Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 Pemikiran Pendidikan Muhammad Athiyah Al-Abrasyi Mohammad Ramli Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hidayatullah Batam Muhammadramli584@gmail. ABSTRACT This study describes the thoughts of Al-Abrasyi's Islamic education in the book At-Tarbiyah Al-Islamiyyah wa Falauntunguha and his other books and their relevance to the concept of contemporary education which includes definitions, objectives, basics and also concerns educators and students, women's education in Islam. which is still very relevant to education The approach in this research is library research. Al-Abrasyi is a scholar, educational figure, scholar and a great teacher who lived in the twentieth century in Egypt. In general, his thoughts on Islamic education were heavily influenced by the thoughts of Ibn Sina. Ibn Miskawaih. Imam al-Ghazali and Ibn Khaldun. The results of this study conclude that Islamic education prioritizes moral education which is its spirit, but does not ignore the problem of preparing a person for life, seeking sustenance and not forgetting physical education, mind, heart, will, ideals, hand, oral and personality skills. Islamic education has a strong, fair and democratic comprehensive principle. Educators and students are equally noble, so there are many aspects that must be considered and maintained and finally the dynamics of women's education. Albrasyi is very broad and comprehensive in discussing the main points of Islamic education, in this paper only a few parts are reviewed. Key word: Religi of Education. From to. Morality. Teacher Basic. Student. Woman ABSTRAK Kajian ini mendeskripsikan pemikiran pendidikan Islam Al-Abrasyi dalam kitab At-Tarbiyah Al-Islamiyyah wa Falasifatuha dan kitab Beliau laiinya dan relevansinya dengan konsep pendidikan kekinian yang meliputi definisi, tujuan, dasar-dasar dan juga menyangkut pendidik dan peserta didik, pendidikan wanita dalam Islam yang masih sangat relevan dengan pendidikan dewasa ini. Pendekatan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan. AlAbrasyi adalah seorang cendekiawan, tokoh pendidikan, ulama dan seorang guru besar yang hidup pada abad XX di Mesir. Secara umum pemikirannya tentang pendidikan Islam banyak dipengaruhi oleh pemikiran Ibnu Sina. Ibnu Miskawaih. Imam al-Ghazali dan Ibnu Khaldun. Hasil dari kajian ini menyimpulkan bahwa pendidikan Islam memang mengutamakan pendidikan akhlak yang merupakan ruhnya, tetapi tidak mengabaikan masalah mempersiapkan seseorang untuk hidup, mencari rezeki dan tidak pula melupakan pendidikan jasmani, akal, hati, kemauan, cita-cita, keterampilan tangan, lisan dan kepribadian. Pendidikan Islam memiliki prinsip yang konfrehensif yang kuat, adil dan demokratis. Pendidik dan peserta didik sama mulianya, sehingga banyak aspek yang harus diperhatikan dan dijaga dan terakhirnamika pendidikan wanita. Albrasyi sangat luas dan konfrehensif mebahas pokokpokok pendidikan Islam, dalam tulisan ini hanya bagian sedikit saja yang diulas. Kata kunci: Pendidikan Islam. Tujuan. Moralitas. Dasar Guru. Murid. Wanita. PENDAHULUAN Salah seorang pemikir pendidikan Islam abad ke XX Masehi yang berkecimpung lama dalam dunia pendidikan di Mesir, pusat ilmu pengetahuan, dan terakhir beliau sebagai guru besar pada fakultas Darul Ulum. Cairo University. Cairo Ia adalah Muhammad Atiyah al-Abrasyi. Beliau adalah tokoh yang hidup pada masa pemerintahan Abdul al-Nasser. Disamping sebagai praktisi pendidikan Islam, beliau juga seorang pemikir yang dalam menelurkan gagasan43 Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 gagasannya ingin mengaktualisasikan kembali esensi dari nilai-nilai pendidikan Islam yang pernah dicapai pada masa keemasan Islam. Pemikiran-pemikiran beliau dalam pendidikan Islam selalu didasarkan pada dalil naqli dan ajaran-ajaran filosof muslim terdahulunya. Ia telah banyak menuangkan pemikiranpemikirannya dalam berbagai karya ilmiahnya. Menurut kitab at-Tarbiyah alIslamiyyah Wafalasafatuha, karya-karyanya telah mencapai 52 buah yang mencakup berbagai disiplin keilmuan seperti pendidikan, sejarah, akhlak, psikologi dan sebagainya, di antara karya-karyanya adalah Ruh al-Islam. Ruh at-Tarbiyah wa TaAolim, at-Tarbiyah al-Islamiyyah wa Falasifatuha. Asamah al-Islam I dan II. Ilmu Nafsi al-Tarbawi, dan lain-lain. Permasalah dalam kajian ini terfokus pada bagaimana pemikiran Atiyah al-Abrasyi tentang pendidikan Islam Pemikiran Pendidikan Islam Menurut M. AtIyah Al-AbraSyi dalam kitab At Tarbiyah Al-Islamiyyah wa Falasifatuha. Dari masalah permasalahan yang dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemikiran Athiyyah al-Abrasyi tentang pendidikan Islam. Adapun secara khusus, tujuan kajian adalah mendeskripsikan pemikiran pendidikan Islam Al Abrasyi dalam kitab At Tarbiyah AlAeIslamiyyahwa Falasifatuha dan juga untuk mencari relevansi pemikiran pendidikan Islam Atiyah al-Abrasyi dalam kitab atTarbiyah al-Islamiyyah wa Falasifatuha dengan konsep pendidikan kekinian. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini didesain dalam bentuk penelitian kepustakaan atau Library research yang menggunakan berbagai sumber kepustakaan sebagai sumber data penelitian. Penelitian Kepustakaan atau Library research adalah telaah yang berkaitan kepada pemikiran seorang tokoh dalam waktu tertentu, kondisi budaya, masyarakat pada saat itu, maka secara metodologis pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sejarah . istorical approac. 