p-ISSN : 2745-7141 e-ISSN : 2746-1920 Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Peningkatan Kemampuan Pemahaman Membaca Permulaan Pada Peserta Didik Kelas 1 Sekolah Dasar Melalui Pendekatan Literasi Multimodal Bunga Ayu Maulida1. Masroro Diah Wahyu Lestari2 Universitas Muhammadiyah Jakarta. Indonesia1,2 Email: bungamaulidaa05@gmail. INFO ARTIKEL ABSTRAK Kata Kunci: pengabdian. Pada siswa kelas 1 SD Muhammadiyah 37 menunjukan rendahnya kemampuan pemahaman membaca permulaan. 40% pada siswa pengajaran, media visual kelas 1 SD Muhammadiyah 37 untuk memahami teks, yang paling sederhana masih kesulitan, mengaitkan kata dengan makna dan mengembangkan pemahaman dari bacaan tersebut. Pendekatan dan media yang digunakan dalam pembelajaran pada kelas 1 SD muhammadiyah 37 kurang efektif dan kurang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan literasi multimodal dalam meningkatkan kemampuan pemahaman membaca permulaan siswa kelas 1 SD. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang melibatkan siklus perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi yang dilakukan secara berulang. asil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada kemampuan membaca siswa dari pra-siklus hingga siklus II. Setelah diterapkan pendekatan multimodal dengan tidak adanya perubahan strategi peningkatan pembelajaran pada siklus tersebut. Ditemukan hasil dalam perbandingan tes pemahaman membaca dari siklus pertama sampai siklus ke 2 dinyatakan bahwa kinerja peserta didik ratarata 20-40% lebih baik setelah metode literasi multimodal Keywords: Service. ABSTRACT In the 1st grade students of SD Muhammadiyah 37, it shows low Teaching. Visual Media initial reading comprehension. 40% of the 1st grade students of SD Muhammadiyah 37 to understand the text, the simplest is still difficult, to associate words with meanings and develop understanding of the reading. The approaches and media used in learning in grade 1 of SD Muhammadiyah 37 are less effective and less diverse. This study aims to examine the application of multimodal literacy in improving the ability of early reading comprehension of grade 1 elementary school students. The research method used is Classroom Action Research (PTK), which involves a cycle of planning, implementation, observation, and reflection that is carried out repeatedly. The results of the study showed a significant improvement in students' reading ability from pre-cycle to cycle II. After applying a multimodal approach with no change in the learning improvement strategy in the cycle. It was found that the results in the comparison of reading comprehension tests from the first cycle to the second cycle were stated that the average performance of students was Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Bunga Ayu Maulida1. Masroro Diah Wahyu Lestari2 20-40% better after the multimodal literacy method was PENDAHULUAN Dalam Islam, membaca merupakan sarana yang bertujuan untuk memperoleh wawasan, pengetahuan dan pemahaman. Dengan membaca, umat Islam dapat mengamalkan agama Allah, mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, dan dapat mencapai kesempurnaan di dunia saat ini, dan di akhirat. Membaca sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Hal ini didukung oleh ayat al-quran pada quran surat Al-Alaq ayat 1 yang berbunyi AO anA e Aaeae acaea a accao aA yang mempunyai arti Au Bacalah dengan . nama Tuhanmu yang menciptakan. Ay Itulah sebabnya salah satu wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca yang menunjukkan relevansi membaca dalam Islam. AuMembaca adalah jendela duniaAy sebuah ungkapan sederhana yang memiliki makna lebih dalam terutama ketika menyangkut kemampuan seseorang dalam memperoleh, mengetahui dan memahami dunia di sekelilingnya dalam kaitannya dengan membaca. Melalui membaca, seseorang dapat mengeksplorasi berbagai mata pelajaran misalnya sains, sejarah, antropologi, serta teknologi, itu memberikan peluang untuk memperoleh berbagai informasi, pengalaman, dan sudut pandang yang sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya buku, esai, dan sumber daya cetak lain itu bertindak sebagai sumber pendidikan yang membuka jalan bagi pengetahuan baru tentang Dengan membaca, kita bisa belajar tentang sejarah masa lalu, menginterogasi keadaan saat ini, dan bahkan berspekulasi bagaimana masa depan akan terjadi. Membaca memberi kita