JEKPEND Jurnal Ekonomi dan Pendidikan Volume 9 Nomor 1 Bulan Januari 2026 Hal. p-ISSN: 2614-2139. e-IS SN: 2614-1973, Nabila Harumnike Azzahroh, . Urgensi Literasi Keuangan di Kalangan MahasiswaA | 33 Homepage:http://ojs. id/JEKPEND Urgensi Literasi Keuangan di Kalangan Mahasiswa Pendidikan IPS UIN Malang 1,2,3 Nabila Harumnike Azzahroh1*. Rahma Putri Andini2. Indri Damaiyanti3 Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial/Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Email: nabilaharumnike10@gmail. 250102110012@student. uin-malang. damaiyantiindri1@gmail. Corresponding Author (Received: 2 Desember 2025. Accepted: 24 Januari 2026. Published: 30 Januari 2026 Abstrack. Financial literacy is a very important skill that students must have in order to face the challenges of personal financial management in the era of digitalization. This article examines the urgency of financial literacy among students majoring in social sciences at UIN Malang. With the increasing potential risks of improper financial management, this study highlights the importance of understanding financial literacy as an effort to support student welfare. The research method used was a survey of PIPS UIN Malang students, which was then analyzed to determine the level of literacy and its impact on personal financial management. The results showed that adequate financial literacy can help students reduce consumptive behavior, improve long-term financial planning skills, and manage finances effectively. This article explains that there needs to be an emphasis on integrating financial literacy education into the curriculum and mentoring programs to equip PIPS UIN Malang students to face future financial challenges. Keywords: Financial literacy. PIPS UIN Malang students, urgency of financial management, student financial independence, campus financial education Abstrak. Literasi keuangan merupakan kemampuan yang sangat penting dan harus dimiliki oleh mahasiswa dalam menghadapi tantangan pengelolaan keuangan pribadi di era Artikel ini mengkaji urgensi literasi keuangan dikalangan mahasiswa program studi pendidikan ilmu pengetahuan sosial UIN Malang. Dengan latar belakang semakin banyaknya potensi resiko pengelolaan keuangan yang tidak tepat, penelitian ini menyoroti tentang pentingnya pemahaman literasi keuangan sebagai upaya untuk mendukung kesejahteraan mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan sampel mahasiswa PIPS UIN Malang, kemudian di analisis agar dapat diketahui bagaimana tingkat literasi dan dampaknya terhadap pengelolaan keuangan pribadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan yang memadahi dapat membantu mahasiswa mengurangi perilaku konsumtif, meningkatkan kemampuan perencanaan keuangan jangka panjang, serta mengelola keuangan secara efektif. Artikel ini menjelaskan bahwa perlu adanya penekanan integrasi pendidikan literasi keuangan dalam kurikulum dan program dampingan untuk membekali mahasiswa PIPS UIN Malang untuk menghadapi tantangan finansial di masa depan. Kata Kunci: Literasi keuangan, mahasiswa PIPS UIN Malang, urgensi pengelolaan keuangan, kemandirian finansial mahasiswa, pendidikan finansial kampus PENDAHULUAN Di era digitalisasi saat ini kemampuan mengelola keuangan pribadi menjadi salah satu keterampilan yang harus dimiliki setiap orang, terutama mahasiswa sebagai genesrasi muda yang sedang menempuh pendidikan tinggi. Literasi keuangan merupakan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola keuangan secara DOI:10. 