Jurnal Bindo Sastra 9 . : 11Ae16 PERSEPSI MAHASISWA UNIVERSITAS PRIMA INDONESIA TERHADAP ISU KESETARAAN GENDER DALAM PENDIDIKAN Esra Perangin-angin. Dina Widianta Sembiring. Chairunnisah. Sri Dinanta Beru Ginting. PUI Bahasa. Sastra, dan Literasi , . , . Universitas Prima Indonesia Politeknik Negeri Lhokseumawe esraperanginangin@unprimdn. dinasembiring763@gmail. chaisaa787@gmail. sridinanta_ginting@pnl. Diterima: 11 Juni 2025 Disetujui: 09 Juli 2025 Diterbitkan: 18 Juli 2025 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Prima Indonesia terhadap isu kesetaraan gender dalam pendidikan. Latar belakang penelitian ini berpijak pada pentingnya peran pendidikan tinggi dalam membentuk kesadaran kritis mahasiswa terhadap ketimpangan gender, terutama dalam lingkungan akademik yang masih kerap mereproduksi stereotip dan dominasi patriarkal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui angket, wawancara semi-terstruktur, dan Sebanyak 47 mahasiswa aktif PBSI UNPRI semester empat ke atas menjadi informan utama. Instrumen penelitian divalidasi oleh ahli bidang pendidikan dan gender untuk memastikan akurasi dan relevansi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki pandangan yang positif terhadap kesetaraan gender, di mana 100% menyetujui hak yang sama dalam akses pendidikan Namun demikian, wawancara mendalam mengungkap adanya ketimpangan nyata, terutama dalam representasi kepemimpinan organisasi dan persepsi terhadap kebijakan kampus yang belum sepenuhnya dirasakan inklusif. Kesimpulan dari penelitian ini menekankan bahwa meskipun pemahaman normatif mahasiswa telah terbentuk, diperlukan upaya lebih lanjut dalam integrasi perspektif gender ke dalam kurikulum, serta penguatan kebijakan institusional yang adil dan inklusif. Rekomendasi diarahkan pada pentingnya pelatihan sensitisasi gender bagi dosen dan mahasiswa, serta peningkatan representasi perempuan dalam posisi strategis kampus guna membentuk budaya akademik yang setara. Kata Kunci: Kesetaraan gender, persepsi mahasiswa, pendidikan tinggi, pendidikan inklusif. UNPRI. Abstract This study aims to explore the perceptions of students in the Indonesian Language and Literature Education (PBSI) Study Program at Prima Indonesia University regarding the issue of gender equality in The background of this study is based on the important role of higher education in developing students' critical awareness of gender inequality, especially in an academic environment that still often reproduces patriarchal stereotypes and domination. The study used a descriptive qualitative approach with data collection techniques through questionnaires, semi-structured interviews, and observations. total of 47 active PBSI UNPRI students in the fourth semester and above served as key informants. The research instrument was validated by experts in education and gender to ensure data accuracy and The results showed that the majority of students had a positive view of gender equality, with 100% agreeing with equal rights in access to higher education. However, in-depth interviews revealed significant inequalities, particularly in the representation of organizational leadership and perceptions of campus policies that were not yet fully perceived as inclusive. The conclusion of this study emphasizes that although students' normative understanding has been formed, further efforts are needed to integrate gender perspectives into the curriculum, as well as to strengthen fair and inclusive institutional policies. Recommendations are directed at the importance of gender sensitization training for lecturers and students, as well as increasing the representation of women in strategic campus positions to create an equal academic culture. Keywords: Gender equality, student perception, higher education, inclusive education. UNPRI. APendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UM Palembang DOI: https://doi. org/10. 