1 Maksudnya adalah penelitian sosial dan budaya yang berhubungan erat dengan biografis. yaitu penelitian yang menghubungkan kehidupan seorang dalam hubungannya dengan masyarakat, sifat-sifat,watak, pengaruh pemikiran dan idenya serta pembentukan watak tokoh selama hidupnya. Studi pustaka adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian. 2 Menurut Amir Hamzah bahwa salah satu jenis penelitian pustaka adalah kajian pemikiran tokoh. Kajian tentang pemikiran tokoh adalah usaha menggali pemikiran tokoh-tokoh tertentu yang memiliki karyakarya fenomena. Karya tersebut dapat berbentuk buku, surat, pesan atau dokumen lain yang menjadi refleksi pemikirannya. Jadi tokoh yang ingin diteliti tidak meninggalkan karya untuk mendapatkan data melibatkan berbagai pihak yang memiliki hubungan tertentu dengan tokoh Lanjut Amir Hamzah, dalam penelitian pemikiran tokoh, peneliti harus memberikan alasanalasan akademik tentang pentingnya pentingnya mengkaji pemikiran tokoh yang dimaksud. Salah satu pertimbangan yang paling dominan adalah karya-karya yang ditinggalkan, baik secara kualitas maupun kuantitas. Pertimbangan lain adalah pengaruh sepak terjang tokoh tersebut Nyoman Kutha Ratna. Teori. Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Dari Strukturalisme Hingga Postrukturalisme Wacana Naratif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , h. Mestika Zed. Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta Yayasan: Obor Indonesia, 2004. Hlm. Amir Hamzah. Metode Penelitian Kepustakaan. Library Research. Kajian Filosofis. Aplikasi. Proses dan Hasil Penelitian. (Malang. Literasi Nuasantara. Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 selama hidupnya bagi kehidupan masyarakat. Tema-tema tulisan tentang pemikiran tokoh nasional maupun dunia tidak sulit ditemukan. Karya-karya dapat ditemukan di toko-toko buku atau perpustakaan. Namun perlu dipahami bahwa meneliti atau mengkaji pemikiran tokoh, hampir tidak mungkin tanpa karya-karya orisinil dari tokoh yang diteliti. Penelitian ini bukan pengamatan langsung melainkan penggunaan data sekunder yang Kajian pemikiran pendidikan Muhammad Athiyah al-Abrasyi dikumpulkan dari datadata dan buku. Data yang dikumpulkan bersumber dari buku. Analisis data, reduksi data dan perapihan data dalam hasil analisis. Tahap selanjutnya penampilan pemikiran pendidikan Muhammad Athiyah al-Abrasyi dalam perspektif filosofis. Yang menjadi sumber primer dalam penelitian ini adalah: At-Tarbiyah Al-Islamiyah wa Falasifatuha. Karya Muhammad Athiyah Al-Abrasyi. Terj. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, oleh Prof. Bustami A, dan Djohar Bahry. Cetakan keenam. Bulan Bintang. Jakarta, 1990. Beberapa Pemikiran Pendidikan. Syamsudin Asyrofi, (Malang. Aditya: 2. terjemah dari beberapa sumber asli Tarbiyah Al-Islamiyah wa Falasifatiha. Ruh Al-Islam. Karya Muhammad Athiyah Al-Abrasyi. Dan Al-Madzahib Al-Tarbawi AoIndalghazali, karya Fatiyah Hasan Sulaiman. Education In Islam. Muhammad Atiyah Al-Abrasyi. Terj. Studi tentang Pendidikan Islam. Tasirun Sulaiman, (PSIA. Ponorogo: 1. Abu Muhammad Iqbal. Pemikiran Pendidikan Islam. Gagasan-Gagasan Besar Para Ilmuwan Muslim, (Pustaka Pelajara. Yogyakarta: Cet. II, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Biografi Muhammad Athiyah Al-Abrasyi Ia adalah pakar pendidikan yang memiliki jabatan terkahir sebagai guru besar di Dar alUlum dan Kairo University. Ia menguasai beberapa bahasa di samping bahasa Arab, seperti bahasa Inggris. Ibrani, ndan Suryani. Mengomentari tentang Al-Abrasyi. Abu Zahrah mengatakan: ia menghabiskan hampir seluruh umurnya untuk menuntut ilmu, semenjak mempelajari tentang keislaman pada tingkat madrasah sampai ke Dar al Ulum di Mesir, dan kemudian dilanjutkan ke Inggris untuk mendalami ilmu jiwa dan pendidikan. Walau demikian ia kembali ke Mesir tetap sebagai muslim yang baik, tidak mudah terpengaruh oleh budaya asing, tidak rusak imannya sebagaimana dialami oleh sebagian ilmuwan yang belajar ke luar negeri. Muhammad Athiyah al-Abrasyi adalah seorang tokoh pendidikan yang hidup pada masa pemerintahan Abd. Nasser yang memerintah Mesir pada tahun 1954-1970. Beliau adalah satu dari sederetan nama yang tidak boleh dilupakan oleh para cendekiawan Arab dan muslimin. Abrasy adalah seorang sarjana yang telah lama berkecimpung dalam duni pendidikan di Mesir. Guru Besar pada Fakultas Darul Ulum. Cairo Universityu. Beliau secara sistematis telah Sebagaimana dikutip oleh Abu Muhammad iqbal dari Ruh Al Islam karanagn Muhammad Athiyah AlAbrasyi dalam buku Pemikiran Pendidikan Islam. Gagasan-Gagasan Besar Para Ilmuwan Muslim, (Pustaka Pelajara. Yogyakarta: Cet. II, 2. Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 menguraikan pendidikan Islam dari zaman ke zaman, serta mengadakan perbandingan dengan prinsip, metode, kurikulum dan sistem pendidikan modern di dunia barat pada abad ke 20. Menurutnya keberhasilan pendidikan Islam dari awal sampai masa kejayaannya dapat dibuktikan dengan munculnya ilmuwan-ilmuwan besar. Menurut Al-Abrasyi ketika itu tidak ada dikotomi antara ilmu, sehingga dikatakan kegiatan berfikir dan berdzikir senantiasa berjalan Para ilmuwan melakukan observasi, menggali potensi alam kreasi Tuhan untuk mempertebal keyakinan terhadap sang Maha Pencipta, sehingga negeri Mesir ketika itu dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan. Namun ketika dunia Islam mengalami kemunduran, terlebih ketika negeri itu secara berturut-turut dijajah oleh prancis dan inggris, maka semua bidang pemikira, dan khususnya pendidikan di negeri ini juga mengalami hal yang sama. Kenyataan inilah yang membangkitkan yang telah membangkitkan AoAthiyah untuk kembali menggali nilainilai dan unsur-unsur pembaruan yant terpendam dalam khazanah perkembangan pendidikan Islam di masa kejayaannya. Ia mulai mencoba mencari titik persamaan dan perbedaan antara dasar-dasar pendidikan Islam dan pendidikan modern untuk mendapatkan pola-pola pendidikan baru yang dapat menjawab tantangan zaman namun tetap berpijak dan berlandaskan kepada ajaran Islam. Pendapat Muhammad Athiyah al-Abrasyi tentang pendidikan Islam banyak dipengaruhi dari rangkuman, pemahaman, dan pemikiran tokoh-tokoh muslim sebelumnya, terutama pemahaman secara filosofis. Beliau cenderung menjadikan Ibnu Sina, al-Ghazali dan ibnu Khaldun sebagai nara sumbernya. Athiyah Al-Abrasyi memang diakui keberadaannya di kalangan pendidikan khususnya pendidikan Islam. Beliau dikenal oleh banyak ahli dalam bidang pendidikan, di mana karya-karya beliau atau catatan . beliau banyak dipakai sebagai rujukan. Beliau juga banyak dikenal oleh masyarakat dunia pendidikan yang kritis dalam menyikapi realita dari fenomenafenomena masyarakat yang beraneka ragam. Beliau termasuk tokoh pendidikan yang memang tergolong ahli dalam bidangnya, karena beliau memiliki daya analisis yang dalam dan teknik penyajiannya tergolong baru sehingga beberapa karyanya banyak diterbitkan oleh penerbitpenerbit kemanan Kairo. Dianataranya karya-karyanya, sebagai berikut: Ruh al-Islam (Kairo: Isa al-babi al-Halabi Bi Sayyidina Husain,) AoAzamah al-Islam. Juz I, (Kairo : al-Anglo al-Misritah 165 Syairi' Muhammad Fardi,) Azamah al-Islam. Juz II, (Kairo : al-Anglo al-Misritah 165 Syairi' Muhammad Fardi,) 'Azamah ar-Rasul Muhammad, (Kairo : Dar al-Katib al-'Arabi,) Al-Asas fi al-Lughah al-'Ibriyah bi al-Isytirak, . Wuzarah at- Tarbiyah,). Al-Adab as-Saniyah, (Naf. Abtal asy-Syiriq, (Kairo : Lajnah al-Bayan al-'Arabi bi Syari Amin Samibi al-Munirah,) Mohd. Athiyah Al-Abrasy. At-Tarbiyah Islamiyah, terj. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta. Penerbit Bulan Bintag, 1. Ix, catatan singkat penerjemah. Prof. Bustami A. Gani. Abu Muhammad iqbal. Pemikiran Pendidikan Islam. Gagasan-Gagasan Besar Para Ilmuwan Muslim, (Pustaka Pelajara. Yogyakarta: Cet. II, 2. Athiyah Al-Abrasyi. Dasar-dasar Pokok Pokok Pendidikan Islam, terj. Bustami A Ghani dan Djohar Bahry. (Jakarta: Bulan Bintang. Cet. VII, hlm. , 20-21 Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 Musykilatuna al-Ijtimaiyah, (Kairo : Lajnah al-Bayan al-'Arabi bi Syari Amin Sami bi alMunirah,) Qisas al-'Uz ama' (Kairo : Dar al-Ma'arif, t. Qisas fi alButulah wa al-Wataniyah, (Kairo : Dar al-Ma'aruf, ) Aru al-Qisas Li Charles Diekens, (Kairo : Dar al-Ma'aruf, ) Qisas Min al-hayah li Charles Diekens, (Kairo : Dar al-Ma'aruf, ) al-Maktabah al-Haditsah li al-Atfal, 60 Kitab, (Kairo : Dar al- Ma'aruf,) 103 Al-Maktabah ak-Khudara' 8 Kitab (Kairo : Dar al-Ma'aruf,) Maktabah at-Tifl, 100 Kitab, (Kairo : Misr bi Syari Kamil Sadiqi bi al- Fujalah,) al-Maktabah az-Zihabiyah min Adab al-Atfal, 15 kitab, (Kairo : al- Anglo al-Misriyah,) Maktabah al-Tilmiz, 10 Kitab, (Kairo : an-Nahd ah al-Misriyah,) Nizam at-Tarbiyah wa at-Ta'lim bi Injilatra, (Naf. al-Mujizu fi at-Turuq at-Tarbawiyah li Tadris al-Lughah al- Qaumiyah,(Dar Nahd ah Misr,) Ahsan al-Qasas, 3 Juz, (Naf. A'lam as-Saqafah al-Arabiyah wa Nawabiga al-Fikr al-Islami. Sibawaih wa Ibn Sina. Wa Yaqul al-Hamawi, ( Dar Nahd ah Misr bi al- Fujalaj,) A'lam as-Saqafah al-Arabiyah ? wa Nawabiga al-Fikr al-Islami. al- Jahiz. Ibn al-Haisyam, al-Farabi. Ibn Khaldin, (Dar Nahd ah Misr bi al- Fujalaj,) A'lam as-Saqafah al-Arabiyah ? wa Nawabiga al-Fikr al-Islami. Jabir bin Hayyan, al-Qadli al-Jurjani abi ar-Raihan al-Biruni, (. Dar Nahdah Misr,) al-Butulah al-Misriyah fi Sina wa Bur sa'id, . p : Dar Nahd ah Misr bi al-Fujalah,) Abtaluna al-Fadaiyun fi Sina wa Bur Sa'id . p : Dar Nahd Misr bi al- Fujalah,) Qisas 'Ilmiyah Maksatah li Atfal, . p : Dar Nahd Misr bi al-Fujalah, ) al-Maktabah az-Zarqa' li Atfal, . p : Dar Nahd Misr bi al-Fujalah, t. Qisas Diniyyah li Atfal : Qiss ah al-Mustak Saw, . p : Dar Nahd Misr bial-Fujalah,) Qisas Diniyyah li Atfal . Qiss ah Umar bin al-Khattab . 3 Juz (DarNahd Misr bi al-Fujalah,) Silsilah al-'Uz. Ama' : Khalid bin al-Walid, (Kairo : al-Anglo al- Misriyah bi Syairi Muhammad Fardi,) 104 Silsilah al-'Uz. ama' : Salah ad-Don al-Ayyubi, (Kairo : al-Anglo al- Misriyah bi Syairi Muhammad Fardi,) Muhammad Farid, (Kairo : al-Anglo al-Misriyah bi Syairi Muhammad Fardi. Kutub Madrasah Mutanawwiyah, (Kairo : Dar al-Ma'arif (Musbir. , t. Maktabah Atfal ad-Diniyyah . Qisas min Hayan A'zam ar-Rusul, 30 Kitab Dar Nahd Misr bi al-Fujalah Beberapa Konsep Pendidikan M. Athiyah Al-Abrasyi Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 Pendidikan secara umum pada dasarnya merupakan kebutuhan yang primer manusia, baik secara individu maupun sebagai warga negara, yang menuju ke arah terbentuknya kepribadian yang utama. Pendapat Muhammad Athiyah al-Abrasyi tentang pendidikan Islam banyak dipengaruhi dari rangkuman, pemahaman, dan pemikiran tokoh-tokoh muslim sebelumnya, terutama pemahaman secara filosofis. Beliau cenderung menjadikan Ibnu Sina, al-Ghazali dan ibnu Khaldun sebagai nara sumbernya. Pengertian