PENGARUH DETERMINAN FINANCIAL DISTRESS PADA SEKTOR MAKANAN DAN MINUMAN Nathania Ardelia Marini Purwanto Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya nathaniaa8@gmail. marini@ukwms. Received June 13th 2023 Revised Aug 17th 2023 Accepted Sept 30th 2023 ABSTRACT Macroeconomics was shaken by the pandemic Covid-19. The food and beverage sector was most affected by the pandemic. The worst scenario is that they got financial distress which can lead to bankruptcy. This study aims to analyze the influence of Current Ratio (CR). Debt to Equity Ratio (DER). Return on Assets (ROA). Institutional Ownership (KI), and Composition of Independent Commissioners (KKI), and Company Size as a control variable to Financial Distress. The object of this research is the food and beverage sector listed on the IDX for the 2019Ae2021 period. The sample in this study was 50 companies selected using purposive sampling. Data is obtained through the company's annual report on IDX or the company's official website. The data analysis technique used is multiple linear analysis. The results of the study show that ROA has a significant negative effect on FD. CR. KI, and UP have no significant negative effect on FD. DER and KKI have no significant positive effect on FD. ROA will show the company's ability to generate profits, whereas a negative profit value will signal that the company is experiencing financial difficulties. Companies will use profit as the main funding, so a low ROA value will indicate a large need for external funding where external parties expect a high level of risk and return. Keywords: Macroeconomics, pandemic Covid-19, food and beverage PENDAHULUAN Kondisi Indonesia mengalami guncangan hebat akibat dari pandemi Covid-19. Tahun 2019 menjadi awal timbulnya pandemi, dimana Kota Wuhan menyatakan adanya penyebaran virus Corona yang mematikan dan penyebarannya yang cepat, dan belum ditemukannya vaksin untuk meminimalisir tingkat keparahan infeksi virus tersebut. Dampak utama dari penyebaran virus tersebut adalah terganggunya perekonomian global. Banyak negara yang menetapkan kebijakan lockdown dan melarang adanya kegiatan masyarakat dalam skala besar. Perusahaan dan bentuk usaha lainnya mengalami penurunan kinerja bahkan menyatakan bangkrut karena mengalami kesulitan keuangan, kondisi tersebut dapat disebut financial Sistem Informasi Penelusuran Perkara atau SIPP Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mencatat perkara kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang per 2 Desember 2022 adalah 013 perkara (Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, 2. Survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik . , sebanyak 92,47% terdampak oleh pandemi, dan disusul oleh sektor transportasi dan pergudangan. Media Mahardhika Vol. 18 No. 1 September 2023 konstruksi, industri pengolahan, serta perdagangan yang terdampak sebanyak 90,90%. Financial distress dapat dilihat pada laporan keuangan perusahaan, dimana nilai laba mengalami penurunan hingga menyentuh angka negatif. Pada kondisi ini, para pemegang kekuasaan harus berhati-hati keputusan sehingga perusahaan dapat sehat kembali. Pihak manajemen harus investor pada kondisi tersebut bahwa kinerja perusahaan akan segera Pecking order theory menjelaskan struktur pendanaan sebuah perusahaan, dimana laba menjadi sumber pendanaan utama dalam menjalankan bisnisnya. Pendanaan hutang akan digunakan jika pendanaan internal tidak mencukupi, sedangkan penerbitan common stock akan menjadi pilihan alternatif. Dapat diartikan bahwa keuntungan sebesar-besarnya adalah sangat penting. Pendanaan hutang pendanaan internal dikarenakan return yang diharapkan oleh kreditur adalah wajar serta risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan pembiayaan dari penerbitan saham. Para investor yang menargetkan tingginya return atas risiko investasi menjadikan pilihan pendanaan ini menjadi alternatif. Teori keagenan menjelaskan bahwa para manajemen . memberikan pertanggungjawaban berupa laporan kinerja keuangan kepada para pemilik modal . (Jensen dan Meckling. Lingkungan perusahaan akan mempengaruhi kinerja Tingginya tingkat keefektifan good corporate (GCG), terjadinya financial distress. Hal ini dikarenakan semakin tingginya tingkat GCG, perusahaan memiliki pengendalian yang Tingkat kepercayaan prinsipal atas tingginya peran pemegang saham institusional dan peran komisaris kemungkinan perusahaan mengalami kesulitan keuangan. Faktor ukuran perusahaan juga memiliki pengaruh terhadap terjadinya financial distress. Perusahaan dengan skala besar akan menunjukan kemampuan menghasilkan laba yang lebih tinggi dibanding dengan Kemampuan akan meningkatkan nilai perusahaan juga akan mendorong perusahaan terjauh dari kondisi kesulitan Penelitian perusahaan yang bergerak pada Sektor Makanan dan Minuman yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam periode 2019-2021 sebagai objek Alasan penggunaan Industri Makanan dan Minuman sebagai objek penelitian adalah karena pada dasarnya manusia membutuhkan makanan dan minuman untuk kelangsungan hidupnya, perekonomian tidak stabil konsumen akan tetap membeli produk makanan dan Indonesia merupakan negara dengan yang dilalui oleh garis khatulistiwa, yang membuat Indonesia memiliki iklim tropis. Letak dan iklim Indonesia yang strategis membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang kaya akan flora dan fauna. Indonesia dikenal sebagai negara maritim dan agraris karena memiliki banyak gunung berapi yang membuat lahan pertanian menjadi subur dan sebanyak 70% wilayah Indonesia merupakan lautan. Melihat global yang menurun, para pemegang kekuasaan akan mendesak manajemen agar kinerja organisasi tetap stabil. Tujuan tersebut tentu sama dengan para manajemen hingga karyawan, mereka Pengaruh Determinan Financial DistressA. (Nathania. Marin. 21 - 27 berharap agar perusahaan memiliki kinerja yang tetap stabil. Akan berbeda bila para agen memiliki cita-cita yang berlawanan, mereka menginginkan sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mengurangi biaya tetap seperti biaya gaji, mereka akan mendesak manajemen untuk mengurangi gaji para karyawan bahkan dapat melakukan pemecatan sepihak. Bagi para karyawan tidak menginginkan hal tersebut, mereka ingin tetap bekerja. Gesekan tersebut akan berakibat terjadinya Konflik kepentingan harus segera diatasi dan dihindari, dengan kesamaan cita-cita maka akan meningkatkan value Peningkatan value dapat tercermin pada lingkungan perusahaan dan kinerja rasio keuangan yang baik. Perumusan penelitian yang diajukan adalah sebagai berikut: . apakah Current Ratio dapat mempengaruhi financial distress pada perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2019-2021? . apakah Debt to Equity Ratio dapat mempengaruhi financial distress pada perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2019-2021? . apakah Return on Asset dapat mempengaruhi financial distress pada perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2019-2021? . apakah mempengaruhi financial distress pada perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2019-2021? . apakah komposisi mempengaruhi financial distress pada perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2019-2021? financial distress pada perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2019-2021? Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Untuk memperoleh bukti empiris pengaruh Current Ratio. Debt to Equity Ratio. Return on Asset, kepemilikan institusional, komposisi dewan direksi dan ukuran perusahaan terhadap financial distress pada perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2019-2021. KAJIAN LITERATUR Teori Keagenan Teori hubungan manajemen suatu perusahaan dengan para pemegang saham (Jensen dan Meckling, 1. Teori keagenan memaparkan bahwa kedua belah pihak yang memiliki cita-cita yang sama yaitu memperoleh keuntungan sebanyakbanyaknya. Menurut penelitian yang dilakukan Wardoyo dkk. , . menjelaskan bahwa teori ini didasarkan sebagai pemisahaan antara pemilik dan manajer dalam perusahaan. Perilaku, kebutuhan, serta tanggapan terhadap risiko kedua pihak yang berbeda, dimana pihak prinsipal akan melakukan analisis kemudian memberikan keputusan kepada pihak agen. Agen akan memberikan usaha semaksimal mungkin agar dapat memenuhi target yang diberikan Pada kenyataannya hasil sempurna sesuai dengan kepentingan Hal ini akan menimbulkan gesekan kepentingan atau disebut juga konflik kepentingan. Pecking Order Theory Pecking order theory menjelaskan mengenai struktur modal perusahaan. Teori pecking order timbul dari konsep asymmetric information, dimana konsep Media Mahardhika Vol. 18 No. 1 September 2023 tersebut dikenal sebagai kegagalan informasi (Fabiana Meijon Fadul. Manajer memiliki informasi mengenai keuangan sebuah perusahaan dan risikonya dibandingkan dengan investor (Culata dan Gunarsih, 2. Atas tersebut, pihak eksternal akan menuntut tingkat return yang tinggi terhadap risiko yang dimiliki. Perusahaan menggunakan pendanaan dari laba ditahan untuk kegiatan operasional. Pada saat pendanaan dari laba tidak memadai, maka pendanaan dari hutang akan digunakan. Urutan sumber keuangan perusahaan adalah dana internal yang berupa laba, kemudian kas dan setara kas, hutang, saham preferen dan saham biasa. Teori ini memprediksi bahwa penerbitan saham biasa merupakan sumber alternatif pendanaan atau bukan penerbitan saham bukanlah menjadi Dividen yang memiliki sifat melekat menjadi salah satu pemotongan terhadap dividen yang Perusahaan akan memilih untuk menggunakan kas untuk membayar hutang dan berinvestasi pada surat berharga dikarenakan kreditur akan menuntut return yang rendah daripada pemegang saham yang menuntut return yang tinggi atas Financial Distress Financial Distress merupakan sebuah kondisi dari sebuah perusahaan yang mengalami penurunan kinerja keuangan sehingga tidak dapat memenuhi kewajibannya. Pada titik ini pemegang kepentingan harus berhatihati dalam mengambil keputusan, hal ini dikarenakan keputusan yang salah akan berakibat perusahaan harus dilikuidasi atau mengalami kebangkrutan. Financial distress disebabkan oleh faktor kesalahan dalam perencanaan alokasi biaya, kesalahan struktur biaya, corporate governance yang buruk, dan kondisi perekonomian makro yang menurun (Dwijayanti, 2. Dalam upaya menghindari terjadinya financial distress dapat dilakukan analisis pada laporan keuangan, menganalisis laporan auditor, dan memprediksi perekonomian Rasio Keuangan Analisis rasio merupakan alat yang digunakan untuk menganalisis keuangan untuk memberikan pandangan mengenai kondisi yang mendasari (Subramanyam. Analisis rasio pada umumnya dikelompokkan kedalam tiga jenis, yaitu: analisis kredit . yang terdiri dari analisis profitabilitas yang terdiri dari imbal hasil atas investasi, kinerja operasi, pendayagunaan aset. Good Corporate Governance (GCG) Tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG) merupakan sebuah sistem untuk mengatur dan mengendalikan perusahaan melalui hubungan antar pihak pengurus perusahaan, atau berdasarkan value atas (Badan Pengawasan Keuangan Pembangunan, 2. Kebutuhan akan GCG merupakan akibat dari konflik kepentingan antara para agents dan principals, perbedaan kepentingan yang timbul akan menyebabkan kerugian bagi seluruh pihak. Para agen maupun prinsipal dapat menjadi penyebab timbulnya konflik kepentingan. Prinsipal yang tidak dapat memastikan agen melakukan seluruh tugasnya demi tercapainya tujuan prinsipal, maka untuk meminimalisir hal tersebut diperlukan Pengaruh Determinan Financial DistressA. (Nathania. Marin. 21 - 27 adanya informasi antar pihak. Ukuran Perusahaan Penilaian akan ukuran perusahaan dapat dilakukan dengan melakukan analisis rasio pada laporan keuangan perusahaan seperti mengukur tingkat likuiditas, struktur modal, imbal hasil atas investasi, dan lain-lain. Informasi atas menjelaskan ukuran sebuah perusahaan. Selain analisis rasio, pengukuran skala perusahaan dapat dilakukan dengan pendekatan GCG atau Good Corporate Governance. GCG akan menyajikan Kepemilikan Institusional. Jumlah Dewan Direksi. Komposisi Komisaris Independen, dan Komite Audit. Semakin tingginya nilai persentase direksi, komisaris independen, dan komite audit, maka akan semakin baik pula sebuah perusahaan itu di mata Keputusan yang dilakukan terpercaya dan masa depan perusahaan akan cerah. GCG akan memberikan sebuah kepastian bagi para investor. Pengaruh Current Ratio terhadap Financial Distress Current Ratio (CR) digunakan sebagai alat ukur untuk menilai (Subramanyam, 2. Melakukan perhitungan CR, akan memberikan informasi tingkat likuiditas organisasi. Tingginya nilai CR memiliki arti bahwa perusahaan likuid dan hal ini sangat dipandang baik bagi pemangku Tingginya nilai CR menggunakan pendanaan dari kreditur sebagai opsi kedua. Kewajiban jangka pendek akan digunakan pada saat pendanaan dari laba tidak mencukupi. H1: Current Ratio memiliki pengaruh negatif terhadap Financial Distress. Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap Financial Distress Tingginya nilai hutang menandakan perusahaan menggunakan pendanaan dari kreditur dengan tingkat return yang wajar risiko yang rendah. Sebaliknya dengan tingginya nilai ekuitas akan menunjukan bahwa perusahaan memiliki kewajiban untuk membayar dividen atas tingginya return yang diharapkan para Dalam pecking order theory menjelaskan bahwa perusahaan akan memilih untuk menggunakan laba sebagai pendanaan utama, dan disaat pendanaan dari laba tidak mencukupi maka digunakan pendanaan dari hutang. Teori menggunakan ekuitas dibandingkan dengan liabilitas, sehingga tingginya DER menunjukan bahwa laba yang diperoleh kecil atau terjadinya kerugian. H2: Debt to Equity Ratio memiliki pengaruh positif terhadap Financial Distress. Pengaruh Return on Asset terhadap Financial Distress Return on Asset (ROA) digunakan sebagai alat ukur tingkat keefektifan manajemen dalam memanfaatkan aset. Nilai ROA yang tinggi menunjukan perusahaan telah memanfaatkan asetnya dengan baik dalam usaha memperoleh Rendahnya nilai ROA menandakan pendapatan atau laba yang diperoleh juga Penurunan ROA memberikan informasi bahwa perusahaan mengalami Kemerosotan nilai ROA dalam suatu periode berturut-turut akan menunjukan perusahaan tidak mampu mendatangkan laba dan hal ini akan berdampak perusahaan akan menghadapi Media Mahardhika Vol. 18 No. 1 September 2023 krisis keuangan. H3: Return on Asset memiliki pengaruh negatif terhadap Financial Distress. H5: Kepemilikan Komisaris Independen memiliki pengaruh negatif terhadap Financial Distress. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Financial Distress Pemicu terjadinya financial distress Peran institusional adalah memperkuat sistem Praktiknya kebutuhan akan pihak institusional adalah sebagai pihak yang melakukan monitoring jalannya meningkatkan kepercayaan prinsipal semaksimal mungkin untuk mencapai Maka semakin tingginya proporsi institusional dalam perusahaan, maka dinilai semakin baik tata kelolanya serta semakin rendah pula H4: Kepemilikan Institusional memiliki pengaruh negatif terhadap Financial Distress. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Financial Distress Ukuran dari perusahaan digolongkan menjadi perusahaan besar hingga kecil. Besarnya nilai aset sebuah perusahaan umumnya digunakan dalam melakukan penilaian skala perusahaan (Rahayu dan Sopian, 2. Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba juga menjadi salah satu tolok ukur besar atau kecilnya Dalam laporan keuangan nilai laba ditahan yang tinggi akan perusahaan menggunakan laba sebagai sumber keuangan utamanya. Nilai liabilitas yang lebih tinggi dibandingkan ekuitas akan menunjukan bahwa perusahan lebih memilih pendanaan dengan tingkat risiko yang rendah dan hal ini akan memberikan pandangan bahwa tingginya kemampuan perusahan untuk Kehandalan manajer untuk mengelola keuangan akan Nilai liabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekuitasnya menunjukan bahwa perusahaan memilih untuk membayar hutang dibandingkan membayar dividen. Faktor lainnya adalah pihak investor akan menargetkan return yang tinggi atas investasinya, sedangkan kreditur akan menargetkan return yang H6: Ukuran Perusahaan memiliki pengaruh negatif terhadap Financial Distress. Pengaruh Kepemilikan Komisaris Independen Financial Distress Kepemilikan komisaris independen menjadi pilar utama dalam GCG, hal ini dikarenakan komisaris independen menjadi pihak pemantau jalannya tata kelola perusahaan. Seluruh keputusan yang dibuat oleh komisaris independen Keberadaan komisaris kepercayaan para agen dan prinsipal, bahwa seluruh keputusan yang dibuat adalah demi keberlanjutan hidup Keputusan akan diambil tanpa pengaruh dan condong pada pihak Tingginya tingkat keefektifan komisaris independen, maka perusahaan akan terhindar dari terjadinya kesulitan keuangan atau financial distress. Metode Penelitian Pengaruh Determinan Financial DistressA. (Nathania. Marin. 21 - 27 METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan melakukan pengujian membuktikan bahwa Rasio Keuangan yang terdiri dari Current Ratio. Debt to Equity Ratio. Return on Asset. Good Corporate Governance yang terdiri dari Kepemilikan Institusional Komposisi Komisaris Independen, dan Ukuran Perusahaan sebagai variabel kontrol dapat mengindikasi terjadinya Financial Distress pada Perusahaan Sektor Makanan dan Minuman untuk periode 2019-2021. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda dengan persamaan sebagai berikut: yaya = yu0 Oe yu1 yaycI yu2 yayaycI Oe yu3 ycIycCya Oe yu4 yaya Oe yu5 yayaya Oe yu6 ycOycE yuA Keterangan: = Financial Distress = Current Ratio DER = Debt to Equity Ratio ROA = Return on Asset = Kepemilikan Institusional KKI = Komposisi Komisaris Independen = Ukuran Perusahaan yu0 = Konstanta yu1 , yu2, yu3 , yu4 , yu5 , yu6 = Koefisien Regresi yuA = Error Term Populasi dan sampel penelitian Populasi penelitian ini adalah perusahaan sektor makanan dan minuman sebanyak 50 Perusahaan yang terdaftar di BEI untuk periode 20192021, daftar perusahaan dapat dilihat pada lampiran 1. Pengambilan sampel dari populasi tersebut akan menggunakan teknik purposive sampling yang didasarkan pada kriteria sebagai berikut: Perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2019-2021. Perusahaan sektor makanan dan minuman yang mempublikasi laporan tahunan perusahaan periode 2019-2021 dan dapat diakses melalui situs resmi BEI id atau situs resmi dari perusahaan yang bersangkutan. Perusahaan sektor makanan dan minuman menggunakan mata uang rupiah dalam laporan tahunan perusahaan periode 2019-2021. Perusahaan sektor makanan dan minuman yang memiliki Kepemilikan Institusional dan Komposisi Komisaris Independen dalam laporan tahunan perusahaan periode 2019-2021. Variabel Penelitian Variabel independen yang digunakan adalah rasio keuangan dan good corporate governance yang berupa: Current Ratio (CR): Penggunaan pertimbangan bahwa hutang lancar merupakan pilihan kedua perusahaan tidak mencukupi. Pengukurannya adalah sebagai yaycI yaycyceyc ycoycaycuycaycayc yaycnycaycaycnycoycnycycayc ycycaycuyciycoyca ycyyceycuyccyceyco Debt to Equity Ratio (DER). DER merupakan bagian dari rasio struktur modal dan Penggunaan DER dikarenakan rasio ini sudah dapat perusahaan dalam memenuhi Media Mahardhika Vol. 18 No. 1 September 2023 hutang Sudaryo, . Pengukurannya adalah sebagai yaycnycaycaycnycoycnycycayc yayaycI = yaycoycycnycycayc Return on Asset (ROA). Penggunaan ROA dikarenakan rasio ini dapat menjelaskan tingkat kemampuan perusahaan menghasilkan laba, dan jika nilai ROA negatif maka semakin besar kemungkinan perusahaan akan mengalami Perusahaan akan menggunakan laba sebagai pendanaan utama sehingga tingginya ROA menunjukan bahwa perusahaan memiliki Pengukurannya adalah sebagai yayaycN ycIycCya = yaycyceyc Keterangan: ROA = Return on Asset EAT = Earnings after tax Kepemilikan institusional (KI). Kepemilikan Institusional (KI) memiliki peran penting dalam memonitoring atau sebagai dilakukan oleh investor secara Keberadaan KI akan dinilai mampu untuk prinsipal (Prasetyo, dkk. , 2. Pengukurannya adalah sebagai yaya yaycycoycoycaEa ycIycaEaycayco yaycuycycycnycycycycn yaycycoycoycaEa ycIycaEaycayco yaAyceycyceyccycayc Komposisis independen (KKI). Keberadaan komisaris independen akan meningkatkan nilai perusahaan BEI menjelaskan bahwa setidaknya KKI adalah 30% atas seluruh anggota Dewan Komisaris. Pengukurannya adalah sebagai berikut: yayaya yaycycoycoycaEa yaycuycoycnycycaycycnyc yaycuyccyceycyyceycuyccyceycu yaycycoycoycaEa yayceycycaycu yaycuycoycnycycaycycnyc Variabel kontrol berupa ukuran perusahaan (UP). Nilai aset yang tinggi akan menunjukan besarnya sebuah perusahaan, dimana perusahaan dengan skala besar akan memiliki aset tetap yang tinggi demi menunjang bisnisnya. Nilai persediaan yang tinggi akan diikuti dengan tingginya nilai penjualan dan memungkinkan tingginya laba yang dihasilkan yang kemudian digunakan sebagai sumber pendanaan utamanya. Pengukurannya adalah sebagai berikut: ycOycE = yaycu . cNycuycycayco yaycycey. Keterangan: = Ukuran Perusahaan = Logaritma Natural Variabel dependen berupa financial distress (FD). Sebuah kondisi dimana perusahaan sedang mengalami masalah keuangan dan memiliki nilai laba bersih negatif dalam suatu periode yang berturut-turut. Pengukuran FD dilakukan dengan pendekatan net income dengan menggunakan skala nominal dimana nilai 1 menunjukan net income perusahaan yang negatif atau mengalami kerugian dan nilai 0 menunjukan net income perusahaan positif atau mengalami HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh determinan yang terdiri dari variabel Current Ratio (CR). Debt to Equity Ratio (DER). Return on Asset (ROA). Kepemilikan Institusional (KI). Pengaruh Determinan Financial DistressA. (Nathania. Marin. 21 - 27 Komposisi Komisaris Independen (KKI), Ukuran Perusahaan (UP) sebagai variabel kontrol terhadap Financial Distress (FD). Informasi tersebut diperoleh dari laporan tahunan perusahaan atau annual report yang diterbitkan melalui situs resmi perusahaan maupun Bursa Efek Indonesia (BEI). Berikut merupakan hasil uji deskriptif sebelum setelah dilakukan outlier: 0,07 0,08 0,12 1,72 KKI 0,18 0,25 0,74 0,46 LOG_U 0,68 0,37 0,60 0,88 Nilai B dan standard error dimasukan kedalam persamaan regresi linier berganda adalah sebagai berikut: yaya = 1,135 Oe 0,099 yaycI 0,670 yayaycI Oe 2,028 ycIycCya Tabel 1: Hasil Uji Deskriptif setelah Oe 0,128 yaya 0,187 yayaya Outlier Oe 0,607 ycOycE 1,012 Std. Atas persamaan tersebut maka Variabel Mean Min Max Deviasi diperoleh pernyataan sebagai berikut: LOG_C 0,289 -0,480 1,35 0,321 Apabila FD memiliki nilai 2,147 jika variabel CR. DER. ROA. KI. KKI, dan DER 0,914 0,069 3,93 0,718 UP bernilai 0. Nilai CR adalah 1 dan DER. ROA. KI. KKI, dan UP adalah 0 ROA 0,059 -0,214 0,41 0,958 maka FD adalah -0,099. Nilai DER adalah 1 dan CR. ROA. KI. KKI, dan UP 0,693 0,000 0,99 0,322 adalah 0 maka FD adalah 0,067. Nilai ROA adalah 1 dan CR. DER. KI. KKI. KKI 0,411 0,250 0,66 0,095 dan UP adalah 0 maka FD adalah -2,028. Nilai KI adalah 1 dan CR. DER. ROA. LOG_U 1,448 1,330 1,52 0,035 KKI, dan UP adalah 0 maka FD adalah 0,128. Nilai KKI adalah 1 dan CR. DER, 0,160 0,000 1,00 0,364 ROA. KI, dan UP adalah 0 maka FD adalah 0,187. Nilai UP adalah 1 dan CR. DER. ROA. KI, dan KKI adalah 0 maka FD adalah -0,697. Tabel 2: Hasil Uji Hipotesis Model Constan LOG_C DER ROA Std. Erro 1,13 1,01 0,08 0,09 0,06 0,03 0,28 2,02 Sig. 1,12 1,17 1,80 7,20 0,26 0,24 0,07 0,00 Hasil Temuan 1 Penelitian ini menemukan fenomena sektor makanan dan minuman yang memiliki nilai current ratio yang rendah akan meningkakan financial distress secara tidak signifikan. Hasil pengujian hipotesis ini mendukung pengujian yang dilakukan oleh Makkulau . yang mengungkapkan pengaruh CR yang rendah akan memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap terjadinya FD. Kebutuhan pendanaan dari kreditur dianggap penting pada saat pendanaan internal tidak dapat memenuhi kebutuhan Media Mahardhika Vol. 18 No. 1 September 2023 bisnis. Pada saat nilai aset lancar rendah dan kewajiban lancar tinggi akan perusahaan tidak dapat memenuhinya. Bunga pada hutang yang bersifat melekat akan mempertinggi risiko perusahaan tidak dapat membayar. Atas uraian berikut maka rendahnya nilai CR mengalami kesulitan keuangan. Hasil Temuan 2 Penelitian fenomena sektor makanan dan minuman yang memiliki nilai debt to equity ratio yang tinggi akan meningkakan financial distress secara tidak signifikan. Hasil pengujian ini sejalan dengan penelitian yang dihasilkan oleh Purwaningsih dan Safitri . yang mengungkapkan pengaruh DER adalah positif tidak signifikan terhadap terjadinya FD. Teori pecking order yang menyatakan pendanaan hutang digunakan setelah pendanaan laba tidak dapat memenuhi. Tingkat menggunakan pendanaan kreditur yang tinggi dimana memiliki tingkat risiko bawaan berupa bunga yang melekat, sedangkan pendanaan ekuitas berupa laba tidak memiliki risiko. Atas uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin tingginya kewajiban sebagai sumber pendanaan kedua akan memberikan risko lebih besar dari pendanaan laba. Hasil Temuan 3 Penelitian fenomena sektor makanan dan minuman yang memiliki nilai return on asset yang rendah akan meningkakan financial distress secara signifikan. Hasil pengujian ini sesuai dengan pengujian yang dihasilkan oleh Christine, dkk. dan Giovanni, dkk. , . yang mengungkapkan pengaruh ROA yang negatif signifikan terhadap terjadinya FD. Pendanaan internal yang memiliki risiko rendah digunakan oleh perusahaan sebagai pendanaan utama. Kebutuhan perusahaan untuk memperoleh laba adalah digunakan untuk menjalankan Atas penilaian ROA akan diperoleh informasi tingkat keefektifan perusahaan dalam mengelola asetnya. Jumlah aset yang tinggi namun laba yang kecil akan menunjukan adanya sebuah kesalahan sehingga tingkat earning yang diperoleh adalah rendah dan tercermin pada rendahnya nilai ROA. Hasil Temuan 4 Penelitian ini menemukan fenomena sektor makanan dan minuman yang memiliki nilai kepemilikan institusional yang rendah akan meningkakan financial distress secara tidak signifikan. Hasil pengujian ini sejalan dengan pengujian yang dilakukan oleh Suparyanto dan Rosad . dan tidak sejalan dengan pengujian yang dilakukan oleh Munawar, . Pemegang institusional akan memberikan sistem pengawas atas investasi yang dilakukan oleh investor. Tingkat KI yang tinggi akan menunjukan bahwa tingkat kecurangan yang dilakukan agen rendah demi memaksimalkan laba. Nilai KI yang rendah akan berakibat pada rendahnya tingkat pengawasan dalam sebuah terjadinya kecurangan yang akan berakibat pada terjadinya kondisi financial distress. Hasil Temuan 5 Penelitian ini menemukan fenomena sektor makanan dan minuman yang memiliki nilai komposisi komisaris meningkakan financial distress secara tidak signifikan. Hasil pengujian ini sesuai dengan pengujian yang dilakukan oleh Prasetyo, dkk. , . dan tidak Pengaruh Determinan Financial DistressA. (Nathania. Marin. 21 - 27 sejalan dengan pengujian yang dilakukan oleh Munawar, dkk. , . Tingginya independen dalam sebuah perusahaan sebagai pihak tidak selalu memberikan dampak yang baik. Kemungkinan terjadinya monopoli kekuasaan yang dilakukan oleh komisaris independen. Terhambatnya melakukan aktivitas akibat terhalang oleh para komisaris independen Kemungkinan lainnya adalah pengawas tidak berjalan dengan efektif dan sesuai dengan Undang-Undang sehingga timbul kecurangan yang dapat menaikan potensi terjadinya financial Hasil Temuan 6 Penelitian fenomena sektor makanan dan minuman yang memiliki nilai ukuran perusahaan yang rendah akan meningkakan Hasil pengujian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Christine, dkk. , . dan tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Manan dan Hasnawati . Ukuran sebuah perusahaan akan menunjukan pula kemampuan dalam menghasilkan laba, dimana laba tersebut merupakan Perusahaan dengan skala yang kecil cenderung memiliki laba yang rendah eksternal baik berupa hutang maupun penerbitan saham biasa. Perusahaan dengan tingkat pendanaan eksternal yang tinggi akan meningkatkan risiko dikarenakan timbulnya bunga atas pinjaman serta pembayaran dividen. KESIMPULAN Semakin menandakan rendahnya kemampuan kewajiban lancarnya dimana pendanaan internal menunjukan nilai yang rendah dan hal ini akan meningkatkan potensi DER yang tinggi memiliki arti bahwa keuntungan yang diperoleh perusahaan tidak cukup sehingga mengharuskan penggunaan pendanaan berupa hutang. Pendanaan hutang yang memiliki risiko kesulitan keuangan karena tidak dapat memenuhi kewajibannya. Nilai ROA yang tinggi akan menunjukan kekuatan pendanaan internal yang dimiliki perusahaan. Perusahaan akan menggunakan laba sebagai pendanaan utama, sehingga semakin tingginya ROA semakin kuat pula keuangan perusahaan tersebut dan semakin kecil pula potensi perusahaan mengalami kesulitan keuangan. Keberadaan pihak institusional yang diharapkan dapat melakukan pengawasan dapat memberikan risiko dimana pihak institusional mengambil keputusan hanya institusional dan tidak mementingkan pemegang saham lainnya, sehingga hal perusahaan mengalami FD. Tingginya KKI sebagai mekanisme pengawasan tidak berjalan dengan efektif dan sesuai dengan peraturan akan meningkatkan potensi kecurangan yang dapat menyebabkan terjadinya FD. Tingginya nilai UP menandakan bahwa aset yang dimiliki perusahaan adalah besar. Kebutuhan akan nilai aset yang besar adalah dalam upaya untuk menunjang operasional, sehingga dapat menunjukan tingginya penjualan dan keuntungan yang diperoleh perusahaan. Saran yang dapat dipertimbangkan antara lain penggunaan variabel yang Media Mahardhika Vol. 18 No. 1 September 2023 memberikan gap yang besar pada data sehingga meninmbulkan ketidaklolosan dalam uji statistik, sehingga perlu Penggunaan pendekatan lain dimana penelitian ini menggunakan net income dan logaritma natural atas aset sebagai penilai financial distress dan ukuran Penggunaan sektor lain dan Pertimbangan selanjutnya adalah untuk memperhatikan tingkat keefektifan memaksimalkan laba sebagai sumber pendanaan utama. REFERENCES