Journal of Technology and Informatics (JoTI) Vol 1. No. Oktober Tahun 2019 E-ISSN 2686-6102 Simulasi Perancangan Indoor Building Coverage (IBC) Pada Jaringan 4g LTE Frekuensi 850 Mhz dan 2300 Mhz Di RSUD Banyumas Menggunakan RPS 5. Muntaqo Alfin Amanaf 1 Ade Wahyudin2 Yunealgi Gama Surapanca3 Program Studi /Jurusan D3 Teknik Telekomunikasi. IT Telkom Purwokerto Program Studi /Jurusan S1 Teknik Telekomunikasi. IT Telkom Purwokerto email: 1muntaqo@ittelkom-pwt. id, 2adewahyudin@ittelkom-pwt. 16101250@st3telkom. Abstrak: Perkembangan teknologi wireless semakin lama semakin berkembang pesat terutama perkembangan komunikasi data dengan kecepatan tinggi. Saat ini teknologi yang sedang berkembang adalah teknologi LTE. Perencanaan jaringan indoor dilakukan karena user yang berada di dalam gedung mendapatkan kualitas sinyal yang buruk karena cakupan jaringan yang berada diluar gedung tidak dapat mengcover user yang berada di dalam gedung. Dalam perancangan dilakukan di dua gedung RSUD Banyumas yaitu Gedung IGD dan Thalasemia menggunakan software RPS. Penelitian menggunakan 2 skenario dengan frekuensi 850 Mhz dan 2300 Mhz serta kombinasi antara frekuensi 2300 MHz dan 850 MHz. Jumlah FAP didapat dari perhitungan link budget dengan model propagasi Cost 231-Multiwall. Untuk jumlah FAP kapasitas diperoleh 8 FAP dan untuk coverage sebanyak 12 FAP pada frekuensi 2300 Mhz, serta 5 FAP dengan frekuensi 850 MHz. Hasil terbaik berdasarkan coverage menggunakan skenario 1. Untuk frekuensi 850 MHz di Gedung IGD RSRP sebesar -10. 23 dBm dengan SINR sebesar 17. dB dan pada Gedung Thalasemia RSRP sebesar -11. 30 dBm dengan SINR sebesar 11. 28 dB. Untuk frekuensi 2300 MHz di Gedung IGD RSRP sebesar -18. 33 dBm dengan SINR sebesar 9. dB dan pada Gedung Thalasemia RSRP sebesar -22. 49 dBm dengan SINR sebesar 8. 71 dB. Sedangkan untuk penggunaan kombinasi frekuensi 2300 MHz dan 850 MHz di Gedung IGD RSRP sebesar -9. 44 dBm dengan SINR sebesar 11. 52 dB dan pada Gedung Thalasemia RSRP 97 dBm dengan SINR sebesar 8. 8 dB. Kata Kunci: LTE. RPS. Cost 231-Multiwall. RSRP. SINR Abstract: The development of wireless technology is growing rapidly, especially the development of high-speed data communications. Currently the developing technology is LTE technology. Indoor network planning is done because users inside the building get poor signal quality because the network coverage outside the building cannot cover users inside the building. In the design carried out in two Banyumas Hospital buildings, namely the IGD Building and Thalassemia Building using RPS (Radio Propagation Simulatio. In this study use 2 scenarios with 2 frequency 850 Mhz and 2300 Mhz and combination of the frequency of 2300 MHz and 850 MHz. The number of FAP was obtained from the link budget calculation with the Cost 231-Multiwall propagation model. For the number of FAP capacities obtained by 8 FAP and for coverage of 12 FAP at a frequency of 2300 Mhz, and 5 FAP with a frequency of 850 MHz. The results of the calculation of Maximum Allowable Path Loss (MAPL) for uplinks are 140. 97 dB and downlink of 97 dB. The best results based on coverage using scenario 1. For the 850 MHz frequency in the RSRP IGD Building at -10. 23 dBm with SINR at 17. 02 dB and at the RSRP Thalassemia Building 30 dBm with SINR at 11. 28 dB. For the frequency of 2300 MHz in the IGR RSRP building is 33 dBm with SINR of 9. 