Jurnal Kajian Ilmiah e-ISSN: 2597-792X. ISSN: 1410-9794 Vol. 26 No. 2 (Mei 2. Halaman: 151 Ae 162 Terakreditasi Peringkat 3 (SINTA . sesuai SK RISTEKDIKTI Nomor. 295/C/C3/KPT/2026 Manfaat Yang Dirasakan. Kemudahan Penggunaan. Dan Efek Risiko Pada Keputusan Penggunaan QRIS: Peran Mediasi Minat Dalam Penggunaan Enny Istanti 1,*. Ida Ayu Sri Brahmayanti 2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Bhayangkara Surabaya. e-mail: ennyistanti@ubhara. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. e-mail: brahmayanti@untag-sby. * Korespondensi: e-mail: ennyistanti@ubhara. Submitted: 06/02/2026. Revised: 12/06/2026. Accepted: 19/06/2026. Published: 30/05/2026 Abstract This study examines the impact of perceived benefit, perceived ease of use, and perceived risk on university studentsAo decisions to use QRIS, with interest in using as a mediating variable. Although students generally possess high digital literacy, the adoption rate of the Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) remains relatively low, motivating this research. quantitative correlational approach was employed, with data collected through an online questionnaire using a 5-point Likert scale from 80 university students. The data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) with SmartPLS 4. The measurement model demonstrated strong validity and reliability, with factor loadings above 70. Average Variance Extracted (AVE) exceeding 0. 50, and Composite Reliability (CR) above Structural model results revealed that interest in using was positively influenced by perceived benefit ( = 0. 311, p < 0. and perceived ease of use ( = 0. 819, p < 0. , while perceived risk had a negative effect ( = Ae0. 155, p < 0. Furthermore. QRIS usage decision was significantly influenced by perceived benefit ( = 0. 906, p < 0. and interest in using ( = 196, p < 0. , whereas perceived risk and perceived ease of use showed no direct effect. These findings highlight interest in using as a key mediator linking perceptions to actual behavior, supporting the Technology Acceptance Model (TAM) and Theory of Planned Behavior (TPB). This study contributes to digital payment research by emphasizing perceived advantage and user engagement as central drivers of QRIS adoption among students. Keywords: Ease of use. Interest in using. Risk perception. QRIS Abstrak Penelitian ini mengkaji dampak persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaan, dan persepsi risiko terhadap keputusan mahasiswa untuk menggunakan QRIS, dengan minat untuk menggunakan QRIS sebagai variabel mediasi. Meskipun mahasiswa umumnya memiliki literasi digital yang tinggi, tingkat adopsi Kode Respons Cepat Standar Indonesia (QRIS) masih relatif rendah, yang memotivasi penelitian ini. Pendekatan korelasional kuantitatif digunakan, dengan data dikumpulkan melalui kuesioner daring menggunakan skala Likert 5 poin dari 80 Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan SmartPLS 4. Model pengukuran menunjukkan validitas dan reliabilitas yang kuat, dengan faktor loading di atas 0,70. Average Variance Extracted (AVE) melebihi 0,50, dan Composite Reliability (CR) di atas 0,80. Hasil model struktural menunjukkan bahwa minat untuk menggunakan dipengaruhi secara positif oleh manfaat yang dirasakan ( = 0,311, p < 0,. dan kemudahan penggunaan yang dirasakan ( = 0,819, p < 0,. , sedangkan risiko yang dirasakan memiliki pengaruh negatif ( = Ae0,155, p < 0,. Selanjutnya, keputusan penggunaan QRIS dipengaruhi secara signifikan oleh manfaat yang dirasakan ( = 0,906, p < Available Online at http://ejurnal. id/index. php/JKI Enny Istanti. Ida Ayu Sri Brahmayanti 0,. dan minat untuk menggunakan ( = 0,196, p < 0,. , sedangkan risiko yang dirasakan dan kemudahan penggunaan yang dirasakan tidak menunjukkan pengaruh langsung. Temuan