e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Jurnal Kebidanan. Keperawatan dan Kesehatan (J-BIKES) 2025. Vol. 5 (No. : Halaman: 51-56 Edukasi Gizi Menggunakan Booklet: Strategi Meningkatkan Pengetahuan. Asupan Kalsium, dan Aktivitas Fisik pada Lansia dalam Pencegahan Osteoporosis Nutrition Education Using Booklets: A Strategy to Increase Knowledge. Calcium Intake, and Physical Activity in the Elderly to Prevent Osteoporosis Heni Triana1. Lina Rizki2*. Evi Sahfitri Siregar3 & Jun Edy Samosir Pakpahan4 1,2*,3,4 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Flora. Medan. Indonesia Disubmit: 19 Juni 2025. Diproses: 09 Juli 2025. Diaccept: 20 Juli 2025. Dipublish: 30 Juli 2025 *Corresponding author: E-mail: linarizki96@gmail. Abstrak Osteoporosis pada lansia dapat terjadi karena berbagai faktor, diantaranya karena kurang beraktivitas fisik dan asupan kalsium. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh edukasi gizi dengan media booklet terhadap tingkat pengetahuan, asupan kalsium dan aktivitas fisik untuk mencegah osteoporosis pada lansia di Puskesmas Padang Bulan. Metode penelitian menggunakan preeksperimental design dengan one group pretest-posttest design. Pengambilan sampel dengan cara purposive sampling, didapatkan sampel penelitian 26 responden dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi. Perbedaan rata-rata tingkat pengetahuan responden tentang asupan kalsium dan aktivitas fisik sebelum dan setelah diberikan edukasi gizi sebesar 15,77 poin yang berarti terdapat perubahan pengetahuan responden. Uji statistik paired sample t-test menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan. Perbedaan rata-rata asupan kalsium responden sebelum dan setelah diberikan edukasi gizi sebesar 52,95 mg yang berarti terdapat perubahan asupan kalsium responden. Uji statistik paired sample t-test menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan. Perbedaan rata- rata aktivitas fisik responden sebelum dan setelah diberikan edukasi gizi sebesar sebesar -0,04 poin yang berarti tidak terdapat perubahan aktivitas fisik responden. Uji statistik paired sample t-test menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan Kata Kunci: Edukasi Gizi. Tingkat Pengetahuan. Asupan Kalsium Abstract Osteoporosis in the elderly can occur due to various factors, including lack of physical activity and calcium The purpose of this study was to determine the effect of nutrition education with booklet media on the level of knowledge, calcium intake and physical activity to prevent osteoporosis in the elderly at the Padang Bulan Health Center. The research method used a pre-experimental design with one group pretest-posttest design. Sampling by purposive sampling, obtained a research sample of 26 respondents by considering the inclusion and exclusion criteria. The difference in the average level of knowledge of respondents about calcium intake and physical activity before and after being given nutrition education 77 points, which means there was a change in respondent knowledge. The paired sample t-test statistical test showed a significant difference. The difference in the average calcium intake of respondents before and after being given nutrition education was 52. 95 mg, which means there was a change in respondent calcium intake. The paired sample t-test statistical test showed a significant difference. The difference in the average physical activity of respondents before and after being given nutritional education was -0. 04 points, which means there was no change in the physical activity of respondents. The paired sample t-test statistical test showed no significant difference. Keywords: Knowledge. Behavior. Octopus Usage DOI: 10. 51849/j-bikes. v%vi%i. Rekomendasi mensitasi : Triana. Rizki. Siregar. ES & Pakpahan. JES. Edukasi Gizi Dengan Media Booklet Terhadap Tingkat Pengetahuan. Asupan Kalsium Dan Aktivitas Fisik Untuk Mencegah Osteoporosis Pada Lansia. Jurnal Kebidanan. Keperawatan dan Kesehatan (J-BIKES), 5 . : Halaman. e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes PENDAHULUAN Banyak negara mengalami transisi epidemiologi yaitu pergeseran masalah penyakit dari penyakit menular menuju penyakit tidak menular. Indonesia merupakan salah satu dari negara yang telah mengalami transisi epidemiologi. Transisi tersebut ditandai dengan adanya pergeseran pola penyakit serta pola penyebab kematian masyarakat, salah satunya adalah mulai meningkatnya kejadian penyakit tidak menular. Menurut Departemen Kesehatan . presentase 44% sebagai penyebab