p-ISSN: 2776-3919 e-ISSN: 2776-2513 Vol. No. April 2022, page 67Ai74 http://jurnal. fib-unmul. id/index. php/mebang/article/view/23 Pembelajaran Seni Karawitan Jawa pada Anak Tunagrahita Ringan Learning Javanese Gamelan Music for Children with Mild Mental Retardation Hana Permata Heldisari*. Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Email: hana. permata@isi. Orcid: https://orcid. org/0000-0001-9799-6200 Received: 4 April 2022 Accepted: 26 May 2022 Published: 27 May 2022 Keywords: javanese gamelan, mental retardation, learning. Kata kunci: karawitan, tunagrahita. Abstract: This study aims to describe Javanese musical learning in mild mentally retarded children in terms of output and outcome. The subjects in this study were 20 mentally retarded children with the category of being able to learn from the Yogyakarta Bina Siwi Orphanage, which was divided into two groups, namely the control group and the experimental group. Research data were collected through performance assessments and questionnaires. The research instruments used were skill tests and product feasibility To see skills as the goal of musical learning and positive behaviour changes, as a result, they were analysed using the Manova test. The analysis prerequisite test used was the normality test using the Mahalanobis distance test and the multivariate homogeneity test using the Box's M test. The study results stated that musical learning in mentally retarded children through personal learning models could improve Javanese Gamelan playing skills and provide tendencies in behaviour including self-confidence, adaptive and cooperative. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran karawitan Jawa pada anak tunagrahita ringan dari segi output dan outcome. Subjek dalam penelitian ini adalah 20 anak tunagrahita dengan kategori mampu didik dari Panti Asuhan Bina Siwi Yogyakarta yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok Data penelitian dikumpulkan melalui penilaian unjuk kerja dan angket. Instrumen penelitian yang digunakan, yaitu tes keterampilan dan angket kelayakan Untuk melihat keterampilan sebagai tujuan dari pembelajaran karawitan dan perubahan perilaku positif sebagai dampaknya dianalisis menggunakan uji Manova. Adapun uji prasyarat analisis yang digunakan, yaitu uji normalitas menggunakan uji jarak Mahalanobis dan uji homogenitas multivariat menggunakan uji BoxAos M. Hasil penelitian menyebutkan bahwa pembelajaran karawitan pada anak tunagrahita melalui model pembelajaran personal dapat meningkatkan keterampilan bermain gamelan Jawa dan memberikan kecenderungan dalam perilaku di antaranya percaya diri, adaptif dan kerja sama. Citation: Heldisari. Pembelajaran Seni Karawitan Jawa pada Anak Tunagrahita Ringan. Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik, 2. , 67-74. https://doi. org/10. 30872/mebang. Creative Commons License Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License Pembelajaran Seni Karawitan Jawa pada Anak Tunagrahita Ringan Pendahuluan Tunagrahita adalah keadaan keterbelakangan mental, keadaan ini juga dikenal sebagai retardasi mental . ental retardatio. Anak tunagrahita memiliki IQ di bawah rata-rata anak normal pada umumnya, sehingga menyebabkan fungsi kecerdasan dan intelektual mereka terganggu yang memicu permasalahan lain pada masa perkembangannya. Perbedaan kemampuan dan kebutuhan mereka dibanding anak-anak pada umumnya membutuhkan bentuk penanganan dan layanan khusus sesuai dengan kemampuan mereka. Kemampuan mereka yang berbeda bukan menjadi alasan untuk menghindari bahkan membuang mereka, melainkan justru membuahkan kesadaran untuk menghargai keragaman individu dan memberi perhatian serta pelayanan ideal yang seharusnya mereka terima. Sayangnya, pandangan negatif yang masih ada terhadap anak tunagrahita semakin menyulitkan perkembangan mereka terutama dalam perkembangan mental dan sosialnya. Keterbatasan anak tunagrahita mengakibatkan mereka dipandang sebelah mata dalam lingkungannya bahkan sering kali dianggap objek, tanpa hak, bahkan produk gagal sehingga tidak membutuhkan pendidikan. Semua pihak mestinya sadar jika siapa pun, termasuk anak tunagrahita serta penyandang disabilitas lainnya mempunyai hak yang sama. Mereka berhak untuk mendapatkan pendidikan, memiliki pekerjaan dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu, pendidikan atau pelatihan khusus sangat dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan anak tunagrahita. Upaya pemerintah dalam memberikan layanan pendidikan pada anak berkebutuhan khusus masih membutuhkan kerja keras. Hal tersebut tersurat dalam artikel pada laman Kemdikbud bahwa pencapaian persentase masih sebesar 18% anak berkebutuhan khusus, termasuk anak tunagrahita yang telah mendapatkan layanan pendidikan. Oleh karena itu diperlukan program pelatihan agar mereka tetap mempunyai keterampilan walaupun tidak melalui pendidikan formal. Program pelatihan salah satunya adalah di bidang kesenian yang terdiri atas seni musik, seni rupa dan seni tari. Musik dapat menstimulasi anak tunagrahita untuk memperbaiki fungsi mental, motorik, dan intelegensinya (Heldisari & Astuti, 2. Keterlibatan dengan musik dapat meningkatkan persepsi diri pada anak tunagrahita (Hallam. Selain itu, kesempatan memainkan instrumen bisa dijadikan sebagai sebuah motivasi untuk mengelola emosi dengan lebih baik pada anak tunagrahita. Seperti yang dikatakan oleh Sze bahwa musik menciptakan respons fisiologis, yang terkait dengan reaksi emosional (Savina, 2. Keterbatasan fisik, mental dan kemampuan interaksi sosial, bukan halangan untuk menjadi manusia yang berharga bagi orang lain. Hasil penelitian terdahulu telah memberikan fakta bahwa musik dapat dijadikan media untuk meningkatkan kualitas anak tunagrahita dapat menjadi alasan untuk lembaga-lembaga yang menerima anak tunagrahita agar memiliki program dalam melatih anak-anak tunagrahita di bidang seni musik. Salah satu lembaga yang menerima anak tunagrahita, yaitu Panti Asuhan Bina Siwi. Panti Asuhan Bina Siwi yang terletak di Kecamatan Pajangan. Kabupaten Bantul Yogyakarta adalah salah satu lembaga yang mengasuh 32 anak berkebutuhan khusus yang terdiri atas 2 tunanetra, 4 tunadaksa, 2 autisme, dan 24 tunagrahita. Panti Asuhan Bina Siwi memiliki program dalam memberi bekal keterampilan mereka dalam bidang kesenian. Kesenian tersebut meliputi seni kerajinan dan seni musik. Dalam bidang seni kerajinan, anak-anak di panti tersebut dilatih untuk berkreasi membuat suvenir kipas, gantungan kunci, dan membatik. Sedangkan dalam bidang seni musik. Panti Asuhan Bina Siwi memiliki alat musik, rebana dan gamelan Jawa laras pelog juga slendro. Sayangnya. Hana Permata Heldisari untuk gamelan Jawa kurang dimanfaatkan dengan maksimal karena belum adanya pelatih yang bersedia memberikan pelatihan dalam bidang seni karawitan. Belum adanya kesempatan untuk menerima pelatihan seni karawitan menyebabkan anak tunagrahita di Panti Asuhan Bina Siwi belum memahami pola struktural dalam tiap irama pada masing-masing gendhing dan kerangka notasi balungan pada tiap gendhing. Dalam pembelajaran seni karawitan Jawa, anak tunagrahita dilatih untuk meningkatkan daya ingatnya terhadap notasi balungan laras pelog yang jangkauan nadanya tidak terlalu luas karena hanya terdapat tujuh angka di dalamnya, yaitu 1. , 3 . , 4 . , 5 . , 6 . , dan 7 . Pemilihan seni karawitan Jawa dengan laras pelog disesuaikan dengan kemampuan anak tunagrahita yang mengalami cognitive deficite ketika belajar. Cognitive deficite pada anak tunagrahita tercermin dalam persepsi, daya ingat, mengembangkan ide, evaluasi dan penalaran sehingga memiliki hambatan dalam menyimpan informasi terlebih pemikiran yang abstrak (Jellison & Duke, 1. Oleh karena itu, dengan pembelajaran seni karawitan Jawa diharapkan tidak memiliki kendala yang besar terhadap kemampuan anak tunagrahita dalam menyimpan informasi. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan mix method, kualitatif untuk mendeskripsikan proses pembelajaran yang diamati melalui observasi partisipan. Sedangkan analisis kuantitatif deskriptif untuk mendeskripsikan bentuk peningkatan dari sisi afektif yang diperoleh dari lembar observasi dengan skala rating. Pengamatan perilaku yang muncul pada anak tunagrahita menggunakan lembar observasi tertutup yang dilakukan oleh among panti. Lembar observasi ini diisi sebelum pembelajaran dan setelah pembelajaran selesai secara menyeluruh. Penilaian menggunakan skala rating 1Ai3, yaitu 1 . idak perna. , 2 . adang-kadan. , dan 3 . Pembahasan Tahapan pembelajaran ini secara garis besar terdiri atas tiga tahap, yaitu prapembelajaran, pembelajaran dan pascapembelajaran. 1 Prapembelajaran Dalam tahap ini, dilakukan sebelum memulai pembelajaran seni karawitan Jawa agar meminimalisir trial and error. Terdapat dua tahap, yaitu mempersiapkan pembelajaran dan memahami peserta didik. Pada tahap pertama, pelatih sebaiknya menguasai instrumen/ricikan gamelan, baik nama ricikan, karakternya maupun susunan larasnya. Selanjutnya, mempersiapkan materi pembelajaran. Materi yang diberikan sesuai dengan tujuan pembelajarannya, yaitu dapat memainkan gendhing alit irama lancaran dengan laras pelog. Repertoar gendhing Jawa oleh (Prehara & Supanggah, 2. dibagi menjadi tiga, yaitu gendhing ageng, gendhing tengahan dan gendhing alit. Gendhing alit, yaitu gendhing dengan pola kendhangan lancaran, ladrang dan ketawang. Gendhing tengahan, yaitu gendhing yang menggunakan pola kendhangan Candra untuk laras slendro dan kendhangan Sarayudha untuk laras pelog. Sedangkan gendhing ageng menggunakan pola kendhangan Jangga pada laras slendro dan kendhangan Semang Alit. Maawur, dan Semang Ageng untuk laras pelog. Bentuk Pembelajaran Seni Karawitan Jawa pada Anak Tunagrahita Ringan lancaran termasuk gendhing alit yang merupakan gendhing paling sederhana diantara Bentuk lancaran memiliki karakteristik sebagai berikut (Ishida, 2. Jumlah sabetan balungan atau dalam musik disebut ketukan dalam satu gongan . atu bari. terdiri atas 16 ketukan. Satu gongan terdiri atas 4 gatra, dalam musik gatra adalah birama. Setiap gatra terdiri atas 4 ketukan dengan rincian pada ketukan pertama dan ketiga untuk ricikan kethuk, ketukan kedua untuk ricikan kempul dan ketukan keempat untuk ricikan Ricikan gong pada ketukan keempat gatra terakhir dari setiap baris. Contoh gendhing alit irama lancaran dengan laras pelog yaitu: prau layar, gugur gunung, sluku-sluku bathok, kebogiro, manyar sewu, singa nebah, tropongan, tropongbang, udan mas. Dalam penelitian ini materi yang digunakan adalah lancaran Gugur Gunung dan Kebogiro. Pelatih minimal terdiri atas 3 orang, sesuai dengan pengelompokan ricikan gamelan Jawa, yaitu balungan, garap dan struktural. Pengelompokan ricikan secara garis besar berdasarkan fungsinya menjadi tiga, yaitu ricikan balungan, ricikan garap dan ricikan struktural (Prehara & Supanggah, 2. Ricikan balungan terdiri atas slenthem, demung, saron barung, saron penerus, bonang panembung. Ricikan garap terdiri atas rebab, gender barung, gender penerus, bonang barung, bonang penerus, gambang, siter, suling, dan sindhen. Sedangkan ricikan struktural terdiri atas kethuk kempyang, kendhang, kenong, kempul, gong, engkuk, kenong, kemanak dan kecer. Pada penelitian ini ricikan balungan terdiri atas 4 ricikan, yaitu slenthem, demung, saron barung, dan saron penerus. Ricikan garap terdiri atas bonang barung, bonang penerus dan sindhen. Sedangkan ricikan struktural terdiri atas kenong, kendhang, kempul dan Tiap ricikan dimainkan oleh satu anak tunagrahita kecuali kempul dan gong dimainkan oleh dua anak tunagrahita. Pada tahap kedua, pelatih juga harus memahami peserta didik baik secara fisik maupun non-fisik. Hal ini bertujuan untuk menyesuaikan kemampuan mereka terhadap ricikan yang akan mereka pelajari, juga sebagai bentuk pendekatan kepada peserta didik untuk memahami karakteristik mereka. Adapun tentang bagaimana pelatih menyikapi anak tunagrahita, yaitu . mendekatkan diri kepada peserta didik untuk membantu kemampuan adaptasinya dan kesulitan menjalin hubungan dengan orang lain. menyediakan catatan notasi yang mudah dipahami mengingat peserta didik mudah lupa dan sulit mengungkap suatu ingatan. pelatih membantu peserta didik untuk menghafal karena kemampuan membaca anak tunagrahita terbatas. Pelatih sebisa mungkin tidak memberi tekanan kepada anak agar anak tidak depresi. 2 Pembelajaran Pada tahapan pembelajaran, terdiri atas alokasi waktu dan tahapan pembelajaran. Pembelajaran seni karawitan dengan materi gendhing alit irama lancaran laras pelog dialokasikan sebanyak 8 kali pertemuan di mana dalam satu minggu terdapat 2 kali Masing-masing pertemuan membutuhkan waktu sebanyak 90 menit secara Pertemuan dilaksanakan secara rutin baik dalam pemilihan hari dan waktu dimulainya tiap pertemuan untuk membantu dalam mengorganisir dirinya sendiri, juga untuk keefektifan Pembelajaran seni karawitan Jawa pada anak tunagrahita dimulai dengan Hana Permata Heldisari pembukaan, demonstrasi, latihan personal, latihan bersama yang dilakukan berulang. Adapun rincian dari tiap tahap adalah sebagai berikut. 1 Pembukaan Tahap ini disampaikan melalui ceramah oleh tim pelatih. Materi pembukaan pada pertemuan pertama berupa berbagi cerita tentang pengalaman dalam bidang seni karawitan oleh tim pelatih. Sedangkan pada pertemuan selanjutnya, pembukaan diisi dengan refleksi pertemuan sebelumnya. Tahap pembukaan ini disampaikan selama 10 menit. 2 Demonstrasi Pada tahap demonstrasi, tim pelatih memberikan contoh yang terdiri atas tiap ricikan, yaitu ricikan balungan, ricikan garap dan ricikan struktural. Demonstrasi oleh tim pelatih dilaksanakan dengan memberikan contoh gendhing yang akan dipelajari sebanyak 3 putaran sebagai berikut. Ricikan balungan . , ricikan garap . onang barun. , ricikan struktural . Ricikan balungan . aron peneru. , ricikan garap . onang peneru. , ricikan struktural . ethuk-kenon. ricikan balungan . , ricikan garap . onang barun. , ricikan struktural . Demonstrasi dilaksanakan selama 10 menit. Setelah demonstrasi dilaksanakan, pelatih memulai pembelajaran secara personal dalam tiga kelompok ricikan yang ada pada tahapan selanjutnya. 