P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Kepemimpinan Informal dalam Dinamika Pengambilan Keputusan Kelompok: Studi Kasus Film 12 Angry Men. Catur Wulandari, 2Diva Arlinda Dwi Ariyani, 3Erindah Dimisqiyani, 4Amaliyah. Gagas Gayuh Aji, 6RizkyAmalia Sinulingga Manajemen Perkantoran Digital. Fakultas Vokasi. Universitas Airlangga. Surabaya. Indonesia Corresponding author: amaliyah@vokasi. E-mail: catur. wulandari-2023@vokasi. ABSTRAK Kepemimpinan informal yang tidak bergantung pada struktur formal organisasi menjadi semakin penting dalam konteks organisasi kontemporer yang mengadopsi struktur lebih datar dan Dinamika kepemimpinan ini berperan krusial dalam pengambilan keputusan kelompok, namun penelitian tentang kepemimpinan informal dalam konteks representasi film masih jarang dilakukan, padahal film dapat memberikan gambaran kaya mengenai dinamika diskusi kelompok dan pengaruh non-formal yang relevan untuk merefleksikan praktik kepemimpinan dalam kehidupan nyata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana figur informal memengaruhi dinamika diskusi kelompok, membangun kepercayaan antar anggota, dan mengarahkan kelompok menuju konsensus melalui studi kasus film 12 Angry Men. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan sumber data primer berupa adegan dan dialog dalam film 12 Angry Men, serta data sekunder dari literatur akademik tentang kepemimpinan dan pengambilan keputusan kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter Juri 8, meskipun tidak memiliki posisi formal, mampu memimpin kelompok melalui lima karakteristik utama pengaruh interpersonal, kemampuan komunikasi persuasif, membangun konsensus, kepercayaan dan keteguhan moral, serta kemampuan menghadapi perbedaan pendapat. Temuan ini memperkuat bahwa kepemimpinan informal bergantung pada keterampilan interaksi sosial, kredibilitas personal, dan pengaruh sosial daripada otoritas formal. Penelitian ini berkontribusi pada literatur kepemimpinan dengan menawarkan implikasi praktis bagi organisasi dalam memanfaatkan potensi kepemimpinan informal untuk menghasilkan keputusan yang inklusif, adil, dan efektif, selaras dengan SDG 16 dan SDG 4. Kata Kunci: Kepemimpinan informal. Pengambilan keputusan kelompok, 12 Angry Men. Dinamika kelompok. Konsensus. Komunikasi persuasif. ABSTRACT Informal leadership that does not depend on formal organizational structures is becoming increasingly important in the context of contemporary organizations that adopt flatter and more collaborative structures. This leadership dynamic plays a crucial role in group decision-making, but research on informal leadership in the context of film representation is still rare, even though films can provide a rich picture of group discussion dynamics and non-formal influences that are relevant for reflecting on leadership practices in real life. This study aims to analyze how informal figures influence group discussion dynamics, build trust among members, and lead the group toward consensus through a case study of the film 12 Angry Men . This study uses a descriptive qualitative approach with primary data sources in the form of scenes and dialogues in the film 12 Angry Men, as well as secondary data from academic literature on leadership and group decisionmaking. The results show that Character 8, despite not having a formal position, was able to lead the group through five main characteristics: interpersonal influence, persuasive communication Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 skills, consensus building, trust and moral integrity, and the ability to deal with differences of These findings reinforce that informal