kesempatan untuk menyaksikan perubahan yang terjadi dalam budaya dan masyarakat serta memberi kita pelajaran dari sejarah. Oleh karena itu, ungkapan Aumembaca adalah jendela duniaAy menekankan pentingnya peran membaca sebagai sarana bagi individu untuk membuka wawasan baru. Hal ini memungkinkan pembaca untuk berpikir out of the box dan mengeksplorasi ide-ide kreatif. Membaca memainkan peran yang sangat diperlukan karena menjadi dasar dari semua upaya pendidikan dalam setiap sistem pendidikan itu sendiri. Pelajaran membaca permulaan biasanya diperkenalkan di sekolah pada tingkat dasar dan berfungsi sebagai landasan bagi perkembangan bahasa pada tingkat tersebut. Pelajaran seperti itu akan berlanjut hingga penjabarannya (Muhyidin et al. , 2. Mengajarkan membaca permulaan kepada anak-anak sangat penting karena keterampilan ini merupakan fondasi bagi perkembangan literasi mereka. Salah satu perkembanagan yang sangat penting bagi anak adalah tahapan perkembangan bahasanya. Keterampilan berbicara, keterampilan membaca, menulis, dan menyimak adalah cangkupan dari perkembangan Bahasa pada anak (Nisak Aulina & Sausan, 2. Membaca harus dimulai dari awal. ini akan memberikan landasan yang diperlukan bagi anak untuk belajar mengenali huruf, bunyi, kata, dan konstruksi kalimat pendek. Ini adalah keterampilan Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Peningkatan Kemampuan Pemahaman Membaca Permulaan Pada Peserta Didik Kelas 1 Sekolah Dasar Melalui Pendekatan Literasi Multimodal penting yang harus diperoleh sebelum hal yang lebih sulit dapat dibaca. Anak-anak yang belajar membaca secara dasar kemungkinan besar akan siap untuk tingkat kemajuan membaca berikutnya. Membaca pada tingkat pemula memberikan anak paparan kata-kata dan pola bicara baru sehingga meningkatkan kosa kata mereka. Ketika anak memahami lebih banyak kata, maka akan lebih mudah baginya untuk memahami teks dan mengartikulasikan pikiran dan perasaannya secara efektif. Untuk meningkatkan mutu pendidikan, guru yang melakukan pembelajaran dan dibantu dengan pendekatan pembelajaran (Aminah et al. , 2. Keterampilan membaca permulaan pada tahap awal merupakan keterampilan vital yang perlu dikuasai oleh semua peserta didik di sekolah dasar khususnya kelas awal seperti kelas 1. Pada kelas rendah seperti kelas 1 usia ini menunjukkan sedikit atau bahkan tidak ada minat untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang berhubungan dengan membaca, terutama jika menurut mereka bahan bacaan yang disediakan membosankan atau tidak menarik. Hal ini berdampak buruk pada perkembangan kemampuan membaca Secara khusus, kemampuan pemahaman masih kurang pada sebagian besar siswa kelas dua sekolah dasar. Meskipun mereka dapat membaca dengan suara keras atau menghafal sejumlah besar teks, mereka kesulitan untuk memahami makna dari bacaan atau isi yang sederhana. Keterampilan ini tidak hanya berperan sebagai landasan literasi, namun juga berfokus pada kemampuan menunjang siswa dalam mata pelajaran lain yang memerlukan membaca. Dalam kegiatan belajar mengajar, membaca pada tingkat awal menjadi ruang di mana siswa mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis, membayangkan diri dalam cerita, dan keterampilan memecahkan masalah. Namun kenyataannya, banyak siswa kelas dua sekolah dasar yang mengalami kesulitan dalam memahami teks sederhana. Rendahnya pemahaman pembaca pemula disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: langkanya sumber pengajaran yang menarik, terbatasnya metode pembelajaran, dan kurang memadainya penggunaan materi yang menumbuhkan partisipasi aktif siswa. Menurut (Akhmad sudrajad, 2. pendekatan pembelajaran adalah ebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Beberapa faktor terbesar yang menentukan keberhasilan pelatihan generasi berikutnya untuk keunggulan kepemimpinan adalah pendidikan dan gaya pengasuhan (Zenaida et al. , 2. Oleh karena itu, guru memerlukan pedagogi yang akan memastikan bahwa siswa menjadi pembaca yang efisien dan juga memperhatikan minat dan keterlibatan mereka. Penelitian ini menggunakan pendekata literasi multimodal sebagai usaha untuk menatasi rendahnya kemampuan membaca pemahaman peserta didik kelas 1 pada SD Muhammadiyah 37. Literasi multimodal atau literasi multimodal, adalah salah satu pendekatan yang berpotensi dalam mendorong keterampilan pemahaman membaca dini di kalangan siswa sekolah dasar. Literasi multimodal melibatkan pembelajaran membaca tidak hanya menggunakan teks tetapi juga gambar, suara, video dan bentuk media lainnya. Karena pendekatan ini, siswa dapat memperoleh informasi dengan lebih dari satu cara. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Bunga Ayu Maulida1. Masroro Diah Wahyu Lestari2 memungkinkan mereka mengembangkan pemahaman yang lebih menyeluruh terhadap teks yang dibaca. Dengan multimodal, guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggabungkan beberapa media, misalnya menggunakan media berbasis audio, visual, maupun audio-visual (Lee, 2. Penggabungan media yang berbeda akan membantu gaya belajar yang berbeda, sehingga memungkinkan siswa untuk terlibat, misalnya, secara visual, aural, atau kinestetik, apa pun masalahnya. Multimodalitas dipahami pula sebagai seperangkat sumber daya yang terorganisir dan teratur untuk pembuatan makna, termasuk, gambar, tatapan, gerakan, gerakan, musik, ucapan dan efek suara (Yunus Abidin, 2. multimodal dapat membantu siswa menjadi mahir membaca dan menghasilkan teks multimodal yang cerdas dan menarik dengan memperhatikan beberapa elemen yang berkontribusi terhadap makna teks dan bagaimana keputusan tertentu membantu siswa mencapai tujuan komunikasi yang diinginkan. Multimodalitas dipahami pula sebagai seperangkat sumber daya yang terorganisir dan teratur untuk pembuatan makna, termasuk, gambar, tatapan, gerakan, gerakan, musik, ucapan dan efek suara. Menurut Kress dan van Lueween, 1996 Teori multimodal yang dikemukakan oleh Gunther Kress dan Theo van Leeuwen dalam (Muhyidin et al. , 2. menegaskan bahwa komunikasi tidak terbatas pada teks saja. Ilustrasi, warna, suara, dan elemen visual lainnya juga disertakan. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman membaca dalam situasi multimodal melibatkan berbagai modalitas atau bentuk yang berbeda dan melampaui pemahaman sederhana atas kata-kata tercetak. Misalnya auditori, visual, taktil, atau bahkan digital. Masing-masing modalitas ini memberikan kontribusi yang berbeda terhadap makna yang dikomunikasikan dan membantu pelajar dalam memperluas pemahaman mereka. Selain meningkatkan kemampuan bahasa reseptif, pembelajaran berbasis multimodal juga membantu siswa menjadi lebih mahir dalam berbahasa Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa pendekatan literasi multimodal dapat meningkatkan pemahaman dan keterlibatan peserta didik dalam membaca. Pada penelitian (Bao, 2. menyatakan bahwa penggunaan multimodalitas dalam pengajaran membaca meningkatkan efikasi diri peserta didik dalam penguasaan bahasa, khususnya dalam membaca, dan menstimulasi suasana kelas. Hal ini juga mendorong peserta didik untuk membaca di luar kelas. Di samping itu, pendekatan ini juga dapat membuat kegiatan membaca menjadi lebih menyenangkan, sehingga mendorong motivasi belajar peserta didik. Oleh karena itu, pendekatan literasi multimodal diharapkan dapat menjadi solusi yang efektif dalam meningkatkan kemampuan pemahaman membaca permulaan pada peserta didik kelas 2 SD. Pada peneletian (Qizi, 2. bahwa upaya kontemporer Fray manggunakan pendekatan multimodal mencakup aspek teoritis dan praktis tentang bagaimana teknologi saat ini dapat diintegrasikan ke dalam pengajaran di kelas. Secara kultural atau kontekstual, komitmen terhadap peningkatan peningkatan literasi membaca pada anak-anak sekolah dasar. Dalam Penlitian (Jayananda, 2. Hasil pengembangan produk LKS ini berimplikasi pada kemampuan guru untuk menghasilkan format LKS yang mengakomodasi prinsip- prinsip multimodal yang efektif dalam melaksakan Berdasarkan penelitian seelumnya tentang multimodal di Inner Mongolia Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Peningkatan Kemampuan Pemahaman Membaca Permulaan Pada Peserta Didik Kelas 1 Sekolah Dasar Melalui Pendekatan Literasi Multimodal University for Nationalities, sekolah dasar di Uzbekistan, serta di sekolah dasar negeri 3 Penatih. Novelty penelitian ini dari tiga penelitian terdahulu adalah menyoroti bagaimana pendekatan literasi multimodal meningkatkan pemahaman membaca permulaan . ra-membaca, mengenal huruf, kata sederhan. dan menerapkan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran sedangkan tiga penelitia terhaduhulu berfokus pada keterampilan membaca secara umum, serta penerapanya bukan untuk dalam kegiatan Ada beberapa tahapan yang penulis pakai pada saat penelitian