Genta: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Humaniora e-ISSN A Vol. 1 No. Bulan: Januari 2025 https://ejournal. id/index. php/genta IMPLEMENTASI MODEL PRBOLEM BASED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH LOKAL UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SMKN 2 BUDURAN SIDOARJO Maudy Nilam Ayunawati1 Universitas PGRI Delta. Indonesia E-mail: maudyrealme18@gmail. Abstrak Berdasarkan perspektif peserta didik saat ini, pembelajaran sejarah masih kerap dianggap sebagai kegiatan yang membosankan. Kondisi ini menjadi tantangan mendesak bagi dunia pendidikan untuk merombak paradigma yang sudah mapan. Sejarah seharusnya dipandang sebagai mata pelajaran yang menarik dan penuh nilai edukasi. Salah satu penyebab utama pandangan negatif terhadap sejarah adalah metode pembelajaran tradisional yang masih dominan di banyak sekolah. Pendekatan yang berpusat pada guru, serta metode ceramah dan hafalan yang monoton, membuat siswa merasa jenuh dan kurang Masalah ini menjadi salah satu kendala utama dalam proses pembelajaran sejarah di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan kajian pustaka sebagai metode Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learnin. dalam mata pelajaran sejarah lokal di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk menciptakan pembelajaran sejarah yang lebih menarik dan efektif, diperlukan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan Salah satu contoh penerapan yang relevan adalah dengan menggunakan materi sejarah lokal sebagai basis pembelajaran. Melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa serta memotivasi mereka untuk lebih aktif dalam proses belajar-mengajar. Kata kunci: Sejarah Lokal. Problem Based Learning. Pembelajaran Sejarah Abstract Based on the current perspective of students, history learning is still often considered a boring activity. This condition poses an urgent challenge for the education world to overhaul the established paradigm. History should be viewed as an interesting and highly educational subject. One of the main causes of the negative view of history is the traditional teaching methods that still dominate in many schools. Teacher-centered approaches, as well as monotonous lectures and memorization methods, make students feel bored and less motivated. This problem is one of the main obstacles in the history learning process in Indonesia. This research uses a qualitative approach with a literature review as its main The main objective of this research is to analyze the implementation of Problem-Based Learning in local history subjects at the Senior High School level. The results of the study show that in order to create more interesting and effective history learning, a learning approach that is in line with the learning objectives is needed. One relevant example of implementation is by using local history material as the basis for learning. Through the implementation of Problem-Based Learning, it is expected to improve students' critical thinking skills and motivate them to be more active in the teaching and learning process. Keywords: Local History. Problem Based Learning. History Learning PENDAHULUAN Revolusi teknologi yang kian pesat dalam era globalisasi ini telah membawa angin segar bagi dunia pendidikan. Salah satu dampak signifikannya adalah transformasi modelmodel pembelajaran yang semakin inovatif dan adaptif. Para pendidik kini memiliki beragam pilihan pendekatan pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Pengembangan model-model pembelajaran ini bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif, efektif, dan menyenangkan. Dengan demikian, proses transfer pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik dapat berlangsung secara optimal. Dalam memilih model pembelajaran yang tepat, seorang pendidik dituntut untuk memiliki pemahaman yang mendalam mengenai tujuan pembelajaran yang telah Analisis yang cermat terhadap tujuan pembelajaran akan membantu pendidik dalam merancang strategi pembelajaran yang relevan dan efektif. Melalui penerapan model pembelajaran yang sesuai, diharapkan peserta didik dapat lebih mudah memahami materi pelajaran, meningkatkan motivasi belajar, serta mencapai hasil belajar yang optimal. Pemilihan model pembelajaran yang tepat dapat berkontribusi pada peningkatan prestasi belajar peserta Faktanya, implementasi model dan pendekatan pembelajaran yang relevan masih menjadi tantangan bagi banyak pendidik di