26858/jekpend. bijak untuk mendukung keberhasilan akademik dan kehidupan sehari-hari mahasiswa. kalangan mahasiswa PIPS UIN Malang, pemahaman literasi keuangan masih perlu mendapat perhatian lebih, karena kurangnya kesadaran dalam mengatur keuangan yang menyebabkan masalah finansial yang berdampak dalam kualitas hidup mahasiswa. Oleh karena itu Nabila Harumnike Azzahroh, dkk. Urgensi Literasi Keuangan di Kalangan MahasiswaA | 34 meningkatkan literasi keuangan di kalangan mahasiswa pips uin malang adalah urgensi yang harus segera di upayakan agar dapat tercipta generasi mandiri secara finansial. Literasi keuangan diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk memahami pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola keuangan secara bijak. Kemampuan ini meliputi pemahaman bagaimana konsep dasar keuangan seperti perencanaan keuangan, pengelolaan pendapatan dan pengeluaran, serta pengendalian Dengan adanya literasi keuangan yang baik, mahasiswa mampu membuat keputusan finansial, menghindari prilaku konsumtif yang berlebihan dan memiliki kebiasaan menabung yang berfokus untuk masa depan. Namun, kenyataan tingkat literasi keuangan dikalangan mahasiswa tergolong Banyak mahasiswa yang belum menyadari tentang pengelolaan keuangan secara bujak dan menganggap urusan finansial bukan prioritas utama. hal ini sering menimbulkan berbagai permasalahan, seperti kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga munculnya stres akibat tekanan finansial. Khususnya di kalangan mahasiswa program studi PIPS UIN Malang rendahnya kesadaran terhadap literasi keuangan menjadi perhatian serius dan dapat menyebabkan sebagian mahasiswa mengalami ketidakseimbangan dalam mengelola keuangan. Kondisi ini tentu berdampak negatif terhadap kualitas hidup Oleh karena itu, peningkatan literasi keuangan menjadi hal yang sangat penting untuk Diharapkan mahasiswa dapat mengembangakan pol pikir bijak dalam mengambil keputusan ekonomi. Upaya ini sangat penting agar generasi muda tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mempunyai kemampuan dalam mengelola keuangan untuk menghadapi tantangan ekonomi di masa depan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk pengalaman, dan makna yang tergantung dalam DOI:10. 26858/jekpend. urgensi literasi keuangan di kalangan mahasiswa Program Studi PIPS UIN Malang angkatan 2025. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa PIPS UIN Malang Angkatan Sampel diambil menggunakan teknik sampling purposive atau random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 20 mahasiswa, yang mewakili seluruh Angkatan Data dikumpulkan melalui wawancara kepada 20 mahasiswa untuk memperoleh informasi yang detail mengenai pemahaman pengalaman tentang literasi keuangan serta urgensinya dalam kehidupan sehari-hari. Observasi partisipatif dilakukan secara terbatas untuk melihat langsung praktik Dokumentasi berupa catatan, foto atau dokumen relevan lainnya yang dapat mendukung data wawancara dan observasi. Instrumen utama adalah pedoman wawancara yang telah disusun secara terbuka agar informasinya dapat memberikan jawaban yang mendalam sesuai pengalaman mereka terhadap literasi keuangan. Teknik analisis data, dianalisis menggunakan teknik analisis secara induktif, dimulai dengan pemograman data, pengelompokan tema, hingga penyusunan narasi deskriptif yang menggambarkan urgensi literasi keuangan di kalangan mahasiswa PIPS UIN Malang HASIL DAN PEMBAHASAN Keputusan keuangan yang baik sangat penting, khususnya bagi mahasiswa yang jauh dari orang tua dan diharuskan tinggal di asrama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana mahasiswa PIPS angkatan 2025 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengelola keuangan mereka, dengan fokus pada sumber pendapatan, pengeluaran, dan tingkat literasi Berdasarkan hasil wawancara dengan 20 mahasiswa Program Stusi Pendidikan IPS UIN Malang angkatan 2025, di temukan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki kebiasaan Nabila Harumnike Azzahroh, dkk. Urgensi Literasi Keuangan di Kalangan MahasiswaA | 35 mengelola keuangan secara sederhana dengan menekankan pada kebutuhan pokok seperti makanan, transportasi, dan kebutuhan kuliah. Sebagian besar mahasiswa berusaha mengontrol keuangnya dengan menghindari pembelian secara spontan. Namun, tidak sedikit yang merasa kesulitan dalam mengatur keuangan pribadi seperti membeli makanan di luar rencana. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun kesadaran manajemen keuangan telah terbentuk namum masih menjadi tantangan bagi sebagian Mahasiswa . Dari sisi sumber keuangan mahasiswa, hampir seluruhnya menyatakan pemasukkan utama mereka berasal dari kiriman orang tua. Hanya sebagian kecil saja yang memperoleh tambahan dari tabungan pribadi atau beasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa belum sepenuhnya mandiri secara finansial dan masih bergantung pada keluarga. Oleh karena itu, kemampuan mengatur dana menjadi hal yang sangat penting agar kebutuhan hidup selama kuliah dapat terpenuhi tanpa menimbulkan tekanan finansial. Mahasiswa juga mempunyai kemampuan dalam mengatur keuangan. Hampir semua narasumber yang kita wawancarai menganggap bahwa literasi keuangan merupakan hal yang sangat penting karena berkaitan dengan kemampuan bertahan hidup. Dengan pengelolaan keuangan yang baik, mahasiswa dapat menghindari pemborosan dan menjaga kestabilan Kesadaran ini menandakan mahasiswa telah memahami peran literasi keuangan di era Meskipun demikian, hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa belum memiliki kebiasaan dalam mencatat pengeluaran dan rencana anggaran bulanan. Sebagian mahasiswa hanya memperkirakan pengeluaran saja, sementara beberapa lainnya mencoba menggunakan catatan sederhana. Dalam pencatatan keuangan ini, menjadi indikator bahwa tingkat literasi keuangan mahasiswa perlu ditingkatkan, terutama dalam hal penggunaan uang. Dalam hal membedakan antara kebutuhan dan keinginan, mayoritas mahasiswa mampu menetapkan prioritas DOI:10. 26858/jekpend. Mereka lebih memperioritaskan kebutuhan pokok dibandingkan keinginan Namun, beberapa mahasiswa mengakui bahwa dorongan konsumtif sering muncul, terutama saat ada promo. Hal ini menyatakan bahwa kesadaran terhadap nilai uang masih perlu ditingkatkan agar perilaku konsumtif bisa Kebiasaan menabung adalah aspek yang positif dalam hasil dalam wawancara ini sebagian besar mahasiswa menyatakan memiliki kebiasaan menabung walaupun tidak dilakukan secara rutin. Menabung terkadang berasal dari sisa uang kemarin atau penghematan sehari-hari. Sedikit menunjukkan bahwa pemahaman pada keuangan masih rendah dapat disimpulkan bahwa literasi keuangan mahasiswa berfokus pada aspek dasar, belum menyentuh pada aspek pengelolaan aset jangka panjang. Sebagian besar narasumber yang diwawancarai memberi saran akan pentingnya kesadaran pengelolaan keuangan dimulai dari hal-hal kecil. Banyak mahasiswa berpendapat pengalaman pribadinya seperti kehabisan uang sebelum kiriman yang dapat mendorong mereka lebih disiplin dalam mengatur keuangan. Dalam pemggunaan teknologi keuangan digital, kebanyakan mahasiswa mengaku bahwa penggunaan e-wallet justru membuat mereka lebih konsumtif . Hanya sebagian kecil mahasiswa yang merasa bahwa e-walet membantu mereka hemat karena dianggap lebih praktis dalam mencatat pengeluaran. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi keuangan tidak selalu berjalan dengan peningkatan kemampuan literasi finansial, karena tanpa pengendalian diri yang baik, teknologi Mahasiswa memberikan banyak saran agar teknologi keuangan digital bisa dimanfaatkan dengan baik. Diantaranya adalah dengan menetapkan batas transaksi harian, menghindari penggunan e-wallet hanya untuk kebutuhan primer saja. Pasil penelitian menunjukkan tingkat literasi keuangan mahasiswa PIPS UIN Malang angkatan 2025 berada pada tahap kesadaran. Nabila Harumnike Azzahroh, dkk. Urgensi Literasi Keuangan di Kalangan MahasiswaA | 36 namun tidak sepenuhnya mencerminkan perilaku pengelolaan yang sistematis. Era digital menuntut mahasiswa memiliki kemampuan praktis dalam menggunakan teknologi keuangan dengan baik dan bijak. Oleh karena itu literasi keuangan perlu diterapkan dalam kurikulum pendidikan ips sebagai bagian dari penguatan karakter. Dengan begitu, mahasiswa memiliki kecerdasan finansial yang dapat mendukung kesejahteraan mereka di masa depan. Tabel 1. Contoh Tabel Jumlah Sumber Kiriman orang Pengeluaran Makanan, primer lainnya Tingkat Tinggi Pembuatan Sering Kiriman orang tua, beasiswa Makanan. Sedang Kadangkadang Kiriman orang tua, pekerjaan paruh waktu Makanan, pulsa internet, sosial Jarang Pembahasan Literasi Keuangan Mahasiswa PIPS Angkatan 2025 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Konteks Mahasiswa Perantau dan Pentingnya Manajemen Keuangan. Mahasiswa yang tinggal jauh dari orang tua pada umumnya menghadapi tantangan yang lebih besar dalam mengelola keuangan dibandingkan mahasiswa yang masih tinggal bersama Kondisi ini juga dialami oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan IPS UIN Maulana Malik Ibrahim Malang angkatan 2025, di mana sebagian besar tinggal di asrama atau kos yang menuntut mereka untuk mengatur Tingkat kemandirian finansial ini berpengaruh terhadap stabilitas kehidupan sehari-hari, termasuk kemampuan mereka memenuhi kebutuhan dasar, mengikuti kegiatan akademik, dan menjaga kesehatan mental. DOI:10. 26858/jekpend. Keterangan Membuat anggaran bulanan, mencatat pengeluaran, dan menyisihkan uang untuk tabungan Memiliki keuangan tetapi masih tergoda dengan pengeluaran sekunder Tidak memiliki rencana keuangan Dalam teori literasi keuangan, fase awal pemahaman finansial banyak ditandai oleh kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, mengelola uang saku, serta merencanakan pengeluaran bulanan. Namun, realitas mahasiswa di lapangan sering kali berbeda: gaya hidup, tekanan sosial, dan kondisi psikologis dapat memengaruhi perilaku keuangan mereka. Hal inilah yang membuat literasi keuangan menjadi kebutuhan krusial yang tidak dapat ditunda. Menurut Sugiharti & Maula . , literasi keuangan bukan hanya pengetahuan, tetapi mencakup kesadaran, pemahaman, keterampilan, dan sikap yang digunakan seseorang dalam membuat keputusan finansial. Dengan demikian, mahasiswa yang tinggal di perantauan tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan nyata. Nabila Harumnike Azzahroh, dkk. Urgensi Literasi Keuangan di Kalangan MahasiswaA | 37 Pola Pengelolaan Keuangan Mahasiswa: Antara Kesadaran dan Praktik Hasil mahasiswa menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa sudah memiliki kesadaran dasar mengenai pentingnya mengatur keuangan. Kesadaran ini terlihat dari upaya mereka memprioritaskan kebutuhan pokok seperti makanan, transportasi, dan kebutuhan akademik. Hal serupa ditemukan dalam penelitian Herawati . yang menyebutkan bahwa mahasiswa umumnya memahami pentingnya pengelolaan keuangan, tetapi masih belum konsisten dalam menerapkan praktik finansial yang terencana. Namun, manajemen keuangan yang dilakukan masih berada pada tahap sederhana, belum mencerminkan penggunaan instrumen finansial yang lebih terstruktur seperti pencatatan pengeluaran digital, budgeting bulanan, ataupun pemantauan arus kas harian. Pola