8 dB and in the RSRP Thalassemia Building is -22. 49 dBm with SINR 71 dB. Whereas the combination of the frequency of 2300 MHz and 850 MHz in the IGR RSRP Building was -9. 44 dBm with SINR of 11. 52 dB and in the RSRP Thalassemia Building was 97 dBm with SINR of 8. 8 dB. Keywords: LTE. RPS. Cost 231-Multiwall. RSRP. SINR Muntaqo A. A, dkk /Journal of Technology and Informatics (JoTI) Vol. No. Oktober 2019, 20-30 PENDAHULUAN Perkembangan Industri Telekomunikasi dalam teknologi wireless semakin lama semakin berkembang pesat terutama perkembangan data. Di era komunikasi data yang semakin cepat telah membawa masyarakat melewati beberapa tahapan pengembangan teknologi wireless. Pada saat ini user lebih cenderung ke arah komunikasi data dengan kecepatan tinggi . Untuk memenuhi kebutuhan komunikasi data dengan kecepatan tinggi tidak hanya di luar area . saja tetapi juga diperlukan untuk pengguna yang berada di dalam area . misalnya seperti rumah sakit, perkantoran, sekolah, bahkan tempat pusat perbelanjaan dan Lemahnya sinyal di area gedung mempengaruhi kualitas sinyal. Maka diperlukan perencanaan indoor building coverage (IBC) dimana IBC merupakan sebuah sistem dengan perangkat pemancar dan penerima yang dipasang di dalam gedung dan bertujuan untuk melayani kebutuhan user baik kualitas sinyal, coverage sinyal maupun kapasitas trafiknya . Dengan menggunakan teknologi LTE peningkatan kapasitas jadi lebih besar serta layanan kualitas tinggi untuk para pengguna. Femtocell meningkatkan coverage dan capacity pada jaringan indoor. Penelitian ini dilakukan di RSUD Banyumas dikarenakan lemahnya sinyal atau tidak stabilnya sinyal yg di terima oleh handphone dalam area gedung RSUD Banyumas sangat menggangu pengguna untuk melakukan komunikasi atau aktivitas di gadget smartphonenya. Maka diperlukan perencanaan pemasangan pemancar untuk meningkatkan sinyal di dalam area gedung RSUD Banyumas. Perancangan yang dilakukan hanya sebatas simulasi berujuan untuk meningkatkan coverage dan kualitas sinyal di dalam area gedung menjadi lebih baik dengan Radio Propagation Simulator (RPS). Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian . dengan perancangan jaringan indoor hanya melakukan perancangan jaringan di satu gedung dan hanya menggunakan satu frekuensi. Sedangkan pada penelitian . membahas mengenai perancangan jaringan indoor LTE frekuensi 1800 Mhz dan 900 Mhz di Kantor Telkom Banjarnegara dengan hasil berupa jumlah 3 FAP untuk coverage dimana total gedung ada 3 dengan jumlah 1 lantai dan tiap gedung membutuhkan 1 FAP. Pada frekuensi 1800 Mhz gedung 1 daya pancar yang dihasilkan sebesar -19,86 dBm, pada gedung 2 sebesar 21,34 dBm, dan gedung 3 sebesar -28,07 dBm. Untuk frekuensi 900 Mhz gedung 1 daya pancar yang dihasilkan sebesar -13,38, pada gedung 2 sebesar -14,52 dBm, dan pada gedung 3 sebesar 20,39 dBm. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang dilakukan adalah melakukan survey kondisi gedung pengumpulan data seperti bentuk gedung, lokasi gedung, denah gedung dan luas gedung RSUD Banyumas. Selanjutnya adalah menentukan spesifikasi perangkat jaringan untuk perencanaan jaringan indoor yaitu dengan penentuan perangkat femtocell yang diimplementasikan untuk melakukan simulasi perancangan jaringan Setelah menentukan perangkat femtocell selanjutnya adalah mendesain gedung di software RPS dengan melihat blueprint gedung RSUD Banyumas sebagai lokasi penelitian untuk melakukan perancangan jaringan indoor dan selanjutnya melakukan perhitungan link budget berdasarkan capacity dan coverage untuk menentukan berapa banyak FAP (Femtocell Access Poin. yang akan di pasang di lantailantai gedung RSUD Banyumas dan perhitungan tersebut diperlukan agar FAP yang dipasang lebih efisien dan tidak percuma. Setalah perhitungan link budget dilakukan maka menggunakan software Radio Propagation Simulation (RPS) 5. Pada proses simulasi akan menentukan letak FAP sesuai banyak FAP yang dibutuhkan di setiap lantai gedung tersebut dengan menggunakan simulasi penempatan FAP dibagi menjadi 2 skenario dimana FAP diletakkan di tengah gedung dan di pinggir kanan dan kiri gedung. Parameter yang diamati adalah Signal to Interference Noise Ratio (SINR) dan Received Power (Coverg. Flowchart perancangan jaringan indoor dapat dilihat pada Muntaqo A. A, dkk /Journal of Technology and Informatics (JoTI) Vol. No. Oktober 2019, 20-30 Tabel 2. Model Layanan Traffic Indoor Uplink Tabel Model Layanan Downlink Traffic Indoor Gambar 1 Flowchart Perancangan Jaringan Indoor Informasi Gedung Gedung IGD terdiri dari 2 lantai dengan total ketinggian 8 meter dari permukaan tanah dengan luas total gedung 1434 m2. Sedangkan di gedung Thalasemia terdiri dari 3 lantai dengan total ketinggian 12 meter di atas permukaan tanah dengan luas total 865 m2. Perhitungan Single User Throughput . Perencanaan Femtocell Tabel 1 Spesifikasi Sistem Perencanaan PARAMETER Frekuensi Bandwidth [Oc( ycNEaycycuycyciEaycyycyc ) ycu yaAyaycIya ycu ycEyceycuyceycycycaycycnycuycu ycIycaycycnycu ycu . ycEyaycI)] ycIyceycycycnycuycu NILAI 850 Mhz & 2300 MHz 10 MHz Perhitungan Network Throughput Network throughput dihitung pada arah Uplink dan Downlink. Rumus sebagai Capacity Planning Tujuan dari perancangan berdasarkan capacity ini yaitu untuk menentukan jumlah user yang dapat dicakup dalam satu cell. Jumlah User Jumlah total user di gedung IGD sebanyak 126 orang dan di gedung Thalasemia sebanyak 134 orang. Klasifikasi layanan Network = Total User Number x Single Throughput . Perhitungan Jumlah FAP Perhitungan jumlah FAP dipengaruhi oleh besarnya kapasitas sel yang di dapatkan, dimana besarnya nilai network troughput dibagi dengan besarnya kapasitas sel. DL Cell Capacity CRC = . -36-. x (Code bit. (Code rat. x Nrb x C x 1000 UL Cell Capacity CRC = . x (Code bit. (Code rat. x Nrb x C x 1000 Muntaqo A. A, dkk /Journal of Technology and Informatics (JoTI) Vol. No. Oktober 2019, 20-30 Jumlah FA= ycAyeIyeiyeoyeayeeyeU ycyeOyeeyeayenyeOyeOyecyenyei ycyeOyeiyeI ycyeCyecyeCyeEyeOyeiyeo Pemilihan Model Propagasi Model propagasi yang digunakan adalah COST 231 Multi-Wall Model . Perhitungan Jumlah User Pengguna FAP Jumlah User Tiap Sel = Jumlah ycOycyceyc Jumlah FAP ycA Coverage Planning Perencanaan mengetahui perbandingan antara luas area bangunan dengan luas cakupan per sel. Perhitungan Link Budget LT=LFSL LCOc ycuyce 2 ycuycycn. yaycycn ycuyce ycuyce 1 Oe. ycn=1 Perhitungan Jumlah FAP yaycycayc ycaycyceyca ycycaycuyci yccycnycyceycuycaycaycuycaycoycaycu Jumlah FAP = . yaycycayc ycaycaycoycycyycaycu ycyceyco Tabel 4 MAPL Downlink HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil simulasi perancangan jaringan indoor menggunakan frekuensi 850 MHz dan 2300 MHz serta penggabungan 850 MHz dan 2300 MHz dengan parameter RSRP dan SINR sebagai berikut: Gedung IGD Frekuensi 850 Mhz Skenario 1 Tabel 5 MAPL Uplink Gambar 2 Hasil RSRP IGD Frekuensi 850 MHz Skenario 1 Pada gambar 2 jumlah FAP yang digunakan sebanyak 2 FAP dimana letak FAP diposisikan di tengah gedung. Hasil simulasi RSRP masuk kategero sangat baik dengan presentase 100%. Nilai mean yang didapatkan sebesar -10. 