Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu ISSN: P 2527-6875 | E 2684-9569 Vol. No. Desember 2025 | Pages. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. Interntional Lincese Al-Bahtsu Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Taklim Keluarga bagi Pendidikan Akhlak Anak di Kalangan Jamaah Tabligh di Kota Bengkulu Wahyu Hidayat1. Lydia Margaretha2 Universitas Dehasen Bengkulu. Indonesia wahyuhidayat779@unived. argarethalydia@gmail. Abstract This research aims to deeply examine the role of family taklim . eligious instructio. in facilitating and shaping children's moral education . within the Jamaah Tabligh community in Bengkulu City. This study utilized a qualitative field research method in the form of a case study with a descriptive-analytical approach, seeking to interpret the phenomenon holistically. The research population included all Jamaah Tabligh families actively conducting taklim, while the sample consisted of 5-7 core families . arents and childre. selected through a purposive sampling technique. Data collection was carried out using in-depth interviews, participant observation, and documentation study. Data analysis was applied using the Miles and Huberman interactive qualitative analysis model, which includes data reduction, data display, and conclusion The results indicate that family taklim acts as an effective hidden curriculum in transferring the values of amar ma'ruf nahi munkar . njoining good and forbidding wron. , creating a disciplined moral environment, and instilling Islamic morality in children. The recommendation from this study is the necessity of optimizing taklim material through the integration of contemporary issues and the development of taklim e-modules. Keywords: Family Taklim. Moral Education (Akhla. Jamaah Tabligh. How to cite this article: Hidayat. Margaretha. Taklim Keluarga bagi Pendidikan Akhlak Anak di Kalangan Jamaah Tabligh di Kota Bengkulu. Al-Bahtsu: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 10. , 264-275. Received: 7/29/2025 Revised: 10/27/2025 Accepted: 11/16/2025 Vol. No. Desember 2025 | Pages. 264-275 | 265 PENDAHULUAN Secara etimologis, istilah "Taklim" berasal dari kata Arab "Aoallama-yuAoallimu-taAoliman", yang bermakna pengajaran atau pembelajaran. Dalam perspektif Islam. Taklim merujuk pada berbagai kegiatan keagamaan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran spiritual, tidak hanya terbatas pada lembaga formal, tetapi juga mencakup forum-forum informal, termasuk di lingkungan keluarga. Taklim berperan sebagai inti dari proses internalisasi nilai-nilai agama antargenerasi. Pada masa kontemporer, fungsi Taklim keluarga semakin penting sebagai benteng utama perlindungan anak dari arus informasi global yang tak terkendali. Melalui Taklim keluarga, orang tua tidak hanya mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga berperan sebagai teladan utama dalam praktik keagamaan harian. Pendidikan AkhlakAiyang sering disamakan dengan pendidikan karakterAi merupakan esensi ajaran Islam. Rasulullah A Abersabda, "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. " Pernyataan ini menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan Islam bukan sekadar transfer pengetahuan . atau keterampilan . , melainkan pembentukan perilaku dan budi pekerti . yang luhur. Akhlak yang baik meliputi hubungan manusia dengan Tuhannya . , sesama manusia . , dan lingkungan sekitar. Kegagalan dalam pendidikan akhlak dapat langsung berdampak pada disfungsi sosial, seperti peningkatan kenakalan remaja, intoleransi, dan dekadensi moral di masyarakat. Oleh karena itu. Pendidikan Akhlak menempati posisi sentral dalam visi pendidikan nasional maupun keagamaan. Jamaah Tabligh adalah gerakan dakwah yang didirikan oleh Maulana Muhammad Ilyas di India. Miller dalam studinya menjelaskan bahwa JT adalah gerakan yang berfokus pada revivalisme iman (IhyaAo al-Ima. dan memperbaiki kualitas amal umat Islam secara individu melalui metode dakwah yang low-profile dan menghindari konfrontasi Ciri khas JT adalah desentralisasi pendidikan dan sentralisasi amalan. Pendidikan utama terjadi di rumah (Ta'lim haria. dan di masjid (Baya. , yang ditujukan untuk menciptakan lingkungan mikro yang