Jurnal Tekno Insentif DOI : https://doi. org/10. 36787/jti. | Vol. 18 | No. 1 | April 2024 Halaman 53-65 Kinetika Transesterifikasi Minyak Biji Kemiri (Aleurites moluccanu. menjadi Fatty Acid Methyl Ester MUTIARA RENGGANIS NURUL PUTRI AZHARI. HELGANANTA ADIRYA SABIAN Universitas Jember. Indonesia Email: 201910401065@mail. ABSTRAK Minyak biji kemiri dapat digunakan sebagai metil ester. Metil ester dapat diproduksi dengan satu metode transesterifikasi atau dengan menggabungkan metode transesterifikasi dan esterifikasi menggunakan katalis untuk mempercepat reaksi. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh metil ester asam lemak dari minyak biji kemiri dengan proses transesterifikasi menggunakan variabel suhu 30AC, 40AC, 50AC pada waktu 40, 50, 60, 70, 80, 90 menit. Proses refluks dilakukan dengan variabel suhu yang telah ditentukan dan pengambilan sampel dilakukan pada waktu yang telah ditentukan. Pengeringan dilakukan pada titik didih etanol. Studi kinetika reaksi transesterifikasi minyak biji kemiri dapat didekati dengan orde 1 dan orde 1 semu. Nilai energi aktivasi untuk orde 1 dan orde 1 semu didapatkan sebesar 51008,05 kJ/mol. R2 pada orde 1 dan orde 1 semu adalah 0,9982. Kata kunci: minyak biji kemiri, metil ester, refluks, studi kinetika, transesterifikasi ABSTRACT Candlenut seed oil can be used as methyl ester. Methyl esters can be produced by a single transesterification method or by combining transesterification and esterification methods using a catalyst to speed up the reaction. This research was carried out to obtain fatty acid methyl esters from candlenut seed oil by transesterification process using variable temperatures of 30AC, 40AC, 50AC at 40, 50, 60, 70, 80, 90 minutes. methyl ester. The reflux process is carried out with a predetermined temperature variable and sampling is carried out at a predetermined time. Drying is carried out at the boiling point of ethanol. The study of the kinetics of the transesterification reaction of candlenut seed oil can be approached with order 1 and pseudo order 1. The activation energy value for order 1 and pseudo order 1 is found to be 51008,05 kJ/mol. R2 at order 1 and pseudo order 1 is 0,9982. Keywords: candlenut oil, methyl ester, reflux, kinetic studies, transesterification Jurnal Tekno Insentif Ae 53 Mutiara Rengganis Nurul Putri Azhari. Helgananta Adirya Sabian PENDAHULUAN Indonesia adalah negara yang memiliki perkebunan yang sangat luas. Perkebunan kemiri merupakan salah satu perkebunan yang dimiliki oleh Indonesia. Kemiri (Aleurites moluccanu. merupakan komoditas tanaman industri yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi untuk masyarakat Indonesia. Kemiri dapat dimanfaatkan menjadi berbagai macam produk, umumnya bagian dari kemiri yang paling banyak dimanfaat adalah bijinya. Biji kemiri dapat dimanfaatkan menjadi minyak kemiri dan dapat dijadikan sebagai rempah-rempah. Indonesia memiliki luas keseluruhan perkebunan tanaman kemiri sebesar 205. 