Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 8 No. 1 Juli 2025 Hal : 12 - 24 Available Online at jurnal. id/focus INTERAKSI AGEN DAN STRUKTUR DALAM TRANSFORMASI KOMODITAS PERTANIAN DI DESA WARJABAKTI Vita Adriani Lestari1*. Wahyu Gunawan2. Aditya Candra Lesmana3. Desi Yunita4 1 Program Studi Sosiologi. Universitas Padjadjaran 2,3,4 Departemen Sosiologi. Universitas Padjadjaran Article history Received : 19 Februari 2025 Revised : 25 Juni 2025 Accepted : 30 Juni 2025 *Corresponding author Email : vita21004@mail. No. doi: 10. 24198/focus. ABSTRAK Desa Warjabakti adalah sebuah desa yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani sayur. Akan tetapi, hasil tani tersebut belum mampu membuat mereka mencapai taraf hidup yang sejahtera. Untuk itu, dibentuklah program pembangunan masyarakat melalui transformasi komoditas berupa penanaman jeruk. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori strukturasi dari Anthony Giddens. Melalui teori ini, peneliti bertujuan untuk mengetahui dualitas antara agen dan struktur dalam melakukan transformasi komoditas pertanian. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui tantangan yang dihadapi Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara observasi non partisipatoris, wawancara semi terstruktur, dan Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah dualitas antara agen dan struktur dapat menciptakan perubahan yang berpotensi meningkatkan pendapatan petani melalui penanaman komoditas baru. Hal ini menunjukkan petani selaku agen tidak hanya berperan sebagai objek tetapi juga subjek pembangunan. Melalui menciptakan perubahan melalui reproduksi struktur yang bersifat memberdayakan. Namun demikian, perubahan ini belum dapat dirasakan sepenuhnya karena terdapat berbagai tantangan bagi petani untuk menciptakan keberlanjutan dari program yang telah Kata kunci: Strukturasi. Pembangunan Masyarakat. Transformasi Komoditas ABSTRACT Warjabakti Village is a village where the majority of the population works as vegetable farmers. However, these agricultural products have not been able to help them achieve a prosperous standard of living. For this reason, a community development program was formed through commodity transformation in the form of orange planting. The theory used in this study is the structural theory of Anthony Giddens. Through this theory, the researcher aims to determine the duality between agents and structures in agricultural commodity transformation. In addition, this study also aims to find out the challenges faced by agents in creating change. The Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 8 No. 1 Juli 2025 Hal : 12 - 24 Available Online at jurnal. id/focus method used in this study is qualitative descriptive. The data collection techniques in this study were carried out using nonparticipatory observation, semi-structured interviews, and The results obtained from this study are that the duality between agents and structures can create changes that have the potential to increase farmers' income through the planting of new commodities. This shows that farmers, as agents, play an important role not only as objects but also as subjects of development. Through their consciousness, agents seek to create change through the reproduction of empowering However, this change has not been fully felt because there are various challenges for farmers to create sustainability from the planned program. Key word: Structuration. Community Development. Commodity Transformation PENDAHULUAN Desa Warjabakti adalah sebuah desa yang potensial bagi pertumbuhan berbagai Umumnya, komoditas yang dihasilkan di desa ini adalah kopi, bawang daun, jagung, wortel, kol, dan lain sebagainya (Susanto et al. Akan kepemilikan lahan dan fluktuasi harga pangan menjadi kendala utama bagi kesejahteraan petani di desa ini. Untuk itu, komoditas berupa penanaman