23 dBm. Muntaqo A. A, dkk /Journal of Technology and Informatics (JoTI) Vol. No. Oktober 2019, 20-30 pinggir gedung. Hasil RSRP yang diperloeh masuk kategori sangat baik dengan presentase 100% dengan nilai mean sebesar -14. 90 dBm seperti pada gambar 4. Gambar 3 Hasil SINR IGD Frekuensi 850 MHz Skenario 1 Gambar 3 menunjukan hasil SINR yang diperoleh dengan nilai mean sebesar 17. 02 dB. SINR masuk kategori baik dengan presentasi Gambar 5 Hasil SINR IGD Frekuensi 850 MHz Skenario 2 Pada gambar 5 hasil SINR masuk kategori baik denga presentase 100% dengan nilai mean 79 dB. Gedung Thalasemia Frekuensi 2300 Mhz Skenario 1 Gambar 4 Hasil RSRP IGD Frekuensi 850 MHz Skenario 2 Gedung IGD Frekuensi 850 Mhz Skenario 2 Pada scenario 2. Total FAP yang digunakan adalah 2 FAP dan letak FAP diposisikan di Gambar 6 Hasil RSRP Thalasemia Frekuensi 2300 MHz Skenario 1 Muntaqo A. A, dkk /Journal of Technology and Informatics (JoTI) Vol. No. Oktober 2019, 20-30 Gambar 6 merupkan hasil RSRP di gedung Thalasemia masuk kategori sangat baik denga 06% dengan jumlah FAP sebanyak 6 FAP diperoleh dari perhitungan link budget. Nilai mean yang dihasilkan sebesar -22. 49 dBm. Gambar 8 Hasil RSRP Thalasemia Frekuensi 2300 MHz Skenario 2 Gambar 7 Hasil SINR Thalasemia Frekuensi 2300 MHz Skenario 1 Gambar 7 merupakan hasil SINR dengan nilai mean sebesar 8. 71 dB masuk kategori baik dengan presentase 84. Gedung Thalasemia Frekuensi 2300 Mhz Skenario 2 Pada gambar 8 letak FAP diposisikan di pinggir gedung dengan jumlah 6 FAP. Hasil RSRP masuk kategori sangat baik dengan presentasi 100%. Untuk nilai mean diperoleh 84 dBm. Gambar 9 menunjukan hasil SINR dengan nilai mean yang diperoleh sebesar 11. dB masuk kategori baik dengan presentase Gambar 9 Hasil SINR Thalasemia Frekuensi 2300 MHz Skenario 2 Muntaqo A. A, dkk /Journal of Technology and Informatics (JoTI) Vol. No. Oktober 2019, 20-30 Gedung IGD Frekuensi 2300 MHz & 850 Mhz Skenario 1 dBm masuk kategori sangat baik dengan presentase 100%. Gambar 11 menunjukan hasil SINR dengan nilai mean yang diperoleh sebesar 11. 52 dBm masuk kategori baik dengan presentase 90. Gedung IGD Frekuensi 2300 MHz & 850 Mhz Skenario 2 Gambar 10 Hasil RSRP IGD Frekuensi 2300 MHz & 850 MHz Skenario 1 Gambar 12 Hasil RSRP IGD Frekuesni 2300 MHz & 850 MHz Skenario 2 FAP berwarna biru menggunakan frekuensi 850 MHz dan FAP berwarna merah menggunakan frekuensi 2300 MHz seperti pada gambar 12. Hasil RSRP masuk kategori sangat baik dengan presentase 100% dengan nilai mean sebesar 12. 98 dBm. Pada gambar 13 merupakan hasil SINR kombinasi dari kedua frekuensi tersebut. SINR masuk kategori baik dengan presentase 87. dan nilai mean yang diperoleh sebesar 10. 63 dB. Gambar 11 Hasil SINR IGD Frekuensi 2300 MHz & 850 MHz Skenario 1 Gambar 10 merupakan hasil RSRP kombinasi frekuensi yang digunakan. 2 FAP untuk frekuensi 850 MHz dan 4 FAP untuk frekuensi 2300 MHz. Nilai mean diperoleh sebesar -9. Muntaqo A. A, dkk /Journal of Technology and Informatics (JoTI) Vol. No. Oktober 2019, 20-30 . Gambar 14 KPI Jaringan LTE RSRP Gedung IGD . dan Thalasemia . Gambar 14 merupakan hasil presentase simulasi pada parameter RSRP dengan 2 skenario di gedung IGD dan Thalasemia . Pada Skenario 1 dan 2 dengan menggunakan frekuensi 850 MHz, 2300 MHz, serta kombinasi 2300 MHz dan 850 MHz menghasilkan nilai presentase 100%, artinya pada kedua skenario ini layak untuk di implementasikan karena cakupan level daya yang dihasilkan lebih dari 80%. Berdasarkan hasil yang telah didapat seluruh skenario dan penggunaan frekuensi yang berbeda Ae beda pada simulasi menghasilkan coverage yang layak untuk diimplementasikan di gedung IGD dan Thalasemia. Gambar 13 Hasil SINR IGD Frekuesni 2300 MHz & 850 MHz Skenario 2 Perbandingan Hasil Simulasi Berdasarkan hasil simulasi dari masing Ae masing gedung di RSUD Banyumas dengan 2 skenario pada perancangan jaringan indoor LTE menggunakan frekuensi 850 MHz dan 2300 MHz serta kombinasi antara frekuensi 2300 MHz dan 850 MHz mendapatkan hasil yang layak untuk diimplementasikan di area RSUD Banyumas di gedung IGD dan Thalasemia. KPI jaringan LTE yang digunakan operator pada parameter RSRP biasanya 80% dengan nilai lebih dari -110 dBm pada area perancangan jaringan yang dilakukan dan untuk parameter SINR biasanya 80% dengan nilai lebih dari 0 dB pada area perancangan jaringan yang . Gambar 15 Grafik Rata Ae rata Coverage (RSRP) Gedung IGD . dan Thalasemia . Muntaqo A. A, dkk /Journal of Technology and Informatics (JoTI) Vol. No. Oktober 2019, 20-30 Pada gambar 15 merupakan grafik rata Ae rata RSRP di gedung IGD dan Thalasemia. Dimana untuk penggunaan frekuensi 850 Mhz, 2300 MHz, serta kombinasi 2300 MHz dan 850 MHz pada skenario 1 RSRP diperoleh sebesar -10. dBm, -18. 33 dBm, -9. 44 dBm dan skenario 2 RSRP diperoleh sebesar -14. 9 dBm, -20. 39 dBm, 98 dBm. Sedangkan di gedung Thalasemia skenario 1 RSRP sebesar -11. 3 dBm, -22. dBm, -10. 97 dBm dan untuk skenario 2 RSRP 76 dBm, -22. 84 dBm, -11. 67 dBm. yang dihasilkan lebih dari 80%. Berdasarkan hasil yang telah didapat seluruh skenario dan penggunaan frekuensi yang berbeda Ae beda pada simulasi menghasilkan kualitas sinyal yang layak untuk diimplementasikan di gedung IGD dan Thalasemia. Gambar 17 Grafik Rata Ae rata Quality (SINR) Gedung IGD . dan Thalasemia . Pada gambar 17 menjelaskan tentang nilai rata Ae rata SINR di gedung IGD dan Thalasemia. Nilai SINR skenario 1 di gedung IGD frekuensi 850 Mhz, 2300 Mhz, serta kombinasi 2300 MHz dan 850 MHz adalah 17. 02 dB, 9. 8 dB, 11. 52 dB dan SINR skenario 2 sebesar 17. 79 dB, 11. dB, 10. 63 dB. Sedangkan di gedung Thalasemia nilai SINR pada skenario 1 sebesar 11. 28 dB, 71 dB, 8. 8 dB dan untuk skenario 2 adalah 05 dB, 11. 95 dB, 10. 21 dB. Baik dan buruknya kualitas sinyal dipengaruhi oleh jumlah FAP dan tidak sesuainya jarak antar FAP satu ke lainnya pada area tersebut. Dapat disimpulkan coverage yang terbaik pada perancangan jaringan indoor di RSUD Banyumas menggunakan skenario 1 dimana letak FAP berada di tengah gedung. Posisi FAP yang berada di tengah akan memberikan coverage yang lebih baik . Gambar 16 KPI Jaringan LTE SINR Gedung IGD . dan Thalasemia . Gambar 16 merupakan hasil presentase simulasi pada parameter SINR dengan 2 skenario di gedung IGD dan Thalasemia. Pada gedung IGD Skenario 1 frekuensi 850 MHz, 2300 MHz, serta kombinasi 2300 MHz dan 850 MHz menghasilkan nilai presentase 100%, 87. 