50 PENGARUH PENGELUARAN PEMERINTAH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI KABUPATEN BERAU Kristian Bondon bondon_apb@yahoo. Universitas Muhammadiyah Berau ABSTRACT The purpose of this study was to determine the effect of government spending . ndirect spending and direct spendin. on economic growth in Berau District. The samples used in this study are the Berau District Government LRA time series for 2011-2020 and BPS Berau publication data in Figures for the 2012-2021 time The analytical tools used are: normality test, multicollinearity test, autocorrelation test, heteroscedasticity test, multiple linear regression analysis, correlation coefficient, coefficient of determination, t test, and F test. The results of the study concluded that: . Government spending through indirect spending has a partially significant effect on economic growth in Berau District. Evidenced by the results of the t test where t-count < - t-table (-4. 383 < -2. and the significance value (Sig. ) is smaller than the probability value . 003 < 0. Government spending through direct spending partially has a significant effect on economic growth in Berau District. Evidenced by the results of the t test where t-count > t-table . 416 > 2. and the significance value (Sig. ) is smaller than the probability value . 046 <0. Government spending through indirect spending and direct spending has a significant simultaneous effect on economic growth in Berau District. This is evidenced by the results of the F test where F-count > F-table . 139 > 4. and the significance value (Sig. ) is smaller than the probability value . 009 <0. Keywords: Economic Growth. Government Spending ,Indirect Spending. Direct Spending. PENDAHULUAN Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator untuk melihat hasil pembangunan yang telah dilakukan dan juga berguna untuk menentukan arah pembangunan di masa yang akan datang. Pertumbuhan ekonomi menjadi tujuan bangsa agar dapat pula meningkatkan pembangunan nasional yang dapat meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan berdasarkan kemampuan nasional. Pertumbuhan ekonomi yang positif menjadi target utama bagi seluruh negara, baik negara maju maupun negara berkembang, karena akan semakin banyak investor yang tertarik untuk menanamkan modal di negara tersebut. Semakin banyak investor yang masuk maka ketersediaan modal juga akan semakin meningkat sehingga diharapkan dengan investasi yang semakin meningkat dan semakin besar pula kesempatan kerja yang ditawarkan. Indikator yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi daerah adalah tingkat pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Nilai PDRB yang digunakan dalam mengukur pertumbuhan ekonomi dilihat dari nilai PDRB mengukur aliran pendapatan dan pengeluaran dalam perekonomian selama periode Pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Untuk mengukur. PDB berdasarkan harga konstan (PDB Ril. sehingga angka pertumbuhan yang dihasilkan merupakan pertumbuhan rill yang terjadi karena adanya pertambahan produksi (Mankiw, 2. Pembangunan daerah diharapkan akan membawa dampak positif pula terhadap pertumbuhan Pertumbuhan ekonomi daerah dapat dicerminkan dari perubahan PDRB dalam suatu wilayah (Suryono, 2. Keberhasilan suatu daerah dalam meningkatkan kesejahteraan warganya diukur JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. November 2022 melalui tingkat pertumbuhan ekonomi yang berhasil Tinggi rendah laju pertumbuhan ekonomi suatu daerah menunjukkan tingkat perubahan kesejahteraan ekonomi masyarakatnya. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabil dari tahun ke tahun berarti kesejahteraan ekonomi meningkat, sementara perekonomian yang menurun atau pertumbuhan ekonomi dengan nilai negatif berarti turunnya kesejahteraan ekonomi. Disisi lain tingkat pertumbuhan ekonomi juga digunakan untuk mengevaluasi tepat atau tidaknya kebijakan yang telah diambil sehubungan dengan peran pemerintah dalam perekonomian. Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan pengeluaran pemerintah menjadi subjek menarik untuk dianalisis. Dalam kesempatan ini penulis berkeinginan untuk mengkaji lebih lanjut tentang pengeluaran pemerintah daerah yang dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi daerah di Kabupaten Berau. TINJAUAN TEORITIS Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi merupakan sebuah kondisi dimana terjadi peningkatan pada pendapatan karena produksi barang dan jasa yang semakin Sukirno . berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi adalah perubahan tingkat kegiatan ekonomi yang berlaku dari tahun ke tahun. Sehingga untuk mengetahuinya harus diadakan perbandingan pendapatan nasional dari tahun ke tahun, yang dikenal dengan laju pertumbuhan Menurut Todara dan Smith . , pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses peningkatan kapasitas produktif dalam suatu perekonomian yang terjadi secara terus menerus dan berkesinambungan sehingga dapat menghasilkan tingkat pendapatan dan output yang semakin meningkat pada tiap tahunnya. Menurut Prasetyo . , istilah pertumbuhan ekonomi . conomic growt. secara paling sederhana dapat diartikan sebagai pertambahan output atau pertambahan pendapatan nasional agregat dalam kurun waktu tertentu misalkan satu tahun. Perekonomian suatu negara dikatakan mengalami pertumbuhan jika jumlah balas jasa riil terhadap penggunaan faktorfaktor produksi pada tahun tertentu lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan pengertian di atas dapat merupakan proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk pendapatan nasional dalam selang waktu tertentu. Pertumbuhan keberhasilan pembangunan pada suatu wilayah, dimana pertumbuhan ekonomi merupakan faktor penting dalam pembangunan. Tinggi rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi digunakan sebagai ukuran keberhasilan pembangunan negara ataupun Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran pembelanjaan barang- barang modal, barang konsumsi dan jasa-jasa. Pengeluaran pemerintah merupakan penggunaan uang dan sumber daya suatu negara untuk membiayai kegitan-kegiatan yang diselengarakan negara atau pemerintah guna kesejahteraan (Pujoalwanto, 2014:. Menurut Ilyas dalam Anggraeni . pengeluaran pemerintah menyangkut seluruh pengeluaran untuk kegiatan-kegiatannya, tersebut bertujuan agar tercapai kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Dapat disimpulkan bahwasannya pengeluaran pemerintah merupakan anggaran yang digunakan pemerintah dalam membiayai berbagai kegiatan dan pengeluaran lainnya guna menciptakan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Peran pemerintah sangatlah penting untuk mengatur jalannya perekonomian agar tercipta stabilitas pada sistem perekonomian. Secara umum peranan dan fungsi pemerintah dalam perekonomian dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu: Fungsi Alokasi, yaitu mengalokasikan sumber daya yang digunakan dalam memproduksi barang yang berasal dari barang swasta atau barang Barang swasta merupakan barang yang ketersediaannya dapat dipenuhi oleh sistem pasar. Barang publik merupakan barang yang tidak dapat disediakan oleh pihak swasta seperti prasarana jalan, pertahanan dan sebagainya yang pengadaannya disediakan oleh pemerintah. Fungsi Distribusi, yaitu peran pemerintah dalam melakukan distribusi sumber daya bagi Pendistribusian pendapatan atau kekayaan yang dilakukan pemerintah dilakukan guna mensejahterakan rakyatnya. Melalui subsidi pemerintah dapat memepengaruhi distribusi pendapatan secara tidak langsung, yakni melalui kebijakan anggaran seperti subsidi pupuk untuk petani, atau subsidi BBM, serta subsidi listrik. Fungsi Stabilisasi, peran pemerintah yang paling utama yaitu sebagai stabilitator perekonomian. Pemerintah dapat menstabilkan keadaan ekonomi agar hal-hal yang tidak diinginkan dapat dicegah sehingga tercipta perekonomian yang kondusif dimana inflasi akan terkendali, sistem keamanan akan JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. November 2022 terjamin, serta tingkat pertumbuhan ekonomi yang memadai (Mangkoesubroto, 2012:. Hubungan Pengeluaran Pemerintah dengan Pertumbuhan Ekonomi Pengeluaran yang dilakukan pemerintah akan mempengaruhi berbagai sektor dalam Adanya pengeluaran pemerintah secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap sektor produksi barang dan jasa. Dengan adanya peningkatan pengeluaran pemerintah untuk pengadaan barang dan jasa akan berpengaruh secara langsung terhadap peningkatan produksi barang dan Peningkatan produksi barang dan jasa akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, secara teori kenaikan pengeluaran pemerintah akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. METODE PENELITIAN Analisis dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif Alat analisis yang digunakan adalah uji normalitas, uji multikolienaritas, uji autokorelasi, uji heteroskedisitas, regresi linier berganda, koefisien korelasi, koefisien determinasi, uji t dan uji F. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Uji Normalitas Uji Normalitas bertujuan untuk menguji kenormalan distribusi data. Pada analisis statistik parametik, asumsi yang harus dimiliki oleh data adalah harus terdistribusi secara normal. Pengujian dilakukan dengan menggunakan uji KolmogorovSmirnov, dengan kriteria apabila tingkat signifikansi variabel (Asymp. Sig. ) lebih besar dari 0,05 berarti data terdistribusi secara normal. Ha : Populasi tidak berdistribusi normal Dasar pengambilan keputusan adalah berdasarkan probabilitas: Jika nilai probabilitas/Asymp. Sig . -taile. > 0,05 maka Ho diterima. Jika nilai probabilitas/Asymp. Sig . -taile. < 0,05 maka Ho ditolak. Keputusan: Nilai Asymp. Sig . -taile. 0,200 > 0,05 maka Ho diterima, yang berarti populasi berdistribusi normal. Uji Multikolinearitas Uji ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas, model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Kriteria uji multikolinearitas adalah: Apabila nilai VIF > 10, maka terjadi Apabila nilai VIF < 10, maka tidak terjadi Hasil pengujian multikolinearitas data penelitian dengan menggunakan program SPSS dapat dilihat pada tabel berikut: Berdasarkan Tabel 8, dapat diketahui bahwa nilai VIF dari masing-masing variabel independen, yaitu: ln_Belanja Tidak Langsung = 2,052 < 10, maka tidak terjadi multikolinearitas. ln_Belanja Langsung = 2,052 > 10, maka terjadi multikolinearitas. Analisis: Ho : Populasi berdistribusi normal Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji nilai dari variabel dependen tidak berhubungan dengan nilai variabel itu sendiri, baik nilai variabel sebelumnya atau nilai periode sesudahnya. Pengujian dilakukan dengan menggunakan metode uji runs test, dengan dasar pengambilan keputusannya sebagai JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. November 2022 Jika nilai Asymp. Sig. -taile. < 0,05 maka terdapat gejala autokorelasi. Jika nilai Asymp. Sig. -taile. > 0,05 maka tidak terdapat gejala autokorelasi. Hasil pengujian autokorelasi data penelitian dengan meng- gunakan program SPSS dapat dilihat pada tabel berikut. Berdasarkan output di atas diketahui nilai signifikansi (Sig. ) untuk ln_Belanja Tidak Langsung adalah 0,583 dan nilai signifikansi (Sig. ) untuk ln_Belanja Langsung adalah 0,861. Karena nilai signifikansi kedua variabel tersebut lebih besar dari 0,05 maka sesuai dengan dasar pengambilan keputusan dalam uji glejser, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala heteroskedastisitas dalam model regresi. Analisis Regresi Linier Berganda Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Hasil analisis regresi linier berganda dengan menggunakan program SPSS dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 11. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Berdasarkan output SPSS di atas, diketahui nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,314 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala atau masalah autokorelasi, sehingga analisis regresi linear dapat dilanjutkan Uji Heteroskedastisitas Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance . dari nilai residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi gejala Adapun dasar pengambilan keputusan uji heteroskedastisitas dengan menggunakan uji glejser adalah sebagai berikut: Jika nilai signifikansi (Sig. ) > 0,05, maka kesimpulannya adalah tidak terjadi gejala heteroskedastisitas dalam model regresi. Jika nilai nilai signifikansi (Sig. ) < 0,05, heteroskedastisitas