ini menyoroti minat untuk menggunakan sebagai mediator kunci yang menghubungkan persepsi dengan perilaku aktual, mendukung Model Penerimaan Teknologi (TAM) dan Teori Perilaku Terencana (TPB). Studi ini berkontribusi pada penelitian pembayaran digital dengan menekankan keuntungan yang dirasakan dan keterlibatan pengguna sebagai pendorong utama adopsi QRIS di kalangan mahasiswa. Kata kunci: Kemudahan penggunaan. Minat menggunakan. Persepsi risiko. QRIS Pendahuluan Digitalisasi sistem keuangan telah mengubah cara masyarakat bertransaksi secara global, terutama pascapandemi COVID-19 yang mendorong lonjakan pembayaran tanpa kontak dan seluler sebagai alternatif yang lebih aman, cepat, dan praktis dibandingkan uang tunai (Bank, 2. Statista, . melaporkan bahwa lebih dari 60% konsumen global kini lebih memilih pembayaran digital, khususnya berbasis kode QR. Di Indonesia, transformasi ini diwujudkan melalui peluncuran QRIS (Quick Response Code Indonesian Standar. oleh Bank Indonesia sebagai sistem pembayaran QR terpadu. Meskipun QRIS mengalami pertumbuhan pesat di sektor UMKM, tingkat adopsinya di kalangan mahasiswa masih relatif rendah, meskipun kelompok ini memiliki literasi digital dan penetrasi perangkat seluler yang tinggi (Utami & Surendro, 2. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara kesiapan teknologi dan perilaku penggunaan aktual, sehingga menuntut kajian terhadap faktor internal seperti persepsi dan minat penggunaan. Secara nasional. Bank Indonesia terus mendorong adopsi QRIS sebagai bagian dari strategi inklusi keuangan dan transformasi ekonomi digital. Hingga 2024. QRIS telah digunakan oleh lebih dari 30 juta pengguna, namun konsistensi penggunaan di kalangan mahasiswa masih belum optimal (Indonesia, 2. Padahal, mahasiswa merupakan pengguna aktif dompet digital dan e-commerce, sehingga rendahnya adopsi QRIS menjadi fenomena yang Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai hambatan persepsi dan motivasi yang memengaruhi keputusan penggunaan. Studi empiris menunjukkan bahwa persepsi manfaat, kemudahan penggunaan, dan risiko merupakan determinan utama minat dan perilaku penggunaan teknologi (Alalwan et al. , 2. , namun interaksi variabel-variabel tersebut dalam konteks QRIS di Indonesia masih terbatas diteliti, khususnya peran mediasi minat penggunaan. Model Penerimaan Teknologi (Technology Acceptance Model/TAM) dikembangkan oleh Davis . menyatakan bahwa persepsi manfaat dan kemudahan penggunaan merupakan prediktor utama adopsi teknologi. Penelitian sebelumnya membuktikan bahwa sistem pembayaran digital yang dianggap bermanfaat dan mudah digunakan cenderung lebih diterima oleh pengguna (Zhou et al. , 2. Dalam konteks QRIS, manfaat yang dirasakan meliputi kecepatan transaksi, penerimaan luas, dan efisiensi biaya, sedangkan kemudahan penggunaan berkaitan dengan kesederhanaan operasional sistem. Namun, persepsi positif tersebut tidak selalu berujung pada adopsi aktual apabila tidak disertai dorongan motivasional yang memadai, khususnya minat penggunaan (Cindy Marcellin Apsari. Ulfi Pristiana, 2. Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 151 - 162 (Mei 2. Manfaat Yang Dirasakan. Kemudahan Penggunaan. DanA Selain itu, persepsi risiko menjadi faktor krusial dalam adopsi keuangan digital. Kekhawatiran terkait keamanan data, kegagalan transaksi, dan penyalahgunaan informasi dapat menghambat penggunaan meskipun manfaat dan kemudahan telah dipersepsikan positif (Lee, 2009. Tarhini et al. , 2. Di kalangan mahasiswa, sensitivitas risiko cenderung lebih tinggi akibat keterbatasan literasi keuangan dan rendahnya kepercayaan terhadap sistem baru. Penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa sering kali lebih skeptis terhadap sistem pembayaran berbasis kebijakan pemerintah dibandingkan aplikasi komersial seperti OVO atau GoPay (Putra & Widiartama, 2. Oleh karena itu, persepsi risiko perlu diintegrasikan dalam model adopsi QRIS yang komprehensif. Lebih lanjut, penelitian ini menempatkan minat menggunakan sebagai konstruk motivasional yang berbeda dari niat perilaku. Minat mencerminkan keterlibatan psikologis proaktif yang menjembatani evaluasi kognitif dan perilaku aktual (Venkatesh. , & Davis. Dalam konteks mahasiswa, minat penggunaan QRIS menentukan apakah persepsi manfaat, kemudahan, dan risiko dapat diterjemahkan menjadi keputusan penggunaan. Dengan demikian, minat diposisikan sebagai variabel mediasi yang menghubungkan persepsi pengguna dengan penggunaan aktual QRIS. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang umumnya menguji manfaat, kemudahan, dan risiko secara parsial atau tanpa mempertimbangkan peran mediasi minat (Alalwan et al. , 2021. Putra & Widiartama, 2. , studi ini mengajukan model terintegrasi dengan tujuh hipotesis. Hipotesis tersebut mencakup pengaruh langsung persepsi manfaat (PB), kemudahan penggunaan (PE), dan risiko (PR) terhadap minat menggunakan (IU). pengaruh IU terhadap keputusan penggunaan QRIS (QUD). serta peran mediasi IU dalam hubungan antara PB. PE, dan PR terhadap QUD. Secara teoretis, minat berfungsi sebagai mekanisme yang menjelaskan kesenjangan antara persepsi dan tindakan. Di lokasi penelitian, tidak semua mahasiswa yang memahami manfaat dan kemudahan QRIS menunjukkan penggunaan aktual yang konsisten, terutama karena tingginya persepsi risiko. Dalam kondisi penggunaan yang bersifat sukarela, keputusan penggunaan QRIS sangat ditentukan oleh kekuatan minat internal individu. Oleh karena itu, penelitian ini menguji secara empiris peran minat sebagai mediator utama dalam menjelaskan perilaku penggunaan QRIS di kalangan mahasiswa. Dengan mengintegrasikan TAM. Theory of Planned Behavior (TPB), dan kerangka risikoAeutilitas, penelitian ini bertujuan memberikan bukti empiris melalui SEM mengenai jalur langsung dan tidak langsung yang memengaruhi adopsi QRIS. Temuan penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan model adopsi pembayaran digital serta implikasi praktis bagi pembuat kebijakan dan pengembang fintech dalam merancang strategi peningkatan penggunaan QRIS yang berfokus pada aspek kognitif dan motivasional Copyright A 2026 Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 151 - 162 (Mei 2. Enny Istanti. Ida Ayu Sri Brahmayanti Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan melalui serangkaian tahapan metodologis yang disusun secara sistematis untuk memastikan keterpaduan antara tujuan penelitian, kerangka teori, dan teknik analisis data. Tahap awal penelitian diawali dengan perumusan masalah dan pengembangan kerangka konseptual berdasarkan Model Penerimaan Teknologi (TAM) dan Teori Perilaku Terencana (TPB). Pada tahap ini, peneliti mengidentifikasi variabel penelitian yang terdiri atas manfaat yang dirasakan (Perceived Benefits/PB), kemudahan penggunaan yang dirasakan (Perceived Ease of Use/PE), dan risiko yang dirasakan (Perceived Risk/PR) sebagai variabel independen, minat untuk menggunakan (Intention to Use/IU) sebagai variabel mediasi, serta keputusan penggunaan QRIS (QRIS Usage Decision/QUD) sebagai variabel Berdasarkan kerangka konseptual tersebut, hipotesis penelitian dirumuskan secara deduktif untuk menguji hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel. Tahap berikutnya adalah penyusunan instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur seluruh variabel secara kuantitatif. Instrumen penelitian berupa kuesioner terstruktur yang dikembangkan dari indikator-indikator yang telah divalidasi dalam penelitian terdahulu dan disesuaikan dengan konteks penggunaan QRIS di kalangan mahasiswa. Setiap indikator diukur menggunakan skala Likert untuk menangkap persepsi dan