91% dan Skenario 2 menghasilkan nilai presentase 100%, 85. 71%, 87. sedangkan di gedung Thalasemia skenario 1 mendapap nilai 66%, 84. 75%, 84. 94% dan untuk skenario 2 nilai presentasenya adalah 90. 49%, 87. Maka kedua skenario ini layak untuk di implementasikan karena kualitas sinyal Muntaqo A. A, dkk /Journal of Technology and Informatics (JoTI) Vol. No. Oktober 2019, 20-30 dikarenakan faktor penggunaan antena isotropic yang mempunyai pancaran 360 derajat sehingga area pada gedung akan tercover dengan baik yang menyebabkan nilai RSRP semakin besar. Untuk nilai level daya terbesar adalah pada penggunaan kombinasi antara frekuensi 2300 MHz dan 850 MHz. Tujuan dari kombinasi tersebut untuk mengoptimalkan nilai coverage pada perancangan jaringan indoor LTE di gedung RSUD Banyumas. Frekuensi 850 Mhz menghasilkan nilai level daya lebih besar dari frekuensi 2300 MHz dikarenakan semakin rendah frekuensi, maka luas cakupan sel akan semakin lebar dan semakin tinggi frekuensi, maka luas cakupan sel semakin kecil. Dengan menggunakan kombinasi kedua frekuensi tersebut maka coverage yang dihasilkan lebih baik dan mengurangi nilai dari interferensi pada area perancangan tersebut. Karena semakin banyak FAP maka coverage akan semakin baik dan semakin rendah penggunaan frekuensi maka semakin luas area yang akan di cover sehingga membuat nilai RSRP semakin besar. Penggunaan jumlah FAP menggunakan perancangan pada frekuensi 2300 MHz, sehingga user yang dilayani akan semakin banyak. Kombinasi frekuensi ini merupakan solusi dalam perancangan jaringan menggunakan frekuensi 850 Mhz dimana pada frekuensi ini user yang dilayani sedikit karena jumlah FAP yang didapatkan pada perhitungan sedikit sedangkan perancangan jaringan menggunakan frekuensi 2300 Mhz dimana pada frekuensi ini coverage yang dihasilkan lebih kecil dan interferensi yang terjadi lebih besar sehingga membuat kualitas sinyal menurun. semakin banyak FAP maka coverage akan semakin baik dan semakin rendah penggunaan frekuensi maka semakin luas area yang akan di cover sehingga membuat nilai RSRP semakin besar. Hasil perubahan skenario di gedung IGD dengan frekuensi 850 Mhz, 2300 MHz, serta kombinasi 2300 MHz dan 850 MHz diperoleh RSRP sebesar -10. 23 dBm, -18. dBm, dan -9. 44 dBm pada skenario 1 dan 9 dBm, -20. 39 dBm, -12. 98 dBm pada skenario 2, pada perubahan skenario di gedung Thalasemia diperoleh RSRP sebesar 11. 3 dBm, -22. 49 dBm, dan -10. 97 dBm untuk skenario 1 dan -12. 76 dBm, -22. dBm, dan -11. 67 dBm untuk skenario 2. Skenario dengan RSRP tertinggi adalah skenario 1 dengan posisi FAP di tengah Karena pancaran FAP diposisi tengah lebih merata, sehingga membuat area yang di cover jadi lebih baik. Hasil kualitas sinyal (SINR) terbaik di Gedung IGD dan Thalasemia dengan frekuensi 850 Mhz, 2300 MHz, serta kombinasi 2300 MHz dan 850 Mhz adalah 79 dB, 11. 23 dB, 11. 52 dB di gedung IGD 28 dB, 11. 95 dB, 10. 21 dB di gedung Thalasemia. Dari hasil yang didapatkan maka kualitas sinyal dalam perancangan terpenuhi sesuai standar KPI jaringan LTE. Baik dan buruknya nilai SINR dipengaruhi oleh jumlah FAP dan jarak antar penempatan FAP ke FAP lainnya pada area perencanaan. DAFTAR PUSTAKA