32502/jbs. Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Esra. Dkk. Persepsi Mahasiswa UniversitasA Pendahuluan Persepsi merupakan proses mental seseorang dalam memahami dan memberi lingkungan, baik melalui pancaindra pengalaman, nilai, dan budaya(Wildani & Dharmawan, 2. Melalui persepsi, individu membangun pandangan dan sikap terhadap suatu fenomena tertentu. Dalam konteks pendidikan, persepsi mahasiswa terhadap isu-isu sosial sangat menentukan arah perubahan nilai yang mereka bawa ke dalam masyarakat. Salah satu isu penting yang perlu dipahami secara mendalam oleh mahasiswa adalah kesetaraan gender. Kesetaraan gender secara umum merujuk pada prinsip bahwa setiap individu, tanpa memandang jenis kelamin, memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam berbagai pendidikan(Lubis & Triadi, 2. Konsep ini tidak hanya menuntut akses yang sama antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga menekankan pentingnya perlakuan adil, lingkungan yang inklusif di dunia pendidikan(Annur Rosida Siregar et al. Dalam praktiknya, kesetaraan gender menjadi salah satu isu global yang masih terus diperjuangkan, termasuk di sektor pendidikan tinggi. Sebagai karakter, nilai, dan pola pikir, pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam menumbuhkan kesadaran kritis mahasiswa terhadap isu kesetaraan gender. Kesadaran ini menjadi penting karena mahasiswa adalah calon pendidik, pemimpin, dan pelaku perubahan sosial di masa depan. Meskipun demikian, berbagai penelitian mahasiswa terhadap isu gender masih belum merata. Ketimpangan persepsi kerap terjadi akibat stereotip, budaya patriarkal, atau pemahaman yang dangkal terhadap makna kesetaraan(Arribas & Carrasco. Universitas Prima Indonesia (UNPRI) sebagai institusi pendidikan tinggi yang menjunjung nilai-nilai keadilan dan inklusivitas memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk kesadaran gender di kalangan mahasiswa. Khususnya pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi pendidik bahasa, tetapi juga agen perubahan yang mampu mentransformasikan nilai-nilai sosial dalam dunia pendidikan. Bahasa dan sastra sendiri merupakan medium penting dalam pembentukan kesadaran kritis, karena keduanya berkaitan erat dengan konstruksi sosial, representasi gender, dan narasi budaya. Dalam konteks PBSI, mahasiswa memaknai kesetaraan genderAi apakah mereka sudah mampu menolak stereotip dalam teks, menghadirkan perspektif gender dalam analisis sastra, serta mengintegrasikan nilai-nilai keadilan Pemahaman bagaimana mereka membentuk pola perbedaan gender di masa depan. Observasi awal dan survei terbatas terhadap sejumlah mahasiswa UNPRI menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa masih memandang bidang studi tertentu lebih cocok untuk laki-laki atau perempuan. Mahasiswa perempuan, misalnya, merasa kurang percaya diri untuk aktif berbicara di kelas karena khawatir akan dinilai negatif. Hal ini mencerminkan bahwa bias gender masih hidup dalam lingkungan akademik. Stereotip bahwa laki-laki lebih unggul perempuan cocok di bidang sosial dan keperawatan, masih sering ditemukan dalam pandangan mahasiswa. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pemahaman dan persepsi mahasiswa terhadap isu kesetaraan gender belum sepenuhnya matang. Padahal, dalam sistem pendidikan yang adil dan inklusif, setiap mahasiswa harus mampu memposisikan dirinya secara setara dengan rekan-rekan lain tanpa terjebak dalam biasbias yang mengekang potensi mereka. Dalam hal ini, penting untuk menggali lebih jauh bagaimana proses pembentukan persepsi ini berlangsung, terutama di kalangan mahasiswa PBSI UNPRI. Penelitian sebelumnya banyak berfokus pada kesetaraan gender dalam tataran kebijakan atau ketimpangan di dunia kerja(Mayasari. Obaid, & Asni, 2. Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Jurnal Bindo Sastra 9 . : 11Ae16 sementara studi yang menggali persepsi mahasiswa di perguruan tinggi swasta terhadap isu gender dalam konteks pendidikan masih terbatas. Padahal, pemahaman ini sangat krusial mengingat mahasiswa memiliki peran gandaAisebagai pelaksana kebijakan di masa depan. Penelitian ini mengambil pendekatan mendalam persepsi mahasiswa PBSI UNPRI terhadap isu kesetaraan gender dalam pendidikan. Berbeda dengan pendekatan kuantitatif yang cenderung pendekatan kualitatif lebih memungkinkan pandangan, serta proses kognitif dan sosial persepsi mahasiswa terhadap kesetaraan Keterlibatan mahasiswa dalam menganalisis teks, mendiskusikan isu sosial dalam karya sastra, serta merefleksikan pengalaman akademik mereka sendiri menjadi pintu masuk yang efektif untuk menggali persepsi mereka terhadap kesetaraan gender. Sebagai mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra, mereka juga terbiasa dengan interpretasi kritis terhadap simbol, struktur narasi, dan makna dalam teks, yang secara potensial dapat memperkuat kesadaran mereka terhadap terinternalisasi dalam budaya dan bahasa. Pendidikan. UNISCO merupakan instrumen strategis untuk membangun perdamaian dan keadilan Dalam pandangan Islam, pendidikan meliputi pengembangan potensi . , pengajaran . a'li. , dan pembentukan adab . a'di. , yang menegaskan pentingnya pendidikan sebagai pembentuk karakter dan nilai (Hilda Darmaini Siregar & Zainal Efendi Hasibuan, 2. Oleh karena itu, pendidikan harus dijadikan sarana untuk membongkar ketidakadilan struktural, termasuk dalam isu gender. Mahasiswa sebagai agen perubahan sosial memiliki posisi strategis dalam menyuarakan nilainilai keadilan dan kesetaraan. Mereka intelektual yang dinamis dan kritis, di mana nilai dan pandangan mereka sedang Maka dari itu, persepsi mereka terhadap isu kesetaraan gender menjadi keberhasilan institusi pendidikan dalam membentuk generasi yang peka terhadap ketimpangan sosial. Berdasarkan tersebut, penelitian ini memiliki urgensi untuk dilakukan sebagai langkah awal membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap isu kesetaraan gender dalam pendidikan, khususnya di kalangan mahasiswa PBSI Universitas Prima Indonesia. Fokus penelitian ini tidak hanya menggambarkan persepsi mahasiswa secara bagaimana disiplin ilmu yang mereka tekuni bahasa dan sastra mempengaruhi pandangan mereka terhadap gender. Adapun masalah pada penelitian ini adalah: Bagaimana persepsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Prima Indonesia terhadap isu kesetaraan gender dalam pendidikan? . Faktor-faktor apa saja yang mahasiswa tersebut? . Bagaimana keterkaitan antara pemahaman mahasiswa tentang kesetaraan gender dengan disiplin ilmu PBSI yang mereka pelajari? . Apa implikasi dari persepsi mahasiswa terhadap strategi pembelajaran dan kebijakan pendidikan yang berperspektif gender di lingkungan kampus? Melalui pertanyaanpertanyaan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam dinamika persepsi mahasiswa dan menganalisis sejauh mana pendidikan PBSI mampu menjadi medium transformasi sosial dalam membangun nilai-nilai kesetaraan gender. Metode Penelitian Penelitian pendekatan kualitatif deskriptif, dengan tujuan menggali secara mendalam persepsi mahasiswa