RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3 . Nomor 2 . Desember 2022. Hal. E-ISSN: 2775-2267 Email: ristansi@asia. https://jurnal. id/index. php/ristansi MEMAHAMI SUASANA DILEMATIS ANTARA HUTAN DAN UANG MELALUI SEMIOTIKA AKUNTANSI Sudrajat Martadinata Universitas Teknologi Sumbawa martadinata@uts. DOI: 10. 32815/ristansi. Informasi Artikel Tanggal Masuk Tanggal Revisi Tanggal diterima Keywords: Forest. Money. Semiotics. Environmental Social Accounting Kata Kunci: Hutan. Uang. Semiotika. Akuntansi Sosial Lingkungan November. Desember. Desember. Abstract: This paper aims to understand the dilemma between forests and money. Conduct an analysis of the lyrics of the song titled When I Pulang which was popularized by Katon Bagaskara in the 90s. Based on the stages of Roland Bartes' semiotic analysis, the following interesting findings are Denotatively explaining the situation of damaged forests resulting in global warming and the extinction of Connotatively found the philosophy that the forest is a source of life. So in a dilemma situation, when we are asked to choose between forests and money. Based on the context of this research, what should be our main choice is to protect the forest so that it remains sustainable. Contribution to the science of accounting that profit . should not be the end of accounting activities. But it must also coincide with the goal of safety for other humans, as well as the goal of sustaining the ecosystem and the universe. Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk memahami bagaimana suasana dilematis antara hutan dan uang. Melakukan analisis atas lirik-lirik lagu berjudul Ketika Ku Pulang yang dipopulerkan oleh Katon Bagaskara pada era 90-an. Berdasarkan tahapan analisis semiotika Roland Bartes, dihasilkan temuan menarik berikut. Secara denotatif menjelaskan tentang situasi hutan yang rusak membawa akibat kepada panasnya bumi, dan punahnya ekosistem. Secara konotatif ditemukan falsafah bahwa hutan adalah sumber kehidupan. Maka dalam suasana yang dilematis, ketika kita diminta untuk memilih antara hutan dan uang. Berdasar konteks penelitian ini yang harus menjadi pilihan utama kita ialah menjaga hutan agar tetap lestari. Kontribusi bagi ilmu akuntansi bahwa profit . tidak boleh menjadi akhir dari kegiatan akuntansi. Melainkan harus juga berbarengan dengan tujuan keselamatan bagi manusia lain, serta tujuan keberlangsungan ekosistem dan alam semesta. RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3 . Nomor 2 . Desember 2022. Hal. PENDAHULUAN Fenomena kebakaran hutan terjadi di Indonesia berulang setiap tahun. Data terakhir dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan bahwa sekitar 33 ribu hektar lahan terbakar dalam kurun waktu empat bulan. Kondisi ini terjadi sejak bulan Januari sampai dengan bulan April pada tahun 2022 (CNN, 2. Luas kebakaran hutan serta lahan( karhutl. di Indonesia sebanyak 358. 867 hektare( h. Jumlah tersebut bertambah 20, 85% dibanding pada 2020 yang seluas 942 ha (Dataindonesia. id, 2. Kebakaran hutan ditimbulkan oleh bermacam aspek area semacam hawa, keadaan penutupan lahan, tipe tanah, serta aspek area biofisik yang lain (Yusuf et al. , 2. Selain disebabkan oleh faktor lingkungan, kebakaran hutan pula diakibatkan oleh aspek manusia. Seperti membuka lahan dengan cara membakar, mencukupi kebutuhan pakan ternak dengan merambah hutan, dan kekecewaan terhadap pengelolaan hutan yang memicu maraknya illegal loging (Rasyid. Keberadaan hutan mampu memberi manfaat kesehatan, estetika, dan menyeimbangkan ekosistem (Syahadat & Putra, 2. Tidak hanya itu hutan pula membagikan sebagian khasiat, antara lain: selaku penyerap karbon, melindungi keanekaragaman biologi, menghindari erosi serta melindungi tata air dan menciptakan bermacam tipe hasil hutan bukan kayu yang bisa menolong perekonomian warga sekitarnya, sehingga tekanan terhadap kawasan hutan jadi menurun (Nurhaedah & Hapsari, 2. Mari kita menggarisbawahi pernyataan di atas yang menyebutkan bahwa hutan dapat membantu perekonomian masyarakat sekitar. Fakta yang terjadi sesungguhnya adalah justru dengan adanya tuntutan ekonomi, dan terbukanya akses terhadap sumber daya yang ada di hutan, akan menjadi pintu masuk awal bagi terancamnya kelangsungan hutan itu sendiri. Terlebih lagi jika tuntutan ekonomi itu disuarakan oleh para pemilik Kerapkali abai untuk memperhatikan manfaat lain dari adanya hutan, selain hanya melihat manfaat ekonomi semata. Maka eksploitasi atas hutanlah yang kemudian terjadi secara terus-menerus. Karena laba telah menjadi tujuan utama berdirinya korporasi yang berorientasi ekonomi (Irianto, 2. Menyimak kondisi hutan yang secara luasan dan kualitas dari tahun ke tahun dengan tampak wajah yang mengkhawatirkan. Menyulut munculnya paradigma baru RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3 . Nomor 2 . Desember 2022. Hal. untuk serius mendiskusikan hubungan ekonomi dengan ketahanan hutan. Lebih khusus lagi kajian yang mengkaitkan antara ilmu ekonomi akuntansi dalam hubungannya dengan pelestarian alam dan lingkungan. Sebut saja Triple Bottom Line, diajukan pada tahun 1999 oleh John Elkington dalam bukunya yang berjudul AuCannibals with Forks: the Triple Bottom Line of 21st Century BusinessAy (Febrina & Suaryana, 2. Konsep Triple Bottom Line ini mengusulkan agar tuntutan ekonomi yang diukur dengan satuan uang, harus diimbangi dengan unsur-unsur kehidupan yang lain yakni manusia dan alam Sehingga kegiatan keseharian kita sebagai individu, kelompok, entitas, dan korporasi tidak hanya berfokus kepada uang . Tetapi juga ikut menimbangnimbang tercapainya kesejahteraan masyarakat . , dan memperhatikan lestarinya alam dan lingkungan . (Sawitri, 2. Beberapa penelitian lain ikut bersinggungan dengan pikiran-pikiran Elkington pada masa satu dasawarsa terakhir setelah gagasannya diluncurkan. Terutama penelitian yang mencoba memasukkan isu kebakaran hutan ke dalam ilmu akuntansi. Telaah saja apa yang dihasilkan dalam penelitian berikut ini. Disebutkan bahwa pelaporan biaya lingkungan dalam akuntansi hijau, bisa menolong para pemangku kepentingan dalam mengambil keputusan. Selain itu dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan lingkungan guna mendukung kegiatan usaha yang berkelanjutan (Nyoman & Werastuti, 2. Namun, terdapat salah satu hasil penelitian menarik yang patut untuk disampaikan di sini. Ternyata ada alasan penghematan biaya bagi para petani. Ketika mereka membuka lahan dengan cara membakar hutan. Meskipun setelah dibandingkan dengan akibat yang diterima, alasan penghematan berubah menjadi cost inefisiensi di akhir cerita (Rahayu,S et al. , 2. Hasil penelitian lain pun menjelaskan bahwa jika green accounting dapat diterapkan maka akan memberikan dampak positif terhadap kondisi finansial korporasi (Yoshi Aniela, 2. Bertolak belakang dengan hasil penelitian lainnya. Dimana disampaikan bahwa green accounting tidak berpengaruh terhadap economic performance korporasi (Rosaline et al. , 2. Akuntansi yang dipraktikkan hari ini dibangun dari ide kapitalis. Diperuntukkan hanya bagi para pemilik modal. Menjadi pemicu terjadinya eksploitasi dan krisisnya sumber daya sosial, alam dan lingkungan (Lako, 2. Akuntansi konvensional masih saja terus berjalan, meski telah coba digugat oleh pikiran-pikiran baru dengan menawarkan ide yang lebih menyeluruh . de akuntansi sosial dan lingkunga. Suasana RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3 . Nomor 2 . Desember 2022. Hal. ini berkembang menjadi sangat dilematis. Di satu sisi hutan terancam, di satu sisi uang begitu terlanjur dijadikan tujuan keberadaan korporasi. METODE PENELITIAN Penelitian ini bergenre kualitatif dalam area post positivis. Dilakukan dengan tujuan untuk memahami suasana dilematis antara hutan dan uang yang keduanya didalihkan untuk kesejahteraan ekonomi masyarakat. Lirik lagu Katon Bagaskara yang dipopulerkan pada sekitar tahun 90-an berjudul Ketika Ku Pulang, dijadikan sebagai situs Lagu tersebut sangat lekat dengan isu yang sedang didiskusikan di dalam topik peneitian ini. Beberapa referensi menjadi rujukan sehingga akhirnya memutuskan bahwa lirik lagu Ketika Ku Pulang menjadi episentrum penelitian. Menggali syair-syair lagu Ilir-Ilir pernah dilakukan kemudian dikawinkan dengan ilmu akuntansi, dimana hasilnya memberikan pengembangan bagi pendidikan akuntansi Indonesia (Darti Djuharni et al. Topik yang hampir serupa dengan penelitian sekarang ini berhubungan dengan Menjadikan uang segala-galanya karena memang secara ideologi akuntansi konvensional, uang menjadi salah satu postulat . rinsip yang diyakini kebenaranny. dengan melakukan kajian terhadap naskah drama yang berjudul Sumur Tanpa Dasar. Temuannya sangat menarik bahwa ternyata ketika uang dijadikan sebagai postulat akuntansi, maka siapapun itu tidak akan pernah menemukan rasa damai di hatinya (Martadinata & Faturrahman, 2. Tidak kalah menarik dengan penelitian yang menjadikan karya cerpen sebagai situs telitinya. Membahas mengenai kehadiran minimarket yang AumembunuhAy pedagang-pedagang kecil disekitarnya (Wahyuni, 2. Artinya karya sastra telah dijadikan sebagai situs di dalam beberapa penelitian ilmu akuntansi sebagaimana paparan di atas. Karya sastra tidaklah sekedar karya sastra yang hanya berisi hayalan dan angan-angan semata, melainkan representasi dari dinamika sosial kehidupan masyarakat yang disajikan ke dalam bentuk sastra (Wahyuni, 2015. Martadinata & Faturrahman, 2. Berikutnya penelitian ini menggunakan alat analisis semiotika Roland Barthes. Dengan dua tingkatan analisis yakni denotasi, konotasi, serta mitos dan simbol (Riwu & Pujiati, 2018. ,Darti Djuharni et al. , 2. Denotasi selaku analisis tingkatan awal. Konotasi, mitos, serta simbol selaku analisis tingkatan kedua. Pada analisis tingkat pertama akan menjelaskan sesuatu yang bersifat nyata atau inderawi. Selanjutnya pada RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3 . Nomor 2 . Desember 2022. Hal. analisis kedua dimana berusaha mengungkapkan mitos dan ideologi yang ada. Sebab mitos merupakan pesan yang terdapat ideologi di dalamnya (Barthes, 2. HASIL PENELITIAN Sebagaimana disampaikan pada metode di atas, bahwa penelitian ini akan dianalisis dengan semiotika Barthes melalui dua tingkatan. Tingkatan pertama untuk memahami makna denotasi dari lirik lagu Ketika Ku Pulang. Setelah itu akan dianalisis melalui tingkatan kedua untuk memahami makna konotasi, mitos, dan simbol dari lirik lagu Ketika Ku Pulang. Analisis semiotika tingkatan pertama . akna denotas. Berkaca di atas air Kali kecil nan mengalir Bias wajahku temaram Latar pohonan memuram Ketika ku pulang Yang kudapat getir menikam Ke mana hutanku