125 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 Seksualitas pada Remaja dan Dewasa Muda LakiLaki dengan Autism Spectrum Disorder: Systematic Literatur Review Toni Nugraha Jamaluddin. HB1. Haerani Nur2. Dian Novita Siswanti3 Universitas Negeri Makassar. Indonesia1,2,3 Email: tonynugraha383@gmail. Abstract. Sexuality in male adolescents with Autism Spectrum Disorder (ASD) is an important yet underexplored topic in educational and psychological literature. This study aims to synthesize empirical evidence regarding the profile of sexuality, factors influencing psychosexual development, and the effectiveness of sexuality education interventions among male adolescents and young adults with ASD aged 12Ae25 years. A Systematic Literature Review (SLR) guided by PRISMA 2020 was conducted through searches of PubMed. PsycINFO. ERIC, and Scopus databases using keywords related to ASD, sexuality, and male adolescents. Study quality was assessed using JBI Critical Appraisal Tools and synthesis was conducted through thematic synthesis. Of the 46 identified articles, 35 studies met the inclusion criteria after deduplication and screening. Results revealed three main findings: . male adolescents with ASD demonstrate comparable sexual interest to typically developing peers but more limited interpersonal sexual experience, alongside heightened vulnerability to sexual victimization. social skills are the strongest predictor of positive psychosexual development, followed by parental involvement and cognitive factors. Tackling Teenage Training . is the only program with Level I evidence (RCT) demonstrating significant improvement in psychosexual It is concluded that evidence-based sexuality education initiated before puberty, characterized by concrete language, visual supports, repetition, and active parental involvement, constitutes an essential component of comprehensive ASD services. Keywords: Autism Spectrum Disorder. Male Adolescent Sexuality. Psychosexual Development. Sex Education This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. International License. Seksualitas pada Remaja dan Dewasa Muda Laki-Laki 126 PENDAHULUAN Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan neurologis yang ditandai oleh defisit dalam komunikasi sosial, pola perilaku repetitif, dan keterbatasan dalam fleksibilitas kognitif (American Psychiatric Association, 2. seluruh dunia, prevalensi ASD diperkirakan sekitar 1 dari 100 anak, dengan rasio lakilaki terhadap perempuan sebesar 4:1, menjadikan laki-laki sebagai populasi yang paling banyak terdampak (Zeidan et al. , 2. Saat memasuki masa remaja, individu dengan ASD menghadapi berbagai tantangan khusus, tidak hanya terkait gejala utama yang dimiliki, tetapi juga dalam perkembangan psikoseksual yang masih jarang diperhatikan oleh peneliti maupun praktisi. Seksualitas merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan setiap manusia, termasuk individu dengan ASD. Namun demikian, terdapat asumsi yang keliru dan masih umum dipegang bahwa individu ASD bersifat aseksual atau tidak memiliki minat terhadap seksualitas (Kellaher, 2. Asumsi tersebut bukan hanya tidak sesuai dengan kenyataan, teapi juga dapat berdampak buruk karena membuat remaja lakilaki dengan ASD kurang mendapatkan pendidikan seksual dan dukungan yang mereka butuhkan dalam memahami perkembangan psikoseksualnya. Akibatnya, mereka lebih beresiko mengalami perilaku seksual yang bermasalah, menjadi korban kekerasan atau eksploitasi, serta mengalami kesulitan dalam hubungan sosial dan romantis (Sevlever et al. , 2. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa remaja laki-laki ASD memiliki kebutuhan seksual dan ketertarikan romantis seperti remaja tipikal. Namun, mereka sering menghadapi berbagai hambatan, seperti kesulitan dalam keterampilan sosial, kurangnya pengetahuan tentang seksualitas, serta minimnya dukungan dari lingkungan sekitar (Dewinter et al. , 2015. Joyal et al. , 2. Kurangnya pendidikan seksual yang disesuaikan dengan karakteristik individu ASD dapat menjadi faktor risiko yang meningkatkan munculnya perilaku seksual yang tidak sesuai serta membuat mereka lebih rentan mengalami pelecehan (Brown-Lavoie et al. , 2. Permasalahan ini semakin kompleks karena sebagian besar program pendidikan seksual yang ada di sekolah dirancang untuk siswa tipikal dan tidak mengakomodasi kebutuhan khusus siswa ASD(Sullivan & Caterino, 2. Meskipun urgensinya jelas, kajian yang secara sistematis mensintesis bukti empiris tentang seksualitas remaja laki-laki ASD masih sangat terbatas. Sebagian besar penelitian dilakukan dengan sampel campuran tanpa pemisahan data berdasarkan gender, atau berfokus pada satu aspek seksualitas saja tanpa gambaran yang Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mensintesis secara sistematis temuan dari berbagai studi tentang: . gambaran perilaku, pengetahuan, dan pengalaman seksual remaja dan dewasa muda laki-laki ASD usia 12Ae25 tahun. faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan psikoseksual mereka. efektivitas intervensi dan program pendidikan seksualitas yang telah dikembangkan. 127 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 Temuan dari SLR ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis berupa pemahaman yang lebih komprehensif dan berbasis bukti tentang seksualitas laki-laki ASD, serta kontribusi praktis berupa rekomendasi pengembangan program pendidikan seksual yang efektif dan kontekstual. Mengingat dominasi studi dari konteks Barat dalam literatur yang ada, tinjauan ini juga secara kritis mengidentifikasi kesenjangan yang relevan untuk pengembangan penelitian dan program intervensi dalam konteks Asia Tenggara, termasuk Indonesia. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain Systematic Literature Review (SLR) yang mengacu pada panduan PRISMA 2020 (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyse. SLR merupakan metode penelitian yang secara sistematis mengidentifikasi, menyeleksi, mengevaluasi, dan mensintesis temuan dari berbagai studi yang relevan dengan pertanyaan penelitian yang telah ditetapkan (Snyder, 2. Pendekatan thematic synthesis dipilih sebagai metode sintesis karena memungkinkan integrasi bukti dari berbagai desain penelitian yang heterogen ke dalam tema-tema kohesif yang menjawab research question (Thomas & Harden, 2. Pencarian literatur dilakukan secara sistematis melalui empat database elektronik: PubMed. PsycINFO. ERIC, dan Scopus. Strategi pencarian menggunakan kombinasi kata kunci: . utism atau ASD atau Auautism spectrum disorderA. exuality atau sexual atau psychosexual atau Ausex educationA. ale atau boys atau men atau adolescen. dengan pembatasan pada artikel berbahasa Inggris yang dipublikasikan antara tahun 2000Ae2025. Selain pencarian database, pencarian manual dilakukan melalui penelusuran daftar referensi artikel yang terinklusi untuk mengidentifikasi studi yang mungkin terlewatkan. Kriteria inklusi yang ditetapkan adalah: . partisipan adalah remaja dan dewasa muda laki-laki dengan ASD berusia 12Ae25 tahun, atau studi campuran dengan data laki-laki dilaporkan secara terpisah atau mayoritas sampel berjenis kelamin laki-laki (>50%). topik penelitian berkaitan dengan seksualitas dalam arti luas, meliputi perilaku seksual, pengetahuan, pengalaman, pendidikan seksual, orientasi seksual, pengalaman kekerasan atau pelecehan seksual, atau perkembangan psikoseksual. desain penelitian mencakup studi kuantitatif, kualitatif, mixed methods, systematic review, atau review naratif yang relevan secara tematik. artikel diterbitkan dalam jurnal ilmiah peer-reviewed terindeks. Seleksi studi dilakukan dalam dua tahap oleh dua penilai secara independen: . skrining judul dan abstrak untuk menyaring relevansi awal, dan . penilaian kelayakan full-text berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Setiap ketidaksepakatan antar penilai diselesaikan melalui diskusi konsensus. Penilaian kualitas metodologis dilakukan menggunakan JBI Critical Appraisal Tools yang disesuaikan dengan masingmasing desain penelitian: checklist 13 item untuk studi kuantitatif (RCT dan crosectiona. , checklist 10 item untuk studi kualitatif, dan checklist 11 item untuk systematic Studi dengan skor kualitas di bawah 50% dieksklusi dari analisis utama. Ekstraksi Seksualitas pada Remaja dan Dewasa Muda Laki-Laki 128 data dilakukan secara sistematis menggunakan formulir standar yang mencakup: identitas studi, karakteristik partisipan, desain penelitian, instrumen pengukuran, temuan kunci, dan kesimpulan. Dari 760 rekaman yang teridentifikasi setelah deduplikasi, sebanyak 35 studi akhirnya memenuhi seluruh kriteria dan diinklusi dalam This section should provide sufficient details of the experiment, simulation, statistical test or analysis carried out to generate the results so that the method can be repeated by another researcher. HASIL DAN PEMBAHASAN Proses seleksi literatur menghasilkan 35 studi yang diinklusi dari 46 artikel yang awalnya diperoleh dari pencarian database dan manual. Rincian proses seleksi disajikan dalam alur PRISMA berikut: dari 880 rekaman awal . dari database 30 sumber lai. , setelah deduplikasi tersisa 760 rekaman. Skrining judul dan abstrak mengeksklusi 580 artikel yang tidak relevan, menghasilkan 180 artikel untuk penilaian full-text. Dari 180 artikel tersebut, 102 dieksklusi berdasarkan kriteria kelayakan . idak memenuhi kriteria populasi, usia, bahasa, atau desai. , 2 studi dieksklusi karena merupakan duplikat antar file, dan 5 studi dieksklusi karena tidak memenuhi kriteria fokus gender dan usia yang diperbarui. Kualitas metodologis studi yang tersisa dinilai menggunakan JBI, dan 34 studi yang tidak memenuhi ambang kualitas dieksklusi, menghasilkan 35 studi final untuk sintesis. Tabel 1. Karakteristik Studi yang Diinklusi Kategori Desain Penelitian Subkategori (%) Studi Representatif Cross-sectional 31,4% Dewinter et al. Joyal et al. Review naratif/konseptual 25,7% Sullivan & Caterino . Kellaher . Dewinter et al. 14,3% Barnett & Maticka-Tyndale . Kualitatif (IPA/wawancar. Longitudinal/followup 11,4% Dewinter et al. Cabral Fernandes et al. Systematic review/meta-analisis 5,7% Sevlever et al. Pecora et al. RCT 5,7% Visser et al. Visser et al. 129 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 Negara Tahun Publikasi Pilot study/survei 5,7% Dekker et al. Hellemans et al. Belanda 31,4% Dewinter et al. Dekker et Visser et al. Amerika Serikat 25,7% Holmes & Himle. Sullivan & Caterino Kanada 14,3% Joyal et al. Brown-Lavoie et al. Lainnya (Belgia. Australia. Swedia, 28,6% Hellemans et al. Pecora et Cabral Fernandes et al. 2000Ae2009 8,6% 2010Ae2014 28,6% 2015Ae2019 40,0% 2020Ae2025 22,9% Gambaran Seksualitas Laki-laki ASD (RQ. Temuan paling konsisten dalam literatur menunjukkan adanya perbedaan antara minat seksual dan pengalaman seksual interpersonal pada remaja laki-laki dengan ASD. Remaja laki-laki ASD diketahui memiliki minat seksual yang hampir sama dengan remaja tipik, tetapi lebih sedikit yang memiliki pengalaman seksual dengan pasangan. Hanya 42% remaja ASD yang pernah memiliki pengalaman seksual berpasangan, sedangkan pada kelompok tipik mencapai 76% (Dewinter et al. , 2. Hasil serupa juga menunjukkan bahwa hasrat seksual pada laki-laki ASD tidak berbeda secara signifikan dengan kelompok kontrol, tetapi pengalaman seksual berpasangan pada kelompok ASD jauh lebih rendah dibandingkan remaja tipik (Joyal et al. , 2. Masturbasi merupakan perilaku seksual yang paling sering ditemukan pada remaja laki-laki dengan ASD, dengan sekitar 92% remaja laki-laki ASD dilaporkan menunjukkan perilaku tersebut (Hellemans & Colson, 2. Penelitian lain juga menemukan bahwa sebagian remaja laki-laki ASD melakukan