berlangsung, . penyusunan materi, materi yang dipakai dirancang supaya dapat ditampilkan menggunakan berbagai media seperti sebuah teks didukung dengan konsep visual yaitu gambaran atau video ringkas disertakan dengan cerita sederhana. Pengenalan materi secara multimodal. Menyampaikan pembacaan berkenaan topik melalui berbagai cara Misalnya, dimulai dari teks naratif, dilanjutkan dengan gambar yang relevan, atau klip pendek yang menjelaskan cerita. Aktivitas membaca terbimbing membimbing siswa dalam membaca suatu teks dengan tetap memperhatikan komponen visual atau audio yang akan membantu mereka dalam memahami konteks bacaan, mengajukan pertanyaan-pertanyaan dasar untuk memastikan bahwa pemahaman siswa terhadap teks bersifat progresif. Diskusi dan penggalian makna, dengan mendorong mereka untuk menjelaskan makna sebuah cerita atau suatu bagian dalam bacaan dengan bantuan gambar atau video. Latihan berbasis modalitas berbeda dalam kegiatan ini guru memberikan semacam tugas kepada peserta didik dengan cara mengingat pemahaman bacaan dan kegiatan pemaknaan seperti menjawab pertanyaan berdasarkan gambar atau menceritakan kembali cerita yang pernah didengarnya. Pada siswa kelas 1 SD Muhammadiyah 37 menunjukan rendahnya kemampuan pemahaman membaca 40% pada siswa kelas 1 SD Muhammadiyah 37 untuk memahami teks, yang paling sederhana masih kesulitan, mengaitkan kata dengan makna dan mengembangkan pemahaman dari bacaan tersebut. Pendekatan dan media yang digunakan dalam pembelajaran pada kelas 1 SD muhammadiyah 37 kurang efektif dan kurang beragam. Oleh karena itu, tujuan kegiatan adalah untuk meningkatkan pemahaman peserta didik melalui peningkatkan kemampuan membacanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan literasi multimodal dalam meningkatkan kemampuan pemahaman membaca permulaan pada peserta didik kelas 1 SD. Penelitian ini juga berusaha untuk mengetahui sejauh mana pendekatan ini efektif dalam mendukung pemahaman, keterlibatan, dan motivasi belajar siswa terhadap bacaan di kelas awal. METODE PENELITIAN Penelitan ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas atau classroom action Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat diartikan sebagai suatu proses bersiklus yang dilakukan oleh guru di dalam kelas guna mencapai tujuan tertentu. Ini terdiri dari persiapan, tindakan, observasi, dan refleksi, serta ujuan umum PTK adalah mengangkat dan meningkatkan taraf pendidikan (Abdillah. Penelitian tindakan kelas yang biasa disebut PTK merupakan salah satu bentuk khas penelitian tindakan. Istilah Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Bunga Ayu Maulida1. Masroro Diah Wahyu Lestari2 penelitian tindakan kelas mengacu pada perkembangan penelitian terapan Dalam hal ini, peneliti dapat menjadi . pemain aktif yang terlibat dalam kegiatan utama, . agen perubahan . hange agen. orang yang mengambil manfaat dari hasil tindakan yang disengaja dari peneliti (Sukardi. Aspek terakhir inilah yang paling penting bagi perkembangan penelitian, karena selama ini responden hanya berperan sebagai pemberi informasi pada saat penelitian. Tujuan PTK sendiri salah satunya yaitu, memperaiki serta meningkatkan mutu dalam kegaiatan pembelajaran dengan harapan tercapainya tujuan dalam pembelajaran (OAoCollins & Farrugia, 2. Penelitian yang berkaitan dengan peningkatan pendidikan dapat disebut Penelitian Tindakan Kelas, dimana pendidik melakukan kegiatan penelitian di dalam kelas. Kepentingan utamanya adalah meningkatkan mutu pendidikan melalui perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan penilaian yang sistematis terhadap serangkaian kegiatan. PTK dimaksudkan untuk segera menyelesaikan permasalahan belajar mengajar di kelas dengan tetap memperhatikan pengembangan profesionalitas guru melalui reflektifitas dan Perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi termasuk di antara Namun jika model tertentu. Setelah PTK para ahli terkumpul, akan dilakukan penelitian tindakan kelas dengan pendekatan investigatif yang bersifat reflektif dan siklus (Yanuarto et al. , 2. Karakterristik PTK yaitu guru perduli, kesaradarn, masalah, refleksi, tafakur, penyebab, rencana, pembelajaran dikelas sendiri, siklus, rencana, pelaksanaan, oserfasi, refleksi, revisi, keterbatasan, validasi, generalisasi (Saputra, 2. Proses PTK terdiri dari empatlangkah berurutan: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi, yang membentuk siklus atau daur yang berhubungan dengan siklus Ini adalah pendekatan yang dinamis untuk pengembangan praktik pembelajaran yang terus-menerus menurut Rahman, 2018 dalam (Fitri Ginting et al. Gambar 1. Siklus Penelitian Tindakan Kelas Proses Penelitian Tindakan Kelas umumnya melibatkan beberapa tahap, seperti: Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Peningkatan Kemampuan Pemahaman Membaca Permulaan Pada Peserta Didik Kelas 1 Sekolah Dasar Melalui Pendekatan Literasi Multimodal Perencanaan: Tahap ini meliputi pendefinisian masalah atau tujuan yang ingin dicapai, menyusun langkah-langkah tindakan yang akan diambil, dan merancang alat untuk Implementasi (Tindaka. : Tahap ini melibatkan pelaksanaan perubahan atau aktivitas yang dimaksudkan dalam lingkungan pembelajaran. Guru atau praktisi pendidikan lainnya terlibat dalam aktivitas yang diberikan sesuai rencana yang dilaksanakan. Observasi. Pada tahap ini berlangsung observasi jalannya pembelajaran dan diperolehnya data-data yang diperlukan. Pengamatan dilakukan sedemikian rupa sehingga perlu dilakukan penilaian terhadap dampak dan kemajuan kegiatan yang Refleksi: Tahap ini meliputi pengolahan informasi yang dikumpulkan, penilaian proses pendidikan, dan penentuan perubahan dan perbaikan yang telah dilakukan. Praktik reflektif inilah yang menginformasikan tindakan selanjutnya yang harus dilakukan setelah evaluasi. Biasanya, masalah atau konsep baru yang perlu diatasi muncul ketika melihat kembali kinerja hasil dari aktivitas proses tertentu, yang melibatkan analisis dan sintesis hasil-hasilnya. Oleh karena itu, diperlukan pengulangan siklus perencanaan, reaksi, observasi, dan tindak lanjut. dengan refleksi diri yang mendalam. Oleh karena itu, langkah-langkah ini dilakukan berulang-ulang hingga masalah dianggap terselesaikan, namun akan selalu ada lebih banyak masalah serupa yang membutuhkan perhatian yang Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen tes yang mengukur data kuantitatif dan kualitatif prestasi belajar aktivitas membaca peserta didik. Penelitian ini dilaksanakan di SD Muhammadiyah 37 Tangerang Selatan. Subjek penelitian yaitu peserta didik kelas 1 SD Muhammadiyah 37 Tangerang Selatan. Fokus penelitian ini adalah pada proses membaca permulaan dengan mengembangkan penedekatan literasi multimodal. Penelitian ini menggunakan beberapa jenis data seperti skor penilaian membaca peserta didik, hasil wawancara, hasil observasi, dan catatan Pengumpulan data dilakukan melalui teknis tes dan teknik non tes seperti awawancara, observasi dan dokumntasi. Peneliti menggunakan kinerja atau indikator kinerja berdasarkan kriteria keberhasilan tindakan penelitian di kelas untuk menilai seberapa besar tindakan perbaikan telah berhasil. Standar paparan mengenai indikator-indikator yang harus ada sebagai hasil yang diperoleh dari keberhasilan tindakan penelitian itulah yang menjadi penentu keberhasilan penelitian ini. Penelitian ini dikatakan dapat terlaksana dengan baik dan diakhiri jika, 90% dari 25 peserta didik yang bersangkutan mendapatkan nilai tuntas. Penilian tes yang bertujuan untuk mengukur kemampuan membaca permulaan peserta didik. Kemampuan membaca permulaa peserta didik dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut. Nilai =Nilai Yang Diproleh X 100 Nilai Maksimal Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Bunga Ayu Maulida1. Masroro Diah Wahyu Lestari2 Setelah memperoleh hasil penelitian kemampuan membaca permulaan, nilai tersebut kemudian diklasifikasikan berdasarkan retang nilai sebagai berikut: Tabel 1. Rentang Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Presentase Huruf Kategori Membaca (%) Sangat Baik Baik Cukup Kurang HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Pra Siklus Temuan penelitian ini diperoleh dari data observasi yang dikumpulkan setelah menyimpulkan penelitian. Setelah dicermati dan dianalisis, temuan observasi dianggap sebagai data penelitian yang kredibel yang dapat digunakan untuk mengevaluasi tingkat penguasaan pembelajaran peserta didik langsung dalam situasi tertentu. Temuan-temuan dari tes observasi ini akan diteliti dan dikelola lebih lanjut. Dengan demikian hasil tes ini dianggap sebagai data penelitian yang nyata untuk memperoleh tingkat pemahaman mata pelajaran siswa setiap siklusnya. Nilai Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pembelajaran Pra Siklus Frekuensi Persentase 10,5% 52,5 % 49,0% 10,5% Tabel 3. Presentasi Ketuntasan Belajar Pada Pra Siklus Jumlah Peserta Jumlah Peserta Presentasi Presentase Tidak Didik Tuntas Didik Tidak Ketuntasan Tuntas Belajar Tuntas Belajar Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Peningkatan Kemampuan Pemahaman Membaca Permulaan Pada Peserta Didik Kelas 1 Sekolah Dasar Melalui Pendekatan Literasi Multimodal Data Prasiklus peserta didik bisa peserta didik bisa membaca dengan membaca dengan nilai tuntas nilai tidak tuntas Grafik 1. Grafik Pencapaian Hasil Belajar Prasiklus Pada tabel dan diagram diatas dapat dilihat pencapaian hasil belajar pada pra siklus sebanyak 14 anak yang tidak tuntas. Agar dapat diketahui hasil belajar siswa kelas I dan membantu setiap peserta didik untuk melampaui KKM dalam kegiatan membaca, baik guru maupun peserta didik hendaknya menyempurnakan keiatan dalam pembelajaran. Dalam hal tersebut maka pemeblajaran membutuhkan variasi yang berbeda dan peneliti menggunakan pendekatan moultimodal sebagai cara dalam meningkatkan dan menyempurnakan pemeblajaran membaca peserta didik kelas 1 pada SD Muhammadiyah Kegiatan peningkatan pembelajaran dilaksanakan dalam dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Analisis Siklus I Siklus perdana berlangsung dari tanggal 22 Juli 2024 sampai dengan tanggal 26 Juli Kegiatan dilaksanakan selama satu minggu dan berbentuk penelitian tindakan kelas berdasarkan siklus. Setiap siklus memerlukan tiga tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan pengamatan. Langkah-langkah di bawah ini diikuti: Perencanaan Dari menganalisis kurikulum dilakukan untuk mengetahui apa saja persyaratan memaparkan kompetensi penting apa yang harus dicapai dan pemilihan materi yang akan diberikan kepada siswa selama proses evolusi. Lalu Merakit modil ajar dengan pendekatan literasi multimodal menggunakan media pemebalajaran video, gambar, teks, dan suara. Serta menyiapkan media pembelajaran, sumber belajar dan perangkat yang akan digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Pelaksanaan Pelaksaan untuk kegiata dalam pemeblajaran pada siklus I yaitu: Menyapa semua peserta didik sebelum sesi dimulai dan memimpin doa yang mencerminkan agama atau keyakinan pribadinya masing-masing. Mengajak peserta didik untuk menyanyikan lagu nasional untuk membangkitkan rasa nasionalisme peserta didik Mengecek kehadiran peserta didik Mengajak peserta didik untuk mengingat kembali materi yang sebelumnya Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Bunga Ayu Maulida1. Masroro Diah Wahyu Lestari2 Menyampaikan materi dan tujuan pembelajaran akan memberikan beberapa pertanyaan untuk dipertimbangkan anak sehubungan dengan hak dan tanggung jawab sebagai siswa setelah isi dan tujuan pembelajaran disampaikan. Menjelaskan kegiatan apa saja yang akan dilakukan dalam pemebelajaran dengan pendekatan litrerasi multimodal dan media pembelajaran yang mecangkup multimodal yaitu . ideo, gambar, teks, dan rekaman suar. Menyampaikan refleksi kesimpulan kepadaa peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yang sudah dilakukan . Pengamatan Kegiatan peserta didik Peneliti melakukan observasi berdasarkan nilai yang dicapai peserta didik dalam bentuk penilaian. Ada peserta didik yang belum mencapai nilai ketuntasan, namun dari angka tersebut diketahui hasil siswa mengalami peningkatan dari kegiatan pembelajaran sebelum perbaikan . ra siklu. Berdasarkan hasil penilian individu siklus I, terdapat tujuh peserta didik yang tidak memenuhi nilai ketuntasan, sedangkan delapan belas lainnya dinyatakan tuntas. Nilai Tabel 4. Distribusi Frekuensi Pembelajaran Siklus I Frekuensi Persentase 3,5 % 45,5% 63,0 % 10,5% Tabel 5. Presentasi Ketuntasan Belajar Pada Siklus I Jumlah Peserta Jumlah Peserta Presentasi Presentase Tidak Didik Tuntas Didik Tidak Ketuntasan Tuntas Belajar Tuntas Belajar Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Peningkatan Kemampuan Pemahaman Membaca Permulaan Pada Peserta Didik Kelas 1 Sekolah Dasar Melalui Pendekatan Literasi Multimodal DATA SIKLUS 1 peserta didik dengan nilai peserta didik dengan nilai tidak tuntas Grafik 2. Grafik Pencapaian Hasil Belajar Siklus 1 Perbandingan hasil belajar siswa siklus I dengan hasil pra siklus menunjukkan adanya peningkatan. Sedangkan hasil pra siklus terdapat 21 peserta didik yang melebihi ketuntasan nilai, sedangkan