leadership depends on social interaction skills, personal credibility, and social influence rather than formal authority. This study contributes to the leadership literature by offering practical implications for organizations in utilizing the potential of informal leadership to produce inclusive, fair, and effective decisions, in line with SDG 16 and SDG Keywords: Informal leadership. Group decision-making, 12 Angry Men. Group dynamics. Consensus. Persuasive communication. PENDAHULUAN Kepemimpinan memegang peranan krusial dalam konteks sosial maupun organisasi karena berfungsi sebagai sekaligus mengoordinasikan anggota kelompok demi tercapainya tujuan bersama (Northouse, 2. Tanpa kepemimpinan yang baik, suatu kelompok atau organisasi akan kesulitan untuk mengoptimalkan potensi anggotanya, keberhasilan yang diinginkan (Northouse. Dalam kepemimpinan lebih dari sekadar jabatan ia mencakup kemampuan seseorang untuk memengaruhi dan dan memberikan inspirasi bagi orang lain. Kepemimpinan yang berbasis pada konteks organisasi modern, yang tidak bergantung pada struktur formal dalam organisasi atau kelompok. Fenomena kepemimpinan informal ini menjadi semakin penting dalam konteks organisasi kontemporer, di mana lebih banyak organisasi mengadopsi struktur yang lebih datar dan kolaboratif (Leino, 2. Dalam kajian kepemimpinan informal, fokus utama adalah bagaimana individu yang tidak memiliki otoritas formal dapat memengaruhi kelompok dan memimpin dengan cara yang tidak bergantung pada posisi atau jabatan. Kepemimpinan informal berfungsi untuk memfasilitasi komunikasi antar anggota kelompok, meningkatkan kolaborasi, tanpa adanya kontrol formal. Zhang et al. menegaskan bahwa peran pemimpin Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 meningkatkan keterlibatan anggota serta memperkuat ikatan kebersamaan dalam Mereka memiliki kemampuan untuk menggerakkan kelompok menuju keputusan bersama meskipun tidak memiliki posisi formal dalam struktur Sebagai contoh, dalam banyak kasus, terutama ketika pemimpin formal kepemimpinan informal menjadi penentu keputusan kelompok (Nouman, 2. Pentingnya peran kepemimpinan informal semakin diakui dalam organisasi yang lebih horizontal dan kolaboratif. Penelitian di bidang kesehatan oleh Lawson . menunjukkan bahwa dalam situasi darurat, tenaga medis yang tidak memiliki jabatan formal sering memimpin rekan-rekannya karena mereka lebih memahami kondisi yang terjadi dan mampu memberikan arahan yang lebih cepat dan efektif. Begitu pula dalam konteks sosial, di mana pemimpin informal dapat merespons masalah masyarakat dengan lebih cepat dan tepat karena lebih memahami realitas yang ada (Nouman, 2. Hal ini menunjukkan bagaimana kepemimpinan yang tidak resmi memiliki kemampuan yang sangat fleksibel dalam menyelesaikan isu-isu dalam kelompok, serta menyediakan kontribusi bagi pencapaian solusi yang lebih komprehensif dan efisien. Selain dalam konteks kehidupan nyata, representasi kepemimpinan informal juga sering ditemukan dalam media, terutama dalam film. Film sering kali menjadi cermin sosial yang menggambarkan P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. kepemimpinan dalam masyarakat. os Santos, 2. menyatakan bahwa film memberikan cara yang efektif untuk memahami dinamika organisasi dan perilaku kepemimpinan. Dalam hal ini, informal yang bekerja dalam kelompok, yang memungkinkan penonton untuk melihat bagaimana komunikasi, interaksi, keputusan kelompok. Salah satu film yang menggambarkan kepemimpinan informal dengan jelas adalah 12 Angry Men . Film ini menceritakan tentang dua belas juri yang harus memutuskan nasib seorang terdakwa muda dalam kasus Pada awalnya, sebagian besar juri memutuskan bahwa terdakwa bersalah, namun satu juri, yakni Juri 8, membantah keputusan itu dan mengajak yang lain untuk mengevaluasi bukti dengan cara yang lebih mendalam. 