terhadap isu kesetaraan gender dalam pendidikan. Pendekatan kualitatif kompleksitas makna dan pengalaman yang tidak dapat dijangkau melalui metode kuantitatif atau statistik semata(Sujarweni Wiratna, 2. Fokus utama penelitian adalah memahami bagaimana mahasiswa memaknai isu kesetaraan gender dalam Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Esra. Dkk. Persepsi Mahasiswa UniversitasA konteks pendidikan tinggi, khususnya di lingkungan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Universitas Prima Indonesia. Penelitian Universitas Prima Indonesia (UNPRI), tepatnya di lingkungan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Waktu pelaksanaan direncanakan berlangsung pada bulan 1 Februari-30 April 2025. Subjek mahasiswa aktif PBSI UNPRI semester empat ke atas. Sebanyak 50 informan pengumpulan data karena dianggap mampu memberikan informasi yang relevan dan Instrumen Penelitian Pengumpulan melalui beberapa instrumen utama, yaitu: Angket disusun dalam bentuk tertutup dan terbuka, menggunakan skala Likert lima poin: *) Setuju (S), *) Sangat Tidak Setuju (STS). Angket ini dirancang untuk mengukur persepsi mahasiswa pada empat dimensi utama yang telah diturunkan menjadi indikator, yaitu: Tabel 1. Kuesioner Persepsi Mahasiswa NO. PERNYATAAN Laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama pendidikan hingga tingkat Di lingkungan kampus, kesempatan yang sama untuk diterima di semua program studi Menurut anda apakah ada hambatan gender dalam bidang studi di kampus Apakah perempuan dan laki-laki diberi ruang yang sama dalam kegiatan organisasi Apakah menurut anda perempuan berperan aktif mengajar di kelas NO. PERNYATAAN Apakah kelompok atau presentasi Apakah memperlakukan mahasiswa laki-laki dan perempuan secara adil dan setara Apakah memengaruhi kesempatan menjadi ketua organisasi atau kelompok Apakah terdapat kebijakan kampus yang mendukung kesetaraan gender Menurut merasa nyaman menjadi bagian dari lingkungan Total jumlah pernyataan angket sebanyak 10 butir untuk menggali pendapat dan refleksi pribadi mahasiswa terkait pengalaman atau pandangan mereka terhadap isu kesetaraan gender di kampus. Wawancara dilakukan terhadap 4 informan kunci yang dipilih dari hasil angket, dengan menggunakan panduan wawancara semi-terstruktur. Pertanyaan difokuskan pada eksplorasi pengalaman ketimpangan gender, serta refleksi mereka sebagai calon pendidik. Tabel 2. Daftar Wawancara Mahasiswa NO. PERTANYAAN Laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama pendidikan hingga tingkat Di lingkungan kampus, kesempatan yang sama untuk diterima di semua program studi? Menurut anda apakah ada hambatan gender dalam memilih jurusan bidang studi di kampus? Apakah perempuan dan laki-laki diberi ruang yang sama dalam kegiatan organisasi JAWABAN Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Jurnal Bindo Sastra 9 . : 11Ae16 NO. PERTANYAAN Apakah menurut anda perempuan berperan aktif mengajar di kelas? Apakah ada dominasi gender dalam diskusi kelompok atau presentasi? Apakah mahasiswa laki-laki dan perempuan secara adil dan Apakah memengaruhi kesempatan menjadi ketua organisasi atau kelompok? Apakah terdapat kebijakan kampus yang mendukung kesetaraan gender? Menurut anda apakah merasa nyaman menjadi bagian dari lingkungan JAWABAN NO. PERTANYAAN JAWABAN Teknik Validasi Instrumen Untuk wawancara divalidasi oleh dua dosen ahli di bidang pendidikan dan gender, dua dosen alhi tersebut disimpulkan menjadi validasi instrumen karena beberapa penelitianpenelitian dosen tersebut mengangkat tema kesetaraan gender. Ini dapat ditinjau di google scholar masing-masing dosen. Validasi dilakukan menggunakan format