532 hektar yang dapat 319 ton. Luas perkebunan kemiri mengalami peningkatan dari tahun ketahun (Murad et al. , 2. Menurut Arlene et al . , tanaman kemiri merupakan tanaman tropis yang subur dapat ditanaman di tanah berpasir dan dapat juga di tanah yang kurang subur pada ketinggian 150-1000 meter di atas permukaan laut (Arlene & Ariono, 2. Menurut Subroto et al . , minyak yang berasal dari biji kemiri dapat digunakan sebagai pernis, sabun, dan obat-obatan (Subroto et al. , 2. Biji dari tanaman kemiri merupakan bagian dari tanaman kemiri yang mengandung minyak cukup tinggi sekitar 55-65%. Berbagai macam metode yang dapat digunakan untuk mendapatkan minyak kemiri dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks (Faiznur & Wan, 2. Ekstraksi merupakan metode untuk memperoleh minyak kemiri yang murni tanpa adanya komponen senyawa lain, karena dengan metode ini komponen lain yang terkandung di dalam biji kemiri tidak ikut larut (Novianto & Fuadi, 2. Minyak kemiri memiliki kandungan asam lemak jenuh yang relatif sedikit. Asam lemak yang terkandung di dalam minyak kemiri berjenis asam palmitat, asam stearat, asam oleat, asam linoeat, dan asam linoleat (Novianto & Fuadi, 2. Menurut Shoviantari et al . , asam lemak tak jenuh yang terkandung di dalam minyak kemiri sangat tinggi. Kandungan terbesar yang ada di dalam minyak kemiri yakni asam linoleat sebanyak 66,2% (Shoviantari et al. , 2. Asam linoleat mengandung Omega-6 dan Omega-3. Minyak kemiri memiliki sifat yang mudah menguap dan teroksidasi, hal ini disebabkan karena minyak kemiri memiliki bilangan iodine yang tinggi sebesar 136-167 (Munandar Erawati et al. , 2. Metil ester adalah bahan baku yang dapat digunakan untuk memproduksi berbagai macam Metil ester dapat digunakan sebagai bahan baku dari biodiesel, surfraktan, dan produk kometik (Makalalag, 2. Metil ester juga dapat disebut sebagai biodiesel yang merupakan bahan bakar mesin diesel. Metil ester memiliki beberapa kelebihan jika diolah menjadi bahan bakar mesin diesel, yakni dari bahan baku yang digunakan berasal dari sumber daya terbarukan, emisi yang dihasilkan lebih sedikit, mudah untuk terurai sehingga toksisitasnya tidak tinggi, dan biodiesel dapat digunakan sebagai pemasukan perekonomian. Akan tetapi terdapat beberapa tantangan dalam pengolahan metil ester menjadi biodiesel yakni biaya bahan baku yang digunakan dan pemilihan teknologi yang sesuai agar dapat menghasilkan produk biodiesel yang berkualitas (Gebremariam & Marchetti, 2. Terdapat beberapa cara untuk mendapatkan metil ester salah satunya menggunakan metode transesterifikasi dengan bantuan katalis untuk mempercepat terjadinya reaksi serta meningkatkan hasil yield yang didapat (Purnomo et al. , 2. Transesterifikasi memiliki tujuan untuk mengubah . ri, do, mon. gliserida terdapat pada minyak kemiri menjadi ester dan gliserol (Suleman et al. , 2. Faktor terpenting yang dinilai dapat mempengaruhi proses transesterifikasi adalah jenis dan konsesntrasi dari katalis (Suleman et al. , 2. Katalis yang digunakan merupakan katalis yang bersifat basa karena katalis basa lebih cepat bereaksi jika dibandingkan dengan menggunakan katalis asam. Reaksi transesterifikasi Jurnal Tekno Insentif Ae 54 Kinetika Transesterifikasi Minyak Biji Kemiri (Aleurites moluccanu. Menjadi Fatty Acid Methyl Ester merupakan pertukaran senyawa ester menjadi alkohol yang terjadi pada larutan yang bersifat asam atau basa, untuk reaksinya merupakan reaksi berjenis reversibel (Kolo et al. , 2. Beberapa studi telah mencatat bahwa transesterifikasi trigliserida dan alkohol merupakan reaksi dengan orde kedua. Dalam penelitian ini, reaksi dikendalikan dengan menggeser ke arah kanan menggunakan kelebihan metanol, sehingga diharapkan reaksi menjadi ireversibel. Katalis basa KOH digunakan dalam reaksi ini. Persamaan reaksi yang diasumsikan adalah sebagai