Al Basirah Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 5. Nomor 2. Desember 2025 Hal. ISSN 2776-4702 . 2798-5946 . https://doi. org/10. 58326/jab. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS MASJID MELALUI PELATIHAN PETERNAKAN MODERN DI DESA CARANGREJO KABUPATEN PONOROGO Mosque-Based Community Empowerment through Modern Animal Husbandry Training in Carangrejo Village. Ponorogo Regency Moh. Ihsan Fauzi Institut Agama Islam Riyadlotul Mujahidin (IAIRM) Ngabar. Ponorogo ihsanfauzi27@gmail. Umar Mukhtar Al-Madiuni Institut Agama Islam Riyadlotul Mujahidin (IAIRM) Ngabar. Ponorogo ummar2155@gmail. Abstrak Pemberdayaan masyarakat terhadap jamaah masjid memiliki dampak sosial yang besar bagi Masjid tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah tetapi juga memiliki fungsi sosial dalam pembinaan umat. Hal ini penting dilakukan agar kegiatan dan simbol-simbol kegamaan tidak hanya fokus pada hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga harus memperhatikan pada hubungan sesama manusia, khususnya kesejahteraan jamaah itu sendiri. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan jamaah masjid melalui pelatihan peternakan modern agar masyarakat dapat meningkatkan produktifitas dan efektifitas dalam berternak kambing. Selain itu, kegiatan ini juga dapat memperluas fungsi sosial masjid di Desa Carangrejo. Metode yang digunakan dalam pengabdian kepada masyarakat ini adalah ceramah, dialog, dan praktik lapangan terkait peternakan modern. Jamaah diberi pemahaman terkait perencanaan dan perawatan ternak, pembuatan pakan ternak, sampai bagaimana memasarkan hewan ternak secara modern. Hasil dari pelatihan ini menunjukkan bahwa jamaah masjid di Desa Carangrejo pada dasarnya memiliki potensi peternakan yang dapat dikembangkan secara modern. Sehingga dengan adanya pelatihan ini jamaah mampu menerapkan pengetahuan dalam usaha peternakan yang dikelola secara modern yang akan berdampak pada peningkatan kualitas dan kuantitas hasil peternakan dibandingkan dengan pengelolaan ternak secara tradisional. Kegiatan ini juga membuktikan bahwa masjid dapat menjadi motor penggerak kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan serta menjadikan jamaah menjadi lebih mandiri dan Sejahtera. Kata kunci: pemberdayaan masyarakat , masjid, peternakan modern Abstract Community empowerment of mosque worshippers has a great social impact on welfare. Mosques not only function as a means of worship but also have a social function in fostering the people. This is important so that religious activities and symbols not only focus on the relationship Moh. Ihsan Fauzi. Umar Mukhtar Al-Madiuni between humans and their God, but also must pay attention to the relationship between humans, especially the welfare of the pilgrims themselves. This community service activity aims to improve the welfare of mosque worshippers through modern livestock training so that the community can increase productivity and effectiveness in raising goats. In addition, this activity can also expand the social function of mosques in Carangrejo Village. The methods used in this community service are lectures, dialogues, and field practices related to modern animal husbandry. Pilgrims were given an understanding related to livestock planning and maintenance, making animal feed, and how to market livestock in a modern way. The results of this training show that mosque worshippers in Carangrejo Village basically have the potential for livestock that can be developed in a modern way. So that with this training, the pilgrims are able to apply knowledge in the livestock business that is managed in a modern manner which will have an impact on improving the quality and quantity of livestock products compared to traditional livestock management. This activity also proves that mosques can be the driving force of the community's social and economic life in a sustainable manner and make worshippers more independent and prosperous Keywords: community empowerment, mosques, modern livestock PENDAHULUAN Masjid memiliki peran penting bagi umat Islam, di samping fungsi utamanya sebagai tempat ibadah, masjid juga memiliki posisi strategis dalam kegiatan pembinaan umat. Sejarah mencatat bahwa langkah pertama yang dibangun Rasulullah dalam membangun masyarakat Madinah adalah dengan mendirikan masjid (Ridwanullah & Herdiana, 2. Hal ini tidak lepas dari peran dan posisi masjid yang sangat strategis untuk memberikan pembinaan, bukan hanya sekedar dakwah perkara ubudiyyah tetapi juga perkara sosial kemasyarakatan yang berkembang saat itu. Masjid sebagai tempat pembinaan umat khususnya yang berkaitan dengan masjid sebagai tempat taqwiyatul ummat yang bermakna pemberdayaan masyarakat telah dijalankan sejak lama. Di mana pada masa sahabat dan tabiAoin masjid juga berfungsi sebagai tempat baitul mal yang mengelola zakat, infak, sedekah, dan wakaf yang ditujukan untuk kemaslahatan umat, dalam hal ini adalah bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera (Rizki, 2. Pembinaan umat menjadi penting untuk dilakukan, karena keberhasilan pembangunan Masjid bukan terletak pada megahnya bangunan Masjid saja, tetapi juga harus diikuti kesejateraan para jamaahnya. Pembinaan guna mencapai kesejahteraan ini tidak bermaksud menjadikan masjid sebagai pasar atau pusat ekonomi, melainkan menjadikan masjid sebagai magnet atau wadah pemersatu bagi jamaah untuk berkumpul dan berkolaborasi meningkatkan kesejahteraan hidupnya, dengan kata lain memberdayakan masyarakat dengan basis utama para jamaah masjid (Alwi, 2. Al Basirah. Volume 5. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2776-4702 . 2798-5946 . https://e-journal. id/index. php/albasirah Moh. Ihsan Fauzi. Umar Mukhtar Al-Madiuni Indonesia sebagai Negara agraris memiliki potensi peternakan yang besar, namun besarnya potensi peternakan ini belum mampu dikelola dengan maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sebagian besar peternakan justru masih berbentuk peternakan rakyat, yaitu peternakan yang bercirikan dengan usaha skala kecil dan manajemen pemeliharaan yang masih tradisional (Subekti, 2. Salah satu komoditas peternakan yang menjadi andalan masyarakat adalah peternakan kambing dan domba. Sebagaimana yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat Kabupaten Ponorogo-Jawa Timur. Berdasarkan sensus pertanian tahun 2023, peternakan kambing dan domba di Kabupaten Ponorogo menempati urutan pertama dari sepuluh komoditas pertanian yang paling banyak diusahakan. Dengan jumlah Usaha Pertanian Perorangan (UTP) sebanyak 178 (BPS Kabupaten Ponorogo, 2. Usaha Pertanian Perorangan (UTP) merupakan unit usaha pertanian yang dikelola secara perorangan dan tanggung jawab teknis, yuridis maupun ekonomis berada pada satu orang tersebut (BPS Kabupaten Ponorogo, 2. Sebagaimana diketahui bahwa mayoritas peternakan yang diusahakan oleh jamaah Masjid Baitul Huda Desa Carangrejo Kabupaten Ponorogo masih berbentuk peternakan rakyat, yaitu peternakan perorangan yang menjadi usaha sampingan dan dikelola secara sederhana atau tradisional, baik dari segi pemeliharaan dan pemasarannya. Seperti halnya dalam pemberian pakan. Para peternak masih menggunakan pemberian pakan kambing secara manual sehingga para peternak mencari makanan kambing setiap harinya, hal ini tentunya menghabiskan tenaga dan waktu karena setiap harinya harus untuk mencari rerumputan atau Hal ini tentu secara ekonomi belum mampu memberikan dampak besar bagi kesejahteraan rakyat. Guna meningkatkan produktifitas peternakan kambing dan domba pada UTP ini, perlu adanya peralihan model peternakan yang dikelola secara sederhana atau tradisional menuju peternakan yang dikelola secara modern. Seperti halnya pada pakan yang diberikan, karena pakan yang dikelola secara modern dengan bantuan teknologi pengolahan pakan yang tepat dapat meningkatkan pertambahan bobot hewan ternak (Nuryati et al. , 2. Sehingga dengan pertambahan bobot hewan ternak serta penyediaan pakan yang efektif dapat memberikan nilai ekonomis lebih bagi para peternak. Solusi alternatif yang bisa di perkenalkan kepada peternak kambing bagi jamaah Masjid Baitul Huda Desa Carangrejo adalah model pengolahan pakan ternak dengan cara silase. Silase merupakan hijauan yang diawetkan secara fermentasi dengan kadar air yang relatif Al Basirah. Volume 5. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2776-4702 . 2798-5946 . https://e-journal. id/index. php/albasirah Moh. Ihsan Fauzi. Umar Mukhtar Al-Madiuni tinggi, yaitu 40-80%. Pakan dengan model silase memiliki keunggulan tahan lama, tidak memerlukan proses pengeringan, meminimalisir kerusakan zat/gizi akibat pemanasan serta mengandung asam-asam organik yang berfungsi menjaga keseimbangan populasi mikroorganisme pada rumen (Daning et al. , 2. Selain masalah efektifitas waktu dan tenaga, ketersediaan pakan hijauan di Desa Carangrejo pada musim hujan cukup melimpah, akan tetapi pada musim kemarau pakan hijauan yang menjadi sumber utama pakan ternak di Desa Carangrejo menjadi sulit untuk Hal ini tentu pengolahan pakan dengan model silase juga dapat menjadi solusi untuk pembuatan Bank Pakan ternak. Berdasarkan analisis pada kondisi dan situasi di atas, kami melaksanakan pelatihan peternakan modern bagi jamaah Masjid Baitul Huda Desa Carangrejo Kabupaten Ponorogo. METODE Kegiatan pengabdian berbasis komunitas ini menggunakan pendekatan PAR (Participatory Action Researc. yang mengedepankan pada aspek partisipasi aktif masyarakat berkaitan dengan pengumpulan data, analisis dan tindakan (Mubarok et al. , 2. PAR meruapakan model penelitian yang ditujukan untuk mencari sesuatu yang dapat menghubungkan proses penelitian ke dalam proses perubahan sosial. Perubahan sosial yang dimaksud adalah bagaimana proses pemberdayaan dapat mewujudkan 3 hal yang menjadi tolak ukur, yaitu adanya komitmen bersama masyarakat, adanya pemimpin yang muncul dari masyarakat dan adanya institusi baru yang dibangun oleh masyarakat berdasarkan kebutuhan (Rusli et al. , 2. Participatory Action Research (PAR) adalah kegiatan riset yang dilakukan secara partisipatif oleh masyarakat dalam suatu komunitas atau lingkungan sosial yang lebih luas, dengan tujuan mendorong terjadinya perubahan kondisi hidup ke arah yang lebih baik melalui aksi-aksi transformatif. PAR memiliki tiga pilar utama, yaitu metodologi riset, dimensi aksi, dan dimensi partisipasi. Artinya. PAR harus menggunakan pendekatan riset yang jelas, berorientasi pada perubahan nyata, serta melibatkan sebanyak mungkin anggota masyarakat sebagai pelaksana aktif dalam proses riset dan aksi tersebut (Syamsiyati & Yudhistira, 2. Kegiatan Pegabdian Kepada Masyarakat 2024 di Desa Carangrejo Kabupaten Ponorogo difokuskan pada pemberian pelatihan peternakan modern bagi jamaah Masjid Baitul Huda yang memiliki ternak kambing. Pelatihan ini yang diberikan berupa penyampaian pengetahuan tentang tata cara perawatan ternak yang baik dan cara mengobati ternak yang sakit, pembuatan Al Basirah. Volume 5. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2776-4702 . 2798-5946 . https://e-journal. id/index. php/albasirah Moh. Ihsan Fauzi. Umar Mukhtar Al-Madiuni pakan dengan model silase agar masyarakat dapat menggunakan waktu secara efisien karena tidak perlu mencari rumput setiap hari, dan cara pemasaran hasil peternakan agar tidak bergantung pada tengkulak. Adapun tahap pelaksanaannya sebagai berikut: Tahap Persiapan Pada tahap ini. Dosen dan mahasiswa melakukan survei pendahuluan menuju lokasi yang telah ditentukan. Survei ini dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung kondisi masyarakat Desa Carangrejo untuk mengidentifikasi potensi yang dimiliki masyarakat dan mengetahui kondisi lingkungan yang berkaitan dengan peternakan kambing. Termasuk guna menggali informasi bagaimana praktik pengelolaan ternak yang terjadi di kalangan masyarakat Desa Carangrejo. Temuan lapangan yang diperoleh melalui survei kemudian dianalisis, khususnya pada identifikasi permasalahan utama, yaitu dalam bidang peternakan kambing, seperti aspek pakan, kesehatan hewan, manajemen ternak dan pemasarannya. Hasil analisis ini kemudian menjadi dasar untuk menyusun rencana kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahap selanjutnya, agar program pengabdian masyarakat ini dapat tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata. Tahap Pelaksanaan Pada tahap ini,kegiatan fokus pada pemberian materi dan pengetahuan terkait model peternakan kambing secara modern. Materi yang diberikan mencakup berbagai aspek, seperti manajemen perawatan ternak, pembauatan pakan silase, tata cara pemasaran agar mendapatkan harga jual yang layak dan menguntungkan. Hal ini bertujuan agar masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik dalam mengelola peternakan secara lebih efisien dan berkelanjutan. Bentuk pelatihan yang dilakukan dibagi dalam beberapa sesi, pertama, berupa penyampaian materi dasar, kedua, dialog interaktif untuk menjawab berbagai pertanyaan dan permasalahan yang dihadapi masyarakat, serta ketiga, berupa praktik secara langsung bagaimana tata cara pembuatan pakan ternak dengan metode silase. Hal ini dilakukan agar dapat memberikan pemahaman secara menyeluruh dan mendorong partisipasi aktif dari masyarakat dalam proses pelatihan, selain itu dengan adanya praktik pembuatan pakan silase secara langsung juga diharapkan masyarakat dapat mengaplikasikan secara langsung materi yang didapat. Tahap Evaluasi Pada tahap ini, dilakukan evaluasi terhadap kegiatan pelatihan peternakan kambing modern. Evaluasi ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana pemahaman dan Al Basirah. Volume 5. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2776-4702 . 2798-5946 . https://e-journal. id/index. php/albasirah Moh. Ihsan Fauzi. Umar Mukhtar Al-Madiuni minat masyarakat terhadap model pengelolaan ternak secara modern. Penilaian dilakukan dengan melakukan observasi dan diskusi dengan para peserta pelatihan. Kemudian dilanjutkan dengan program rencana tindak lanjut untuk mengawal dan memberikan pendampingan kepada masyarakat agar model peternakan kambing secara modern ini dapat diterapkan dengan baik dan dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang muncul. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian kepada msyarakat ini adalah pelatihan peternakan modern yang dihadiri oleh Dosen dan Mahasiswa Inistitut Agama Islam Islam Riyadlotul Mujahididn (IAIRM) Ngabar. Pemateri yang merupakan praktisi peternakan modern, dan jamaah Masjid Baitul Huda Desa Carangrejo yang memiliki ternak kambing. Pelatihan ini dilaksankan pada Sabtu, 16 Maret 2024 dengan tujuan agar masyarakat memiliki pengatahuan terkait peternakan modern. Gambar 1. Diskusi Peternakan Modern Peternakan kambing yang dilakukan oleh Sebagian besar jamaah Masjid Baitul Huda Desa Carangrejo adalah berupa peternakan rakyat dengan jumlah hewan ternak yang dimiliki kurang dari sepuluh ekor. Serta pemeliharaan hewan ternak yang masih tradisional, yaitu memcari pakan berupa rumput maupun daun setiap pagi dan sore. Begitu juga dengan proses penjualan yang hanya terbatas pada blantik . engkulak hewan terna. yang justru tidak dapat memberikan keuntungan optimal bagi peternak. Mencari pakan kambing setiap pagi dan sore merupakan salah satu masalah utama dalam peternakan yang dilakukan oleh jamaah Masjid Baitul Huda Desa Carangrejo. Aktifitas Al Basirah. Volume 5. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2776-4702 . 2798-5946 . https://e-journal. id/index. php/albasirah Moh. Ihsan Fauzi. Umar Mukhtar Al-Madiuni tersebut menyita banyak waktu dan energi serta menambah biaya pemeliharaan hewan ternak. Hal ini menjadikan usaha ternak kambing yang dilakukan oleh jamaah Masjid Baitul Huda Desa Carangrejo tidak memiliki dampak ekonomi yang bagi kesejahteraan. Lantara keuntungan yang didapat cukup minim. Solusi yang dapat dilakukan atas permasalahan tersebut adalah beralihnya dari model peternakan tradisional menunju model peternakan modern. Salah satu bentuk peternakan modern adalah terkait cara pengolahan pakan yang efektif, berbeda dengan pengolahan pakan tradisional yang memerlukan waktu dan tenaga yang lebih besar yang jika dihitung secara nominal akan memakan biaya yang besar. Pengolahan pakan dalam peternakan modern dapat dilakukan dengan model silase atau pengawetan pakan hijauan. Terdapat tiga komponen utama yang dibutuhkan dalam pembuatan silase yaitu: pertama, wadah/tempat peyimpanan seperti drum, jedingan, plastik, dan silobag. Kedua, kadar air bahan baku silase tidak boleh terlalu tinggi, sehingga harus dilayukan terlebih dahulu. Ketiga, alat pencacah, bisa menggunakan mesin chopper atau alat lainnya. Setelah ketiga komponen tersebut siap, baru kemudian proses pengolahan pakan dengan cara silase dapat dilaksanakan dengan ketentuan berikut ini: Potong hijauan dari tempatnya. Layukan hijauan sampai benarbenar layu. Lanjut cacah hijauan dan pilih mesin cacah yang menghasilkan ukuran maksimal 5 cm. Cek kadar air. Tambahkan bahan pakan kering seperti katul dan titen giling. Masukkan wadah dan padatkan. Simpan minimal 21 hari. Gambar 2. Praktik Pembuatan Pakan Silase Selain dari segi pengolahan pakan, peternakan modern juga memiliki cara tersendiri terkait proses pemasaran, salah satunya mengikuti perkembangan zaman, yaitu pemasaran Al Basirah. Volume 5. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2776-4702 . 2798-5946 . https://e-journal. id/index. php/albasirah Moh. Ihsan Fauzi. Umar Mukhtar Al-Madiuni kambing melalui media sosial. Dalam mencapai keberhasilan dalam memasarkan produk hasil ternak, para peternak perlu merencanakan strategi pemasaran yang efektif. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diterapkan. Pertama, mengidentifikasi target pasar, yaitu dengan mengetahui siapa target pasar yang dituju sangat penting dalam strategi pemasaran. Apakah produk hasil ternak ditujukan untuk para pecinta daging, keluarga dengan anak-anak, atau konsumen dengan preferensi gaya hidup sehat? Dengan mengenal target pasar dengan baik, peternak dapat mengarahkan aktivitas pemasaran dengan lebih efektif. Kedua, menggunakan media sosial. Media sosial telah menjadi alat pemasaran yang sangat efektif dalam beberapa tahun terakhir. Peternak dapat memanfaatkan platform seperti Facebook. Instagram, dan Twitter untuk mempromosikan produk mereka kepada khalayak yang lebih luas. Konten menarik yang menggugah selera bisa menjadi daya tarik bagi konsumen Ketiga, membangun kemitraan. Kemitraan dengan toko-toko lokal, restoran, atau pasar swalayan dapat membantu memperluas jangkauan pasar produk ternak. Peternak dapat menjalin kerjasama dengan pihak-pihak ini untuk menyediakan produk berkualitas langsung kepada konsumen. Keempat, mengedepankan kualitas. Kualitas produk merupakan kunci utama dalam mempertahankan dan memenangkan pasar yang kompetitif. Peternak perlu memastikan bahwa ternak mereka dipelihara dengan baik, makanan yang diberikan berkualitas tinggi, dan menjaga kebersihan dalam proses produksi. Dengan memberikan produk dengan kualitas terbaik, peternak bisa mendapatkan kepercayaan konsumen dalam jangka panjang. Penting untuk diingat bahwa memasarkan produk hasil ternak bukan hanya sekadar menjual produk, tetapi juga memengaruhi persepsi konsumen tentang merek dan kualitas. Perencanaan yang matang dan pelaksanaan strategi pemasaran yang tepat dapat menjadi kunci keberhasilan dalam memasarkan produk hasil ternak. KESIMPULAN Peternakan kambing yang dilakukan oleh jamaah Masjid Baitul Huda Desa Carangrejo masih bersifat tradisional dan belum mampu memebrikan dampak optimal bagi kesejahteraan. Dengan adanya pelatihan peternakan modern bagi jamaah Masjid, selain dapat meningkatkan kesejahteraan melalui peternakan kambing, juga diharapkan bahwa Masjid tidak hanya berfungsi untuk aktifitas ibadah saja, melainkan juga menjadi magnet pemersatu atau instrumen pembinaan umat melalui permberdayaan masyarakat yang berbasis pada Masjid. Al Basirah. Volume 5. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2776-4702 . 2798-5946 . https://e-journal. id/index. php/albasirah Moh. Ihsan Fauzi. Umar Mukhtar Al-Madiuni Pengembangan dan pemberdayaan bagi jamaah masjid perlu dilakukan secara massal sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sehingga saran yang bisa Penulis sampaikan berdasarkan penelitian ini adalah adanya kerjasama antara pemerintah pusat maupun daerah. Dewan Masjid Indonesia, dan para pelaku usaha untuk memberikan pelatihan dan pengembangan keahlian yang dibutuhkan oleh para jamaah masjid. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh perangkat Desa Carangrejo dan Jamaah Masjid Baitul Huda yang telah memberikan izin dan ikut berpartisipasi dalam program pengabdian masyarakat Institut Agama Islam Riyadlotul Mujahidin (IAIRM) Ngabar-Ponorogo. Serta tidak lupa juga kami sampaikan kepada jajaran rektorat yang telah telah memberi dukungan secara penuh terhadap program pengabdian masyarakat ini. DAFTAR PUSTAKA