JURNAL BHAKTI CIVITAS AKADEMIKA Volume VII. Nomor 1. Tahun 2024 ISSN 2615-210X (Prin. dan ISSN . (Onlin. Available Online at http://e-journal. id/index. php/jbca PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PENCEGAHAN STUNTING PADA IBU DAN REMAJA DI DESA MADIGONDO KABUPATEN MAGETAN Priyoto. Program Studi Keperawatan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bhakti Husada Mulia. Email : priyo2014@gmail. Asrina Pitayanti. Program Studi Keperawatan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bhakti Husada Mulia. Email : asrinapitayanti44@gmail. Sesaria Betty Mulyati. Program Studi Farmasi. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bhakti Husada Mulia. Email : arwidyaputra88@gmail. Korespondensi : priyo2014@gmail. ABSTRAK Pemahaman masyarakat terutama ibu dan remaja putri tentang stunting pada anak masih sangat minim, sehingga anak merupakan kelompok yang menjadi pusat perhatian pada pencegahan stunting. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat terutama ibu dan remaja putri dalam inovasi pencegahan stunting pada kelompok beresiko tinggi. Pengabdian masyarakat ini menggunakan metode promosi kesehatan yaitu meliputi pendekatan dan pemberian Peserta yang terlibat dalam kegiatan ini berjumlah 20 individu yang terdiri dari ibu pkk dan remaja putri. Seluruh . %) peserta berpartisipasi aktif dalam kegiatan penyuluhan kesehatan, 80 % peserta mengungkapkan baru mengetahui stunting dan cara pencegahanya. Seluruh . %) peserta mampu mengetahui penyebab stunting dan cara pencegahnya. Kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa hasil Pengetahuan masyarakat tentang stunting dapat meningkat dengan mengoptimalkan peran keluarga terutama ibu dan remaja putri dalam mengasuh anak maupun peran dalam keluarga tentang Cegah Stunting Dengan Pola Makan. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Selama Periode 1000 Hari Pertama Kehidupan Kata Kunci : Stunting. Pencegahan. Pendidikan Kesehatan Halaman | 15 PENDAHULUAN Stunting didefinisikan sebagai indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) kurang dari minus dua standar deviasi (-2SD) atau di bawah rata-rata standar yang ada (AAC/SCN, 2. Hal tersebut menunjukan bahwa normalnya tinggi badan menurut usia berada pada pada rentang -2 SD samapai 2SD kurva pertumbuhan menurut WHO. Stunting menggambarkan status gizi kurang yang bersifat kronik pada masa pertumbuhan dan perkembangan anak sejak awal kehidupan yang merupakan hasil dari interaksi yang kompleks dari berbagai faktor, yaitu antara pengaruh rumah tangga, lingkungan, sosial ekonomi dan budaya (Stewart et al. Stunting merupakan salah satu permasalahan gizi pada anak secara global. Sekitar 161 juta anak balita di dunia mengalami stunting yang mana setengah dari jumlah balita stunting tinggal di wilayah Asia . e Onis & Branca, 2. Sumber dari UNICEF/WHO/World Bank tahun 2017 menunjukan bahwa Indonesia berada pada urutan ke-4 untuk stunting di dunia. Selain itu, data tahun 2017 tentang anak indonesia yang diterbitkan Bappenas dan UNICEF menunjukkan, beban ganda malnutrisi atau gizi buruk sudah menjadi sebuah hal serius. Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018, didapatkan angka kejadian balita stunting . endek dan sangat pende. di Indonesia mencapai 30. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh Kementerian kesehatan berkolaborasi dengan Badan Pusat Statistik tahun 2019 menunjukan bahwa angka balita stunting turun 67 persen. Akan tetapi, angka tersebut masih di atas menjadi masalah kesehatan masyarakat menurut WHO (>20%). Masalah gizi, terutama stunting pada balita memiliki dampak negatif yang akan berlangsung dalam kehidupan selanjutnya. Dampak jangka pendek dari stunting dapat menyebabkan mortalitas, morbiditas dan disabilitas pada anak. Sedangkan dampak jangka panjang dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan pada saat dewasa, perkembangan kemampuan kognitif, produktivitas ekonomi, penampilan reproduksi, penyakit metabolik dan kardiovaskuler (UNICEF, 1990 dalam UNICEF, 2. Seluruh lapisan masyarakat diharapkan ikut peduli dan bergerak dalam upaya