indicate that the communication strategy of the Bandung City Health Office involved selecting credible communicators . adres, community leaders, health worker. , utilizing various communication channels . ocial media, leaflets, direct socializatio. , and conducting periodic evaluations of community understanding. The program has been effective in increasing community awareness and participation, although challenges remain in combating misinformation. Recommendations include strengthening interpersonal communication and diversifying communication media to improve community acceptance of health innovations. Keywords: Bandung City Health Office. Dengue Fever (DHF). Communication Strategy. Wolbachia Abstrak Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi permasalahan kesehatan utama di Kota Bandung, dengan Kecamatan Ujungberung sebagai salah satu daerah dengan kasus tertinggi. Dinas Kesehatan Kota Bandung meluncurkan program CeWoli Jawara (Cegah DBD. Wolbachia Jagi Wargi Bandung Juar. sebagai strategi komunikasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang nyamuk Wolbachia sebagai metode pencegahan DBD. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi yang diterapkan dalam penyebaran informasi terkait Wolbachia. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen dari media sosial serta publikasi resmi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi Dinas Kesehatan Kota Bandung melibatkan pemilihan komunikator yang kredibel . ader, tokoh masyarakat, tenaga kesehata. , pemanfaatan berbagai saluran komunikasi . edia sosial, leaflet, sosialisasi langsun. , serta evaluasi berkala terhadap pemahaman masyarakat. Program ini efektif dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat, meskipun masih terdapat tantangan dalam mengatasi misinformasi. Rekomendasi penelitian ini mencakup penguatan komunikasi interpersonal dan diversifikasi media komunikasi guna meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap inovasi kesehatan. Keywords: Dinas Kesehatan Kota Bandung. Demam Berdarah Dengue (DBD). Strategi Komunikasi. Wolbachia PENDAHULUAN Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang ada di Indonesia. Penyebaran penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti sebagai vektor utama (Dawe et al. , 2. Kota Bandung menjadi daerah paling banyak ditemukan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) se-Jawa Barat, bahkan angka kasusnya lebih dari 1000 kasus pada tahun 2023. Maka dari itu, menjelang musim hujan penyakit DBD menjadi salah satu yang harus diantisipasi di Kota Bandung (Aurellia, 2023. Untuk menanggulangi penyebaran DBD Submitted: Arpil 2024. Accepted: December 2024. Published: March 2025 ISSN: 2614-8498 . DOI: https://doi. org/10. 32509/pustakom. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2025, 1-12 di Kota Bandung, pada 28 November 2023 Dinas Kesehatan Kota Bandung menyebarkan 308 ember yang berisi telur nyamuk yang telah diinfeksi dengan wolbachia (Aurellia, 2023. Penyebaran dilakukan di Kelurahan Pasanggrahan. Kecamatan Ujungberung. Kota Bandung, sebagai bagian dari program Ce WOLI Jawara (Cegah DBD. Wolbachia jagi Wargi Bandung Juar. Kecamatan Ujungberung dipilih karena menjadi salah satu dari 10 kecamatan dengan kasus DBD tertinggi di Kota Bandung pada tahun 2022. Terdapat lima kelurahan di Ujungberung, yaitu Pasanggrahan. Pasirendah. Cigending. Pasirwangi, dan Pasirjati, namun saat ini penyebaran baru dilakukan di Kelurahan Pasanggarahan. Tujuan dari penyebaran wolbachia adalah untuk mengendalikan penyebaran penyakit DBD, mengingat belum ada obat atau vaksin yang efektif untuk mengatasi penyakit tersebut. Wolbachia adalah jenis bakteri gram-negatif yang dapat hidup di dalam tubuh nyamuk Aedes sp. Bakteri ini mempengaruhi siklus hidup nyamuk, sistem reproduksi, dan kemampuan nyamuk untuk menyebarkan virus dengue (Lusiyana, 2. Dalam hal ini, signifikansi data dan informasi sangat penting karena mampu mendukung pemecahan masalah terkait penyakit dengan menyediakan informasi kepada masyarakat dan mengembangkan solusi terhadap berbagai tantangan yang spesifik (Theresia et al. , 2. Dinas Kesehatan Kota Bandung telah mengambil berbagai langkah strategis dalam menyebarluaskan informasi kepada masyarakat mengenai program CeWoli Jawara, termasuk melalui media sosial seperti Instagram dan website resmi, penyebaran leaflet, serta sosialisasi langsung di beberapa Upaya ini bertujuan untuk memastikan bahwa masyarakat mendapatkan akses yang mudah terhadap informasi yang akurat dan terpercaya terkait penyebaran nyamuk Wolbachia sebagai upaya pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD). Salah satu contoh konkret dari strategi komunikasi ini dapat dilihat pada gambar 1 yang merupakan bentuk leaflet edukatif yang digunakan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung. Leaflet ini berisi penjelasan mengenai Wolbachia sebagai bakteri alami, hasil penelitian sebelumnya yang membuktikan keamanannya, serta klarifikasi bahwa bakteri ini tidak berbahaya bagi manusia, hewan, maupun lingkungan. Selain itu, gambar ini