Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 The Invention: Journal Research and Education Studies is published three . times a year (March. July and Novembe. Focus : Education Management. Education Policy. Education Technology. Education Psychology. Curriculum Development. Learning Strategies. Islamic Education. Elementary Education LINK : https://pusdikra-publishing. com/index. php/jres Implementasi Metode Bermain Peran dalam Mengembangkan Sikap Toleransi Anak Usia Dini Nonik Yulita DianaA. Himmah Taulany2. Swantyka Ilham Prahesti3. Nufitriani Kartika Dewi4 1,2,3,4 Universitas Ngudi Waluyo. Indonesia ABSTRACT Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi implementasi metode bermain peran dalam mengembangkan toleransi anak di TK Harapan Leyangan Ungaran Timur, serta menganalisis dampak implementasi metode bermain peran terhadap toleransi anak di TK Harapan Leyangan Ungaran Timur. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, guru, dan orang tua. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur, observasi partisipatif, dan Analisis data dilakukan melalui kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode bermain peran untuk mengembangkan sikap toleransi di TK Harapan Leyangan telah dilaksanakan secara efektif dan interaktif. Implementasi metode bermain peran yang dirancang secara sistematis melalui tema toleransi beragama, sosial, dan budaya mampu menumbuhkan sikap bekerja sama, berbagi, menghargai perbedaan, serta mengelola emosi secara wajar pada anak. Metode bermain peran memiliki dampak positif terhadap toleransi anak ditandai dengan sikap mau berbagi, menyapa orang dengan ramah, menghargai perbedaan, tidak memotong pembicaraan teman atau dan melakukan interaksi secara positif. Rekomendasi dari hasil penelitian ini ialah sekolah sebaiknya mengintegrasikan metode bermain peran ke dalam kurikulum pendidikan anak usia dini secara sistematik, perlunya pelatihan keterampilan guru dalam menciptakan skenario yang relevan dan kontekstual serta evaluasi berkelanjutan. Kata Kunci Toleransi. Bermain Peran. Anak Usia Dini Corresponding nonikdiana04@gmail. Author: PENDAHULUAN Pendidikan anak usia dini berperan penting dalam pembentukan karakter Salah satu karakter yang perlu dikembangkan sejak dini adalah sikap (Kurniawan et al. , 2. menyatakan bahwa menanamkan nilai toleransi sejak usia dini sangat penting, karena sikap ini membawa manfaat Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 Page : 163-174 baik bagi perkembangan individu maupun bagi kehidupan masyarakat secara (Tantra et al. , 2. menyatakan bahwa bentuk toleransi meliputi toleransi beragama, sosial, dan budaya. Penanaman nilai-nilai toleransi ini menjadi tanggung jawab orangtua dan juga guru di sekolah terutama guru taman kanak-kanak (TK). Menurut (Irmayanti 2. guru taman kanak-kanak (TK) memiliki peran penting dalam menentukan keberhasilan proses pendidikan di kelas. Salah satu langkah yang dapat dilakukan guru dalam berinteraksi dengan anak adalah mendorong perkembangan sosial-emosional serta sikap toleransi anak. Untuk menumbuhkan sikap toleransi pada anak, khususnya pada rentang usia 5 hingga 6 tahun, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui metode pembelajaran yang tepat. (Musthofiyyah et al. , 2. menyatakan bahwa pemilihan metode yang tepat dan selaras dengan karakteristik anak akan membantu mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki, sekaligus menumbuhkan perilaku positif. Selain itu, model pembelajaran dipandang sebagai strategi yang efektif dalam mendorong perubahan perilaku peserta didik, baik dalam aspek adaptif maupun kreatif. Salah satu metode efektif yang dapat diterapkan dalam mengembangkan toleransi anak adalah bermain peran. Bermain peran adalah kegiatan sosial yang memberi peluang kepada anak untuk mengambil atau menirukan peran tertentu dalam suatu situasi yang telah diatur sebelumnya, baik secara kontekstual maupun sosial (Jumiatmoko et al. , 2. Pendekatan ini sering digunakan dalam konteks pendidikan maupun pelatihan untuk mengembangkan kemampuan kognitif, emosional, dan sosial. Selain memfasilitasi internalisasi pembelajaran secara interaktif dan menyenangkan, metode bermain peran juga efektif dalam mengajarkan berbagai keterampilan dan