Indonesia. Seringkali, para guru kurang memahami bagaimana memilih dan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Akibatnya, metode pembelajaran yang digunakan belum tentu efektif dan menarik bagi peserta didik. Metode ceramah yang cenderung monoton masih mendominasi proses pembelajaran di banyak sekolah, sehingga peserta didik mudah merasa bosan dan kehilangan motivasi belajar. Kondisi ini diperparah oleh kurangnya pemahaman pendidik terhadap konsep pembelajaran yang menyenangkan atau PAIKEM (Djalal, 2. Padahal, pembelajaran yang menyenangkan sangat penting untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif dan memotivasi peserta didik untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran. era digital saat ini, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menawarkan berbagai peluang untuk mengembangkan model pembelajaran yang lebih inovatif dan interaktif. Pendidik perlu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi peserta didik. Misalnya, dalam pembelajaran sejarah lokal, pendidik dapat menggunakan berbagai media digital seperti video, gambar, dan simulasi untuk membantu peserta didik memahami konsep-konsep sejarah yang kompleks. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya akan memperoleh pengetahuan tentang sejarah lokal, tetapi juga termotivasi untuk menggali lebih dalam dan mengembangkan potensi sejarah daerahnya. Pendidik dituntut untuk memiliki pemahaman yang mendalam mengenai konsep Pembelajaran Aktif. Inovatif. Kreatif. Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM). Konsep PAIKEM menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga merangsang peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, dan aktif. Perencanaan pembelajaran yang efektif merupakan kunci keberhasilan dalam menerapkan PAIKEM. Seperti yang ditekankan oleh Anggraeni . , perencanaan pembelajaran bukan sekadar rangkaian kegiatan yang statis, melainkan sebuah proses dinamis yang melibatkan peserta didik secara aktif dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dalam merancang strategi pembelajaran, pendidik perlu mempertimbangkan karakteristik unik setiap peserta didik. Dengan memahami gaya belajar, minat, dan kebutuhan individu, pendidik dapat memilih model dan strategi pembelajaran yang paling sesuai. Hal ini akan membuat proses belajar menjadi lebih relevan dan menarik bagi peserta didik. Ketika peserta didik merasa bahwa materi pelajaran berhubungan dengan kehidupan mereka sehari-hari, mereka akan lebih termotivasi untuk belajar. Sebagai contoh, dalam pembelajaran sejarah lokal, pendidik dapat menggunakan berbagai strategi seperti studi kasus, proyek kelompok, atau permainan simulasi untuk membuat materi pelajaran lebih hidup. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya akan memperoleh pengetahuan tentang sejarah lokal, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi. Salah satu permasalahan krusial dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah rendahnya minat peserta didik terhadap pembelajaran sejarah. Persepsi bahwa pelajaran sejarah itu membosankan begitu melekat di benak siswa, terutama di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Stigma negatif ini seringkali disebabkan oleh kurang tepatnya metode dan model pembelajaran yang diterapkan oleh pendidik. Padahal, sejarah sebagai disiplin ilmu yang kaya akan kisah dan peristiwa menarik seharusnya dapat disajikan dengan cara yang lebih engaging dan menyenangkan. Sinambela et al. menjelaskan bahwa untuk mengatasi stigma negatif terhadap pembelajaran sejarah, perlu dilakukan inovasi dalam pemilihan metode Dengan menggunakan metode yang tepat, diharapkan dapat menarik minat siswa dan memotivasi mereka untuk lebih aktif dalam proses belajar-mengajar. Pembelajaran sejarah yang menarik tidak hanya akan membantu siswa memahami materi dengan lebih baik, tetapi juga akan menumbuhkan rasa cinta terhadap sejarah dan budaya bangsa. Model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran sejarah terutama dalam mencakup materi sejarah lokal dapat menggunakan model Problem Based Learning. Problem Based Learning ialah model pembelajaran dimana peserta didik diberikan permasalahan yang harus diselesaikan dan permasalahan tersebut yang bisa menunjang siswa untuk mendapatkan ilmu yang baru (Zamzam, 2. Dengan menerapkan model Probelem Based Learning pada abad 21 akan mampu meningkatkan daya nalar yang kritis peserta didik untuk bisa memecahkan suatu permasalahan yang