PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 9 No. 1, 2026 e-ISSN : 2622-6383 Determinan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengangguran Terbuka di Berbagai Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan Laurensia Selma 1 Abd Rahim 2 Sri Astuty 3 Irwandi 4 Muhammad Syafri 5 laurensiaselmaselma@gmail. com 1, abd. rahim@unm. id2, sri. astuty@unm. irwandi@unm. id4, muhammadsyafri@unm. Prodi Ekonomi Pembangunan. Universitas Negeri Makassar. Indonesia 1 Abstrak Tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan pola yang tidak stabil dan masih menjadi persoalan utama dalam pembangunan ekonomi daerah. Pertumbuhan jumlah penduduk usia kerja yang tidak sebanding dengan daya serap lapangan kerja, serta ketidakstabilan perekonomian menyebabkan tekanan pada pasar tenaga kerja. Kondisi ini menuntut analisis mendalam terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pengangguran untuk mendukung perumusan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih efektif. Penelitian ini menggunakan data panel yang bertujuan menganalisis pengaruh PDRB. TPT, dan Inflasi terhadap pengangguran terbuka pada lima kabupaten/kota di Sulawesi Selatan periode 2015-2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial PDRB dan TPAK berpengaruh negatif signifikan, sedangkan inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengangguran terbuka. Secara simultan, ketiga variabel independen berpengaruh signifikan terhadap pengangguran terbuka. Temuan ini menegaskan pentingnya kebijakan pemerintah daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sektor produktif dan peningkatan kualitas tenaga kerja agar menekan pengangguran terbuka di Sulawesi Selatan. Kata Kunci: Pengangguran terbuka. Produk domestik regional bruto. Tingkat partisipasi angkatan Inflasi. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pendahuluan Pengangguran tetap menjadi salah satu tantangan utama di berbagai negara dan memerlukan penanganan serius dari pemerintah untuk memastikan pemanfaatan sumber daya manusia secara optimal dalam mendukung pembangunan nasional. Fenomena pengangguran sering kali menjadi akar permasalahan sosial lainnya, seperti kemiskinan, kriminalitas, serta dampak negatif terhadap aspek sosial dan budaya. Masalah ini bersifat kompleks karena dipengaruhi oleh beragam faktor yang saling bekaitan dalam pola yang sulit dipahami secara langsung (Mahmud & Pasaribu, 2. Jika angka pengangguran tinggi, hal tersebut menandakan perekonomian belum optimal dalam menyediakan lapangan kerja. Fenomena pengangguran bukan hanya dialami oleh negara-negara berkembang, tetapi juga terjadi pada negara-negara maju. Oleh karena itu, hal ini telah menjadi masalah global yang memerlukan perhatian khusus. Pengangguran terbuka adalah kondisi di mana individu yang termasuk dalam angkatan kerja tidak memiliki pekerjaan, sedang aktif mencari pekerjaan, dan siap bekerja (Parsons, 1. Pengangguran terbuka dapat muncul akibat beberapa faktor, antara lain: pertumbuhan ekonomi yang lambat, keterampilan dan pendidikan tenaga kerja yang belum sesuai dengan kebutuhan pasar, kapasitas produksi dan investasi yang Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 805 terbatas, serta kebijakan pemerintah yang belum optimal dalam menciptakan lapangan kerja (Mufida & Nasir, 2. Teori Keynes menekankan bahwa pengangguran tidak semata-mata terjadi karena upah terlalu tinggi atau mekanisme pasar tenaga kerja tidak fleksibel, tetapi lebih disebabkan oleh rendahnya permintaan agregat. Keynes . menyatakan bahwa penurunan permintaan barang dan jasa akan mendorong perusahaan untuk mengurangi tingkat produksinya, sehingga kebutuhan tenaga kerja berkurang. Akibatnya, individu yang siap dan bersedia bekerja tetap tidak memperoleh pekerjaan. Fenomena ini menimbulkan pengangguran terbuka yang dapat bertahan dalam jangka pendek hingga menengah, karena mekanisme pasar sendiri tidak cukup untuk mengoptimalkan penawaran dan permintaan tenaga kerja. Gambar 1. Data TPT tertinggi di 5 kabupaten/kota (%) Provinsi Sulawesi Selatan sebagai salah satu provinsi yang mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup menonjol juga menghadapi permasalahan pengangguran. Data BPS menggambarkan bahwa tingkat pengangguran terbuka pada 2015Ae2024 masih menjadi tantangan besar. Berdasarkan data tersebut tingkat pengangguran terbuka dari tahun 2015 hingga 2024, terdapat lima Kabupaten/kota dengan tingkat pengangguran terbuka tertinggi yaitu Makassar. Palopo. Pare-pare. Barru, dan Pangkep. Angka pengangguran terbuka di lima wilayah ini tergolong tinggi dibanding dengan kabupaten/kota lainnya di Prov. Sulawesi selatan. PDRB merupakan indikator utama untuk menggambarkan nilai tambah dari seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di suatu wilayah selama periode tertentu, sekaligus mencerminkan tingkat aktivitas ekonomi daerah tersebut. Peningkatan PDRB menunjukkan pertumbuhan kapasitas produksi dan daya saing ekonomi yang diharapkan mampu mendorong penciptaan lapangan kerja serta mengurangi Menurut BPS. PDRB Provinsi Sulawesi Selatan selama 2015-2024 mengalami fluktuasi, dipengaruhi oleh dinamika investasi, kebijakan fiskal, serta kondisi ekonomi nasional dan global. Menurut Dwi Radila et al . menyatakan Terdapat keterkitan yang negatif antara pengangguran dengan PDRB, yang berarti bahwa apabila PDRB naik, tingkat pengangguran di Bali cenderung menurun. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita di lima kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu Kota Makassar. Kota Parepare. Kota Palopo. Kabupaten Barru, dan Kabupaten Pangkep, menunjukkan dinamika yang cukup signifikan sepanjang periode 2020 hingga 2024. Pada tahun 2020, sebagian besar wilayah mengalami perlambatan bahkan kontraksi ekonomi. Kota Makassar dan Kabupaten Pangkep mencatat pertumbuhan negatif masing-masing sebesar -1,27 persen dan -1,69 Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 806 persen. Kota Parepare juga mengalami kontraksi sebesar -0,08 persen, sedangkan Kota Palopo dan Kabupaten Barru masih bertahan dengan pertumbuhan positif, sebesar 0,45 persen dan 0,87 persen. Kondisi tersebut erat kaitannya dengan dampak pandemi COVID-19 yang menekan aktivitas ekonomi secara global maupun regional. Memasuki tahun 2021 hingga 2022. Fenomena ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan melalui PDRB per kapita memiliki keterkaitan erat dengan kondisi ketenagakerjaan, khususnya tingkat pengangguran terbuka. Apabila pertumbuhan ekonomi suatu daerah tinggi, seharusnya mampu mendorong penyerapan tenaga kerja serta menekan Namun pada kenyataannya, tidak semua daerah yang mengalami pertumbuhan ekonomi menunjukkan penurunan pengangguran secara signifikan. Hal ini menekan terdapat faktor lain yang turut memengaruhi, seperti kualitas tenaga kerja, struktur ekonomi, serta kebijakan pembangunan daerah. Dalam teori neoklasik. Robert Solow menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi berkaitan erat dengan akumulasi modal, pertumbuhan penduduk, dan inovasi teknologi, yang secara bersama mendorong peningkatan output ekonomi. Model pertumbuhan Solow-Swan ini menekankan bahwa kemajuan teknologi memiliki peran sentral sebagai faktor yang tidak mengalami penurunan hasil marjinal. Sebaliknya, teori endogen menekankan pentingnya inovasi dan investasi dalam sumber daya manusia sebagai faktor pendorong utama pertumbuhan ekonomi ( Mankiw, 2. Tingkat partisipasi angkatan kerja adalah indikator yang menggambarkan tingkat populasi yang termasuk dalam kelompok usia kerja yang berperan dalam pasar tenaga kerja, baik mereka yang sudah memiliki pekerjaan ataupun yang sedang dalam mencari Indikator ini menajdi salag satu tolak ukur penting dalam meninali sejauh mana penduduk suatu negara berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi, khususnya dalam aspek bekerja atau aktif mencari kerja (Reynalda Utari Karo Karo et al. , 2. Sulawesi Selatan, merupakan provinsi yang perekonomiannya berkembang pesat di Indonesia bagian timur, mengalami fluktuasi dalam tingkat partisipasi angkatan kerja selama periode 20152024. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja mencerminkan dinamika pasar tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, akses terhadap pendidikan, serta berbagai faktor sosial lainnya. Teori pasar tenaga kerja klasik menekankan bahwa keseimbangan di dalam pasar tenaga kerja tercapai ketika angka penawaran tenaga kerja yang diukur berdasarkan TPAK sesuai dengan permintaan tenaga kerja atau jumlah lapangan kerja yang tersedia. Ketidakseimbangan antara keduanya dapat menimbulkan pengangguran terbuka. Semakin banyak individu yang masuk dalam pasar tenaga kerja tanpa diimbangi penciptaan lapangan kerja, maka risiko pengangguran terbuka akan semakin tinggi. Sebaliknya, ketika penawaran dan permintaan tenaga kerja berada dalam kondisi yang seimbang, maka akan menciptakan stabilitas pasar tenaga kerja dan produktivitas yang TPAK yang tinggi umumnya dianggap sebagai tanda positif bagi perekonomian, karena menunjukkan bahwa banyak penduduk usia kerja yang berpartisipasi dalam dunia kerja. Sebaliknya. TPAK yang rendah dapat mengindikasikan berbagai permasalahan, seperti tingginya angka pengangguran, ketimpangan sosial, atau keterbatasan akses terhadap pendidikan dan pelatihan kerja. Salah satu faktor lain yang turut berpengaruh terhadap pengangguran ialah inflasi. Inflasi adalah indikator makroekonomi yang menggambarkan kenaikan harga barang dan jasa secara umum serta berkelanjutan pada periode tertentu. Dalam konteks pasar tenaga kerja, inflasi dapat memengaruhi daya beli masyarakat, tingkat upah riil, serta keputusan rumah tangga dan pelaku usaha dalam mengalokasikan sumber daya. Inflasi yang tinggi dapat mengurangi nilai riil dari pendapatan, sehingga menurunkan konsumsi agregat dan berdampak pada pengurangan produksi serta penciptaan lapangan kerja (Sukirno, 2. Dalam hubungan dengan pengangguran, terdapat teori ekonomi klasik yang menjelaskan bahwa ada trade-off pada inflasi dan pengangguran, sebagaimana dikatakan oleh kurva Phillips. Menurut Phillips, dalam jangka pendek, inflasi dan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 807 pengangguran memiliki korelasi negatif, sehingga kenaikan inflasi biasanya diikuti oleh penurunab pengangguran akibat meningkatkan kegiatan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Dengan kata lain, ketika inflasi tinggi, maka pengangguran akan menurun karena aktivitas ekonomi meningkat dan permintaan tenaga kerja naik. Sebaliknya, saat inflasi rendah, pengangguran bisa meningkat karena daya beli melemah dan aktivitas produksi menurun (Mankiw, 2. Secara spesifik, rumusan permasalahan dalam penelitian ini mencakup 4 pertanyaan, yaitu pertama, apakah PDRB memiliki pengaruh terhadap TPT? Kedua, apakah TPAK berpengaruh terhadap TPT?, ketiga apakah inflasi berpengaruh terhadap TPT keempat apakah PDRB. TPAK, dan Inflasi memiliki pengaruh secara simultan terhadap TPT?. Tujuan penelitian ini ialah menganalisis bagaimana pengaruh PDRB. TPAK, serta Inflasi dalam mempengaruhi TPT baik secara simultan maupun parsial pada lima kabupaten/kota dengan TPT di Provinsi Sulawesi Selatan. Metode Analisis Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan asosiatif kausal. Tujuan utamanya yaitu menguji hipotesis melalui analisis hubungan antara variabel bebas yaitu PDRB. TPAK, serta inflasi terhadap variabel terikat yaitu TPT. Penelitian kuantitatif merupakan metode yang fokusnya pada pengumpulan serta analisis data berbentuk numerik untuk memahami fenomena tertentu. Penelitian kuantitatif umum digunakan dalam pengujian hipotesis dan penentuan hubungan antar variabel melalui teknik statistik. Sementara itu. Pendekatan asosiatif kausal bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan pengaruh anatar dua variabel atau lebih, serta menekankan pada hubungan sebab-akibat antara variabel bebas dan variabel Dalam penelitian ini populasi berfokus pada data pengangguran serta faktor yang memengaruhi selama periode 2015-2024 meliputi PDRB, tingkat partisipasi angkatan kerja dan inflasi. Populasi ini dipilih agar dapat memberikan gambaran yang luas tentang pengangguran di Sulawesi selatan. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, di mana teknik pengambilan sampel berdasarkan ciri tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Sampel dipilih menggunakan beberapa kriteria yang sesuai dengan keperluan penelitian yaitu tingkat pegangguran tertinggi di Sulawesi selatan selama tahun 2015-2024. Terdapat lima kabupaten/kota dengan tingkat pengangguran terttinggi sebagai sampel yaitu Kota Makassar. Kota Palopo. Kota Parepare. Kabupaten Barru, dan Kabupaten Pangkep. Pada penelitian ini menggunakan data sekunder, di mana data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui sumber perantara. Data yang digunakan bersumber dari data publikasi statistik provinsi Sulawesi Selatan tahun 20152024 yang dipublikasikan oleh BPS. Untuk analisis, penelitian ini menggunakan alat ekonometrika yang menggunakan alat analisis Least Square Dummy Variabel (LSDV), untuk memperkirakan hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Ordinary Least Square (OLS) merupakan bagian dari metode kuadrat terkecil dan sering disebut sebagai least squares. OLS banyak digunakan oleh para peneliti dalam proses perhitungan persamaan regresi sederhana. Penduga linier tak bias terbaik . est linear unbiased estimator atau BLUE) dari model regresi yang diperoleh melalui pendekatan OLS, sering disebut sebagai regresi OLS, dapat menghasilkan koefisien regresi tak bias dengan varians minimum apabila memenuhi beberapa asumsi dasar. Variabel dummy adalah variabel dengan skala nominal yang digunakan untuk mewakili kategori tertentu dalam analisis kuantitatif. Dalam regresi, variabel dummy biasanya dikodekan dengan angka 1 untuk kategori tertentu dan kode 0 untuk kategori Model regresi dengan variabel dummy mempunyai ciri-ciri, yaitu : Pemberian nilai 1 dan 0 pada dua kategori, misalnya (D =1 untuk Makassar. D = 0 Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 808 untuk Palop. , atau dapat juga ditentukan (D = 0 Makassar. D = 1 untuk Palop. Kategori yang diberi nilai nol sering disebut sebagai variabel kontrol. Koefisien pada variabel dummy sering disebut koefisien intersep diferensial, karena menunjukkan perbedaan intersep untuk kategori yang diberi nilai 1 dengan kategori dasar . Berdasarkan hal tersebut, fungsi Least Square Dummy Variabel dapat digunakan: UnTit = yu0 yu1PEit yu2TPAKit yu3Inflasiit D1KMks D2KPlp D3KPr D4Barru Dpkp eit Dimana : UnTit = Pengangguran Terbuka (%) yu0 = Intersep yu1,A, yu3 = Koefisien regresi variabel bebas D1,A. D4 = Koefisien regresi variabel dummy = Produk Domestik Regional Bruto (%) TPAK = Tingkat partisipasi angkatan kerja (%) Inflasi = Laju inflasi (%) Dummy wilayah. D1,A. D4 KMks = 1 untuk kota Makassar, 0 untuk lainnya KPl = 1 untuk kota palopo, 0 untuk lainnya KPr = 1 untuk kota pare-pare, 0 untuk lainnya Barru = 1 untuk kab. Barru, 0 untuk lainnya Pkp = Sebagai variabel control = Standar error = Cross-Section = Time series Pengujian hipotesis bertujuan untuk mengetahui apakah variabel bebas memiliki pengaruh yang signifikan baik parsial maupun simultan terhadap variabel terikat. Uji t bertujuan dalam menguji hipotesis secara terpisah guna mengetahui pengaruh masingmasing variabel bebas terhadap variabel terikat. Uji ini untuk membandingkan antara thitung dan ttabel pada taraf signifikan 5%. Jika thitung < ttabel. H0 diterima dan H1 ditolak, yang menunjukkan bahwa variabel bebas tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Sebaliknya, jika thitung > ttabel. H0 ditolak dan H1 diterima, menandakan adanya pengaruh signifikan variabel independen terhadap variabel terikat. Uji F atau uji simultan digunakan untuk mengindentifikasi variabel bebas secara bersamasama apakah terdapat pengaruh signifikan terhadp variabel terikat. Jika Fhitung > Ftabel maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya variabel bebas secara bersama-sama memengaruhi variabel terikat. Begitupun seblaiknya, jika Fhitung < Ftabel maka. H0 diterima dan H1 ditolak. Artinya variabel bebas secara bersama-sama tidak mempengaruhi variabel terikat dan menggunakan taraf signifikan yang digunakan adalah 5%. Koefisien determinasi dalam penelitian ini berfungsi untuk menunjukkan sejauh mana variasi pada variabel terikat dapat dijelaskan oleh variasi pada variabel bebas. Nilai koefisien determinasi berkisar anatar 0 hingga 1. Adjusted RA adalah nilai RA yang telah disesuaikan dengan standard error, sehingga memberikan ukuran yang lebih akurat mengenai kemampuan model menjelaskan variasi variabel dependen. Adjusted RA digunakan untuk mengatasi kelemahan RA, karena dalam perhitungannya sudah memperhitungkan jumlah observasi . dan jumlah variabel bebas yang digunakan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 809 dalam model regresi. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Analisis dalam penelitian mengenai faktor yang mempengaruhi TPT di lima kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, dengan pendekatan Least Square Dummy Variable (LSDV). Data panel digunakan merupakan gabungan dari data time series periode 20152024 dan data cross section dari lima kabupaten/kota di Sulawesi Selatan guna membangun model estimasi. Sebagai bagian dari pegujian asumsi klasik, maka dilakukan uji multikolinearitas guna menilai model regresi apakah terdapat hubungan linear pada variabel independen. Dalam menguji multikolinearitas maka menggunakan nilai Variance Inflation Factor (VIF) dan nilai tolerance. Sebuah model dipandang terbebas dari multikolinearitas apabila nilai VIF kurang dari 10. Dapat dilihat pada tabel 1 menyajikan hasil bahwa ketiga variabel independen yaitu. PDRB. TPAK, dan Inflasi memiliki nilai VIF di bawah 10, maka bisa disimpulkan bahwa tidak terdapat multikolinearitas. Pengujian selanjutnya, yaitu uji autokorelasi yang memiliki tujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan atau korelasi antara residual pada satu periode dengan periode Pada tabel 1, menyajikan nilai Prob. Chi-Square . lebih besar dari yaitu 6958 > 0. Maka, bisa dikatakan model tidak mengalami masalah autokorelasi. Tabel 1 Hasil Estimasi Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengangguran Terbuka di Sulawesi Selatan-5 Variabel Bebas Stand. Eror Prob. VIF PDRB TPAK Inflasi Dummy Makassar Dummy Pare-pare Dummy Palopo Dummy Barru Konstanta Adjusted R-Squared Fhitung Ftabel Prob. Fhitung Prob. Chi-Square . -0,212*** -0,213*** 0,1204ns 4,562*** 0,847ns 2,970*** -1,161ns 0,076758 0,048726 0,128112 0,591404 0,507805 0,540089 0,592307 -2,773,348 -4,389,087 0,939991 7,713,886 1,669,136 5,499,589 -1,961,132 2,012 2,012 2,012 0,0082 0,0001 0,3526 0,0000 0,1025 0,0000 0,0565 1,257,125 1,918,066 1,164,625 2,200,063 1,622,038 1,834,836 2,206,788 20,3656 0,8175 32,3593 0,000000 0,69 Sumber: Hasil pengolahan data Eviews 12 *** = Tingkat signifikansi 0,05 ns = Tidak signifikan TH = Tanda Harapan Berdasarkan hasil estimasi pada tabel 1 diperoleh persamaan model Least Square Dummy Variabel dalam bentuk linear dapat ditulis sebagai berikut: Y = 20,365 Ae 0,212X1it - 0,213X2it 0,1204X3it 4,562mks 0,847Pare 2,970Plp Ae 1,161Barru Dari hasil persamaan regresi tersebut, konstanta yang bernilai 20,365 persen mengindikasikan bahwa apabila seluruh variabel independen bernilai nol dan tidak terdapat perbedaan karakteristik wilayah, tingkat pengangguran terbuka diperkirakan berada pada kisaran tersebut. Selanjutnya, koefisien PDRB bernilai Ae0,212 mengindikasikan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 810 bahwa peningkatan PDRB sebesar satu persen akan menurunkan TPT sebesar 0,212 persen, dengan asumsi variabel lain tetap. Demikian pula, koefisien TPAK yang bernilai Ae 0,213 menandakan bahwa peningkatan TPAK satu persen berkontribusi pada penurunan pengangguran terbuka sebesar 0,213 persen. Sementara itu, koefisien inflasi sebesar 0,1204 mengindikasikan bahwa setiap kenaikan inflasi satu persen justru berpotensi menaikkan TPT sebesar 0,1204 persen, asumsi semua variabel lain konstan. Variable dummy wilayah, hasil estimasi memperlihatkan bahwa tingkat pengangguran terbuka di Kota Makassar sekitar 4,562 persen lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Pangkep sebagai kategori dasar. Kota Parepare tercatat memiliki tingkat pengangguran terbuka 0,847 persen lebih tinggi daripada Pangkep, sedangkan Kota Palopo sekitar 2,970 persen lebih tinggi. Adapun Kabupaten Barru menunjukkan tingkat pengangguran terbuka 1,161 persen lebih rendah dibanding Pangkep. Temuan ini menggarisbawahi adanya variasi TPT antarwilayah di Provinsi Sulawesi Selatan, yang dipengaruhi oleh karakteristik ekonomi dan sosial masing-masing daerah. Selanjutnya, hasil uji F pada tabel 1 diperoleh nilai Prob (F-statisti. sebesar 0,0000 < 1%, yang menunjukkan bahwa secara simultan variabel PDRB. TPAK, dan inflasi memengaruhi TPT. Selain uji F, pengujian hipotesis juga mencakup uji t atau uji parsial. Berdasar pada hasil uji Tabel 1 diperoleh hasil bahwa pertumbuhan ekonomi dengan nilai Sebesar 0,0082 < 0. 05 dengan koefisien -0,212875 merupakan variabel bebas berpengaruh negatif signifikan. Untuk TPAK dengan nilai prob. 0,0001 < 0. 05 dengan koefisien bernilai -0,213863 merupakan variabel bebas yang berpengaruh negatif Sedangkan untuk inflasi dengan nilai prob. 0,3526 > 0,05 dengan nilai koefisien 0,120424 merupakan variabel bebas yang tidak berpengaruh terhadap tingkat pengangguran terbuka. Sebagai indikator ketepatan model. Koefisien determinasi merupakan ukuran ketepatan model yang menunjukkan seberapa besar variabel independen mampu memengaruhi variabel dependen, dengan nilai yang berkisar antara nol hingga satu atau setara dengan satu persen sampai seratus persen. Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui hasil pengukuran ketepatan model pada penelitian ini dengan nilai Adjusted R Square sebesar 0,8175, yang berarti varian faktor yang mempengaruhi pengangguran terbuka di Sulawesi Selatan yaitu pertumbuhan ekonomi, tingkat partisipasi angkatan kerja, dan inflasi yang digunakan memberikan kontribusi sebesar 81,7% untuk pengangguran terbuka dan 18,3% dipengaruhi oleh faktor lain diluar penelitian ini. Pembahasan Pengaruh PDRB terhadap pengangguran terbuka Penelitian ini menemukan bahwa Produk Domestik Bruto Regional memiliki pengaruh yang negatif signifikan terhadap TPT pada lima kabupaten/kota di provinsi Sulawesi Selatan, dengan nilai prob. 0,0082 < 0,05. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan PDRB 1 persen mampu menurunkan TPT sebesar 0,0082 persen. Rata-rata PDRB selama periode penelitian tercatat sebesar 6,05 persen di Kota Makassar, 5,16 persen di Kota Parepare, 5,53 persen di Kota Palopo, 5,25 persen di Kabupaten Barru, dan 5,02 persen di Kabupaten Pangkep. Pencapaian ini menegaskan bahwa peningkatan aktivitas ekonomi di wilayah-wilayah tersebut berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja sehingga menekan tingkat pengangguran terbuka. Gambar 1 menunjukkan tren PDRB yang berfluktuasi sepanjang 2015-2024, dengan penurunan tajam pada 2020 di seluruh kabupaten/kota akibat pandemi covid-19. Pandemi melemahkan sektor utama seperti perdagangan, jasa, dan industri pengolahn yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi sulawesi selatan. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 811 Gambar 2. Trend perkembangan pengangguran terbuka dan PDRB Sumber: Data yang diolah dengan MS. Excel 2010 Secara teoritis, hasil temuan ini selaras dengan Hukum Okun, di mana Okun menjelaskan adanya korelasi negatif linear pada pertumbuhan ekonomi dan tingkat Peningkatan PDRB menggambarkan bertambahnya kapasitas produksi daerah yang diikuti dengan kenaikan permintaan tenaga kerja, sehingga tingkat pengangguran cenderung menurun. Temuan ini juga sejalan dengan penelitian Sirait et al . di mana temuan tersebut membuktikan pengaruh signifikan PDRB terhadap pengangguran terbuka di Provinsi Jambi, sehingga memperkuat argumentasi bahwa pertumbuhan ekonomi regional memiliki keterkaitan erat dengan penyerapan tenaga Implikasi kebijakan dari hasil penelitian ini menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan pertumbuhan PDRB sebagai upaya strategis dalam menekan pengangguran terbuka di Sulawesi Selatan. Pemerintah daerah disarankan untuk memfokuskan pembangunan pada sektor-sektor padat karya yang memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap tenaga kerja lokal. Dengan strategi tersebut, pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin pada peningkatan output, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap pengurangan pengangguran secara berkelanjutan. Pengaruh TPAK terhadap pengangguran terbuka Gambar 3. Trend perkembangan pengangguran terbuka dan TPAK Sumber: Data diolah dengan MS. Excel 2010 Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 812 Penelitian ini juga menunjukkan bahwa TPAK memiliki pengaruh negatif secara signifikan dengan TPT pada lima kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, dengan nilai probabilitas 0,0001 < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan TPAK berkontribusi nyata terhadap penurunan pengangguran terbuka. Artinya, semakin besar proporsi angkatan kerja yang terlibat dalam kegiatan ekonomi, semakin rendah tingkat pengangguran di wilayah penelitian. Rata-rata TPAK pada periode penelitian tercatat relatif tinggi, yakni 58,18 persen di Kota Makassar, 64,99 persen di Kota Parepare, 60,76 persen di Kota Palopo, 58,31 persen di Kabupaten Barru, dan 64,75 persen di Kabupaten Pangkep. Kondisi ini menandakan bahwa keterlibatan penduduk dalam pasar kerja di lima kabupaten/kota tersebut cukup baik, sehingga mampu memberikan kontribusi penting dalam menekan pengangguran terbuka. Temuan ini sejalan dengan penelitian Mediansyah & Hermanto . , yang menyatakan bahwa TPAK memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap pengangguran terbuka. Peningkatan partisipasi angkatan kerja, khususnya pada sektor padat karya, secara langsung mendorong peningkatan penyerapan tenaga kerja dan mengurangi jumlah penganggur. Pada gambar 3 TPAK menunjukkan fluktuasi selama periode 2015-2024 dengan keterlibatan penduduk usia kerja yang relatif tinggi. Namun demikian, pengaruh negatif TPAK terhadap pengangguran terbuka tidak bersifat otomatis. Apabila kenaikan angkatan kerja lebih cepat dibanding pertumbuhan kesempatan kerja, sebagian penduduk usia kerja berpotensi tetap menganggur. Oleh sebab itu, dampak TPAK terhadap pengangguran sangat bergantung pada kapasitas perekonomian daerah dalam menciptakan lapangan kerja yang memadai. Temuan ini menegaskan bahwa kebijakan peningkatan TPAK harus disertai optimalisasi sektor ekonomi yang berdaya serap tinggi terhadap tenaga kerja agar penurunan tingkat pengangguran terbuka dapat terwujud secara berkelanjutan. Pengaruh Inflasi terhadap pengangguran terbuka Gambar 4. Trend perkembangan pengangguran terbuka dan Inflasi Sumber: Data diolah dengan MS. Excel 2010 Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 813 Di sisi lain, ditemukan bahwa inflasi tidak memengaruhi secara signifikan terhadap pengangguran terbuka pada lima kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Berdasarkan hasil estimasi dapat disimpulkan bahwa probabilitas inflasi sebesar 0,3526 < 0,05 menunjukkan bahwa fluktuasi harga barang dan jasa tidak secara langsung memengaruhi penyerapan tenaga kerja di wilayah penelitian. Rata-rata inflasi selama periode penelitian relatif terkendali, yaitu Kota Makassar 3,30 persen. Kota Parepare 2,78 persen. Kota Palopo 2,96 persen, serta Kabupaten Barru dan Pangkep masing-masing 3,20 persen. Secara teoritis, keterkaitan inflasi dan pengangguran biasanya dijelaskan melalui kurva Philips, di mana Philips menekankan terdapat hubungan negatif antara inflasi dan pengangguran. Namun demikian, analsis empiris dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada konteks regional Sulawesi Selatan, hubungan negatif tersebut tidak terbukti signifikan. Temuan ini selaras dengan studi Wahab . yang mengindikasikan bahwa inflasi tidak memiliki dampak signifikan pada tingkat pengangguran. Fluktuasi inflasi menunjukkan puncak kenaikan pada 2015, 2017, dan 2022. Tahun 2015 dipicu kebijakan pengurangan subsidi BBM yang meningkatkan biaya transportasi dan distribusi. Tahun 2017 inflasi terdorong kenaikan harga pangan strategis dan gangguan pasokan musiman. Puncak tertinggi terjadi pada 2022 akibat lonjakan permintaan pascapandemi covid-19 serta kenaikan harga energi dan pangan global akibat gangguan rantai pasok internasional. Kondisi ini dapat disebabkan oleh karakteristik perekonomian daerah yang didominasi sektor padat karya dan sektor informal yang relatif fleksibel, sehingga perubahan harga tidak serta-merta mengurangi kesempatan kerja. Selain itu, stabilitas inflasi yang terjaga selama periode pengamatan juga memungkinkan pasar tenaga kerja tetap resilien. Dengan demikian, meskipun inflasi merupakan salah satu indikator penting stabilitas makroekonomi, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa dinamika inflasi di Sulawesi Selatan tidak menjadi determinan utama dalam perubahan tingkat pengangguran terbuka. Simpulan dan Saran Penelitian ini menganalisis pengaruh PDRB. TPAK, dan inflasi terhadap pengangguran terbuka pada lima kabupaten/kota di Sulawesi Selatan selama periode Temuan ini menunjukkan bahwa PDRB dan TPAK berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pengangguran terbuka, sementara inflasi tidak terbukti memiliki pengaruh yang signifikan. Sedangkan secara simultan, secara bersama-sama ketiga variabel tersebut memiliki pengaruh terhadap TPT di wilayah penelitian. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu ekonomi regional, khususnya terkait faktor-faktor yang memiliki pengaruh terhadap pengangguran terbuka. Penelitian ini menegaskan pentingnya pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan peningkatan partisipasi angkatan kerja sebagai pendorong penyerapan tenaga kerja. Secara praktis, hasil temuan ini dapat memberikan masukan bagi pemerintah daerah dalam merancang kebijakan pembangunan yang berfokus pada sektor padat karya dan program peningkatan keterampilan kerja, sehingga peningkatan PDRB dan TPAK dapat diikuti oleh penurunan pengangguran. Referensi