sikap responden secara objektif dan Sebelum digunakan dalam pengumpulan data utama, instrumen penelitian terlebih dahulu diuji melalui uji validitas dan reliabilitas guna memastikan bahwa setiap item pertanyaan mampu mengukur konstruk yang dimaksud secara konsisten dan akurat. Setelah instrumen dinyatakan layak, tahap pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada responden yang telah ditentukan berdasarkan kriteria sampel Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang telah mengenal atau memiliki pengalaman dengan sistem pembayaran QRIS, sehingga data yang diperoleh relevan dengan tujuan penelitian. Proses pengumpulan data dilakukan dalam periode tertentu untuk memperoleh gambaran empiris yang representatif mengenai persepsi manfaat, kemudahan, risiko, minat, serta keputusan penggunaan QRIS di kalangan mahasiswa. Tahap selanjutnya adalah pengolahan dan analisis data secara statistik. Data yang terkumpul terlebih dahulu melalui proses penyaringan dan pengkodean untuk memastikan kelengkapan dan konsistensi jawaban responden. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik responden dan kecenderungan jawaban pada masing-masing Selanjutnya, analisis inferensial dilakukan untuk menguji hubungan antarvariabel sesuai dengan hipotesis penelitian. Pengujian model struktural dilakukan untuk mengetahui pengaruh langsung variabel PB. PE, dan PR terhadap QUD, serta untuk menguji peran mediasi minat untuk menggunakan (IU) dalam hubungan tersebut. Pengujian efek mediasi dilakukan dengan pendekatan analisis jalur atau pemodelan persamaan struktural, yang memungkinkan peneliti untuk menilai kekuatan dan signifikansi pengaruh tidak langsung antara variabel independen dan variabel dependen melalui variabel Pendekatan ini selaras dengan desain penelitian kuantitatif korelasional yang Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 151 - 162 (Mei 2. Manfaat Yang Dirasakan. Kemudahan Penggunaan. DanA menekankan pengujian hubungan kausal-asosiatif berdasarkan data empiris. Hasil analisis statistik kemudian diinterpretasikan dengan merujuk pada kerangka teoritik TAM dan TPB untuk menjelaskan bagaimana evaluasi kognitif terhadap manfaat, kemudahan, dan risiko membentuk minat dan keputusan penggunaan QRIS. Tahap akhir penelitian adalah penarikan kesimpulan dan perumusan implikasi Kesimpulan disusun berdasarkan hasil pengujian hipotesis untuk menjawab tujuan penelitian secara komprehensif. Selanjutnya, implikasi teoretis dikemukakan untuk memperkaya pengembangan literatur mengenai adopsi teknologi pembayaran digital, sementara implikasi praktis diarahkan pada penyedia layanan dan pemangku kebijakan dalam upaya meningkatkan adopsi QRIS di kalangan mahasiswa. Dengan tahapan metode yang terstruktur tersebut, penelitian ini diharapkan mampu memberikan temuan empiris yang valid, reliabel, dan relevan dengan permasalahan penelitian. Studi ini menggunakan data primer, yang dikumpulkan melalui kuesioner online terstruktur yang diisi sendiri menggunakan Google Forms. Survei tersebut terdiri dari pernyataan tertutup yang diukur menggunakan skala Likert 5 poin, mulai dari 1 (Sangat Tidak Setuj. hingga 5 (Sangat Setuj. Skala Likert banyak digunakan dalam penelitian perilaku karena kemampuannya untuk menangkap tingkat persetujuan atau persepsi dan memfasilitasi konversi yang mudah ke dalam data numerik untuk analisis statistik (Istanti, 2. Instrumen ini dirancang agar ringkas, ramah seluler, dan mudah diakses, sehingga memastikan pengumpulan data yang efisien di antara mahasiswa universitas yang melek digital di berbagai Sebelum pengumpulan data formal, uji coba pendahuluan dilakukan untuk mengidentifikasi ambiguitas dalam rumusan item dan untuk menilai reliabilitas skala. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari 289 mahasiswa aktif prodi manajemen Universitas Bhayangkara Surabaya, yang semuanya mengetahui dan setidaknya pernah terpapar QRIS dalam transaksi sehari-hari. Mengingat ukuran populasi yang dapat dikelola, ukuran sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan margin kesalahan 5% dan tingkat kepercayaan 95%. Dengan demikian sampel akhir terdiri dari 80 responden mahasiswa, yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Metode non-probabilitas ini tepat karena penelitian ini menargetkan mahasiswa yang merupakan pengguna atau calon pengguna layanan pembayaran berbasis QR dan mampu mengevaluasi fitur penggunaan QRIS berdasarkan pengalaman pribadi mereka (Utami & Surendro, 2. Data demografis seperti usia, jenis kelamin, fakultas, frekuensi penggunaan QRIS, dan dompet digital pilihan juga dikumpulkan untuk mendukung analisis segmentasi. Instrumen penelitian dibangun berdasarkan definisi operasional dari studi empiris Masing-masing dari lima variabel penelitian diukur menggunakan lima indikator, yang diadaptasi dari model pengukuran yang telah divalidasi. Item Manfaat. Kemudahan, dan Risiko yang Dirasakan diambil dari studi terkait TAM (Davis, 1989. Zhou et al. , 2. Minat dalam Penggunaan diadaptasi dari Venkatesh et al. , . dan Keputusan Penggunaan QRIS Copyright A 2026 Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 151 - 162 (Mei 2. Enny Istanti. Ida Ayu Sri Brahmayanti disusun berdasarkan studi niat perilaku (Putra & Widiartama, 2. Validitas isi dikonfirmasi melalui tinjauan ahli oleh tiga pakar di bidang keuangan digital dan sistem informasi. Validitas konstruk dan reliabilitas diperiksa menggunakan data dari studi percontohan . = . Semua konstruk menunjukkan nilai alpha Cronbach antara 0,812 dan 0,894, yang menunjukkan konsistensi internal yang kuat, sementara korelasi item-total berada di atas 0,60. Untuk analisis data, penelitian ini menggunakan statistik deskriptif untuk meringkas demografi responden dan kecenderungan sentral dari respons, serta analisis statistik inferensial untuk menguji hipotesis. Secara khusus, analisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan SmartPLS versi 4. 0, yang sangat cocok untuk studi eksplorasi yang melibatkan variabel laten, ukuran sampel kecil hingga sedang, dan model yang menggabungkan efek mediasi(Hair, dkk. Analisis tersebut mencakup evaluasi model luar . eliabilitas indikator, validitas konvergen melalui AVE, dan validitas diskriminan melalui Fornelarcker dan HTMT) dan pengujian model dalam . oefisien jalur, nilai RA, dan relevansi predikti. Bootstrapping dengan 5. 000 subsampel digunakan untuk menguji signifikansi jalur yang dihipotesiskan pada p < 0,05, memastikan inferensi yang kuat dari efek langsung dan tidak Tujuh hipotesis diuji dalam dua tahap. Pertama, model pengukuran dievaluasi untuk memastikan reliabilitas dan validitas indikator dan konstruk. Kedua, model struktural dinilai untuk menentukan besaran dan signifikansi koefisien jalur yang mewakili hubungan antar Efek mediasi yang menarik dalam penggunaan (IU) diperiksa melalui pengujian efek tidak langsung, sejalan dengan pendekatan Preacher dan Hayes . , yang memungkinkan identifikasi apakah IU sebagian atau sepenuhnya memediasi hubungan antara PB. PE. PR, dan QUD. Hasil analitis diharapkan memberikan wawasan empiris tentang variabel persepsi dan motivasi mana yang paling signifikan memengaruhi adopsi QRIS oleh siswa. Sumber: Hasil Pengolahan Data . Gambar 1. Kerangka konseptual Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 151 - 162 (Mei 2. Manfaat Yang Dirasakan. Kemudahan Penggunaan. DanA Gambar 1 menyajikan model penelitian konseptual yang menggambarkan secara komprehensif hubungan antara berbagai faktor persepsi mahasiswa terhadap keputusan penggunaan QRIS sebagai sistem pembayaran digital. Model ini dibangun untuk menjelaskan proses psikologis dan perilaku yang mendasari keputusan mahasiswa dalam mengadopsi teknologi pembayaran non-tunai. Dalam model tersebut, terdapat tiga variabel independen utama, yaitu Perceived Benefit . anfaat yang dirasaka. Perceived Ease of Use . emudahan Perceived Risk . isiko merepresentasikan evaluasi kognitif mahasiswa terhadap karakteristik dan konsekuensi penggunaan QRIS. Ketiga variabel persepsi tersebut diarahkan untuk memengaruhi Interest in Using . inat untuk menggunaka. yang berperan sebagai variabel mediasi. Minat menggunakan dalam model ini mencerminkan kecenderungan psikologis mahasiswa untuk menerima, mencoba, dan menggunakan QRIS dalam aktivitas transaksi sehari-hari. Dengan demikian, minat tidak hanya dipandang sebagai sikap sementara, tetapi sebagai mekanisme internal yang menjembatani persepsi mahasiswa terhadap teknologi dengan perilaku penggunaan yang nyata. Keberadaan variabel mediasi ini menunjukkan bahwa pengaruh manfaat, kemudahan, dan risiko tidak selalu langsung diterjemahkan menjadi keputusan penggunaan, melainkan terlebih dahulu diproses melalui pembentukan minat. Selanjutnya. Interest in Using berfungsi sebagai determinan utama yang mendorong terbentuknya QRIS Usage Decision . eputusan penggunaan QRIS). Keputusan penggunaan dalam konteks ini merujuk pada tindakan aktual mahasiswa dalam memilih dan menggunakan QRIS sebagai metode pembayaran, baik secara rutin maupun dalam situasi tertentu. Hubungan ini menegaskan bahwa minat yang kuat merupakan prasyarat penting bagi terjadinya adopsi teknologi, terutama dalam konteks penggunaan QRIS yang bersifat sukarela dan tidak dipaksakan oleh faktor eksternal. Selain jalur pengaruh tidak langsung melalui minat menggunakan, model penelitian ini juga menunjukkan adanya jalur pengaruh langsung dari Perceived Benefit. Perceived Ease of Use, dan Perceived Risk terhadap QRIS Usage Decision. Jalur langsung ini menggambarkan bahwa dalam kondisi tertentu, persepsi mahasiswa terhadap manfaat, kemudahan, dan risiko dapat memengaruhi keputusan penggunaan tanpa melalui proses pembentukan minat yang Hal ini mencerminkan kemungkinan adanya keputusan yang bersifat lebih rasional atau situasional, di mana mahasiswa langsung mempertimbangkan keuntungan dan potensi risiko sebelum mengambil keputusan penggunaan. Secara keseluruhan, model penelitian ini menegaskan bahwa keputusan mahasiswa dalam menggunakan QRIS merupakan hasil dari interaksi yang kompleks antara faktor-faktor persepsi dan faktor psikologis internal. Keputusan penggunaan tidak hanya ditentukan oleh sejauh mana mahasiswa memandang QRIS sebagai sistem yang bermanfaat, mudah digunakan, dan aman, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh tingkat minat mereka dalam mengadopsi teknologi pembayaran digital tersebut. Dengan demikian, model konseptual ini Copyright A 2026 Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 151 - 162 (Mei 2. Enny Istanti. Ida Ayu Sri Brahmayanti memberikan kerangka analitis yang kuat untuk memahami proses adopsi QRIS di kalangan mahasiswa secara lebih holistik dan terintegrasi. Hasil dan Pembahasan Validitas dan Reliabilitas Validitas menunjukkan sejauh mana suatu instrumen mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Menurut Hair dkk, . , validitas adalah kemampuan indikator dalam merepresentasikan konstruk yang diteliti secara tepat. Reliabilitas menunjukkan konsistensi atau kestabilan hasil pengukuran. Menurut Sekaran. , & Bougie, . , reliabilitas adalah tingkat konsistensi suatu instrumen dalam menghasilkan hasil yang sama ketika digunakan berulang kali. Tabel 1. Validitas dan reliabilitas CronbachAos Composite Composite Alpha Reliability . Reliability . 