hilang? Semak perdu merintih Ribu hujan pun tak mampu Bawa hijau padaku Ke mana kicauku terbang? Dahan ranting bersedih Udara tak lagi ramah Panas menyiksa bumi Oh-hu-uh-uh Ketika ku pulang Yang kudapat getir menikam Ke mana hutanku hilang? Semak perdu merintih RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3 . Nomor 2 . Desember 2022. Hal. Ribu hujan pun tak mampu Bawa hijau padaku Ke mana kicauku terbang? Dahan ranting bersedih Udara tak lagi ramah Panas menyiksa bumi Sudi bantu aku Mewujudkan rimbaku dahulu Bahu-membahu Kita 'kan gapai impian . h-ho-o. Hutanku hadir kembali Semak dan perdu bersemi Ribu hujan pun menyatu Bawa hijau padaku . h-ho-o. Kicau burung menemani Dahan dan ranting berseri Udara segar memadu Menyejukkan jiwaku . h-ho-o. RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3 . Nomor 2 . Desember 2022. Hal. Tabel 1 Makna Denotasi Lirik Lagu Ketika Ku Pulang Tabel 1. Makna denotasi lirik lagu Ketika Ku Pulang Lirik Makna Berkaca di atas air Melihat diri sendiri di air Kali kecil nan mengalir Pada sebuah kali kecil yang airnya mengalir Bias wajahku temaram Di dalam air bayangan wajahku terlihat tidak terang Latar pohonan memuram Di dalam air terlihat juga bayangan pohon di belakangku yang buram Ketika ku pulang Ketika aku pulang Yang kudapat getir menikam Aku mendapatkan kesusahan yang menusuk Ke mana hutanku hilang? Ke mana hutan ku hilang? Semak perdu merintih Tumbuhan-tumbuhan kecil yang serata tanah mengerang kesakitan Ribu hujan pun tak mampu Beribu ribu hujan tak mampu Bawa hijau padaku Menjadikan hutan berwarna hijau Ke mana kicauku terbang? Ke mana kicau burung terbang ? Dahan ranting bersedih Dahan dan ranting bersedih Udara tak lagi ramah Udara tidak lagi menyenangkan Panas menyiksa bumi Oh-hu-uh-uh Suhu panas menyiksa bumi Ketika ku pulang Ketika aku pulang Yang kudapat getir menikam Aku mendapatkan kesusahan yang menusuk Ke mana hutanku hilang? Ke mana hutan ku hilang? Semak perdu merintih Tumbuhan-tumbuhan kecil yang serata tanah mengerang kesakitan Ribu hujan pun tak mampu Beribu ribu hujan tak mampu Bawa hijau padaku Menjadikan hutan berwarna hijau Ke mana kicauku terbang? Ke mana kicau burung terbang ? Dahan ranting bersedih Dahan dan ranting bersedih Udara tak lagi ramah Udara tidak lagi menyenangkan Panas menyiksa bumi Suhu panas menyiksa bumi Sudi bantu aku Bersedialah membantuku Mewujudkan rimbaku dahulu Untuk mengembalikan hutanku seperti dahulu Bahu-membahu Kita bahu membahu Kita 'kan gapai impian . h-ho-o. Kita akan gapai impian kita Hutanku hadir kembali Yakni hutan hadir kembali Semak dan perdu bersemi Tumbuhan-tumbuhan kecil yang serata tanah bertunas Ribu hujan pun menyatu Beribu-ribu hujan akan bersatu Bawa hijau padaku . h-ho-o. Menjadikan hutan berwarna hijau Kicau burung menemani Kicauan burung juga akan menemani Dahan dan ranting berseri Dahan dan ranting tampak ceria Udara segar memadu Udara segar akan ikut hadir Menyejukkan jiwaku . h-ho-o. Membawa sejuk di jiwaku Pada tingkatan pertama ini lirik lagu Ketika Ku Pulang dapat dipahami dengan jelas. Menceritakan tentang kondisi hutan yang rusak. Suhu bumi yang panas, menjadi akibat yang dirasakan oleh manusia, semak dan perdu, serta burung. Ada ajakan untuk membenahi kondisi hutan yang rusak. Agar harapan manusia, semak dan perdu, serta burung dapat terwujud dengan merasakan keceriaan kembali di dalam hidup. Analisis semiotika tingkatan kedua . akna konotas. Pada tingkatan ini kita akan memahami makna konotasi yang berkaitan dengan mitos dan ideologi yang terkandung di dalam