3 Latihan Personal Awal Tahap ini dilaksanakan setelah demonstrasi oleh tim pelatih selama 30 menit. Tim pelatih yang terdiri atas 3 orang dibagi berdasarkan jenis ricikan, yaitu balungan, garap dan struktural. Pada penelitian ini ricikan balungan terdiri atas 4 ricikan, yaitu slenthem, demung, saron barung, dan saron penerus. Ricikan garap terdiri atas bonang barung, bonang penerus dan Sedangkan ricikan struktural terdiri atas kenong, kendhang, kempul dan gong. Tiap ricikan dimainkan oleh satu anak tunagrahita kecuali kempul dan gong dimainkan oleh dua anak tunagrahita. Pada tahapan ini tidak seperti pembelajaran pada anak-anak pada umumnya, yaitu dengan partitur atau notasi balungan yang tertulis. Hal ini dikarenakan keterbatasan dalam segi akademik, yaitu anak-anak belum mampu membaca dengan baik sehingga kesulitan apabila membagi fokus antara membaca, menghafal letak bilahan dan memainkan ricikan. Pada ricikan balungan, anak tunagrahita dimulai dengan menghafal notasi balungan setiap 2 gatra yang terdiri atas 8 ketukan balungan sehingga pada tahap ini, pelatih lebih dominan untuk membantu anak-anak menghafal. Setelah berhasil dihafalkan, kemudian dipraktikkan menggunakan ricikan masing-masing. Pada saat praktik dengan ricikan, pelatih sebaiknya secara personal mendampingi tiap anak. Karena selain menghafalkan notasi dengan lafal, anak tunagrahita juga perlu menghafalkan gerakan tangan mereka dalam menabuh sesuai dengan notasinya. Oleh karena itu, pelatih membantu dengan menunjuk bagian bilah yang dipukul. Untuk ricikan saron penerus menggunakan gaya permainan Karawitan Solo/ Pembelajaran Seni Karawitan Jawa pada Anak Tunagrahita Ringan Surakarta, yaitu imbal setelah ketukan balungan . Pada ricikan garap, ricikan bonang barung dan penerus pada dasarnya sama dengan ricikan balungan, yaitu dimulai dengan menghafal nada yang dimainkan. Akan tetapi karena memiliki pola yang berbeda, hafalan dilakukan setiap 4 gatra. Setelah berhasil dihafalkan, kemudian dipraktikkan dengan mengikuti pola sesuai irama lancaran. Untuk sindhen, mempelajari sendiri gendhing yang sedang dipelajari melalui mp3 player yang telah disediakan oleh pelatih. Setelah menghafal liriknya, pelatih secara personal memberikan evaluasi terhadap notasi nyanyiannya, sedangkan untuk ricikan garap letak ricikan kenong dan kethuk sebaiknya ditata dengan urutan yang selalu sama karena anak tunagrahita cenderung menghafalkan gerak tangan mereka. Walaupun begitu, pembelajaran tetap dimulai dengan menghafalkan nada yang akan ditabuh. Untuk ricikan kempul dan gong dipegang oleh satu Proses pembelajaran pada kempul dan gong dilaksanakan dengan mencermati pola kendhangan karena apabila diberikan pola hitungan akan mempersulit anak tunagrahita. Pada tahap ini, pelatih yang bertanggung jawab pada ricikan garap memulai latihan terhadap ricikan Dalam gending lancaran yang sederhana kendang yang dipergunakan cukup kendang ketipung . endang keci. dan kendang Bem . endang paling besa. Pola kendhangan dimainkan sesuai instruksi pelatih dengan lafal tak . , tung . , dhah . Tak . , yaitu sisi kecil kendang ketipung yang dipukul dengan telapak tangan. Tung . , yaitu sisi besar kendang ketipung yang dipukul dengan ujung jari jari telapak tangan. Sedangkan dhah . sisi besar di bagian pinggir kendang bem yang dipukul dengan telapak 4 Latihan Bersama Awal Setelah berlatih secara personal, maka tahapan selanjutnya adalah berlatih bersama yang berarti semua ricikan bermain secara bersamaan. Tahap ini dilaksanakan selama 10 menit. Pada tahap ini, pelatih sebaiknya mencermati bagian-bagian ricikan yang belum mampu mengikuti jalannya gendhing secara bersamaan. Setelah dicermati, maka pada tahap selanjutnya pelatih lebih fokus pada ricikan tersebut. 5 Latihan Personal Akhir Tahap ini dilaksanakan selama 20 menit yang difokuskan pada hasil evaluasi saat latihan 6 Latihan Bersama Akhir Tahap ini sama dengan latihan bersama sebelumnya. Akan tetapi, hasil pengamatan dilakukan untuk latihan pada pertemuan selanjutnya. 