ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29754-29761 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Hubungan Konsep Diri dan Kontrol Diri dengan Perilaku Seksual Pada Remaja Usia Pertengahan di SMA Parulian 1 Medan Ayu Lestari1. Dior Manta Tambunan2 1,2 Ilmu Keperawatan. Universitas Murni Teguh e-mail: dior. endlessbay@gmail. Abstrak Remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa dan masa terjadinya berbagai perkembangan fisik maupun non fisik yang dapat meningkatkan hasrat seksual pada remaja. Permasalahan yang sering terjadi pada remaja yaitu perilaku seksual yang dipengaruhi oleh konsep diri dan kontrol diri. Menganalisis hubungan konsep diri dan kontrol diri dengan perilaku seksual pada remaja usia pertengahan di SMA Parulian 1 Medan. Menggunakan metode kuantitatif dengan desain survey cross sectional. Besar sampel yang dipilih dengan menggunakan teknik total sampling berjumlah 147 responden. Analisa data menggunakan uji korelasi spearman. Adanya hubungan konsep diri dengan perilaku seksual dengan p-value = 0,013 dan tidak terdapat hubungan kontrol diri dengan perilaku seksual pada remaja usia pertengahan dengan p-value = 0,770. Perilaku seksual remaja didukung oleh konsep diri yang baik. Direkomendasikan bagi peneliti selanjutnya untuk menambah variabel pola asuh orang tua, pengaruh teman sebaya, paparan media pornografi dan pengetahuan untuk mendapatkan hasil yang lebih luas dan Kata kunci: Konsep Diri. Kontrol Diri. Perilaku Seksual. Remaja Usia Pertengahan Abstract Adolescence is a transition period from childhood to adulthood and a time of various physical and non-physical developments that can increase sexual desire in adolescents. Problems that often occur in adolescents are sexual behavior influenced by self-concept and self-control. To determine the relationship of self-concept and self-control with sexual behavior in middle-aged adolescents in Parulian Senior High School 1 Medan. Using quantitative methods with cross sectional survey The sample size selected using the total sampling technique amounted to 147 Data analysis using spearman correlation test. There is a relationship of self-concept with sexual behavior with p-value = 0. 013 and no relationship of self-control with sexual behavior in middle-aged adolescents with p-value = 0. Adolescent sexual behavior is supported by a good self-concept. it is recommended for further researchers to add the variables of parental parenting, peer influence, exposure to pornographic media and knowledge to obtain more extensive and indepth results. Keywords: Middle Adolescents. Self Concept. Self Control. Sexual Behavior PENDAHULUAN Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2018, remaja adalah orang-orang berusia 10 hingga 19 tahun. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) menyatakan bahwa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, psikologis, dan sosial. Masa remaja adalah masa pertumbuhan dan perkembangan fisik, psikologis, dan intelektual yang cepat (Agustina et al. Nataliya and Tambunan, 2024. Siburian and Tambunan, 2. Remaja menunjukkan rasa ingin tahu yang besar, keinginan untuk petualangan dan tantangan, dan kecenderungan untuk berani mengambil resiko atas tindakan mereka tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu (Pranatha et al. , 2023. Simanullang and Tambunan, 2024. Hutapea and Tambunan, 2. Remaja akan berperilaku berisiko jika keputusan yang diambil dalam menangani konflik tidak tepat Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29754-29761 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 dan salah satunya adalah penyimpangan seksual (Peraturan Pemerintah, 2014. Radho and Tambunan, 2. Salah satu faktor yang menyebabkan penyimpangan seksual di remaja adalah tingkat keingintahuan yang tinggi. Orang tua menjadi khawatir tentan anak-anak mereka yang menjadi sasaran kejahatan sosial karena perubahan perilaku yang meningkat pada remaja tersebut. Kekhawatiran ini dapat menyebabkan munculnya penyakit menular secara seksual seperti Sifilis, gonorea. Human Immunodeficiency Virus (HIV), meningkatnya aborsi di kalangan remaja, dan terjadinya kehamilan di usia dini. Perilaku seksual remaja juga meningkatkan kemungkinan melakukan hubungan seksual sebelum pernikahan (Pranatha et al. , 2023. Iswari and Tambunan. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2021 mengungkapkan remaja usia 1517 tahun sudah memulai hubungan pacaran dan pengalaman seksual, 64 % perempuan dan 75 % laki-laki melakukan aktifitas berpegangan tangan, 17 % perempuan dan 33 % laki-laki pernah berpelukan, 30 % perempuan dan 50 % laki-laki pernah berciuman bibir, petting pernah dilakukan oleh 22 % remaja laki-laki dan 5 % remaja perempuan, serta 8 % laki-laki dan 2 % perempuan pernah melakukan hubungan seksual. Sekitar 2% remaja wanita usia 15-24 tahun dan 8% remaja pria diusia yang sama mengaku telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah, dan 11 % diantaranya mengalami kehamilan tidak diinginkan. Konsep diri siswa adalah pemahaman pribadi siswa tentang kemajuan mereka (Simarmata et al. , 2. Setiap aktivitas manusia, termasuk aktivitas seksual, akan dipengaruhi oleh konsep diri (Dewi and Lestari, 2. Konsep diri merupakan segala ide, pikiran, perasaan, kepercayaan, dan pendirian yang diketahui individu dan mempengaruhi cara mereka berinteraksi dengan orang Konsep diri didapatkan melalui pengalaman pribadi, hubungan dengan orang lain, dan interaksi dengan lingkung (Yusuf et al. , 2. Kontrol diri adalah Kemampuan seseorang untuk mengendalikan, mengatur, dan mengarahkan perilaku mereka dengan menggunakan pemikiran kognitif sehingga dapat membawa ke arah konsekuensi positif. Kontrol diri, juga dikenal sebagai pengendalian diri, adalah kemampuan seseorang untuk menahan keinginan atau dorongan sesaat untuk bertindak sesuai dengan norma sosial dan kemampuan seseorang untuk bertindak sesuai dengan norma sosial (Rahmadani and Okfrima, 2. Kontrol diri merupakan kelebihan individu untuk menghindari sebab-akibat yang kurang menyenangkan dari suatu kejadian dan mampu mengendalikan dorongan yang datang dari luar serta efktif mengambil tindakan (Safitri, 2. Hipotesis penelitian adalah terdapat hubungan Konsep Diri dan Kotrol Diri dengan Perilaku Seksual pada remaja usia pertengahan di SMA Parulian 1 Medan. METODE Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian dengan menggunakan survey cross sectional dimana menurut (Priadana & Sunarsi, 2021. Simanullang and Tambunan, 2023. Basiroen et al. , 2025. Judijanto et al. , 2. Penelitian ini dilakukan di SMA Parulian 1 Medan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Mei 2024. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X dan XI di SMA Parulian 1 Medan. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 147 responden dengan menggunakan teknik total sampling. Instrumen dalam penelitian ini berupa kuesioner konsep diri di adopsi dari penelitian sebelumnya (Peimahul, 2. Kuesioner kontrol diri di adopsi dari studi sebelumnya (Pulungan, 2. , serta kuesioner perilaku seksual di adopsi dari penelitian sebelumnya (Cahyani, 2. Analisa univariat digunakan untuk mendeskripsikan distribusi frekuensi pada setiap variabel Analisa bivariat menggunakan uji non parametik yaitu uji spearman dikarnakan data tidak berdistribusi normal (Puspitasari et al. , 2. Penelitian ini sudah lolos Ethical Clearance dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas HKBP Nomensen dengan nomor 637/KEPK/FK/VI/2024. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29754-29761 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Karakteristik Responden Umur : Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan TOTAL Tabel 1. Karakteristik Responden Frekuensi . Persentase (%) 20,4% 55,8% 23,8% 48,3% 51,7% Berdasarkan tabel 1 diatas menggambarkan distribusi frekuensi menunjukkan bahwa responden berdasarkan umur mayoritas 16 tahun sebanyak 82 responden . ,8%), disusul oleh usia 17 tahun sebanyak 35 responden . ,8%) dan usia 15 tahun sebanyak 30 responden . ,4%). Berdasarkan jenis kelamin mayoritas Perempuan sebanyak 76 responden . ,7%) dan laki-laki sebanyak 71 responden . ,3%). Berdasarkan kelas mayoritas kelas X sebanyak 75 responden . ,0%), dan kelas XI 72 responden . ,0%). Peneliti sebelumnya menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 16 tahun sebanyak 53 responden dengan persentase . ,5%), usia 17 tahun sebanyak 34 responden dengan persentase . ,7%) dan usia 15 tahun sebanyak 14 responden dengan persentase . ,0%). Berdasarkan jenis kelamin mayoritas Perempuan sebanyak 64 responden dengan persentase . ,4%) dan laki-laki sebanyak 37 responden dengan persentase . ,6%). Berdasarkan kelas responden mayoritas kelas X sebanyak 69 responden dengan persentase 68,3% dan kelas XI 32 responden dengan persentase . ,6%) (Winingsih et al. , 2. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa karakteristik responden berdasarkan variabel jenis kelamin bahwa mayoritas responden pada remaja SMK adalah berjenis kelamin perempuan sebanyak . ,0%). responden berdasarkan variabel usia menunjukkan mayoritas responden pada remaja SMK adalah berusia 16 tahun sebanyak . %). Karakteristik responden berdasarkan pada variabel status tempat tinggal menunjukkan mayoritas responden adalah tinggal bersama orang tua sebanyak . %) (Istiqomah and Notobroto, 2. Distribusi Konsep Diri Tabel 2. Distribusi frekuensi Konsep Diri Konsep Diri Frekuensi Persentase . (%) Positif 87,1% Negatif 12,9% TOTAL Berdasarkan Tabel 2 diatas menunjukkan distribusi frekuensi konsep diri pada siswa SMA Parulian 1 Medan mayoritas positif sebanyak 128 responden . ,1%), sementara itu sebanyak 19 responden . ,9%) yang memiliki konsep diri negatif. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa Sebagian besar siswa SMA Negeri 17 kota serang memiliki konsep diri tinggi, sebagian besar responden memiliki konsep diri positif . ,0%), sedangkan responden yang memeiliki konsep diri negatif sebanyak . ,0%). Konsep diri tinggi atau positif akan berpengaruh pada perilaku positif (Ayu and Marwiyah, 2. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa seluruh responden memiliki tingkat konsep diri yang tinggi . %). Seluruh responden yang diteliti, yakni 101 responden merupakan remaja yang berada dalam kategori remaja pertengahan . - 18 tahu. Tingginya konsep diri pada responden dapat dipengaruhi oleh usia (Winingsih et al. , 2. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29754-29761 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Individu yang memiliki konsep diri positif artinya ia memandang dirinya secara positif. merasa bahwa dirinya berharga, disukai dan diterima. Ia akan menjadi lebih percaya diri dan ini akan membantunya untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan diluar dirinya. Inti dari konsep diri yang positif ini adalah bahwa ia menerima keberadaan dirinya. Dan penerimaan ini lebih mungkin mengarah pada kerendahan hati dan kedermawanan diri pada keangkuhan dan Orang dengan konsep diri yang positif dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang bermacam-macam tentang dirinya sendiri. Individu yang memiliki konsep diri negatif artinya ia memandang dirinya secara rendah, ditolak, dan ia sendiri juga menjadi kurang bisa menerima Dalam hubungannya dengan lingkungan sosial di luar diri, individu dengan konsep diri yang negatif akan lebih tergantung dan memeng garuhi oleh lingkungan di luar dirinya. Konsistensi tingkah lakunya juga akan menjadi lebih rendah dan sangat bergantung kepada harapan diluar lingkungan di luar dirinya. Peneliti berpendapat bahwa konsep diri yang positif akan memungkinkan seseorang untuk bisa bertahap menghadapi masalah yang mungkin saja muncul. Selain itu akan membawa dampak positif pula pada orang disekitarnya. Sebaliknya, konsep diri negatif merupakan penilaian yang negatif pula terhadap dirinya sendiri. Distribusi Kontrol Diri Tabel 3. Distribusi Frekuensi Kontrol Diri Kontrol Diri Frekuensi . Persentase (%) Baik 77,6% Buruk 22,4% TOTAL Berdasarkan tabel 3 di atas menunjukkan distribusi frekuensi kontrol diri pada siswa SMA Parulian 1 Medan mayoritas baik sebanyak 114 responden . ,6%), sementara itu sebanyak 33 responden . ,4%) yang memiliki kontrol diri buruk. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki kontrol diri tinggi sebanyak 134 responden . ,5%) hal ini menjelaskan bahwa rata-rata siswa disekolah tersebut mampu mengontrol dirinya. Terdapat juga 10 responden . ,6%) dengan kontol diri rendah (Wardani and Alfiani, 2. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa dari Karakteristik responden remaja SMK berdasarkan pada variabel kontrol diri menunjukkan bahwa 39% responden memiliki kontrol diri yang rendah dan sebanyak 61% responden memiliki kontrol diri yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki kontrol diri yang rendah dengan kategori tingkat pengetahuan yang kurang (Istiqomah and Notobroto, 2. Kontrol diri adalah keyakinan individu bahwa tindakannya akan mempengaruhi perilakunya dan individu sendiri yang dapat mengontrol perilaku tersebut. Individu dengan kontrol diri yang tinggi akan melihat dirinya mampu mengontrol segala hal yang menyangkut perilakunya, begitu juga sebaliknya apabila kontrol dirinya rendah, maka individu tersebut tindak mampu untuk mengontrol segala hal yang menyangkut dengan perilakunya. Peneliti berpendapat bahwa remaja yang memiliki kontrol diri yang baik akan mengambil Keputusan dan melakukan tindakan yang telah dipertimbangkan sebelumnya agar mendapatkan konsekuensi yang positif dari lingkungan sekitarnya, kontrol diri sangat penting dalam mengelola perilaku agar perilaku yang dimunculkan dapat dikendalikan dengan baik. Distribusi Perilaku Seksual Tabel 4. Distribusi Frekuensi Perilaku Seksual Perilaku Seksual Frekuensi . Persentase (%) Rendah 50,3% Sedang 44,2% Tinggi 5,4% TOTAL Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29754-29761 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Berdasarkan tabel 4 di atas menunjukkan distribusi frekuensi perilaku seksual pada siswa SMA Parulian 1 Medan mayoritas rendah sebanyak 74 responden . ,3%), sementara itu sebanyak 65 responden . ,2%) yang memiliki perilaku seksual sedang, dan sebanyak 8 responden . ,4%) yang memiliki perilaku seksual tinggi. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa Sebagian besar siswa memiliki perilaku seksual rendah yaitu sebanyak 184 responden . ,3%), perilaku responden yang demikian bisa disebabkan karena ketatnya pengawasan orang tua terhadap anak. Diantara Sebagian responden yang mempunyai perilaku seksual rendah ada juga didapatkan data sebanyak 5 responden . ,3%) yang mempunyai perilaku seksual tinggi (Wardani and Alfiani, 2. Hasil penelitian sebelumnya ditemukan bahwa responden pada remaja SMK berdasarkan pada variabel perilaku seksual pranikah menunjukkan bahwa terdapat . ,0%) responden dengan perilaku seksual risiko rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden pada remaja SMK di Surabaya memiliki perilaku seksual risiko tinggi . ,0%) (Istiqomah and Notobroto, 2. Pola perilaku seksual dibagi menjadi dua macam Pertama, perilaku seksual secara individu meliputi masturbasi, dan berfantasi seksual. Masturbasi adalah suatu tindakan memegang bagian tubuh yang sensitif dengan tujuan merangsang dirinya tanpa adanya hubungan kelamin untuk mendapatkan kepuasan seksual. Masturbasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantuan seperti jari tangan yang dimasukkan alat kelamin. Masturbasi merupakan gejala umum yang dilakukan oleh remaja. berfantasi seksual merupakan perilaku berhayal bahwa terdapat pasangan untuk menjadi lawan dalam berperilaku seksual. Perilaku tersebut dapat menimbulkan kepuasaan serta dapat menimbulkan rasa ketagihan. Kedua, perilaku seksual dengan pasangan baik pada wanita dengan wanita, wanita dengan lelaki yang melibatkan tindakan pelukan, ciuman, petting, sampai bersenggama (Istiqomah and Notobroto, 2. Peneliti berpendapat bahwa remaja yang telah matang secara seksual, di samping mempunyai keinginan untuk mengetahui masalah seksual juga mempunyai keinginan untuk berinteraksi dan memikat lawan jenisnya. Sebaiknya remaja dalam tahap ini mendapatkan pengetahuan dari orang tua mengenai Kesehatan reproduksi khususnya menolak Ketika di ajak melakukan perilaku seks pranikah dan akibat-akibat perilaku seks pranikah agar mereka tidak melakukan perilaku seksual secara bebas. Hubungan Konsep Diri dengan Perilaku Seksual pada remaja usia pertengahan Tabel 5. Hubungan Konsep Diri dengan Perilaku Seksual pada remaja usia pertengahan di SMA Parulian 1 Medan Konsep Perilaku Diri Seksual Spearman Konsep Correlation Coefficient Diri Sig. -taile. Perilaku Correlation Coefficient Seksual Sig. -taile. Berdasarkan pada table 6 diatas menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara variable konsep diri dan perilaku seksual dengan nilai p-value 0,013 ( < 0,. , demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi negatif lemah antara konsep diri dengan perilaku seksual dikarenakan correlation coefficient -0,204 yang artinya terdapat korelasi negatif lemah antara konsep diri dengan perilaku seksual pada remaja remaja usia pertengahan. Dapat disimpulkan bahwa adanya sedikit hubungan yang bergerak berlawanan arah antara variabel konsep diri dan perilaku seksual. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Winingsih et al. , 2. tentang hubungan antara konsep diri dengan perilaku seksual beresiko pada siswa di SMA AuXAy Kota Bandung terhadap 212 Hasil penelitian menunjukkan nilai koefisien korelasi negatif. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara konsep diri dengan perilaku seksual beresiko merupakan hubungan yang Hubungan yang berlawanan dalam penelitian ini dapat diinterpretasikan apabila nilai Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29754-29761 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 konsep diri semakin tinggi maka perilaku seksual beresiko akan semakin rendah. Nilai koefisien korelasi dalam penelitian ini cukup rendah (R=0,. , yang bermakna bahwa variabel konsep diri memiliki hubungan yang lemah dengan perilaku seksual beresiko. Peneliti berpendapat bahwa semakin baik konsep diri individu maka semakin berkurang perilaku seksual, sebaliknya jika konsep diri rendah akan memicu perilaku seksual tinggi. Perilaku dalam konteks seksualitas yang salah satunya adalah perilaku seksual berkaitan dengan konsep diri dan harga diri pada individu tersebut. Konsep diri merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual pada remaja. Hubungan Kontrol Diri Dengan Perilaku Seksual Pada Remaja Usia Pertengahan Tabel 6. Hubungan Kontrol Diri Dengan Perilaku Seksual Pada Remaja Usia Pertengahan Di SMA Parulian 1 Medan Kontrol Perilaku Diri Seksual Spearman Kontrol Correlation Coefficient Diri Sig. -taile. Perilaku Correlation Coefficient Seksual Sig. -taile. Berdasarkan table 7 diatas menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variable kontrol diri dengan perilaku seksual dengan nilai p-value = 0,770 ( > 0,. , demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada korelasi antara kontrol diri dengan perilaku seksual dikarnakan correlation coefficient -0,024. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Rafiyani, 2. yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kontrol diri dengan perilaku seksual pranikah pada mahasiswa dengan hasil korelasi sebesar - 0. 026 dan p = 689 . >0. Berbanding terbalik dengan penelitian sebelum (Putri and Ariana, 2. yang menujukkan adanya pengaruh yang signifikan antara kontrol diri terhadap perilaku seksual pada remaja Surabaya dengan p-value=0,000. Berbanding terbalik dengan penelitian (SyaAodiyah, 2. yang menunjukkan hasil analisis korelasi mengenai hubungan kontrol diri dengan perilaku seksual maka diperoleh hasil koefisien korelasi sebesar 0,330, p=0,01 . <0,. menunjukkan hipotesis penelitian diterima. Hasil besarnya koefisien korelasi menunjukkan terdapat korelasi negatif yang signifikan antara kontrol diri dengan perilaku seksual. Artinya semakin tinggi kontrol diri, maka semakin rendah perilaku seksual pada remaja. Sebaliknya, semakin rendah kontrol diri, maka semakin tinggi perilaku seksual pada remaja. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti berasumsi bahwa tidak adanya hubungan antara kontrol diri dengan perilaku seksual pada remaja mengindikasikan bahwa perilaku seksual dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain kontrol diri yaitu pola asuh orang tua, teman sebaya, paparan media pornografi dan pengetahuan. SIMPULAN Terdapat hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan perilaku seksual dengan pada remaja usia pertengahan. Konsep diri memiliki peranan yang penting dalam perilaku seksual setiap individu, semakin tinggi konsep diri maka semakin rendah perilaku seksualnya, dan sebaliknya semakin rendah konsep diri maka semakin tinggi perilaku seksualnya. Dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kontrol diri dengan perilaku seksual pada remaja usia pertengahan di SMA Parulian 1 Medan. Tidak adanya hubungan antara kontrol diri dengan perilaku seksual remaja mengindikasikan perilaku seksual dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain kontrol diri yaitu pola asuh orang tua, pengaruh teman sebaya, paparan media pornografi dan Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29754-29761 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 DAFTAR PUSTAKA