Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. https://doi. org/10. 35877/panrannuangku3926 ISSN: 2798-1096 . Optimalisasi Partisipasi Masyarakat Melalui Focus Group Discussion (FGD) dalam Program Kampung Bersih Nusantara di Kelurahan Pannampu. Kecamatan Tallo. Kota Makassar Sitti Masyitah Meliyana*. Ansari Saleh Ahmar. Rusli. Abdul Rahman. Hastuty Musa Universitas Negeri Makassar. Makassar and 90224. Indonesia Abstract Program Kampung Bersih Nusantara merupakan salah satu inisiatif strategis dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas lingkungan permukiman. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan kebersihan lingkungan dan menyusun solusi berbasis partisipasi masyarakat melalui pendekatan Focus Group Discussion (FGD) di Kelurahan Pannampu. Kecamatan Tallo. Kota Makassar. Metode pelaksanaan mencakup observasi lapangan, pelibatan tokoh masyarakat dan warga setempat, serta pelaksanaan FGD sebagai sarana komunikasi partisipatif. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa FGD mampu menjadi media efektif dalam menggalang komitmen warga, menggali aspirasi lokal, dan menyusun rencana aksi kampung bersih secara kolektif. Kegiatan ini juga menghasilkan peta masalah lingkungan dan rencana tindak lanjut yang disepakati bersama. Program ini diharapkan dapat direplikasi pada kelurahan lain dengan penyesuaian konteks sosial dan budaya lokal. Keywords: Kampung Bersih Nusantara. Focus Group Discussion. Partisipasi Masyarakat. Lingkungan. Pemberdayaan. Pendahuluan* Kelurahan Pannampu merupakan salah satu wilayah padat penduduk di Kecamatan Tallo. Kota Makassar, dengan karakteristik sosial yang dinamis dan tantangan lingkungan yang kompleks. Permasalahan utama yang ditemukan meliputi penumpukan sampah rumah tangga, kurangnya fasilitas tempat sampah, serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan (Rahmat et al. , 2. Isu lingkungan, khususnya pengelolaan sampah dan sanitasi, masih menjadi tantangan besar di wilayah padat penduduk seperti Kelurahan Pannampu. Kecamatan Tallo. Kota Makassar. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Makassar . , wilayah ini menghasilkan rata-rata 6,5 ton sampah harian, namun hanya sekitar 70% yang terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Berbagai studi menunjukkan bahwa keterlibatan aktif masyarakat menjadi determinan utama dalam keberhasilan program lingkungan berbasis komunitas (Yuliana, 2019. Kusnadi, 2. Namun, keterbatasan sarana prasarana, rendahnya literasi lingkungan, dan lemahnya koordinasi antaraktor lokal sering menjadi penghambat (Rahmat et al. Ningsih & Wahyudi, 2. Program Kampung Bersih Nusantara yang digagas oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bertujuan untuk mendorong pelibatan aktif masyarakat dalam menciptakan lingkungan bersih dan sehat (KLHK, 2. Corresponding author: E-mail address: sittimasyitahmr@unm. Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat is licensed under an Attribution-NonCommercial 4. 0 International (CC BY-NC 4. Meliyana et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 94Ae100 Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada partisipasi aktif warga (Nugraha & Wulandari, 2. Untuk mewujudkan itu, dibutuhkan pendekatan yang partisipatif dan dialogis. Salah satu metode yang efektif digunakan adalah Focus Group Discussion (FGD), karena mampu membangun pemahaman bersama dan menciptakan konsensus solusi (Susanti & Hidayat, 2. Dalam kegiatan ini, tim secara langsung berada di lapangan untuk memfasilitasi proses diskusi, melakukan observasi, dan membangun kepercayaan warga. Pendekatan yang humanistik dan berbasis kontekstual ini selaras dengan prinsip pembangunan partisipatif ala Chambers . , yang menekankan pentingnya kehadiran fasilitator yang memahami dinamika lokal. Metode Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan selama lima hari, mulai tanggal 8 hingga 12 April 2025, berlokasi di Kelurahan Pannampu. Kecamatan Tallo. Kota Makassar. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan partisipatif-kualitatif melalui metode utama Focus Group Discussion (FGD), dilengkapi dengan observasi partisipatif, wawancara informal, dan pemetaan sosial. Tim Pengabdian secara langsung berada di lokasi kegiatan sebagai fasilitator utama, berinteraksi intensif dengan warga, tokoh masyarakat, dan perangkat kelurahan. Observasi Awal dan Penggalian Masalah Tim memulai kegiatan dengan melakukan observasi langsung di beberapa titik padat pemukiman, khususnya di RW 01. RW 02, dan RW 03 yang menurut laporan kelurahan merupakan wilayah dengan volume sampah harian tertinggi. Tim secara berkelompok menyusuri lorong-lorong sempit yang menjadi jalur utama warga dan mencatat keberadaan tumpukan sampah yang tidak terkelola, saluran air tersumbat, serta minimnya tempat pembuangan sementara (TPS). Selain observasi visual, tim juga melakukan wawancara informal dengan ibu-ibu rumah tangga yang sedang duduk di teras, serta bapak-bapak yang sedang berkumpul di warung kopi. Dari interaksi awal ini, tim memperoleh gambaran bahwa sebagian warga belum memiliki pemahaman yang kuat tentang pemilahan sampah dan masih mengandalkan petugas kebersihan kelurahan secara penuh. Tim juga menyempatkan diri berbincang dengan Ketua RW setempat untuk menggali kronologi dan upaya-upaya yang telah dilakukan sebelumnya. Koordinasi dan Sosialisasi Program Keesokan harinya, tim melakukan audiensi dengan Lurah Pannampu bersama Ketua LPM. Ketua Karang Taruna, dan beberapa Ketua RT untuk memaparkan maksud dan tujuan kegiatan. Tim menyampaikan bahwa FGD akan menjadi media untuk menyerap aspirasi masyarakat dan merancang solusi bersama, bukan sekadar sesi ceramah sepihak. Sosialisasi kegiatan dilakukan secara door-to-door dengan membagikan undangan kepada warga terpilih perwakilan dari masing-masing RT, tokoh masyarakat, kader PKK, dan pemuda setempat. Tim dibantu oleh perangkat kelurahan untuk menyampaikan bahwa kegiatan ini penting untuk mewujudkan Kampung Bersih Nusantara secara berkelanjutan dan bukan hanya seremonial. Pelaksanaan FGD FGD dilaksanakan di pelataran rumah warga Pannampu pada tanggal 11 Maret 2025. Sebanyak 25 peserta hadir, terdiri dari warga RW 01. RW 02. RW 03, kader lingkungan, serta perwakilan pemuda dan ibu rumah tangga. Tim bertindak sebagai fasilitator utama, dibantu satu notulen dari pihak kelurahan. Pelaksanaan FGD dibagi menjadi dua sesi: Sesi I: Identifikasi Masalah dan Akar Permasalahan Tim membuka sesi dengan pemetaan masalah menggunakan teknik problem tree. Warga menyebutkan permasalahan seperti penumpukan sampah, jadwal pengangkutan tidak menentu, dan perilaku buang sampah Tim mengarahkan diskusi hingga warga sendiri menyadari bahwa akar masalah bukan hanya pada petugas, tetapi juga pada kebiasaan warga sendiri. Meliyana et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 94Ae100 Fig. Pelaksanaan FGD di Kelurahan Pannampu Kecamatan Tallo. Kota Makassar. Sesi II: Penyusunan Solusi dan Rencana Aksi Dengan metode ranking prioritas, warga diajak menentukan langkah strategis yang realistis. Usulan yang muncul antara lain: Pembentukan relawan kebersihan per RT. Penjadwalan gotong royong rutin setiap dua minggu. Edukasi pemilahan sampah di rumah tangga. Pemanfaatan bahan bekas menjadi tempat sampah kreatif. Diskusi berlangsung dinamis, penuh antusiasme, dan beberapa peserta bahkan mengusulkan membuat bank sampah mini berbasis keluarga. Validasi Hasil dan Penetapan Komitmen Bersama Pada tahap ini, hasil diskusi FGD tim merangkum dalam bentuk dokumen rencana aksi sederhana dan dipresentasikan kembali di hadapan peserta FGD. Tim memfasilitasi sesi refleksi bersama untuk memastikan bahwa setiap peserta memahami tanggung jawab dan peran masing-masing. Sebagai bentuk komitmen, tim meminta perwakilan dari masing-masing RT untuk menandatangani peta aksi bersama, yang mencantumkan nama-nama relawan, jadwal gotong royong, dan rencana pembinaan bank sampah. Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan pembagian poster edukatif yang tim bawa khusus sebagai media pengingat. Selama seluruh proses kegiatan, tim mencatat bahwa kehadiran langsung di lapangan sebagai fasilitator sangat membantu dalam membangun kepercayaan dan partisipasi aktif warga. Tidak hanya menjadi pengamat, tim ikut bergotong royong dan menyapa warga di sela kegiatan. Pendekatan ini terbukti memperkuat ikatan emosional dan keberhasilan penyusunan rencana aksi berbasis komunitas. Meliyana et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 94Ae100 Fig. Penandatanganan Lembar Komitmen oleh Peserta FGD. Fig. Foto Bersama Peserta FGD dan TIM PKM. Hasil dan Pembahasan Kegiatan pengabdian masyarakat melalui Focus Group Discussion (FGD) di Kelurahan Pannampu Kecamatan Tallo Makassar menghasilkan sejumlah temuan penting baik dari aspek lingkungan fisik, sosial budaya, maupun partisipasi warga dalam mendukung program Kampung Bersih Nusantara. Kondisi Lingkungan Fisik: Minimnya Fasilitas Pengelolaan Sampah Hasil observasi pada hari pertama menunjukkan bahwa kawasan RW 01. RW 02, dan RW 03 memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, dengan lorong-lorong sempit yang sebagian besar tidak memiliki tempat pembuangan sampah Meliyana et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 94Ae100 sementara (TPS). Banyak rumah tangga membuang sampah ke saluran air, menyebabkan saluran tersumbat dan menimbulkan bau tidak sedap. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya jadwal pengangkutan sampah yang konsisten dari petugas Dinas Kebersihan, sehingga tumpukan sampah di sudut-sudut gang menjadi pemandangan harian. Permasalahan ini diakui warga selama sesi FGD, di mana mayoritas mengeluhkan lambannya respon pemerintah dalam menyediakan fasilitas dasar (TPS, tong sampah komunal, armada pengangku. Kesadaran dan Perilaku Warga Terhadap Kebersihan Lingkungan Diskusi dalam FGD mengungkapkan bahwa meskipun sebagian warga menyadari pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, namun dalam praktiknya masih terdapat perilaku membuang sampah sembarangan. Beberapa alasan yang dikemukakan antara lain: Tidak adanya fasilitas penampungan sampah yang memadai. Kurangnya kesadaran kolektif dalam membangun kebiasaan hidup bersih. Anggapan bahwa pengelolaan sampah sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah atau petugas kebersihan. Dari hasil problem tree analysis, warga sendiri mengakui bahwa budaya gotong royong di lorong mereka mulai memudar, khususnya pada generasi muda. Ibu-ibu rumah tangga merasa enggan mengajak anak-anaknya membersihkan halaman atau saluran air karena merasa itu bukan tugas pribadi. Antusiasme dan Respon Warga dalam FGD Meskipun awalnya ada keraguan mengenai tujuan kegiatan FGD, setelah penjelasan dan fasilitasi berjalan dengan suasana terbuka dan interaktif, partisipasi warga meningkat secara signifikan. Selama dua hari pelaksanaan FGD, diskusi berjalan hidup, banyak warga yang menyampaikan pendapat, keluhan, dan harapan. Beberapa peserta bahkan menyampaikan testimoni bahwa ini pertama kalinya mereka terlibat dalam kegiatan diskusi publik yang terstruktur. Fasilitasi melalui metode ranking prioritas dan brainstorming aksi mendorong warga menyampaikan solusi-solusi kreatif, antara lain: Pemilahan sampah sejak dari rumah dengan 3 kategori: organik, anorganik, dan B3. Pembentukan relawan lingkungan berbasis RT/RW yang bertugas memantau dan mengedukasi tetangga. Penjadwalan gotong royong dan rotasi tanggung jawab kebersihan lorong. Pemetaan Potensi dan Rencana Aksi Komunitas Dokumen rencana aksi yang disusun bersama memuat tiga strategi utama: Pendidikan lingkungan melalui penyuluhan dari kader dan pemasangan poster edukatif. Pembentukan Tim Relawan Lorong Bersih yang terdiri dari minimal 5 warga per RT yang akan menjadi penggerak Pemanfaatan Bahan Bekas untuk Tempat Sampah Kreatif sebagai bagian dari kampanye daur ulang. Rencana ini telah divalidasi oleh perwakilan masing-masing RT melalui penandatanganan komitmen aksi kolektif. Salah satu dampak langsung dari FGD ini adalah penetapan jadwal gotong royong dua minggu sekali, dimulai tanggal 12 Maret 2025, yang disepakati bersama oleh semua peserta. Analisis Dinamika Sosial dan Tantangan Berdasarkan interaksi saya selama berada di lapangan, terdapat