lirik lagu Ketika Ku Pulang. Secara rinci RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3 . Nomor 2 . Desember 2022. Hal. akan dikaji secara lebih mendalam melalui bait per bait dari lagu tersebut. Sebagaimana ditampilkan dalam urutan berikut ini. Bait Pertama Makna Berkaca di atas air Secara konotasi, pada bait ini Katon Kali kecil nan mengalir Bagaskara Bias wajahku temaram kondisi hutan yang memprihatinkan. Latar pohonan memuram Di mana ia melihat air kali yang semakin kecil alirannya lalu berkaca di atasnya. Wajahnya terlihat suram, senada dengan pepohonan yang ada dibelakang dirinya. Bait Kedua Makna Ketika ku pulang Secara konotasi, pada bait ini dapat Yang kudapat getir menikam dimaknai setelah sekian lama ia tinggalkan kampung halaman. Tibatiba ia terkejut melihat kondisi hutan kampungnya yang sudah rusak. Tidak lagi seperti dulu. Bait Ketiga Makna Ke mana hutanku hilang? Secara Semak perdu merintih dijelaskan kondisi hutan yang sudah Ribu hujan pun tak mampu Bawa hijau padaku Hujan bertahun-tahun juga Tumbuh-tumbuhan tidak mampu mengembalikan hutan menjadi hijau kembali. Bait Keempat Makna Ke mana kicauku terbang? Secara Dahan ranting bersedih dijelaskan selain tumbuhan, hewan Udara tak lagi ramah pun pergi. Panas menyiksa bumi bersahabat buat planet bumi kita. udara, cuaca tidak lagi RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3 . Nomor 2 . Desember 2022. Hal. Bait Kelima Makna Sudi bantu aku Secara konotasi, pada bait ini muncul Mewujudkan rimbaku dahulu ajakan agar secara bersama-sama Bahu-membahu kita memperbaiki hutan yang sudah Kita 'kan gapai impian Dengan diperbaikinya hutan, maka cita-cita hidup kita pasti akan Bait Keenam Makna Hutanku hadir kembali Secara konotasi, pada bait ini Semak dan perdu bersemi menjelaskan dengan kembalinya Ribu hujan pun menyatu hutan seperti dahulu maka tumbuh- Bawa hijau padaku . h-ho-o. tumbuhan dapat hidup subur dan rindang di dalamnya. Ketika hutan itu rindang, curah hujan pun menjadi semakin tinggi. Bait Ketujuh Makna Kicau burung menemani Secara konotasi, pada bait ini Dahan dan ranting berseri melanjutkan bait sebelumnya. Udara segar memadu Berkenaan dengan jika kembalinya Menyejukkan jiwaku . h-ho-o. hutan, tumbuhan, hewan, dan kita manusia pun akan merasakan sejuknya udara di kosmos bumi. PEMBAHASAN Dari pemaknaan seluruh bait lagu di atas. Ditemukan satu ide yang dapat dijadikan falsafah hidup. Bahwa hijaunya hutan adalah harapan kita bersama selaku pengelola makrokosmos ini. Diyakini bahwa dengan terpeliharanya hutan, kita manusia telah mampu menenggang rasa bersama hewan dan tumbuhan. Beberapa kasus yang dapat kita jadikan contoh dalam pelestarian hutan. Tidak hanya hutan kayu, hutan RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3 . Nomor 2 . Desember 2022. Hal. mangrove pun menjadi bagia hutan yang harus terpelihara. Rendahnya pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya peranan mangrove dalam ekosistem pesisir telah mendorong pemanfaatan yang tidak berkelanjutan. Untuk menghindari atau memperkecil kerugian yang ditimbulkan dari pemanfaatan yang tidak berkelanjutan tersebut perlu diperhitungkan dampak perubahan yang terjadi, sehingga pendayagunaan pemanfaatan mangrove dapat dilakukan dengan optimal dan lestari. Dalam ekosistem pesisir, hutan mangrove mempunyai beranekaragam peranan antara lain sebagai penghasil bahan organik, tempat berlindung berbagai jenis binatang, tempat memijah berbagai jenis udang, habitat berbagai gastropoda, dan sebagai pelindung pantai (Adriman et al. , 2. Selain itu