Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KESIAPAN TOILET TRAINING PADA ANAK USIA TODDLER DI KELURAHAN BANYURADEN Anggun Delia1*. Siti Arifah2. Atik BadiAoah3 12 Universitas AoAisyiyah Yogyakarta 3 Poltekkes Kemenkes Yogyakarta *Koresponden: Anggun Delia. Alamat: Yogyakarta. Email: anggundelia516@gmail. Received: 11 agust | Revised: 18 aguts | Accepted: 28 agust Abstrak Latar Belakang: Toilet training merupakan proses penting bagi anak usia toddler . -3 tahu. yang memerlukan kesiapan fisik, mental, psikologis, serta dukungan dari keluarga terutama orang tua. Penundaan toilet training dapat meningkatkan risiko disfungsi eliminasi, termasuk infeksi kemih, mengompol, sembelit, penolakan ke toilet, gangguan BAB, menurunnya rasa percaya diri anak, hingga gangguan psikologis pada anak. Tujuan: Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kesiapan toilet training pada anak usia toddler di Kelurahan Banyuraden. Metodologi Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional dan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, dengan sampel sebanyak 79 orang tua yang mempunyai anak usia toddler. Alat yang digunakan adalah kuesioner, sedangkan analisis data dilakukan menggunakan uji Chi Square. Hasil: Temuan dari penelitian ini mengindikasikan bahwa sebagian besar keluarga memberikan dukungan baik . ,9%) dan anak dinyatakan siap . ,7%). Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara dukungan keluarga dengan kesiapan toilet training . = 0,. Dukungan optimal dari keluarga, terutama orang tua sangat berpengaruh terhadap kesiapan anak dalam menjalani proses toilet training. Kesimpulan: Simpulan penelitian ini yaitu ada hubungan dukungan keluarga dengan kesiapan toilet training pada anak usia toddler di Kelurahan Banyuraden. Kata Kunci: Dukungan Keluarga. Kesiapan Toilet Training. Usia Toddler Latar Belakang Nomor 20 Tahun 2003 mengatur Sistem Pendidikan Masa balita khususnya usia toddler . -3 tahu. Nasional. Undang-undang ini menegaskan pentingnya merupakan periode penting yang menjadi landasan bagi pendidikan anak usia dini dan pengembangan kemandirian pertumbuhan serta perkembangan anak di masa depan. pada anak, termasuk pelatihan toilet (Mardiah, 2. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdikna. Toilet training adalah upaya untuk melatih anak Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 mengatur keinginan untuk Buang Air Kecil (BAK) dan Buang buruk, kemandirian menurun, kemampuan mengendalikan Air Besar (BAB) seacar tepat dan teratur. Langkah ini emosinya menurun, anak menjadi manja, mempunyai memerlukan bimbingan serius, terutama dari orang tua. kebiasaan mengompol sampai besar dan yang paling penting Melatih toilet training kepada anak-anak bukanlah hal yang berpotensi menimbulkan masalah psikologis. Selain itu anak Namun, keterlibatan orang tua sangat penting juga akan merasa berbeda dari teman sebayanya, sulit diatur dalam proses ini, terutama pada anak usia toddler. Pada dan mengalami kesulitan dalam mencapai kemandirian rentang usia ini, anak diharapkan sudah bisa menjalani toilet dalam mengendalikan BAB dan BAK. Apabila Membiasakan anak dalam mengendalikan BAB dan melakukannya sendiri, anak dapat menghadapi berbagai BAK, merupakan peran penting bagi keluarga, terutama kesulitan atau hambatan (Yanti, 2. orang tua. Fungsi orang tua sangat utama dalam pendidikan Perkirakan total anak di Indonesia mencapai 30% dan perkembangan anak, karena keluarga adalah sekolah dari total populasi 250 juta. Menurun data dari Survei pertama bagi anak. Selain dukungan dari kelurga. Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2019, diperkirakan pendidikan dan pengetahuan orang tua memainkan peran terdapat sekitar 75 juta anak usia prasekolah yang masih penting dalam kesiapan anak untuk pelatihan toilet. mengalami kesulitan untuk mengendalikan BAB dan BAK. Keberhasilan toileting tidak hanya ditentukan oleh kesiapan Sementara Singapura anak, terapi juga oleh dukungan dan kesiapan keluarga. mengindikasikan bahwa 15% anak-anak masih mengalami Usaha untuk melatih dan memberikan pujian kepada anak enuresis . setelah usia 5 tahun. Di Inggris, masih juga merupakan salah satu bentuk dukungan orang tua ditemukan anak-anak yang BAB sembarang tempat di usia 7 (Mendri, 2. tahun, yang disebabkan oleh kegagalan dalam proses toilet Melatih BAB dan BAK pada anak, diperlukan training (Sapitri et al. , 2. Hasil penelitian di Amerika kesiapan psikologis, mental dan fisik,. Kesiapan fisik dalam Serikat, menunjukkan bahwa dari 25 juta anak usia 24 bulan, latihan BAB dan BAK adalah anak memiliki kematangan fisik sebanyak 26% masih mengalami enuresis . dan kekuatan yang cukup sehingga memudahkan mereka Persentase ini meningkat menjadi 88% pada usia 30 bulan, dalam belajar BAB dan BAK. Kesiapan mental adalah dan mencapai 98% saat anak berusia 36 bulan. Di Singapura, keadaan dimana anak mulai mengekspresikan dirinya dilaporkan bahwa 15% anak usia 5 tahun masih mengalami secara verbal dan non verbal, kemampuan kognitif tetap kebiasaan mengompol. Sementara itu, di Inggris, sekitar meningkat untuk meniru perilaku yang sesuai. Sedangkan 1,3% anak laki-laki dan 0,3% anak perempuan masih kesiapan psikologis adalah kondisi dimana anak-anak terbiasa BAB dan BAK di tempat yang tidak semestinya memerlukan lingkungan yang mendukung dan nyaman agar hingga usia 7 tahun (Utami et al. , 2. mereka dapat mengontrol dan tetap fokus pada BAB dan Dampak bagi anak akibat penundaan dalam BAK. Untuk mengetahui seberapa siap anak untuk berlatih pelatihan toilet dapat meningkatkan kasus berbagai BAK, perhatikan kebiasaan mereka BAK, seperti mengompol gangguan, termasuk disfungsi eliminasi, infeksi kemih, di pagi atau siang hari (Ayu et al. , 2. Upaya melatih anak dalam mengendalikan BAB dan BAK dapat dilakukan dengan menggunakan toilet, encorepsis . angguan kontrol BAB) dan memberikan contoh yang tepat, yang kemudian ditiru oleh penurunan rasa percayaan diri. Kebiasaan yang tidak tepat Proses ini melibatkan pengamatan saat memberi dalam pelatihan toilet dapat memiliki dampak negatif yang signifikan pada anak-anak di kemudian hari (Meilisia et al. menghindari teguran ketika anak mengalami kegagalan Menurut (Febria et al. , 2. , kegagalan toilet selama melakukan toilet training (Yeni Devita & Sitorus, training menyebabkan pandangan hidup anak menjadi . Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 Berdasarkan studi pendahuluan di posyandu yang Kelurahan BanyuradenAy. ada di Kelurahan Banyuraden, dilakukan wawancara dengan Ha: AuAda hubungan dukungan keluarga dengan kesiapan 10 orang tua yang mempunyai anak usia 1-3 tahun, toilet training training pada anak usia toddler di Kelurahan didapatkan hasil bahwa 7 diantaranya kurang memberikan BanyuradenAy. dukungan yag cukup untuk belajar toilet training. Orang tua Populasi dan Sampel belum melatih anak-anak mereka toilet training, orang tua Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua yang juga memilih memakaikan popok sekali pakai dibandingkan mempunyai anak usia toddler di Kelurahan Banyuraden mengajarkan BAK dan BAB di toilet, sehingga anak belum dengan populasi 380. memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan keinginan Metode pengambilan sampel menggunakan teknik mereka untuk menggunakan toilet. Ibu percaya bahwa pengambilan sampel non probability sampling, khususnya pelatihan toilet tidak boleh dipaksakan karena mereka yakin metode purposive sampling. Jumlah sampel yang didapatkan bahwa anak-anak akan siap seiring bertambahnya usia. adalah 79 sampel Dapat di gambarkan bahwa orang tua belum sepenuhnya Instrumen Pengumpulan Data memahami pentingnya menerapan toilet training dan Pengumpulan mengajarkan anak untuk latihan toilet training sejak dini. kuesioner dukungan keluarga dan kesiapan toilet training. Dukungan keluarga yang baik dapat mempercepat kesiapan Kuesioner dukungan keluarga di adopsi dari penelitian anak dalam menjalani toilet training. Sebaliknya, kurangnya Yustanta, . yang terdiri dari 10 pertanyaan yang sudah dilakukan uji validitas dengan rumus Product Moment dan menyebabkan anak mengalami kesulitan. Berdasarkan dinyatakan valid . > 0,. , serta reliabel melalui uji penjelasan tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan Cronbach's Alpha dengan hasil 0,933 . > 0,. Sedangkan penelitian lebih lanjut tentang AuHubungan dukungan kuesioner kesiapan toilet training yang diadopsi dari keluarga dengan kesiapan toilet training pada anak usia penelitian Nurasri, . yang terdiri dari 12 pertanyaan toddler di Kelurahan BanyuradenAy. yang telah dilakukan uji Expert judgement dan dikatakan valid 12 pertanyaan. Pengumpulan Data Tujuan Penelitian Pengumpulan data berlangsung dari tanggal 10-28 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kesiapan toilet Juni 2025 di posyandu Kelurahan Banyuraden. training pada anak usia toddler di Kelurahan Banyuraden. Analisa Data Analisa data penelitian ini melibatkan 2 tahap. Pertama. Analisa Metode Penelitian karakteristik setiap variabel melalui distribusi frekuensi Desain Penelitian Penelitian korelasional yaitu tujuannya untuk menganalisis hubungan anatar variabel. Rancangan pada penelitian ini menggunakan pendekatan waktu cross sectional. Hipotesis Hipotesis penelitian ini, antara lain: HO: AuTidak ada hubungan dukungan keluarga dengan kesiapan toilet training training pada anak usia toddler di Kedua, analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan dukugan keluarga dengan kesiapan toilet training pada anak usia toddler di kelurahan Banyuraden. Untuk menguji hubungan tersebut, teknik analisa data yang digunakan adalah uji Chi square. Pertimbangan Etik Penelitian ini telah menperoleh persetujuan etik dengan nomor persetujuan etik 4544/KEP UNISA/VI/2025. Penelitian ini menerapkan prinsip etik yaitu Ethical Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 Clearance , sukarela, informed consent, anonymity tidak dicantumkan nama dan confidentiality untuk menjaga kerahasiaan responden. Hasil Tabel 2. Kategori Dukungan Keluarga Dukungan Keluarga Frekuensi . Presentasi (%) Mendukung 89,9 % Tidak Mendukung 10,1 % Total Sumber : Data Primer 2025 Berdasarkan tabel 2 menjelaskan dukungan Analisa Univariat keluarga sebagian besar dengan kategori mendukung yaitu Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Frekuensi Presentase Responden (%) Umur Anak 1 - 1,3 Tahun 1,4 - 1,6 Tahun 1,7 - 2 Tahun 2,1 - 3 Tahun Total Jenis Kelamin anak Perempuan Laki-Laki Total Orang Tua Ibu Ayah Total Pendidikan Terakhir Orang Tua SMK/SMA D3/D4/S1 Total Usia Orang Tua 20 Ae 35 Tahun >35 Tahun Total Sumber : Data Primer 2025 sebanyak 71 responden . ,9 %) dan sebanyak 8 responden Tabel 1 menunjukkan karakteristik responden berdasarkan