pencegahan stunting pada anak, termasuk para remaja. WHO menetapkan batas usia 10 Ae 20 tahun sebagai batasan usia remaja (Sarwono, 2. Masalah sosial merupakan salah satu hambatan para remaja dalam menjaga kesehatan diri. Tidak hanya karena tekanan lingkungan, tidak jarang mereka kerap mengikuti tokoh selebriti pujaan mereka tanpa memahami kecukupan gizi yang Selain itu, kecenderungan remaja di perkotaan saat ini lebih menyukai makanan dan minuman cepat saji. Akibatnya, berbagai masalah gizi pun muncul. Maka remaja, terutama yang saat ini berada di generasi Z, harus mendapatkan akses edukasi terutama soal pendidikan mengenai gizi seimbang dan Generasi Z merupakan generasi yang lahir setelah generasi Y, yang didefinisikan sebagai orang yang lahir dalam rentang tahun 1995 sampai 2010 (Herunisa, 2. Remaja, terutama remaja putri, akan menjadi orangtua yang akan melahirkan anak-anaknya dan menjadi generasi penerus bangsa. Tahun 2030 diperkirakan 68 persen penyangga ekonomi Indonesia adalah usia produktif, dimana remaja pada saat ini merupakan usia produktif yang akan melahirkan anak Halaman | 16 di kemudian hari. Beberapa permasalahan gizi pada remaja puteri diantaranya status gizi pendek 27. 6%, sangat pendek sebanyak 7,9%, kurus 1,2%, sangat kurus 3,5%, gemuk 15,1% dan obesitas 4,3%. Selain itu, masalah kesehatan yang sering terjadi pada remaja adalah anemia. Hal tersebut merupakan asal muasalnya dari 1000 hari pertama kehidupan yang merupakan faktor terjadinya stunting. Hal tersebut didukung dengan beberaa hasil penelitian yang menyatakan bahwa faktor maternal merupakan salah satu penyebab terjadinya stunting. Status gizi ibu, tinggibadan ibu, pengetahuan ibu tentang gizi berhubungan dengan kejadian stunting (Akombi, et al, 2017. Kusumawati. Rahardjo & Sari, 2015. NiAomah & Nadhiroh, 2010. Solihin, et al, 2. PELAKSANAAN DAN METODE Adapun tahapan dalam pelaksanaan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini yakni : Lokasi dan Waktu Pengabdian Kegiatan dilaksanakan di Desa Madigondo Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan waktu pelaksanaan kegiatan ini adalah 17 Februari 2023. Target Sasaran Sasaran pada kegiatan pengabdian ini meliputi Ibu Ibu dan Anak Anak yang berdomisili di Desa Madigondo Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan yang berjumlah 20 Individu berdasarkan kesediaan masyarakat untuk berpartisipasi dalam promosi kesehatan dalam pencegahan stunting. Sosialisasi tentang tujuan dan prosedur pelaksanaan kegiatan telah dilakukan. Metode Pengabdian Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini merupakan kegiatan promosi Metode promosi kesehatan yang dilakukan menggunakan metode Indikator keberhasilan dari kegiatan masyarakat ini adalah 75 % pengetahuan Ibu Ibu dan 25% remaja putri yang diharapkan pasca mengikuti kegiatan promosi kesehatan ini lebih baik dalam mencegah stunting/ kerdil pada anak. Kegiatan evaluasi dengan metode ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya sebuah peningkatan mengenai pengetahuan ibu dan anak yang berdomisili di Desa Madigondo Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan. HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PEMBAHASAN Kegiatan promosi kesehatan pada Ibu Ibu dan Anak Anak telah dilaksanakan di Desa Madigondo Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan. Kegiatan promosi kesehatan ini bertema AuPencegahan stunting/kerdil dihadiri oleh 20 individu yang meliputi Ibu Ibu dan Anak Anak serta diketahui oleh kepala Desa Madigondo yang hadir ditempat, tokoh masyarakat dan perwakilan dari Puskesmas Takeran. Kegiatan ini diawali dengan doa pembuka setelah itu ibu dan remaja putri diberikan penyuluhan. Sebelum itu masyarakat mendapatkan informasi tentang Gizi untuk pencegahan stunting selama A30 menit dan pada saat diadakan tanya jawab masyarakat antusias dan aktif dalam bertanya, fasilitator aktif dalam umpan balik serta penjelasan singkat mengenai pertanyaan mengenai seputaran pemberian nutrisi pada pencegahan stunting, mereka mengatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi Ibu dan remaja putri untuk bekal di Halaman | 17 masa depan dan kegiatannya menarik dan aktif. Dan respon dari acara ini sangat positif karena para peserta senang dalam mengikuti acara. Karaktristik responden kegiatan pemberian puding dan hard candy sebagai pencegahan stunting pada balita Tabel 1. Karaktristik responden kegiatan pemberian pendidikan kesehatan pada ibu dan remaja Usia Frekuensi Presentase (%) 15-22 Tahun 50,0% 23-35 Tahun 50,0% Jenis kelamin Frekwensi Presentase (%) Perempuan Pendidikan Frekwensi Presentase (%) 35,00% SMP 25,00% SMA 35,00% Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa sebagian remaja putri . Tahun sebanyak 10 orang . 0%), dewasa sebanyak 10 orang . ,0%) sedangkan berdasarkan jenis kelamin perempuan sebanyak 20 orang . %). Berdasarkan tingkat pendidikan SD 7 orang . 0%). SMP 5 orang . dan SMA 7 orang . Tingkat pengetahuan ibu dan remaja tentang stunting Tabel 2. Distribusi gambaran tingkat pengetahuan ibu dan remaja tentang stunting di Desa Madigondo Pengetahuan responden Frekuensi Presentase(%) Tinggi Sedang Rendah Jumlah Berdasarkan tabel 2 dapat dideskripsikan bahwa tingkat pengetahuan yang paling dominan berada pada tingkat pengetahuan yang sedang sebanyak 10 responden . ,0%). Berdasarkan hasil tersebut dapat dideskripsikan bahwa tingkat pengetahuan yang paling dominan berada pada tingkat pengetahuan yang sedang sebanyak 10 responden . ,0%). Tim pelaksana kegiatan berasumsi bahwa pengetahuan yang dimiliki dari seseorang tidak lepas dari pengalaman yang telah didapatkan khususnya stunting, karena responden mengungkapkan belum mengetahui tentang stunting secara mendalam. Stunting pada masa kanak-kanak berhubungan dengan keterlambatan perkembangan motorik dan tingkat kecerdasan yang lebih rendah, stunting juga dapat menyebabkan depresi fungsi imun, perubahan metabolik, penurunan perkembangan motorik, rendahnya nilai kognitif dan rendahnya nilai akademik Masalah kurang gizi misalnya Kurang Energi Protein (KEP). Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI). Anemia gizi. Kurang Vitamin A yang masih menjadi masalah terpenting. Salah satu dari masalah gizi yang terjadi di Indonesia adalah stunting. Permasalahan balita dengan stunting atau pendek disebabkan karena berbagai faktor, faktor utama yang menyebabkan balita stunting atau pendek adalah asupan ASI (Air Susu Ib. dan asupan pelengkap yang tidak optimal, infeksi berulang dan kekurangan zat gizi mikro. Halaman | 18 Pemahaman mengenai stunting yang diukur pada kegiatan ini ini diantaranya pengertian, pemicu, tanda serta gejala, dampak, upaya pencegahan dan penatalaksanaan yang dilakukan jika anak mengalami stunting. Hal ini sejalan dengan penelitian menurut Rahmawati . pengetahuan tentang stunting yang diukur dalam penelitian melalui kuesioner meliputi pengertian pemicu, tanda gejala, pencegahan dan faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting. Gambar 1. Pemasangan poster terkait stunting Pengetahuan ibu mengenai gizi yang tinggi bisa memberikan pengaruh terhadap pola makan balita yang nantinya dapat memberi pengaruh pada status gizi balita. Bilamana pemahaman yang dimiliki ibu baik, ibu bisa memilih serta memberi makanan untuk balita baik dari aspek kuantitas ataupun kualitas yang bisa mencukupi angka kebutuhan gizi yang diperlukan balita hingga akhirnya bisa memberi pengaruh status gizi pada balita Gambar 2. Program pembagian makanan tambahan bagi anak paud didesa Madigondo Halaman | 19 KESIMPULAN Edukasi terkait stunting merupakan hal penting yang saat ini harus dilakukan kepada masyarakat. Kondisi ini menjadi semakin penting karena tanpa adanya informasi dan pengetahuan yang memadai mengenai stunting akan menjadikan ibu balita cenderung mengabaikan kondisi balitanya. Semakin dini kondisi stunting terdeteksi, maka semakin besar pula kesempatan bagi balita stunting untuk bisa tumbuh dan berkembang secara optimal SARAN Gerakan bersama antara pemerintah, civitas akademika dan masyarakat menjadi sangat penting sebagai upaya untuk mencegah dan mengendalikan Implementasi kebijakan yang tepat sasaran adalah kunci utama mengatasi permasalahan stunting yang terjadi DAFTAR PUSTAKA