pengetahuan (Simanjuntak & Latuhihin, 2. Berdasarkan hasil observasi awal di TK Harapan Leyangan Ungaran Timur, ditemukan bahwa sebagian besar anak menunjukkan antusiasme dalam bermain bersama, namun masih terdapat gejala kurangnya sikap toleransi di antara mereka. Beberapa anak tampak enggan berbagi mainan, mudah tersinggung saat pendapatnya tidak diikuti teman, bahkan ada yang memilih bermain sendiri ketika berbeda pilihan kelompok. Kondisi ini mengindikasikan bahwa nilai toleransi yang seharusnya mulai berkembang pada usia dini masih belum sepenuhnya terbentuk secara optimal. Kebutuhan inovasi metode pembelajaran menjadi semakin mendesak untuk membantu anak menginternalisasikan sikap toleransi secara menyenangkan serta sesuai karakteristik mereka. Bermain peran hadir sebagai alternatif yang relevan karena memungkinkan anak mengalami langsung berbagai situasi sosial. Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 Page : 163-174 melatih empati, serta membiasakan diri menghargai orang lain (Jumiatmoko et , 2022:305. Simanjuntak & Latuhihin, 2. Urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya menanamkan nilai toleransi sejak usia dini sebagai fondasi pembentukan karakter anak dalam masyarakat yang multikultural. Indonesia dikenal sebagai negara dengan tingkat keberagaman tinggi dalam hal agama, suku, ras, dan budaya, sehingga anak perlu dibekali kemampuan untuk menghargai perbedaan sejak dini. Pendidikan anak usia dini berperan strategis dalam proses pembentukan karakter tersebut karena merupakan masa emas perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak (Fadlillah, 2. Urgensi penelitian ini semakin kuat mengingat guru TK berperan sentral dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif untuk perkembangan sosial anak. Guru tidak hanya sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai fasilitator dalam pembentukan karakter melalui metode pembelajaran yang kreatif dan interaktif (Irmayanti, 2. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti perlu melakukan penelitian mengenai AuImplementasi Metode Bermain Peran untuk Mengembangkan Toleransi Anak di TK Harapan Leyangan Ungaran TimurAy sebagai upaya memperkuat metode pembelajaran yang mendukung perkembangan sosial emosional anak usia dini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi implementasi metode bermain peran dalam pengembangan toleransi anak dan menganalisis peningkatan indikator toleransi anak setelah mengimplementasikan metode bermain peran di TK Harapan Leyangan Ungaran Timur. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam proses implementasi metode bermain peran dalam mengembangkan sikap toleransi anak usia dini serta menggambarkan fenomena yang terjadi secara alamiah di lingkungan sekolah. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat mengeksplorasi pengalaman, interaksi sosial, serta perubahan perilaku anak selama proses pembelajaran berlangsung. Penelitian dilaksanakan di TK Harapan Leyangan. Kecamatan Ungaran Timur. Kabupaten Semarang. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa sekolah tersebut telah menerapkan metode bermain peran dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian dilaksanakan pada bulan November sampai dengan Desember 2025. Subjek utama penelitian adalah anak Kelompok A yang berjumlah 25 anak dengan rentang usia 4Ae5 Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 Page : 163-174 Informan penelitian meliputi kepala sekolah, guru kelas Kelompok A, serta orang tua/wali murid. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling karena mereka terlibat langsung dalam proses pembelajaran serta mengetahui perkembangan sosial anak baik di sekolah maupun di rumah. Fokus penelitian meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi implementasi metode bermain peran dalam mengembangkan toleransi anak, serta dampaknya terhadap peningkatan indikator sikap toleransi. Indikator toleransi yang diamati mencakup kemampuan anak untuk bekerja sama, berbagi, menunggu giliran, menyimak pembicaraan tanpa memotong, mengikuti aturan main, serta menunjukkan sikap menghargai perbedaan agama, sosial, dan budaya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan Observasi dilakukan secara partisipatif moderat selama kegiatan bermain peran berlangsung, dengan menggunakan lembar observasi dan catatan anekdot untuk mencatat munculnya indikator sikap toleransi. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur kepada kepala sekolah, guru kelas, dan beberapa orang tua untuk memperoleh informasi terkait perencanaan pembelajaran (RPPH), strategi pelaksanaan metode bermain peran, kendala yang dihadapi, serta perubahan perilaku anak setelah kegiatan. Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh melalui observasi dan wawancara, meliputi RPPH, foto kegiatan, catatan asesmen guru, dan rekap hasil evaluasi perkembangan anak. Analisis data dilakukan secara interaktif dan berkelanjutan melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahap reduksi data, peneliti menyeleksi dan memfokuskan data yang relevan dengan tujuan penelitian. Selanjutnya, data disajikan dalam bentuk narasi deskriptif dan tabel rekapitulasi hasil observasi untuk memudahkan Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi yang dilakukan secara terus-menerus selama proses penelitian berlangsung untuk memastikan konsistensi dan ketepatan temuan. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan triangulasi Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data dari kepala sekolah, guru, dan orang tua, sedangkan triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Selain itu, peneliti juga melakukan member check kepada guru untuk memastikan kesesuaian hasil temuan dengan kondisi nyata di lapangan serta melakukan ketekunan pengamatan selama tiga kali pertemuan kegiatan bermain peran. Prosedur penelitian dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan. Tahap persiapan meliputi observasi Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 Page : 163-174 awal untuk mengidentifikasi permasalahan toleransi, penyusunan instrumen penelitian, serta koordinasi dengan pihak sekolah. Tahap pelaksanaan meliputi pengamatan implementasi metode bermain peran dalam tiga pertemuan dengan tema berbeda, wawancara dengan informan, dan pengumpulan dokumentasi. Tahap akhir adalah analisis data secara sistematis dan penyusunan laporan penelitian yang memuat temuan, kesimpulan, serta rekomendasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Metode Bermain Peran Untuk Mengembangkan Toleransi Anak di TK Harapan Leyangan Ungaran Timur Penelitian telah dilaksanakan di TK Harapan Leyangan Kecamatan Ungaran Timur pada bulan November sampai dengan Desember 2025. Penelitian dibagi menjadi tiga tahap yaitu tahap persiapan, proses pembelajaran dan tahap evaluasi pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Sekolah, bahwa dalam mengimplementasikan metode bermain peran untuk mengembangkan sikap toleransi anak di TK Harapan Leyangan guru terlebih dulu merancang perencanaan pembelajaran mendalam. Setiap guru membuat perencanaan pembelajaran atau RPPH yang memuat metode, tujuan dan alat peraga yang dapat menumbuhkan sikap toleransi. Dalam penelitian ini guru Menyusun 3 RPPH dengan tema toleransi beragama . Topik AuCerita Idul Fitr. , toleransi sosial . ub topik AuAku Sayang Semua Teman A. toleransi budaya . ub topik Aukarnaval budaya A. Ketiga tema tersebut diimplementasikan dalam kegiatan bermain peran di Kelompok A TK Harapan Leyangan. Proses pembelajaran metode bermain peran di TK Harapan Leyangan mengacu pada tujuan pembelajaran yang telah disiapkan oleh guru. Berdasarkan hasil wawancara, menyatakan bahwa guru menyiapkan pembelajaran sebelum dilaksanakan seperti menyiapkan alat dan bahan, membagi kelompok atau peran yang akan dimainkan anak serta memanfaatkan media digital terlebih dahulu untuk memberikan gambaran tentang tema bermain peran yang akan dilaksanakan anak pada hari itu. Guru juga menyiapkan setting terlebih dahulu yang dilaksanakan di dalam kelas maupun di luar kelas, dengan memanfaatkan peralatan yang ada di sekolah. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan stimulasi melalui dialog atau percakapan yang akan dimainkan anak. Dalam proses bermain peran sikap toleransi dikembangkan melalui kegiatan bermain yang menyenangkan seperti mengarahkan anak untuk bekerjasama, menghargai teman yang memiliki perbedaan baik dari agama, perbedaan fisik, sosial dan Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 Page : 163-174 Melalui kegiatan bermain peran anak-anak belajar mengungkapkan emosi dan perasaan secara verbal, seperti mengungkapkan kemarahan saat diejek teman, memperlihatkan kesedihan saat dikucilkan atau mendapat perlakuan yang diskriminatif dari teman. Hal ini sejalan dengan pendapat Katemba & Grace . bahwa melalui keterlibatan tersebut, anak dapat meningkatkan kemampuan berbicara serta membangun koneksi antara konsep yang dipelajari di kelas dengan situasi kehidupan sehari-hari, sehingga materi lebih mudah dipahami dan diingat Proses pembelajaran bermain peran di TK Harapan Leyangan telah dilakukan selama tiga kali pertemuan dengan tema yang berbeda. Selain kegiatan disesuaikan dengan capaian perkembangan anak usia 4-5 tahun, pada prinsipnya ada 8 dimensi profil lulusan yang dikembangkan yaitu dimensi Keimanan dan Ketaqwaan kepada Tuhan YME, kreativitas, penalaran kritis, kemandirian, kolaborasi, kesehatan, komunikasi serta kewargaan. Proses bermain peran di TK Harapan Leyangan juga menggunakan pendekatan pembelajaran mendalam dengan menggunakan prinsip pembelajaran yang berkesadaran, bermakna dan menyenangkan. Proses pengembangan toleransi bukan sekedar pengetahuan tanpa makna yang diketahui anak, tetapi merupakan proses yang membangun kesadaran akan makna pengembangan sikap toleransi seperti menyadari bahwa setiap individu memiliki persamaan, perbedaan, dan keunikan tersendiri baik dalam hal keyakinan, perbedaan fisik, perbedaan sosial dan perbedaan budaya. Hal ini sesuai dengan Jumiatmoko et , 2022:305. Simanjuntak & Latuhihin, . bahwa bermain peran hadir sebagai alternatif yang relevan karena memungkinkan anak mengalami langsung berbagai situasi sosial, melatih empati, serta membiasakan diri menghargai orang lain. Proses berkesadaran ditumbuhkan agar anak mampu merefleksikan Selain menggunakan prinsip berkesadaran, prinsip lain yaitu prinsip bermakna. Anak mengenal, mengaplikasikan dan mengembangkan sikap toleransi melalui kegiatan yang bermakna melalui pembelajaran kontekstual belajar langsung dari pengalaman yang ditemukan sehari-hari dan dikuatkan melalui penggunaan benda-benda nyata. Hal ini sejalan dengan prinsip pembelajaran kontekstual, bagaimana peserta didik terlibat aktif dalam mempraktikkan pengetahuan sehingga pembelajaran tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga menyentuh pengalaman nyata (Katemba & Grace, 2023:. Prinsip lain yang digunakan adalah prinsip menyenangkan yang dibuktikan dari hasil observasi yaitu anak antusias dalam kegiatan bermain Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 Page : 163-174 Tahapan bermain peran terdiridari 7 tahap . Guru menentukan tema sesuai dengan perencanaan pembelajaran (RPPH), . Guru menata tempat . etting tempa. , . Guru menyiapkan alat dan bahan . , . Guru melakukan apersepsi melalui pemutaran video sesuai tema cerita yang telah direncanakan, . Guru membagi peran dan menjelaskan aturan main . Guru memberikan stimulus, dukungan dan bimbingan dalam kegiatan bermain sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dapat tercapai, . Guru melakukan pengamatan serta asesmen selama kegiatan berlangsung. Memberi penguatan terhadap sikap toleransi yang muncul selama kegiatan berlangsung. Evaluasi pembelajaran dilaksanakan pada saat proses pembelajaran berlangsung atau disebut sebagai asesmen formatif. Guru melakukan observasi sesuai dengan indikator pengamatan yang telah ditetapkan yaitu : anak senang bekerjasama dengan teman, mau berbagi atau bermain bersama, terbiasa menyapa orang yang baru ditemui, mampu menunjukkan rasa simpati, menghargai pendapat orang lain serta tidak suka menimbulkan keributan. Indikator tersebut tercermin saat anak berinteraksi dengan teman dalam kegiatan bermain peran. Kemampuan anak untuk melakukan komunikasi dua arah, kemampuan anak menyatakan dan merefleksikan perasaan serta emosi secara wajar, serta kemampuan anak dalam memecahkan masalah. Guru mencatat semua hasil pengamatan baik melalui ceklist maupun catatan anecdot selama kegiatan berlangsung. Hasil asesmen formatif dan sumatif kegiatan bermain peran diperoleh 21 anak sudah mau bermain secara berkelompok tanpa memilih-milih teman, sementara 4 orang lainnya masih memilih teman yang disukai. 