kematian dini di dunia. Osteoporosis pada lansia dapat terjadi karena berbagai faktor, tidak hanya karena usia yang menua, tetapi juga karena faktor-faktor lain, seperti genetik, jenis kelamin, hormon yang menurun, kebiasaan merokok, postur tubuh kecil . , kurangnya paparan sinar matahari, konsumsi obat-obatan yang menurunkan massa tulang, asupan kalsium dari makanan yang rendah, konsumsi alkohol, kafein, minuman bersoda, dan penyakit diabetes mellitus. Di puskesmas padang bulan terdapat 156 lansia yang terdaftar di Poli Lansia. Berdasarkan pengkajian awal bulan Mei 2017, dari jumlah tersebut sebagian besar lansia memiliki pengetahuan yang kurang tentang makanan untuk mencegah osteoporosis, selain itu aktivitas fisik yang dilakukan relatif ringan. Edukasi menggunakan berbagai media, salah satunya adalah menggunakan booklet. Hasil penelitian Rahayu . dalam menunjukkan perbedaan sebelum dan setelah dilakukan perlakuan, yaitu pretest menunjukkan angka 32,92 dan meningkat menjadi 81,46 setelah diberikan edukasi. Kalsium merupakan mineral yang paling bayak terdapat dalam tubuh. Sekitar 99% total kalsium dalam tubuh ditemukan dalam jaringan keras, yaitu tulang dan gigi, terutama dalam bentuk hidroksiapati, hanya sebagian kecil dalam plasma dan cairan ekstravaskular. Sedangkan, aktivitas fisik adalah setiap gerakan yang membutuhkan energi untuk mengerjakannya (Ambardini, 2. Menurut Faizah . faktor asupan dan aktivitas fisik merupakan faktor yang dapat diubah dalam mempengaruhi nilai kepadatan tulang yang berhubungan langsung dengan terjadinya osteoporosis pada lansia. Asupan kalsium dan aktivitas fisik yang memadai dapat mengoptimalkan nilai kepadatan tulang. Menurut Septriani dan Fitranti . terjadinya osteopenia saat dewasa muda meningkatkan risiko osteoporosis di kemudian hari. Pengaruh asupan protein, kafein, status gizi, aktivitas fisik, asupan kalsium dan fosfor sangat penting dalam memaksimalkan kepadatan tulang sebelum usia 30 tahun. Sedangkan menurut Ramayulis, dkk untuk memulai pencapaian puncak BMD, kontribusi sebesar kurang lebih 70% dan faktor lingkungan memberi kontribusi sebesar kurang lebih 30%. Puncak BMD berhubungan dengan asupan kalsium dan latihan fisik. Oleh sebab itu, maka perlu dilakukan pencegahan terhadap lansia agar tidak terkena penyakit osteoporosis dengan cara menambah pengetahuan dan membiasakan berperilaku hidup sehat, yaitu mengonsumsi makanan tinggi e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes kalsium dan berolahraga/ beraktivitas fisik secara rutin. Dari uraian di atas, maka penulis pengetahuan, asupan kalsium, dan aktivitas fisik lansia di puskemas padang bulan dengan memberikan edukasi gizi dengan media booklet. data dilakukan dengan menggunakan program SPSS for windows. Uji statistik yang digunakan adalah uji paired sample t-test HASIL DAN PEMBAHASAN Aktivitas Fisik Responden Tabel 1. Distribusi Responden berdasarkan Aktivitas Fisik Sebelum Diberikan Edukasi Gizi Jumlah Responden Kategori METODE PENELITIAN Penelitian Puskesmas padang bulan selama 1 bulan 24 Maret-24 April 2025 menggunakan rancangan penelitian pre-eksperimental design dengan one group pretest-posttest Pengambilan sampel dengan cara didapatkan sampel penelitian sebanyak 26 responden dari populasi semua lansia rawat jalan puskesmas padang bulan yaitu 70 orang lansia. Adapun kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah lansia berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, berusia Ou60-80 tahun, nilai BMD dalam kategori normal atau osteopenia, memiliki riwayat . iabetes hipertensi, stroke, dan sebagainy. namun masih dalam keadaan yang dapat berkomunikasi dengan baik, mengerti bahasa Indonesia, alamat rumah jelas, dan terdapat nomor telepon yang dapat Pengumpulan FFQ kuantitatif untuk mengetahui asupan kalsium, dan formulir recall 24 jam untuk mengetahui aktivitas fisik lansia. Analisis Sangat Ringan Ringan Sedang Berat Jumlah Tabel 2. Distribusi Responden berdasarkan Tingkat Pengetahuan Setelah Diberikan Edukasi Gizi Jumlah Responden Tingkat Pengetahuan Baik Cukup Kurang Jumlah Asupan Kalsium Responden Tabel 3. Perbedaan Asupan Kalsium Responden Sebelum Setelah Diberikan Edukasi Gizi Kategori Perubahan Asupan Meningkat Tetap Menurun Jumlah e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Tabel 4. Pencapaian Nilai p-value Pengetahuan. Asupan Kalsium, dan Aktivitas Fisik Responden Sebelum dan Setelah Diberikan Edukasi Gizi Variabel merubah aktivitas fisik responden secara Aktivitas fisik dipengaruhi oleh pekerjaan responden dimana pekerjaan