terjadi dan mendapatkan solusi dari permasalahan Salah satunya dapat di implementasikan saat pembelajaran sejarah lokal, peserta didik bisa mengeksplor permasalahan terkait sejarah lokal yang kurang diminati peserta didik pada era globalisasi saat ini. Hal ini memberikan daya nalar kritis untuk menemukan pemecahan masalah tersebut dengan model pembelajaran Problem Based Learning. Untuk mengembangkan dan membentuk intelegensi dalam pembelajaran agar menjadi seimbang pendidik dapat menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan harapan mampu memunculkan sisi berpikir kritis pada peserta didik (Sunaryo et al. , 2. Sejarah lokal merupakan suatu gambaran sejarah dalam cakupan suatu wilayah yang memiliki kelokalitasan tertentu atau sering dikenal dengan unsur spasial (Widja, 1991:. Carol . berpendapat bahwa sejarah lokal ialah kajian mengenai peristiwa masa lalu yang dilalui oleh suatu orang maupun kelompok dalam wilayah atau grafis tertentu. Sejarah lokal juga tentunya mempunyai nilai yang mengandung unsur filosofis dari peristiwa sejarah. Pembelajaran sejarah lokal mempunyai urgensi pada pembentukan karakter peserta didik melalui nilai kearifan lokal sehingga peserta didik mampu menguatkan jati diri melalui penguatan kearifan lokal di era globalisasi. Saat akan mengimplementasikan materi sejarah lokal perlu diadakannya pendekatan yang sesuai, salah satunya yaitu model Problem Based Learning . Kurikulum pada pendidikan sejarah mampu dikembangkan dengan memanfaatkan muatan lokal, dalam hal ini yakni sejarah lokal. Muatan lokal sangat penting apalagi jika mengingat kurikulum mempunyai fungsi yakni bahwa kurikulum berfungsi mendidik pribadi yang mempunyai integritas dalam masyarakat (Wijayanti, 2. Motivasi ialah suatu dorongan yang dapat membuat orang bertindak dan berprerilaku dengan cara-cara motivasi yang mengacu pada sebab munculnya sebuah perilaku, seperti faktor-faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Menurut Wardan . motivasi merupakan usaha maupu kegiatan manajer untuk dapat menimbulkan ataupun meningkatkan semangat. Motivasi juga merupakan dorongan yang timbul pada diri sesorang untuk berperilaku dalam mencapai tujuan yang telah dan akan ditentukan (Mohtar 2019:. Disimpulkan bahwa motivasi merupakan suatu dorongan maupun alasan yang mendasari semangat seseorang guna melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi model Problem Based Learning dalam pembelajaran sejarah lokal untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sebab dalam urgensinya, model pembelajaran Problem Based Learning diharapkan mampu memberikan motivasi belajar kepada peserta didik terutama dalam pendidikan sejarah lokal. Hal ini akan meningkatkan efektivitas belajar peserta didik untuk lebih mengetahui dan serius dalam hal belajar sejarah Dalam penelitian ini penulis mengacu pada penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang dilakukan pada saat ini. Husnul Hotimah 2020:10 menyimpulkan bahwa melalui metode problem based learning dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam Problem based learning dikembangkan dengan tujuan agar siswa saling berbagi kamampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, dan saling menyalurkan kemampuan masing-masing. NisaulAo Azmi Hajar dkk . dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa siswa lebih paham tentang materi yang diterangkan melalui model pembelajaran problem based learning (PBL) sehingga berakibat pada peningkatan hasil belajar siswa dan dibuktikan dengan nilai rata-rata yang mengalami siklus Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran problem based learning mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis sehingga bisa membuat peserta didik mampu menyalurkan kreatifitas mereka dan membuat nilai rata-rata peserta didik dapat mengalamai siklus yang meningkat. Hasil observasi awal yang dilakukan di kelas X AK 2 SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo mengindikasikan adanya beberapa kendala dalam proses pembelajaran sejarah. Salah satu masalah utama yang teridentifikasi adalah rendahnya tingkat fokus siswa, terutama saat materi yang diajarkan berkaitan dengan sejarah lokal. Selain itu, partisipasi aktif siswa dalam kegiatan pembelajaran juga tergolong rendah. Kemampuan pemecahan masalah siswa pun masih perlu ditingkatkan, seperti terlihat dari kesulitan mereka dalam menyampaikan pendapat pribadi ketika dihadapkan pada suatu permasalahan sejarah. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa salah satu faktor yang berkontribusi terhadap permasalahan ini adalah dominasi metode ceramah dalam proses pembelajaran. Metode ceramah yang cenderung monoton dan pasif seringkali membuat siswa merasa jenuh dan kurang termotivasi untuk belajar. Pembelajaran sejarah lokal memiliki urgensi yang sangat krusial dalam memperkaya pemahaman siswa terhadap sejarah secara keseluruhan. Dengan mengadopsi pendekatan lokal, pembelajaran sejarah tidak lagi sekadar kumpulan fakta yang membosankan, melainkan menjadi sebuah perjalanan intelektual yang mengundang siswa untuk menggali lebih dalam makna di balik peristiwa sejarah. Melalui eksplorasi langsung ke situs-situs bersejarah, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka. Identifikasi terhadap aspek-aspek lokal dalam pembelajaran sejarah memungkinkan siswa untuk membangun koneksi yang lebih personal dengan materi pelajaran. Hal ini sangat penting, terutama bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), yang sedang dalam tahap pembentukan identitas diri. Dengan memahami sejarah lokal, siswa tidak hanya akan lebih menghargai warisan budaya daerahnya, tetapi juga akan memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang sejarah nasional. Selain itu, pembelajaran sejarah lokal juga dapat menjadi sarana yang efektif untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa, karena mereka akan diajak untuk menganalisis sumber-sumber sejarah, mengevaluasi berbagai perspektif, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti yang ada. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif mengenai kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang serta perilaku yang bisa diamati (Moleong, 2. Metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang digunakan guna meneliti kondisi objek yang alamiah. Peneliti disini merupakan instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi . , analisis data yang bersifat induktif, serta hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2. Pendekatan kualitatif merupakan suatu proses penelitian serta pemahaman yang berdasar pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terperinci dari pandangan responden, serta melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:. Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007:. , berpendapat bahwa metodologi kualitatif ialah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang serta perilaku yang dapat diamati. Penelitian kualitatif dilaksanakan pada kondisi alamiah serta bersifat penemuan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan instrumen kunci. Sebab itu, peneliti harus mempunyai bekal teori dan wawasan yang luas sehingga bisa bertanya, menganalisa, serta mengkonstruksi objek yang diteliti menjadi lebih jelas. Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan terikat oleh nilai. Penelitian kualitatif digunakan apabila masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami tentang interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran ataupun kejelasan. Proses pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara sistematis melalui beberapa tahap. Pertama, dilakukam pencarian sumber rujukan yang relevan melalui beberapa Fokus pencarian diarahkan pada artikel-artikel ilmiah yang memuat hasil penelitian yang sesuai dengan topik yang diteliti. Tahap kedua, dilakukan validasi memastikan bahwa artikel-artikel tersebut memiliki kredibilitas yang tinggi dan relevan dengan tujuan penelitian. Tahap akhir dari proses pengumpulan data ini adalah melakukan sintesis terhadap informasi yang diperoleh dari berbagai sumber. Informasi-informasi tersebut kemudian diolah dan disusun menjadi sebuah kerangka pemikiran yang koheren dan mendukung tujuan penelitian, yang selanjutnya akan dituangkan dalam penulisan artikel ilmiah. HASIL DAN PEMBAHASAN Media yang Digunakan dalam Pembelajaran Sejarah SMK Pesatnya perkembangan teknologi informasi telah membawa transformasi signifikan dalam dunia pendidikan, termasuk di Indonesia. Salah satu dampak langsung dari kemajuan teknologi ini adalah munculnya beragam media pembelajaran yang inovatif. Dalam konteks pembelajaran, media pembelajaran dan metode pengajaran saling melengkapi dan menjadi dua komponen kunci yang turut menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar. Seperti yang ditekankan oleh Muhtarom et al. , media pembelajaran berperan sebagai jembatan antara pendidik dan peserta didik dalam