0,889 0,891 0,861 Construct AVE Interpretasi 0,919 0,695 Valid & Reliabel 0,865 0,900 0,645 Valid & Reliabel 0,868 0,880 0,904 0,655 Valid & Reliabel 0,864 0,871 0,902 0,647 Valid & Reliabel QUD 0,664 0,818 0,796 0,515 Dapat diterima (Marginal alph. & Valid Sumber: Hasil Penelitian . Tabel 1 menunjukkan hasil evaluasi reliabilitas dan validitas konvergen dari konstruk penelitian (IU. PB. PE. PR, dan QUD). Nilai CronbachAos Alpha dan Composite Reliability pada hampir semua variabel berada di atas batas minimum 0. 70, sehingga instrumen dinyatakan reliabel. Selain itu, seluruh nilai Average Variance Extracted (AVE) lebih besar dari 0. 50, yang berarti setiap konstruk memiliki validitas konvergen yang baik. Variabel QUD memiliki CronbachAos Alpha sebesar 0. 664, sedikit di bawah 0. 70, namun masih dapat diterima karena nilai Composite Reliability dan AVE sudah memenuhi kriteria. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa model pengukuran telah memenuhi syarat untuk analisis struktural lebih lanjut dalam PLS-SEM. Koefisien Determinasi (R. Model struktural menunjukkan RA sebesar 0,71 untuk Minat Menggunakan (IU) dan RA sebesar 0,76 untuk Keputusan Penggunaan QRIS (QUD), yang menunjukkan bahwa variabel eksogen (PB. PE. PR) menjelaskan 71% varians dalam IU dan bahwa semua variabel independen dan mediasi secara kolektif menjelaskan 76% varians dalam QUD. Menurut Chin, . , nilai RA ini mewakili daya penjelas yang substansial dalam model penelitian perilaku. Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 151 - 162 (Mei 2. Manfaat Yang Dirasakan. Kemudahan Penggunaan. DanA Tabel 2. R Kuadrat Variabel Endogen Nilai R2 Interpretasi Minat menggunakan (IU) 0,71 Daya penjelasan yang tinggi Keputusan Penggunaan QRIS (QUD) 0,76 Daya penjelasan yang tinggi Sumber: Hasil Penelitian . Uji Hipotesis Tabel 3. Koefisien Jalur dan Pengujian Hipotesis Hubungan Koefisien Jalur () Nilai t Nilai p Interpretasi PB Ie IU 0,311 3,46 0,001 Didukung PE Ie IU 0,819 9,22 0,000 Didukung PR Ie IU -0,155 2,11 0,035 Didukung PB Ie QUD 0,906 11,27 0,000 Didukung PE Ie QUD -0,088 1,05 0,294 Tidak Didukung PR Ie QUD -0,021 0,41 0,682 Tidak Didukung IU Ie QUD 0,196 3,12 0,002 Didukung Sumber: Hasil Penelitian . Hasil koefisien jalur tabel 3 menunjukkan bahwa Manfaat yang Dirasakan (PB) dan Kemudahan Penggunaan yang Dirasakan (PE) secara signifikan meningkatkan Minat Mahasiswa dalam Menggunakan (IU) QRIS, artinya mahasiswa lebih tertarik ketika QRIS dianggap bermanfaat dan mudah dioperasikan. Sebaliknya. Risiko yang Dirasakan (PR) memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap IU, menunjukkan bahwa kekhawatiran tentang keamanan atau ketidakpastian mengurangi minat mahasiswa. Mengenai Keputusan Penggunaan QRIS (QUD). PB menunjukkan pengaruh positif terkuat, yang menegaskan bahwa manfaat yang dirasakan adalah pendorong utama adopsi aktual. Minat dalam Menggunakan (IU) juga secara signifikan memengaruhi QUD, menyoroti peran mediasi antara persepsi dan Namun. PE dan PR tidak secara langsung memengaruhi QUD, menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan dan persepsi risiko memengaruhi keputusan penggunaan terutama melalui peningkatan atau penurunan minat daripada memiliki dampak langsung pada keputusan akhir. Pembahasan Temuan ini menguatkan prinsip-prinsip utama Model Penerimaan Teknologi (TAM) dan Teori Difusi Inovasi (IDT). Menurut Davis, . Kemudahan Penggunaan yang Dirasakan dan Kegunaan yang Dirasakan . nalog dengan Manfaat yang Dirasaka. mendorong niat perilaku terhadap adopsi teknologi. Jalur yang kuat dari PB Ie IU ( = 0,. dan PE Ie IU ( = 0,. memvalidasi kerangka kerja ini, menunjukkan bahwa ketika pengguna menganggap QRIS bermanfaat dan mudah digunakan, niat mereka untuk mengadopsi meningkat secara signifikan (Venkatesh. , & Davis, 2. Copyright A 2026 Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 151 - 162 (Mei 2. Enny Istanti. Ida Ayu Sri Brahmayanti Namun. Persepsi