lembar validasi yang mencakup aspek kesesuaian indikator, kejelasan redaksi, dan relevansi konteks. Tabel 3. Validasi Instrumen NO. PERTANYAAN Laki-laki yang sama untuk kesempatan yang semua program Menurut hambatan gender dalam memilih bidang studi di RELEVANSI KEJELASAN KONTRUKSI BAHASA CATATAN VALIDATOR Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Esra. Dkk. Persepsi Mahasiswa UniversitasA NO. PERTANYAAN Apakah perempuan dan laki-laki diberi ruang yang sama dalam kegiatan Apakah menurut anda perempuan belajar mengajar di kelas? Apakah dominasi gender kelompok atau Apakah mahasiswa lakilaki secara adil dan Apakah gender organisasi atau Apakah terdapat Menurut apakah merasa nyaman menjadi pendidikan yang RELEVANSI KEJELASAN KONTRUKSI BAHASA CATATAN VALIDATOR Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Jurnal Bindo Sastra 9 . : 11Ae16 Hasil validasi digunakan untuk merevisi dan menyempurnakan instrumen. Teknik Analisis Data Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman . , yang terdiri atas tiga tahap utama: . Reduksi data, pada tahap ini, peneliti menyaring, memilah, dan menyederhanakan data dari hasil angket, wawancara, dan observasi yang berkaitan dengan persepsi mahasiswa. Data yang tidak relevan dieliminasi, sementara data yang mengandung informasi penting dikelompokkan berdasarkan tema atau . Penyajian data, data yang telah direduksi disusun dalam bentuk narasi deskriptif, tabel ringkasan, dan kutipan Penyajian ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai pendidikan, terutama dalam konteks UNPRI. Penarikan kesimpulan dan verifikasi, pada tahap ini, peneliti menemukan pola umum, anomali, atau kecenderungan persepsi yang muncul dari mahasiswa UNPRI. Proses ini dilakukan secara reflektif dan terus diverifikasi selama proses penelitian untuk menjaga keabsahan dan konsistensi temuan. Hasil dan Pembahasan Presepsi Mahasiswa UNPRI Isu kesetaraan gender dalam dunia pendidikan merupakan salah satu aspek lingkungan akademik yang adil, inklusif, dan progresif. Dalam konteks pendidikan tinggi, universitas berperan penting tidak hanya sebagai lembaga penghasil ilmu, tetapi juga sebagai ruang sosial tempat mencerminkan nilai-nilai keadilan dan Hasil persepsi mahasiswa Universitas Prima Indonesia terhadap isu kesetaraan gender dalam pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. Hasil Presepsi Mahasiswa UNPRI Pernyataan Laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama untuk mengakses pendidikan hingga tingkat tinggi Di lingkungan kampus, perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk diterima di semua program studi Saya merasa tidak ada hambatan gender dalam memilih jurusan atau bidang studi di kampus Mahasiswa perempuan dan laki-laki diberi ruang yang sama dalam kegiatan organisasi kampus Perempuan berperan aktif dalam proses belajarmengajar di kelas Tidak ada dominasi gender dalam diskusi kelompok atau presentasi Dosen memperlakukan mahasiswa laki-laki dan perempuan secara adil dan setara Gender tidak memengaruhi kesempatan menjadi ketua organisasi atau kelompok Terdapat kebijakan kampus yang mendukung kesetaraan gender Saya merasa nyaman menjadi bagian dari lingkungan pendidikan yang mendukung kesetaraan gender Respon Setuju Tidak Setuju Jumlah Korespondesi 50= setuju 0= tidak setuju 48= setuju 2= tidak setuju 50= setuju 0= tidak setuju 48= setuju 2= tidak setuju 48= setuju 2= tidak setuju 48= setuju 2= tidak setuju 49= setuju 1= tidak setuju 49= setuju 1= tidak setuju 49= setuju 1= tidak setuju 42= setuju 8= tidak setuju Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Esra. Dkk. Persepsi Mahasiswa UniversitasA Berdasarkan hasil rekapitulasi data, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Universitas Prima Indonesia menunjukkan tingkat kesadaran yang tinggi terhadap pentingnya kesetaraan gender dalam Hal ini ditunjukkan oleh mayoritas responden yang: . 