tersebut tergantung pada kegiatan sehari-hari yang Pendidikan pengetahuan yang baik dapat memberikan perubahan terhadap aktivitas fisik responden, namun pekerjaan lebih berpengaruh terhadap hasil aktivitas fisik. Pekerjaan dalam kategori sedang ke berat akan menghasilkan nilai PAL aktivitas fisik responden yang sedang ke berat pula. Sebaliknya, jika pekerjaan responden ringan, maka nilai PAL akan cenderung Disamping itu, hasil PAL aktivitas fisik tergantung pada aktivitas yang dilakukan responden 24 jam sebelum recall dilakukan. P value Pengetahuan 0,000 Asupan Kalsium 0,008 Aktivitas Fisik 0,050 Hasil uji statistik paired sample t-test dengan tingkat kepercayaan 95% pada data tingkat pengetahuan menunjukkan nilai Asymp. sig 0,000 . =0,00 <0,. , yang berarti ada perbedaan yang signifikan sebelum dan setelah diberikan edukasi gizi terhadap pengetahuan terkait asupan kalsium dan aktivitas fisik responden. Pada menunjukkan nilai Asymp. sig 0,008 . =0,00 <0,. , yang berarti ada perbedaan yang signifikan sebelum dan setelah diberikan edukasi gizi terhadap asupan kalsium responden. Sedangkan, pada data aktivitas fisik menunjukkan nilai Asymp. sig 0,050 . =0,05 =0,. , yang berarti tidak ada perbedaan yang signifikan sebelum dan setelah diberikan edukasi gizi terhadap aktivitas fisik Selisih rata-rata asupan kalsium mendapatkan edukasi gizi adalah adalah 0,04 poin. Nilai tersebut menunjukkan bahwa edukasi gizi yang dilakukan di poli lansia RSIA Puri Malang tidak mempunyai membantu merubah aktivitas fisik responden lansia dengan aktivitas fisik yang telah biasa dilakukan responden sehari-hari. Penggunaan booklet sebagai media belajar telah mampu mengubah pengetahuan responden, namun tidak SIMPULAN Perbedaan rata-rata pengetahuan responden tentang asupan kalsium dan aktivitas fisik sebelum dan setelah diberikan edukasi gizi sebesar 15,77 poin yang berarti terdapat Berdasarkan uji statistik paired sample ttest menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan. Perbedaan rata-rata asupan kalsium responden sebelum dan setelah diberikan edukasi gizi sebesar 52,95 mg yang terdapat perubahan asupan kalsium Berdasarkan uji statistik paired sample t-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan. Perbedaan rata-rata aktivitas fisik responden sebelum dan setelah diberikan edukasi gizi sebesar sebesar -0,04 poin yang berarti tidak terdapat perubahan aktivitas fisik responden. Berdasarkan uji t-test e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Faizah. Hubungan Asupan Protein. Fosfor, dan Kalsium dengan Kepadatan Tulang Wanita Dewasa Awal. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Semarang. Fitriastutik. Fektivitas Booklet dan Permainan Tebak Gambar dalam Meningkatkan Pengetahuan dan Sikap Siswa Kelas IV terhadap Karies Gigi di SD Negeri 01, 02, dan 03 Bandengan Kecamatan Jepara Kabupat en Jepara Tahun Ajaran 2009. Skripsi: Fakultas Ilmu Keolahragaan. Universitas Negeri Semarang. Semarang. Hardiani. Asupan Kalsium. Natrium dan Kalium pada Ibu Hamil di Indonesia berdasarkan Studi Diet Total. Skripsi Fakultas Ekologi Manusia. Intitut Pertanian Bogor. Hartatik. Sri. Tingkat Pengetahuan. Tingkat Konsumsi Energi. Protein Pasien Ginjal Kronik Hemodialisis Seblum Sesudah Diberikan Konseling Gizi di Rumah Sakit Umum Daerah DR. Iskak Tulungagung. Skripsi Jurusan Gizi. Poltekkes Kemenkes Malang. Istiany. & Rusilanti. Gizi Terapan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Kartasapoetra & Marsetyo. Ilmu Gizi: Korelasi Gizi. Kesehatan. Produktivitas Kerja. Jakarta: Rineka Cipta. Kemenkes RI. Pedoman Pelayanan Gizi Lanjut Usia. Jakarta: Kemenkes RI. Khomsan. Teknik Pengukuran Pengetahuan Gizi. Bogor: Institut Pertanian Bogor. KMK RI No. 1142/Menkes/SK/XII/2008 Pedoman Pengendalian Osteoporosis. Lestari. Hubungan Pengetahuan. Sikap. Aktivitas Fisik. Tingkat Konsumsi Energi dan Protein serta Status Gizi pada Lansia di Desa Belung Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Limbong. Elsa. & Syahrul. Osteoporosis menurut Indeks Massa Tubuh. Paritas, dan Konsumsi Kafein. Jurnal Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Vol. No. 2 Mei, 194-204. menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Edukasi gizi perlu dilakukan secara berkesinambungan dengan memberikan pendalaman materi tentang kebutuhan asupan kalsium bagi lansia disertai contoh menu makanan yang dapat diaplikasikan. Memberikan motivasi agar lansia rutin mengikuti senam lansia dan melakukan Perlu gambaran asupan makanan berdasarkan kebiasaan makan responden sehari-hari DAFTAR PUSTAKA