Risiko (PR) menunjukkan efek negatif pada IU ( = -0,. , konsisten dengan temuan oleh Zhang & Guo, . , yang mengamati bahwa kekhawatiran terkait keamanan dan privasi menghambat adopsi pembayaran digital. Jalur langsung yang tidak signifikan dari PE dan PR ke QUD menyiratkan bahwa niat perilaku pengguna (IU) memediasi pengaruh variabel-variabel ini terhadap keputusan penggunaan aktual, sejalan dengan Teori Perilaku Terencana Ajzen, . dan penekanannya pada niat sebagai penentu perilaku yang paling utama. Hasil penelitian saat ini mendukung temuan sebelumnya oleh Kurniawan & Sari, . yang menemukan bahwa persepsi kegunaan dan niat pengguna secara signifikan memprediksi adopsi pembayaran seluler di Asia Tenggara. Sebaliknya, pengaruh lemah dari Persepsi Kemudahan Penggunaan terhadap penggunaan aktual bertentangan dengan temuan oleh Chuang et al. , . , yang melaporkan jalur langsung yang signifikan dalam konteks adopsi fintech serupa. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh familiaritas QRIS yang luas di kalangan pengguna Indonesia, yang mengurangi dampak marginal dari kemudahan penggunaan setelah sistem tersebut dikenal luas. Selain itu, tidak adanya pengaruh signifikan dari Persepsi Risiko terhadap Keputusan Penggunaan QRIS bertentangan dengan Hassan et al. , . , yang menemukan bahwa persepsi risiko merupakan hambatan utama bagi penggunaan fintech di negara berkembang. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh meningkatnya kepercayaan pada QRIS yang difasilitasi oleh regulasi bank sentral dan integrasi di seluruh pedagang, yang meminimalkan kekhawatiran keamanan yang dirasakan oleh pengguna. Temuan ini juga konsisten dengan penelitian lokal sebelumnya yang menunjukkan bahwa manfaat yang dirasakan dan kemudahan penggunaan memengaruhi keputusan pengguna dalam mengadopsi sistem pembayaran berbasis QRIS dan digital (Mitha Indrawati, 2. Kesimpulan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh manfaat yang dirasakan, kemudahan penggunaan yang dirasakan, dan risiko yang dirasakan terhadap keputusan mahasiswa dalam menggunakan QRIS, dengan minat menggunakan sebagai variabel mediasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manfaat dan kemudahan penggunaan secara signifikan meningkatkan minat mahasiswa untuk menggunakan QRIS, sedangkan risiko yang dirasakan menurunkan minat tersebut. Selanjutnya, keputusan penggunaan QRIS dipengaruhi secara langsung dan paling kuat oleh manfaat yang dirasakan, serta dipengaruhi secara signifikan oleh minat menggunakan, yang menegaskan peran penting minat sebagai mediator antara persepsi pengguna dan perilaku aktual. Sebaliknya, kemudahan penggunaan dan risiko tidak berpengaruh langsung terhadap keputusan penggunaan, yang mengindikasikan bahwa kedua faktor tersebut lebih berperan melalui pembentukan minat dibandingkan menentukan keputusan secara langsung. Temuan ini mendukung kerangka Technology Acceptance Model (TAM) dan Theory of Planned Behavior (TPB), dengan menekankan bahwa persepsi manfaat dan Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 151 - 162 (Mei 2. Manfaat Yang Dirasakan. Kemudahan Penggunaan. DanA keterlibatan psikologis pengguna merupakan faktor utama dalam mendorong adopsi QRIS di kalangan mahasiswa. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi pengembang layanan pembayaran digital dan pembuat kebijakan untuk meningkatkan adopsi QRIS melalui strategi yang menonjolkan manfaat nyata serta memperkuat minat pengguna. Ke depan, penelitian lanjutan disarankan untuk memperluas ukuran sampel, melibatkan kelompok responden yang lebih beragam, serta menambahkan variabel lain seperti kepercayaan, pengaruh sosial, dan literasi keuangan guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai perilaku penggunaan pembayaran digital di Indonesia. Daftar Pustaka