sepenuhnya Islami di tengah masyarakat sekuler/modern. Jamaah Tabligh (JT) merupakan gerakan dakwah lintas negara yang fokus pada upaya menghidupkan kembali praktik dasar Islam melalui pendekatan khurj . dan daAowah . Meskipun sering dipandang sebagai gerakan puritan. JT memiliki ciri khas dalam metodologinya: penekanan pada kesederhanaan, penolakan terhadap keterlibatan politik praktis, dan fokus pada perbaikan diri . slah dir. Salah satu praktik fundamental dalam JT adalah Taklim Keluarga atau Ta'lim Harian di rumah. Tradisi Taklim ini memiliki format standar, melibatkan seluruh anggota keluarga, dan umumnya menggunakan kitab-kitab tertentu . eperti Fadhail AAoma. Taklim ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya sistematis dan intensif untuk menciptakan nr . hidayah dalam rumah tangga, yang diharapkan dapat membentuk perilaku spiritual anakanak secara konsisten. Secara global. JT telah menjadi fenomena sosiologis yang menarik perhatian. Gerakan ini berhasil menarik jutaan pengikut dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan pendidikan. Keberhasilannya sering dikaitkan dengan pendekatan dakwah personal This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 266 | Wahyu Hidayat1. Lydia Margaretha2 . dan struktural yang didasarkan pada enam sifat utama yang diajarkan . man, salat, ilmu dan zikir, ikramul muslimin, ikhlas, dan khur. Meskipun demikian. JT tidak terhindar dari kontroversi dan kritik, khususnya terkait pandangan mereka tentang peran perempuan, interpretasi tekstual agama yang literal, dan minimnya partisipasi dalam isuisu sosial-politik terkini. Namun, dari sudut pandang internal. JT dinilai sangat efektif dalam mentransformasi identitas sosial anggotanya menjadi individu yang lebih religius dan disiplin. Di Kota Bengkulu, fenomena JT dapat diamati melalui keberadaan markaz . usat kegiata. dan intensitas aktivitas khurj lokal maupun regional. Anggota JT di Bengkulu, seperti di tempat lain, menjalankan praktik harian, termasuk Taklim keluarga yang ketat. Kesetiaan mereka terhadap rutinitas Taklim menunjukkan komitmen tinggi terhadap pendidikan agama di rumah. Hal ini menciptakan lingkungan keluarga yang unik, di mana norma-norma keagamaan menjadi acuan utama dalam pola pengasuhan anak. Oleh karena itu, keluarga JT di Bengkulu berfungsi sebagai laboratorium sosial yang menarik untuk mengamati bagaimana mekanisme Taklim keluarga yang intensif memengaruhi pembentukan akhlak anak, khususnya dalam menghadapi dinamika sosial masyarakat Bengkulu yang beragam. Meskipun Taklim keluarga oleh JT tampak ideal sebagai upaya pembentukan akhlak, terdapat kesenjangan antara ekspektasi normatif dan realitas empiris yang perlu dikaji. Ekspektasi Normatif (Teoreti. , misalnya. Taklim keluarga yang intensif, terstruktur, dan berbasis kitab-kitab keutamaan amal diharapkan secara linier dan langsung menghasilkan anak-anak dengan akhlak luhur, disiplin spiritual, dan terhindar dari perilaku menyimpang. Sementara itu. Realitas Empiris (Faktua. menunjukkan bahwa secara kasat mata, anakanak dari keluarga JT di Kota Bengkulu menunjukkan disiplin ritual yang tinggi . eperti rajin salat dan berpakaian islam. Namun, di sisi lain, sering muncul pertanyaan tentang kemampuan adaptasi mereka di lingkungan sosial yang lebih luas. Apakah pendekatan Taklim yang monolitik dan ritualistik ini berhasil menanamkan akhlak sosial yang adaptif, toleran, dan kritis? Laporan-laporan informal mengindikasikan potensi kesenjangan kognitif antara pemahaman agama yang diperoleh di rumah dengan tuntutan kurikulum formal di sekolah, atau kesulitan bersosialisasi dengan teman sebaya non-JT. Hal ini menimbulkan pertanyaan kritis: Apakah internalisasi nilai dari Taklim keluarga JT mampu memfasilitasi Pendidikan Akhlak yang komprehensif dan multidimensi . eliputi aspek personal dan sosia. dalam konteks masyarakat Bengkulu? Bagaimana efektivitas dan implementasi Taklim Keluarga di kalangan Jamaah Tabligh Kota Bengkulu dalam konteks Pendidikan Akhlak Anak, serta apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam proses pembentukan akhlak sosial dan ritual anak? Kajian mengenai Jamaah Tabligh (JT) telah banyak dilakukan, tetapi sebagian besar terfokus pada tiga aspek. