P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Tarbiyatul Misbah (Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.245-261 IMPLEMENTASI PENDIDIKAN AKHLAK MELALUI KEGIATAN KEPRAMUKAAN DI MA NURUSSALAM SIDOGEDE Artidi1, Syafrizal Fuady2 12 Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Misbahul Ulum Gumawang. Jl. Irigasi Desa Tanah Merah Kecamatan Belitang Madang Raya Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur Prov. Sumatera-Selatan Email : 1artidi@stitmugu.ac.id, 2syafrizalfuady@stitmugu.ac.id Abstrak Dalam pelaksanaan nilai-nilai akhlakul karimah di sekolah dapat dilaksanakan secara terpadu melalui kegiatan kepramukaan, selain keterampilan, pengembangan bakat, pelatihan kemandirian, tanggung jawab dan kedisiplinan. Penelitian ini mengkaji penerapan pendidikan akhlak melalui kegiatan kepramukaan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif naturalistik yaitu penelitian yang bersumber pada pandangan fenomenologi dan berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap objek penelitian. Penelitian ini dilaksanakan dalam rentang waktu ± lima bulan. Dari hasil observasi dapat dilihat bahwa pelaksanaan pendidikan akhlak melalui kegaiatan kepramukaan di MA Nurussalam Sidogede selalu berpedoman pada prinsip dasar dan metode kepramukaan dengan menerapkan sistem sangga untuk mengembangkan sikap demokratis, toleran dan bersahabat, kreatif, kerja keras. Kegiatan atau materi menggunakan metode kompetisi setiap regu yang bekerja keras dan kreatif dalam melaksanakan tugasnya. Pendidikan Akhlak dilaksanakan melalui kegiatan pramuka dengan metode pengamalan kode etik dan kode kehormatan. Seorang pramuka berpedoman pada Dhasa Dharma yang berarti sepuluh perilaku mulia yang harus dimiliki seorang pramuka. Dalam proses kegiatan kepramukaan tersebut, telah dilakukan penerapan pendidikan akhlak sebagaimana seperti pembuatan program kerja tahunan, semester yang berperdoman pada SKU, sampai pada kegiatan bulanan dan kegiatan latihan rutin agar dapat membentuk karakter siswa-siswi sebagai bekal untuk mengembangkan diri dalam kehidupan sehari-hari. Faktor Pendukung adalah rasa ingin tahu peserta didik yang besar, kesadaran memegang amanah dan tanggung jawab peserta didik, pengalaman pendidikan kepramukaan di tingkatan sebelumnya, rasa kebersamaan dan persaudaraan antar peserta didik, dan beberapa faktor pendukung lainnya. Faktor penghambat seperti belum mampunya peserta didik memilah antara kepentingan organisasi dan kepentingan pribadi, belum sadar akan pentingnya pendidikan karakter; sikap kekanak-kanakan dan sikap suka meremehkan, waktu yang padat dari peserta didik. Kata Kunci : Implementasi, Pendidikan Akhlak, Kegiatan Kepramukaan 1 2 Mahasiswa STIT Misbahul Ulum Gumawang Dosen Tetap STIT Misbahul Ulum Gumawang Jurnal Prodi PAI Tarbiyatul Misbah V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 2 4 5 - 2 6 1 | 245 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Tarbiyatul Misbah (Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.245-261 Abstract In the implementation of akhlakul karimah values in schools, it can be carried out in an integrated manner through scouting activities, in addition to skills, talent development, independence training, responsibility and discipline. This study examines the application of moral education through scouting activities. This study uses naturalistic qualitative research methods, namely research that comes from a phenomenological viewpoint and tries to understand the meaning of events and its relation to the object of research. This research was conducted in a time span of ± five months. From the observations it can be seen that the implementation of moral education through scouting activities at MA Nurussalam Sidogede is always guided by the basic principles and methods of scouting by implementing a buffer system to develop a democratic, tolerant and friendly attitude, creative, hard work. Activities or materials use the competition method of each team that works hard and creatively in carrying out their duties. Moral education is carried out through scouting activities with the method of practicing the code of ethics and code of honor. A scout is guided by the Dhasa Dharma which means the ten noble behaviors that a scout must have. In the process of scouting activities, the implementation of moral education has been carried out such as making annual work programs, semesters based on SKU, to monthly activities and routine training activities in order to shape the character of students as a provision for