hlm: 100-104 Optimalisasi Peran Dosen Kebidanan dalam Edukasi Catin tentang Pencegahan Stunting Sejak Pra Nikah di Wilayah Binaan BP4 Hilda Prajayanti*, Swasti Artanti Email: hilda.ragaiza@gmail.com Prodi D3 Kebidanan, Akademi Kebidanan Harapan Ibu Pekalongan, Indonesia Jl. Manunggal Gang 2 Kota Pekalongan Telp. (0285) 4416108 DOI: 10.37402/abdimaship.vol6.iss2.470 History artikel: Diterima 2025-07-08 Direvisi 2025-08-12 Diterbitkan 2025-08-13 Abstrak Stunting merupakan permasalahan gizi kronis yang berdampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Upaya pencegahan perlu dilakukan sejak sebelum kehamilan, termasuk pada calon pengantin (catin). Dosen kebidanan memiliki peran strategis dalam edukasi kesehatan reproduksi dan gizi. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengoptimalkan peran dosen kebidanan dalam memberikan edukasi kepada catin tentang pencegahan stunting sejak pra nikah di wilayah binaan BP4. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi interaktif, dan pembagian media edukasi. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan catin tentang gizi, kesehatan reproduksi, dan kesiapan menjadi orang tua nilai post test setelah diberikan edukasi 84,1 % dan menunjukkan peningkatan sebesar 28,8% setelah diberikan edukasi. Dosen kebidanan terbukti dapat berperan aktif sebagai agen perubahan dalam menekan risiko stunting sejak hulu. Diperlukan dukungan lintas sektor untuk keberlanjutan program ini. Kata kunci: dosen kebidanan; calon pengantin; stunting; edukasi pra nikah; BP4. 100 2025;6(2): 100-104 Hilda Prajayanti* Swasti Artanti Abstract Stunting is a chronic nutritional problem that has longterm impacts on the quality of human resources. Preventive efforts need to be implemented before pregnancy, including for prospective brides and grooms (catin). Midwifery lecturers play a strategic role in reproductive health and nutrition education. This community service activity aims to optimize the role of midwifery lecturers in providing education to prospective brides and grooms about stunting prevention from pre-marital in the BP4 (National Agency for Women and Children) supervised areas. The methods used were lectures, interactive discussions, and distribution of educational media. The results showed an increase in prospective brides and grooms' knowledge about nutrition, reproductive health, and readiness to become parents. The post-test score after the education was 84.1% and showed a 28.8% increase after the education. Midwifery lecturers have proven to be able to play an active role as agents of change in reducing the risk of stunting from the start. Crosssectoral support is needed for the sustainability of this program. Keywords: midwifery lecturers; prospective brides and grooms; stunting; premarital education; BP4. 101 102 1. Pendahuluan Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Indonesia masih menghadapi angka stunting yang tinggi, dengan prevalensi nasional mencapai 21,6%.(1) Pencegahan stunting harus dimulai dari hulu, yakni pada remaja dan calon pengantin. Edukasi yang tepat pada masa pra nikah dapat meningkatkan kesiapan fisik dan mental calon ibu, terutama dalam aspek gizi, kesehatan reproduksi, dan perencanaan kehamilan.(2) Dosen kebidanan sebagai akademisi dan praktisi kesehatan memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi yang valid dan berbasis bukti kepada masyarakat, khususnya kepada catin. BP4 sebagai lembaga yang mendampingi calon pengantin di tingkat kecamatan dan kota dapat menjadi mitra strategis dalam pelaksanaan edukasi preventif ini. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengoptimalkan peran dosen kebidanan dalam edukasi kepada catin tentang pencegahan stunting sejak pra nikah di wilayah binaan BP4 Kota Pekalongan. (Mei–Juni 2025) di wilayah binaan BP4 Kota Pekalongan. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi: a. Identifikasi Mitra dan Sasaran: Mitra utama adalah BP4 Kota Pekalongan dan calon pengantin yang terdaftar dalam layanan konsultasi pranikah. b. Penyusunan Modul dan Media Edukasi: Materi meliputi gizi seimbang, anemia, kesehatan reproduksi, perencanaan kehamilan, dan pencegahan stunting. c. Pelaksanaan Edukasi: Menggunakan metode ceramah, diskusi interaktif, tanya jawab, dan simulasi. Kegiatan dilakukan secara tatap muka dengan protokol kesehatan. d. Evaluasi: Dilakukan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan, serta kuisioner kepuasan peserta.enilaian dilakukan menggunakan soal pilihan ganda sebanyak 15 soal sebelum (pretest) dan sesudah (post-test) edukasi. Skor maksimum adalah 100. 3. Hasil dan Pembahasan Berikut adalah data hasil pretest dan post-test pengetahuan catin: 2. Metode Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan selama dua bulan Tabel 1. Rata-Rata Skor Pre-test dan Post-test Calon Pengantin (n = 30 Pasangan) No Aspek Pengetahuan Skor Rata-rata Pre-test Skor Rata-rata Post-test Kenaikan (%) 1 Gizi Seimbang Sebelum Hamil 54,0 85,3 +31,3% 2 Anemia dan Tablet Tambah Darah 50,7 81,0 +30,3% 3 Kesehatan Reproduksi Remaja 56,8 83,2 +26,4% 4 Perencanaan Kehamilan & Parenting 58,2 84,6 +26,4% 5 Konsep Dasar Stunting dan Pencegahannya 56,5 86,4 +29,9% Skor Total Rata-rata 55,3 84,1 +28,8% Jurnal ABDIMAS-HIP Pengabdian Kepada Masyarakat 2025;6(2): 100-104 103 Berikut adalah diagram batang yang menunjukkan perbandingan skor rata-rata pre-test dan post-test calon pengantin pada lima aspek pengetahuan terkait pencegahan stunting Jumlah peserta sebanyak 30 pasang calon pengantin. Hasil evaluasi menunjukkan adanya Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan calon pengantin setelah edukasi dilakukan. Skor rata-rata pre-test adalah 55,3, yang tergolong cukup rendah, mencerminkan kurangnya pemahaman dasar mengenai pentingnya kesehatan pra nikah dan kaitannya dengan stunting. Setelah sesi edukasi oleh dosen kebidanan, skor meningkat menjadi 84,1, menunjukkan peningkatan sebesar 28,8%. Peningkatan tertinggi terjadi pada aspek pemahaman tentang gizi seimbang sebelum hamil (31,3%) dan anemia (30,3%), yang merupakan faktor risiko utama penyebab stunting. Peserta juga menyatakan bahwa mereka baru mengetahui pentingnya konsumsi tablet tambah darah minimal 3 bulan sebelum hamil.(3) Diskusi interaktif yang dipandu oleh dosen kebidanan, penggunaan media visual (leaflet, poster), dan pendekatan berbasis pengalaman nyata menjadikan proses edukasi lebih kontekstual dan mudah diterima.(4) Hal ini membuktikan bahwa dosen kebidanan tidak hanya berperan sebagai pendidik di kampus, tetapi juga sebagai agen perubahan dalam komunitas.(5) Meskipun demikian, masih terdapat tantangan dalam waktu pelaksanaan yang terbatas dan perlunya penguatan dukungan lintas sektor agar edukasi ini dapat dilakukan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak pasangan. Peran dosen kebidanan sangat strategis dalam menjembatani informasi ilmiah kepada masyarakat. Pendekatan humanis, bahasa yang komunikatif, serta penguasaan materi menjadikan edukasi efektif dan diterima dengan baik oleh catin. Kolaborasi dengan BP4 terbukti memperkuat jalur distribusi edukasi. Namun demikian, keterbatasan waktu edukasi serta jumlah tenaga pendidik masih menjadi kendala untuk menjangkau semua calon pengantin di wilayah tersebut. Oleh karena itu, perlu strategi berkelanjutan seperti pelatihan kader, penyediaan media digital, dan integrasi dengan layanan KUA. 4. Kesimpulan Optimalisasi peran dosen kebidanan dalam edukasi kepada calon pengantin tentang pencegahan stunting sejak pra nikah terbukti meningkatkan pengetahuan dan kesadaran peserta di wilayah binaan BP4. Kegiatan ini mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan angka stunting. Perlu kolaborasi berkelanjutan antara institusi pendidikan, BP4, KUA, dan dinas kesehatan untuk memperluas jangkauan edukasi dan meningkatkan efektivitas program. 5. Daftar Pustaka [1] Kementerian Kesehatan RI. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022. 2022. [2] BKKBN. Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting Indonesia 2021–2024. 2021. [3] Titaley, C. R. et al. Prevalence and Risk Factors for Stunting in Indonesia. BMC Public Health. 2019;19(1):1–10. Jurnal ABDIMAS-HIP Pengabdian Kepada Masyarakat 2025;6(2): 100-104 104 [4] WHO. Guideline: Implementing Effective Actions for Improving Adolescent Nutrition. 2021. [5] Departemen Kebidanan dan Kandungan FKUI. Kesehatan Reproduksi Remaja dan Pencegahan Stunting Sejak Dini. Jakarta: FKUI Press; 2020. Jurnal ABDIMAS-HIP Pengabdian Kepada Masyarakat 2025;6(2): 100-104