jeruk. Program ini melibatkan berbagai aktor yang terdiri dari pemberdaya, petani, pemerintah desa, dan Perhutani. Dalam konteks ini, pemberdaya berasal dari seorang akademisi yang berperan sebagai Agen merupakan setiap individu atau kelompok yang memiliki kekuatan dan keterampilan untuk memfasilitasi dan memandu jalannya perubahan (Herlina et al. , 2. Agen perubahan dapat berasal dari luar masyarakat sedangkan agen pembangunan sebaiknya berasal dari internal masyarakat yang hendak diberdayakan. Dalam penelitian ini, petani adalah aktor yang Agen pembangunan itu sendiri diartikan sebagai akor yang bertugas dalam melakukan interelasi kelompok masyarakat dengan kelompok sumber daya baik di dalam maupun di luar masyarakat (Gunawan. Himma, et al. Melalui kesadaran diskursifnya, petani melakukan tindakan dengan memilih jeruk sebagai komoditas baru yang (Aluhariandu et al. , 2016. Didk et al. , 2021. Gunawan et al. , 2. Hal ini kemudian kelompok tani yang didasarkan atas ikatan Kelompok ini menanam berbagai jenis jeruk dan melakukan menemukan varietas unggulan. Tindakan ini dilakukan secara berulang hingga mendorong kesadaran praktis yang menjadi kunci terciptanya reproduksi struktur melalui praktik sosial yang dilakukan dalam lintasan ruang dan waktu (Utama et al. , 2022. Suminar, 2. Program penanaman jeruk telah berhasil dilakukan sejak tahun 2019. Keberhasilan ini dicapai berkat kerja sama dari setiap aktor. Adapun, bentuk kerja sama itu berupa pemberian modal oleh pemberdaya serta akses lahan oleh pemerintah desa dan Perhutani. Pihakpihak kesepakatan berupa pembagian hasil panen, pengolahan jeruk ke dalam produk Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 8 No. 1 Juli 2025 Hal : 12 - 24 Available Online at jurnal. id/focus turunan, hingga pembentukan wisata petik Kesepakatan ini adalah bentuk stimulus agar petani selaku agen Kesepakatan menandakan struktur yang dikatakan Giddens sebagai aturan dan sumber daya yang selalu diproduksi dan direproduksi serta memiliki hubungan dualitas dengan agen (Astuti, 2. Interaksi antara agen dan struktur terbukti mampu menciptakan komoditas di Desa Warjabakti. Hal ini dibuktikan dengan tumbuhnya berbagai jenis jeruk yang berpotensi memberikan keuntungan bagi para petani. Selain itu, interaksi antar keduanya juga mampu membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya program tersebut. Dalam pelaksanaannya, proses transformasi ini mengalami berbagai Pada awalnya, dualitas antara agen dan struktur mampu meyakinkan masyarakat untuk turut menanam jeruk sebagai komoditas baru. Akan tetapi, hal ini tidak bertahan lama karena terdapat tantangan yang membuat keberlangsungan program menjadi tidak Salah satunya yakni adanya perbedaan kepentingan antara agen dan pemerintah desa. Pada dasarnya, praktik sosial yang dilakukan di suatu wilayah tidak terlepas dari kepentingan rezim. Dalam hal ini, rezim turut memengaruhi aktivitas agen dalam mereproduksi Selain itu, tantangan lain juga datang dari inkonsistensi tindakan agen yang ditandai dengan penebangan pohon yang belum berbuah. Hal ini menunjukkan bahwa agen masih mengadaptasi kultur yang bersifat pragmatis. Beberapa menunjukkan bahwa dualitas antara agen dan struktur dapat berpengaruh pada masyarakat (Nabila & Izana, 2019. Rasyid et , 2022. Sahrani et al. , 2. Melalui hubungan dialektis ini, praktik sosial yang berulang mampu mengubah struktur yang memberdayakan (Khusnul & Widodo. Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Prasetya & Jacky . yang menyatakan bahwa pembangunan dapat diwujudkan dengan konsistensi perilaku agen yang mampu menjadikan struktur sebagai wadah dan sumber daya dalam memproduksi struktur yang baru. Berbeda sebelumnya, penelitian ini menjelaskan bahwa interaksi antara agen dan struktur dapat menciptakan perubahan yang berdampak pada kesejahteraan. Akan tetapi, dampak perubahan tersebut belum mampu dirasakan dalam jangka panjang. Hal ini dikarenakan terdapat berbagai tantangan yang berpotensi menghambat Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori strukturasi milik Anthony Giddens. Menurut Giddens, agen dan struktur adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, melainkan saling melengkapi dan saling berinteraksi dalam membentuk realitas sosial (Putri et al. , 2. Hal inilah yang ia sebut sebagai dualitas struktur. Struktur merujuk pada aturan dan sumber daya yang membentuk praktik sosial sedangkan agen adalah aktor utama sekaligus pemangku kepentingan yang secara konkret terlibat dalam peristiwa dan tindakan sehari-hari (Asrianto et al. , 2023. Rahayu et al. , 2. Melalui pengetahuan dan motivasi yang dimilikinya, agen dapat menjadikan struktur sebagai pedoman dan alat dalam melakukan suatu tindakan. Namun, di sisi lain agen juga dapat mengubah dan memproduksi struktur baru melalui praktik sosial yang berulang (Hidayatulloh et al. , 2. Dalam konteks pembangunan masyarakat, hubungan dialektis antara agen dan struktur menentukan keberhasilan program seperti yang terjadi di Desa Warjabakti. Kecamatan Cimaung. Kabupaten Bandung. Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 8 No. 1 Juli 2025 Hal : 12 - 24 Available Online at jurnal. id/focus METODE Penelitian ini dilakukan di Desa Warjabakti. Kecamatan Cimaung. Kabupaten Bandung. Lokasi ini dipilih karena Desa Warjabakti didominasi oleh petani sayur yang tergolong kurang Untuk itu, dibentuklah program transformasi komoditas yang diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup para Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yang didukung dengan data primer dan Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara. Observasi dilakukan secara non partisipatoris dengan mengamati kegiatan informan tanpa terlibat langsung di dalamnya. Setelah itu, peneliti melakukan wawancara semi informan yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Teknik ini dilakukan dengan cara memilih informan yang relevan dengan tujuan penelitian. Total informan dalam penelitian ini berjumlah delapan orang yang terdiri atas seorang pemberdaya, lima orang petani, dan dua perwakilan pemerintah desa. Untuk memperkaya hasil penelitian, peneliti juga menggunakan dokumen yang bersumber dari buku dan artikel yang terkait dengan topik penelitian. Data yang diperoleh dari observasi dan wawancara diolah menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan verifikasi Dalam penelitian ini, reduksi data dilakukan dengan cara mengategorikan dan menyortir data yang diperlukan. Setelah itu, peneliti melakukan penyajian data dengan cara mentransformasikan raw ke dalam skema konseptual yang jelas. Bentuk penyajian data dalam penelitian ini bersifat deskriptif. Setelah itu, peneliti melakukan tahap terakhir berupa verifikasi data atau penarikan kesimpulan. Pada tahap ini, peneliti menarik suatu simpulan yang bersifat holistik untuk menjawab interaksi antara agen dan struktur dalam proses transformasi komoditas di Desa Warjabakti. Untuk menguji keabsahan penelitian ini, peneliti menggunakan membandingkan hasil yang ditemukan dari observasi, wawancara, serta dokumen yang terkait dengan topik penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Transformasi Komoditas Pertanian di Desa Warjabakti Program pembangunan masyarakat melalui transformasi komoditas pertanian di Desa Warjabakti bermula dari seorang akademisi sebagai pemberdaya yang memiliki tujuan untuk meningkatkan taraf hidup para petani. Berdasarkan keterangan upaya peningkatan perekonomian petani sebelumnya telah dilakukan melalui penanaman kopi yang berlangsung sejak Akan tetapi, hasil yang diperoleh dari penanaman ini masih belum Terlebih lagi, masa panen kopi hanya terjadi selama sekali dalam setahun. Untuk itu, diperlukan alternatif lain berupa penambahan komoditas baru yang dinilai AuTernyata kopi itu tidak signifikan bagi masyarakat karena dulunya robusta sempat turun harga menjadi 4 ribu, arabika 8 ribu. Harusnya standar harga kopi arabika di sana 12 Jadi enggak membantu petani. Nah, dari situ mulai berpikirlah kira-kira dengan kondisi lahan yang seperti ini, tanaman apa yang bisa Lalu tercetuslah ide jeruk. Kalau dilihat dari historinya, dulu ada yang pernah sukses karena menanam jeruk. Nah kalau gitu saya melihat tanahnya berarti cocok untuk jeruk. Yaudah kita uji coba Ay-WG. Pemberdaya Proses pembangunan dilakukan dengan menggunakan konsep Community Based Tourism (CBT) yang memberikan sebesar-besarnya masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam setiap tahapan. Tahapan itu sendiri terdiri dari pemetaan sosial, perencanaan sosial, pembangunan sosial, rekayasa sosial, pengendalian sosial, dan tertib sosial Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 8 No. 1 Juli 2025 Hal : 12 - 24 Available Online at jurnal. id/focus (Gunawan. Himma, et al. , 2. Partisipasi masyarakat merupakan hal yang esensial karena diyakini bahwa pengetahuan masyarakat adalah kunci utama untuk program pembangunan (Anarta & Darwis. Untuk itu, dalam menjalankan tahapan tersebut, pemberdaya melibatkan beberapa petani yang terdiri atas keluarga dan kerabat dekat. Para petani ini kemudian membentuk sebuah kelompok dan mengambil peran sebagai agen Pemilihan agen ini didasarkan pada Idealnya, pembangunan berasal dari penduduk setempat karena mereka telah mengenal kondisi wilayahnya dari aspek sosial, lingkungan fisik, dan sebagainya. Dalam pelaksanaan program, agen pembangunan berperan sentral dalam memetakan potensi dan hambatan yang ada di wilayahnya. Pemetaan ini menghasilkan ide berupa pendapatan para petani. Ide ini dicetuskan oleh seorang petani yang kemudian Keduanya menjalin kerja sama berupa pemberian bibit dan pupuk oleh pemberdaya yang digarap oleh para petani. AuKami dikasih bibit dan pupuk organik cair dari pemberdaya, sekali kirim itu 50-60 literAy -H. Petani Setelah melalui proses pemetaan, program ini dilanjutkan ke tahap perencanaan sosial. Dalam perencanaan tersebut, keduanya bersepakat untuk menanam beberapa jenis jeruk sebagai Penanaman dilakukan di lahan milik Perhutani dan lahan carik milik pemerintah desa. Hasil yang diperoleh dari penanaman ini tidak hanya dijual secara mentah saja, tetapi mengolahnya ke dalam produk minuman. Tak hanya itu, keduanya pun berencana untuk membuka destinasi wisata petik jeruk bagi wisatawan. AuKalo keuntungannya dan 2 pemasarannya. Bisa jual untuk langsung konsumsi, bisa petik sendiri. Kalo petik jeruk itu, mereka beli sensasinya. Kalau bikin wisata itu perputaran uangnya cepetAy -TN. Petani Perencanaan diimplementasikan oleh para petani dalam Dalam pelaksanaannya, program ini mengalami berbagai dinamika baik itu dari internal agen maupun eksternal. Dinamika ini akan dibahas lebih lanjut dalam dua sub: . Dualitas agen dan struktur dalam transformasi komoditas pertanian. Tantangan agen dalam menciptakan Dualitas Agen dan Struktur dalam Transformasi Komoditas Pertanian Agen diartikan sebagai aktor utama sekaligus pemangku kepentingan. Agen dapat terdiri dari individu atau kelompok yang secara aktif memproduksi dan (Rahayu et al. , 2. Dalam penelitian ini, para petani selaku agen berperan sebagai inisiator sekaligus eksekutor pada proses transformasi komoditas. Transformasi ini didasari oleh pengetahuan dan kesadaran agen atas kondisi yang dialaminya dan potensi yang ada di wilayahnya. Hal ini sejalan dengan pemikiran Giddens yang menyatakan bahwa agen adalah aktor yang memiliki banyak pengetahuan dan mampu menciptakan perubahan (Noviyanti & Sarmini, 2021. Sartika & Yusuf, 2. Perubahan ini dapat terjadi bila individu mendorong perubahan dalam praktikpraktik dan struktur sosial yang ada (Nirzalin dalam Susilo, 2. Jika dikaitkan dengan