self-development in everyday life. Supporting factor is the great curiosity of students; awareness of holding the mandate and responsibility of students; scouting education experience at previous levels; a sense of togetherness and brotherhood among students, and several other supporting factors. Inhibiting factors such as the inability of students to distinguish between organizational and personal interests; not yet aware of the importance of character education; childishness and condescension; and another obstacle is the dense distribution of time from the students Keywords: Implementation, Moral Education, Scouting Activities A. PENDAHULUAN Kurukulum adalah sesuatu yang esensial dalam suatu penyelenggaraan pendidikan. Secara sederhana kurikulum dapat dimengerti sebagai suatu kumpulan atau daftar pelajaran yang akan diajarkan kepada peserta didik lengkap dengan cara pemberian nilai pencapaian di kurun waktu tertentu. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting, ia dapat membentuk kepribadian seseorang. Ia diakui sebagai kekuatan yang dapat menentukan prestasi dan produktivitas seseorang. Pendidikan merupakan salah satu aspek Jurnal Prodi PAI Tarbiyatul Misbah V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 2 4 5 - 2 6 1 | 246 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Tarbiyatul Misbah (Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.245-261 penting dalam kehidupan manusia, dengan pendidikan diharapkan dapat menghasilkan manusia yang berkualitas, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi kehidupannya yang dalam hal ini diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 butir 1 yang menghendaki agar pendidikan menghasilkan siswa yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan baik untuk dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.3 Martin Luther King, menyebut bahwa kecerdasaan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya. Pengertian secara khusus, karakter adalah nilai-nilai yang baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata berkehidupan baik, dan berdampak baik bagi lingkungan) yang terpenting dalam diri dan terwujud dalam perilaku.4 Ibn Maskawaih telah mengisyaratkan bahwa tujuan pendidikan adalah terbentuknya pribadi yang berakhlak mulia, yang disebutnya isabah al-khuluq as-syarif, yakni pribadi yang mulia secara substansial dan essensial, bukan kemuliaan yang terporal dan aksidental, seperti pribadi yang materialistis dan otokratis.5 Dalam hal ini akhlak yang baik dan mulia (akhlaqul karimah) menjadi sesuatu yang sangat penting dan berharga bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Pada masa Presiden Soekarno ketika itu, dalam setiap kesempatan senantiasa mengingatkan tentang arti pentingnya “nation and character building (pembangunan bangsa dan karakter)”, karena dengan memiliki karakter, suatu bangsa akan dihargai dan diperhitungkan oleh bangsa manapun di dunia ini.6 Pendidikan akhlak dalam Al-Qur’ân, salah satunya dapat diambil dari pemahaman terhadap suratal-Alaq ayat 1-5, yang 3 Undang-Undang Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003, h. 8 Anas Salahudin, dkk, Pendidikan Karakter (Pendidikan Berbasis Agana dan Budaya Agama),(Bandung: Pustaka Setia,2013), h. 42 5 Ibn Maskawaih, “Tahzib”, … h. 3. Lihat juga Dalam Ali Abdul Halim Mahmud, Akhlak Mulia, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004), h. 282. 6 Istighfarotur Rahmaniyah, Pendidikan Etika (Konsep Jiwa dan Etika Perspektif Ibnu Miskawaih dalam Kontribusinya di bidang Pendidikan), (Malang : Aditya Media, 2010), h. 2-4. 4 Jurnal Prodi PAI Tarbiyatul Misbah V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 2 4 5 - 2 6 1 | 247 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Tarbiyatul Misbah (Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.245-261 secara tekstual menyatakan perbuatan Allah SWT dalam menciptakan manusia sekaligus membebaskan manusia dari kebodohan.7 Akhlak yang mulia lahir berdasarkan proses panjang, yakni melalui pendidikan akhlak. Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik.8 Dalam pelaksanaannya di sekolah nilai-nilai karakter dapat dilaksanakan secara terpadu melalui penjelasan di kelas, maupun melalui kegiatan sekolah dan luar sekolah. Salah satu cara yang cukup efektif untuk bisa menumbuhkan akhlak adalah melalui kegiatan pramuka. Melalui kegiatan tersebut selain dibina untuk memiliki akhlakul karimah, juga diajarkan tentang keterampilan, pengembangan bakat, pelatihan kemandirian, tanggung jawab dan kedisiplinan. Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka Pasal 1 menjelaskan bahwa Gerakan Pramuka adalah organisasi yang dibentuk oleh pramuka untuk menyelenggarakan pendidikan kepramukaan. Dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka hasil MUNASLUB tahun 2012 pasal 3 menyebutkan bahwa tujuan Gerakan Pramuka adalah untuk: 1. Memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, berkecakapan hidup, sehat jasmani, dan rohani; 2. Menjadi warga negara yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pengembangan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup dan alam lingkungan. 7 Beni Ahmad Saebani dan Abdul Hamid, Ilmu Akhlak, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), h. 16. 8 Ahmad A.K. Muda, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia,(Jakarta: Reality Publisher, 2006), h. 45-50 Jurnal Prodi PAI Tarbiyatul Misbah V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 2 4 5 - 2 6 1 | 248 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Tarbiyatul Misbah (Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.245-261 Dalam pelaksanaan kegiatan kepramukaan para Pembina dibekali ilmu tentang kepramukaan supaya mereka dapat mendidik para andika dengan ilmu yang cukup, yaitu dengan mengikuti kursus mahir tingkat dasar (KMD) yang berisikan filosofi pramuka. Di MA Nurussalam Sidogede, para andika diwajibkan mengikuti kegiatan kepramukaan yang dilakukaan setiap hari sabtu, dalam kegiatan tersebut anak didik disamping dapat mengembangkan keterampilan, pengembangan bakat, pelatihan kemandirian, tanggung jawab dan kedisiplinan, juga diberikan pendidikan akhlak yang bermanfaat sebagai bekal para andika (peserta didik) dalam kehidupan mereka kelak. Mengingat luasnya permasalahan dan adanya keterbatasan peneliti, beserta identifikasi masalah yang telah diuraikan dalam latar belakang masalah, maka fokus masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana implementasi pendidikan akhlak pada kegiataan kepramukaan di MA Nurussalam yang dirumuskan untuk menjawab pertanyaan sebagai berikut: 1. Bagaimana implementasi pendidikan akhlak melalui kegiatan pramuka di MA Nurusslam Sidogede? 2. Faktor-faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat implementasi pendidikan akhlak melalui kegiatan pramuka di MANurussalam Sidogede? B. KAJIAN TEORI 1. Pengertian Implementasi Implementasi berasal dari kata “to implement” yang berarti mengimplementasikan. Arti implementasi ialah kegiatan yang dilakukan melalui perencanaan dan mengacu pada aturan tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan tersebut. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, implementasi juga berarti penerapan9. Jadi, implementasi adalah tindakan untuk menjalankan rencana yang telah dibuat. Dengan demikian, implementasi hanya dapat dilakukan jika terdapat sebuah 9 http:// kbbi.web.id/implementasi. Jurnal Prodi PAI Tarbiyatul Misbah V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 2 4 5 - 2 6 1 | 249 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Tarbiyatul Misbah (Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.245-261 perencanaan. Implementasi diartikan sebagai suatu proses aktualisasi kurikulum dalam proses pembelajaran.10 Oleh karenanya benar apa yang dikemukakan oleh Ornstein dan Hunkins, bahwa Implementasi merupakan bagian penting dari pengembangan kurikulum, yaitu sebagai proses untuk merealisasi perubahan yang diinginkan.11 2. Pengertian Pendidikan Kata tarbiyah ditemukan dalam tiga akar kata yaitu: Roba-yarbu, yang artinya bertambah dan tumbuh. Ini didasarkan dalam surat ArRum:39. Robiya-yarba,dengan wazn (bentuk) khofiya-yakhfa, artinya menjadi besar. Robba–yarubbu, dengan wazn (bentuk) madda- yamuddu,berarti memperbaiki, menguasai urusan,menuntun, menjaga dan memelihara.12 Secara terminologi, telah banyak para ahli yang mengemukakan definisi pendidikan, John Dewey sebagaimana dikutip oleh Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyahti menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia.13 Sedangkan Rousseau mendefinisikan bahwa yang dimaksud pendidikan adalah memberi perbekalan yang tidak ada pada masa anak-anak akan tetapi dibutuhkannya pada waktu dewasa.14 Dari beberapa pendapat tersebut dsimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu pembelajaran pengetahuaan, kebiasaan yang di lakukan dari sesuatu yang belum tahu menjadi tahu, untuk mewujudkan sebuah prilaku yang baik, yang bisa diterima disekelilingnya. 10 Saylor, J. Galen; Alexander, William M.; dan Lewis, Arthur J. Curriculum Planning For Better Teaching and Learning, (New York : Holt Rinehart and Winston, 1974), h. 245 11 Ornstein, A. C., & Hunkins, F. P. Curriculum Foundations, Principles, and Issues (3rd ed.), (Needham Heights, MA: Allyn & Bacon, 1998), h. 221. 12 Abdurrahman an-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metoda PendidikanIslam Dalam Keluarga, di Sekolah, dan di Masyarakat, alih bahasa, Herry Noer Ali, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), h. 30-31. 13 Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2001), h. 70. 14 F. J. McDonal, Educational Psychology, (California: Wadsworty,1959), h. 51. Jurnal Prodi PAI Tarbiyatul Misbah V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 2 4 5 - 2 6 1 | 250 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Tarbiyatul Misbah (Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.245-261 3. Pendidikan Akhlak Pendidikan akhlak terdiri dari dua kata, yaitu pendidikan dan akhlak. Pendidikan dapat diartikan lagi sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, perbuatan, mendidik.15 Adapun akhlak adalah bentuk jamak dari kata khuluk yang berasal dari bahasa arab yang berarti perangai, tingkah laku atau tabiat. Dua macam jenis pembagiaan akhlak yaitu akhlak mahmudah atau akhlak terpuji seperti jujur, berprilaku baik, malu, rendah hati, murah hati, dan sabar dan yang kedua yaitu akhlak madzmumah atau akhlak yang tercela atau yang buruk seperti riya, ujub, takabur, tamak, fitnah, serta bakhil. Akhlak dalam ensiklopedia Islam dimaksudkan sebagai suatu hal yang berkaitan dengan sikap, prilaku, dan sifat-sifat manusia dalam berinteraksi dengan dirinya dan sasarannya dengan makhluk-makhluk lain dan dengan Tuhannya.16 Menurut istilah (terminologi) dalam memberikan definisi tentang akhlak, banyak ahli berbeda pendapat, antara lain: a. Imam Al-Ghazali: Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang yang dari sifat itu timbul perbuatan yang mudah tanpa melakukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.17 b. Ahmad Amin: Akhlak adalah kehendak yang dibiasakan, artinya bahwa kehendak itu membiasakan sesuatu, maka kebiasaan dinamakan akhlak. Kehendak ialah ketentuan dari beberapa keinginan manusia setelah bimbingan. Sedangkan kebiasaan ialah perbuatan yang diulangulang sehingga mudah melakukannya. Masing-masing dari kehendak dan kebiasaan itu mempunyai kekuatan dan gabungan dari dua kekuatan itu menimbulkan kekuatan yang lebih besar benama akhlak.18 c. Syaikh Muhamad bin Ali as-Syarif al-Jurjani: Akhlak sebagai stabilitas sikap jiwa yang melahirkan tingkah laku dengan mudah tanpa melalui proses berpikir.19 15 Tim penyusun kamus pembinaan dan pengembangan Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), Cet. Ke-10, h. 232. 16 Nasir, Tinjauan Akhlak, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1991), h. 14. 17 Imam Abi Hamid Ibnu Muhammad Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, (Beirut: Darul Qutub Ilmiyah, tth), h. 58-59. 18 Anwar Masy’ari, Akhlak Al-Qur'an, (Surabaya: Bina Ilmu, 1990), h. 15. 19 Ali Abdul Halim Mahmud, Tarbiyah Khuluqiyah, (Solo: Insani Press, 2003), Cetakan. I, h. 37 Jurnal Prodi PAI Tarbiyatul Misbah V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 2 4 5 - 2 6 1 | 251 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Tarbiyatul Misbah (Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.245-261 Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah adanya unsur perbuatan atau tindakan dan kebiasaan-kebiasaan yang sudah menyatu dengan pribadi manusia baik buruk serta perbuatan tersebut dilakukan dengan sadar. Akhlak mengandung empat unsur yaitu adanya tindakan baik atau buruk, adanya kemampuan melaksanakan, adanya pengetahuan tentang perbuatan yang baik dan yang buruk, serta adanya kecenderungan jiwa terhadap salah satu perbuatan yang baik atau yang buruk.20 Pada sistem pendidikan Islam ini khusus memberikan pendidikan tentang akhlak dan moral yang bagaimana yang seharusnya dimiliki oleh seorang muslim agar dapat mencerminkan kepribadian seorang muslim.21 Muhammad Abdullah Darraz dalam Ulil Amri Syafri, membagi ruang lingkup akhlak menjadi lima bagian; Pertama, akhlak pribadi (al akhlak al-fardiyah) yang mencakup akhlak yang diperintahkan, yang di larang dan yang di perbolehkan serta akhlak yang dilakukan dalam keadaan darurat. Kedua, akhlak berkeluarga (al akhlak al-usariyah) yang mencakup tentang kewajiban antara orang tua dan anak, kewajiban antara suami istri dan kewajiban terhadap keluarga dan kerabat. Ketiga, akhlak bermasyarakat (al akhlak al-ijtima’iyah) yang mencakup akhlak yang dilarang dan yang diperbolehkan dalam bermuamalah serta kaidah-kaidah adab. Keempat, akhlak bernegara (alakhlak al-daulah) yang mencakup akhlak diantara pemimpin dan rakyatnya serta akhlak terhadap Negara lain. Kelima, akhlak beragama (al akhlak ad-diniyah) yang mencakup tentang kewajiban terhadap Allah Swt.22 4. Pendidikan Akhlak Dalam Kegiatan Pramuka 20 Nasirudin, Pendidikan Tasawuf, (Semarang: Rasail Media Group, 2009), h. 32-33. Fadlil Yuni Ainusysyam, Pendidikan Akhlak, (ttp. PT Imtima, 2009), h. 39. 22) Syafri, Ulil Amri. Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012) h. 79. 21 Jurnal Prodi PAI Tarbiyatul Misbah V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 2 4 5 - 2 6 1 | 252 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Tarbiyatul Misbah (Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.245-261 Pendidikan Kepramukaan adalah proses pembentukan kepribadian, kecakapan hidup, dan akhlak mulia pramuka melalui penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kepramukaan.23 Pendidikan Kepramukaan, adalah nama dari kegiatan kepramukaan. Pramuka, adalah anggota geraka pramuka yang terdiri dari anggota yaitu pembina pramuka, pembantu pembina pramuka, pelatih pembina pramuka, pembina profesional, pamong saka dan instruktur saka, pimpinana saka, pembantu amdalan, anggota mabi dan staf karyawan kwartir. Pendidikan kepramukaan adalah proses pendidikan yang praktis, diluar sekolah dan diluar keluarga yang dilakukan di alam terbuka dalam bentuk kegiatan yang menarik, menyenangkan, sehat, teratur dan terarah, dengan menerapkan prinsip dasar kepramukaan dan metode pendidikan kepramukaan, yang sasaran akhirnya adalah terbentuknya kepribadiaan, watak, akhlak mulia dan memiliki kecakapan hidup. a. Tujuan dan tugas pokok, dan fungsi gerakan pramuka Gerakan pramuka bertujuaan untuk membentuk setiap pramuka yang memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotic, taat hukum disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, berkecakapan hidup, sehat jasmani dan rohani,serta berjiwa pancasila, setia dan patuh kepada negara kesatuaan republik Indonesia, menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna yang dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepeduliaan terhadap sesama hidup dan alam lingkungan. Gerakan pramuka mempunyai tugas pokok menyelenggarakan pendidikan kepramukaan bagi kaum muda guna menumbuhkan tunas bangsa agar menjadi generasi yang lebih baik, bertanggung jawab mampu membangun dan mengisi kemerdekaan serta membangun dunia yang lebih baik.24 23 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010, Gerakan Pramuka, Pasal 1, ayat 1-4. 24 Anggaran Dasar Gerakan Pramuka hasil Munaslub Gerakan Pramuka Tahun 2012. Pasal 3-4. Jurnal Prodi PAI Tarbiyatul Misbah V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 2 4 5 - 2 6 1 | 253 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Tarbiyatul Misbah (Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.245-261 Adpun fungsi gerakan pramuka adalah sebagai wadah untuk mencapai tujuan pramuka melalui pendidikan dan pelatihan, pengembangan pramuka, pengabdian masyarakat dan orang tua, permainan yang berorientasi pada pendidikan.25 b. Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan Prinsip Dasar Kepramukaan meliputi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME, peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesame hidup dan alam seisinya, peduli terhadap diri pribadinya, taat terhadap kode kehormatan. Metode Kepramukaan adalah metode belajar interaktif dan progresif yang dilaksanakan melalui pengamalan kode kehormatan pramuka, belajar sambil melakukan, kegiatan berkelompok, bekerja sama, dan berkopetensi, kegiatan yang menarik dan menantang, kegiatan di alam terbuka, kehadiran orang dewasa yang memberikan bimbingan, dorongan, dan dukungan, penghargaan berupa tanda kecakapan, dan satuan terpisah antara putra dan putri26 Kode kehormatan pramuka merupakan janji dan komitmen diri serta ketentuan moral dalam pendidikan kepramukaan yang terdiri dari satya pramuka (janji) dan dasadarma pramuka (moral) dan merupakan kode etik gerakan pramuka baik dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat.27 Dhasa darma yang berarti sepuluh tuntunan tingkah laku adalah pedoman yang dipegang oleh anggota pramuka yang berbunyi: 1. Taqwa kepada Tuhan yang maha Esa; 2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia; 3.Patriot yang sopan dan kesatria; 4. Patuh dan suka bermusyawarah; 5. Rela menolong dan tabah; 6. Rajin, terampil dan gembira; 7. Hemat cermat dan bersahaja; 8. Disiplin, berani dan setia; 25 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010,Gerakan Pramuka, Pasal 3. Anggaran Dasar Gerakan Pramuka hasil Munaslub Gerakan Pramuka Tahun 2012 26 Pasal 8-9. 