4 orang anak belum menunjukkan kemauan untuk berbagi mainan sementara 21 anak lainnya sudah mampu berbagi mainan yang digunakan saat bermain peran dan mau menunggu giliran. 22 anak mau menyimak pembicaraan dan mendengarkan percakapan yang dilakukan temannya sampai selesai, sementara 3 orang lainnya masih suka memotong pembicaraan dari teman. Dari 25 anak yang diobservasi semua dapat mengikuti kegiatan sesuai dengan aturan main yang telah ditetapkan dan tanpa menimbulkan keributan atau perselisihan selama kegiatan berlangsung. Hal itu sangat relevan dengan pendapat yang disampaikan oleh beberapa ahli bahwa bermain peran hadir sebagai alternatif yang relevan karena memungkinkan anak mengalami langsung berbagai situasi sosial, melatih empati, serta membiasakan diri menghargai orang lain (Jumiatmoko et al. , 2022:305. Simanjuntak & Latuhihin. Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 Page : 163-174 Dampak Implementasi Metode Bermain Peran Terhadap Toleransi anak di TK Harapan Leyangan Ungaran Timur Peningkatan indikator toleransi anak setelah mengimplementasikan metode bermain peran di TK Harapan Leyangan Ungaran Timur dilakukan dengan pengamatan secara langsung. Hasil rekap penilaian observasi ialah sebagai berikut: Tabel 1. Rekap penilaian observasi metode bermain peran Sudah Belum Indikator Muncul Muncul Anak bermain secara berkelompok tanpa memilih-milih teman. Anak mau berbagi mainan Anak bisa menunggu giliran Anak bisa menyimak pembicaraan sampai selesai, tanpa memotong Anak bisa mengikuti aturan main Anak menunjukkan sikap menghargai teman yang berbeda agama Pelaksanaan asesmen sumatif atau evaluasi juga dilakukan melalui diskusi bersama anak setelah kegiatan bermain peran selesai. Guru menanyakan kembali perasaan yang dirasakan anak selama kegiatan. Mencatat hal-hal baru atau kosa kata baru yang anak temukan setelah kegiatan selesai. Diskusi juga dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman anak tentang sikap toleransi. Beberapa anak mampu menceritakan kembali alur cerita dan mengungkapkan hal-hal penting terkait sikap toleransi seperti menghargai perbedaan, tidak boleh mengejek teman, tidak boleh mengucilkan teman atau tidak boleh pilih-pilih teman saat bermain. Hasil evaluasi secara keseluruhan setelah kegiatan bermain peran dengan 3 tema yang berbeda di TK Harapan Leyangan adalah anak-anak menunjukkan kemampuan berkomunikasi, berinteraksi, berkolaborasi dalam kegiatan yang menyenangkan. Anak-anak menunjukkan kreativitas serta kemampuan memecahkan masalah secara sederhana ketika dilibatkan secara langsung dalam kegiatan bermain peran. Hal ini sesuai dengan pendapat Tantra et al. , . Nilai toleransi tidak hanya penting bagi kohesi sosial, tetapi juga bagi perkembangan pribadi anak. Sikap toleran membantu anak usia dini beradaptasi, menghargai perbedaan, dan mengembangkan hubungan sosial yang sehat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi metode bermain peran dalam mengembangkan sikap toleransi anak di TK Harapan Leyangan Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 Page : 163-174 Ungaran Timur dilaksanakan secara sistematis melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahap perencanaan, guru menyusun RPPH dengan tema toleransi beragama, toleransi sosial, dan toleransi budaya. Perencanaan yang terstruktur ini menunjukkan bahwa bermain peran tidak hanya sekadar aktivitas bermain, tetapi merupakan strategi pembelajaran yang dirancang untuk mencapai tujuan perkembangan sosial-emosional anak. Pemilihan metode yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini sangat penting untuk menumbuhkan perilaku positif (Aini. , & Suryana, . Pada tahap pelaksanaan, kegiatan bermain peran dilakukan secara interaktif dan menyenangkan dengan mengacu pada prinsip pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menyenangkan (Hasanah. , & Deiniatur. Anak dilibatkan secara langsung dalam situasi sosial yang kontekstual, seperti cerita Idul Fitri, kegiatan bertema AuAku Sayang Semua TemanAy, dan karnaval budaya. Melalui pengalaman tersebut, anak belajar memahami dan mempraktikkan nilai toleransi secara konkret. Bermain peran memberikan kesempatan kepada anak untuk menirukan dan mengambil peran tertentu dalam situasi sosial sehingga mereka dapat mengembangkan empati dan kemampuan