jenis usia anak paling banyak berusia 2,1 Ae 3 tahun sebanyak 38 orang . ,8%) dan paling sedikit berusia 1 Ae 1,3 tahun sebanyak 11 orang . ,9%). Berdasarkan jenis kelamin anak, mayoritas berjenis kelamin laki-laki sebanyak . ,1 %) dengan kategori tidak mendukung. Tabel 3. Kesiapan Toilet Training Kesiapan Toilet Frekuensi . Presentasi (%) Training Siap 55,7 % Tidak Siap 44,3 % Total Sumber : Data Primer 2025 Tabel 3 menunjukkan bahwa mayoritas anak memiliki tingkat kesiapan toilet training dalam kategori siap yaitu sebanyak 44 anak . ,7 %). Sementara itu, 33 anak . ,3 %) memiliki kategori tidak siap. Berdasarkan distribusi tersebut, maka kesiapan anak menjalani toilet training sebagian besar yaitu siap. Analisa Bivariat Tabel 4. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kesiapan Toilet Training pada Anak Usia Toddler Dukungan Keluarga Kesiapan Toilet Training Siap Tidak Siap Mendukung Tidak Mendukung Total 0,019 Sumber : Data primer 2025 46 . dan berjenis kelamin perempuan sebanyak 33 Hasil tabel 4 dapat diketahui bahwa dukungan . ,8%). Berdasarkan karakteristik orang tua paling banyak keluarga dengan kategori mendukung dan kesiapan toilet adalah ibu sebanyak 66 orang . ,5%) dan ayah sebanyak training kategori siap sebanyak 43 responden . ,6%). 13 orang . ,5%). Berdasarkan pendidikan terakhir orang responden . ,5%) memiliki dukungan keluarga dengan tua, paling banyak dengan pendidikan terakhir SMK atau kategori mendukung dan kesiapan toilet training kategori SMA sebanyak 55 orang . ,6%) dan pendidikan terakhir D3 kurang siap. Responden yang memiliki dukungan keluarga atau D4 atau S1 sebanyak 24 orang . ,4%). Berdasarkan dengan kategori tidak mendukung dan kesiapan toilet usia orang tua, paling banyak yaitu usia 20-35 tahun training kategori siap sebanyak 1 responden . ,5%). sebanyak 60 orang . ,9%) dan >35 tahun sebanyak 19 responden . ,5%) memiliki dukungan keluarga dengan orang . kategori tidak mendukung dan kesiapan toilet training Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 kategori siap. Hasil uji chi square pada kolom fisherAos exact berusia 20 Ae 35 tahun sebanyak 60 responden . ,9%), test menunjukkan nilai significancy sebesar 0,019 < 0,05. Dalam penelitian Wibrata et al. , . , faktor yang dapat diartikan bahwa ada hubungan dukungan keluarga memengaruhi dukungan keluarga yaitu usia. Orang tua yang dengan kesiapan toilet training pada anak usia toddler di berusia lebih muda cenderung mengalami kesulitan dalam Kelurahan Banyuraden. memahami kebutuhan anak dan cenderung lebih berpusat pada diri sendiri . , dibandingan dengan ibu yang lebih dewasa dan memiliki pengalaman lebih banyak. Hasil Penelitian Penelitian 1 Dukungan Keluarga Andriyani Amalia, . Dukungan keluarga merupakan sikap dan tindakan menyebutkan bahwa dukungan keluarga memainkan peran anggota keluarga terhadap satu sama lain yang terdiri dari yang sangat penting dalam mendukung pertumbuhan anak, dukungan informasioanl, penilaian, instrumental, emosional. terutama dalam proses toilet training. Proses ini merupakan Responden yang memberikan dukungan terhadap toilet salah satu fase perkembangan penting yang harus dilalui training cenderung akan menerapkan setiap tahapannya oleh anak. Ketika anak berhasil melalui tahap ini, maka akan secara optimal selama masa pertumbuhan anak. Orang tua terbentuk sikap mandiri serta kesadaran akan kebersihan seacara teratur memberikan pujian atau apresiasi kepada Pada usia dini, penting untuk menumbuhkan sikap anak ketika dapat melakukan toileting dengan baik, serta mengajarkan anak untuk belajar membuka celananya pembiasaan sejak awal, sehingga nilai-nilai kemandirian Hal ini sejalan dengan dengan penelitian yang dapat berkembang secara optimal pada diri anak. dilakukan oleh (Nurasri, 2. , yang mengatakan bahwa 2 Kesiapan Toilet Training orang tua yang mampu memberikan dukungan secara Toilet Training adalah tahap perkembangan yang optimal berperan sebagai sumber motivasi, penyedia terjadi pada anak berusia 12-36 bulan. Beberapa indikator fasilitas, dan pendidik bagi anaknya. Keterlibatan orang tua yang dapat digunakan untuk menilai kesiapan anak dalam menjalani toilet training mencakup kesiapan psikologis, fisik dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah jumlah dan mental (Mendri, 2. Berdasarkan hasil penelitian waktu yang tersedia bagi anak serta tingkat pendidikan dari variabel toilet training didapatkan data, kesiapan fisik orang tua. anak pada penelitian ini ditunjukkan melalui kemampuan Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian anak berjongkok di toilet, membuka celananya sendiri dan besar responden memiliki latar belakang pendidikan memberi tahu saat popoknya penuh. Kesiapan secara mental menengah (SMK atau SMA) dan memberikan dukungan yang pada anak, pada penelitian baik dalam toilet training yaitu 50 responden. Hasil ini kemampuannya mengatakan keinginan untuk BAB dan BAK, sejalan dengan penelitian (Harahap. Batubara, 2. , yang dapat mengikuti perintah ke toilet dan meniru BAK orang menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang. Sedangkan kesiapan psikologis anak dapat dilihat semakin mudah ia mengakses informasi dan memahami dari kemampuannya untuk meminta mengganti celana kebutuhan anak. Sebaliknya, kurangnya pendidikan dapat apabila basah, tidak rewel apabila celananya basah dan kotor menghambat penerimaan informasi baru. Responden dan menunjukkan rasa ingin tahu ketika orang tua sedang dengan pendidikan lebih baik cenderung mendukung toilet BAK atau BAB. Pada penelitian ini, sebanyak 35 anak . ,3 training karena mereka siap dan memahami kebutuhan %) dinyatakan tidak siap dalam menjalani toilet training. anak, sehingga mampu memerikan dukungan yang lebih Menurut data yang didapat, ada beberapa faktor yang Tabel ini dapat dilihat dari ketidakmampuan anak untuk berjongkok di toilet selama 55 Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 10 menit, kesulitan membuka celana sendiri, tidak mengompol pada siang dan malam hari, rewel apabila celananya basah dan kotor. Penelitian ini menunjukkan bahwa kesiapan toilet training anak sebagian besar adalah siap. Penelitian (Nurasri, 2. , menyatakan bahwa dari 52 responden, hasil yang diperoleh adalah 32 anak . ,5%) yang menunjukkan kesiapan untuk melakukan proses toilet training. Sedangkan (Ananda et al. , 2. , yang menyatakan bahwa anak mengalami perkembangan yang cukup mendukung kesiapan anak dalam berlatih toileting. Hal ini disebabkan oleh peningkatan kemampuan fisik seiring bertambahnya usia Kesiapan fisik tersebut ditandai dengan kemampuan anak untuk berjongkok, pola BAB dan BAK yang teratur, dapat duduk dan berjalan dengan stabil, dapat melepas pakaiannya sendiri, tidak mengompol disiang maupun saat bangun tidur dan mampu menahan keinginan BAB dan BAK. Pengalaman, pendidikan orang tua dan peran orang tua merupakan faktor yang memengaruhi kesiapan toilet training pada anak. Dalam penelitian ini, responden memiliki menengah (SMK atau SMA), karena semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin baik seseorang dalam memahami dan pengambilan keputusan dan perilaku. Hasil penelitian (Murhadi et al. , 