27 Anggaran Dasar ... Pasal 12. Jurnal Prodi PAI Tarbiyatul Misbah V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 2 4 5 - 2 6 1 | 254 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Tarbiyatul Misbah (Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.245-261 9; Bertanggung jawab dan dapat dipercaya; 10. Suci dalam pikiran perkataan dan perbuatan.28 C. METODE PENELITIAN Tempat penelitian ini dilaksanakan di MA Nurussalam Sidogede Kabupaten OKU Timur. Penelitian akan dilaksanakan pada bulan April sampai dengan bulan September 2020. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif naturalistik yaitu penelitian yang bersumber pada pandangan fenomenologi dan berusaha memahami arti peristiwa dan kaitankaitannya terhadap objek penelitian. Dengan prosedur penelitian menghasilkan data deskriptif, berupa kata-kata tertulis, kalimat serta lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati, lain dikumpulkan untuk menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti, pendekatan ini diarahkan pada individu tersebut secara holistik (utuh)29. Alasan untuk memilih paradigma kualitatif karena penelitian ini memilih simulasi, dengan berusaha memahami perilaku manusia dan segi kerangka berpikir maupun tindakan orang-orang itu sendiri, metode ini dapat juga digunakan untuk mendapatkan jawaban baru, yang belum diketahui. Metode kualitatif dapat memberikan rincian yang kompleks tentang fenomena yang sulit diungkap oleh metode kuantitatif.30 D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam upaya menanamkan akhlak kepada para peserta didik melalui kegiatan kepramukaan, para pembina menggunakan metode- metode secara teratur dan terarah yang digunakan untuk mengimplementasikan 18 unsur karakter kepada peserta didik. Dari data lapangan diketahui bahwa pelaksanaan pendidikan akhlak melalui kegaiatan kepramukaan di MA Nurussalam Sidogede selalu berpedoman pada Prinsip Dasar dan Metode 28 Undang-Undang ..., Pasal 6. Matthew B. Miles dan Michael Humbermen, Analisis Data Kualitatif, (Jakarta: UIPress,1992), h.10 30 Anselm Strauss dan Juliet Corbin, Dasar-dasarPenelitianKualitatif, (Yogyakarta: PustakaBelajar, 2003), h.5 29 Jurnal Prodi PAI Tarbiyatul Misbah V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 2 4 5 - 2 6 1 | 255 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Tarbiyatul Misbah (Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.245-261 Kepramukaan. Pada kegiatan kepramukaan ini, peserta didik melaksanakan Masa Orientasi Gugus Depan, pelaksanaan bina tegak selama tiga bulan untuk mendapatkan materi kepramukaan, setelah tiga bulan dilaksanakan penempuhan badge sangga. Disinilah mulai dibentuk kelompok terkecil dari satuan penegak yang disebut sangga. Terdiri dari lima sangga tiap kelas yaitu sangga perintis, pencoba, pendobrak, penegas dan pelaksana. Tiap-tiap kelas diberi nama tokoh pewayangan, kerajaan, istilah kebangsaan dan lainnya. Misal kelas X diberi nama Arjuna, kelas XI diberi nama Majapahit dan lain sebagainya. Para peserta berdinamika dalam setiap latihannya. Dengan sistem berkelompok ini, korps pembina menanamkan nilainilai Akhlak antara lain demokratis, toleransi, bersahabat, kerja Keras, kreatif, menghargai prestasi, Tanggung Jawab dan cinta tanah air. Hal ini dapat terjadi karena dalam sistem berkelompok dapat terjadi, mulai dari perselisihan, rasa iri, kesenjangan sosial, tanggung jawab, prestasi, dan persahabatan namun justru lewat dinamika maka watak atau akhlak peserta didik terbentuk, karena dibutuhkan kontrol emosi, bagaimana bersikap dan berbicara, memimpin dan dipimpin. Dengan pengawasan dari Pembina lambat laun akhlak peserta didik terbentuk. Perihal dengan penanaman rasa cinta tanah air, nama regu diambil dari nama Indonesia dan budayanya yang dengan hal ini mereka akan semakin cinta dengan tanah air. Melalui kegiatan kepramukaan ini, maka seorang pramuka dalam bersikap dan berperilaku harus sesuai dengan isi tri satya dan dhasa dharma, agar dapat diakui sebagai pramuka sejati. Setiap kelas punya buku catatan perilaku siswa yang dibawa pembina. Setiap siswa selalu diamati perkembangannya. Misal pengamalan dharma pertama taqwa kepada TuhanYang Maha Esa, dalam sholat berjamaah apakah menunda-nunda atau langsung secara sadar melaksanakan. Pengamalan dharma selanjutnya ialah patuh dan suka bermusyawarah seperti evaluasi kegiatan yang sudah dilaksanakan dan dengan bersama-sama merumuskan kegiatan satu semester kedepan. Prinsip di penegak adalah dari, oleh, untuk anggota, pembina hanya menjadi fasilitator dan konsultan. Dengan menerapkan sistem sangga para Jurnal Prodi PAI Tarbiyatul Misbah V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 2 4 5 - 2 6 1 | 256 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Tarbiyatul Misbah (Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.245-261 pembina menanamkan nilai nilai akhlak, yang jelas dalam sebuah kelompok sikap demokratis sangat terlihat, karena mulai pemilihan ketua kelompok, pengambilan keputusan sikap demokratis dapat terbentuk. Kemudian sikap toleran dan bersahabat dapat terbentuk dengan sendirinya seiring dengan proses dinamika kelompok, sikap kreatif, kerja keras sangat dibutuhkan ketika dalam sebuah kegiatan atau materi menggunakan metode kompetisi maka yang juara adalah regu yang bekerja keras dan kreatif dalam melaksanakan tugasnya. Jadi dalam pelaksanaan pendidikan akhlak melalui kegiatan pramuka metode pengamalan kode etik dan kode kehormatan selalu dilaksanakan dalam setiap kegiatannya. Karena pedoman sikap seorang pramuka adalah dhasa dharma yang berarti sepuluh perilaku mulia yang harus dimiliki seorang pramuka. Metode lain adalah sistem among dan keterlibatan orang dewasa adalah untuk mengembangkan akhlak para peserta didik yang patuh dan taat kepada orangtua. Temuan selanjutnya adalah metode kiasan dasar untuk menanamkan akhlak tanggung jawab, rasa cinta tanah air, dan saling menghargai. Melalui kiasan dasar ini diharapkan terbentuk pribadi yang memiliki rasa bangga terhadap dirinya. Bahwa semua kegiatan pramuka itu mempunyai nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Semua yang dilaksanakan dalam kepramukaan adalah alat untuk mencapai sebuah tujuan. Seperti tepuk pramuka misalnya, terdiri dari tiga belas tepuk yang bermakna Tri Satya dan Dhasa Dharma, salam pramuka yang merupakan sikap saling menghormati satu sama lain dan sebagai wujud persahabatan sesama pramuka. Berkenaan dengan faktor pendukung dari hasil observasi dapat disimpulkan bahwa faktor pendukung Implementasi pendidikan Akhlak melalui kegiatan kepramukaan di MA Nurussalam adalah: 1). Tanggung jawab pembina dalam membimbing dan mendampingi peserta didik, 2) Kebanggaan dan tanggung jawab dewan ambalan dalam melaksanakan tugasnya, 3). Rasa ingin tahu peserta didik yang besar sehingga menimbulkan semangat belajar yang tinggi, 4). Komitmen untuk selalu menanamkan nilai kepramukaan oleh para Pembina, 5). Dukungan lembaga terhadap kegiatan Jurnal Prodi PAI Tarbiyatul Misbah V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 2 4 5 - 2 6 1 | 257 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Tarbiyatul Misbah (Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.245-261 kepramukaan dalam rangka penanaman Akhlak, 6). Semangat dewan ambalan untuk mengelola ambalannya, 7). Kesadaran terhadap pentingnya memegang amanat dan pengalaman organisasi setiap anggota, 8). Rasa memliliki terhadap Pramuka MA Nurussalam, 9). Alumni yang peduli dan berpartisipasi terhadap kepramukaan di MA Nurussalam, 10). Kesadaran semua pihak terhadap pentingnya penanaman Akhlak terhadap peserta didik melalui kepramukaan, 11). Sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan kepramukaan, 12). Koordinasi yang baik antara Pembina dan peserta didik, 13). Kerjasama yang solid antar dewan ambalan, 14). Pembina yang professional, 15). Rasa kebersamaan dan persaudaraan antar peserta didik Faktor yang menjadi penghambat Implementasi pendidikan Akhlak melalui kegiatan kepramukaan di MA Nurussalam adalah: 1). Waktu yang sangat padat, sehingga sulit menentukan waktu untuk kegiatan, 2). Dana dari lembaga yang masih terbatas untuk operasional kegiatan kepramukaan, 3). Beberapa peserta didik belum sadar akan pentingnya pendidikan Akhlak dan pendidikan akhlak yang ada dalam kegiatan-kegiatan pramuka, 4) Kesibukan pembina di tempat lain, sehingga hanya punya sedikit waktu dengan adik-adik, 5). Waktu yang dimiliki peserta didik sangat padat dengan kegiatan, sehingga terkadang sulit meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan, 6), Sikap kekanak-kanakan yang masih terbawa, 7). Sikap suka meremehkan, 8). Organisasi ganda dari dewan ambalan E. PENUTUP Pelaksanaan kegiatan kepramukaan di MA Nurussalam Sidogede yaitu dengan membuat program kerja diprogramkan meliputi kegiatan tahunaan, kegiatan bulanan dan kegiatan latihan rutin dengan menggunakan metode