berikut NE 3 Diasumsikan persamaan reaksi menjadi: Model persamaan reaksi orde 1 semu dari persamaan diatas sebagai berikut: = Oe( . ) = Juga diuji reaksi dengan orde 1 dengan asumsi kelebihan reaktan sehingga konsentrasinya dianggap konstan selama reaksi berlangsung dan reaksi yang ireversibel, sehingga persamaan laju reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut (Daryono et al. , 2. r=Oe = ( . Digunakan persamaan Arhenius untuk menentukan nilai energi aktivasi dan nilai , 2. Persamaan . didapatkan dari hasil plot nilai ln sebagai berikut: =Oe Nilai Oe merupakan nilai Oe dan nilai (Angelia et vs 1/ berupa persamaan garis lurus merupakan nilai ln Energi aktivasi didapatkan dari: merupakan nilai ketetapan gas 8,314 kJ/mol. Jurnal Tekno Insentif Ae 55 Mutiara Rengganis Nurul Putri Azhari. Helgananta Adirya Sabian Tabel 1. State of the art No. Bahan Kondisi Operasi Hasil Referensi Minyak Biji Kemiri Pada menggunakan katalis H2SO4 dan KOH. Reaksi esterifikasi menggunakan perbandingan minyak dengan metanol . Reaksi dengan variasi konsentrasi katalis KOH . ,5. 1,0. 1,5. 2,0% berat minya. , rasio minyak dengan metanol 1:1, 1:2, 1:3 . erat/bera. Suhu reaksi sebesar 65AC dan selama 1 jam. Yield dan sifat biodiesel diamati dengan Gas Kromatografi dan ASTM D Yield 96,91% kondisi konsentrasi KOH 1% berat minyak, rasio minyak . erat/bera. reaksi 65AC. (Anggraini. Minyak Biji Kemiri Pada CaO/SiO2 dan H2SO4. Kadar asam lemak bebas minyak kemiri sunan divariasi pada tahap esterifikasi selama 1 1,5 jam. 2 jam dengan menggunakan katalis H2SO4. Pada tahap transesterifikasi CaO/SiO2 dilakukan dilakukan pada suhu 60AC dengan lama reaksi selama 2 jam dan rasio minyak dengan metanol . Dihasilkan lemak bebas mampu turun dari 12,5% menjadi 0,65%. 0,58%. dan 0,54% dengan waktu 1 jam. 1,5 jam. (Haryono et al. Minyak Biji Kemiri Pada menggunakan katalis pada K2O/C. Katalis K2O/C transesterifikasi dari minyak biji kemiri dengan reaktor Menghasilkan tertinggi 98,68% ketika katalis yang digunakan 4% minyak dengan metanol 1:8, waktu reaksi 1,5 jam (Zaki et al. Minyak Biji Kemiri Pada ini Dihasilkan densitas 0,89 menggunakan katalis NaOH g/cm3 0,75% dan KOH 1%. Proses (Garusti et , 2. Jurnal Tekno Insentif Ae 56 Kinetika Transesterifikasi Minyak Biji Kemiri (Aleurites moluccanu. Menjadi Fatty Acid Methyl Ester No. Bahan Kondisi Operasi Hasil Referensi sebelum kinematik suhu 40AC adalah berhasil 5,45AC. menurunkan angka asam. Minyak Kedelai Minyak Biji Jarak Pada menggunakan katalis CaO dengan suhu reaksi 60AC, berat katalis 3% dan waktu reaksi 180 menit. Metanol permukaan katalis kemudian berekasi pada minyak kedelai saat fase cair. Menghasilkan kedelai dengan metanol menggunakan katalis CaO Pada menggunakan katalis KOH. Proses yang dilakukan dengan tahap degumming, esterifikasi dan transesterifikasi. Suhu reaksi yang digunakan adalah 30AC, 40AC dan 60AC. Variasi waktu reaksi 10 hingga 90 Menghasilkan FAME 99,52% pada reaksis katalis KOH pada suhu reaksi 60AC dan waktu reaksi 45 menit. Reaksi dengan nilai K suhu 30-60AC L /mol. 49 kal/mol. ( . (Pratigto & Istadi, (Daryono et al. Berdasarkan fakta yang telah diuraikan pada latar belakang tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui kinetika transesterifikasi minyak biji kemiri menjadi fatty acid methyl Pada penelitian ini menggunakan proses reaksi transesterifikasi dengan menggunakan pelarut metanol dan