100% setuju bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama untuk mengakses pendidikan tinggi. 96% menyatakan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk diterima di semua program studi. 98% menilai bahwa dosen memperlakukan mahasiswa secara adil, tanpa membedakan gender. 84% merasa nyaman berada di lingkungan kampus yang mendukung kesetaraan gender. Temuan bahwa meskipun masih ada sebagian kecil ketidaksetujuan . Ae16% pada beberapa pernyataa. , secara umum persepsi mahasiswa terhadap isu ini positif dan mendukung prinsip kesetaraan. Namun, hasil juga menunjukkan adanya ruang perbaikan, khususnya dalam menciptakan kenyamanan dan menjamin penerapan nyata dari kebijakan kampus yang mendukung kesetaraan gender. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif pihak institusi dalam mensosialisasikan kebijakan dan membangun budaya kampus yang semakin inklusif, agar nilai-nilai kesetaraan tidak hanya dipahami, tetapi juga dirasakan secara merata oleh seluruh sivitas Rangkuman Temuan Wawancara Mahasiswa Melalui wawancara yang telah dilakukan, diperoleh berbagai pandangan mahasiswa terkait bagaimana mereka kesetaraan gender di lingkungan kampus baik dalam hal akses pendidikan, kebebasan memilih jurusan, partisipasi organisasi, hingga interaksi dengan dosen dan sesama Tanggapan mencerminkan tingkat kesadaran dan kepekaan terhadap isu gender dalam konteks pendidikan tinggi. Untuk itu, tabel rekapitulasi berikut menyajikan persepsi mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia terhadap isu kesetaraan gender. Tabel ini tidak hanya menggambarkan pemahaman mahasiswa, tetapi juga menunjukkan adanya upaya reflektif terhadap peran mereka dalam menciptakan ruang pendidikan yang lebih adil dan setara. Tabel 5. Hasil Wawancara Mahasiswa Nama Mahasiswa Mahasiswa 1 Gender Laki-laki Mahasiswa 2 Perempuan Mahasiswa 3 Perempuan Mahasiswa 4 Laki-laki Mayoritas mahasiswa mendukung kesetaraan gender dalam pendidikan dan Namun, ditemukan persepsi adanya dominasi atau kepemimpinan dan representasi program Kebijakan kampus dinilai belum terlihat secara nyata oleh semua mahasiswa. Kesimpulan Persepsi Setuju dengan kesetaraan, namun melihat hambatan dan ketimpangan masih ada di lingkungan kampus. Mendukung penuh kesetaraan, melihat peluang setara, namun belum yakin soal kebijakan kampus. Mendukung kesetaraan secara umum, menyadari dominasi gender, tetapi merasa dosen dan organisasi adil. Cenderung setuju dengan kesetaraan, tapi masih melihat dominasi laki-laki dalam posisi kepemimpinan. Mahasiswa setuju bahwa kesetaraan gender pembentukan kesadaran kritis. Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Jurnal Bindo Sastra 9 . : 11Ae16 Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk Universitas Prima Indonesia (UNPRI) memandang isu kesetaraan gender dalam lingkungan pendidikan tinggi, serta sejauh mana nilai-nilai kesetaraan tersebut tercermin dalam sikap, pandangan, dan Untuk pembahasan dalam bagian ini akan mengaitkan temuan empiris dengan teori persepsi mahasiswa serta teori kesetaraan memperoleh pemahaman yang holistik dan Persepsi merupakan hasil dari proses kognitif individu dalam menanggapi, menginterpretasi, dan memberikan makna terhadap rangsangan yang datang dari lingkungan sekitarnya. Dalam konteks ini, persepsi mahasiswa terhadap isu kesetaraan gender terbentuk melalui interaksi mereka dengan sistem pendidikan, pengalaman sosial, serta nilai budaya yang berlaku. (Qomariah, 2. menyatakan bahwa mahasiswa cenderung memiliki persepsi normatif terhadap isu ini, yang didasarkan pada nilai budaya dan agama, tetapi belum sepenuhnya diinternalisasi dalam bentuk sikap atau perilaku konkret. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa UNPRI memiliki persepsi yang positif terhadap kesetaraan gender. Berdasarkan hasil kuesioner, 100% responden setuju bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama untuk mengakses pendidikan tinggi, dan 96% menyatakan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk diterima di semua program studi. Ini menunjukkan bahwa secara umum, mahasiswa mengakui kesetaraan hak dan akses pendidikan bagi semua gender. Dalam teori persepsi, hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa telah melewati tahap "pengamatan selektif" dan "interpretasi", di mana mereka tidak hanya menerima informasi mengenai kesetaraan gender, tetapi juga mulai membentuk penilaian yang mendukung nilai-nilai tersebut(Ainiyah. Mahasiswa menyadari bahwa perbedaan gender bukanlah pembenaran untuk ketimpangan, melainkan tantangan untuk mewujudkan keadilan dalam pendidikan. Konsep kesetaraan gender dalam pendidikan menekankan bahwa semua individu, tanpa memandang jenis kelamin, memiliki hak yang setara untuk memperoleh akses. Ketimpangan gender dalam pendidikan sering kali disebabkan oleh stereotip, ekspektasi sosial, dan struktur budaya yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat(Sulistyowati, 2. Hal ini dapat dilihat dari contoh nyata dalam laki-laki mengenyam pendidikan tinggi, sementara anak perempuan didorong untuk menikah atau bekerja di sektor informal. Namun, hasil penelitian ini membantah sebagian dari pola tersebut. Data menunjukkan bahwa mahasiswa UNPRI tidak hanya menyadari pentingnya kesetaraan gender, tetapi juga mengakui adanya upaya-upaya nyata untuk mewujudkannya di lingkungan Sebanyak 98% mahasiswa menyatakan bahwa dosen memperlakukan laki-laki dan perempuan secara adil, dan 98% pula menyatakan bahwa gender tidak memengaruhi kesempatan menjadi ketua Temuan ini sejalan dengan konsep keadilan gender dalam kerangka Hak Asasi Manusia (HAM), di mana pria dan wanita memiliki kedudukan serta hak yang sama dalam semua bidang kehidupan(Ihsani, 2. Dengan demikian, pendidikan berperan sebagai sarana untuk menghapus diskriminasi dan membuka ruang partisipasi yang setara. Sejalan feminisme, kesetaraan gender menuntut penghapusan sistem patriarki yang selama ini mendominasi ruang-ruang publik dan Dalam penelitian ini, meskipun mayoritas mahasiswa memiliki persepsi yang positif terhadap kesetaraan gender, hasil observasi terhadap dinamika diskusi kelas dan interaksi informal menunjukkan laki-laki kepemimpinan masih ada. Seperti yang diungkapkan oleh mahasiswa laki-laki dan perempuan dalam wawancara, mereka menyadari bahwa posisi struktural dalam organisasi kampus masih lebih banyak diisi oleh laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa penerimaan ideologis terhadap kesetaraan belum sepenuhnya menghapus praktik- Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Esra. Dkk. Persepsi Mahasiswa UniversitasA praktik yang bias gender. Ini sesuai dengan menyatakan bahwa sistem hukum dan sosial sering kali tampak netral, tetapi tetap maskulin(Setiawan. Ouddy, & Pratiwi. Dalam konteks pendidikan, bahan ajar juga berpengaruh terhadap persepsi Materi yang bias gender tanpa adanya kritik dapat memperkuat stereotip. Oleh karena itu, dosen diharapkan memilih dan mengarahkan diskusi teks sastra secara kritis agar mahasiswa mampu memahami representasi gender secara