juga memperlihatkan proses penelitian dan persiapan penyebaran nyamuk Wolbachia, yang bertujuan untuk memberikan transparansi kepada masyarakat mengenai metode ilmiah yang digunakan dalam penelitian ini. Penyampaian informasi melalui media cetak seperti leaflet menjadi bagian penting dalam strategi komunikasi pemerintah, terutama dalam menjangkau masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap media digital. Dengan kombinasi berbagai saluran komunikasi ini, pemerintah berupaya untuk memastikan bahwa pesan yang disampaikan dapat dipahami secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat, sehingga mengurangi potensi penyebaran informasi yang keliru atau Sejalan dengan pandangan Siahaan . , komunikasi pemerintah harus dilakukan secara akurat, jelas, dan konsisten agar masyarakat memiliki pemahaman yang sama mengenai kebijakan yang diterapkan. Gambar 1. Leaflet berisi penjelasan mengenai Wolbachia sebagai bakteri alami (Sumber: Instagram @dinkeskota. bdg, 2. Strategi Komunikasi Program CeWoli Jawara Dinas Kesehatan Kota Bandung dalam Penyebaran Nyamuk (Nugroho Piter Saputro. Iis Kurnia Nurhayat. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2025, 1-12 Dengan fokus pada pemahaman masyarakat tentang nyamuk Wolbachia sebagai nyamuk baik. Dinas Kesehatan Kota Bandung berusaha untuk memberikan pemahaman yang benar dan mengurangi kekhawatiran terhadap informasi yang tidak akurat. Analogi nyamuk baik digunakan untuk memudahkan pemahaman masyarakat dan program CeWoli Jawara merupakan langkah inovatif untuk mengurangi kasus DBD dengan memanfaatkan potensi nyamuk Wolbachia. Melalui program ini, pemerintah berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya peran Wolbachia dalam pencegahan DBD serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam mendukung program Dalam pelaksanaan suatu program, dibutuhkan strategi yang sesuai agar program tersebut dapat disusun secara efektif. Riliani et al . , mengungkapkan bahwa strategi komunikasi merupakan upaya terencana yang mengintegrasikan berbagai elemen komunikasi untuk mencapai komunikasi yang optimal. Strategi ini berperan penting dalam perencanaan dan pengelolaan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses kerja organisasi. Selain itu menurut Putri & Wijaya . , strategi komunikasi merupakan pedoman dari perencanaan strategi untuk mencapai suatu Effendy . , menekankan bahwa strategi komunikasi harus didukung oleh teori yang tepat seperti teori komunikasi Harold Lasswell yaitu AuWho Say What in Which Channel to Whom with What EffectAy. Penelitian tentang strategi komunikasi banyak dilakukan sebelumnya, seperti AuAnalisis Strategi Komunikasi Pemerintah dalam Upaya Percepatan Zero Stunting Kabupaten Lima Puluh Kota (Studi Kasus Program Kampanye Sosial Gerakan Seribu untuk Stuntin. yang dilakukan oleh (Alifa & Christin. Temuan dari penelitian tersebut yaitu pemerintah daerah memahami karakteristik masyarakat dan wilayah secara mendalam untuk menentukan strategi komunikasi yang tepat dan efektif dalam menangani stunting di wilayah tersebut. Penelitian tersebut menghasilkan bahwa pemerintah Lima Puluh Kota telah berhasil menurunkan jumlah anak yang terindikasi stunting dengan memberikan edukasi dan pemahaman melalui program GERBUTING yang melibatkan partisipasi masyarakat di Nagari Sungai Naniang. Penelitian lain juga pernah dilakukan oleh Isra & Artis . dengan judul AuStrategi Komunikasi Dinas Kesehatan Provinsi Riau Dalam Mensosialisasikan Program Imunisasi MeaslesRubellaAy. Temuan dari penelitian tersebut menyoroti tentang pentingnya peran komunikator dalam proses komunikasi terkait pencegahan dan pengendalian penyakit di Dinas Kesehatan Provinsi Riau. Komunikator perlu memiliki kemampuan untuk menyampaikan informasi dengan efektif kepada khalayak, menjawab pertanyaan, dan memberikan masukan yang relevan. Temuan menunjukkan bahwa pesan yang disampaikan secara langsung oleh komunikator cenderung lebih rinci dan mudah dipahami oleh masyarakat dibandingkan dengan informasi yang disampaikan melalui media massa. Hal ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya komunikasi dalam konteks kesehatan masyarakat, khususnya terkait dengan program imunisasi. Selanjutnya pada penelitian yang dilakukan oleh Rakhmaniar . yang berjudul AuStrategi Komunikasi Kesehatan Penanganan Covid-19Ay menemukan bahwa strategi komunikasi kesehatan yang efektif dan tepat sangat penting dalam menangani Covid-19 dan mendorong kesadaran masyarakat untuk mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan. Dengan memahami faktor penunjang dan penghambat komunikasi efektif, serta menerapkan taktik yang sesuai dengan situasi dan kondisi, diharapkan penanganan Covid-19 dapat dilakukan dengan baik dan efektif. Berdasarkan penelitian terdahulu tersebut, terdapat kesamaan dalam menerapkan strategi komunikasi diperlukan pemahaman mendalam tentang karakteristik masyarakat dan wilayah, peran komunikator yang efektif, serta strategi komunikasi yang tepat sangat penting dalam menangani isu kesehatan masyarakat. Penelitian ini membahas tentang strategi komunikasi yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung dalam memberikan informasi kepada masyarakat tentang nyamuk wolbachia, mengingat program ini merupakan program yang baru. Serta penelitian tentang strategi Strategi Komunikasi Program CeWoli Jawara Dinas Kesehatan Kota Bandung dalam Penyebaran Nyamuk (Nugroho Piter Saputro. Iis Kurnia Nurhayat. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2025, 1-12 komunikasi dalam penyebaran nyamuk wolbachia belum pernah dilakukan sebelumnya sehingga menjadi novelty atau kebaruan. Terdapat tiga tahapan strategi komunikasi menurut Hermawan & Sriyono . , yaitu penyusunan strategi, implementasi strategi, dan evaluasi strategi. Penyusunan strategi komunikasi melibatkan langkah-langkah seperti memilih komunikator yang kredibel, menganalisis kebutuhan audiens, menyusun pesan yang efektif, memilih media komunikasi yang sesuai, dan melakukan evaluasi secara berkala (Cangara, 2. Implementasi strategi mencakup pengembangan program, alokasi anggaran, dan penerapan prosedur yang tepat (Wheelen et al. , 2. Evaluasi strategi dilakukan melalui evaluasi formatif dan sumatif untuk menilai keberhasilan dan dampak dari program komunikasi (Widjajanto, 2. Merujuk pada teori dan konsep yang telah diuraikan sebelumnya, dapat diuraikan mengenai kerangka pemikiran dari penelitian ini yaitu program CeWoli Jawara merupakan langkah strategis yang diambil oleh pemerintah Kota Bandung untuk mengatasi peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), terutama di Kecamatan Ujungberung. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat mengenai peran bakteri Wolbachia sebagai solusi inovatif dalam mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti, yang merupakan vektor utama penyebaran virus Keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada efektivitas penyebaran nyamuk Wolbachia tetapi juga pada strategi komunikasi yang diterapkan, sehingga informasi yang diberikan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi komunikasi dalam program ini disusun secara sistematis berdasarkan tiga tahap utama, yaitu penyusunan strategi, implementasi, dan evaluasi. Tahap pertama adalah penyusunan strategi komunikasi, yang mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh Cangara . Dalam tahap ini. Dinas Kesehatan Kota Bandung memilih dan menetapkan komunikator yang kredibel, seperti kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan tenaga medis, yang bertugas menyampaikan informasi secara akurat. Selain itu, dilakukan identifikasi target audiens dan analisis kebutuhan informasi guna memastikan pesan yang disampaikan sesuai dengan tingkat pemahaman dan karakteristik masyarakat setempat. Penyampaian pesan menjadi aspek krusial, di mana informasi mengenai Wolbachia harus disajikan secara jelas dan berbasis bukti agar tidak menimbulkan kepanikan atau kesalahpahaman. Selanjutnya, pemilihan media komunikasi yang efektif dilakukan untuk memperluas jangkauan informasi, termasuk melalui media sosial, leaflet, dan sosialisasi langsung ke masyarakat. Tahap kedua adalah implementasi strategi komunikasi, sebagaimana dijelaskan oleh Wheelen & Hunger . Implementasi ini mencakup tiga aspek utama, yaitu pengembangan program komunikasi, pengelolaan anggaran, dan penyusunan prosedur komunikasi. Dalam pengembangan program. Dinas Kesehatan Kota Bandung mengedukasi masyarakat melalui berbagai media, baik digital maupun tatap muka, serta menyelenggarakan kampanye kesehatan di berbagai lingkungan. Pengelolaan anggaran juga menjadi faktor penting untuk mendukung produksi materi informasi, pelatihan kader, serta pelaksanaan sosialisasi secara berkelanjutan. Selain itu, penyusunan prosedur komunikasi dilakukan untuk memastikan bahwa informasi yang diberikan kepada masyarakat bersifat valid, berbasis penelitian, dan mudah diakses. Tahap ketiga adalah evaluasi strategi komunikasi, sebagaimana dijelaskan oleh Widjajanto . , yang terdiri dari evaluasi formatif dan sumatif. Evaluasi formatif dilakukan selama implementasi program untuk mengidentifikasi tantangan dan melakukan perbaikan strategi komunikasi secara real-time agar lebih efektif. Sementara itu, evaluasi sumatif dilakukan setelah program berjalan dalam jangka waktu tertentu untuk menilai efektivitas komunikasi dalam meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat terhadap penyebaran nyamuk Wolbachia. Hasil evaluasi ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk melakukan penyempurnaan strategi komunikasi di masa mendatang. Maka dari itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi komunikasi yang diterapkan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung dalam menyebarluaskan informasi mengenai Strategi Komunikasi Program CeWoli Jawara Dinas Kesehatan Kota Bandung dalam Penyebaran Nyamuk (Nugroho Piter Saputro. Iis Kurnia Nurhayat. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2025, 1-12 Wolbachia kepada masyarakat, serta untuk mengevaluasi efektivitas strategi tersebut dalam meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam program ini. METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Menurut Creswell & Cresswell . , penelitian kualitatif merupakan pendekatan untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang diberikan individu atau kelompok terhadap masalah sosial atau manusia. Proses penelitian ini melibatkan pengembangan pertanyaan dan prosedur yang bersifat fleksibel, di mana data biasanya dikumpulkan di lokasi penelitian. Metode ini digunakan untuk mendapatkan pemahaman mendalam terkait fenomena strategi komunikasi yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung. Metode ini dapat lebih mengeksplorasi bagaimana strategi tersebut dirancang, diimplementasikan, dievaluasi, serta persepsi masyarakat terhadap informasi yang Selain itu, menggunakan pendekatan studi kasus untuk memfokuskan pada kasus spesifik yaitu strategi komunikasi Dinas Kesehatan Kota Bandung terkait penyebaran informasi penyebaran nyamuk wolbachia di Kecamatan Ujungberung. Menurut Daymon & Holloway . studi kasus biasanya menggabungkan kerangka teoritis dengan berbagai pendekatan metodologis untuk melakukan penyelidikan intensif terhadap lokasi, organisasi, atau kampanye tertentu. Penelitian ini mengadopsi paradigma konstruktivisme yang menekankan bahwa realitas sosial dibentuk melalui interaksi sosial dan konstruksi makna bersama. Dalam konstruktivisme sosial, individu dianggap mencoba memahamai lingkungan di sekitarnya. Melalui proses pemahaman ini, terjadi perkembangan makna subjektif terhadap objek tertentu. Sebagai hasilnya, makna tersebut menjadi beragam dan meluas. Kemudian berupaya untuk memahami keberagaman makna ini dengan menyusunnya dan mengkategorikannya ke dalam ide atau konsep tertentu (Creswell, 2. Subjek penelitian ini adalah Dinas Kesehatan Kota Bandung dan strategi komunikasi yang mereka terapkan dalam transparansi informasi penyebaran nyamuk wolbachia di Kecamatan Ujungberung. Objek penelitian ini adalah strategi komunikasi yang digunakan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung untuk menyampaikan informasi tentang penyebaran nyamuk wolbachia di Kecamatan Ujungberung. Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif merupakan proses mengumpulkan informasi yang bersifat mendalam dan kaya makna dari individu atau kelompok yang mengalami suatu masalah Menurut Creswell & Cresswell . , terdapat tiga cara dalam pengumpulan data penelitian kualitatif, yaitu, . Wawancara, wawancara dilakukan secara mendalam atau indepth interview dengan cara tanya jawab antara peneliti dan responden, dan bertujuan untuk memperoleh informasi atau data tentang suatu topik tertentu secara lengkap. Melalui wawancara, peneliti dapat menggali pandangan yang beragam dari berbagai informasi seperti dari sisi Dinas Kesehatan Kota Bandung dan warga Kecamatan Ujungberung, . Observasi, observasi bisa dilakukan secara partisipatif, di mana peneliti ikut terlibat dalam kegiatan yang diamati, atau non-partisipatif, di mana peneliti hanya menjadi pengamat pasif. Dengan terlibat langsung dalam situasi, peneliti dapat mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam terkait bagaimana strategi komunikasi yang dijalankan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung dalam penyampaian informasi nyamuk wolbachia serta interaksi, respon, dan pemahaman masyarakat terhadapnya, . Dokumen, dalam penelitian ini melibatkan pemeriksaan postingan media sosial dan tanggapan terhadap feedback masyarakat terhadap strategi komunikasi yang dijalankan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung. Selain itu, dokumen resmi dari Dinas Kesehatan Kota Bandung yang dapat untuk memverifikasi informasi yang didapatkan dari wawancara dan Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara sistematis dengan mengacu pada model interaktif yang dikembangkan oleh Miles et al . Model ini terdiri dari tiga tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi atau penarikan kesimpulan, yang dilakukan dalam proses interaktif dan berulang. Strategi Komunikasi Program CeWoli Jawara Dinas Kesehatan Kota Bandung dalam Penyebaran Nyamuk (Nugroho Piter Saputro. Iis Kurnia Nurhayat. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2025, 1-12 Tahap pertama adalah pengumpulan data, yang mencakup transkrip wawancara, hasil observasi, catatan lapangan, serta dokumen pendukung lainnya. Data yang diperoleh kemudian melalui proses reduksi, di mana informasi yang dianggap tidak relevan disaring dan difokuskan pada aspek yang berkaitan langsung dengan tujuan penelitian. Proses ini membantu dalam menyederhanakan, mengklasifikasikan, dan mengorganisasikan data agar lebih mudah dianalisis. Selanjutnya, data yang telah direduksi akan masuk ke tahap penyajian data, di mana informasi disusun dalam bentuk tabel, grafik, narasi, atau diagram agar lebih terstruktur dan mudah dipahami. Penyajian data ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai temuan penelitian dan memudahkan peneliti dalam mengidentifikasi pola atau hubungan antarvariabel yang diamati. Tahap terakhir adalah verifikasi atau penarikan kesimpulan, di mana hasil analisis data yang telah