masturbasi di tempat yang tidak sesuai secara sosial, terutama pada individu dengan mild intellectual disability (Hellemans et al. , 2. Kondisi ini dipahami bukan sebagai bentuk penyimpangan seksual, melainkan akibat kurangnya pemahaman mengenai privasi dan norma sosial dalam konteks perilaku seksual (Realmuto & Ruble, 1. Selain itu, beberapa remaja laki-laki ASD juga menunjukkan perilaku ketertarikan romantis yang dilakukan secara berulang dan berlebihan, yang berkaitan dengan karakteristik ASD, bukan karena adanya niat antisosial (M. Stokes et al. , 2. Seksualitas pada Remaja dan Dewasa Muda Laki-Laki 130 Kerentanan terhadap kekerasan dan pelecehan seksual menjadi salah satu temuan yang konsisten dan mengkhawatirkan pada individu dengan ASD. Penelitian menunjukkan bahwa individu ASD memiliki risiko mengalami kekerasan atau pelecehan seksual sekitar 2Ae3 kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum (Sevlever et al. , 2. Temuan lain juga menunjukkan bahwa individu dewasa dengan ASD lebih sering mengalami kekerasan seksual dibandingkan individu non-ASD (Brown-Lavoie et , 2. Selain itu, pengetahuan seksual yang lebih baik diketahui berkaitan dengan rendahnya risiko mengalami kekerasan atau pelecehan seksual pada individu ASD (Joyal et al. , 2. Dari sisi orientasi seksual, beberapa penelitian juga menemukan bahwa prevalensi orientasi non-heteroseksual pada laki-laki ASD lebih tinggi dibandingkan populasi umum (Mehzabin & Stokes, 2011. Pecora et al. , 2. Perspektif kualitatif menunjukkan bahwa remaja laki-laki dengan ASD mengalami kesadaran terhadap perubahan tubuh yang terasa intens dan membingungkan. Mereka juga memiliki ketertarikan seksual, tetapi sering kali tidak memahami cara mengekspresikannya secara sosial. Selain itu, proses belajar mengenai seksualitas umumnya dilakukan melalui pengalaman sendiri atau trial-and-error karena kurangnya panduan yang jelas. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa remaja laki-laki ASD memiliki kebutuhan yang besar terhadap bimbingan seksual yang konkret dan sesuai dengan kondisi mereka, serta sering mengalami perasaan Aukesendirian seksualAy (Dewinter et al. , 2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Psikoseksual (RQ. Keterampilan sosial secara konsisten ditemukan sebagai faktor utama yang mendukung perkembangan psikoseksual yang positif pada remaja laki-laki dengan ASD. Penelitian menunjukkan bahwa keterampilan sosialisasi seksual menjadi area kesulitan terbesar pada remaja laki-laki ASD dibandingkan aspek perkembangan lainnya (Dekker et al. , 2. Selain itu, keterampilan sosial yang lebih baik diketahui dapat memprediksi pengalaman seksual yang lebih positif pada masa berikutnya (Dewinter, 2. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor yang paling berperan bukanlah kecerdasan umum, melainkan kemampuan sosial dalam konteks hubungan Keterlibatan orang tua merupakan salah satu faktor yang secara konsisten berpengaruh terhadap perkembangan psikoseksual remaja laki-laki dengan ASD. Penelitian menunjukkan bahwa orang tua rata-rata hanya mendiskusikan 3,2 dari 12 topik seksualitas dengan anak ASD mereka, dan semakin berat gejala ASD maka semakin rendah frekuensi komunikasi terkait seksualitas antara orang tua dan anak (Holmes & Himle, 2. Penelitian lain juga melaporkan bahwa 68% orang tua belum pernah membahas seksualitas dengan anak laki-laki ASD mereka (M. Stokes & Kaur. Selain itu, orang tua cenderung lebih banyak membahas bahaya seksual dibandingkan aspek positif seksualitas, yang dapat membentuk pandangan negatif terhadap seksualitas pada remaja laki-laki ASD (Holmes & Himle, 2. 131 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 Faktor kognitif juga turut memengaruhi perkembangan psikoseksual pada remaja laki-laki dengan ASD. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan IQ yang lebih tinggi cenderung memiliki profil psikoseksual yang lebih mendekati perkembangan tipikal (Dekker et al. , 2. Kemampuan verbal yang lebih baik juga diketahui berkaitan dengan pengetahuan seksual yang lebih tinggi pada individu ASD (Joyal et al. , 2. Penelitian longitudinal lainnya menemukan bahwa tingkat keparahan ASD pada masa kanak-kanak dapat memprediksi perkembangan seksual pada masa remaja dan dewasa, namun hubungan tersebut dapat dipengaruhi oleh akses terhadap pendidikan seksual yang tepat (Cabral et al. , 2. Selain itu, sebagian besar guru dilaporkan merasa belum siap mengajarkan pendidikan seksual kepada siswa ASD, sehingga menimbulkan kesenjangan dalam pendidikan seksual di lingkungan sekolah (Kalyva. Tabel 2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Psikoseksual Laki-laki ASD Faktor Arah Pengaruh Bukti Empiris Studi Kunci Keterampilan Prediktor positif =. 48, p<. Dewinter et al. Pengetahuan Prediktor positif. protektif terhadap r=Oe. 38 dengan viktimisasi . Joyal et al. Keterlibatan orang tua Prediktor positif. saat ini sangat Rata-rata 3,2/12 topik Holmes & Himle . Moderator positif IQ tinggi Ie profil mendekati tipik . =1,. Dekker et al. Moderator negatif ASD berat Ie lebih banyak perilaku tidak Cabral Fernandes et Kesiapan guru Hambatan sistemik 78% guru tidak Kemampuan kognitif (IQ) Keparahan ASD Kalyva . Efektivitas Intervensi Pendidikan Seksualitas (RQ. Tackling Teenage Training . merupakan satu-satunya program pendidikan psikoseksual yang memiliki bukti dari Randomized Controlled Trial (RCT) dalam literatur yang diinklusi, sehingga menjadi intervensi dengan tingkat bukti tertinggi. Penelitian menunjukkan bahwa program t mampu meningkatkan pengetahuan psikoseksual secara signifikan pada remaja dengan ASD, serta memberikan pengaruh positif terhadap sikap seksual peserta. Efek intervensi tersebut juga tetap bertahan hingga Seksualitas pada Remaja dan Dewasa Muda Laki-Laki 132 tiga bulan setelah program selesai (Visser et al. , 2. Sebelumnya, studi pilot juga menunjukkan bahwa program t memiliki tingkat penyelesaian peserta yang sangat tinggi dan memperoleh kepuasan yang baik dari peserta yang mengikuti program tersebut (Dekker et al. , 2. t terdiri dari 9 sesi kelompok mingguan . Ae8 pesert. yang mencakup topik: pubertas, privasi tubuh, norma sosial seksual, ketertarikan dan hubungan romantis, keamanan seksual, dan identitas seksual. Program ini juga melibatkan sesi paralel bagi orang tua yang dilaksanakan secara bersamaan. Kekuatan program ini terletak pada kesesuaiannya dengan karakteristik kognitif ASD: bahasa konkret dan eksplisit, struktur yang teratur dan dapat diprediksi, penggunaan visual aids dan roleplay, serta format kelompok kecil untuk latihan keterampilan interpersonal. Selain t, beberapa pendekatan alternatif dilaporkan dalam literatur. Penggunaan Social Stories yang dipersonalisasi diketahui efektif untuk membantu individu ASD memahami norma sosial dan seksual, terutama terkait privasi dan batasan diri (Stankova & Trajkovski, 2. Pendekatan lain berupa Behavioural Activation (BA) yang sensitif terhadap budaya juga dianggap berpotensi diterapkan pada konteks nonBarat, meskipun masih memerlukan pengujian empiris lebih lanjut (Saleh & Dillenburger, 2. Selain itu, pendekatan multidisiplin yang menggabungkan sesi individual, pelatihan kelompok, dan keterlibatan orang tua direkomendasikan sebagai model intervensi yang paling komprehensif dalam pendidikan psikoseksual bagi individu ASD (Ballan & Freyer, 2. Tabel 3. Ringkasan Program Intervensi Seksualitas untuk Remaja Laki-laki ASD Program Desain Uji Tackling Teenage Training . RCT Level Bukti Efek Utama Keterbatasan d=0,67 Level I . Konteks Belanda. IQ Ou70. follow-up 3 bulan. diadaptasi lintas budaya Social Stories Review Level Efektif untuk norma privasi Tidak ada uji empiris khusus Behavioural Activation (BA) Konseptual Level Belum diuji Hanya diusulkan untuk konteks Arab. perlu RCT Model Multidisiplin Rekomendasi Level Komprehensif secara teoritis Belum ada uji empiris Hasil SLR ini mengidentifikasi tiga pola konsisten yang memberikan pemahaman lebih menyeluruh mengenai seksualitas pada laki-laki dengan ASD. Pola pertama adalah adanya paradoks antara minat seksual dan pengalaman seksual. Remaja lakilaki ASD diketahui memiliki hasrat seksual yang setara dengan remaja tipik, tetapi 133 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 mereka menghadapi berbagai hambatan dalam mengekspresikan dan merealisasikan kebutuhan tersebut. Temuan ini membantah stereotip bahwa individu ASD tidak memiliki ketertarikan seksual atau bersifat aseksual (Kellaher, 2. Implikasinya, intervensi yang diberikan tidak seharusnya bertujuan menekan minat seksual yang dimiliki remaja ASD, melainkan membantu mereka mengekspresikannya secara aman dan sesuai norma sosial. Pandangan ini sejalan dengan model disabilitas sosialrelasional yang menyatakan bahwa hambatan perkembangan seksual pada individu ASD bukan semata-mata berasal dari kondisi ASD itu sendiri, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan yang kurang mendukung kebutuhan mereka (Gougeon, 2. Pola kedua menunjukkan bahwa pengetahuan seksual memiliki peran penting sebagai faktor protektif bagi remaja laki-laki dengan ASD. Penelitian menunjukkan bahwa individu ASD yang memiliki pengetahuan seksual lebih baik cenderung memiliki risiko lebih rendah mengalami kekerasan atau pelecehan seksual (Brown-Lavoie et al. Joyal et al. , 2. Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan seksual bukan hanya penting untuk mendukung perkembangan individu ASD, tetapi juga berperan sebagai upaya pencegahan kekerasan sehingga perlu menjadi prioritas dalam layanan bagi individu ASD. Hal ini memperkuat pandangan bahwa tidak diberikannya pendidikan seksual kepada remaja ASD merupakan bentuk kelalaian sistemik, bukan tindakan perlindungan demi kebaikan mereka (Sullivan & Caterino, 2. Pola ketiga menunjukkan adanya kesepakatan dalam berbagai penelitian mengenai pentingnya pendekatan kolaboratif yang melibatkan banyak pihak dalam pendidikan seksual bagi individu ASD. Kompleksitas pendidikan seksual pada remaja laki-laki ASD tidak dapat ditangani hanya oleh satu pihak saja. Efektivitas program t diketahui salah satunya berasal dari integrasi antara sesi untuk remaja dan keterlibatan orang tua dalam satu sistem yang saling mendukung (Visser et al. , 2. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa banyak guru merasa belum siap memberikan pendidikan seksual kepada siswa ASD, sementara komunikasi mengenai seksualitas antara orang tua dan anak ASD juga masih terbatas (Holmes et al. , 2014. Kalyva, 2. Temuan ini menunjukkan bahwa kesenjangan pendidikan seksual pada individu ASD merupakan masalah yang bersifat sistemik sehingga membutuhkan penanganan yang menyeluruh dan terintegrasi, bukan intervensi parsial yang terfragmentasi. Dari sisi efektivitas intervensi, dominasi program t sebagai satu-satunya intervensi dengan bukti Level I menunjukkan bahwa penelitian mengenai pendidikan psikoseksual pada individu ASD masih berada pada tahap awal. Beberapa prinsip yang membuat program t efektif, seperti penggunaan bahasa yang konkret, pengulangan materi, media visual, penyesuaian individual, dan keterlibatan orang tua, dapat dijadikan pedoman dalam pengembangan program intervensi lainnya. Namun, program t juga memiliki keterbatasan karena dikembangkan dalam konteks yang sangat spesifik, yaitu di Belanda dan pada individu dengan IQ Ou70, sehingga penerapannya pada budaya lain masih perlu dikaji lebih lanjut. Kajian dari Jordania juga mulai menyoroti pentingnya pengembangan program pendidikan seksual yang mempertimbangkan nilai budaya dan agama setempat (Saleh & Dillenburger, 2. Seksualitas pada Remaja dan Dewasa Muda Laki-Laki 134 Hal ini menjadi relevan bagi konteks Indonesia, di mana nilai keagamaan dan