12 Angry Men memberikan gambaran nyata tentang bagaimana kepemimpinan Juri 8 tidak memiliki jabatan formal, namun ia memiliki kemampuan mempengaruhi anggota lain untuk mempertimbangkan bukti secara lebih Kepemimpinan informal dalam film ini mencerminkan tiga elemen komunikasi persuasif yang mampu mempengaruhi anggota kelompok tanpa kedua, kemampuan membangun kepercayaan interpersonal yang mengarah pada pembentukan hubungan yang lebih inklusif dan kooperatif. dan ketiga, pandangan dan memimpin kelompok menuju keputusan yang lebih rasional pendapat yang tajam. Seluruh aspek ini informal tidak hanya berperan efektif dalam proses pengambilan keputusan yang logis, tetapi juga memungkinkan kelompok untuk bekerja dengan sinergi menghadapi tantangan. Penelitian tentang kepemimpinan telah banyak dilakukan, tetapi penelitian tentang kepemimpinan informal dalam konteks film masih jarang. Penelitian sebelumnya lebih berfokus pada figur kepemimpinan formal atau pada studi empiris organisasi nyata, sehingga aspek representasi kepemimpinan informal dalam film kurang mendapat perhatian. Padahal. Angry Men menghadirkan gambaran yang kaya mengenai dinamika diskusi kelompok dan pengaruh non-formal yang relevan untuk merefleksikan praktik kepemimpinan dalam kehidupan nyata. Kekosongan inilah yang menjadi dasar penting dilaksanakannya penelitian ini. Penelitian ini selaras dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. , penelitian ini memiliki relevansi Seperti yang ditunjukkan oleh Juri 8. SDG 16 (Perdamaian. Keadilan, dan Kelembagaan yang Kua. mendukung kepemimpinan informal yang inklusif, yang menekankan pentingnya lembaga yang adil dan partisipasi. Selain itu, fungsi kepemimpinan informal dalam memfasilitasi dialog yang kritis dan mencapai kesepakatan juga berkontribusi pada SDG 4 (Pendidikan Berkualita. , pembelajaran berbasis diskusi dan pemikiran bersama (United Nations. Dengan demikian, kajian mengenai kepemimpinan informal tidak hanya relevan dalam ranah organisasi, tetapi juga mendukung sasaran pembangunan Penelitian ini mengkaji peran figur informal dalam pengambilan keputusan kelompok, seperti yang digambarkan dalam 12 Angry Men. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mencari tahu bagaimana figur informal memengaruhi dinamika diskusi kelompok, membangun Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menunjukkan arti interaksi antarjuri dan Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. kepemimpinan informal muncul dalam proses pengambilan Diharapkan bahwa penelitian ini akan memberikan kontribusi teoritis ke kepemimpinan informal. Selain itu, akan memberikan pengetahuan praktis kepada organisasi yang ingin memanfaatkan potensi kepemimpinan informal dalam kelompok mereka. LANDASAN TEORI Manajemen dalam organisasi Manajemen adalah komponen penting dalam setiap organisasi yang memiliki tujuan untuk mencapai hasil efektif dan efisien. Coulter . Perencanaan, pengendalian sumber daya adalah semua aspek manajemen untuk tercapainya tujuan organisasi yang efektif. Suatu organisasi tidak hanya mengelola sumber daya material, tetapi juga mengelola pengaturan individu, yang sangat penting untuk keberhasilan organisasi. Tujuan manajemen adalah untuk membangun struktur yang jelas, menetapkan tujuan, dan memastikan bahwa setiap komponen organisasi bergerak ke arah pencapaian tujuan tersebut. Fungsi Manajemen Menurut singkatan POAC, ada empat fungsi utama dalam manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian. Perencanaan adalah fungsi pertama yang bertujuan untuk menetapkan sasaran dan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk Fungsi kedua adalah organisasi, sedangkan fungsi ketiga adalah pengarahan, yang mencakup proses memimpin serta memotivasi individu untuk meraih tujuan yang telah Terakhir, pengendalian fokus pada pemantauan dan evaluasi kinerja Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 memastikan bahwa sesuatunya berjalan sesuai rencana. Dalam konteks ini, kepemimpinan termasuk dalam fungsi organisasi karena membimbing dan memotivasi orang untuk bekerja sama mencapai tujuan Dalam pengorganisasian, kepemimpinan adalah komponen penting yang membantu menciptakan struktur yang jelas, mengarahkan sumber daya manusia, dan mengoptimalkan potensi setiap orang (Robbins & Coulter, 2. Kepemimpinan Kepemimpinan Gaya Dalam konteks pengorganisasian, kepemimpinan adalah salah satu elemen paling penting dalam manajemen. Menurut Northouse . , kepemimpinan adalah cara mendorong orang lain melakukan suatu hal untuk mencapai tujuan tertentu. Mengatur, memotivasi, dan mengawasi tim untuk mencapai tujuan organisasi adalah Pemimpin harus dapat memimpin tim untuk berkolaborasi dengan baik, mengurangi konflik, dan membuat keputusan yang tepat untuk kesuksesan Kepemimpinan informal juga muncul dalam organisasi yang lebih besar komunikasi, menyelesaikan perbedaan pendapat, dan membuat keputusan yang melibatkan semua pihak. Dalam hal pengorganisasian, kepemimpinan bertanggung jawab untuk menentukan bagaimana anggota tim diberikan tanggung jawab dan bagaimana kelompok dapat bekerja sama dengan Di sini, kepemimpinan informal penting karena mereka yang memiliki otoritas informal dapat memengaruhi Misalnya. Juri 8 dalam film 12 Angry Men . menunjukkan kepemimpinan informal membantu kelompok membuat keputusan yang lebih logis dan adil tanpa bergantung P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. pada struktur formal. Oleh karena itu, kepemimpinan, baik formal maupun orang-orang mengarahkan dan mendorong mereka untuk mencapai tujuan kelompok secara efektif dan efisien. memahami kebutuhan anggota tim juga memengaruhi kemunculan kepemimpinan Kepemimpinan informal dapat muncul dari siapa saja dalam kelompok, bahkan dari individu yang tidak memiliki status tinggi secara hierarkis karena sifatnya yang tidak terstruktur. Kepemimpinan Informal Ketika seseorang dalam kelompok memiliki pengaruh yang signifikan tanpa menempati jabatan resmi atau otoritas kepemimpinan informal. Leino . informal muncul dari pengaruh personal dan kredibilitas sosial yang membuat seseorang mampu membimbing, memberi kelompok tanpa perlu jabatan resmi. Tidak seperti kepemimpinan formal yang sah secara struktural, kepemimpinan informal muncul secara alami dari interaksi, pengalaman, dan hubungan interpersonal di dalam kelompok. Sejumlah penelitian mutakhir informal berperan penting dalam efektivitas tim. Zhang et al. menemukan bahwa figur kepemimpinan informal berkontribusi besar dalam kebersamaan di dalam kelompok. Hal ini terjadi karena pemimpin informal seringkali dianggap lebih netral, dekat, dan dipercaya dibanding pemimpin Lawson menemukan bahwa dalam organisasi berperan penting dalam menjaga budaya kerja kolaboratif dan menggerakkan tim pada situasi kritis. Karakteristik utama pemimpin informal meliputi kredibilitas pribadi, kemampuan membangun hubungan, kepekaan sosial, serta keteguhan dalam mempertahankan nilai tertentu (Nouman. Faktor-faktor seperti kepercayaan. Pengambilan Keputusan Kelompok Proses pengambilan keputusan dalam kelompok adalah sebuah usaha bersama di