Academy of Education Journal Vol. No. January 2024. Page: 948-958 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Hubungan Kecerdasan Emosional dengan Kinerja Guru Pendidikan Kewarganegaraan Apeles Lexi Lontoa,1. Ruth Sriana Umbaseb,2. Dewa Bagus Sanjayac,3. Telly D. Wuad,4 a Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Universitas Negeri Manado b Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Universitas Negeri Manado c Pascasarjana Pendidikan Dasar. Universitas Pendidikan Ganesha d Universitas Negeri Manado 1 lexilonto@unima. 2 ruthumbase@unima. 3 bagus. sanjaya@undiksha. 4 telly_wua@unima. * Email Corresponding: ruthumbase@unima. INFO ARTIKEL Sejarah Artikel: Diterima: 24 Januari 2024 Direvisi: 18 Februari 2024 Disetujui: 23 Maret 2024 Tersedia Daring: 30 April 2024 Kata Kunci: Kecerdasan Emosional Kinerja Guru PKn Keywords: Emotional Intelligence Civics Teacher Performance ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Kecerdasan Emosional dan Kinerja Guru. Metode yang digunakan yaitu Metode Survey. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan sebesar 0,89 antara Kecerdasan Emosional dan Kinerja Guru PKn di Kota Bitung. Kecerdasan emosional mencakup kesadaran pengendalian diri, tingginya rasa empati dan harmonisasi dalalam hubungan sosial dimana faktor-faktor ini telah menyebabkan kinerja guru dalam pengelolaan dan penguasaan pembelajaran, pembimbingan siswa, daya interaktif yang menyenangkan dan inovatif. Implikasinya, baik kecerdasan emosional maupun kinerja guru dapat ditingkatkan melalui peningkatan pengetahuan, pembiasaan karakter mulia serta penerapannya secara berkelanjutan demikian sebaliknya jika kecerdasan emosional tidak ditingkatkan maka kinerja guru juga sulit untuk ditingkatkan. Optimalisasi peningkatan kecerdasan emosional dan kinerja guru dapat dilakukan di sekolah yang memiliki semangat sebagai organisasi pembelajar. ABSTRACT This research aims to analyze the relationship between Emotional Intelligence and Teacher Performance. The method used is the Survey Method. The research results show a positive and significant relationship of 0. 89 between Emotional Intelligence and the Performance of Civics Teachers in Bitung City. Emotional intelligence includes awareness of self-control, a high sense of empathy, and harmonization in social relationships. where these factors have caused teacher performance in managing and mastering learning, student guidance, and fun and innovative interactive abilities to increase. The implication is that both emotional intelligence and teacher performance can be improved through increasing knowledge and habituation and continuous training in schools with the spirit of being a learning and driving organization. A2024. Apeles Lexi Lonto. Ruth Sriana Umbase. Dewa Bagus Sanjaya. Telly D. Wua This is an open access article under CC BY-SA license Pendahuluan Bitung merupakan salah satu kota di antara 15 kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Utara yang memiliki masyarakat yang heterogenitas disertai kompleksitas permasalahannya termasuk permasalahan di bidang Pendidikan. Dalam penyelenggaraan pendidikan, guru memegang peranan penting untuk mewujudkan pencapaian tujuan pendidikan. Apabila tujuan pendidikan tidak dapat diwujudkan berarti terdapat permasalahan yang perlu untuk dianalisis faktor-faktor Salah satu kasus yang terjadi di Kota Bitung yaitu adanya tindakan kekerasan yang dilakukan guru terhadap siswa dalam bentuk hukuman fisik sehingga mengakibatkan siswa pingsan lalu dibawa ke Rumah Sakit Angkatan Laut Bitung (Sufaldi Tampilang, 2. Fakta tentang tindakan guru melakukan hukuman fisik demi menegakan aturan di sekolah Apeles Lexi Lonto et. al (Hubungan Kecerdasan EmosionalA. Academy of Education Journal Vol. No. January 2024. Page: 948-958 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. sampai saat ini masih sering terjadi (R. Umbase, 2. Dibutuhkan guru yang professional yang tidak hanya memahami hak-hak anak di sekolah tetapi juga memiliki kemampuan mengelola emosi dengan baik guna memenuhi dan melindungi hak anak (Lase, 2016. Muis, 2. Selanjutnya dengan kecerdasan emosional yang baik maka guru dapat meningkatkan kinerjanya menjadi lebih tinggi (Mangkunegara & Puspitasari, 2. Globalisasi dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah menciptakan dampak yang luas dan kompleks di dunia pendidikan (R. Umbase, 2. Tingkat kesehatan emosional termasuk didalamnya kenyamanan dan kecerdasan emosional ikut ditentukan oleh respons yang bersifat resiprokal dari setiap orang termasuk para guru, baik dari individu ke individu lainnya, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok lainnya (Zebua et al. , 2. Fakta tentang guru pada masa lampau yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi ditandai dengan kesungguh-sungguhan dalam melaksanakan tugas, ternyata secara berangsurangsur mulai tergeser dengan benturan kepentingan dan berbagai tekanan akibat kebijakan, program kerja dan tuntutan-tuntutan hidup yang semakin kompleks. Selanjutnya keprihatinan mengenai alokasi dana dan distribusinya untuk pembiayaan pendidikan di Indonesia masih terus dikeluhkan oleh masyarakat. Padahal pendidikan merupakan aspek penting dalam pembangunan bangsa dan negara. Hal ini telah ditegaskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada dasarnya pembaharuan pendidikan memberi landasan yuridis yang kuat bagi peningkatan kinerja guru, terutama dalam upaya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh undang-undang tersebut. Guna mencapai tujuan yang dimaksudkan maka dibutuhkan guru-guru yang memiliki kemampuan prima agar bisa menampilkan kinerja yang baik (Jamin, 2. Kinerja guru menjadi lebih baik jika guru telah melaksanakan unsur-unsur yang terdiri dari kesetiaan dan komitmen yang tinggi pada tugas mengajar, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran, kedisiplinan dalam mengajar dan tugas lainnya, kreativitas dalam melaksanakan pengajaran, kerjasama dengan semua warga sekolah, kepemimpinan yang menjadi panutan siswa, kepribadian yang baik, jujur dan obyektif dalam membimbing siswa, serta tanggung jawab terhadap tugasnya (Lonto, 2017. Say, 2. Kesetiaan dan komitmen merupakan salah satu faktor dalam hal kesetiaan dan komitmen guru dalam proses pendidikan yaitu sikap guru terhadap pekerjaan yang mempengaruhi tindakan guru dalam menjalankan aktivitas kerjanya. Sikap positif terhadap pekerjaannya, tentunya akan diikuti dengan tanggungjawab untuk melaksanakannya. Seorang guru yang memiliki sikap negatif terhadap pekerjaannya pastilah hanya menjalankan fungsi dan kedudukannya sebatas rutinitas belaka. Sikap guru terhadap pekerjaan maupun dalam bentuk motivasi kerja yang ditampilkan guru yang memiliki sikap positif terhadap pekerjaan, sudah tentu menampilkan kepuasan yang baik terhadap pekerjaannya. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa ada kendala seperti kurangnya penghasilan bagi guru honorer (Lonto, 2017. Say, 2018. Yudistiro, 2. Di masa depan dibutuhkan guru yang sungguh punya kreativitas, kritis, terbuka dalam masyarakat dan berpikir terhadap persoalan pendidikan yang ada dan yang terpenting adalah seorang guru harus membantu murid dalam mengembangkan nilai kemanusiaan seperti penghargaan terhadap pribadi manusia, hak asasi, moralitas, keadilan, kepekaan terhadap orang lain, kejujuran dan persaudaraan. Selanjutnya apabila mengkaji tentang kinerja guru tidak hanya dilihat dari kemampuan kerja yang sempurna, tetapi juga kemampuan menguasai dan mengelola diri sendiri serta kemampuan dalam membina hubungan dengan orang lain. Kemampuan tersebut oleh Daniel Goleman disebut dengan Emotional Intelligence atau kecerdasan emosi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kecerdasan emosi menyumbang 80% dari faktor penentu kesuksesan seseorang, sedangkan 20% yang lain ditentukan oleh IQ (Intelligence Quotien. Orang mulai sadar pada saat ini bahwa tidak hanya keunggulan intelektual saja yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan tetapi diperlukan sejenis keterampilan lain seperti kecerdasan Apeles Lexi Lonto et. al (Hubungan Kecerdasan EmosionalA. Academy of Education Journal Vol. No. January 2024. Page: 948-958 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. emosional untuk menjadi yang terdepan. Hal ini merupakan suatu usaha untuk mengelolah diri sendiri sebagai guru dalam melaksanakan tugasnya sebab terjadinya berbagai tindak kekerasan di sekolah, dimana ada guru yang memukul siswa, menciderai, menghukum tanpa rasa kemanusiaan menunjukkan rendahnya kecerdasan emosional guru (Goleman et al. , 2. Dewasa ini sangat dibutuhkan guru yang memiliki integritas sehingga mampu mengelola emosinya dengan baik. Apalagi Paradigma baru PKn sekarang ini mengacu pada beberapa aspek adalah: . Lingkungan strategis, yaitu isu-isu kritis tentang globalisasi, demokratisasi, hak asasi manusia, konflik horizontal dan pergeseran nilai. Tuntutan PKn abad 21 yaitu civics intelligence, civics responsibility, dan civics participation. Kapasitas PKn yaitu knowledge, competency, konfidensi, desposisi/nilai, skill, dan rational decision making. Cakupan isi PKn standar normative, moral and civics, politic and government, dan public issues (Lonto & Umbase, 2022. Sanjaya. Wirabrata, et al. , 2. Belajar Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan dapat menyanggupkan siswa memahami, menganalisis dan merumuskan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, bangsa dan negara secara berkesinambungan dan konsisten dengan cita-cita dan tujuan nasional. Selanjutnya diharapkan dapat dieliminir, permasalahan seperti kurangnya kesungguhsungguhan sebagian guru dalam melaksanakan tugas pokoknya sebagai guru, sikap personal guru yang masih kurang memuaskan bahkan tidak menunjukkan sifat terbuka, kurang mandiri dan upaya untuk pengembangan diri yang masih rendah. rendahnya kecerdasan emosional, kurangnya keteladanan dalam bersikap dan bertindak. integritas yang masih rendah masih menunjukan inkonsistensi antara perkataan dan perbuatan, rendahnya pengendalian diri, etos kerja dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas sebagai guru. rendahnya kinerja guru karena kekurang-mampuan merespons tuntutan lingkungan internal maupun eksternal (Limon & NARTGyuN, 2. Kinerja guru memegang peranan penting dalam menghasilkan sumber daya manusia yang Salah satu indikator kualitas kinerja guru tampak pada kualitas siswa. Guru Pendidikan Kewarganegaraan yang memiliki kinerja yang berkualitas sangat potensial untuk mengembangkan kualitas karakter siswa (Sanjaya. Suartama, et al. , 2. Kinerja guru merupakan faktor penentu dalam suatu organisasi pendidikan , hal ini berarti bahwa keberhasilan suatu organisasi pendidikan dalam pencapaian tujuannya bergantung antara lain pada upaya yang dilakukan guru dalam melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Misalnya dalam organisasi sekolah, berhasil tidaknya tujuan pendidikan sangat ditentukan oleh kinerja guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Kinerja guru atau prestasi kerja merupakan hasil yang dicapai oleh guru dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, kemudian pengalaman dan kesungguhan serta penggunaan waktu. Kinerja guru akan baik jika guru telah melaksanakan unsur-unsur kesetiaan dan komitmen yang tinggi pada tugas mengajar. Kinerja seorang guru dilihat dari sejauh mana guru tersebut melaksanakan tugasnya dengan tertib dan bertanggung jawab, kemampuan menggerakkan dan memotivasi siswa untuk belajar dan kerjasama dengan guru lain. Kinerja guru sebagai seperangkat perilaku nyata yang ditunjukkan oleh guru pada waktu memberikan pelajaran kepada siswanya (Jalagat, 2016. Limon & NARTGyuN, 2020. Ramawickrama et al. , 2017. Usop et al. , 2. Kinerja guru dalam kegiatan pembelajaran adalah kesanggupan atau kecakapan para guru dalam menciptakan suasana komunikasi yang edukatif antara guru dan siswa yang mencakup suasana kognitif, afektif dan psikomotorik sebagai upaya mempelajari sesuatu berdasarkan perencanaan sampai dengan tahap evaluasi dan tindak lanjut agar mencapai tujuan pengajaran. Kemampuan pribadi menjadikan guru dapat mengelola dan berinteraksi secara baik serta mengelola proses belajar mengajar. Guru juga harus mempunyai kepribadian yang utuh karena Apeles Lexi Lonto et. al (Hubungan Kecerdasan EmosionalA. Academy of Education Journal Vol. No. January 2024. Page: 948-958 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. bagaimanapun guru merupakan suri tauladan bagi anak didiknya (Irwan & Kamarudin, 2021. Kurniawan et al. , 2. Berbicara tentang kinerja guru erat kaitannya dengan standar kinerja yang dijadikan ukuran dalam menilai kualitas pembelajaran dan hasil belajar yang dapat dicapai guru. Penilaian kinerja guru bermanfaat untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan organisasi sekolah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan sekaligus sebagai umpan balik bagi guru untuk dapat mengetahui kekurangannya sehingga dapat memperbaiki diri dan meningkatkan kinerjanya. Menilai kinerja guru adalah suatu proses menentukan tingkat keberhasilan guru dalam melaksanakan tugas-tugas pokok mengajar dengan menggunakan patokan-patokan tertentu. Kinerja guru adalah kemampuan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran, yang dilihat dari penampilannya dalam melakukan proses belajar mengajar (Ahmad, 2. Kinerja guru dapat dilihat pada alat penilaian kemampuan guru (APKG), yaitu: . Perencanaan pengajaran, . Pelaksanaan pembelajaran di kelas, yang meliputi penggunaan metode, media dan bahan latihan, berkomunikasi dengan siswa, mendemonstrasikan khasanah metode mengajar, mendorong mengadakan keterlibatan siswa dalam pengajaran, mendemonstrasikan penguasaan mata pelajaran, mengorganisasikan waktu, ruang, bahan dan perlengkapan, dan evaluasi hasil belajar, . Kualitas hubungan antar pribadi, yang meliputi membantu mengembangkan sikap positif pada diri siswa, bersikap terbuka dan luwes terhadap siswa dan orang lain, menampilkan kegairahan dan kesungguhan dalam proses pembelajaran, serta pengelolaan interaksi pribadi dalam kelas (Hasan, 2018. Kurniawan et al. , 2018. Maujud. Kinerja guru dapat dinilai juga dari profesionalitasnya dalam pelaksanaan tugasnya di Profesionalitas tersebut terwujud dalam kegiatan dibidang pedagogik yaitu unjuk kerja guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran, dibidang profesional ditunjukkan dalam penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam, dibidang kepribadian yakni memiliki kepribadian yang mulia, memiliki kecerdasan emosional, berakhlak mulia, arif dan bijaksana, berwibawa serta menjadi teladan bagi siswa, dibidang sosial yaitu ditunjukkan dengan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan siswa, rekan guru, orang tua dan atau wali siswa dan masyarakat sekitar (Dudung, 2. Berdasarkan keseluruhan uraian tentang kinerja guru maka dapatlah dinyatakan bahwa kinerja guru adalah perilaku yang ditunjukkan guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya di sekolah dalam hal pengelolaan pembelajaran, penguasaan materi pelajaran, pembimbingan siswa dalam suasana yang kondusif, interaktif, menyenangkan, dan produktif-inovatif. Kecerdasan emosional secara konseptual memiliki makna khusus yang mengacu pada kematangan dan kemampuan seseorang dalam mengelola emosinya. Kecerdasan emosi merupakan kemampuan untuk menggunakan emosi secara efektif dalam mengelola diri sendiri dan mempengaruhi hubungan dengan orang lain secara positif. kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk merasakan emosi, menerima dan membangun emosi dengan baik, memahami emosi dan pengetahuan emosional sehingga dapat meningkatkan perkembangan emosi dan intelektual (Mayer & Salovey, 1. Selain itu Salovey juga memberikan definisi dasar tentang kecerdasan emosi dalam lima wilayah utama yaitu, kemampuan mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, dan kemampuan membina hubungan dengan orang lain. Seorang ahli kecerdasan emosi yakni Goleman mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kecerdasan emosi di dalamnya termasuk kemampuan mengontrol diri, memacu, tetap tekun, serta dapat memotivasi diri sendiri. Kecakapan tersebut mencakup pengelolaan bentuk emosi baik yang positif maupun negatif. Purba berpendapat bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan di bidang emosi yaitu kesanggupan menghadapi frustasi, kemampuan mengendalikan emosi, semangat optimisme, dan kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain atau empati. Hal tersebut seperti yang Apeles Lexi Lonto et. al (Hubungan Kecerdasan EmosionalA. Academy of Education Journal Vol. No. January 2024. Page: 948-958 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. dikemukakan Patton bahwa penggunaan emosi yang efektif akan dapat mencapai tujuan dalam membangun hubungan yang produktif dan meraih keberhasilan kerja (Purba & Demou, 2. Kecerdasan Emosi dapat diukur dari beberapa aspek-aspek yang ada. Goleman mengemukakan lima kecakapan dasar dalam kecerdasan Emosi, yaitu: . Self awareness, merupakan kemampuan sesorang untuk mengetahui perasaan dalam dirinya dan efeknya serta menggunakannya untuk membuat keputusan bagi diri sendiri, memiliki tolak ukur yang realistis, atau kemampuan diri dan mempunyai kepercayaan diri yang kuat lalu mengkaitkannya dengan sumber penyebabnya. Self management, yaitu merupakan kemampuan menangani emosinya sendiri, mengekspresikan serta mengendalikan emosi, memiliki kepekaan terhadap kata hati, untuk digunakan dalam hubungan dan tindakan sehari-hari. Motivation, adalah kemampuan menggunakan hasrat untuk setiap saat membangkitkan semangat dan tenaga untuk mencapai keadaan yang lebih baik serta mampu mengambil inisiatif dan bertindak secara efektif, mampu bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi. Empati . ocial awarenes. Empati merupakan kemampuan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, mampu memahami perspektif orang lain, dan menimbulkan hubungan saling percaya serta mampu menyelaraskan diri dengan berbagai tipe individu. Relationship management, merupakan kemampuan menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan menciptakan serta mempertahankan hubungan dengan orang lain, bisa mempengaruhi, memimpin, bermusyawarah, menyelesaikan perselisihan dan bekerja sama dalam tim. Kecerdasan emosional mencakup: . Kesadaran diri ditandai dengan adanya kepercayaan diri, kemampuan menilai diri sendiri secara objektif, kemampuan menciptakan sukacita untuk menghibur diri sendiri. Pengendalian diri ditandai dengan adanya: kemampuan menciptakan kenyamanan dalam diri sendiri dalam situasi yang sulit, kemampuan bersikap terbuka, kemampuan mempertahankan integritas diri. Empati ditandai: kemampuan membangun dan memelihara bakat yang dimiliki, kepekaan lintas budaya, kemampuan melayani siswa secara . Motivasi ditandai dengan: dorongan yang kuat untuk meraih tujuan, optimisme ditengah kegagalan, memiliki komitmen stabil. Ketrampilan sosial ditandai: keefektifan dalam memimpin perubahan, persuasif, mampu mengemukakan kiat-kiat untuk mempengaruhi siswa berpartisipasi secara aktif. Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk menyadari eksistensi diri sendiri, kemampuan mengendalikan diri, kemampuan memahami suasana hati orang lain, memiliki komitmen yang stabil, dan memiliki kesetiakawanan dan solidaritas sosial. Hal-hal inilah yang menentukan kesuksesan dalam pelaksanaan tugas seorang guru yang setiap harinya selalu berinteraksi dengan orang lain: di sekolah dengan sesama rekan guru, pegawai, laboran, teknisi, terutama berinteraksi dengan siswa. Berdasarkan uraian-uraian tersebut secara teoretik tampak adanya hubungan antara kecerdasan emosional dengan kinerja guru. Oleh sebab itu dengan berlandaskan pada kerangka teoretik tersebut, maka dikonstruksi konstelasi penelitian seperti pada Gambar di bawah ini: Gambar 1. Konstelasi Penelitian Keterangan: X : Kecerdasan emosional Y : Kinerja guru Hipotesis dalam penelitian ini yaitu AuTerdapat hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Kinerja GuruAy. Apeles Lexi Lonto et. al (Hubungan Kecerdasan EmosionalA. Academy of Education Journal Vol. No. January 2024. Page: 948-958 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Metode Penelitian ini adalah penelitian eksplanatif, yakni menganalisis dan menjelaskan hubungan variabel-variabel yang ada di dalam model konstelasi penelitian. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk menganalisis dan menjelaskan hubungan antara variabel kecerdasan emosional dengan kinerja guru. Metode penelitian yang digunakan adalah Metode Survey (Kristanto, 2. Sumber data dalam penelitian ini yaitu guru yang mengajar Pendidikan Kewarganegaraan (Guru PK. di SMA di Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara yang berjumlah 30 orang. Penentuan jumlah sampel ditetapkan sebesar jumlah populasi tersebut yaitu 30 orang guru. Penelitian ini telah dilaksanakan pada tahun 2023. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan mengunakan instrumen angket atau Instrumen penelitian ini mencakup dua variabel penelitian yaitu: . Instrumen untuk variabel kinerja guru. instrumen untuk variabel kecerdasan emosional. Instrumen penelitian disusun untuk masing-masing variabel menggunakan skala pengukuran yaitu skala Likert. Masing-masing pernyataan yang diajukan untuk setiap item disiapkan lima kemungkinan jawaban yang diharapkan dapat dipilih oleh responden sesuai dengan kondisi yang terjadi, dirasakan dan dipersepsikan oleh masing-masing responden. Setiap instrumen penelitian yang disusun terdapat pernyataan yang dikategorikan sebagai pernyataan positif dan pernyataan negatif. Pada pernyataan positif, setiap jawaban Sangat Setuju diberi skor 5. Setuju diberi skor 4. Ragu-Ragu diberi skor 3. Tidak Setuju diberi skor 2, dan Sangat Tidak Setuju diberi skor 1. Untuk pernyataan yang negatif, pemberian skor diberikan sebaliknya yaitu: untuk Sangat Setuju diberi skor 1. Setuju diberi skor 2. Ragu-Ragu diberi skor 3. Tidak Setuju diberi skor 4, dan Sangat Tidak Setuju diberi skor 5. Hasil dan Pembahasan Hasil Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang dianalis yaitu . variabel bebas atau independent variable dan variabel terikat atau dependent variable. Variabel bebas (X) yaitu Kecerdasan Emosional dan Variabel Terikat (Y) yaitu Kinerja Guru. Secara teoretis dua variabel tersebut memiliki hubungan yang erat. Dalam penelitian ini telah digunakan Statistical Package for the Social Science (SPSS) versi Software IBM SPSS 23. Pengujian dilakukan untuk menguji korelasi antara Kecerdasan Emosional dan Kinerja Guru. Hasil pengujian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara kecerdasan emosional dan kinerja guru sebesar 0,89. Tabel 1. Hasil Uji Korelasi Hubungan antara Kecerdasan Emosional dan Kinerja Guru Correlations KECERDASAN EMOSIONAL KECERDASAN EMOSIONAL Pearson Correlation Sig. -taile. KINERJA GURU Pearson Correlation Sig. -taile. **. Correlation is significant at the 0. 01 level . -taile. KINERJA GURU Sumber: Output SPSS versi 23 Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Kinerja Guru Pendidikan Kewarganegaraan di Kota Bitung ternyata diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,89. Jadi, terdapat korelasi yang positif dengan tingkat hubungan yang sangat Apeles Lexi Lonto et. al (Hubungan Kecerdasan EmosionalA. Academy of Education Journal Vol. No. January 2024. Page: 948-958 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. kuat antara Kecerdasan Emosional Guru dan Kinerja Guru khususnya Guru Pendidikan Kewarganegaraan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kecerdasan emosional guru akan menyebabkan semakin tinggi kinerja guru. Sebaliknya apabila semakin rendah kecerdasan emosional guru akan menyebabkan semakin menurunnya kinerja guru. Kecerdasan dan kematangan emosional merupakan kemampuan untuk mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain serta menggunakan perasaan-perasaan tersebut untuk memadu pikiran dan tindakan. Kematangan emosional yang dimiliki guru menyebabkan guru lebih bijak dalam mengambil keputusan, memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dengan banyak orang, dan memiliki rasa tanggungjawab moral tinggi terhadap pekerjaannya sekaligus dapat meningkatkan kinerjanya. Dunia kerja menuntut 80% kecerdasan emosional dibandingkan dengan kecerdasan intelektual yang hanya 20% (Goleman, 2011. Patton, 2. Di dunia kerja khususnya dunia kerja profesional, sebagai pemimpin di kelas dalam pengelolaan proses pembelajaran, guru perlu memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Dia harus mampu mengendalikan dan menggerakkan secara optimal potensi kecerdasan Salah satu indikator kecerdasan emosional yaitu hubungan sosial. Kohesivitas sosial ditunjukkan dalam bentuk keramah-tamahan dan kesetaraan antar-anggota masyarakat, mereka biasanya senang untuk bersama-sama . danya kebersamaa. Masing-masing anggota merasa bebas untuk mengemukakan pendapat dan saran (Nasution et al. , 2023. Sanjaya. Wirabrata, et al. , 2. Lebih lanjut jikadikaitkan dengan empati ternyata orang yang empatik mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang (Rahman, 2. kemampuan seperti inilah yang menyebabkan seorang guru mudah memahami apa yang sedang dialami dan dibutuhkan orang lain. Kinerja secara keseluruhan menyangkut berbagai bidang kemampuan, disiplin, kerajinan, serta hubungan kerja atau khususnya yang berhubungan dengan bidang pekerjaannya. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan emosi secara efektif dalam mengelola diri sendiri memiliki kepekaan terhadap kata hati, untuk digunakan dalam menggali hubungan dengan orang dan melakukan tindakan sehari-hari. Kinerja guru dipengaruhi oleh kecerdasan emosional, karena guru yang memiliki emosi yang stabil akan lebih bijak dalam mengambil keputusan, memiliki kemampuan berkomunikasi dengan orang lain, dan memiliki rasa tanggung jawab moral tinggi untuk melaksanakan tugas sebagai gurua, pengajar, fasilitator, moderator dan pembimbing belajar bagi siswa (Lase, 2016. Nasution et al. , 2023. Rahman, 2019. Sanjaya. Wirabrata, et al. , 2. Lahirnya undang-undang anti kekerasan seperti Undang-Undang Perlindungan Anak (No. 23 Tahun 2002. No. 35 Tahun 2. , merupakan salah satu bentuk penjaminan terhadap hak-hak siswa yang dilanggar oleh guru akibat menurunnya simpati dan empati terhadap siswa yang Dengan demikian untuk meningkatkan kualitas kerja guru maka kebutuhan untuk memaksimalkan kecerdasan emosional guru, sangat dibutuhkan. Para pakar psikologi menyatakan bahwa kecerdasan emosional seseorang dapat ditingkatkan melalui latihan dan proses pendidikan yang berkualitas. Kecerdasan emosional yang dimaksudkan adalah kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain serta menggunakan perasaan-perasaan tersebut untuk memandu pikiran dan tindakan, sehingga kecerdasan emosi sangat diperlukan untuk kesuksesan dalam bekerja dan menghasilkan kinerja yang menonjol dalam pekerjaan. Hal ini senada telah dikemukakan juga oleh Patton bahwa orang yang memiliki kecerdasan emosi akan mampu menghadapi tantangan dan menjadikan seorang manusia yang penuh tanggung jawab, produktif, dan optimis dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah, dimana hal-hal tersebut sangat dibutuhkan di dalam lingkungan kerja (Goleman, 2011. Patton, 2. Apeles Lexi Lonto et. al (Hubungan Kecerdasan EmosionalA. Academy of Education Journal Vol. No. January 2024. Page: 948-958 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Guru merupakan jabatan professional dimana melekat di dalamnya fungsi guru sebagai guru, pengajar, pembimbing, fasilitator, motivator, yang menjadikan tugas guru secara langsung bersentuhan dengan siswa . yang memiliki potensi kecerdasan untuk dimaksimalkan. Setiap siswa memiliki kebutuhannya masing-masing, untuk tumbuh dan berkembang ke arah kedewasaan dan kemandirian melalui proses pembelajaran (Prihartini et al. , 2. Pengajaran yang dilakukan oleh guru itu dilaksanakan dalam interaksi edukatif antara guru dan murid yaitu antara keadaan internal dan proses kognitif siswa. Selain itu guru adalah salah satu tenaga kependidikan yang mempunyai peran sebagai faktor penentu keberhasilan tujuan suatu organisasi karena guru yang langsung bersinggungan dengan siswa untuk memberikan bimbingan yang muaranya akan menghasilkan tamatan yang berkualitas. Berkenaan dengan itu maka kinerja guru harus selalu ditingkatkan (Pramesti & Muhyadi, 2. Guru adalah ujung tombak penentu kualitas pendidikan. Kinerja guru berpengaruh secara langsung terhadap kualitas pendidikan setiap siswa. Oleh sebab itu semakin baik kinerja guru maka akan semakin baik juga kualitas pendidikan yang dihasilkan. Demikian sebaliknya semakin buruk kinerja guru maka akan semakin buruk juga kualitas pendidikan yang dihasilkan. Sebuah hasil penelitian terhadap kinerja guru Pendidikan Kewarganegaraan yang PNS dan NonPNS di Singaraja menunjukan hasil kinerja yang tidak banyak berbeda. Ternyata besarnya gaji tidak mempengaruhi kinerja guru karena setiap guru yang memiliki pengendalian diri yang baik selalu mengedepankan kualitas kerja. (Say, 2018. Yudistiro, 2. Profesionalisme guru yang dimaksudkan adalah bukan semata-mata persoalan keterampilan teknis, tetapi juga kepribadian guru sebagai sosok yang patut diteladani oleh siswa. Kecerdasan emosional guru yang rendah tentu saja berpengaruh pada hubungan sosialnya baik di sekolah maupun di masyarakat, termasuk kesadaran dirinya dalam menyikapi problematika baik di kelas maupun di luar kelas. Kesadaran diri yang dibangun berdasarkan tingkat kecerdasan emosional yang tinggi sebagai insan yang mensyukuri tanggung jawabnya sebagai guru dengan sikap positif, maka guru mampu menerima tugas kependidikannya bukan sebagai perintah tetapi sebagai ibadah. Memiliki hubungan interpersonal yang kuat, bergaul dengan setiap murid dengan simpati dan empati, memiliki falsafah hidup yang matang dan yang konsisten serta konsekuen dalam tugas Dalam pelaksanaan tugas tidak hanya membatasi diri pada tugas mengajar mata pelajaran tertentu tetapi menekankan pada fungsi belajar