Pendidikan Islam Pengertian mengandung makna ide, pandangan, atau dapat juga diartikan sebagai konsepsi, opini atau meaning. Sementara konsep memiliki keterkaitan erat dengan teori, sehingga terdapat saling keterkaitan antara pengertian dan teori. Hal itu sebagaimana digambarkan dalam rumusan Karlinger yang mengatakan bahwa: A Theory is a set of interrelated constructs . , difinitions, and propositions that present a systematic view of phenomena by specifying relation among variables with the porpuse of explaining the phenomena. Rumusan di atas menunjukkan bahwa suatu teori merupakan seperangkan konsep, definisi dan proposisi yang saling berhubungan dan menggambarkan suatu pandangan yang sistematis dari gejala-gejala dengan menentukan satu persatu hubungan variabel, untuk tujuan menerangkan gejala-gejala tersebut. Sementara itu yang dimaksud dengan pendidikan Islam adalah segala daya dan upaya yang dilakukan oleh pendidik muslim terhadap perkembangan ruhaniyah dan jasmaniyah peserta didik pada situasi tertentu untuk meningkatkan keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia melalui ilmu yang amaliah dan amal yang ilmiah untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Berangkat dari pengertian pendidikan, seorang pakar pendidikan dari Perancis Jean Jaques rosseau sebagaimana dikutip Mahmud Yunus dalam bukunya At-Tarbiyatu wa at-TaAoliim mengatakan bahwa pendidikan itu memberikan atau menambahkan sesuatu kepada kita tentang sesuatu yang kita belum memilikinya pada masa kecil tetapi memerlukannya pada masa yang akan datang setelah dewasa. Sementara itu Plato memandang bahwa pendidikan itu mempersiapkan seluruh kemampuan akal/jiwa dan raga untuk menuju kepada kesempurnaan dan Sedangkan menurut Islam pendidikan itu merupakan sebuah upaya yang dilakukan seorang pendidik untuk mengembangkan seluruh potensi yang ada pada anak didik baik yang bersifat fisik jasmaniyah ataupun psikis ruhaniyah bathiniyah untuk membentuk Ayinsan kamilAy yang secara garis besar harus mengacu kepada keseimbangan antara keduanya, guna mewujudkan Ahmad D. Marimba. Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung : al-Ma'arif, 1. Cet. 5, hlm. Dan terbentuknya kepribadian yang utama yang dilakukan dengan kesadaran penuh dan adanya dasar dan tujuan dalam proses pendidikan disamping adanya unsur-unsur lainnya yang ada dalam pendidikan. Athiyah Al-Abrasyi. Dasar-dasar Pokok Pokok Pendidikan Islam, terj. Bustami A Ghani dan Djohar Bahry. (Jakarta: Bulan Bintang. Cet. VII, hlm. , 20-21 Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 tujuan pokoknya yaitu kesejahteraan lahir batin, dunia dan akhirat. Oleh karena itu melalui firman-Nya dalam Q. al-Qashash, 28: 77 Allah telah mengisyaratkan perlunya ada keseimbangan antara kebutuhan keduanya. Muhammad Athiyah Al-Abrasyi memberikan pengertian bahwa pendidikan Islam mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan berbahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya . , teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya baik dengan lisan maupun tulisan. Pengertian pendidikan Islam juga menurut Athiyah adalah sesungguhnya pendidikan itu meliputi prinsip-prinsip . , yaitu kebebasan, persamaan, dan kesempatan yang sama dalam pembelajaran, dan untuk memperolehnya tidak ada perbedaan antara yang kaya dan yang miskin, sesungguhnya mencari ilmu bagi mereka merupakan suatu kewajiban dalam bentuk immateri, bukan untuk tujuan materi . , dan menerima ilmu itu dengan sepenuh hati dan akal mereka, dan mencarinya dengan keinginan yang kuat dari dalam dirinya, dan mereka banyak melakukan perjalanan panjang dan sulit dalam rangka memecahkan masalah-masalah agama. Tujuan Pendidikan Islam . Membangun Moralitas Seluruh filosof Islam telah sepakat, bahwa pendidikan moral adalah esensi dan pendidikan Islam. Al Abrasy menyebutkan bahwa tujuan pendidikan Islam merupakan jiwa pendidikan Islam itu sendiri. Dan jiwa pendidikan Islam adalah budi pekerti dan akhlak. Jadi menurutnya bahwa tujuan pendidikan Islam adalah mencapai suatu akhlak yang sempurna. 13 Tapi kata beliau bukan berarti kita tidak mementingkan pendidikan jasmani atau akal atau ilmu ataupun segi-segi praktis lainnya. Artinya bahwa kita memperhatikan segi-segi pendidikan akhlak seperti juga segisegi lainnya itu, bagaimanapun anak-anak tetap membutuhkan kekuatan dalam jasmani, akal, ilmu dan anak-anak membutuhkan pula pendidikan budi pekerti, perasaan, kemauan, cita rasa dan Jadi menurut kesimpulan Abrasy bahwa tujuan pokok dan utama pendidikan Islam adalah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa. Semua matapelajaran haruslah mengandung pelajaran-pelajaran akhlak, setiap guru haruslah memperhatikan dan memikirkan akhlak sebelum yang lainnya. Dikutipnya satu pandangan Al-Ghazali mengenai hal ini bahwa Autujuan dari Abu Muhammad iqbal. Pemikiran Pendidikan Islam. Gagasan-Gagasan Besar Para Ilmuwan Muslim. Hlm. Mohd. Athiyah Al-Abrasy. At-Tarbiyah Islamiyah, terj. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam. Hlm. Muhamad Atiya Al-Ibrashi. Education In Islam, terj. Studi Tentang Pendidikan Islam, (Ponorogo. Pusat Studi Ilmu dan Amal, 1. Mohd. Athiyah Al-Abrasy. At-Tarbiyah Islamiyah, terj. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta. Penerbit Bulan Bintag, 1. Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 pendidikan adalah mendekatkan diri kepada Allah, bukan pangkat dan bermegah-megah dengan kawan, dan hendaklah pendidikan itu tidak keluar dari pendidikan akhlak. Akhlak yang sempurna dimiliki anak didik menjadi manusia sempurna . nsan kami. setelah ia menghabisi sisa umurnya. Dan ini merupakan tujuan akhir dari pendidikan. Memiliki Sikap Keseimbangan Dunia dan Agama . Pendidikan merupakan proses manivestasi manusia dalam menjalani kehidupan baik agama sekaligus dunia. Sebagaimana dikatakan Al Abrasyi bahwa ruang lingkup pendidikan dalam Islam tidak sempit, tidak saja terbatas pada pendidikan agama dan tidak pula terbatas pada pendidikan duniawi semata-mata, tetapi Rasululullah sendiri pernah mendorong setiap individu dari umat Islam suapaya bekerja untuk agama dan dunianya sekaligus. 16 AuBekerjalah untuk duniamu seakan-akan sengkau akan hidup selama-lamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok. Ay Rasulullah saw. Tidak tidak hanya memikirkan dunia semata-mata atau agama sematamata, tetapi beliau memikirkan untuk bekerja buat keduanya tanpa tanpa meremehkan alam dunia dan atau agama. Jadi dalam konsep pengertian pendidikan Islam di atas. Al-Abrasyi mengkonstruksikan sebuah pemikiran secara filosofis bahwa dalam menetapkan tujuan pendidikan Islam hendaknya mencakup dua dimensi yaitu keilmuan yang dapat membahagiakan hidup di dunia dan juga keilmuan yang mengantarkannya kepada kebahgiaan akhirat. Segi-segi kemanfatan Walaupun pendidikan Islam selalu memperhatikan aspek agama, moral dan spiritual, tetapi tidak berarti mengesampingkan perhatiannya terhadap aspek-aspek yang berguna di lembaga-lembaga dan programnnya. Sasarannya Nampak dengan jelas sekali dapat dilihat lewat surat Umar bin Khattab kepada gubernurnya mengatakan. Auajarilah anak-anakmu berenang dan menunggang kuda, dan ajarkan kata-kata bijak dan syairAy. Hanya orang-orang fanatic saja yang keras kepala mempersoalkan bahwa terpelajar muslim telah tercemari pengetahuan Renaisance Barat. Dalam konteks ini. Monrue dalam bukunya History of EducationAy mengatakan bahwa orang-orang Islam telah meletakkan dan membuat inovasi yang amat berharga dalam ilmu medis, bedah, farmatik, astrologi dan psikologi. Diterangkan pula tentang orang yang pertama kali mengajarkan kompas dan senjata di Eropa. Pendidikan Islam tidak seluruhnya merupakan aspek-aspek agama, sisi praktis spiritual, tetapi aspek ini mendominasi. Pada dasarnya tidak materialistis, tapi pemulihan materi atau mengejar kebutuhan materi dianggap sebagai sesuatu yang incidental dan tidak untuk mencari materi tersebut, namun dipandang sebagai sesuatu yang skunder dalam pendidikan Islam. Oleh karena itu dalam pendidikan Islam sesuatu yang medatangkan manfaat dan maslahat bagi kehidupan akan menjadi obyek atau tujuan pendidikan. Mempelajari Ilmu Pengetahuan semata-mata Mempelajari ilmu pengetahuan sebagai pengetahuan bagi seorang pelajar muslim adalah suatu yang menyenangkan dalam kehidupannya, dan secara naluriah manusia mencintai belajar. Oleh sebab itu para filosof besar Islam sangat memperhartikan penerpan sains. Tujuan dari pendidikan adalah mempelajari ilmu pengetahuan untuk pengetahuan, kesusastraan untuk kesusastraan dan seni untuk seni, selagi itu dalam konteks ilmu pengetahuan, literature seni yang Di AuKasfa DununAy Al-Haj Khalifah mengatakan bahwa belajar adalah suatu hal yang Muhammad Athiyah Al-Abrasy. At-Tarbiyah Islamiyah, terj. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, hlm. Armai Arief. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta : Ciputat Pers, 2. , hlm. Mohd. Athiyah Al-Abrasy. At-Tarbiyah Islamiyah, terj. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam. Hlm. Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 mengasikkan dan melebihi segala sesuatu. Pada tempat lain ia mengatakan bahwa tujuan belajar adalah mencapai kehidupan keduniaan dan kebenaran, pengokohan moral kepribadian. Dengan kata lain, dapat dikatakan: Aubelajar adalah usaha pencapaian ilmiah dan kepribadian yang sempurnaAy. Sesungguhnya jika dikaji lebih jauh masih ada beberapa muatan filosofis terkait dengan tujuan pendidikan Islam dalam perspektif Al-Abrasyi. Mengutip dari pemikiran Marimba bahwa tujuan pendidikan Islam amatlah banyak, tujuan itu dapat paralel dan dapat pula dalam urutan satugaris lurus . Dalam hal ini terdapatlah tujuan yang dekat, lebih jauh, jauh dan terjauh atau dengan istilah lain terdapatlah beberapa tujuan sementara . ujuan antar. dan tujuan akhir. Fungsi tujuan akhir ialah memelihara arah usaha itu dan mengakhirinya setelah tujuan itu tercapai. Fungsi tujuan sementara adalah membantu memelihara arah usaha dan menjadi titik berpijak untuk mencapai tujuan lebih lanjut dan tujuan Tujuan akhir pendidikan Islam adalah terbentuknya kepribadian muslim. kepribadian muslim terbentuk, terlebih dulu akan dicapai tujuan sementara seperti kecakapan jasmaniah, mampu baca tulis, pengetahuan social kemasyarakatan, kesusilaan, keagamaan dst. Pendapat Marimba di atas sejalan dengan pemikiran Al-Abrasyi bahwa tujuan pendidikan Islam tidak bersifat parsial tapi integrasi interkoneski, baik dengan model satu tarikan nafas maupun satu alur garis. Namun keduanya sepakat bahwa tujuan akhir pendidika Islam adalah Insan Kamil (Al-Abrasy. Kepribadian Muslim (Marimb. Dasar-Dasar Pendidikan Islam Pendidikan Islam sebagai suatu disiplin ilmu yang cukup berpengaruh besar dalam dunia pendidikan dikarenakan memiliki dasar-dasar yang jelas dan relevan dalam kehidupan dan juga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan secara komprehensif. Dasar ini merupakan kajian yang menjadi sumber kekuatan berdirinya bangunan itu yang berfungsi untuk menjadi bangunan tersebut untuk tetap kokoh berdiri. Dalam pendidikan Islam, dasar-dasar itu dijadikan sebagai jaminan, sehingga pendidikan memiliki sumber keyakinannya, yang menuju ke arah tujuan yang jelas, tidak mudah disimpangkan oleh pengaruh-pengaruh luas. 19 Oleh karena itu, dalam kitab al-Tarbiyah alIslamiyah wa Fasilifatuha . AoAthiyah menyebutkan bahwa dasar-dasar pendidikan Islam adalah sebagai berikut : Tidak ada batasan umur untuk mulai belajar. Tidak ditentukan lamanya seorang anak di sekolah. Berbedanya cara yang digunakan dalam memberikan pelajaran. Dua ilmu jangan dicampuradukkan. Menggunakan contoh-contoh yang dapat dicapai dengan panca indra untuk mendekatkan pengertian pada anak-anak. Memperhatikan pembawaan anak-anak dalam beberapa bidang mata pelajaran sehingga mereka dengan mudah dapat mengerti. Memulai dengan pelajaran Bahasa Arab kemudian pelajaran Al-Quran al-Karim. Perhatian terhadap pembawaan insting anak-anak dalam pemikiran bidang pekerjaan. Muhamad Atiya Al-Ibrashi. Education In Islam, terj. Studi Tentang Pendidikan Islam, (Ponorogo. Pusat Studi Ilmu dan Amal, 1. Ahmad D. Marimba. Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung : al-MaAoarif, 1. Cet. 5, hlm. Ahmad D. Marimba. Pengantar Filsafat Pendidikan, hlm. Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 Permainan dan hiburan. Mendidik perasaan. Dengan demikian, dasar-dasar pokok pendidikan Islam yang ditawarkan 'Athiyah, merupakan pemikiran yang cemerlang, yang memperhitungkan pendidikan dalam masyarakat, termasuk hal-hal kecil yang tidak terlintas dalam kebanyakan para ahli pendidikan. Dasar-dasar pendidikan Islam ini menurut 'Athiyah merupakan salah satu kesatuan yang utuh tidak terpisah-pisah atau tidak berdiri sendiri. Hal ini merupakan hasil perenungannya yang kritis terhadap fenomena-fenomena yang ada serta tetap menghormati para sarjana-sarjana pendahulu lainnya yang banyak dikutip untuk dijadikan rujukan dalam merenungkan Dasar-dasar ini sejalan dengan dunia pendidikan modern dewasa ini yang intinya diharapkan dapat mengembangkan pendidikan Islam untuk mengembalikan keagungan agama Islam, di masa-masa mendatang. Pendidik dan Peserta Didik Muhammad Athiyah Al-Abrasyi mengatakan bahwa Para filosof muslim telah memerlukan menulis buku tentang pengajar dan pelajar atau mengenai guru dan murid. Baik mengenai hak maupun tentang kewajiban masing-masing dan menulis tentang sifat-sifat yang harus dimiliki oleh guru dan murid, seperti An-Nimari Al-Qurthubi telah menulis dalam bukunya Jami bayanililmi wa fadhlih prihal Auprilaku guru dan muridAy, begitu pula Al-Ghazali di dalam bukunya fatihatul Ulum dan Ihya Ulumuddin, di mana beliau telah mengkhususkan guru dengan sifat-sifat kesucian dan kehormatan dan menempatkan guru langsung sesudah kedudukan para Nabi-Nabi. Rasulullah SAW berkata: AuTinta para ulama lebih baik dari darahnya para syuhadaAy. Seorang sarjana yang beramal dan bekerja, lebih baik dari seorang yang hanya beribadat saja, yang hanya puasa saja seluruh hari dan sembahyang saja seluruh malam. Tentang hal ini AlAbrasyi mengutip pendapat Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin tentang kedudukan ilmu dan dan sarjana atau ulama sebagai berikut: AuSeorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya itu, maka dialah yang dinamakan besar di bawah kolong langit ini, ia adalah matahari yang menyinari orang lain dan mencahayai pula dirinya sendiri, ibarat minyak kesturi yang baunya dinikmati orang lain dan ia sendiripun harum. Siapa yang bekerja di bidang pendidikan, maka ia telah memilih pekerjaan yang terhormat dan yang sangat penting, maka hendaknya ia memelihara adab dan sopan santun dalam tugasnya iniAy. Penyair Syauki mengakui pula nilainiya seorang guru dengan katakatanya sebagai berikut: AuBeridiri dan hormatilah guru dan berilah penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang RasulAy. Muhammad AuAthiyyah al-Abrasyi, terj. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam. Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 Guru adalah spiritual father atau bapak rohani bagi seorang murid, ialah yang memberi santapan jiwa dengan ilmu, pendidikan akhlak dan membenarkannya, maka menghormati dan menghargai guru berarti menghormati dan menghargai anak-anak kita, dengan guru itulah mereka hidup berkembang, jika sekiranya setiap guru itu menunaikan tugasnya dengan sebaiknya. Abu Darda melukiskan bahwa guru dan murid adalah berteman dalam kebaikan tanpa keduanya tidak ada kebaikan. Al-Abrasyi menceritrakan bahwa pada abad pertengahan terdapat perbedaan perlakuan terhadap guru dan lembaga pendidikan Islam dan pendidikan barat. Seorang guru di institute atau university di Barat telah diperlakukan dengan keras dan kasar, di mana ia harus bersumpah di hadapan dekan fakultas bahwa dia akan taat kepada atasan, menjalani peraturan-peraturan yang dibuat oleh Universitas dan bersedia dianggap tidak datang serta membayar denda dalam jumlah tertentu bila kuliahnya tidak dihadiri sekurang-kurangnya oleh 5 orang mahasiswa, selanjutnya mahasiswa diwajibkan pula melaporkan mengenai dosennya bila si dosen itu tidak hadir tanpa Sedangkan pada abad pertengahan itu di institute. Uniersitas Islam mendapat perlakuan yang baik sekali, disucikan, dilayani dengan segala kehormatan dan