mana individu dengan beragam latar belakang, pengalaman, dan sudut pandang saling berinteraksi untuk mencapai kesepakatan yang kolektif. Proses ini meliputi tahap-tahap seperti berbagi informasi, mengidentifikasi pilihan-pilihan, mendiskusikan kelebihan dan kekurangan, hingga akhirnya mencapai pilihan bersama (Zhang, 2. Tingkat kerumitan dalam pengambilan keputusan kelompok disebabkan oleh beragamnya pendapat dan kemungkinan terjadinya konflik di antara anggotanya. Faktor sosial seperti kepercayaan, keputusan kelompok. Dalam hal ini, kepemimpinan informal memiliki peran penting sebagai pendorong yang bisa perselisihan, serta membantu pencapaian Menurut penelitian Gavrilets . , ada pemimpin informal yang beradaptasi dengan perbedaan pandangan, yang menghasilkan keputusan yang lebih rasional dan inklusif. METODOLOGI Pendekatan Penelitian Jenis Penelitian ini menjelaskan secara rinci kepemimpinan informal dalam pengambilan keputusan kelompok Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. kualitatif deskriptif dan naratif. Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti untuk mempelajari fenomena sosial secara menyeluruh dan menyeluruh, yang memberi peneliti pemahaman lebih baik tentang proses yang terjadi dalam suatu kelompok (Creswell, 2. Penelitian ini berkonsentrasi pada karakter yang memimpin secara informal dan bagaimana pengaruhnya terhadap bersama, walaupun mereka tidak memiliki otoritas resmi. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 dalam proses pengambilan keputusan Transformasi vonis dari 11-1 bersalah menjadi 12-0 tidak bersalah terjadi melalui serangkaian dialog dan interaksi yang memperlihatkan pengaruh interpersonal, komunikasi persuasif, pembangunan konsensus, keteguhan moral, dan kemampuan mengelola perbedaan pendapat. Setiap karakteristik kepemimpinan informal ini didukung oleh bukti konkret berupa scene dan dialog spesifik yang terekam dalam timestamp tertentu sepanjang durasi film. Hasil kepemimpinan informal dapat mengubah dinamika kelompok secara signifikan tanpa bergantung pada otoritas formal atau struktur hierarkis. Sumber Data Data primer berasal dari adegan serta dialog dalam film 12 Angry Men yang menggambarkan interaksi antar juri, proses pengambilan keputusan, serta kepemimpinan informal. Adegan tersebut dianalisis guna menyingkap persuasif, dan gaya memimpin tanpa jabatan formal Rose . Monaco . Data sekunder diperoleh dari literatur akademik berupa jurnal, artikel, dan buku yang membahas kepemimpinan Northouse . Leino . , pengambilan keputusan kelompok Zhang . Zhang et al. , serta kajian film sebagai media penelitian sosial Dos Santos . Rose . Monaco . Sumber ini digunakan untuk memperkuat analisis dan menambah landasan teoritis dari fenomena kepemimpinan informal yang ditampilkan dalam film. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan analisis film 12 Angry Men . , ditemukan lima informal yang ditunjukkan karakter Juri 8 Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 Gambar 1: Pengaruh Interpersonal Timestamp: 20:15 . menit 15 deti. Juri 8: "Saya pikir kita harus melihatnya dari sisi lain. Mari kita coba lebih cermat. " Juri 8: "Bukankah kita seharusnya mendiskusikan ini terlebih dahulu sebelum memutuskan?" Juri 8: "Saya tidak yakin apakah kita sudah " Juri 8: "Mungkin ada halhal yang terlewat dari perhatian kita. Dalam adegan ini. Juri 8 mengajukan serangkaian pertanyaan kepada anggota juri lainnya. Dialog berlangsung setelah voting awal yang menunjukkan sebagian besar juri ingin segera mengakhiri diskusi. Juri 8 berbicara dengan nada tenang dan Respons dari juri lain bervariasi, dengan beberapa tampak tidak sabar dan yang lain mulai memperhatikan. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Gambar 2: Kemampuan Berkomunikasi Persuasif Timestamp: 40:30 . menit 30 deti. Juri 8: "Saya tahu ini tidak mudah, tapi kita harus melakukan hal yang benar. " Juri 8: "Lihat pisau ini, bukankah sama persis dengan barang bukti?" Juri 8: "Bagaimana mungkin hanya ada satu pisau seperti ini di seluruh kota?" Juri 8: "Kita tidak boleh mengambil kesimpulan tergesa-gesa berdasarkan asumsi. Dalam adegan ini. Juri 8 mengatakan bahwa hal tersebut tidak mudah dan menekankan perlunya melakukan hal yang benar. Juri 8 kemudian mengeluarkan sebuah pisau dan memperlihatkannya kepada juri lainnya, menjelaskan bahwa pisau tersebut sama persis dengan barang bukti. Juri 8 mempertanyakan keunikan pisau sebagai barang bukti dan menekankan untuk tidak mengambil keputusan secara buru-buru. Reaksi juri lain beragam, dengan beberapa tampak terkejut melihat pisau yang dibawa Juri 8, sementara yang lain mulai memperhatikan dengan lebih serius. Gambar 3: Membangun Konsensus Timestamp: 55:45 . menit 45 deti. Juri 8: "Saya hanya ingin kita memastikan kita tidak membuat keputusan yang " Juri 8: "Mari kita voting secara rahasia, sehingga setiap orang bisa mengekspresikan pendapat sebenarnya. Juri 8: "Saya akan abstain dari voting ini untuk memberikan kesempatan pada kalian semua. " Juri 8: "Jika masih 11-0, saya akan mengubah suara saya menjadi Dalam adegan ini. Juri 8 memastikan keputusan yang tepat dan mengusulkan metode voting secara Juri 8 menawarkan diri untuk abstain dalam voting tersebut dan berjanji akan mengubah suaranya menjadi bersalah jika hasil tetap 11-0. Ketua juri kemudian menyetujui usulan tersebut dan membagikan kertas untuk voting rahasia. Juri lain tampak mempertimbangkan usulan ini dengan berbagai reaksi, ada yang setuju dan ada yang masih ragu. Setelah semua juri menulis suara mereka, kertas dikumpulkan dan dihitung. Gambar 4: Kepercayaan dan Keteguhan Moral Timestamp: 1:05:30 . jam 5 menit 30 Juri 8: "Jika kita ingin menghukum seseorang, pastikan kita tidak membuat Juri 8: "Nyawa seseorang ada di tangan kita, dan itu adalah tanggung jawab yang sangat berat. Juri 8: "Saya tidak bisa hidup dengan tenang jika kita mengirim anak yang tidak bersalah ke kursi listrik. Juri 8: "Prinsip 'beyond reasonable doubt' bukan hanya jargon hukum, tetapi fondasi Scene ini menampilkan aspek paling fundamental dari kepemimpinan Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. informal Juri 8, yaitu keteguhan moral yang tidak tergoyahkan meskipun menghadapi tekanan sosial yang intens. menunjukkan integritas pribadi dengan menempatkan prinsip keadilan di atas kenyamanan sosial atau keinginan untuk Keteguhan moralnya bukan berasal dari arogansi atau keras kepala, melainkan dari pemahaman mendalam tentang konsekuensi moral dari keputusan yang akan diambil kelompok. Kepercayaan yang ia bangun dengan kelompok didasarkan pada konsistensi antara nilai-nilai yang ia yakini dengan tindakan yang ia ambil sepanjang proses Gambar 5: Menghadapi Perbedaan Pendapat Timestamp: 1:15:10 . jam 15 menit 10 Juri 8: "Saya rasa kita perlu memberikan waktu lebih untuk berpikir sebelum membuat keputusan. Juri 8: "Mari kita dengarkan apa yang ingin dikatakan oleh setiap orang di sini. Juri 8: "Kemarahan tidak akan membantu kita menemukan kebenaran. Juri 8: "Kita semua ingin keadilan, meskipun kita mungkin berbeda pendapat tentang caranya. Dalam adegan ini. Juri 8 menyarankan untuk memberikan waktu lebih dalam berpikir dan mengajak untuk mendengarkan pendapat setiap orang. Sebelum pernyataan ini, terlihat beberapa juri saling berargumen dengan nada tinggi