menyampaikan materi pelajaran. Dengan kata lain, media pembelajaran berfungsi sebagai alat bantu visual, audio, atau bahkan kombinasi keduanya, yang dapat memperkaya pemahaman siswa terhadap konsep yang sedang dipelajari. Oleh karena itu, pemilihan media pembelajaran yang tepat menjadi sangat krusial bagi seorang pendidik, karena hal ini akan berdampak langsung pada efektivitas pembelajaran dan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Media pembelajaran sejarah dapat dikategorikan menjadi tiga jenis utama. Pertama, media audio, yang sangat efektif untuk menyampaikan informasi sejarah melalui suara. Kedua, media visual, seperti gambar atau diagram, yang membantu siswa memvisualisasikan peristiwa Ketiga, media audiovisual, yang menggabungkan unsur audio dan visual, seperti video atau presentasi multimedia. Kombinasi ini dianggap paling efektif karena dapat merangsang lebih banyak indera siswa, sehingga pemahaman mereka terhadap materi sejarah menjadi lebih Dalam memilih media pembelajaran yang tepat, seorang pendidik perlu mempertimbangkan gaya belajar masing-masing siswa. Hal ini penting karena setiap siswa memiliki cara belajar yang berbeda. Penelitian yang dilakukan oleh Herdin dan Dora . mendukung hal ini. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa mayoritas siswa . ,1%) lebih menyukai media audiovisual dalam mempelajari sejarah Eropa, dibandingkan dengan media audio . ,9%) atau visual . %). Ini menunjukkan bahwa kombinasi audio dan visual merupakan pilihan yang paling disukai siswa dalam mempelajari sejarah. Media pembelajaran berperan sebagai alat yang krusial dalam menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik. Sayangnya, penggunaan media yang kurang efektif, terutama dalam pembelajaran sejarah, seringkali menyebabkan siswa merasa bosan dan jenuh. Hal ini diperparah oleh anggapan umum bahwa sejarah adalah mata pelajaran yang membosankan dan sulit dipahami. Persepsi negatif ini terbentuk akibat penggunaan metode pembelajaran tradisional yang masih mendominasi, seperti ceramah dan hafalan, yang kurang mampu merangsang minat dan partisipasi aktif siswa. Untuk mengubah paradigma ini, perlu adanya upaya untuk mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran sejarah. Dengan memanfaatkan berbagai jenis media pembelajaran yang inovatif, seperti video edukasi, simulasi, dan game edukasi, guru dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan interaktif. Penggunaan media pembelajaran yang tepat tidak hanya dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, tetapi juga membantu mereka memahami konsep sejarah yang kompleks dengan lebih baik. Seperti yang ditekankan oleh Rahayu et al. , integrasi teknologi dalam pembelajaran merupakan salah satu tuntutan utama dalam pendidikan abad Dengan memanfaatkan teknologi, guru dapat mengembangkan berbagai keterampilan abad 21 pada siswa, seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Selain itu, penggunaan media pembelajaran yang beragam juga dapat mengakomodasi berbagai gaya belajar siswa, sehingga setiap siswa memiliki kesempatan untuk belajar secara optimal Pembelajaran sejarah lokal di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dapat diperkaya dengan pemanfaatan teknologi abad 21. Salah satu media pembelajaran yang potensial adalah podcast. Podcast, sebagai format audio yang populer di kalangan generasi muda, menawarkan cara yang inovatif untuk menyampaikan materi sejarah. Dengan kualitas suara yang jernih dan proses produksi yang relatif sederhana seperti yang dijelaskan oleh Asmi . , podcast dapat menjadi alat bantu belajar yang efektif. Keunggulan podcast sebagai media pembelajaran terletak pada kemampuannya untuk menjangkau audiens yang luas, terutama generasi milenial yang sudah terbiasa mengonsumsi konten audio melalui platform Dengan menyajikan materi sejarah dalam format podcast, pembelajaran menjadi lebih menarik dan relevan bagi siswa. Selain itu, podcast juga memungkinkan siswa untuk belajar di mana saja dan kapan saja sesuai dengan kenyamanan mereka. Penggunaan podcast dalam pembelajaran sejarah lokal dapat memberikan sejumlah manfaat, di antaranya: meningkatkan minat belajar siswa, memperluas pemahaman siswa terhadap materi, serta mengembangkan keterampilan mendengarkan dan menganalisis informasi. Dengan kata lain, podcast tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai alat untuk mengembangkan kompetensi abad 21 pada siswa. Dengan mengadopsi media podcast yang tengah populer di kalangan generasi muda, pembelajaran sejarah dapat menjadi lebih menarik dan efektif. Podcast tidak hanya memudahkan pendidik guna menyampaikan materi, tetapi juga mampu mengubah persepsi siswa mengenai pelajaran sejarah. Dengan demikian, pembelajaran sejarah dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermakna bagi siswa. Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning Dalam Pembelajaran Sejarah Lokal Implementasi pembelajaran sejarah lokal di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menuntut pemilihan pendekatan pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Dalam konteks ini, para pendidik dituntut untuk memiliki pemahaman yang mendalam mengenai berbagai strategi dan proses pembelajaran yang relevan. Pendekatan pembelajaran tidak hanya sekadar metode, melainkan juga sebagai kerangka berpikir yang memandu interaksi guru dan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang spesifik. Pendekatan pembelajaran merupakan titik tolak atau sudut pandang guru dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran (Khasanah, 2. Pendekatan ini menjadi acuan bagi guru dalam memilih aktivitas pembelajaran, media pembelajaran, dan strategi evaluasi yang sesuai dengan karakteristik materi pelajaran dan kebutuhan siswa. Dalam konteks pembelajaran sejarah lokal, pemilihan pendekatan yang tepat sangat krusial karena memiliki implikasi langsung terhadap keberhasilan dalam membentuk identitas lokal siswa dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka. Pembelajaran sejarah lokal yang berorientasi pada pembentukan identitas lokal dan pengembangan berpikir kritis menuntut penggunaan pendekatan atau model pembelajaran yang spesifik. Pendekatan yang dipilih harus mampu mengakomodasi tujuan pembelajaran yang kompleks, yaitu tidak hanya menyampaikan pengetahuan sejarah, tetapi juga menumbuhkan sikap peduli terhadap lingkungan sekitar dan mendorong partisipasi aktif siswa dalam memecahkan masalah sosial. Oleh karena itu, pemilihan pendekatan pembelajaran harus didasarkan pada pertimbangan yang matang terhadap karakteristik siswa, materi pembelajaran, dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Pendekatan pembelajaran berbasis masalah menawarkan solusi inovatif untuk mengatasi paradigma bahwa pembelajaran sejarah itu membosankan. Dengan menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran. PBL tidak hanya meningkatkan motivasi belajar, tetapi juga merangsang pengembangan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Dalam model PBL, guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan melalui proses penyelidikan dan pemecahan masalah yang autentik. Salah satu keunggulan PBL adalah kemampuannya untuk membuat pembelajaran sejarah menjadi lebih relevan dan menarik. Dengan mengaitkan materi sejarah dengan permasalahan nyata yang dihadapi siswa. PBL mendorong siswa untuk aktif mencari informasi, menganalisis data, dan merumuskan solusi. Hal ini berbeda dengan model pembelajaran tradisional yang cenderung berpusat pada guru dan lebih menekankan pada hafalan fakta. Melalui PBL, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan sejarah, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan nyata. PBL dapat menjadi alternatif yang efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa (Rifki & Yulianti, 2. Studi mereka menunjukkan bahwa dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. PBL mampu mengubah persepsi siswa terhadap sejarah sebagai mata pelajaran yang membosankan. Sebaliknya, siswa menjadi lebih antusias dan termotivasi untuk belajar sejarah ketika mereka dapat menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan mereka sehari-hari. Dalam konteks pembelajaran sejarah lokal. PBL memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan rasa memiliki dan tanggung jawab siswa terhadap warisan budaya Dengan melibatkan siswa dalam meneliti sejarah lokal. PBL tidak hanya membekali siswa dengan pengetahuan tentang sejarah daerahnya, tetapi juga mendorong mereka untuk berperan aktif dalam melestarikan dan mengembangkan warisan budaya tersebut. Melalui PBL, siswa dapat belajar menghargai keanekaragaman budaya dan mengembangkan sikap toleransi terhadap perbedaan. Peran Sejarah Lokal Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pembelajaran sejarah lokal melalui pendekatan Problem Based Learning (PBL) telah terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Dengan menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran dan mendorong mereka untuk mencari solusi atas permasalahan yang relevan dengan konteks lokal. PBL berhasil menciptakan lingkungan belajar yang lebih aktif, menarik, dan bermakna. Melalui PBL, siswa tidak hanya sekedar menghafal fakta-fakta sejarah, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi. Salah satu faktor kunci yang membuat pembelajaran sejarah lokal begitu efektif dalam meningkatkan motivasi adalah relevansi materi dengan kehidupan siswa. Ketika siswa mempelajari peristiwa sejarah yang terjadi di lingkungan sekitar mereka, mereka dapat lebih mudah menghubungkan materi pembelajaran dengan pengalaman pribadi. Hal ini membuat pembelajaran menjadi lebih relevan dan bermakna, sehingga siswa merasa termotivasi untuk belajar lebih dalam. Selain itu, pembelajaran sejarah lokal juga dapat memperkuat identitas lokal siswa dan menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya dan sejarah daerahnya. Dengan memahami akar sejarahnya, siswa akan memiliki rasa memiliki yang lebih kuat terhadap komunitasnya dan terdorong untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah. Pentingnya peran guru dalam keberhasilan implementasi pembelajaran sejarah lokal tidak dapat dipungkiri. Guru berperan sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan menyediakan sumber belajar yang relevan. Guru juga perlu merancang kegiatan pembelajaran yang menarik dan menantang, serta memberikan umpan balik yang konstruktif kepada siswa. Selain itu, guru juga perlu menjalin kerjasama dengan komunitas lokal untuk mendapatkan sumber belajar yang autentik dan memperkaya pengalaman belajar Meskipun demikian, masih terdapat beberapa tantangan dalam implementasi pembelajaran sejarah lokal. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan sumber belajar yang berkualitas dan relevan dengan konteks lokal. Selain itu, kurangnya kompetensi guru dalam merancang pembelajaran berbasis masalah juga menjadi kendala. Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan upaya berkelanjutan dalam pengembangan profesionalisme guru, serta pengembangan sumber belajar yang berkualitas. Pembelajaran sejarah lokal melalui pendekatan PBL merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Dengan merancang pembelajaran yang relevan, menarik, dan bermakna, serta melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran, kita dapat menciptakan generasi muda yang memiliki kesadaran sejarah yang tinggi, rasa cinta tanah air, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Implementasi pembelajaran sejarah lokal berbasis PBL telah berhasil meningkatkan motivasi belajar siswa secara signifikan. Data menunjukkan bahwa persentase siswa yang aktif berpartisipasi dalam diskusi kelas meningkat dari 30% menjadi 80% setelah penerapan PBL. Selain itu, nilai rata-rata ujian sejarah kelas juga mengalami peningkatan yang signifikan, dari 70 menjadi 85. Hal ini menunjukkan bahwa siswa tidak hanya lebih terlibat dalam proses pembelajaran, tetapi juga memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap materi sejarah. KESIMPULAN PBL telah terbukti mampu mengatasi beberapa kendala yang sering dihadapi dalam pembelajaran sejarah, seperti rendahnya motivasi belajar siswa dan kesulitan dalam menghubungkan materi sejarah dengan kehidupan nyata. Dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif dan konstruktif. PBL mampu membangkitkan rasa ingin tahu dan minat belajar siswa, sehingga mereka lebih termotivasi untuk menggali lebih dalam mengenai sejarah. Pentingnya peran guru dalam keberhasilan implementasi PBL tidak dapat dipungkiri. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa dalam proses pembelajaran, menyediakan sumber belajar yang relevan, dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Guru juga perlu memiliki kompetensi yang memadai dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran berbasis masalah. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi guru melalui pelatihan dan pengembangan Meskipun demikian, masih terdapat beberapa tantangan dalam implementasi PBL. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan waktu pembelajaran. PBL membutuhkan waktu yang cukup bagi siswa untuk melakukan eksplorasi, diskusi, dan refleksi. Selain itu, kurangnya sumber belajar yang berkualitas dan relevan dengan konteks lokal juga menjadi Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, seperti sekolah, pemerintah daerah, dan komunitas. DAFTAR PUSTAKA