konteks penelitian, dapat diketahui bahwa para petani selaku agen melakukan tindakan reflektif berupa pengamatan atas taraf hidupnya dan masyarakat di sekitarnya Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 8 No. 1 Juli 2025 Hal : 12 - 24 Available Online at jurnal. id/focus yang cenderung stagnan. Untuk itu, demi meraih keuntungan dalam jangka panjang, para agen mulai mengeksplor komoditas baru yang sesuai dengan kondisi lahan dan tren pasar hingga akhirnya memutuskan untuk menanam jeruk. Para agen juga melakukan rasionalisasi atas tindakan Mereka beranggapan bahwa penanaman jeruk dapat meningkatkan pendapatan mereka secara stabil. Terlebih lagi, modal yang dikeluarkan pun cenderung minim. Hal ini dikarenakan agen telah memperoleh subsidi dari pemberdaya, pemerintah desa, dan Perhutani. Selain itu, agen juga menjadikan penanaman ini sebagai upaya untuk melakukan diversifikasi tanaman. Dengan begitu, agen dapat mengurangi risiko kerugian jika terjadi fluktuasi harga pada komoditas sayuran dan kopi. Giddens tindakan yang dilakukan agen didasari oleh refleksivitas atau dimensi kesadaran yang terdiri atas kesadaran diskursif dan (Giddens. Kesadaran diskursif diartikan sebagai memberikan penjelasan atas tindakan yang dilakukan (Rahmawati, 2. Dalam hal ini, kesadaran diskursif muncul ketika agen mampu memetakan potensi dan hambatan yang dialaminya serta solusi yang dapat Perwujudan dari kesadaran ini terlihat ketika agen memutuskan untuk bermitra dengan pemberdaya dalam menjalankan transformasi komoditas. Selanjutnya. Giddens juga menjelaskan terkait kesadaran praktis yang mendorong praktik sosial yang dilakukan secara terus menerus tanpa jarang dipertanyakan lagi. Tindakan agen yang didasarkan atas kesadaran ini biasanya akan menjadi rutinitas (Giddens, 2. Pada konteks ini, kesadaran praktis muncul ketika agen telah menemukan pola penanaman jeruk hingga akhirnya mampu berbuah. Mereka secara rutin melakukan monitoring atas kebun jeruk yang telah mereka tanam. Sesekali, mereka pun melakukan pertemuan dengan perkembangan kebun jeruk dari waktu ke Kesadaran praktis ini adalah kunci untuk memahami praktik sosial karena kehidupan sosial terjadi melalui tahap ini (Rasyid et al. , 2. Berbagai tindakan yang dilakukan agen menunjukkan bahwa agen tidak hanya bertindak pasif dengan mengikuti struktur yang ada, melainkan memiliki kapasitas untuk merefleksikan tindakan mereka, mengkaji tujuan dan nilai yang mendasarinya, serta membuat pilihan yang rasional atas kondisi yang dialaminya (Susilo, 2. AuJadi kan 3 bulan sekali itu ada batang dahan yang harus dibuang. Kebetulan bapak sudah ada ilmunya sedikit, jeruk itu kan harus dipilar, stresing. Ada yang sistem lengkung ada yang sistem pilar. Bapak terapkan ilmunya disituAy -H. Petani Bagi Giddens, agen bukanlah aktor Perubahan ini tercipta karena terdapat dualitas antara agen dan struktur yang saling memengaruhi satu sama lain. Semua tindakan sosial yang dilakukan agen melibatkan struktur dan semua struktur melibatkan tindakan sosial (Wiendijarti et , 2. Agen memiliki kemampuan dalam menciptakan struktur melalui penyusunan norma, nilai, dan penerimaan Akan tetapi, di saat yang bersamaan agen juga mendapat batasan dari struktur Hal ini dikarenakan struktur terdiri dari komponen rule dan resources. Struktur itu sendiri dapat berbentuk fisik maupun hal yang berada di luar diri seseorang yang telah diinternalisasi dan menjadi dasar bagi agen untuk memulai tindakannya (Achmad, 2020. Herman & Rusadi, 2020. Putri et al. , 2. Dalam teori strukturasi Giddens, terdapat tiga dimensi struktur yang terdiri atas : Struktur signifikansi yang berkaitan penyebutan, pemaknaan, dan wacana. Dalam konteks ini, signifikansi terletak Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 8 No. 1 Juli 2025 Hal : 12 - 24 Available Online at jurnal. id/focus pada wacana program penanaman jeruk yang akan dipasarkan dalam berbagai bentuk baik secara langsung maupun olahan. Selain itu, ada pula wacana pendirian wisata petik jeruk yang diharapkan mampu menarik Wacana yang dibangun oleh agen dan pemberdaya merupakan bentuk kesepakatan yang berisi aturan atau norma agar program ini dapat terealisasi dengan baik. Bentuk realisasi ini dapat berupa cara petani dalam menentukan teknik uji coba penanaman jeruk hingga mampu menemukan varietas terbaik. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa jeruk jenis batu malang, siem, dan gergah adalah yang berhasil ditanam di wilayah ini. Selain itu, dari segi wisata, agen melakukan interelasi dengan pemerintah desa, pemberdaya, hingga universitas untuk memperoleh perizinan dan permodalan atas program wisata yang telah Struktur dominasi berkaitan dengan penguasaan dari segi politik maupun Secara politik, agen selaku menggunakan struktur dominasinya untuk turut mengajak masyarakat Terlebih lagi, agen telah bermitra dengan pihak yang akan membantu sistem produksi dan Hal ini diharapkan mampu memperkuat keyakinan masyarakat atas prospek penanaman jeruk dalam jangka panjang. Secara ekonomi, para agen pun telah memiliki kekuasaan atas lahan dan modal yang diberikan oleh Perhutani. Struktur legitimasi berkaitan dengan tatanan moral berupa nilai, norma, dan standar sosial. Pada fase ini, dualitas agen dan struktur berlanjut pada tatanan pembenaran oleh struktur yang lebih luas. Dalam hal ini, masyarakat lain pun turut mempercayai dan mendukung program yang dibuat oleh para agen. Selain itu, legitimasi juga menyangkut aturan dalam tata kelola Legitimasi yang dimaksud dalam penelitian ini dapat dilihat dari aturan atau kesepakatan yang dibangun oleh agen dan mitranya yakni pemberdaya, pemerintah desa, dan Perhutani. Adapun, tersebut berupa pemberian bibit dan pemberian izin penggunaan lahan hutan milik Perhutani dan lahan carik milik desa. Sebagai timbal balik, para petani harus memberikan transparansi atas perkembangan kebunnya dan melakukan sistem sharing atas hasil Salah satu bentuk konkret dari adanya legitimasi ini dibuktikan dengan adanya MOU antara petani dan Perhutani dalam penggunaan lahan. Koordinasi antara petani dan Perhutani merupakan ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan. AuBapak punya legalitasnya, itu langsung dibikin MOU dengan Perhutani untuk legalitas nanam jeruk. Ay -H Interaksi yang terjalin antara agen dan struktur dalam transformasi komoditas di Desa Warjabakti tergolong berhasil. Keberhasilan ini dapat dilihat dari tumbuhnya berbagai jenis jeruk yang tersebar di beberapa lokasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa struktur memberikan motivasi pada agen untuk melakukan perubahan yang diwujudkan melalui sebuah tindakan (Putri et al. , 2. Hal ini sejalan dengan pemikiran Giddens yang menyatakan bahwa setiap perubahan selalu terlibat dalam proses strukturasi sekecil apapun perubahan itu. Perubahan terjadi ketika struktur yang selama ini ada tidak lagi relevan untuk menuntun praktik sosial yang sedang berlangsung ataupun yang sedang diperjuangkan menjadi praktik sosial baru (Priyono dalam Astuti, 2. Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 8 No. 1 Juli 2025 Hal : 12 - 24 Available Online at jurnal. id/focus AuBapak bongkar kopi yang batangnya udah besar-besar saking mendukungnya program dari pemberdaya. Jadi demi bisa eksperimen, harus ada respon yang baik. Lahan kopi yang sudah dibongkar supaya bisa ditanami Menurut bapak hasil eksperimennya Pemahaman bapak, otak bapak jadi Ke depan, bapak jadi bisa Jadi bapak juga pengen ke depannya pemberdaya itu datang kesini Aooh udah ada perubahanAo. Ay -H. Petani Tantangan Agen dalam Menciptakan Perubahan Pada awalnya, interaksi antara agen dan struktur mampu menciptakan perubahan dalam struktur masyarakat petani di Desa Warjabakti. Akan tetapi, perubahan tersebut