dan emosi yang memanas. Juri 8 kemarahan tidak akan membantu proses dan menekankan bahwa semua pihak Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 Setelah pernyataan Juri 8, suasana ruangan menjadi lebih tenang dan beberapa juri mulai duduk kembali. Juri lain kemudian mulai berbicara dengan nada yang lebih terkontrol dan saling mendengarkan. Pembahasan Temuan penelitian ini menguatkan konsep kepemimpinan informal yang dikemukakan oleh Leino . bahwa kepemimpinan informal muncul dari pengaruh personal dan kredibilitas sosial membimbing dan memotivasi anggota Karakteristik yang ditunjukkan Juri 8 pertanyaan-pertanyaan reflektif seperti "Bukankah mendiskusikan ini terlebih dahulu sebelum memutuskan?" sejalan dengan penelitian Zhang et al. yang menemukan bahwa figur kepemimpinan memperkuat keterlibatan anggota dan meningkatkan rasa kebersamaan dalam Kemampuan Juri 8 dalam membangun pengaruh interpersonal merefleksikan temuan Nouman . tentang karakteristik utama pemimpin informal yang meliputi kredibilitas hubungan, dan kepekaan sosial. Hal ini terlihat dari cara Juri 8 menjalin komunikasi yang tidak memaksa namun persuasif dalam mengajukan serangkaian pertanyaan yang memancing refleksi, memungkinkan anggota lain untuk membuka diri terhadap perspektif baru tanpa merasa tertekan atau dipaksa. Aspek komunikasi persuasif yang ditunjukkan Juri 8 dalam adegan pisau mendukung argumen Lawson . bahwa pemimpin informal memiliki kemampuan untuk memberikan arahan yang lebih cepat dan efektif karena lebih memahami kondisi yang terjadi. Ketika Juri 8 mengeluarkan pisau serupa dan P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. mempertanyakan keunikan barang bukti, ia menunjukkan pemahaman mendalam terhadap kompleksitas kasus dan mampu mengkomunikasikan hal tersebut dengan cara yang dapat diterima kelompok. Proses membangun konsensus yang dilakukan Juri 8 melalui usulan voting rahasia dalam adegan ketiga selaras dengan penelitian Gavrilets . yang menyatakan bahwa pemimpin informal beradaptasi dengan perbedaan pandangan, menghasilkan keputusan yang lebih rasional dan inklusif. Strategi abstain yang ditawarkan Juri 8 dengan pernyataan "Jika masih 11-0, saya akan mengubah suara saya menjadi bersalah" menunjukkan kemampuannya memfasilitasi diskusi yang memungkinkan setiap anggota menyampaikan pandangannya tanpa tekanan sosial. Keteguhan moral yang diperlihatkan Juri 8 dalam adegan manajemen konflik mencerminkan pentingnya nilai-nilai Northouse . bahwa kepemimpinan tidak hanya tentang mempengaruhi, tetapi juga tentang mengarahkan kelompok menuju tujuan yang etis dan benar. Pernyataan Juri 8 bahwa "Kemarahan tidak akan membantu kita menemukan kebenaran" menunjukkan kemampuannya dalam mengelola emosi kelompok dan mengarahkan fokus kembali pada substansi permasalahan. Dalam konteks keteguhan moral ini menjadi krusial untuk memastikan keadilan dan objektivitas dalam proses deliberasi. Kemampuan mengelola perbedaan pendapat yang ditunjukkan Juri 8 melalui ajakan untuk saling mendengarkan mendukung temuan Zhang . tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan kelompok, di mana Juri 8 berhasil menghindarinya, melainkan dengan memfasilitasi diskusi yang konstruktif. Temuan ini juga relevan dengan dikemukakan oleh Dos Santos . , di mana film dapat menjadi cermin sosial Representasi kepemimpinan informal dalam 12 Angry Men memberikan gambaran konkret tentang bagaimana pengaruh non-formal dapat bekerja dalam konteks kelompok kecil dengan tekanan tinggi melalui serangkaian strategi komunikasi yang terobservasi dalam penelitian ini. Pola kepemimpinan yang ditunjukkan Juri 8 mulai dari pengajuan