disusun kemudian diuji kembali untuk memastikan keakuratan dan konsistensinya. Kesimpulan yang diperoleh tidak bersifat final pada tahap awal, tetapi akan terus dikembangkan seiring dengan temuan baru yang muncul dalam proses analisis. Model ini memungkinkan proses analisis yang lebih dinamis, di mana setiap tahapan saling berhubungan dan dapat dilakukan secara berulang untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam terhadap fenomena yang diteliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Strategi komunikasi memiliki peranan penting dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam konteks kesehatan. Dinas Kesehatan (Dinke. Kota Bandung menerapkan strategi komunikasi dengan memperkenalkan nyamuk wolbachia sebagai cara untuk mengendalikan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Menurut Ibu Ira Dewi Jani selaku Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Dinas Kesehatan Kota Bandung, nyamuk wolbachia disuntikkan ke telur nyamuk Aedes sp. untuk menghasilkan populasi yang membawa bakteri Program CeWoli Jawara (Cegah DBD. Wolbachia Jagi Wargi Bandung Juar. yang dijalankan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung merupakan upaya strategis pemerintah untuk mengurangi Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang meningkat di Kota Bandung. Data dari Pub . , hingga 8 Maret 2024, tercatat 7. 654 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jawa Barat. Sementara Kota Bandung sendiri sudah mencapai 2. 098 kasus sepanjang tahun 2024. Jawa barat juga menempati peringkat pertama dalam jumlah kasus dan kematian akibat DBD (Diskominfo Kota Bandung, 2. Program ini dipandang sebagai langkah inovatif yang signifikan dalam upaya menurunkan angka kejadian DBD dengan memanfaatkan potensi nyamuk wolbachia. Melalui program ini, pemerintah berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya peran wolbachia dalam pencegahan DBD serta mendorong partisipasi aktif masyarakat. Meskipun, masih dihadapkan dengan sentiment negative dari masyarakat terhadap nyamuk Wolbachia akibat pemberitaan hoax yang memicu keraguan. Sebagian masyarakat masih menganggapnya sebagai alat uji percobaan. Dalam mengahadapi ancaman tersebut. Dinas Kesehatan Kota Bandung mengimplemantasikan strategi komunikasi dan informasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyebaran Wolbachia. Menurut Riliani et al . , strategi komunikasi sendiri merupakan upaya terencana yang mengintegrasikan berbagai aspek komunikasi untuk mencapai komunikasi yang optimal, serta dapat meningkatkan efektivitas dan efiesinsi proses kerja. Strategi ini mencangkup tahapan penyusunan, implementasi hingga evaluasi yang sistematis. Penyusunan Strategi Komunikasi Pada tahapan penyusunan startegi komunikasi yang dijalankan Dinkes Kota Bandung, penulis fokus dengan melibatkan langkah-langkah menurut Cangara . dengan memadukan dengan model komunikasi Laswell yaitu who say what in which channel to whom with what effect. Tahapan ini dimulai dengan pemilihan dan penetapan komunikator, menurut Cangara . , pemilihan komunikator yang tepat merupakan kunci dalam merancang startegi komunikasi yang efektif. Hal ini juga didukung dengan hasil wawancara dengan Ketua Promosi Kesehatan Dinkes. Ibu Nilla Avianti, bahwa dalam pemilihan komunikator harus memiliki kredibilitas dan kekuatan dalam persuasif. Strategi Komunikasi Program CeWoli Jawara Dinas Kesehatan Kota Bandung dalam Penyebaran Nyamuk (Nugroho Piter Saputro. Iis Kurnia Nurhayat. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2025, 1-12 Berdasarkan hasil temuan, komunikator tidak hanya berasal dari pihak Dinkes Kota Bandung seperti tim promosi kesehatan . dan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, tetapi juga melibatkan ketiga atau tokoh potensial. Wood et al . , menyebutkan bahwa penting untuk mempertimbangkan keterlibatan masyarakat atau pihak ketiga dalam penyusunan strategi komunikasi kesehatan masyarakat oleh pemerintah. Hal ini bertujuan untuk memperluas jangkauan pesan dan membangun kepercayaan masyarakat. Pihak ketiga dalam program CeWoli ini seperti kader, ibu-ibu PKK, promkes di puskesmas dan tokoh masayarakat yang didasarkan pada kemampuan mereka dalam membawa pesan yang akurat. Selain itu, memiliki hubungan dekat dalam lingkungan masyarakat. Penentuan komunikator juga disesuaikan dengan kebutuhan pesan atau sosialisasi yang dilakukan, dimana kader bertanggung jawab atas penyampaian materi sementara para ahli menangani aspek Tahapan selanjutnya dalam penyusunan strategi komunikasi adalah menganalisis target Kota Bandung dipilih sebagai salah satu wilayah dengan kasus DBD tertinggi di Indonesia. Sebelumnya, program penyebaran nyamuk Wolbachia telah dilakukan di Yogyakarta sejak 2016 dan Semarang menjadi kota pertama dalam implementasi inovasi teknologi wolbachia. Program CeWoli Jawara (Cegah DBD. Wolbachia Jagi Wargi Bandung Juar. di Kota Bandung terlaksana sejak November Penyebaran Wolbachia ini baru dilakukan di satu kelurahan yaitu Kelurahan Pasanggarahan. Kecamatan Ujung Berung. Kota Bandung karena menjadi salah satu dari 10 kecamatan dengan kasus DBD tertinggi di Kota Bandung pada tahun 2022. Kelurahan Pasanggarahan memiliki 6. 