penghargaan, di mana ia mempunyai keududukan mulia dan kebebasan mutlak dalam mengajar, dalam memilih subyek dan waktu memberikan kuliah serta jumlah jam kuliah yang menjadi kewajibannya. Terhadap dua cerita tentang guru abad pertengahan di atas yang dikutip dari karya AlAbrasyi dilihat memang cukup kontradiktif. Namun secara kontekstual seiring dengan perkembangan kemajuan pendidikan Islam yang mengharuskan adanya keteraturan yakni disebut manajemen pendidikan Islam, maka dalam hal ini tentu memerlukan kajian mandalam. Masih seputar guru, menurut Al-Abrasyi bahwa seorang guru harus memiliki beberapa sifat utama yaitu pertama, zuhud, tidak mengutamakan materi dan hendaknya mengajar karena mencari ridha Allah. Namun begitu tidak mengpa seorang guru menerima upah atau gaji dengan catatan tidak meruasak nilai-nilai tujuan utama mencari ridha Allah. Kedua, seorang guru harus bersih tubuhnya, jauh dari dosa dan kesalahan, bersih jiwa, terhindar dari dosa besar, sifat riya, dengki, permusuhan dan sifat-sifat tercela lainnya. Ketiga, ikhlas dan jujur dalam pekerjaan, sesuainya kata dan perbuatan, tidak malu mengatakan tidak tahu. Keempat, suka pemaaf, kelima, memposisikan diri sebagai ayah bagi murid, sehingga perlakuan terhadap murid tidak lebih berbeda dengan peserta didik. Keenam, harus mengetahui tabiat murid. Ketujuh, menguasai mata Sedangkan untuk Murid. Al-Abrasyi juga memberikan perhatianmnya terhadap dak dan kewajiban serta sifat-sifat yang dimilikinya dan ini hendaknya menjadi pedoman bagi pendidikan hari ini karena masih sangat kontekstual. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh setiap peserta didik adalah: Sebelum mulai belajar, peserta didik harus terlebih dahulu membersihkan hatinya dari segala sifat yang buruk, karena belajar dan mengajar itu dianggap sebagai ibadah. Ibadah tidak sah kecuali dengan hati yang suci, berhias dengan moral yang baik seperti berkata benar, ikhlas, taqwa, rendah hati, zuhud, menerima apa yang ditentukan Tuhan, serta Muhammad Athiyah Al-Abrasy. At-Tarbiyah Islamiyah, terj. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, hlm. Muhammad Athiyah Al-Abrasy, hlm. Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 menjauhi sifat-sifat yang buruk seperti dengki, iri, benci, sombong, menipu, tinggi hati dan angkuh. Belajar dengan tujuan mendapatkan fadilah, mengisi jiwa, mendekatkan diri kepada Allah, bukan maksud popularitas, berbangga dan gagah-gagahan. Bersedia mencari ilmu, termasuk meninggalkan keluarga dan tanah air, dengan tidak raguragu bepergian ke tempat-tempat yang paling jauh sekali untuk mendatangi guru. Jangan terlalu sering menukar guru. Menghormati dan memuliakan guru Jangan terlalu banyak bertanya, jangan berjalan di hadapannya, jangan duduk di tempat duduknyadan berbicara kecuali sudah mendapatkan izin darinya. Menjaga rahasia, tidak menipu guru, memaafkan atas segala kesalahannya. Bersungguh-sungguh dan tekun belajar Terlebih dahulu mencari ilmu yang penting dan mendasar Saling mencintai sesame peserta didik, sehingga terasa seperti satu bapak Tekun belajar, mengulangi pelajaran di waktu senja, sebelum subuh dan antara maghrib Ae isyaAo. Bertekad belajar sepanjang hayat. Untuk hak murid adalah diperolehnya kemudahan untuk memperoleh fasilitas pendidikan agar proses pendidikannya bisa berlangsung lebih mudah setiap saat dan tidak dibedakan kesempatan belajar antara si kaya dengan si miskin. Mereka . ara muri. , harus diberikan kemudahan dalam proses belajar mengajar seperti tempat belajar yang bisa mengembangkan pertumbuhan mereka. Bahkan bisa berupa asrama atau pondokan baik untuk para murid maupun guru sebagai tempat tinggal. Di samping itu, juga fasilitas imbalan secara materi bagi para guru yang semua ini sangat dijunjung keberadaannya dalam Islam. Islam dan Pendidikan Wanita Dalam pandangan Islam, wanita diwajibkan menuntut ilmu pengetahuan seperti halnya kaum pria. Agama Islam telah menyamakan wanita dan pria dalam hal-hal yang bersifat kerohanian dan kewajiban-kewajiban keagamaan tanpa perbedaan dalam dalam bidang ilmu dan Rasulullah SAW bersabda. Aumenuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim pria dan wanitaAy tanpa perbedaan. Ilmu adalah sesuatu yang sangat dihargakan di dalam Islam dan mempelajarinya adalah kwajiban atas setiap muslim pria dan wanita. Meskipun di zaman jahiliyah bangsa Arab wanita mendapatkan pendidikan namun hakhak pendidikan dan social mereka tidak diberikan secara penuh kaluapun ada hanya sebatas membaca dan menulis. Tapi setelah Islam datang wanita begitu dimuliakan dan diberikan kesempatan untuk berkompetisi dalam hal pendidikan dan pengajaran serta sosialnya. Sejarah mencatat bahwa AAoisyah menempati posisi paling atas dalam hal kapasitas pendidikan. Urwah bin Zubair berkata: Autidak saya kenal seseorang yang lebih tahu tentang fiqih, kedikteran dan Muhammad Atiyah Al-Abrasyi. Beberapa Pemikiran Pendidikan, . Syamsudin Asyrof. , (Malang: Aditya Media, 2. Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 syair-syair daripada AAoisyahAy. Aisyah telah meriwatkan sebanyak 1000 hadits. Diantara namanama yang menonjol luar biasa kepintarannya adalah Al-Ghunsa. Saidah Sakinah binti Husein. Aisyah binti Talhah. Buku-buku berbahasa Arab penuh dengan nama-nama wanita muslim yang terkenal dalam ilmu pengetahuan agama, sastra dan kedokteran, begitu pula nama-nama para pembantu/hamba sahaya yang juga masyhur di bidang sastra dan kesenia. Namun dalam hal ini Al-Abrasyi tidaK menyebutkan nama-namanya secara eksplisit. Ada satu karakter yang bagus ketika seorang wanita sudah tersentuh oleh pendidikan dan nilai-nilai kebaikan yaitu jujur dalam karyanya, amanah dan teliti dalam riwayatnya, bahkan ulama-ulama besar menyalin riwayat-riwayat dari wanita ini. Seorang ahli hadits yang ternama Al-Hafiz Azzahabi berkata: Ausaya belum mengetahui seorang wanita perwawi hadits yang cacat pribadinya dan ditolak riwayatnyaAy. Karimah Al-Marwaziah. Saidatul Wuzara. Dua nama ini merupakan perawi hadits terpenting yang dikumpulkan oleh Bukhari. Ibnu Asakir juga salah satu ahli hadits pernah mengatakan bahwa jumlah gurunya yang wanita adalah lebih dari 80 orang. Namun dialektika tentang pendidikan wanita ada dua pendapat yang saling kontradiktif. Pendapat pertama mengatakan bahwa wanita cukup hanya mempelajari Al-QurAoan dan agama Islam, tidak lebih dan tidak kurang dan harus dilarang mempelajari menulis dan bersaja . Pendukung pendapat ini bahkan lebih ekstrim lagi mengatakan bahwa wanita itu kurang fikiran dan keagamaannya, dan hal ini tentu tidak menguntungkan jika mereka belajar ilmu-ilmu lain. Salah seorang pujangga berkata:25 AuWanita itu adalah kurang pikiran dan agamanya dan kita belum pernah mengenal dari mereka suatu pendapat yang sangat berharga. Maka untuk kesempurnaan agama. Allah tidak mengangkat seorangpun di antara mereka menjadi nabi. AlQabisi, seorang ahli fiqih dari Qairawan (Marok. dan penulis buku fadhilah li-ahwalilMutaAoallimin, adalah salah seorang yang berpendapat seperti di atas. Beliau berkata bahwa wanita tidak apalah kalua belajar Al-QurAoan dan agama, tapi jangan tulis menulis surat dan bersajak. Mereka cukup mempelajari apa yang membawa kepada keselamatan dan mengamankan dia dari bila wanita tidak belajar menulis, maka akan lebih selamatlah dia. Albarasy mengomentari pendapat di atas dengan ungkapan bahwa pendepat di atas lebih kepada buruk sangka. Saya sendiri . mengatakan bahwa pendapat ini mengarah kepada diskriminasi. Sedangkan pendapat kedua menyerukan supaya wanita-wanita Muslim belajar dan inilah pendapat yang paling tepat dan mempunya dasar yang kuat yaitu hadits Nabi yang mendorong supaya wanita belajar, yaitu hadits yang telah disebutkan sebelumnya, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap pria dan wanita muslim. Rasululullah menyuruh para istrinya untuk belajar membaca, menulis. Dalam buku-buku sastra dan sejarah Islam, teradapat sejumlah nama-nama besar wanitawanita muslim yang terkenal, diantaranya: Aliyah binti Al-Mahdi, seorang penyair yang terkenal, retorik yang luas, terminologinya yang sangat menarik. Aisyah binti Ahmad bin Qadim, besar di Cordova ahli sastra. Bahasa, seni, menyalin Al-QurAoan dengan tangannya Muhammad Athiyah Al-Abrasy. At-Tarbiyah Islamiyah, terj. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, hlm. Muhammad Athiyah Al-Abrasy. At-Tarbiyah Islamiyah, terj. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, hlm. Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 sendiri, mengumpulkan buku-buku dalam perbendaharaannya. Begitu juga Walladah. Lubna. Fadhal. Zainab ahli kedokteran dan lainnya. Terkait Auseseorang wanita bila dewasa dalam keadaan buta huruf, ia akan menyusukan anak laki-laki yang akan menjadi bodoh dan malas, bukanlah dinamakan yatim itu seorang yang ditinggalkan bapaknya dalam kesusahan hidup hingga ia terhina. Tetapi yang dikatakan yatim adalah seorang ibu yang tidak mengindahkan pendidikan dan bapaknyapun selalu sibuk. Dari pandangan filosofis di atas tentang pendidikan wanita, maka sesungguhnya Islam sangat mendorong penganutnya tidak terkecuali wanita untuk mendapatkan pendidikan dan menjadi intelektual yang bukan hanya monopoli laiki-laki. Hafez Ibrahim mengungkapkan syairnya: Ibu adalah suatu sekolah, bila dipersiapkan, dapat membentuk bangsa yang baik dan KESIMPULAN Dari paparan dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan pokok-pokok penting pemikiran pendidikan Muhammad Atiyah Al-Abrasy: Pendidikan Islam adalah mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan berbahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya . , teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya baik dengan lisan maupun tulisan. 26 Pengertian pendidikan Islam juga menurut Athiyah adalah sesungguhnya pendidikan itu meliputi prinsip-prinsip . , yaitu kebebasan, persamaan, dan kesempatan yang sama dalam pembelajaran, dan untuk memperolehnya tidak ada perbedaan antara yang kaya dan yang miskin. Pengertian yang cukup konfrehensif dan menjadi khazanah teorisasi makna pendidikan Islam. Tujuan Pendidikan yang dikemukakan oleh Al-Abrasyi adalah lebih konsen kepada jiwa dan akhlak, namun segi-segi kehidupan yang lain juga menjadi tujuan yang tidak dapat dilupakan dan diabaikan. Dasar-dasar pendidikan yang dimaksud oleh Abrasyi adalah prinsi-prinsip dasar dalam pendidikan Islam. Diantaranya adalah demokratisasi pendidikan, belajar sepanjang hayat, metodolgi belajar yang tepat, mendidik dengan rasa/jiwa, tidak mencampuradukkan materi dalam satu waktu atau pembelajaran. Guru memahami karater dan psyologi anak, dan lainlain. Guru dan Murid sangat dimuliakan dalam Islam, meruapakan tugas dan kegiatan yang memgagkat derajat sehingga perlu dijaga adab dan kesucian diri baik guru maupun murid. Dengan dasar filosofis yang kuat, wanita diberikan hak yang sama dalam hal pendidikan. DAFTAR PUSTAKA