pertanyaan reflektif, penyajian bukti alternatif, hingga pengelolaan konflik, mendemonstrasikan kontinuum pengaruh interpersonal yang dapat diterapkan dalam berbagai setting organisasi. Implikasi praktis dari temuan ini menunjukkan bahwa organisasi perlu mengidentifikasi dan memberdayakan individu-individu yang memiliki potensi kepemimpinan informal untuk meningkatkan efektivitas mengelola konflik, dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih kolaboratif dan inklusif. Dalam kaitannya dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, temuan penelitian ini mendukung SDG 16 (Perdamaian. Keadilan, dan Kelembagaan Kua. pengambilan keputusan yang inklusif dan adil yang terobservasi dalam dinamika kelompok juri. Kepemimpinan informal yang diperagakan Juri 8 menunjukkan pentingnya partisipasi aktif dalam proses pengambilan keputusan yang berdampak pada keadilan, sebagaimana terlihat dari upayanya memastikan setiap suara didengar dalam proses voting rahasia. Selain itu, keterkaitan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualita. terlihat dari proses pembelajaran kolektif yang terjadi dalam kelompok juri, di mana Juri 8 tidak hanya memimpin dalam pengambilan keputusan, tetapi juga memfasilitasi pembelajaran bersama melalui diskusi Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. kritis dan analisis bukti. Pendekatan ini sesuai dengan prinsip pembelajaran berbasis diskusi yang direkomendasikan United Nations . menciptakan lingkungan belajar yang partisipatif dan demokratis. KESIMPULAN Penelitian mengidentifikasi lima karakteristik utama kepemimpinan informal dalam proses berdasarkan analisis film 12 Angry Men , yaitu: . pengaruh interpersonal, . kemampuan komunikasi persuasif, . membangun konsensus, . kepercayaan dan keteguhan moral, serta . kemampuan menghadapi perbedaan Temuan menunjukkan bahwa karakter Juri 8 mampu memimpin transformasi keputusan kelompok dari mayoritas awal . :1 bersala. menjadi konsensus bulat . :0 tidak bersala. tanpa mengandalkan otoritas formal. Kepemimpinan informal terbukti efektif dalam mengelola dinamika kelompok yang kompleks, memfasilitasi dialog konstruktif, dan mencapai keputusan yang lebih rasional dan adil melalui lima tahap: penolakan terhadap keputusan mayoritas, pembukaan ruang dialog, presentasi argumen alternatif, negosiasi dan persuasi, serta pencapaian konsensus Kontribusi teoretis penelitian ini memperkuat literatur kepemimpinan kepemimpinan informal bergantung pada interpersonal, dan pengaruh sosial daripada struktur hierarkis formal, sejalan kolaborasi dan inklusivitas dalam organisasi modern. Secara memberikan wawasan bagi organisasi Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan, mengelola konflik, dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih Organisasi disarankan untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan memberdayakan individu yang memiliki karakteristik kepemimpinan informal untuk meningkatkan kinerja tim dan kualitas keputusan kolektif. Relevansi penelitian dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan kepemimpinan informal mendukung pencapaian SDG 16 (Perdamaian. Keadilan, dan Kelembagaan yang Kua. melalui promosi pengambilan keputusan yang inklusif dan partisipatif, serta SDG 4 (Pendidikan Berkualita. melalui fasilitasi pembelajaran kolektif berbasis diskusi Keterbatasan penelitian ini terletak pada penggunaan satu sumber data utama selanjutnya disarankan untuk melakukan studi empiris pada kelompok nyata untuk validasi temuan serta mengeksplorasi perbedaan karakteristik kepemimpinan informal dalam berbagai konteks budaya dan organisasi yang berbeda. UCAPAN TERIMA KASIH