adil(Nurlaela. Nabila. Iryanda, & Septiliani, n. Sebanyak menyatakan bahwa isu kesetaraan gender perlu dimasukkan dalam kurikulum perguruan tinggi. Hal ini menjadi penting karena persepsi mahasiswa dipengaruhi tidak hanya oleh pengalaman sosial, tetapi juga oleh proses pendidikan formal yang mereka terima. Kurikulum berperspektif gender berfungsi untuk mengembangkan kesadaran kritis mahasiswa, menghilangkan stereotip, dan membentuk struktur berpikir yang adil gender. (Annur Rosida Siregar et , 2. menyebutkan bahwa meskipun kampus berupaya menciptakan lingkungan yang inklusif dan adil secara gender, masih ditemukan dominasi laki-laki dalam organisasi kemahasiswaan dan jabatan Maka dari itu, kesetaraan gender dalam pendidikan bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga soal perubahan budaya dan kesadaran kolektif. Pertanyaan dalam kuesioner dan wawancara dirancang untuk menggali persepsi mahasiswa terhadap peran gender dalam pendidikan, partisipasi organisasi, kebijakan kampus, serta pengalaman pribadi mereka. Sebagai contoh, 96% responden menyatakan tidak ada dominasi gender dalam diskusi kelas, namun dalam wawancara ditemukan bahwa posisi pemimpin dalam kelompok atau organisasi masih didominasi laki-laki. Hal ini menandakan bahwa persepsi normatif mahasiswa terhadap kesetaraan gender telah terbentuk, tetapi praktik keseharian mereka masih dipengaruhi oleh struktur sosial yang bias gender. Oleh karena itu, diperlukan upaya lebih lanjut dari institusi pendidikan untuk menyelaraskan persepsi, kebijakan, dan praktik di lapangan. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa persepsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Prima Indonesia menunjukkan kecenderungan yang positif dan progresif. Mayoritas mahasiswa mendukung prinsip kesetaraan gender dalam berbagai aspek kehidupan kampus, termasuk akses pendidikan, partisipasi organisasi, dan perlakuan yang setara dari Temuan dari angket dan wawancara menunjukkan bahwa meskipun mahasiswa secara normatif menyetujui pentingnya kesetaraan gender, masih terdapat praktik sosial yang memperlihatkan dominasi lakilaki dalam kepemimpinan dan keraguan terhadap implementasi nyata kebijakan kampus yang mendukung nilai-nilai Ini kesenjangan antara pemahaman konseptual dan implementasi praktis. Mahasiswa menyadari pentingnya pendidikan sebagai alat perubahan sosial, namun persepsi mereka masih dipengaruhi oleh norma budaya dan struktur sosial patriarkal yang melekat kuat dalam kehidupan kampus. Implikasi praktis dari temuan ini menunjukkan bahwa institusi pendidikan UNPRI, mengoptimalkan peranannya sebagai agen transformasi sosial dengan membentuk kurikulum yang berperspektif gender secara Rekomendasi penelitian ini adalah perlunya penguatan materi tentang kesetaraan gender dalam mata kuliah bahasa, sastra, dan pendidikan. Dosen diharapkan untuk mengintegrasikan pendekatan kritis terhadap representasi gender dalam teks sastra dan pembelajaran. Selain itu, universitas perlu memperkuat kebijakan internal yang mendukung memperluas akses perempuan ke posisi kepemimpinan mahasiswa, pedoman anti-diskriminasi berbasis gender, serta menyediakan pelatihan sensitisasi gender bagi sivitas akademika. Upaya- Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Jurnal Bindo Sastra 9 . : 11Ae16 upaya ini akan memperkuat kesadaran kritis mahasiswa dan membentuk budaya kampus yang inklusif serta adil secara struktural dan Dalam jangka panjang, lulusan PBSI diharapkan tidak hanya kompeten dalam bidang pendidikan bahasa dan sastra, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi untuk menjadi agen perubahan dalam membangun masyarakat yang setara dan adil gender. Daftar Pustaka