kepramukaan dan diharapkan dapat membentuk karakter siswa-siswi sebagai bekal untuk mengembangkan diri dalam kehidupan sehari-hari. Pada pelaksanaan kegiatan ini terdapat faktor seperti tanggung jawab Pembina, kebanggaan dan tanggung jawab dewan ambalan,rasa ingin tahu peserta didik yang besar, komitmen pada nilai kepramukaan, dukungan lembaga dan Jurnal Prodi PAI Tarbiyatul Misbah V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 2 4 5 - 2 6 1 | 258 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Tarbiyatul Misbah (Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.245-261 Semangat dewan ambalan, kesadaran dan rasa memiliki setiap anggota, kepedulian dan partisipasi para alumni, kesadaran penanaman akhlak, dukungan sarana dan prasarana, koordinasi dan kerjasama serta pembina yang professional, dan rasa kebersamaan dan persaudaraan antar peserta didik. Sementara faktor penghambat adalah seperti waktu yang sangat padat, dana yang masih terbatas, kesadaran peserta didik yang belum merata, kesibukan pembina di tempat lain, Sikap peserta didik yang kekanak-kanakan dan suka meremehkan, serta organisasi ganda dari dewan ambalan. Beberapa saran yang dapat dikemukakan disini adalah bagi sekolah yang dalam hal ini MA Nurussalam Sidogede agar lebih meningkatkan lagi fasilitas baik sarana maupun prasarana penunjang kegiatan kepramukaan, serta dukungan baik moril maupun materil terhadap jalannya kegiatan kepramukaan. Adapun bagi para Pembina pramuka diharapkan untuk terus mempertahankan dan memperbaiki semangat juang dalam pendidikan kepramukaan agar mampu mendorong para anak didik memiliki nilai-nilai akhlak yang diharapkan. Sementara bagi peserta didik sendiri diharapkan dapat berkontribusi dengan baik terhadap kegiatan kepramukaan agar pelaksanaan kegiatan itu sendiri dapat berjalan dengan baik dan memberikan dampak yang baik pada upaya pendidikan akhlak melalui kegiatan kepramukaan, F. DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, Abu dan Uhbiyati, Nur, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2001) Ainusysyam, Fadlil Yuni, Pendidikan Akhlak, (ttp. PT Imtima, 2009) Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, (Beirut: Darul Qutub Ilmiyah, tth) Anggaran Dasar Gerakan Pramuka hasil Munaslub Gerakan Pramuka Tahun 2012 Beni, Ahmad Saebani dan Abdul Hamid, Abdul Ilmu Akhlak, (Bandung: Pustaka Setia, 2010) F. J. McDonal, Educational Psychology, (California: Wadsworty, 1959) Jurnal Prodi PAI Tarbiyatul Misbah V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 2 4 5 - 2 6 1 | 259 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Tarbiyatul Misbah (Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.245-261 Galen, Saylor J; Alexander, William M.; dan Lewis, Arthur J. Curriculum Planning For Better Teaching and Learning, (New York : Holt Rinehart and Winston, 1974) Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999) Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Mahmud, Ali Abdul Halim, Akhlak Mulia, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004) ----------------------------------, Tarbiyah Khuluqiyah, (Solo: Insani Press, 2003) Masy’ari, Anwar, Akhlak Al-Qur'an, (Surabaya: Bina Ilmu, 1990) Miles, Matthew B, dan Humbermen, Michael, Analisis Data Kualitatif, (Jakarta: UI-Press,1992) Muda, Ahmad A.K, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia,(Jakarta: Reality Publisher, 2006) Nahlawi, Abdurrahman, Prinsip-Prinsip dan Metoda PendidikanIslam Dalam Keluarga, di Sekolah, dan di Masyarakat, alih bahasa, Herry Noer Ali, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996) Nasir, Tinjauan Akhlak, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1991) Nasirudin, Pendidikan Tasawuf, (Semarang: Rasail Media Group, 2009) Ornstein, A. C., & Hunkins, F. P. Curriculum Foundations, Principles, and Issues (3rd ed.), (Needham Heights, MA: Allyn & Bacon, 1998) Rahmaniyah, Istighfarotur, Pendidikan Etika (Konsep Jiwa dan Etika Perspektif Ibnu Miskawaih dalam Kontribusinya di bidang Pendidikan), (Malang : Aditya Media, 2010) Salahudin, Anas, Pendidikan Karakter (Pendidikan Berbasis Agana dan Budaya Agama),(Bandung: Pustaka Setia,2013) Strauss, Anselm dan Corbin, Juliet, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2003) Dasar-dasarPenelitianKualitatif, Syafri, Ulil Amri. Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012) Undang-Undang Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010, Gerakan Pramuka Jurnal Prodi PAI Tarbiyatul Misbah V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 2 4 5 - 2 6 1 | 260