pengeluaran mahasiswa cenderung mengikuti pola konsumsi dasar dengan pengeluaran terbesar di sektor makanan. Hal ini wajar mengingat biaya makan merupakan kebutuhan primer dan menjadi bagian terbesar dari anggaran mahasiswa. Akan tetapi, sebagian mengontrol pengeluaran terutama saat berada dalam kondisi lapar, lelah, atau terpengaruh ajakan teman. Dalam konteks ini, aspek psikologis sangat memengaruhi kontrol finansial, seperti emotional spending yang menyebabkan pembelian impulsif. Kesadaran pembelian spontan sebenarnya sudah ada, namun implementasinya belum maksimal. Hal ini menegaskan adanya kesenjangan antara niat dan perilaku nyata, yang menurut teori perilaku konsumen merupakan hal yang umum terjadi ketika individu berada dalam lingkungan yang menawarkan banyak kemudahan transaksi. Sumber Keuangan: Ketergantungan pada Orang Tua dan Dampaknya Sumber dana mahasiswa didominasi oleh kiriman orang tua. Hanya sebagian kecil yang mendapatkan tambahan dana dari beasiswa atau tabungan pribadi sebelum kuliah. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar DOI:10. 26858/jekpend. mahasiswa pada kelompok usia 18Ae20 tahun belum mencapai kemandirian finansial. Ketergantungan penuh pada pendapatan dari orang tua memiliki dua implikasi besar: Keterbatasan uang bulanan. Mahasiswa harus mengatur agar dana bulanan cukup untuk kebutuhan makan, akomodasi, transportasi, kuota internet, kebutuhan kuliah, dan keperluan sosial. Tekanan psikologis ketika dana menipis Banyak mahasiswa merasa sungkan meminta uang tambahan kepada orang tua, terutama ketika pengeluaran membengkak akibat pembelian spontan. Perasaan tidak enak hati ini sering menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk lebih berhati-hati, tetapi pada saat yang sama menjadi sumber stres Sumber pendapatan yang terbatas menuntut mahasiswa memiliki kemampuan manajemen keuangan yang kuat. Namun, temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa belum memiliki strategi jangka panjang dan hanya mengandalkan intuisi dalam mengatur pengeluaran. Literasi Keuangan: Tingkat Kesadaran Tinggi tetapi Praktik Masih Rendah Hampir semua mahasiswa menyadari pentingnya literasi keuangan. Kesadaran ini muncul dari pengalaman pribadi, terutama saat mengalami kehabisan uang sebelum tanggal kiriman bulan berikutnya. Kesadaran tersebut menjadi modal awal yang sangat baik, tetapi belum cukup untuk membentuk perilaku finansial yang efektif. Temuan ini sejalan dengan penelitian OJK . yang menyatakan bahwa tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasi finansial cukup tinggi, tetapi tidak selalu diikuti oleh perilaku pengelolaan keuangan yang baik. Dalam aspek perilaku, sebagian besar mahasiswa belum terbiasa o Pencatatan pengeluaran Mayoritas hanya memperkirakan tanpa mencatat secara detail. Hasil ini konsisten dengan penelitian Rahmawati . , yang menemukan bahwa mahasiswa cenderung mengandalkan ingatan dan jarang membuat Nabila Harumnike Azzahroh, dkk. Urgensi Literasi Keuangan di Kalangan MahasiswaA | 38 catatan harian sehingga tidak memiliki gambaran yang jelas tentang arus keluar uang o Pembuatan anggaran bulanan Hanya sebagian kecil mahasiswa yang membuat anggaran tertulis. Penelitian Putri & Rahma . menunjukkan bahwa mahasiswa umumnya mengetahui konsep anggaran, tetapi jarang menerapkannya secara konsisten karena menganggap prosesnya rumit dan menyita o Evaluasi keuangan Hanya sedikit yang mengevaluasi penggunaan uang pada akhir bulan. Padahal, menurut teori literasi finansial, kebiasaan mencatat dan membuat anggaran merupakan indikator dasar kemampuan finansial yang baik. Ketidakkonsistenan pencatatan dan budgeting menunjukkan bahwa literasi keuangan mahasiswa masih berada pada level kesadaran, belum menjadi kebiasaan yang Selain itu, kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan sebenarnya sudah cukup baik, tetapi masih dipengaruhi oleh lingkungan digital, khususnya iklan, fitur promo, dan kemudahan transaksi. Fenomena ini diperkuat oleh penelitian Pradiningrum & Putri . , yang menjelaskan bahwa paparan iklan digital, promo aplikasi makanan, dan fitur memahami pentingnya prioritas keuangan. Perilaku Konsumtif dan Tantangan Digital Lifestyle Era digital telah membawa perubahan dalam pola konsumsi mahasiswa. Kemudahan transaksi menggunakan e-wallet, promo makanan online, hingga fitur cashback membuat mahasiswa berpotensi menjadi lebih konsumtif. Hasil penelitian menunjukkan: o Mayoritas mahasiswa merasa lebih boros saat menggunakan e-wallet. Menurut penelitian oleh Chen & Li . , pembayaran digital menciptakan invisible money effect, yaitu kondisi ketika pengguna merasa pengeluarannya Autidak terasaAy DOI:10. 26858/jekpend. sehingga lebih rentan melakukan pembelian Hal ini disebabkan karena transaksi non-tunai membuat mahasiswa tidak merasakan berkurangnya uang secara langsung . nvisible money effec. o Promo dan diskon menjadi pemicu utama pembelian impulsive Penelitian Rahmawati . menyatakan bahwa paparan promo dan diskon pada aplikasi layanan makanan dapat meningkatkan perilaku impulsif pada mahasiswa hingga 40%, terutama ketika promo ditampilkan secara visual dan berulang. Aplikasi seperti GoFood. ShopeeFood, dan e-commerce lainnya sering membuat mahasiswa tergoda membeli makanan atau barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. o Sebagian kecil mahasiswa merasakan manfaat e-wallet Sari & Pratama . menjelaskan bahwa fitur laporan transaksi pada e-wallet sebenarnya dapat mendukung literasi finansial, namun efektivitasnya bergantung pada apakah pengguna secara sadar memeriksa dan mengevaluasi laporan tersebut. Terutama dalam hal pencatatan otomatis dan kemudahan transaksi. Fenomena ini memperlihatkan bahwa teknologi finansial tidak otomatis meningkatkan literasi finansial. Sebaliknya, tanpa kontrol diri yang kuat, kemajuan teknologi justru dapat memperkuat pola konsumtif mahasiswa. Mahasiswa sendiri menyadari hal ini dan memberikan saran seperti pembatasan transaksi harian, menghindari paylater, dan memanfaatkan e-wallet hanya untuk kebutuhan Namun, sebagaimana juga ditemukan oleh Putri . , terdapat kesenjangan antara kesadaran dan praktik nyata, sehingga kontrol diri dalam penggunaan teknologi finansial masih belum optimal. Kebiasaan Menabung: Ada Kesadaran. Minim Konsistensi Menabung menjadi salah satu aspek positif yang ditemukan dalam penelitian ini. Mayoritas mahasiswa sudah mulai menabung walaupun tidak rutin. Menabung dilakukan dari sisa uang makan, penghematan harian, ataupun Nabila Harumnike Azzahroh, dkk. Urgensi Literasi Keuangan di Kalangan MahasiswaA | 39 uang AukelebihanAy dari kiriman bulan Namun, kebiasaan menabung belum direncanakan sebagai bagian dari strategi Mahasiswa menabung ketika ada sisa, bukan karena membuat target bulanan. Hal ini menyebabkan ketidakkonsistenan. Selain itu. Rahayu . menemukan bahwa perilaku AusituasionalAy, bukan kebiasaan yang ditetapkan melalui perencanaan anggaran. Padahal, dalam teori pengelolaan merupakan dua pilar penting dalam membentuk Minimnya pengetahuan mengenai investasi menunjukkan perlunya penguatan literasi keuangan di aspek pengelolaan aset. Urgensi Literasi Keuangan dalam Pendidikan IPS Sebagai mahasiswa PIPS, kemampuan literasi keuangan memiliki nilai strategis karena literasi finansial termasuk bagian dari kompetensi kewarganegaraan ekonomi dalam pendidikan IPS. Mahasiswa PIPS diharapkan menjadi calon pendidik atau akademisi yang mampu mengajarkan literasi finansial kepada generasi muda. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan mereka masih berada pada level dasar. Oleh karena itu, integrasi materi literasi finansial dalam kurikulum menjadi kebutuhan mendesak. Literasi keuangan harus diposisikan bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi juga sebagai kecakapan hidup yang membangun karakter dan Pradinaningsih & Wafiroh . menegaskan bahwa literasi keuangan adalah keuangan, memilih alternatif yang rasional, dan memutuskan tindakan finansial dengan penuh Dengan demikian, literasi keuangan mendukung kemampuan mahasiswa menghadapi perubahan ekonomi di era digital. DOI:10. 26858/jekpend. Sintesis: Gambaran Umum Literasi Keuangan Mahasiswa Berdasarkan temuan penelitian, dapat ditarik beberapa poin sintesis: Kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya keuangan sudah tinggi, tetapi belum menjadi perilaku yang konsisten. Pengelolaan keuangan masih dilakukan secara sederhana, tanpa pencatatan dan perencanaan yang terstruktur. Ketergantungan pada orang tua tinggi, sehingga manajemen keuangan menjadi kebutuhan vital. Teknologi digital memberi manfaat tetapi juga memicu perilaku konsumtif. Pengetahuan tentang investasi masih sangat rendah, menunjukkan literasi keuangan masih berada pada level dasar. Dengan demikian, mahasiswa PIPS angkatan 2025 perlu mendapatkan edukasi finansial yang lebih komprehensif, baik melalui kurikulum maupun pelatihan soft skill. Secara keseluruhan, literasi keuangan mahasiswa PIPS UIN Malang angkatan 2025 berada pada tahap awal, yaitu kesadaran. Kesadaran ini merupakan modal penting, tetapi belum cukup untuk membentuk perilaku finansial yang disiplin dan Tantangan terbesar mahasiswa adalah konsistensi dan kemampuan mengontrol pengeluaran di tengah gaya hidup digital. Oleh karena itu, integrasi literasi finansial dalam pendidikan IPS sangat penting agar mahasiswa memiliki kecerdasan finansial yang berguna bagi kesejahteraan mereka di masa depan. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap mahasiswa Program Studi Pendidikan IPS UIN Malang angkatan 2025, di simpulkan bahwa literasi keuangan merupakan aspek penting dalam kehidupan mahasiswa, khususnya di era digitalisasi saat ini. Hasil survei menunjukkan sebagian besar mahasiswa telah memiliki kesadaran terhadap pentingnya penerapannya dalam kehidupan sehari-hari masih Mahasiswa umumnya sudah paham terhadap prioritas antara kebutuhan dan Nabila Harumnike Azzahroh, dkk. Urgensi Literasi Keuangan di Kalangan MahasiswaA | 40 keinginan, mereka berupaya menghindari Namum sebagian mahasiswa masih ada yang tidak biasa mencatat pengelolaan Sebagian besar mahasiswa masih juga menggantungkan sumber keuangannya dari orang tua, sehingga literasi keuangan sangat penting untuk membantu mereka mengatur dana agar cukup sampai akhir bulan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa urgensi literasi keuangan di kalangan mahasiswa PIPS UIN Malang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengelola keuangan, tetapi juga menyangkut kesadaran terhadap pentingnya perencanaan finansial jangka panjang. Literasi keuangan yang baik kesejahteraan kehidupan mereka dimasa depan. SARAN Berdasarkan hasil penelitian ini beberapa saran dapat diberikan untuk meningkatkan literasi keuangan mahasiswa: Perlu adanya integrasi materi literasi keuangan dalam kurikulum Pendidikan IPS. Kampus diharapkan dapat menyediakan pelatihan literasi keuangan. Mahasiswa diharapkan mulai membangun kebiasaan mencatat pengeluaran. Penggunaan e-wallet dan aplikasi keuangan digital harus disertai dengan kesadaran akan resiko konsumtif. DAFTAR PUSTAKA