untuk menggali nilai-nilai peradaban dan kemanusiaan, serta berpikir dengan akhlak mulia. Berpikir dengan akhlak mulia yang patut diteladani oleh masyarakat, terutama oleh muridmuridnya sendiri. Mempunyai motivasi yang kuat untuk terus berkembang, dan mewujudkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dunia pendidikan kinerja guru merupakan unjuk kerja yang ditampilkan guru yang ditandai dengan hasil yang dicapai guru dalam melaksanakan tugastugas yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta penggunaan waktu di dalam proses belajar mengajar di sekolah (Lonto, 2. Pada intinya, kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi cerdas dan terampil menggunakan emosinya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa emosi manusia berada di wilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain. Kecerdasan emosi saat ini merupakan hal yang banyak dibicarakan dan diperdebatkan. Banyak penelitian yang membahas dan menjawab persoalan mengenai kecerdasan emosi tersebut di dalam lingkungan organisasi. Kecerdasan emosional selain berkorelasi dengan kinerja guru, dalam banyak aspek ini juga menjadi landasan dalam pembentukan dan pengembangan karakter mulia bagi guru untuk menjadi panutan bagi siswa. Apeles Lexi Lonto et. al (Hubungan Kecerdasan EmosionalA. Academy of Education Journal Vol. No. January 2024. Page: 948-958 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Kesimpulan Berdasarkan keseluruhan hasil penelitian dan pembahasannya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kecerdasan emosional berkorelasi positif dan signifikan dengan kinerja guru, artinya apabila kecerdasan emosional guru tinggi atau baik maka akan meningkatkan kinerja guru, kinerja guru akan semakin baik. demikian sebaliknya jika kecerdasan emosional guru rendah atau buruk hal itu dapat mengurangi bahkan memperburuk kinerjanya. Implikasi peningkatan kecerdasan emosional sangat menentukan kinerja guru. Seorang guru yang memiliki kecerdasan emosi, dapat mengelola perasaannya dengan baik sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat. Kecerdasan emosi menjadi salah satu faktor penentu kualitas aktivitas mental seseorang, dimana aktivitas itu ikut menentukan kesehatan mental sebagai Aubahan bakarAy untuk menyuplai energi dalam pelaksanaan tugas professional sebagai guru. Guru yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi dan kinerja yang baik dapat memberikan pemenuhan dan perlindungan hak belajar siswa sekaligus mencegah terjadinya kekerasan dan perundungan di lingkungan sekolah. Penelitian ini juga menyajikan permasalahan-permasalahan yang dapat diteliti lebih lanjut dalam bentuk studi kasus terhadap kinerja guru di wilayah yang sering mengalami perundungan dan kekerasan pada siswa. Kecerdasan emosional guru dapat ditingkatkan melalui pembiasaan karakter mulia. Guru yang terbiasa membangun sikap empatik akan lebih mudah untuk bekerja memberikan layanan belajar khususnya bagi siswa yang bermasalah. Seyogyanya dalam rekruitmen guru maka perlu dipertimbangkan tingkat kecerdasan emosionalnya mengingat tugas guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik, membimbing bahkan mengasuh siswa yang mengalami kesulitan dalam tumbuh-kembang, bersosialisasi dan belajar. Pihak Manajemen Sekolah . impinan sekola. selayaknya dapat melaksanakan evaluasi kinerja guru secara periodik dan partisipatif dimana setiap guru diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk melaporkan hasil penilaian terhadap dirinya sendiri. Guru diberikan kesempatan untuk menilai keunggulan dan kekurangannya secara periodik dan secara periodik pula dapat mengusulkan perbaikan kinerjanya dengan strategi dan target capaian yang terukur. Dibutuhkan koordinasi dalam lingkup system pengembangan kinerja dan profesionalitas guru di era digital saat ini sehingga dapat dilakukan melalui berbagai program dan kegiatan secara berkelanjutan, diantaranya melalui tukar-menukar informasi, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman dalam berbagai forum pelatihan, seminar, bimbingan teknis guna peningkatan disiplin positif. peningkatan efesiensi dan efektifitas pembelajaran. peningkatan dan pengembangan kemampuan kolaboratif dengan guru PKn di berbagai tempat baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Daftar Pustaka