2. , menunjukan hasil sebanyak 29 ,0%) ,1%) Tingkat pendidikan yang rendah, semakin rendah Pendidikan ibu, semakin rendah juga kesiapannya untuk menerapkan toilet 3 Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kesiapan Toilet Training pada Anak Usia Toddler Berdasarkan tabel 4 menunjukkan hasil bahwa keluarga yang mendukung dengan anak yang siap dalam toilet training menunjukkan sebanyak 43 responden ,6%), memengaruhi kesiapan toilet training anak, salah satunya adalah dukungan dari keluarga, terutama adalah orang tua (Ananda et al. , 2. Dukungan keluarga didefinisikan sikap dan tindakan anggota keluarga terhadap satu sama lain instrumental, emosional (Gulo et al. , 2. Dukungan orang tua yang diberikan kepada anak yaitu dukungan informasional seperti memberikan pengetahuan dan arahan tentang fungsi dan penggunaan toilet dengan bahasa yang mudah dipahami anak, dukungan penilaian seperti memberikan apresiasi dan umpan balik positif agar anak tetap termotivasi dan percaya diri, dukungan instrumental seperti memberikan bantuan fisik seperti perlengkapan toilet anak untuk memudahkan proses belajar dan dukungan emosional seperti memberikan cinta, perhatian, dan kenyamanan agar anak merasa didukung dalam prosesnya (Gulo et al. , 2. Temuan ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Ananda et al. , . Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 26,7% yang memberikan dukungan kurang baik namun anaknya tetap menunjukkan kesiapan dalam toilet training. Sementara itu, sebanyak 72,2% dukungan keluarga yang baik berkaitan erat dengan kesiapan anak. Berdasarkan uji statistik chi-square, ditemukan hubungan signifikan antara dukungan orang tua dengan kesiapan toilet training pada anak usia toddler . -value 0,007. = 0,. Salah satu faktor utama yang memengaruhi kesiapan anak dalam menjalani toilet training adalah peran orang tua, sebab mereka yang secara langsung mengenalkan dan melatih anak. Pada usia toddler, kegagalan dalam BAB dan BAK sering terjadi akibat ketidaksiapan anak, umumnya disebabkan oleh minimnya keterlibatan orang tua dalam membentuk kesiapan anak sejak dini (Nurasri, 2. Dalam peneltian ini, responden memiliki kriteria yaitu mengasuh anak secara langsung. Responden dalam penelitian ini adalah keluarga inti yang terdiri dari ayah dan ibu. dukungan keluarga, terutama orang tua sangat penting dalam mempersiapkan anak untuk toilet training yang meliputi kesiapan psikologis, mental dan fisik. Dukungan optimal dari orang tua sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses ini, sebab lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama serta mendasar bagi anak. Oleh karena itu, pengalaman yang didapat anak akan tahap-tahapan Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 selanjutnya (Ananda et al. , 2. Keluarga juga menjalankan keluarga berupa dukungan informasi seperti memberikan berbagai peran, antara lain peran agama, biologis, fungsi penjelasan sederhana tentang fungsi dan penggunaan toilet, ekonomi, kasih sayang, perlindungan, pendidikan dan dukungan penilaian seperti memberi apresiasi dan umpan rekreasi (Faidzin, 2. balik agar anak termotivasi, dukungan instrumental seperti Dukungan orang tua yang baik sangat membantu anak memberi bantuan fisik dan dukungan emosional seperti dalam pelatihan toilet training. Namun meskipun orang tua memberi kasih sayang, perhatian dan dukungan agar anak sangat mendukung, kesiapan toilet training bergantung pada merasa aman kesiapan anak secara fisik, kognitif dan emosional. Tanpa kesiapan tersebut, dukungan orang tua saja tidak cukup Referensi