725 kepala keluarga dari total keluarga di Kecamatan Ujungberung sebesar 29. 263 dan Kota Bandung secara keseluruhan sebanyak 832. 935 (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, 2. Berdasarkan wawancara bersama Ibu Ira Dewi Jani menyebutkan bahwa pada bulan Mei akan ada penambahan kelurahan di Ujungberung untuk penyebaran nyamuk Wolbachia. Adanya analisis audiens ini untuk memahami karakteristik, kebutuhan dan kepentingan masyarakat, sehingga pesan yang disampaikan lebih relevan dan efektif. Dengan demikian, program ini menargetkan masyarakat Kota Bandung dan Kecamatan Ujungberung sebagai sasaran utama untuk informasi tentang penyebaran nyamuk Wolbachia. Dalam program CeWoli Jawara, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa nyamuk wolbachia ini aman dan efektif dalam mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti serta dapat membantu menurunkan angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Pesan ini dirancang untuk mengatasi informasi yang salah atau hoax yang menyebarkan ketakutan tentang keamanan atau teknologi nyamuk wolbachia. Dalam konteks ini, penyampaian pesan yang jelas dan persuasif dianggap kunci keberhasilan dalam komunikasi. Dalam upaya menyebarkan informasi yang akurat tentang nyamuk wolbachia. Dinas Kesehatan Kota Bandung menggunakan berbagai strategi komunikasi, termasuk melalui media sosial, promosi kesehatan di puskesmas, dan melibatkan tokoh masyarakat yang dipercaya. Mereka juga melakukan uji T atau menguji informasi terkait wolbachia untuk memastikan kebenaran informasi yang disebarkan. Selain itu, mereka juga mengirim surat kepada puskesmas untuk meminta bantuan dalam menyebarkan informasi yang benar tentang wolbachia. Dengan demikian, pesan yang ingin disampaikan dalam program CeWoli Jawara adalah bahwa nyamuk wolbachia merupakan solusi yang aman dan efektif dalam mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti serta dapat membantu dalam menurunkan angka kasus DBD. Melalui sosialisasi yang menyeluruh dan efektif, diharapkan masyarakat dapat memahami konsep ini sehingga dapat mendukung program ini dengan baik. Pemilihan media komunikasi merupakan langkah penting dalam strategi komunikasi yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung. Media digunakan sebagai saluran untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat, baik itu melalui media massa tradisional seperti televisi, radio, dan surat kabar, maupun media baru seperti internet dan aplikasi komunikasi sosial. Strategi Komunikasi Program CeWoli Jawara Dinas Kesehatan Kota Bandung dalam Penyebaran Nyamuk (Nugroho Piter Saputro. Iis Kurnia Nurhayat. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2025, 1-12 Gambar 2 Leaflet di media sosial @dinkeskota. (Sumber: Instagram dinkeskota. bdg, . Dinas Kesehatan Kota Bandung menggunakan media sosial dan website resmi sebagai media komunikasi utama. Dalam pemilihan media komunikasi, penting untuk mempertimbangkan karakteristik dan tujuan pesan yang ingin disampaikan. Keberhasilan dan efektivitas program komunikasi dapat dievaluasi melalui analisis SWOT dan identifikasi faktor pendukung dan penghambat Evaluasi ini bertujuan untuk meningkatkan pencapaian hasil yang lebih baik di masa Dinas Kesehatan Kota Bandung perlu melakukan evaluasi secara berkala untuk mengetahui sejauh mana pesan-pesan terkait nyamuk wolbacia telah disampaikan dengan baik kepada masyarakat, seberapa besar tingkat pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap program ini, serta dampak nyata dari program penanganan nyamuk wolbachia di Kecamatan Ujungberung. Dalam konteks evaluasi penyusunan strategi komunikasi, penting untuk mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat kampanye guna mengetahui apa yang telah berjalan dengan baik dan apa yang perlu diperbaiki di masa mendatang. Faktor pendukung dapat mencakup dukungan dari stakeholder kunci, sumber daya yang memadai, dan partisipasi aktif masyarakat. Sementara faktor penghambat bisa termasuk tantangan dalam mengubah perilaku masyarakat, kendala logistik, atau resistensi terhadap Implementasi Strategi Komunikasi Implementasi strategi komunikasi dalam program CeWoli Jawara dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung melalui langkah-langkah yang terstruktur. Proses implementasi ini melibatkan pembangunan budaya yang mendukung strategi, pembentukan struktur organisasi yang efisien, realokasi upaya pemasaran, pengaturan anggaran, pengembangan, dan pemanfaatan sistem informasi serta kaitan kompensasi karyawan dengan kinerja organisasi. Implementasi strategi ini merupakan proses pengelolaan sumber daya organisasi dan manajemen melalui strategi yang dipilih, yang perlu dilakukan untuk melihat bagaimana realisasi strategi yang direncanakan. Untuk menjalankan implementasi strategi dengan efektif, diperlukan komitmen dan kerja sama dari seluruh unit, tingkat, dan anggota perusahaan. Dalam konteks program CeWoli Jawara, implementasi strategi komunikasi dilakukan dengan mengikuti prosedur-prosedur yang telah ditetapkan. Langkah-langkah tersebut mencakup proses pengumpulan data tentang penyebaran nyamuk wolbachia, penyusunan materi informasi yang jelas dan akurat berdasarkan data tersebut, serta pelaksanaan kegiatan komunikasi dengan masyarakat. Dengan memastikan bahwa informasi yang disampaikan kepada masyarakat didasarkan pada data yang valid dan relevan. Dinas Kesehatan Kota Bandung dapat meningkatkan efektivitas dan keberhasilan program pencegahan DBD. Tim lapangan yang terlibat dalam program ini akan memiliki Strategi Komunikasi Program CeWoli Jawara Dinas Kesehatan Kota Bandung dalam Penyebaran Nyamuk (Nugroho Piter Saputro. Iis Kurnia Nurhayat. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2025, 1-12 tanggung jawab yang lebih besar dalam berinteraksi secara langsung dengan masyarakat. Tim lapangan ini seperti para kader melakukan upaya promotive seperti memberikan edukasi, penjelasan dan sosialisasi kepada masyarakat sebagai perwakilan dari Dinas Kesehatan Kota Bandung. Hal ini menunjukkan bahwa tim lapangan akan menjadi agen utama dalam memastikan bahwa masyarakat memahami program tersebut dan terlibat secara aktif dalam pelaksanaanya. Sebelum itu, mengikuti On Job Training (OJT) yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung untuk mendalami perannya masing-masing dan pemahaman terkait Wolbachia. Para tim lapangan ini juga diikutsertakan dalam melihat pengujian teknologi untuk nyamuk Wolbachia di UGM. Dalam wawancara dengan Ibu Nilla Avianti. Fungsional Ahli Muda Penyuluhan Kesehatan Masyarakat dan Ketua Tim Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Bandung, terungkap bahwa implementasi program ini didasarkan pada tiga aspek penting, yaitu kondisi Kecamatan Ujungberung sebagai salah satu daerah dengan kasus DBD tertinggi, pelatihan SDM di UGM, dan responsifnya aparat wilayah beserta dukungan masyarakat. Hal ini menunjukkan pentingnya partisipasi masyarakat dan kesiapan infrastruktur lokal dalam mendukung implementasi program pencegahan DBD. Evaluasi Strategi Komunikasi Program CeWoli Jawara dievaluasi menggunakan evaluasi sumatif, yang lebih fokus pada penilaian akhir dari program atau kegiatan yang melibatkan pendokumentasian data sepanjang pelaksanaan program atau perencanaan. Evaluasi ini melibatkan pembuatan laporan evaluasi yang mencakup hasil analisis data dari bidang media yang bertanggung jawab dalam menyebarkan informasi tentang penyebaran nyamuk wolbachia. Tujuannya bukan hanya melaporkan data, tetapi juga menginterpretasikan data untuk menilai sejauh mana keberhasilan atau kegagalan bidang media dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Proses evaluasi ini seringkali dilengkapi dengan laporan dan penilaian yang diperoleh dari pengukuran seperti survey atau wawancara untuk mengumpulkan data dan umpan balik langsung dari audiens terkait efektivitas dan dampak dari program komunikasi CeWoli Jawara. Dalam pengukuran informasi yang telah disebarkan kepada masyarakat. Ibu Nilla Avianti dari Dinas Kesehatan Kota Bandung menyatakan bahwa efektivitas pesan dievaluasi dengan melihat jumlah pembaca dan jumlah like atau interaksi lainnya. Data ini membantu mengetahui seberapa banyak orang yang tertarik dengan informasi tentang wolbachia yang disampaikan, biasanya diambil dari media sosial. Selain itu, dalam evaluasi, akan dibuat kuesioner atau dilakukan pengumpulan umpan balik terkait informasi yang tersebar di masyarakat. Pembahasan Penelitian ini menyoroti strategi komunikasi yang diterapkan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung dalam menyebarluaskan informasi mengenai nyamuk Wolbachia sebagai bagian dari program CeWoli Jawara. Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD). Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa strategi komunikasi yang diterapkan mencakup pemilihan komunikator yang kredibel, pemanfaatan berbagai saluran komunikasi, serta evaluasi berkala terhadap pemahaman Bagian ini akan membandingkan temuan penelitian dengan teori dan penelitian terdahulu yang relevan. Menurut Cangara . , strategi komunikasi harus mencakup beberapa elemen utama, yaitu pemilihan komunikator, analisis target audiens, penyusunan pesan, pemilihan media komunikasi, dan evaluasi efektivitas komunikasi. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Dinas Kesehatan Kota Bandung telah menerapkan strategi komunikasi yang selaras dengan konsep tersebut. Pemilihan komunikator dalam program CeWoli Jawara melibatkan kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan tenaga kesehatan, yang memiliki kredibilitas tinggi di mata masyarakat. Keberadaan komunikator yang dapat dipercaya ini sejalan dengan teori Cangara yang menekankan pentingnya kredibilitas dalam efektivitas komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dinas Kesehatan Kota Bandung menggunakan kombinasi berbagai media komunikasi, seperti media sosial (Instagram dan websit. Strategi Komunikasi Program CeWoli Jawara Dinas Kesehatan Kota Bandung dalam Penyebaran Nyamuk (Nugroho Piter Saputro. Iis Kurnia Nurhayat. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2025, 1-12 leaflet, serta sosialisasi langsung kepada masyarakat. Hal ini sejalan dengan penelitian Rakhmaniar . tentang strategi komunikasi kesehatan dalam penanganan COVID-19, yang menekankan bahwa komunikasi yang efektif dalam kampanye kesehatan memerlukan pendekatan multikanal agar pesan dapat menjangkau berbagai kelompok masyarakat. Strategi ini juga didukung oleh Putri & Wijaya . , yang mengungkapkan bahwa komunikasi yang terintegrasi melalui berbagai platform meningkatkan pemahaman audiens secara signifikan. Penelitian ini menemukan bahwa program CeWoli Jawara telah meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pencegahan DBD melalui nyamuk Wolbachia. Namun, tantangan utama dalam implementasi strategi komunikasi ini adalah penyebaran informasi yang salah . yang menyebabkan ketidakpercayaan di sebagian masyarakat. Widjajanto . menekankan pentingnya evaluasi formatif dan sumatif dalam menilai keberhasilan suatu strategi komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi formatif telah dilakukan dalam bentuk pemantauan dan penyesuaian strategi berdasarkan respons masyarakat. Namun, evaluasi sumatif belum sepenuhnya dilakukan mengingat program ini masih dalam tahap awal Penelitian Utarini et al, . tentang penyebaran nyamuk Wolbachia di Yogyakarta menunjukkan bahwa program ini berhasil mengurangi kasus DBD sebesar 77,1% dan menurunkan tingkat hospitalisasi hingga 83%. Salah satu faktor keberhasilan program tersebut adalah adanya strategi komunikasi yang komprehensif dan keterlibatan masyarakat dalam implementasinya. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa program di Bandung memiliki potensi yang sama jika strategi komunikasi diperkuat dengan meningkatkan transparansi informasi serta memperluas kanal komunikasi yang digunakan. Meskipun program CeWoli Jawara menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat, masih terdapat tantangan berupa penyebaran hoaks dan resistensi masyarakat terhadap inovasi ini. Drew & Nyerges . , menegaskan bahwa transparansi informasi pemerintah harus mencakup kejelasan dan aksesibilitas informasi untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat. SIMPULAN Dinas Kesehatan Kota Bandung menerapkan strategi komunikasi dengan memperkenalkan nyamuk wolbachia sebagai cara untuk mengendalikan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Program CeWoli Jawara yang dijalankan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung merupakan upaya strategis pemerintah untuk mengurangi kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang meningkat di Kota Bandung. Penyusunan strategi komunikasi oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung dalam program ini menjadi penting dalam membangun kesadaran, pemahaman, kepercayaan dan partisipasi masyarakat. Proses penyusunan strategi komunikasi melibatkan langkah-langkah sistematis mulai dari pemilihan komunikator. Lingkup komunikasi pemerintah memerlukan bantuan pihak ketiga seperti kader, tokoh masyarakat, puskesmas dan pihak lainnya. Dalam pemilihan ini, peran masingmasing seperti Dinas Kesehatan atau para ahli memiliki keahlian teknis yang dibutuhkan, sementara kader dan promkes puskesmas berinteraksi langsung dengan masyarakat. Langkah ini dianggap tepat untuk menyebarkan informasi yang tepat kepada masyarakat. Selain itu, pemilihan saluran komunikasi yang tepat menunjukkan upaya Dinas Kesehatan Kota Bandung dalam mencapai berbagai segmen Penggunaan media sosial seperti Instagram digunakan untuk penyebaran informasi yang cepat dan luas, sementara grup whatsaap digunakan untuk mencegah penyebaran informasi palsu. Penggunaan leaflet dan komunikasi langsung dapat menjadi metode yang efektif untuk mencapai masyarakat yang memiliki akses terbatas ke media digital. Implementasi strategi komunikasi melibatkan pelaksanaan secara efektif dan efisien dari rencana yang telah disusun termasuk penyelenggara sosialisasi di Keluruhan Pasanggarahan. Kecamatan Ujungberung dan pelatihan atau On Job Training (OJT) kepada kader, promkes puskesamas, tokoh masyarakat yang dipimpin langsung oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung dari pihak P2P dan mengundang peneliti dan para ahli. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi Strategi Komunikasi Program CeWoli Jawara Dinas Kesehatan Kota Bandung dalam Penyebaran Nyamuk (Nugroho Piter Saputro. Iis Kurnia Nurhayat. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2025, 1-12 Evaluasi menjadi langkah penting untuk menilai keberhasilan strategi komunikasi yang telah Melalui evaluasi. Dinas Kesehatan Kota Bandung dapat mengindentifikasi kekuatan dan kelemahan dari setiap tahapan strategi komunikasi yang telah dilaksanakan. Langkah ini melibatkan pengumpulan umpan balik atau feedback dari masyarakat, khususnya wilayah Ujungberung serta analisis intraksi media sosial Instagram @dinskeskota. Dengan demikian, hasil evaluasi ini diperlukan agar dapat dilakukan perbaikan dan penyesuaian guna mencapai tujuan program secara DAFTAR PUSTAKA