sosialnya (Ismail. , & Suyadi. Keterlibatan aktif anak dalam kegiatan bermain peran menunjukkan bahwa proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada perkembangan sosial dan emosional. Anak belajar mengungkapkan perasaan, menyimak percakapan teman, serta menyelesaikan konflik sederhana melalui dialog. Hal ini sejalan dengan pendapat (Lestari. , & Prima. bahwa melalui keterlibatan dalam role playing, anak mampu membangun koneksi antara konsep pembelajaran dan situasi kehidupan nyata sehingga materi lebih mudah dipahami dan diingat. Hasil observasi menunjukkan adanya peningkatan indikator toleransi pada sebagian besar anak. Dari 25 anak, sebanyak 21 anak sudah mampu bermain secara berkelompok tanpa memilih-milih teman dan mau berbagi Sebanyak 22 anak mampu menunggu giliran serta menyimak pembicaraan tanpa memotong. Seluruh anak mampu mengikuti aturan main dan menunjukkan sikap menghargai perbedaan agama. Data ini menunjukkan bahwa metode bermain peran efektif dalam menumbuhkan perilaku sosial positif pada anak usia dini. Secara konseptual, temuan ini memperkuat pandangan bahwa toleransi tidak hanya penting untuk kohesi sosial, tetapi juga berperan dalam perkembangan pribadi anak. Anak yang memiliki sikap toleran cenderung lebih mudah beradaptasi dan membangun hubungan sosial yang sehat (Tantra Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 Page : 163-174 et al. , 2. Implementasi metode bermain peran memungkinkan anak mengalami langsung situasi keberagaman sehingga nilai toleransi tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi diinternalisasi melalui pengalaman nyata (Wahyuni. , & Reswita. Selain itu, keberhasilan implementasi metode ini tidak terlepas dari peran guru sebagai fasilitator. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif serta memberikan penguatan terhadap perilaku toleran yang muncul selama kegiatan Hal ini sejalan dengan pernyataan Anggraini. , & Putri. bahwa guru taman kanak-kanak memiliki peran strategis dalam menentukan keberhasilan proses pendidikan, khususnya dalam pengembangan sosial-emosional anak (Dewi. , & Astuti. Proses evaluasi melalui asesmen formatif dan diskusi reflektif setelah kegiatan turut memperkuat internalisasi nilai toleransi. Melalui refleksi, anak mampu mengungkapkan kembali pengalaman bermain serta memahami makna dari tindakan yang dilakukan, seperti tidak mengejek teman, tidak memilih-milih teman, dan menghargai perbedaan. Dengan demikian, pembelajaran yang dilakukan tidak berhenti pada aktivitas bermain, tetapi berlanjut pada pemaknaan nilai (Fitriani. , & Nurjanah. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa metode bermain peran memberikan dampak positif terhadap perkembangan sikap toleransi anak usia dini. Anak menunjukkan peningkatan dalam kemampuan bekerja sama, berbagi, menghargai perbedaan, mengikuti aturan, serta berkomunikasi secara santun. Dengan demikian, metode bermain peran dapat direkomendasikan sebagai strategi pembelajaran yang efektif dalam membangun karakter toleran pada anak usia dini, khususnya dalam konteks masyarakat yang multikultural. KESIMPULAN Implementasi metode bermain peran untuk mengembangkan sikap toleransi di TK Harapan Leyangan telah dilaksanakan secara efektif dan Metode bermain peran dilaksanakan tiga pertemuan dengan tema yang berbeda yaitu toleransi agama, toleransi sosial dan toleransi budaya. Guru melakukan tahapan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Perencanaan diawali dengan observasi awal untuk mengetahui indicator toleransi yang perlu ditingkatkan, menentukan tema, menentukan alur tujuan pembelajaran, menyiapkan panggung . tempat, melengkapi alat dan bahan yang Kegiatan bermain peran melibatkan kemitraan antara guru, murid dan pemanfaatan lingkungan sekitar dan pemanfaatan digital melalui Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 1 March 2026 Page : 163-174 pemutaran video pembelajaran sebelum kegiatan bermain peran dilaksanakan. Hasil evaluasi menunjukkan terdapat dampak positif sikap toleransi pada anak yaitu sikap mau bekerja sama, mau berbagi, berinteraksi secara positif dalam kelompok, menyapa orang dengan ramah, sikap menghargai dengan tidak memotong pembicaraan teman, menyepakati aturan main dan tidak memilhmilih teman. DAFTAR PUSTAKA