hutan mangrove dapat dijadikan sebagai destinasi Dengan dijadikannya hutan sebagai salah satu destinasi wisata, akan menggerakkan masyarakat sekitar hutan untuk melakukan aktivitas ekonomi yang dibutuhkan oleh para pengunjung. Menyiapkan tempat makan, jasa guide, jasa transportasi, dan cendra mata. (Joandani et al. , 2. Kasua lain di hutan kayu yang berada di adataran tinggi. Dapat melakukan pelestarian hutan melalui program agroforestry (Nugroho Tri Waskitho1, 2. Menakukan budi daya tanaman penyangga air yang juga buah atau bijinya dapat diolah guna menambah penghasilan masyarakat sekitar hutan. Melakukan pelestarian hutan dengan menananm kopi salah satunya. Bijinya dapat diolah atau dijual langsung sebagai komoditas ekonomi secara langsug bagi bisa Juga melestarikan hutan dengan menanam buah-buahan. Buah duren salah satu buah yang cocok dibudidayakan di daerah dataran tinggi. Menanam pohon kemiri dan kayu putih juga salah satu aternatif yang dapat kita lakukan. Agar tujuan kita mendapatkan penghasilan dan menjaga nhutan dapat berjalan secara beriringan. Ketika hutan rindang, cita-cita hidup kita akan tercapai. Maka di dalam konteks penelitian ini hutan harus menjadi prioritas utama dibandingkan dengan capaian kesejahteraan ekonomi. Karena dengan menjaga hutan, sumber ekonomi kita pun ikut terjaga. Demikian pula sebaliknya, jika kita utamakan kesejahteraan ekonomi dengan mengeksploitasi hutan, kita akan kehilangan banyak hal, termasuk kehilangan kesejahteraan ekonomi kita sendiri. Pendapatan merupakan salah satu symbol yang digunakan di dalam ilmu akuntansi. Hutan yang lestari akan mendukung pendapatan masyarakat sekitar hutan terjadi secara berkelanjutan. Siapapun yang memutuskan berinvestasi secara ekonomi melalui media apa saja, termasuk melalui pemanfaatan hutan. Tujuan utama yang ingin dituju tidak lain kalau RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3 . Nomor 2 . Desember 2022. Hal. bukan profit. Ketika ada pendapatan, seoptimal mungkin pendapatan tersebut bermuara ke dalam bentuk profit. Diskusi ini sangat erat dengan teori Triple Bottom Line yang diaukan oleh Elkington . Teori ini sering digunakan di dalam kajian akuntansi Terdapat tiga unsur penting yang menjadi perhatian di dalam teori tersebut, yakni planet, profit, dan people. (Nabila & Arinta, 2. Bahwa kajian ini memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu akuntansi. Artinya investasi ekonomi atau aktivitas akuntansi yang kita lakukan tidak boleh berhenti pada urusan profit saja. Tetapi harus mempertimbangkan bagaiamana akibat dari investasi yang kita lakukan tidak membawa akibat buruk bagi manusia dan alam semesta ini. KESIMPULAN Sesuai dengan tahapan analisisnya kesimpulan penelitian ini diajukan secara denotatif dan konotatif. Secara denotatif menjelaskan tentang situasi hutan yang rusak membawa akibat kepada panasnya bumi, dan punahnya ekosistem. Secara konotatif ditemukan falsafah bahwa hutan adalah sumber kehidupan. Maka dalam suasana yang dilematis, ketika kita diminta untuk memilih antara hutan dan uang. Berdasar konteks penelitian ini yang menjadi pilihan utama kita ialah menjaga hutan agar tetap lestari. Dengan melakukan pengelolaan terhadap hutan dengan menjadikannya sebagai salah satu sumber pendapatan yang membuahkan profit. Ternyata melalui kajian ini, ilmu akuntansi tidak boleh berhenti sampai tujuan profit dalam aktivitasnya. Tetapi melampaui profit, dengan mengelola keberadaan hutan menjadi aktivitas yang dapat juga memberikan profit bagi manusia lain dan alam semesta ini. REFERENSI