7 Penutup Pada tahap ini dilakukan evaluasi secara bersama-sama antara pelatih dengan anak tunagrahita sebagai peserta didik dalam pembelajaran seni Karawitan Jawa. Penyampaian evaluasi menggunakan bahasa yang memotivasi sehingga peserta didik tidak merasa rendah Hana Permata Heldisari 3 Pascapembelajaran Untuk melihat hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan berdasarkan aspek psikomotor dapat menggunakan ricikan non tes dengan lembar penilaian yang telah divalidasi. Aspek psikomotor dalam pembelajaran ini adalah keterampilan bermain gamelan Jawa. Perubahan perilaku peserta didik antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol berbeda secara signifikan dibuktikan dengan skor rata-rata kelompok eksperimen yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol pada saat posttest. Skor rata-rata posttest pada kelompok eksperimen sebesar 27,83, sedangkan skor rata-rata posttest pada kelompok kontrol sebesar 19,08. Hasil uji tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan perilaku antara peserta didik yang diajarkan dengan menggunakan produk dan yang tidak menggunakan produk di Panti Asuhan Bina Siwi Yogyakarta. Oleh sebab itu, perilaku peserta didik merupakan salah satu aspek dari domain afektif yang mempunyai pengaruh dalam proses pembelajaran khususnya pembelajaran terkait dengan penelitian ini. Perubahan perilaku tersebut dibuktikan dengan hasil penelitian yang telah dilaksanakan. Perubahan perilaku pada kelompok eksperimen lebih signifikan dibandingkan kelompok Adapun perbedaan perubahan perilaku pada kelompok kontrol ada pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil Penilaian Perilaku Kelompok Kontrol Perilaku Percaya diri Kerja keras Mandiri Kemampuan adaptasi Fokus Bekerja sama Tanggung jawab Tidak merasa kesepian Tidak mudah lupa Pretest Postest Peningkatan Tabel 1 menunjukkan bahwa terdapat perubahan perilaku percaya diri, adaptasi dan kerja sama sebesar 23 poin. Sedangkan perubahan perilaku pada kelompok eksperimen dijelaskan pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil Penilaian Perilaku Kelompok Eksperimen Perilaku Percaya diri Kerja keras Mandiri Kemampuan adaptasi Fokus Bekerja sama Tanggung jawab Tidak merasa kesepian Tidak mudah lupa Pretest Postest Peningkatan Tabel 2 menunjukkan bahwa lebih banyak perilaku positif yang mengalami perubahan. Akan tetapi, perilaku percaya diri, adaptasi dan kerja sama cenderung mengalami peningkatan Pembelajaran Seni Karawitan Jawa pada Anak Tunagrahita Ringan yang lebih signifikan dibandingkan kelompok kontrol, yaitu sebesar 52 poin yang dapat dilihat bahwa dua kali lipat lebih efektif. Dari kedua tabel perilaku tersebut menjelaskan bahwa pembelajaran seni karawitan Jawa pada anak tunagrahita dengan produk yang dikembangkan dapat memperkuat perilaku percaya diri, mudah beradaptasi, dan kerja sama lebih efektif. Penutup Tunagrahita ringan atau mampu didik dapat menerima pembelajaran karawitan Jawa bentuk lancaran dengan baik, tergantung bagaimana pelatih mencari pendekatan yang tepat sesuai dengan karakteristik mereka. Pembelajaran karawitan Jawa dengan model pembelajaran personal dapat meningkatkan keterampilan bermain gamelan Jawa dan memberi dampak terhadap perilaku positif anak tunagrahita, yaitu percaya diri, lebih mudah beradaptasi, dan bekerja sama. Pada penelitian selanjutnya, penelitian dapat dilanjutkan terhadap subjek penelitian dengan kriteria anak berkebutuhan khusus lainnya menggunakan materi dari jenis gendhing dan laras yang berbeda. Daftar Pustaka