katalis KOH. Perbandingan minyak dengan metanol yang digunakan yakni 1:2. Metode yang digunakan adalah metode refluks dengan suhu 30A, 40A dan 50AC dan dilakukan pengambilan sampel pada menit ke 40, 50, 60, 70, 80, 90. METODE 1 Bahan Bahan yang digunakan pada penelitian ini meliputi: etanol 97% (C2H5OH), kalium hidroksida (KOH), metanol (CH3OH), minyak kemiri, es batu, alumunium foil. 2 Alat Alat yang digunakan pada penelitian ini meliputi: beakerglass ukuran 100 ml dan 250 ml, batang pengaduk, bulb pipet, botol vial kosong, corong pisah, gelas ukur ukuran 100 ml, hotplate, kaca arloji, kondensor refluks, labu leher tiga, magnetic stirrer, neraca analitik, pipet ukur 10 ml, pipet tetes, piknometer 10 ml, spatula, statif dan klem, stopwatch, termometer, oven, pompa. 3 Uji FFA Proses uji kadar FFA mengacu pada referensi Hananto et al. , terlebih dahulu ditimbang sebanyak 28,2 gr sampel minyak kemiri dan ditambahkan dengan etanol 97% sebanyak 50 Jurnal Tekno Insentif Ae 57 Mutiara Rengganis Nurul Putri Azhari. Helgananta Adirya Sabian Dipanaskan larutan tersebut hingga mendidih, setelah mendidih didiamkan hingga suhunya turun dan ditambahkan dengan 2 ml indikator PP. Dilakukan titrasi larutan tersebut menggunakan larutan KOH 0,1 M sebagai titrannya hingga larutan minyak tersebut berubah warna menjadi merah muda. Dengan: = volume KOH sebagai titran = molaritas larutan KOH . ol/L) Ea = berat molekul asam lemak yang dominan pada sampel minyak (Hananto & Rosdiana, 2. 4 Metode Eksperimen Diukur minyak kemiri sebanyak 65 ml dan dilakukan penimbangan massa dengan neraca analitik untuk mengetaui berat massa dari minyak kemiri yang digunakan. Dilarutkan KOH sebanyak 1% dari berat 65 ml minyak kemiri dengan menggunakan metanol. Perbandingan minyak dengan metanol yakni 1:2 sehingga metanol yang digunakan sebanyak 130 ml. Dilarutkan KOH pada metanol hingga homogen, jika KOH dengan metanol telah homogen maka dapat dicampurkan dengan minyak di dalam labu tiga leher yang telah terpasang kondensor refluks. Dilakukan refluks selama 90 menit dengan suhu 30A, 40A dan 50AC. Dilakukan pengambilan sampel metil ester sebanyak 10 ml ketika waktu 40, 50, 60, 70, 80, dan 90 menit. Dari hasil reaksi transesterifikasi akan terbentuk dua lapisan yakni pada bagian atas merupakan lapisan sisa metanol dan gliserol sedangkan lapisan bawah merupakan lapisan metil ester. Dilakukan pemisahan dengan menggunakan corong pisah untuk mendapatkan metil ester. Metil ester yang telah didapatkan dicuci dengan menggunakan etanol 97%. Pencucian dilakukan sebanyak dua kali, banyaknya etanol yang digunakan untuk pencucian sebanyak 10 ml. Metil ester yang sudah bersih selanjutnya dioven selama 60 menit pada suhu 78AC untuk menghilangkan pelarut yang masih tersisa di dalam metil ester. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Proses Transesterifikasi Transesterifikasi merupakan proses reaksi trigliserida menjadi ester dan gliserol. Satu mol trigliserida akan bereaksi dengan tiga mol alkohol sehingga membentuk satu mol gliserida dan tiga mol metil ester (Aurunnisa et al. , 2. Prinsip kerjanya minyak dipanaskan dengan suhu tertentu dan ditambahkan dengan pelarut, suhu dipertahankan selama waktu Selanjutnya larutan didiamkan hingga terbentuk 2 fasa, yakni gliserol dan metil ester kemudian dipisahkan antara metil ester dan gliserol (Kharis et al. , 2. Setelah melakukan uji kandungan FFA dari minyak