hasil siklus pertama terdapat 25 peserta didik yang melebihi ketuntasan nilai. Namun hal tersebut belum menunjukkan peningkatan yang cukup karena pencapaian KKM belum 100%. Ujian LKPD yang dilaksanakan pada akhir siklus I pada saat tindakan digunakan untuk mengumpulkan temuan penelitian. Setelah dilakukan verifikasi dan analisis, hasil tes tersebut dijadikan data penelitian yang dapat diandalkan untuk menilai derajat penguasaan materi siswa pada setiap siklusnya. Dalam hal ini, terdapat perubahan yang signifikan setelah diterapkannya langkah-langkah perbaikan Analisis Siklus II Siklus ke dua berlangsung dari tanggal 29 Juli 2024 sampai dengan tanggal 3 Agustus 2024. Kegiatan dilaksanakan selama satu minggu dan berbentuk penelitian tindakan kelas berdasarkan siklus. Setiap siklus memerlukan tiga tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan pengamatan. Langkah-langkah di bawah ini diikuti: Perencanaan Dari menganalisis kurikulum dilakukan untuk mengetahui apa saja persyaratan memaparkan kompetensi penting apa yang harus dicapai dan pemilihan materi yang akan diberikan kepada siswa selama proses evolusi. Lalu Merakit modil ajar dengan pendekatan literasi multimodal menggunakan media pemebalajaran video, gambar, teks, dan suara. Serta menyiapkan media pembelajaran, sumber belajar dan perangkat yang akan digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Pelaksanaan Pelaksaan untuk kegiata dalam pemeblajaran pada siklus I yaitu: Menyapa semua peserta didik sebelum sesi dimulai dan memimpin doa yang mencerminkan agama atau keyakinan pribadinya masing-masing. Mengajak peserta didik untuk menyanyikan lagu nasional untuk membangkitkan rasa nasionalisme peserta didik Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Bunga Ayu Maulida1. Masroro Diah Wahyu Lestari2 Mengecek kehadiran peserta didik Mengajak peserta didik untuk mengingat kembali materi yang sebelumnya Menyampaikan materi dan tujuan pembelajaran akan memberikan beberapa pertanyaan untuk dipertimbangkan anak sehubungan dengan hak dan tanggung jawab sebagai siswa setelah isi dan tujuan pembelajaran disampaikan. Menjelaskan kegiatan apa saja yang akan dilakukan dalam pemebelajaran dengan pendekatan litrerasi multimodal dan media pembelajaran yang mecangkup multimodal yaitu . ideo, gambar, teks, dan rekaman suar. Menyampaikan refleksi kesimpulan kepadaa peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yang sudah dilakukan . Pengamatan Kegiatan peserta didik Peneliti melakukan observasi berdasarkan nilai yang dicapai peserta didik dalam bentuk penilaian. Ada peserta didik yang belum mencapai nilai ketuntasam, namun dari angka tersebut diketahui hasil peserta didik mengalami peningkatan dari kegiatan pembelajaran sebelum perbaikan pra siklus dan pelaksanaan siklus I. Berdasarkan hasil ujian individu siklus I, terdapat satu peserta didik yang tidak memenuhi nilai ketuntasan, sedangkan dua puluh emapat lainnya dinyatakan tuntas. Nilai Tabel 6. Distribusi Frekuensi Pembelajaran Siklus II Frekuensi Persentase 7,0% 31,5% 49,0% 35,0% Tabel 67Presentasi Ketuntasan Belajar Pada Siklus II Jumlah Peserta Jumlah Peserta Presentasi Presentase Tidak Didik Tuntas Didik Tidak Ketuntasan Tuntas Belajar Tuntas Belajar Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Peningkatan Kemampuan Pemahaman Membaca Permulaan Pada Peserta Didik Kelas 1 Sekolah Dasar Melalui Pendekatan Literasi Multimodal DATA SIKLUS 2 peserta didik membaca dengan nilai tuntas peserta didik membaca dengan nilai tidak tuntas Grafik 3. Grafik Pencapaian Hasil Belajar Siklus 2 Pemberian tes LKPD terakhir pada akhir siklus II saat tindakan menjadi sumber data penelitian. Hasil tes observasional ini terlebih dahulu dikonfirmasi dan dianalisis untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap topik pelajaran pada setiap siklus. Selanjutnya, jika ada, akan dilakukan penyesuaian terhadap strategi peningkatan Tes LKPD dijadikan sumber penelitian pada pelaksanaan terakhir pada akhir siklus II pada saat tindakan. Kemudian dianalisis lebih lanjut: pertama untuk memeriksa keabsahan hasil, dan kedua untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap topik pelajaran yang diberikan pada setiap siklus. Hal ini juga diikuti dengan tidak adanya perubahan strategi peningkatan pembelajaran pada siklus tersebut. Ditemukan dalam perbandingan tes pemahaman membaca bahwa kinerja