dalam model regresi. Berdasarkan tabel di atas, maka dapat dibuat dalam bentuk persamaan regresi berikut ini: Ln_Y = 38,041 - 3,287ln_X1 1,901ln_X2 Dimana: ln_Pertumbuhan Ekonomi ln_Belanja Tidak Langsung ln_Belanja Langsung Dari persamaan regresi linier berganda di atas maka dapat diinterpretasikan sebagai berikut: Nilai konstanta adalah 38,041. Ini berarti bahwa dalam keadaan Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung nilainya tetap atau dalam keadaan tidak ada pengaruh . ateris paribu. , maka Pertumbuhan Ekonomi akan bergerak naik-turun sebesar 38,041 satuan. Koefisien regresi Belanja Tidak Langsung bertanda negatif dengan koefisien sebesar 3,287. Hal ini menunjukkan bahwa variabel Belanja Tidak Langsung berpengaruh negatif dan tidak searah terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Apabila Belanja Tidak Langsung naik 1 persen maka tingkat JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. November 2022 Pertumbuhan Ekonomi akan turun sebesar 3,287 persen dengan syarat variabel lainnya tetap, begitupun sebaliknya. Koefisien regresi Belanja Langsung bertanda positif dengan koefisien sebesar 1,901. Hal tersebut menunjukkan bahwa Belanja Langsung Pertumbuhan Ekonomi. Apabila Belanja Langsung naik 1 persen, maka Pertumbuhan Ekonomi akan naik pula sebesar 1,901 persen dengan syarat variabel lainnya tetap, begitupun sebaliknya. Hasil regresi linier tersebut di atas menunjukkan pula bahwa Belanja Tidak Langsung merupakan faktor yang paling dominan terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Berau. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien regresinya yang paling tinggi yaitu 3,287 dibandingkan dengan variabel Belanja Langsung. Koefisien Korelasi Untuk mengukur tingkat kolerasi atau keeratan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat, diukur dengan meng- gunakan rumus korelasi Pearson Product Moment . asil output program SPSS). Tabel 12. Hasil Analisis Koefisien Korelasi dan Determinasi Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,862, berarti bahwa Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung mempunyai tingkat keeratan hubungan . yang tinggi terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Koefisien Determinasi (R Squar. Koefisien Squar. merupakan proporsi variabel total dalam variabel terikat yang dijelaskan oleh variabel bebas secara bersama-sama. Besarnya biasanya antara 0 . dan 1 . Apabila R Square sama dengan 1, berarti garis yang disamakan dapat menjelaskan 100 persen variasi dalam variabel terikat. Sebaliknya, bila R Square sama dengan 0, berarti model tidak menjelaskan sedikitpun variasi dalam variabel bebas. Hasil analisis koefisien determinasi dengan menggunakan program SPSS dapat dilihat pada Tabel 11 di atas. Dapat diketahui bahwa nilai R Square adalah 0,743, yang artinya secara bersama-sama Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung mampu memberikan variasi penjelasan variabel Pertumbuhan Ekonomi sebesar 74,3 persen, sedangkan sisanya sebesar 25,7 persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam estimasi model ini. Uji t Uji t statistik merupakan pengujian secara individual variabel bebas terhadap variabel terikat, untuk membuktikan bahwa koefisien regresi ini secara statistik berpengaruh signifikan. Hasil analisis Uji t dengan menggunakan program SPSS dilihat pada tabel berikut. Berdasarkan tabel di atas. maka dapat diketahui Pengaruh Belanja Tidak Langsung terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nilai t-hitung = -4,383 . utput SPSS) dan nilai t-tabel = 2,365 ( = 5 persen. df = 10 - 1 - 2 = . Dengan demikian dapat ditentukan bahwa: t-hitung < - t-tabel atau -4,383 < -2,365, artinya Belanja Tidak Langsung berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Pengaruh Belanja Langsung terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nilai t-tabel = 2,365 dan nilai t-hitung = 2,416. Maka dapat ditentukan bahwa: thitung > t-tabel atau 2,416 > 2,365, artinya Belanja Langsung berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Uji F Uji F statistik berguna untuk pengujian secara serentak . apakah secara keseluruhan koefisien regresi