nyatanya tidak terjadi dalam skala yang luas dan jangka waktu yang panjang. Hal ini dikarenakan terdapat berbagai tantangan yang dialami oleh agen baik yang berasal dari dalam maupun dari luar diri agen. Tantangan tersebut membuat transformasi komoditas ini menjadi tidak berkelanjutan. Tantangan yang Dihadapi Agen Internal Eksternal Kesalahan Pergantian jenis bibit Inkonsistensi Tindakan Minimnya antar agen Minimnya Sumber : Olahan peneliti, 2025 Tantangan Internal Secara internal, tantangan yang dialami agen bermula dari adanya kesalahan jenis bibit yang diberikan oleh Kesalahan ini terjadi karena pihak distributor tidak memberikan bibit yang sesuai dengan permintaan sehingga beberapa di antaranya tidak mampu berkembang secara optimal. AuGagal bibit bukan karena masalah tumbuhnya, tapi jenis nya yang salah. Yang dibeli dekopon yang dateng krisna. Bukan salah pemberdaya tapi ketipu bibit. Ay -A. Petani Selain itu, tantangan lainnya juga dapat terlihat dari inkonsistensi tindakan Hal ini terjadi ketika terdapat salah satu jenis pohon jeruk yang masih berkembang dan belum memasuki masa panen setelah ditanam selama kurang lebih Pohon-pohon kemudian ditebang oleh salah satu agen. Penebangan ini dilakukan karena agen tidak mampu menyesuaikan diri dengan perbedaan kultur antara petani sayur dengan petani buah. Selama menjadi petani sayur, agen mampu melakukan panen dalam jangka waktu tiga bulan pasca Ketika beralih ke buah, agen perlu menunggu beberapa tahun agar pohon tersebut mampu berkembang secara Jika dikaitkan dengan konteks penelitian, penebangan yang dilakukan agen menunjukkan bahwa agen masih bersifat pragmatis. Kondisi ini tentunya dapat berdampak pada struktur legitimasi yang diciptakan oleh agen itu sendiri. Ketika menunjukkan makna baik itu secara tidak sadar, bawah sadar, atau secara sadar dari tingkah laku mereka. Penilaian atas sah atau tidaknya suatu tindakan ditentukan oleh struktur legitimasi (Achmad, 2. Tindakan agen yang menebang pohon secara sepihak tanpa melakukan perizinan dan konfirmasi dengan pihak lainnya berpotensi memudarkan legitimasi yang Hal ini dikarenakan agen telah melanggar aturan yang telah disepakati pada proses penanaman. Pernyataan ini dipertegas dengan penuturan seorang informan berinisial WG yang mengatakan AuPetani tidak kooperatif karena banyak pohon jeruk yang ditebang tapi tidak ada laporan mengenai hal tersebutAy. Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 8 No. 1 Juli 2025 Hal : 12 - 24 Available Online at jurnal. id/focus Permasalahan lainnya juga muncul dari segi komunikasi. Idealnya, praktik sosial dalam kegiatan pertanian yang mendorong penguatan relasi antar agen yang terlibat. Hal ini juga diperkuat dengan adanya kepentingan dan tujuan yang sama (Rosada & Taufiqurrohman, 2. Terlebih transformasi komoditas ini berasal dari keluarga dan kerabat dekat. Seharusnya, hal tersebut dapat menjadi sebuah modal bagi mereka untuk bisa mengembangkan Namun demikian, realitanya masih terdapat beberapa permasalahan yang menyangkut komunikasi antar agen. Hal ini dapat dilihat ketika agen memutuskan untuk menebang pohon secara sepihak. Selain itu, ketika mengalami surplus ataupun kendala, para agen tidak saling bertukar informasi untuk mencari solusi bersamasama dan cenderung berfokus pada kebunnya masing-masing. Tidak terdapat forum diskusi yang intens untuk membahas terkait perkembangan jeruk yang telah ditanam. Obrolan terkait perkembangan jeruk hanya dilakukan sesekali dan tidak melibatkan seluruh agen. Selain tantangan lain juga datang dari segi Dalam hal ini, agen yang terdiri atas sekelompok petani cenderung bergerak secara individual dan tidak memiliki struktur yang memuat aspek Dengan begitu, ketika dihadapkan dengan suatu kendala, peran pemimpin dalam hal perubahan rencana, perubahan operasional program, serta mobilisasi sumber daya dalam kelompok menjadi tidak maksimal (Pratiwi & Aslami. Tantangan Eksternal Dari segi eksternal, agen mengalami tantangan yang berasal dari rezim sebagai pihak yang memiliki kekuasaan dalam mengintervensi tindakan agen. Rezim itu kerangka yang di dalamnya memuat elemen berupa prinsip implisit atau eksplisit, norma, aturan, dan prosedur pengambilan keputusan di mana harapan para aktor bertemu (Yunita, 2. Dengan kata lain, rezim menjadi dasar bagi aktor sosial untuk berinteraksi dan mencapai Rezim yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pemerintah desa. Pada awalnya, pemerintah Desa Warjabakti mendukung penuh wacana penanaman jeruk sebagai komoditas baru. Dukungan ini ditunjukkan melalui pemberian izin dalam menggunakan lahan carik sebagai salah satu lokasi penanaman. Akan tetapi, program ini dimulai di rentang waktu yang berdekatan dengan pergantian kepala desa. Adanya pergantian ini berdampak pada perubahan kebijakan dalam rencana pembangunan desa termasuk pada program penanaman jeruk. Dalam hal ini, terdapat perbedaan kepentingan antara agen dan juga pemerintah desa dalam merancang visi misi pembangunan. Akibatnya, agen tidak lagi dapat mengakses sumber daya yang sebelumnya diberikan oleh pemerintah. Dengan begitu, penanaman jeruk mengalami stagnasi dan program yang telah direncanakan tidak dapat dikembangkan secara maksimal. Kondisi ini menggambarkan bahwa kebijakan dan arah pembangunan di suatu wilayah sangat ditentukan oleh rezim yang berkuasa (Winarsih et al. , 2. AuAwalnya responnya bagus, bapak juga kalo ga ada respon dari pihak desa ga jalan. Bahkan desa memberikan akses lahan carik untuk ditanami jeruk. Cuma setelah pergantian kepala desa, tidak ada tindak lanjut mengenai program ini. Ay -H. Petani AuPerencanaannya lahan carik itu mau dijadikan untuk wisata petik jeruk kan. Awalnya oleh kepala desa yang lama sudah Terus kan sekarang sudah 2x ganti kepala desa, oleh kepala desa yang pertama programnya diberhentikan. Nah setelah berganti ke kades berikutnya, programnya baru dijalankan lagiAy -R. Pemerintah Desa Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 8 No. 1 Juli 2025 Hal : 12 - 24 Available Online at jurnal. id/focus Dalam konteks penelitian ini, intervensi yang dilakukan oleh rezim dapat berpotensi menghambat atau bahkan menghentikan proses perubahan yang diciptakan oleh agen. SIMPULAN Dualitas menunjukkan bahwa dalam struktur sosial, individu tidak hanya diposisikan sebagai objek, tetapi juga sebagai subjek yang memiliki agensi dalam memproduksi dan mereproduksi struktur. Dalam penelitian ini, diketahui bahwa praktik sosial yang selama ini dilakukan oleh agen sebagai petani sayur dianggap tidak dapat meningkatkan taraf hidupnya. Untuk itu, agen melakukan monitoring reflektif atas tindakannya sehingga memunculkan ide berupa penanaman jeruk. Dalam terdapat berbagai tantangan yang datang dari dalam maupun dari luar diri agen. Tantangan itu berupa kesalahan bibit, inkonsistensi tindakan agen, kurangnya kepemimpinan serta adanya dominasi dari rezim selaku struktur yang lebih luas. Penelitian ini dapat memperkaya literatur pembangunan masyarakat karena memuat penekanan pada pentingnya partisipasi aktif dan kesadaran masyarakat . dalam setiap tahapan pembangunan mulai dari proses inisiasi hingga eksekusi. Hal ini memperkuat argumen bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus melibatkan agen secara holistik, mengakui kemampuan reflektif, dan memahami rasionalisasi tindakan mereka. Penelitian ini pun dapat menjadi gambaran bahwa pendekatan strukturasi Giddens dapat diaplikasikan dalam studi pembangunan masyarakat secara luas terutama pada topik analisis keberlanjutan dan evaluasi program pembangunan. Hal ini dikarenakan perspektif Giddens mampu mendorong pembaca untuk menyoroti kompleksitas interaksi antara agen dan struktur dalam mereproduksi struktur yang bersifat memberdayakan . DAFTAR PUSTAKA