Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 02 No. 01 Januari 2025. Hal. 1 - 7 Jurnal Cakrawala Keperawatan e-ISSN: 3046-4536 http://ejurnal. id/index. php/jck https://doi. org/10. 35872/ /jck. ORIGINAL RESEARCH PENGARUH SUPPORT GROUP THERAPY TERHADAP KEPATUHAN PENGOBATAN HIPERTENSI PADA LANSIA Ilma Widiya Sari1. Emy Kurniawati2. Hana Rosiana Ulfah3. Bambang Sudono Dwi Saputro4 1Dosen Program Studi Pendidikan Profesi Ners. STIKES Estu Utomo 2Dosen Program Studi Sarjana Keperawatan. STIKES Estu Utomo Article Info Abstract Article History: Received: Revised: Accepted: Online: Background: The disease most commonly suffered by the elderly is Adherence to treatment for hypertensive people is important because hypertension is a disease that cannot be cured but must always be controlled. Support group therapy can help the elderly to share experiences with each other so that they can increase compliance with hypertension treatment. Objectives: This study aims to determine the effect of support group therapy on medication adherence in elderly people with hypertension. Method: This research uses quantitative research with pre experiment design, one group pre test and post test. This study used a sample of 38 respondentsAibivariate analysis using Paired T-Test. Result: The results of bivariate analysis using the Paired T-Test obtained the value of Sig. -taile. 000 so that the p-value <0. it can be concluded that there is a significant difference before and after being given support group therapy. Conclusion: These results indicate a significant influence of support group therapy on the medication adherence of elderly people with Keywords: Hipertensi. Kepatuhan Pengobatan. Support Group Therapy Corresponding Author: Ilma Widiya Sari ilmawidi@gmail. How to cite: Pendahuluan Penyakit yang paling banyak diderita oleh lanjut usia . adalah hipertensi, hal ini diakibatkan oleh faktor fisiologis yaitu penurunan fungsi tubuh akibat dari proses penuaan dan faktor pemicu seperti pola makan yang buruk, merokok, mengonsumsi minuman beralkohol (Fitria et al. , 2. Menurut World Health Organization (WHO) diseluruh dunia yang terkena hipertensi sekitar 26,4% atau 972 juta orang. Dari 972 juta orang yang terkena berada di negara maju ada 333 juta dan sisanya 693 juta berada di negara berkembang termasuk Indonesia (Wicaksono, 2. Berdasarkan Riskesdas . angka hipertensi di Indonesia sebesar 34,1%. Angka hipertensi tertinggi berada di Kalimantan Selatan yaitu sebessar 44,1%, sedangkan angka terendah hipertensi berada di Papua sebesar 22,2%. Di Indonesia jumlah kasus hipertensi 620 orang dan angka kematian yang disebabkan oleh hipertensi sebesar 218 orang. Kasus hipertensi pada kelompok usia 31-44 tahun sebanyak 31,6%, usia 4554 tahun sebesar 45,3% dan usia 55-64 tahun sebanyak 55,2%. Sampai saat ini, banyak Copyright A 2024. JCK, e-ISSN 3046-4536. Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 02 No. 01 Januari 2025. Hal. 1 - 7 masyarakat yang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami hipertensi sehingga perlu dilakukan pemeriksaan tekanan darah sebagai upaya diagnosis dini bila terkena hipertensi. Hipertensi merupakan masalah yang besar, tidak hanya di negara berkembang tetapi juga pada negara maju. Hipertensi mendapat julukan sebagai silent killer disease, dikarenakan penyakit ini muncul dengan tidak terdapatnya tanda gejala dan tanpa disadari penderita mengalami komplikasi pada organ-organ vital, seperti terjadinya stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan merupakan penyebab utama terjadinya gagal ginjal (Prisilia et al. , 2. Tekanan darah tinggi atau hipertensi telah membunuh 9,4 juta warga dunia setiap tahunnya. Tindakan pencegahan dan pengendalian hipertensi baik secara perorangan maupun kelompok dilakukan melalui program Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM). Peran masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian hipertensi dengan membentuk dan mengembangkan Pos Pembinaan Terpadu (Posbind. PTM. Peran Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dengan memberikan upaya promotif . elakukan penyuluhan/KIE), preventif . eteksi dini faktor risiko PTM, surveilens hipertensi, dan kemitraa. , kuratif dan rehabilitatif . enemuan dan tatalaksana kasus hipertensi dan melakukan rujuka. Peran Dinas Kesehatan Provinsi/Kota dengan melakukan perencanaan program pengendalian dan pencegahan penyakit hipertensi (P2 Hipertens. (Kemenkes RI, 2. Hingga saat ini ketidakpatuhan pasien dalam minum obat hipertensi masih menjadi masalah yang perlu mendapatkan perhatian dari segenap penyedia layanan kesehatan, baik dokter, perawat maupun apoteker. Kepatuhan pengobatan pada orang sakit hipertensi termasuk penting karena penyakit hipertensi ialah penyakit yang tidak dapat disembuhkan namun harus selalu dikontrol atau dikendalikan supaya tidak terjadi komplikasi misal rusaknya organ tubuh . antung, mata, ginjal, ota. dan pembuluh darah besar yang dapat berujung pada kematian. Adapun obat-obat antihipertensi saat ini sudah terbukti dapat mengontrol tekanan darah pada penyakit hipertensi dan juga sangat berperan dalam menurunkan bahaya berkembangnya komplikasi kardiovaskular (Puspita, 2. Hal ini searah dengan penelitian yang dilakukan oleh Anwar . bahwa responden dengan kepatuhan pengobatan yang tinggi akan memiliki tekanan darah yang terkontrol. Perawat komunitas memiliki beberapa strategi dalam penetapan intervensi diantaranya adalah proses kelompo . Dengan menggunakan strategi intervensi dalam bentuk kelompok lansia bisa saling berinteraksi dan bertukar pengalaman masalah yang mereka alami serta cara mencari solusinya. Strategi intervensi ini juga bisa membentuk koping yang adekuat untuk masalah yang dialami (Lisnawati, 2. Salah satu intervensi group adalah support group therapy, intervensi tersebut dapat membuat lansia yang mempunyai masalah yang sama sling berbagi pengalaman dan dukungan serta menyediakan lingkungan yang nyaman untuk berbagi pengalaman dan mengatsi masalahnya (Widiastuti, 2. Kelebihan dari support group therapy yaitu mampu memberikan fungsi terapeutik sebagai faktor dukungan, faktor keterbukaan diri, faktor belajar dari dari anggota kelompok lain yang berkaitan dengan menjalin hubungan dengan orang lain dan memahami diri Support group therapy bisa memfasilitasi setiap anggota kelompok untuk dapat saling berbagi informasi dan pengalaman, serta memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan keluh kesah yang telah atau sedang dihadapi (Lisnawati, 2018. Sari, 2. Penelitian yang dilakukan Fitriananci et al. menunjukkan bahwa pada lanjut usia akan cenderung tidak patuh dalam menjalani pengobatan penyakit hipertensi. Hal ini Copyright A 2024. JCK, e-ISSN 3046-4536. Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 02 No. 01 Januari 2025. Hal. 1 - 7 sesuai teori Arfania . bahwa pada lanjut usia akan merasa bosan dalam menjalani Support group therapy dapat membantu lansia untuk saling berbagi pengalaman satu sama lain sehingga bisa meningktakan kepatuhan pengobatan hipertensi. Berdasarkan latar belakang diatas, maka tujuan dari penelitian ini dilakukan yaitu untuk mengetahui pengaruh support group therapy terhadap kepatuhan pengobatan hipertensi pada lansia. Metode Research design Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif, yaitu Pre Experiment Design, dengan rancangan One Group Pre Test and Post Test Without Control. Peneliti membandingkan pengaruh kepatuhan pengobatan hipertensi sebelum diberikan support group therapy dan kepatuhan pengobatan hipertensi sesudah diberikan support group Eksperimen yang sampelnya diukur tingkat kepatuhan terlebih dahulu sebelum diberi perlakuan kemudian setelah diberikan perlakuan sampel tersebut diukur kembali. Setting and samples Penelitian ini dilakukan pada 38 lansia dengan hipertensi yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling di salah satu posyandu lansia. Teknik pengambilan sampel yang didasarkan pada kriteria tertentu yang sebelumnya ditentukan peneliti, subyek yang memenuhi kriteria dijadikan sampel. Kriteria sampel adalah lansia berumur 60-70 tahun, tekanan darah >140/90, mendapat pengobatan hipertensi lebih dari 3 bulan, serta dapat diajak komunikasi dengan baik. Measurement and data collection Semua data disebar menggunakan lembaran kuesioner. Kerahasiaan penelitian ini terjamin karena jawaban dari responden langsung dikumpulkan oleh peneliti dan juga menggunakan inisial nama saja. Kuesioner penilaian kepatuhan mengadopsi 8-item Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-. Data analysis Analisis untuk menguji perbandingan antara dua variabel, yaitu berupa kepatuhan pengobatan hipertensi pada lanisa sebelum dilakukan support group therapy dan sesudah dilakukan support group therapy di posyandu. Sebelum melakukan analisa data perlu dilakukan uji normalitas menggunakan uji Shapiro Wilk. Uji Shapiro Wilk adalah metode uji normalitas untuk sampel data kurang dari 50 sampel (N<. Bila data berdistribusi normal menggunakan parametrik uji T test berpasangan, jika data berdistribusi tidak normal akan maka menggunakan non parametrik uji Wilxocon. Maka dapat dilihat apabila p-value dari kedua kelompok jika p < 0,05 maka terdapat perbedaan yang signifikan. Hasil Demografi Karakteristik responden dilihat dari data jenis pekerjaan dan tingkat endidikan. Karakteristik responden pada penelitian ini dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut: Tabel 1. Karakteristik responden . Karakteristik Jenis Pekerjaan IRT Petani Wirausaha Tingkat Pendidikan Tidak sekolah SMP Copyright A 2024. JCK, e-ISSN 3046-4536. Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 02 No. 01 Januari 2025. Hal. 1 - 7 Pada tabel 1 diperoleh hasil dengan jumlah sampel 38 lansia dengan hipertensi. Pekerjaan responden yang paling banyak adalah sebagai ibu rumah tangga. Sedangkan pendidikan responden yang paling banyak adalah responden dengan pendidikan SD . Kepatuhan pengobatan hipertensi sebelum dan sesudah diberikan support group Tabel 2. Kepatuhan pengobatan sebelum dan sesudah diberikan support group therapy . Minimum Maximum RataStd. Deviasi Rata Kepatuhan 3,55 1,29 pengobatan sebelum diberikan perlakuan Kepatuhan pengobatan sesudah diberikan perlakuan 5,76 1,49 Pada tabel 2 diperoleh hasil bahwa rata-rata sebelum diberikan perlakuan yaitu sebesar 3,55 untuk standar deviasi yaitu sebesar 1,49 dengan kategori nilai tertinggi yaitu 7 sedangkan untuk nilai terendah yaitu 2. Rata-rata sesudah diberikan perlakuan yaitu sebesar 5,76 untuk standar deviasi yaitu sebesar 1,49 dengan kategori nilai tertinggi yaitu 8 sedangkan untuk nilai terendah yaitu 3. Analisis pengaruh support group therapy terhadap kepatuhan pengobatan Tabel 3. Analisis perbedaan kepatuhan pengobatan sebelum dan sesudah diberikan support group therapy . Mean Sig. -taile. Pre Test / Sebelum 3,55 1,29 0,000 Diberikan Perlakuan Post Test / Sesudah Diberikan perlakuan 5,76 1,49 Pada tabel 4 diperoleh hasil Uji Pairet T Test didapatkan bahwa terjadi peningkatan nilai rata-rata untuk nilai rata-rata dari pre test yaitu sebesar 3,55 sedangkan untuk nilai rata-rata post test yaitu sebesar 5,76. Hasil uji Paired T Test diperoleh nilai yang signifikan dengan p-value 0,000 dimana nilai p < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh support group therapy terhadap kepatuhan pengobatan hipertensi. Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukan bahwa mayoritas pekerjaan responden yaitu sebagai ibu rumah tangga atau IRT. Pekerjaan adalah kegiatan sosial dimana individu atau kelompok menempatkan upaya selama waktu dan ruang tertentu, kadang-kadang dengan mengharapkan atau tanpa mengharapkan imbalan, tetapi dengan rasa kewajiban kepada orang lain. Sejalan dengan penelitian Ratnasari . pekerjaan berpengaruh terhadap ekonomi seseorang karena jika mereka memiliki pekerjaan yang lebih baik dan lebih layak maka seseorang itu akan mendapatkan upah yang tinggi dan mampu untuk memberikan kesejahteraan terhadap keluarga dapat mengontrolkan tekanan darahnya. Copyright A 2024. JCK, e-ISSN 3046-4536. Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 02 No. 01 Januari 2025. Hal. 1 - 7 Mayoritas pendidikan responden pada penelitian ini yaitu SD. Pendidikan akan mempengaruhi kognitif seseorang dalam peningkatan pengetahuan. Pendidikan berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan karena semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang maka semakin mudah menerima informasi sehingga semakin banyak pula pengetahuian yang Sebaliknya pendidikan yang kurang akan terhambat perkembangan pengetahuan seseorang dalam perubahan hidup sehat. Sejalan dengan penelitian Dewi . mengatakan bahwa responden yang berpendidikan rendah maupun tinggi sama-sama ingin sembuh dari penyakit sehingga tingkat pendidikan tidak mempengaruhi kepatuhan melakukan Kepatuhan minum obat untuk penderita hipertensi sangat berarti lantaran tekanan darah bisa dikontrol pada penderita hipertensi yang teratur komsumsi obat antihipertensi. Obat antihipertensi yang ada dikala ini sudah teruji bisa mengendalikan tekanan darah pada penderita hipertensi, serta memainkan kedudukan berarti dalam kurangi resiko berkembangnya permasalahan kardiovaskular. Tetapi, konsumsi obat antihipertensi saja teruji tidak pas guna menciptakan pengaruh kontrol tekanan darah jangka panjang kecuali didukung oleh kepatuhan dalam pemakaian obat antihipertensi tersebut (Harahap, 2. Rata-rata kepatuhan pengobatan hipertensi dari hasil penelitian menunjukkan angka yang rendah. Ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat seringkali disebabkan oleh beberapa pasien yang memiliki kebiasaan minum obat yang tidak teratur, pasien menghentikan pengobatannya sendiri lantaran bosan meminum obat, tidak memiliki keluhan tekanan darah tinggi atau merasa telah sembuh. Lebih lanjut, anggapan bahwa persepsi tekanan darah tinggi tidak dapat disembuhkan dengan alasan masalah keuangan atau biaya yang tidak mencukupi, dan alasan kepatuhan terlalu kompleks, kepribadian, umur, dukungan sosial yang rendah dan masalah psikologis (Ayuchecaria et al. , 2. Banyak faktor yang mempengaruhi kepatuhan dalam minum obat, antara lain usia. Pendidikan, dan jenis kelamin. Menurut penelitian (Pramana et al. , 2. faktor yang mempengaruhi ialah jenis kelamin perempuan, umur lebih dari 46 tahun, pendidikan kurang dari 9 tahun, tidak memiliki pekerjaan, lama terapi dari awal pasien didiagnosa hipertensi hingga saat dilakukan penelitian, jenis obat hipertensi yang didapatkan, serta jumlah obat keseluruhan yang dikonsumsi baik obat hipertensi, obat hipertensi kombinasi atau obat hipertensi dengan obat-obat penyerta yang lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh support group therapy terhadap kepatuhan pengobatan hipertensi. Hal ini menunjukkan bahwa support group therapy memberikan suatu perubahan sikap dan tingkah perilaku individu, kelompok, masyarakat dalam perilaku hidup sehat. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suryanti . ada perbedaan yang signifikan pada perilaku penderita hipertensi sebelum dan sesudah dilakaukan support group therapy. Peningkatan perilaku tersebut sebagai hasil dari support group therapy dengan membangun dukungan antara sesama. Support group therapy dapat mengatasi masalah psikologi dan perilaku pada Support group therapy adalah terapi dalam bentuk kelompok yang memandu anggota untuk saling memberi dukungan dan mengenal sumber koping dengan teknik komunikasi dan mendiskusikan masalah yang anggota alami sebagai peluang unutk mengatasi masalah yang mereka rasakan (Lisnawati, 2. Wijaya . menyatakan bahwa terapi dalam bentuk kelompok memungkinkan anggota membangun hubungan saling percaya dan juga mereka tidak merasa sendiri karena bertemu dengan orang-orang yang memiliki masalah yang sama. Kelompok memberikan kesempatan pada setiap anggota unutk menyelesaikan masalahnya dengan menggunakan sumber koping yang mereka miliki. Support group therapy dapat dilakukan dan diterapkan karena sesuai dengan tujuannya dapat mempengaruhi pengetahuan, sikap, dan kebiasaan seseorang. Responden yang telah diberikan intervensi support group therapy mengetahui pengobatan yang baik untuk penderita hipertensi. Terjadi peningkatan nilai rata-rata pada hasil pre-test sebelum diberikan intervensi ke hasil post-test setelah diberikan intervensi. Hal Copyright A 2024. JCK, e-ISSN 3046-4536. Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 02 No. 01 Januari 2025. Hal. 1 - 7 ini didukung oleh penelitian yang menunjukkan hasil bahwa penatalaksanaan terhadap penyakit yang dideritan lebih konsisten melalui pembentukan kelompok diskusi yang saling mendukung (Susanti et al. , 2. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Nilai rata-rata kepatuhan pengobatan hipertensi responden sebelum diberikan support group therapy adalah 3,55. Nilai rata-rata kepatuhan pengobatan hipertensi responden sebelum diberikan support group therapy adalah 5,76. Ada pengaruh support group therapy terhadap kepatuhan pengobatan hipertensi, didukung dengan hasil Uji Paired T Test antara pre test dan post test diperoleh p-value 0,000 dimana nilai p < 0,05. References