budaya lokal turut memengaruhi penerimaan serta penyampaian materi terkait seksualitas. Perluasan rentang usia hingga 25 tahun dalam SLR ini menunjukkan adanya kesenjangan penting dalam literatur, yaitu masih terbatasnya penelitian mengenai masa transisi dari remaja menuju dewasa muda pada individu dengan ASD. Penelitian menunjukkan bahwa tantangan psikoseksual pada individu ASD tidak berhenti pada masa remaja, tetapi terus berlanjut hingga dewasa muda dan menjadi lebih kompleks ketika dukungan dari lingkungan sekolah mulai berkurang (Barnett & Maticka-Tyndale. Cabral et al. , 2. Temuan ini mendukung pentingnya program pendidikan seksual yang bersifat berkelanjutan sepanjang tahap perkembangan, bukan hanya berfokus pada masa remaja. Hal ini juga memiliki implikasi penting bagi layanan ASD di Indonesia yang selama ini umumnya masih berpusat pada anak dan remaja, sementara program pendampingan transisi menuju dewasa muda masih sangat KESIMPULAN SLR ini mensintesis 35 studi mengenai seksualitas remaja dan dewasa muda laki-laki dengan ASD usia 12Ae25 tahun dan menghasilkan tiga kesimpulan utama. Pertama, lakilaki dengan ASD memiliki minat seksual yang setara dengan individu tipikal, tetapi pengalaman interpersonal yang lebih terbatas. Mereka juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami perilaku seksual yang kurang sesuai akibat keterbatasan pendidikan seksual dan pemahaman konteks sosial, lebih rentan mengalami kekerasan atau pelecehan seksual, serta menunjukkan keragaman orientasi seksual yang lebih tinggi. Kedua, keterampilan sosial ditemukan sebagai faktor paling kuat yang memengaruhi perkembangan psikoseksual pada laki-laki ASD. Selain itu, pengetahuan seksual berperan sebagai faktor protektif terhadap risiko kekerasan atau pelecehan seksual, sementara keterlibatan orang tua yang masih terbatas dan faktor kognitif juga turut memengaruhi perkembangan psikoseksual individu ASD. Ketiga, program Tackling Teenage Training . menjadi satu-satunya intervensi dengan bukti Randomized Controlled Trial (RCT) yang terbukti efektif. Program ini menggunakan pendekatan yang konkret, visual, berulang, adaptif, serta melibatkan kolaborasi dengan orang tua. Secara keseluruhan, temuan SLR ini menunjukkan bahwa pendidikan seksualitas berbasis bukti merupakan bagian penting dan mendasar dalam layanan komprehensif bagi individu dengan ASD, bukan sekadar layanan tambahan. Berdasarkan temuan penelitian, beberapa saran dapat dikemukakan. Bagi praktisi dan klinisi, penting untuk mengintegrasikan asesmen perkembangan psikoseksual secara rutin dalam evaluasi individu ASD menggunakan instrumen yang tervalidasi, serta memberikan pendidikan seksual sejak sebelum atau saat awal pubertas dengan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik ASD. Bagi pendidik, diperlukan pengembangan kurikulum pendidikan seksual yang adaptif bagi siswa ASD, seperti menggunakan bahasa yang konkret, media visual, dan struktur pembelajaran yang Selain itu, pelatihan bagi guru juga perlu ditingkatkan agar mereka lebih siap 135 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 memberikan pendidikan seksual kepada siswa ASD. Bagi pengembang program dan peneliti, diperlukan adaptasi program pendidikan seksual berbasis bukti, seperti t, ke dalam konteks budaya Indonesia melalui proses adaptasi budaya yang sistematis. Selain itu, perlu dikembangkan program khusus bagi laki-laki ASD dengan intellectual disability yang masih jarang mendapatkan layanan yang sesuai. Penelitian longitudinal juga penting dilakukan untuk melihat dampak jangka panjang pendidikan seksual, tidak hanya pada pengetahuan tetapi juga pada perilaku dan kesejahteraan Di samping itu, penelitian mengenai efektivitas program pendidikan seksual dalam konteks Indonesia perlu terus dikembangkan agar dapat memperkaya literatur global yang saat ini masih didominasi oleh penelitian dari negara Barat. REFERENSI