dinamika sosial yang menarik: Meliyana et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 94Ae100 Kepemimpinan informal dari tokoh masyarakat seperti Ketua RT dan pemuka agama memiliki peran besar dalam memengaruhi partisipasi warga. Perempuan, khususnya ibu rumah tangga, menjadi motor utama dalam inisiatif kebersihan karena mereka yang paling terdampak langsung oleh kondisi lingkungan. Generasi muda cenderung pasif, namun menunjukkan potensi ketika diberikan ruang partisipasi, seperti ide pembuatan konten media sosial kampanye kebersihan. Namun demikian, tantangan utama yang masih harus dihadapi adalah konsistensi pelaksanaan rencana aksi dan pengawasan kolektif. Tanpa dukungan berkelanjutan dari kelurahan dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, warga dikhawatirkan akan kehilangan semangat dalam waktu singkat. Keterkaitan dengan Tujuan Program Kampung Bersih Nusantara Hasil FGD menunjukkan bahwa prinsip-prinsip dasar dari program Kampung Bersih Nusantara telah mulai disadari oleh masyarakat, khususnya dalam aspek: Kebersamaan dalam aksi kolektif Pemberdayaan berbasis warga Inovasi local untuk pengelolaan sampah Program ini telah membuka ruang dialog dan kolaborasi antarwarga, serta membangun fondasi bagi perubahan perilaku jangka panjang yang sejalan dengan visi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam mengarusutamakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Kesimpulan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) Program Kampung Bersih Nusantara di Kelurahan Pannampu telah berhasil membangun kesadaran kolektif warga mengenai pentingnya pengelolaan lingkungan yang bersih dan sehat. Melalui pendekatan partisipatif, warga menunjukkan antusiasme dalam mengidentifikasi masalah, merumuskan solusi, dan menyusun rencana aksi berbasis komunitas. Temuan utama dari kegiatan ini menunjukkan bahwa: Permasalahan sampah dan kebersihan lingkungan di Kelurahan Pannampu bersumber dari keterbatasan infrastruktur pendukung, rendahnya kesadaran warga, dan lemahnya koordinasi antar pemangku kepentingan. Pelibatan warga secara langsung melalui FGD mendorong terbentuknya rasa memiliki . ense of belongin. terhadap program kebersihan, sehingga warga lebih bersedia untuk terlibat aktif. Rencana aksi kolaboratif yang disusun warga mencakup langkah-langkah konkret, seperti pembentukan relawan lingkungan per RT, edukasi pemilahan sampah rumah tangga, dan gotong royong rutin. Partisipasi perempuan dan tokoh informal menjadi kekuatan sosial yang dapat dioptimalkan sebagai penggerak perubahan perilaku masyarakat terhadap kebersihan lingkungan. Dengan demikian. FGD terbukti sebagai metode efektif untuk menyerap aspirasi warga, mendorong kolaborasi, dan menginisiasi gerakan kampung bersih yang berkelanjutan. Berdasarkan hasil kegiatan ini, disampaikan beberapa saran sebagai berikut: Pemerintah Kelurahan: Fasilitasi pembentukan relawan lingkungan dan penyediaan TPS di setiap RW. Warga Masyarakat: Aktif dalam gotong royong dan konsisten memilah sampah dari rumah. Perguruan Tinggi: Lanjutkan pendampingan warga melalui edukasi dan media informasi lingkungan. Dinas Lingkungan Hidup: Dukung program dengan bantuan sarana kebersihan dan pembentukan bank sampah. Meliyana et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 94Ae100 Acknowledgements Kami menyampaikan terima kasih kepada Lurah Pannampu. Ketua LPM, para Ketua RT/RW, dan seluruh warga Kelurahan Pannampu. Kecamatan Tallo. Kota Makassar, atas partisipasi aktif dan dukungannya selama kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Program Kampung Bersih Nusantara berlangsung. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada tim fasilitator lapangan dan mahasiswa pendamping yang telah membantu kelancaran kegiatan. Tak lupa, kami mengapresiasi pihak universitas dan lembaga pengabdian masyarakat atas dukungan moral dan administratif yang memungkinkan kegiatan ini terlaksana dengan baik. Semoga kolaborasi ini membawa dampak positif yang berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat Kelurahan Pannampu. References