tersebut signifikan dalam JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. November 2022 menentukan nilai variabel terikat. Hasil analisis Uji F statistik dengan menggunakan program SPSS dapat dilihat pada tabel berikut. Berdasarkan tabel di atas, maka dapat diketahui nilai F-hitung sebesar 10,139, dan F-tabel = 4,74 ( = 5 df1= 3 - 1 = 2 dan df2 = 10 - 3 = . Dengan demikian dapat ditentukan bahwa: F-hitung > F-tabel atau 10,139 > 4,74. Artinya secara bersama-sama Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi. PEMBAHASAN Pengaruh Belanja Tidak Langsung Secara Parsial Koefisien regresi belanja tidak langsung bernilai 3,287 dan bertanda negatif, yang memiliki arti bahwa antara belanja tidak langsung dan pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan yang tidak Hubungan yang tidak searah ini berarti bahwa adanya kenaikan pengeluaran pemerintah Kabupaten Berau melalui belanja tidak langsung akan memberikan dampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Berau. Hasil uji t terdapat nilai signifikansi (Sig. belanja tidak langsung sebesar 0,003, nilai signifikan ini lebih kecil dari nilai probabilitas . Nilai thitung yang didapat sebesar -4,383 dan bernilai negatif sedangkan nilai t-tabel -2,365. Nilai t-hitung yang lebih kecil dari nilai t-tabel dan nilai signifikansi (Sig. ) yang lebih kecil dari nilai probabilitas, menunjukkan bahwa belanja tidak langsung secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Berau. Dengan demikian dapat disimpulkan menerima hipotesis yang menyatakan bahwa belanja tidak langsung berpengaruh signifikan secara parsial terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Berau. Pengaruh Belanja Langsung Secara Parsial Nilai koefisien regresi belanja langsung sebesar 1,901 dan bernilai positif, yang memiliki arti bahwa antara belanja langsung dan pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan searah. Hubungan searah ini berarti bahwa adanya kenaikan pengeluaran pemerintah melalui belanja langsung akan memberikan pengaruh positif bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Berau. Hasil uji t menunjukkan nilai signifikansi (Sig. belanja langsung sebesar 0,046, nilai signifikan ini lebih kecil dari nilai probabilitas . Nilai t-hitung yang didapat 2,416 dan bernilai positif sedangkan nilai t-tabel 2,365. Nilai t-hitung yang lebih besar dari nilai t-tabel dan nilai signifikansi yang lebih kecil dari nilai probabilitas menunjukkan bahwa belanja langsung secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Berau. Dengan demikian dapat disimpulkan menerima hipotesis yang menyatakan bahwa belanja langsung berpengaruh signifikan secara parsial terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Berau. Pengaruh Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung daSecara Simultan Hasil uji F menunjukkan nilai signifikansi (Sig. ) belanja tidak langsung dan belanja langsung sebesar 0,009, nilai signifikansi ini lebih kecil dari nilai probabilitas . Nilai F-hitung yang didapat sebesar 10,139 dan bernilai positif, sedangkan nilai Ftabel 4,74. Nilai F-hitung yang lebih besar dari nilai F-tabel dan nilai signifikansi yang lebih kecil dari nilai probabilitas menunjukkan bahwa variabelvariabel bebas dalam penelitian ini . elanja tidak langsung dan belanja langsun. secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Berau. Dengan demikian dapat disimpulkan menerima hipotesis yang menyatakan bahwa belanja tidak langsung dan belanja langsung signifikan secara simultan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Berau. Pengaruh yang signifikan ini dapat pula dilihat dari nilai koefisien korelasi yang diperoleh yaitu sebesar 0,862, yang berarti bahwa belanja tidak langsung dan belanja langsung mempunyai tingkat korelasi yang tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi. Disamping itu pula belanja tidak langsung dan belanja langsung memberi pengaruh yang sangat kuat terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Berau. Hal ini dapat diketahui dari nilai koefisien determinasi yaitu sebesar 74,3 persen, sedangkan sisanya sebesar 25,7 persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA