Jurnal Pendidikan Bahasa Volume 15. Nomor 4. Desember 2025 | ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) terhadap Budaya Belajar dan Pelestarian Kearifan Lokal Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fenny Anita1,*. Hadrizal1 Universitas Abdurrab *Corespondence: fenny. anita@univrab. Abstrak Kemunculan kecerdasan buatan (AI) telah memberikan perubahan nyata pada pola dan budaya belajar mahasiswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh AI terhadap budaya belajar serta keberlanjutan nilai kearifan lokal mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Abdurrab. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui wawancara mendalam terhadap delapan mahasiswa yang rutin menggunakan AI dalam proses akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI membantu mahasiswa memahami materi, mencari referensi, dan meningkatkan kapasitas belajar mandiri. Namun. AI tidak menggantikan interaksi sosial. justru menjadi pemicu diskusi dan brainstorming dalam kerja kelompok. Nilai-nilai kearifan lokal seperti gotong royong, tanggung jawab pribadi, etika akademik, dan kesederhanaan masih terlihat, meskipun mulai beradaptasi dalam ruang digital. Mahasiswa tetap melakukan pengecekan ulang, penyuntingan bahasa, serta mencantumkan sitasi sebagai bentuk tanggung jawab moral dalam penggunaan AI. Secara keseluruhan. AI tidak mengikis kearifan lokal, tetapi dapat memperkaya proses pembelajaran jika digunakan secara proporsional dan kritis. Hal ini menunjukkan munculnya budaya belajar hibrida dengan menggabungkan teknologi dengan nilai-nilai budaya Indonesia. Karena itu, literasi digital berbasis budaya perlu diperkuat agar AI dimanfaatkan secara etis, reflektif, dan tetap berpijak pada identitas akademik mahasiswa. Kata Kunci: Pemanfaatan AI. Budaya Belajar. Kearifan Lokal Received: 24 Nov 2025. Revised: 5 Des 2025. Accepted: 7 Des 2025. Available Online: 12 Des 2025 This is an open access article under the CC - BY license. PENDAHULUAN Pergeseran teknologi informasi dan komunikasi yang bergerak begitu cepat telah mengubah cara manusia berinteraksi dengan dunia, terutama ketika perangkat digital dan internet kini dapat diakses dengan mudah di mana pun dan kapan pun (Sasmita, 2. Perkembangan ini mencapai momentum baru dengan hadirnya kecerdasan buatan, termasuk ChatGPT yang dikembangkan OpenAI dan dirilis pada 30 November 2022, sebagai salah satu inovasi yang mengubah pola interaksi manusia dengan mesin dan asisten virtual (Manuaba et , 2. Dalam konteks pendidikan tinggi, kemudahan mengakses informasi dan bantuan instan dari teknologi tersebut membuat penting untuk memahami penggunaan AI tidak hanya membentuk cara belajar mahasiswa, tetapi juga dapat memengaruhi keberlangsungan nilai-nilai kearifan lokal, seperti gotong royong, etika dan tanggung jawab yang selama ini menjadi landasan budaya belajar di Indonesia. Menurut Russell dan Norvig . AI merupakan sistem yang mampu melakukan tindakan yang jika dilakukan oleh manusia akan dianggap melibatkan kecerdasan. Pada perguruan tinggi AI digunakan untuk menganalisis perilaku belajar, memberikan rekomendasi materi pembelajaran serta membantu dosen dalam penilaian akademik. Hal ini merupakan tanda dari bergesernya paradigma belajar dari yang bersifat konvensional menuju pembelajaran berbasis teknologi. Survei-global dan studi lintas negara menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa sudah menggunakan AI dalam aktivitas akademiknya. Sebagai contoh, menurut survei Global AI Student Survey 2024 oleh Digital Education Council, sekitar 86% mahasiswa dari berbagai jenjang studi di 16 negara menyatakan bahwa mereka menggunakan AI dalam studi mereka. Dari jumlah tersebut, sebagian besar menggunakan AI secara mingguan https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. atau rutin. Lebih lanjut, laporan CopyleaksAo 2025 AI in Education Trends Report mencatat bahwa 90% mahasiswa menggunakan AI untuk keperluan akademik, dengan hampir sepertiga menggunakan AI setiap hari. Di Indonesia, sejumlah penelitian juga mulai mengangkat persepsi dan pengalaman mahasiswa terhadap penggunaan AI. Salah satu studi kualitatif yang dilakukan di beberapa perguruan tinggi di Indonesia mengkaji persepsi mahasiswa terhadap Black box. AI dan chatbot-berbasis AI dalam penelitian akademik, meliputi kemudahan akses, keterampilan pengguna, serta hambatan yang ditemui. AI telah menjadi alat yang sangat berharga, terutama bagi mahasiswa dalam mendapatkan solusi permasalahan dalam pembelajaran. Mahasiswa saat ini terlibat dalam penggunaan AI dengan beragam latar belakang yang mempengaruhi interaksi mereka dengan teknologi tersebut. Pengetahuan mereka tentang kecerdasan buatan dapat bervariasi, mulai dari pemahaman dasar hingga pengetahuan mendalam tentang aplikasi dan implikasinnya dalam kehidupan sehari-hari. Hal senada juga disampaikan oleh Nugraha dan Yuliani . bahwa AI juga digunakan untuk meningkatkan efektivitas proses pembelajaran, membantu personalisasi materi, memberikan umpan balik otomatis, serta mempermudah mahasiswa dalam mengakses sumber belajar digital, contoh aplikasi AI yang sering digunakan mahasiswa adalah ChatGPT. Grammarly, dan Quillbot yang membantu dalam penulisan akademik dan penyusunan tugas. Pengaruh dari teman dalam lingkungan kampus, dosen, dan media sosial dapat membentuk keputusan mereka untuk mencoba menggunakan AI dengan kebutuhan mereka, kemudahan penggunaan, dan ketersediaan alternatif lain. Namun, setelah penggunaan, mereka mungkin mencari konfirmasi dari sumber lain atau melalui umpan balik dari dosen untuk memverifikasi keakuratan hasil yang di berikan oleh AI. Oleh sebab itu, hal ini menunjukkan bahwa adanya pergeseran pola belajar dari pendekatan reflektif dan diskursif menjadi pola instan berbasis hasil. Budaya belajar merupakan seperangkat nilai, kebiasaan, norma, dan strategi yang diterapkan oleh individu atau kelompok dalam proses memperoleh pengetahuan (Winarto, 2. Budaya ini terbentuk dari lingkungan sosial, kebiasaan akademik, serta nilai-nilai yang ditanamkan oleh lembaga pendidikan. Dengan hadirnya AI, budaya belajar mengalami pergeseran dari pembelajaran konvensional menuju digital. Mahasiswa kini lebih sering mengandalkan sistem cerdas untuk menemukan jawaban, menyusun argumen, dan memperbaiki tulisan, dibandingkan melakukan eksplorasi melalui buku atau diskusi di kelas (Wahyuni, 2. Selain memiliki begitu banyak manfaat, penggunaan AI juga dapat memberikan dampak negatif seperti mahasiswa yang lebih cenderung kurang kritis, mudah puas dengan jawaban secara instan, dan menurunkan keaktifan berpikir reflektif (Hapsari dan Kadir, 2. Oleh karena itu, pemanfaatan AI perlu dikontrol melalui penguatan etika digital dan nilai kearifan lokal agar teknologi tetap menjadi sarana, bukan pengganti proses Kearifan lokal . ocal wisdo. merupakan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, seperti gotong royong, tanggung jawab, etika, kesederhanaan, dan rasa hormat (Rahardjo, 2. Dalam konteks pembelajaran berbasis AI, nilai-nilai ini dapat menjadi penyeimbang antara teknologi dan moral. AI seharusnya tidak hanya menjadi alat efisiensi belajar, tetapi juga medium untuk memperkuat nilai karakter dan budaya bangsa (Nugraha & Yuliani, 2. Pengaruh AI terhadap budaya belajar dapat dilihat dari bagaimana mahasiswa mengadopsinya dalam konteks sosial dan budaya mereka (Rogers, 2. Mahasiswa yang memiliki kesadaran kultural tinggi cenderung menggunakan AI secara selektif dan bertanggung jawab, sedangkan mereka yang hanya berorientasi pada hasil instan mungkin akan mengabaikan nilai-nilai proses dan etika akademik. Dalam dunia pendidikan tinggi Indonesia, nilai-nilai kearifan lokal menjadi pilar penting dalam membentuk karakter mahasiswa. Kearifan lokal tidak hanya berkaitan dengan tradisi atau adat, tetapi juga mencakup nilai gotong royong, kesantunan, dan penghargaan terhadap ilmu (Daniah, 2. Nilai-nilai ini seyogianya tetap hidup dalam praktik akademik di era AI. Dengan kata lain. AI seharusnya digunakan sebagai sarana untuk memperkuat, bukan menggantikan, nilainilai tersebut. Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Abdurrab merupakan generasi digital yang berada di tengah-tengah dua arus besar yaitu, kemajuan teknologi dan pelestarian budaya lokal Riau. Mereka berinteraksi dengan berbagai aplikasi berbasis AI dalam kehidupan akademik sehari-hari, mulai dari menulis, mendesain, hingga menganalisis data komunikasi. Di sisi lain, mereka juga dituntut untuk tetap menghayati nilai-nilai https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. budaya Melayu dan kearifan lokal daerahnya. Kondisi ini menghadirkan tantangan dalam menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan pelestarian nilai-nilai budaya. Tantangan utama yang muncul adalah bagaimana menciptakan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pelestarian nilai budaya lokal. Pendidikan berbasis teknologi modern menekankan efisiensi, sedangkan kearifan lokal mengutamakan makna dan kebersamaan (Annisha, 2. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis integratif yang menghubungkan penggunaan AI dengan keberlangsungan nilai-nilai kearifan lokal dalam budaya belajar mahasiswa. Penelitian ini menunjukkan bahwa AI tidak hanya berdampak pada cara belajar mahasiswa, tetapi juga pada bagaimana nilai gotong royong, tanggung jawab, dan etika beradaptasi dalam ruang digital. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi baru berupa pemahaman bahwa integrasi AI tidak selalu mengikis budaya lokal, tetapi dapat memperkuat karakter belajar jika diarahkan secara etis dan kontekstual. Berdasarkan pemaparan sebelumnya, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah Bagaimana dampak pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) terhadap budaya belajar mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Abdurrab angkatan 2025 dalam konteks pelestarian nilai-nilai kearifan lokal? Dengan tujuan penelitian ini adalah untuk Untuk menganalisis dampak pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) terhadap budaya belajar mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Abdurrab angkatan 2025 serta implikasinya terhadap pelestarian nilainilai kearifan lokal. Penelitian ini memiliki manfaat teoretis dan praktis. Secara teoretis, hasil penelitian diharapkan dapat memperkaya kajian komunikasi pendidikan dengan menambahkan perspektif budaya terhadap pemanfaatan AI. Secara praktis, penelitian ini bermanfaat bagi dosen dan lembaga pendidikan untuk merancang pembelajaran yang berorientasi pada teknologi namun tetap mempertahankan nilai-nilai lokal dan budaya belajar yang positif. Dengan demikian. AI dapat menjadi alat penguat budaya belajar, bukan penghapusnya. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pendekatan ini dipilih karena tujuan penelitian bukan untuk mengukur hubungan antarvariabel secara statistik, tetapi untuk memahami secara mendalam bagaimana penggunaan Artificial Intelligence (AI) memengaruhi budaya belajar dan nilai-nilai kearifan lokal mahasiswa Ilmu Komunikasi. Menurut Moleong . , penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami fenomena secara holistik dalam konteks alami dan menafsirkan maknanya berdasarkan perspektif partisipan. Dengan demikian, penelitian ini menekankan pemaknaan subyektif mahasiswa terhadap penggunaan AI dalam kegiatan belajar. Dalam penelitian ini menggunakan subjek delapan . orang mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2025 yang telah menggunakan atau berinteraksi dengan teknologi AI . eperti ChatGPT. Grammarly. Canva AI. Quillbot, dan sejenisny. dalam kegiatan akademik. Pemilihan informan dilakukan menggunakan teknik purposive sampling, yakni pemilihan partisipan secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu (Sugiyono, 2. , yaitu mahasiswa aktif angkatan 2025. Pernah atau sering menggunakan AI untuk membantu tugas kuliah. Bersedia memberikan informasi secara terbuka. Sementara itu, objek penelitian adalah dampak penggunaan AI terhadap budaya belajar dan nilai-nilai kearifan lokal mahasiswa. Jenis data dalam penelitian ini ada dua, yaitu pertama data primer, diperoleh melalui wawancara mendalam dengan delapan informan. Kedua, data sekunder, diperoleh dari buku, jurnal ilmiah, laporan penelitian, dan sumber daring yang relevan dengan topik AI, budaya belajar, dan kearifan lokal. Selanjutnya, data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumntasi. Data penelitian dianalisis dengan melalui 4 tahap, yaitu . Tahap reduksi data yang dilakukan dengan menyeleksi, memfokuskan, dan menyederhanakan data yang diperoleh dari hasil wawancara delapan mahasiswa Ilmu Komunikasi, . Tahap penyajian data yang bertujuan untuk menyusun data dalam bentuk yang mudah dipahami agar hubungan antarvariabel dapat terlihat secara jelas, . Tahap penarikan kesimpulan dan interpretasi data pada tahap ini peneliti menafsirkan temuan yang muncul dari hasil wawancara dan observasi dengan mengaitkannya pada teori yang relevan, seperti teori konstruktivisme sosial (Vygotsk. untuk budaya belajar dan teori nilai lokal (Koentjaraningra. untuk kearifan lokal. https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Abdurrab angkatan 2025, dengan jumlah informan sebanyak delapan . Seluruh informan dipilih berdasarkan keterlibatan aktif mereka dalam penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI telah memberikan dampak signifikan terhadap budaya belajar mahasiswa. Namun, di sisi lain, nilai-nilai kearifan lokal seperti kejujuran, tanggung jawab, dan gotong royong mulai mengalami pergeseran akibat kemudahan teknologi. Pemanfaatan AI dalam Belajar Mahasiswa menggunakan AI dalam belajar untuk membantu mereka dalam memahami materi perkuliahan, menyusun tugas akademik, meringkas teks, serta memperbaiki tata bahasa. Selanjutnya, beberapa mahasiswa juga menggunakan AI untuk mencari ide kreatif dalam menulisan laporan praktinya proyek media terbaru dan penulisan naskah komunikasi umtuk tugas public speaking. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan kepada responden, menunjukkan bahwa AI digunakan oleh seluruh responden, meskipun dengan tujuan yang berbeda-beda. Tabel 1. Frekuensi Penggunaan AI dalam Belajar Frekuensi Pengguna Jumlah Mahasiswa Presentase Setiap Hari 37,5% 3-4 kali/ perminggu Saat ada tugas 12,5% Dari 8 mahasiswa, 3 orang . ,5%) menggunakan AI setiap hari, 4 orang . %) menggunakan 3-4 kali dalam seminggu, dan 1 orang . ,5%) hanya saat ada tugas. Hasil ini memperlihatkan bahwa AI telah menjadi bagian penting dalam proses belajar mahasiswa, terutama sebagai sumber belajar alternatif. Temuan ini sejalan dengan pendapat Pratama dan Syahrul . bahwa teknologi digital, termasuk AI, mendorong lahirnya budaya belajar baru yang lebih cepat, praktis, dan berbasis pencarian informasi mandiri. Selanjutnya, beberapa kutipan hasil wawancara dari responden. AuSaya memakai ChatGPT tuk keperluan belajar hampir tiap hari. Bu. Biasanya digunakan untuk bantu saya bikin draft tulisan tugas kuliah atau meringkas jurnal supaya cepat paham. Bahasa yang diberikan oleh ChatGPT juga sangat mudah dipahamiAy (Responden . Selanjutnya, hasil wawancara dengan responden ke-5 AuAI itu membantu banget untuk brainstorming ide, tapi saya tetap revisi hasilnya biar sesuai gaya bahasa saya sendiri. Ay (Responden . Berdasarkan kutipan wawancara memperlihatkan bahwa adanya kesadaran mahasiswa Ilmu Komunikasi dalam menggunakan AI yang tidak hanya sebagai alat bantu dalam mengerjakan tugas, tetapi juga sebagai sarana pengembangan pemikiran kreatif yang selaras dengan konteks budaya lokal. Tujuan utama mahasiswa menggunakan AI untuk membantu memahami materi, meringkas bacaan atau jurnal dan Menyusun bahasa atau struktur kalimat yang digunakan untuk tugas serta mencari ide untuk tugas atau proyek yang beraitan dengan Namun, mahasiswa tidak menyalin hasil dari AI secara keseluruhan, melainkan juga memodifikasinya ulang isinya agar sesuai dengan pemahaman mereka. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menunjukkan dua poin utama. Pertama. AI sudah menjadi bagian penting dari proses belajar mahasiswa Ilmu Komunikasi karena memberikan kemudahan, kecepatan, dan fleksibilitas dalam menyelesaikan berbagai tugas perkuliahan. Kedua, tingkat pemanfaatan AI masih sangat dipengaruhi oleh kedewasaan etika belajar dan kesadaran budaya digital masing-masing mahasiswa. Oleh karena itu, penggunaan AI yang semakin intensif perlu disertai dengan penguatan literasi digital yang komprehensif agar mahasiswa mampu menggunakan teknologi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab. Dampak AI terhadap Pola dan Nilai Budaya Belajar Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam aktivitas akademik mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Abdurrab menunjukkan adanya perubahan yang signifikan terhadap pola dan nilai budaya belajar. Berdasarkan https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. hasil wawancara terhadap delapan mahasiswa, ditemukan bahwa sebagian besar responden mengalami perubahan signifikan dalam cara mereka belajar setelah menggunakan AI. Tabel 2. Dampak Penggunaan AI terhadap Budaya Belajar Mahasiswa Ilmu Komunikasi Kategori Dampak Penggunaan AI Jumlah Mahasiswa Persentase 1 AI meningkatkan kemampuan belajar mandiri . elf-learning capacit. 5 mahasiswa 62,5% 2 Mahasiswa mulai bergantung pada AI dalam mengerjakan tugas 2 mahasiswa 3 Tidak terdapat perubahan signifikan dalam budaya belajar 1 mahasiswa 12,5% Total 8 mahasiswa Pada tabel 2, dapat dijelaskan bahwa sebanyak lima mahasiswa . ,5%) menyatakan bahwa AI meningkatkan self-learning capacity mereka, karena AI membantu menjawab pertanyaan, memberikan penjelasan tambahan, dan menyediakan sumber referensi dengan cepat. Sebaliknya, dua mahasiswa . %) mengaku mulai merasa bergantung pada AI dalam menyusun tugas, sedangkan satu mahasiswa . ,5%) menyatakan tidak ada perubahan berarti karena hanya menggunakan AI sesekali. Dari delapan mahasiswa yang diteliti, lima di antaranya menyatakan bahwa AI meningkatkan kemampuan belajar mandiri mereka. Kondisi ini sejalan dengan teori self-regulated learning yang dikemukakan oleh Zimmerman . , di mana teknologi pembelajaran dinilai mampu meningkatkan kontrol diri, pengelolaan waktu, dan strategi kognitif mahasiswa dalam mengatur proses belajar mereka sendiri. Seorang mahasiswa menyampaikan dalam wawancaranya. AuAI itu membantu saya banget untuk memahami teori komunikasi yang sulit saya pelajari. Dengan menggunakan AI ini saya jadi bisa belajar ulang tanpa harus menunggu kelas berikutnya, saya banyak sekali mendapatkan materi tambahan yang tidak diberikan dosen. Dengan adanya AI ini pun saya tidak susah-susah lagi harus mencari buku dan membaca buku yang tebal-tebal sehingga mendapatkan jawaban yaAy (Responden . Selanjutnya. AI juga mendorong pergeseran dari budaya belajar yang pasif menuju budaya belajar yang lebih aktif. Hal ini sesuai dengan pendapat Tan dan Teo . yang menyatakan bahwa kehadiran teknologi cerdas mendorong munculnya learner-centered culture, dimana mahasiswa memiliki kendali lebih besar dalam membangun pengetahuannya sendiri melalui proses eksplorasi digital. Namun demikian, dampak negatif berupa kecenderungan ketergantungan terhadap AI juga mulai terlihat. Dua mahasiswa mengaku kesulitan menulis tanpa bantuan AI karena terbiasa menggunakan teknologi tersebut dalam menyusun dan membuat tugas Berikut, beberapa kutipan hasil wawancara dari responden AuSaya terbiasa minta AI bantu buat tugas kuliah saya. Kalau disuruh nulis langsung tanpa AI, malah bingung harus mulai dari mana. Tak hanya dalam menulis tugas, menjawab pertanyaan ketika diskusi pun juga melalui AI. Jika ada materi yang tidak saya pahami, saya juga bertanya dengan AI daripada dosen, karena kalau saya bertanya dengan dosen saya maluAy (Responden . Selanjutnya, hasil wawancara dengan responden ke-7 AuAI sangat-sangat membantu saya dalam mengerjakan tugas kuliah, saya tidak perlu repot-repot lagi mencari referensi seperti buku dan artikel jurnal tuk mengerjakan tugas. Dengan adanya AI ini sangat membatu saya dalam perkuliah, kuliah jadi mudah dan banyak waktu tersisa yang bisa saya gunakan tuk bermain dengan temanAy (Responden . Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menunjukkan dua hal penting. Pertama. AI telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mahasiswa Ilmu Komunikasi karena memberikan kemudahan, kecepatan, dan fleksibilitas dalam memahami materi maupun menyelesaikan tugas. Kedua, tingkat pemanfaatan AI masih sangat dipengaruhi oleh kedewasaan etika belajar dan kesadaran budaya digital masing-masing Oleh sebab itu, penggunaan AI yang semakin intensif perlu dibarengi dengan penguatan literasi digital yang komprehensif agar mahasiswa mampu menggunakan teknologi secara kritis, etis, dan bertanggung Jika dibandingkan dengan penelitian terdahulu, hasil penelitian ini menunjukkan pola yang sejalan namun memiliki nuansa baru. Pratama & Syahrul . serta Zimmerman . menegaskan bahwa teknologi https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. digital mendorong kemandirian belajar, tetapi tetap membutuhkan pengelolaan diri yang baik. Temuan ini juga mendukung peringatan dari Utami . dan Nguyen & Lee . mengenai risiko automation bias jika mahasiswa hanya menerima keluaran AI tanpa verifikasi. Di sisi lain, studi ini memperkaya temuan Rahardjo & Mulyani . serta Lestari & Kurniawan . yang menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya lokal tidak hilang ketika teknologi hadir. Penelitian ini menemukan bahwa kearifan lokal seperti gotong royong, etika, dan tanggung jawab tidak hanya bertahan, tetapi justru bertransformasi dalam konteks digital. Sinergi antara teknologi dan budaya ini memperlihatkan bahwa AI bukan ancaman terhadap nilai lokal, melainkan dapat menjadi sarana untuk memperkuat budaya belajar jika digunakan secara bijak dan berlandaskan nilai-nilai Indonesia. Keterkaitan AI dengan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal masih tampak dalam proses belajar mahasiswa di era penggunaan kecerdasan buatan (AI). Nilai etika belajar, tanggung jawab pribadi, serta semangat gotong royong tetap tampak dalam perilaku mahasiswa dalam proses belajar. Berdasarkan hasil wawancara sebagian besar responden menyatakan bahwa AI memang digunakan secara intensif, namun penggunaannya tetap disertai sikap bijak dan tanggung jawab. Tabel 3. Hasil Pengukuran Nilai Kearifan Lokal dalam Penggunaan AI Nilai Kearifan Lokal Jumlah Mahasiswa Persentase Gotong royong / kolaboratif 87,5% Etika dan kejujuran akademik Tanggung jawab pribadi 62,5% Kesederhanaan berpikir 37,5% Pada Tabel 3 dijelaskan bahwa nilai gotong royong menjadi nilai kearifan lokal yang paling menonjol dalam proses belajar berbasis AI, dengan persentase 87,5%, diikuti oleh etika dan kejujuran akademik . %), tanggung jawab pribadi . ,5%), dan kesederhanaan berpikir . ,5%). Temuan ini menegaskan bahwa mahasiswa tidak serta-merta bergantung pada teknologi, tetapi tetap mencoba menempatkan AI dalam koridor nilai-nilai budaya lokal. Kearifan lokal merupakan nilai-nilai, norma, dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi pedoman perilaku dalam kehidupan masyarakat (Sartini, 2. Dalam konteks pendidikan tinggi, kearifan lokal berfungsi sebagai fondasi moral dan etika akademik, yang menuntun mahasiswa untuk bertindak jujur, bertanggung jawab, serta menghargai proses belajar. Dalam era digital yang ditandai dengan kemunculan teknologi kecerdasan buatan (AI), kearifan lokal menghadapi tantangan besar untuk tetap eksis di tengah budaya efisiensi dan instan yang diusung oleh teknologi modern. Nilai Gotoong Royong dan Kolaborasi Sebelum mengurai temuan lebih spesifik, penting dipahami bahwa nilai-nilai kearifan lokal tidak hadir secara terpisah, tetapi berinteraksi langsung dengan pola belajar mahasiswa dalam menggunakan AI. Hasil wawancara menunjukkan bahwa salah satu nilai yang paling menonjol adalah gotong royong. Sebanyak tujuh dari delapan mahasiswa . ,5%) menyatakan bahwa mereka tetap melakukan diskusi kelompok, bertukar ide, dan saling membantu meskipun menggunakan AI sebagai alat bantu. Selanjutnya, beberapa kutipan hasil wawancara dari responden. AuKalau kami bikin tugas kelompok, kami gunakan AI cuma bantu kasih ide awal, tapi kami tetap diskusi bareng untuk nentuin mana yang cocok dengan materi yang kami diskusikan. Ay (Responden . Selanjutnya, hasil wawancara dengan responden ke-3 AuAI saya jadikan bahan tambahan, tapi hasil akhirnya tetap kami diskusikan bareng biar sesuai karakter tugas dan budaya komunikasi kita. Ay (Responden . Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa nilai gotong royong dalam budaya belajar mahasiswa masih sangat kuat, hanya saja bentuknya mulai menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Mahasiswa tidak kehilangan semangat kerja sama dan mereka tetap berdiskusi, saling memberi masukan serta menyusun keputusan secara kolektif. https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Selanjtnya. Nugroho . menegaskan bahwa proses belajar yang baik tetap membutuhkan interaksi, pengujian argumen dan kolaborasi untuk membentuk pengetahuan baru. Dalam hal ini, kearifan lokal seperti gotong royong tampak tidak hilang, justru menemukan bentuk baru yang lebih adaptif. Situasi ini mencerminkan adanya ketahanan budaya atau cultural resilience (Lestari, 2. yakni kemampuan budaya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Karena itu, gotong royong di era digital bukan lagi hanya kerja sama tatap muka, tetapi berkembang menjadi digital gotong royong dalam sebuah cara belajar bersama yang tetap mengedepankan kebersamaan dan tanggung jawab satu sama lain (Wijaya & Prabowo, 2. Etika dan Kejujuran Akademik Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak enam mahasiswa . %) mengakui bahwa mereka tetap menjaga kejujuran akademik ketika menggunakan AI. Mahasiswa menyadari bahwa hasil dari AI bukanlah karya orisinal mereka, sehingga tetap melakukan proses editing dan sitasi. Beberapa di antara mereka bahkan memeriksa ulang hasil keluaran AI dengan sumber ilmiah lain. Selanjutnya, beberapa kutipan hasil wawancara dari responden AuKalau pakai AI, saya selalu ubah lagi bahasanya. Saya takut kalau terlalu mirip hasil AI nanti dibilang Ay (Responden . Selanjutnya, hasil wawancara dengan responden ke-8 AuSaya tahu AI kadang salah. Jadi saya selalu bandingkan dengan jurnal atau buku sebelum dikumpulkan. Ay (Responden . Temuan ini sejalan dengan pandangan Lestari dan Kurniawan . yang menekankan perlunya etika digital berbasis budaya dalam penggunaan teknologi. Mahasiswa tidak sekadar menggunakan AI, tetapi juga mempertimbangkan nilai moral di balik penggunaannya. Nugroho . juga menyebut konsep ethical digital literacy, yaitu kemampuan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab sambil tetap menjunjung integritas dan kejujuran akademik. Artinya, literasi digital tidak cukup hanya tahu cara memakai teknologi, tetapi juga harus dibarengi dengan sensitivitas etis dalam mengambil keputusan. Nilai Tanggung Jawab Pribadi Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak lima mahasiswa . ,5%) menunjukkan kesadaran tinggi terhadap tanggung jawab pribadi dalam proses belajar. Mereka memahami bahwa AI hanyalah alat bantu, sementara keputusan akhir tetap menjadi tanggung jawab individu. Selanjutnya, beberapa kutipan hasil wawancara dari AuSaya tahu AI itu bantu, tapi tetap saya yang harus paham isi tugas. Kalau salah, tanggung jawabnya bukan AI tapi saya. Ay (Responden . Selanjutnya, hasil wawancara dengan responden ke-5 AuSaya gunakan AI untuk bantu saya dalam merangkai kata-kata dalam tulisan agar lebih rapi dan menarik dibaca, tapi isi dan analisis tetap saya buat sendiri. Ay (Responden . Dari pernyataan itu terlihat bahwa sebagian mahasiswa mulai mengembangkan kemampuan reflektif dalam menggunakan teknologi. Mereka sadar bahwa AI tidak bisa menggantikan proses berpikir, melainkan perlu dikontrol agar tidak menjauhkan diri dari pemahaman yang sesungguhnya. Hal ini sejalan dengan gagasan responsible autonomy dalam Fauziah . , yaitu kemampuan untuk mengelola kebebasan belajar dengan kesadaran moral dan tanggung jawab intelektual. Perspektif ini diperkuat oleh Lee dan Park . dengan konsep technological self-regulation, yang menekankan perlunya batas penggunaan teknologi dalam belajar. Dengan demikian, penggunaan AI justru membuka ruang baru untuk tumbuhnya kedewasaan belajar. Mahasiswa mulai membangun hubungan yang sehat dengan teknologi, bukan pasif menerima, tetapi aktif mengolah, menyeleksi, dan memahami hasilnya. Dalam konteks ini. AI berperan sebagai Aumitra belajarAy (Dewi, 2. , bukan sebagai solusi instan. Jika sikap ini terus berkembang, maka budaya belajar di era digital dapat bertransformasi menjadi lebih reflektif, mandiri, dan bertanggung jawab. https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Kesederhanaan dan Keaslian dalam Berpikir Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak tiga mahasiswa . ,5%) menyatakan pentingnya menjaga kesederhanaan dan orisinalitas berpikir meskipun menggunakan teknologi canggih. Mereka menilai bahwa penggunaan AI tidak boleh menghilangkan ciri khas pemikiran manusia yang penuh refleksi dan kreativitas. Selanjutnya, beberapa kutipan hasil wawancara dari responden AuSaya nggak mau semua dikerjakan oleh AI. Kalau semua dikerjakan oleh AI, saya nggak belajar apa-apa dan tidak merasa puas dengan hasil yang saya kumpulkan pada dosen. Saya pakai secukupnya saja. Ay (Responden . Meskipun tidak menjadi pandangan mayoritas, sikap seperti ini menunjukkan kesadaran bahwa proses belajar tetap membutuhkan ruang eksplorasi ide dan keaslian berpikir. Mahasiswa memilih menggunakan AI hanya sebagai bahan awal untuk berpikir, lalu mengolahnya kembali sesuai gaya berpikir pribadi. Sikap ini mencerminkan konsep asketisme digital (Setiawan, 2. , yakni kemampuan untuk membatasi penggunaan teknologi agar tidak kehilangan jati diri intelektual. Pendekatan ini mengisyaratkan adanya bentuk kebijaksanaan manusia . uman wisdo. dalam menghadapi teknologi modern. Pemikiran Dewi . juga mendukung temuan ini dengan menegaskan bahwa pembelajaran yang bermakna selalu membutuhkan ruang refleksi dan kontemplasi. Dengan kata lain, mahasiswa mulai membangun sikap selektif dalam menggunakan AI. Mereka tidak menolak teknologi, tetapi memastikan bahwa teknologi tidak menggantikan proses berpikir mereka. Sikap seperti ini menunjukkan bahwa di tengah derasnya arus digital, masih ada ruang bagi refleksi, orisinalitas, dan kreativitas manusia untuk terus tumbuh. Analisis Integratif: AI. Budaya Belajar, dan Kearifan Lokal Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI tidak hanya berdampak pada proses pengerjaan tugas, tetapi juga membentuk cara mahasiswa memandang proses belajar itu sendiri. Mahasiswa yang menggunakan AI secara proporsional cenderung memiliki pemahaman yang lebih matang dan mereka mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan nilai moral dan tanggung jawab akademik. Sebaliknya, mahasiswa yang sangat bergantung pada AI memperlihatkan penurunan refleksi pribadi serta kemandirian Temuan ini menggambarkan adanya perubahan budaya belajar di kalangan mahasiswa. Hal ini sejalan dengan teori konstruktivisme sosial (Vygotsky dalam Yuliani, 2. yang menjelaskan bahwa proses belajar dibentuk melalui interaksi antara individu dan lingkungannya. Dalam konteks pembelajaran modern. AI menjadi bagian dari lingkungan belajar yang turut membentuk pola pikir mahasiswa. Maka, nilai-nilai lokal seperti gotong royong, kesederhanaan, tanggung jawab, dan etika dapat berperan sebagai penyeimbang agar teknologi digunakan secara manusiawi. Menurut Sutrisno . , pembelajaran digital yang tidak disertai kesadaran budaya berpotensi menghilangkan jati diri intelektual mahasiswa. Karena itu. AI tidak cukup digunakan sebagai alat cepat mencari jawaban, tetapi harus ditempatkan sebagai ruang dialog bagi pikiran, agar mahasiswa tetap berpikir kritis dan tidak sekadar menerima informasi. Sejalan dengan itu. Prasetya . menyebut bahwa kearifan lokal justru dapat menjadi fondasi berpikir dalam era digital. Teknologi bukan untuk menggantikan manusia, tetapi membantu manusia berpikir lebih tajam dan reflektif. Jika nilai budaya tetap hadir dalam proses belajar, maka AI dapat menjadi jembatan antara tradisi dan inovasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan AI memang memiliki pengaruh signifikan terhadap budaya belajar mahasiswa. Namun, dampak positifnya hanya dapat bertahan apabila disertai kesadaran budaya, kedewasaan berpikir, dan tanggung jawab etis. AI bukanlah ancaman bagi kearifan lokal tetapi justru dapat menjadi sarana untuk memperkuatnya melalui pembelajaran yang reflektif, manusiawi, dan berakar pada nilai-nilai budaya Indonesia. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, budaya belajar mahasiswa menunjukkan pergeseran menuju pola belajar hibrida yang memadukan interaksi sosial tradisional dengan teknologi digital. Nilai-nilai kearifan lokal seperti gotong royong, tanggung jawab, etika, dan kesederhanaan tetap terlihat kuat, meskipun kini beradaptasi dalam bentuk digital. AI tidak menggantikan interaksi sosial, tetapi justru menjadi pemicu diskusi, brainstorming, dan https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Desember 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Mahasiswa juga menunjukkan kesadaran etis dengan memeriksa ulang hasil AI, melakukan sitasi, serta menyesuaikan informasi dengan konteks akademik, yang mencerminkan pemahaman bahwa AI adalah mitra belajar, bukan pencipta gagasan. Dengan penggunaan yang proporsional. AI mendorong tumbuhnya kedewasaan digital melalui sikap kritis, tanggung jawab pribadi, dan pengambilan keputusan yang mandiri. Karena itu. AI tidak menjadi ancaman bagi kearifan lokal, melainkan membuka ruang untuk memperkuat budaya belajar yang reflektif dan berkarakter. Teknologi dapat memperkaya proses pembelajaran apabila diimbangi literasi digital etis dan pendampingan akademik yang humanis, sehingga integrasinya dalam pendidikan tinggi tidak hanya meningkatkan efisiensi belajar, tetapi juga menjaga esensi kemanusiaan serta nilai budaya Indonesia di tengah kemajuan teknologi. Daftar Pustaka