biji kemiri didapatkan kadar FFA sebesar 1,78% oleh karena itu untuk memperoleh senyawa metil ester dapat menggunakan proses Jika kadar FFA >2% perlu melalui tahap proses esterifikasi terlebih dahulu untuk menurunkan kadar % FFA, karena jika kadar FFA terlalu tinggi dapat mengganggu terjadinya pembentukan metil ester (Mukminin et al. , 2. Jurnal Tekno Insentif Ae 58 Kinetika Transesterifikasi Minyak Biji Kemiri (Aleurites moluccanu. Menjadi Fatty Acid Methyl Ester 2 Orde 1 Diasumsikan menggunakan konsentrasi metanol yang berlebih sehingga dianggap konstan selama reaksi, sehingga persamaan orde 1: =Oe = ( . =Oe Diintegralkan kedua sisi persamaan . =Oe Sehingga dihasilkan persamaan untuk orde 1: |=Oe Gambar 1. Laju reaksi orde 1 Gambar 2. Hubungan ln k' dengan 1/T Jurnal Tekno Insentif Ae 59 Mutiara Rengganis Nurul Putri Azhari. Helgananta Adirya Sabian Tabel 2. Hubungan ln k' dengan 1/T T (AC) kAo ln kAo T (AK) 0,0002 -8,51719 0,0033 0,0004 -7,82405 0,003195 0,0007 -7,26443 0,003096 Gambar 1. menunjukkan hubungan antara nilai A dengan nilai 1/ . Suhu mempengaruhi nilai kAo, suhu yang semakin tinggi mengakibatkan konstanta laju reaksi . semakin besar, yang berarti bahwa kecepatan reaksi semakin meningkat seiring meningkatnya suhu reaksi (Satwikanitya et al. , 2. Didapatkan persamaan = Oe6135,2 11,746. Nilai -Ea/RT yang merupakan slope sebesar -6135,2 dan untuk nilai intercept sebesar 11,746. Digunakan persamaan Arhenius untuk medapatkan nilai energi aktivasi pada reaksi transesterifikasi. Dimana nilai R merupakan nilai ketetapan gas 8,314 kJ/mol. K sehingga didapatkan nilai energi aktivasi (E. sebesar 51008,05 kJ/mol. Energi aktivasi merupakan energi minimum yang diperlukan supaya reaksi dapat berjalan (Putri et al. , 2. Persamaan tetapan laju reaksi pada orde 1 ini adalah = 1,26 y 10 2 Orde 1 Semu Model persamaan laju rekasi orde 1 seu sebagai berikut: = Oe( . ) = dimana nilai k merupakan harga konstanta kecepatan reaksi berdasarkan hasil percobaan. Jika M merupakan rasio molar metanol dengan trigliserida = Oe = . Oe )( Oe 3 Integrasi dari persamaan . menghasilkan persamaan: = ln Oe3 = 50,5 Oe . Jika M = 53,5/1 = 53,5, maka: Plot = 50. vs t untuk membuktikan bahwa reaksi transesterifikasi minyak kemiri menjadi FAME merupakan orde 1 semu. Karena reaksi transesterifikasi minyak kemiri menjadi FAME diasumsikan menggunakan metanol yang berlebih dan metanol yang berkurang sangat sedikit bahkan jika diamati metanol tidak berkurang setelah bereaksi maka dianggap konstan, sehingga: Jurnal Tekno Insentif Ae 60 Kinetika Transesterifikasi Minyak Biji Kemiri (Aleurites moluccanu. Menjadi Fatty Acid Methyl Ester Gambar 3. Laju reaksi orde 1 semu Gambar 1. dan gambar 3. merupakan grafik hubungan laju reaksi transesterifikasi minyak kemiri orde 1 dan orde 1 semu dengan variasi suhu dan waktu reaksi. Menurut data yang didapatkan nilai R2 bernilai sama karena proses reaksi transesterifikasi minyak kemiri menggunakan katalis KOH merupakan reaksi yang dapat didekati oleh orde 1 dan orde 1 semu. Reaksi orde 1 semu merupakan reaksi orde dua yang mirip seperti orde 1. Hal ini terjadi ketika salah satu zat yang bereaksi memiliki jumlah yang sangat berlebih atau tetap pada kadar Oleh karena itu, laju reaksi ditentukan oleh satu reaktan walaupun terdapat dua reaktan, karena tidak terjadi perubahan kadar yang signifikan (Napitupulu et al. , 2. Pada gambar 1. nilai ln TG mengalami