peserta didik rata-rata 20-40% lebih baik setelah metode literasi multimodal dilaksanakan. Kosakata baru dapat dipelajari dan dikenali sekaligus karena dipaparkan secara visual dan lisan untuk menghubungkan kata dan makna. Memahami informasi, baik dalam bentuk suara, visual, atau tertulis, sehingga lebih mempersiapkan siswa menghadapi tantangan era Pemahaman baru lebih cepat dipelajari dan dikenali siswa dalam mempelajari kosa kata baru melalui pemaparan tidak hanya secara visual dan auditori tetapi juga dalam membuat hubungan antara kata dan maknanya. Memahami informasi melalui berbagai media, baik visual, tulisan, maupun suara, sehingga lebih mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan era digital ini. Jadi Penerapan strategi literasi multimodal dapat meningkatkan kemampuan membaca pada peserta didk bahkan sebelum mereka memasuki siklus. Strategi tersebut menciptakan lingkungan belajar yang menarik, interaktif, dan dinamis sehingga peserta didik dapat menjadi lebih bersemangat dalam Menggunakan berbagai sumber media visual, bercerita digital, dan alat pembelajaran memudahkan peserta didik untuk menghubungkan makna dengan kata-kata dan mengembangkan pemahaman dan keterampilan membaca yang lebih baik. Terdapat perbedaan signifikan yang ditemukan antara hasil sebelum dan sesudah tes dalam hal keterampilan bacaan permulaan, keterlibatan dalam membaca, dan kemampuan mengasosiasikan kata-kata dengan situasi atau gambaran yang familiar. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Bunga Ayu Maulida1. Masroro Diah Wahyu Lestari2 Gambar 4. Pelaksanaan Pemebelajaran Dengan Pendekatan Multimodal KESIMPULAN Dari kegiatan yang sudah dilaksanakan dan dibahas melaluli metode PTK ditemukan hasil dalam perbandingan tes pemahaman membaca dari siklus pertama sampai siklus ke 2 dinyatakan bahwa kinerja peserta didik rata-rata 20-40% lebih baik setelah metode literasi multimodal dilaksanakanDapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan pada kemampuan membaca siswa dari pra-siklus ke siklus II karena penerapan strategi literasi multimodal selama pengajaran membaca kepada peserta didik. Metode ini memanfaatkan berbagai medi misalnya grafik, video, kartu kata, cerita digital, dan aplikasi pembelajaran agar pemahaman teks menjadi lebih seru dan Dengan meggunakan pendekatan multimodal diri yang awalnya mengetahui huruf dan dasar, berkembang pesat. Hal ini karena paparan gambar dan media lain memungkinkan mereka tidak hanya mengenali huruf tetapi juga mengasosiasikannya dengan kata dan makna. Jadi telah terbukti bahwa literasi multimodal dapat meningkatkan pemahaman membaca siswa kelas satu. Rata-rata skor pemahaman membaca siswa meningkat seiring dengan adanya siklus PTK. Nilai rata-rata yang dicapai siswa siklus I masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Setelah penerapan pendekatan literasi multimodal pada beberapa siklus berikutnya, lebih dari 90% siswa dapat memenuhi atau melampaui KKM. Peningkatan yang signifikan telah terlihat dalam keterampilan membaca permulaan siswa, tidak hanya berkaitan dengan pengenalan huruf tetapi juga pemahaman, pemahaman teks, dan partisipasi siswa dalam kegiatan. Penggunaan pendekatan multimodal menjadikan pembelajaran lebih menarik dan relevan bagi siswa dan secara langsung berkontribusi terhadap peningkatan keterampilan membaca mereka. Strategi di sini terbukti penting untuk memungkinkan siswa menemukan nilai penting dari berbagai media yang memfasilitasi pembelajaran yang lebih menarik dan bermanfaat dalam mengembangkan literasi sesuai usia dan kemampuan mereka. Pendekatan literasi multimodal yang diterapkan melalui siklus PTK menunjukkan manfaat yang besar dalam mengembangkan kompetensi anak-anak dalam pemahaman membaca. Oleh karena itu, metode ini sangat disarankan untuk diterapkan secara luas dalam pengajaran literasi kelas awal, bersamaan dengan pelatihan kerja guru untuk memaksimalkan efeknya. Pendekatan literasi multimodal Persyaratannya mencakup seluruh pemangku kepentingan yang bekerja secara kolaboratif untuk menciptakan lingkungan pembelajaran Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Peningkatan Kemampuan Pemahaman Membaca Permulaan Pada Peserta Didik Kelas 1 Sekolah Dasar Melalui Pendekatan Literasi Multimodal baru yang memiliki banyak aspek yang dapat meningkatkan pemahaman membaca pada anak-anak sejak tahap awal. DAFTAR PUSTAKA