penurunan karena trigliserida terkonversi menjadi FAME seiring lamanya waktu reaksi dan suhu yang semakin meningkat. Semakin tinggi suhu reaksi yang digunakan maka akan semakin besar FAME yang dihasilkan. Hal ini terjadi karena suhu yang semakin meningkat akan meningkatkan energi yang ada untuk melakukan kontak dengan molekul-molekul reaktan. Terjadinya kontak tersebut menimbulkan semakin cepatnya reaksi pemutusan ikatan (Sucipto et al. , 2. Selain itu, semakin lama waktu reaksi maka laju reaksi semakin besar, hal ini disebabkan karena kesempatan molekul-molekul untuk bereaksi semakin lama. Hasil yang didapatkan berbanding lurus dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fiyansah et al. , peningkatan suhu dan waktu mengakibatkan peningkatan nilai laju reaksi karena terjadi peningkatan energi kinetik partikel sehingga kemungkinan terjadinya tumbukan yang efektif (Fiyansah et al. , 2. Kondisi optimal menghasilkan konsentrasi FAME yang paling besar terjadi pada waktu 90 menit dengan suhu reaksi sebesar 50AC. Jurnal Tekno Insentif Ae 61 Mutiara Rengganis Nurul Putri Azhari. Helgananta Adirya Sabian Gambar 4. Hubungan ln k dengan 1/T Tabel 3. Hubungan ln k dengan 1/T T (AC) T (AK) 1,53846 y 10 -13,3847 0,0033 3,07692 y 10 -12,6916 0,003195 5,38462 y 10 -12,132 0,003096 Gambar 4. menunjukkan hubungan antara nilai dengan nilai 1/ . Suhu mempengaruhi nilai k, suhu yang semakin tinggi mengakibatkan konstanta laju reaksi . semakin besar, yang berarti bahwa kecepatan reaksi semakin meningkat seiring meningkatnya suhu reaksi (Satwikanitya et al. , 2. Didapatkan persamaan = Oe6135,2 6,8786. Nilai -Ea/RT yang merupakan slope sebesar -6135,2 dan untuk nilai intercept sebesar 6,8786. Digunakan persamaan Arhenius untuk medapatkan nilai energi aktivasi pada reaksi transesterifikasi. Dimana nilai R merupakan nilai ketetapan gas 8,314 kJ/mol. K sehingga didapatkan nilai energi aktivasi (E. sebesar 51008,05 kJ/mol. Energi aktivasi merupakan energi minimum yang diperlukan supaya reaksi dapat berjalan (Putri et al. , 2. Persamaan tetapan laju reaksi pada orde 2 ini adalah = 9,71 y 10 Tabel 4. Perbandingan hasil orde 1 dan orde 1 semu No. Keterangan Nilai R2 Energi Aktivasi Persamaan tetapan laju Orde 1 Orde 1 Semu 0,9982 0,9982 51008,05 kJ/mol. 51008,05 kJ/mol. = 1,26 y 10 Jurnal Tekno Insentif Ae 62 = 9,71 y 10 Kinetika Transesterifikasi Minyak Biji Kemiri (Aleurites moluccanu. Menjadi Fatty Acid Methyl Ester Tabel 4. Merupakan perbandingan hasil orde 1 dengan orde 1 semu. Pada tabel tersebut didapatkan nilai R2 yang sama antara orde 1 dan orde 1 semu yakni sebesar 0,9982. Nilai energi aktivasi yang didapatkan antara kedua orde tersebut bernilai sama yakni 51008,08 kJ/mol. sedangkan persamaan tetapan laju reaksi dari setiap orde tersebut berbeda, orde 1 didapatkan persamaan = 1,26 y 10 = 9,71 y 10 sedangkan untuk orde 1 semu didapatkan KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan sebagai berikut: Reaksi transesterifikasi minyak kemiri dengan menggunakan katalis KOH merupakan reaksi yang dapat didekati dengan reaksi orde 1 dan orde 1 semu Nilai energi aktivasi untuk orde 1 didapatkan sebesar 51008,05 kJ/mol. K dan persamaan tetapan laju reaksi = 1,26 y 10 Nilai energi aktivasi untuk orde 1 semu didapatkan sebesar 51008,05 kJ/mol. K dan persamaan tetapan laju reaksi 9,71 y 10 Nilai R2 dari orde 1 dan orde 1 semu didapatkan 0,9982. UCAPAN TERIMA KASIH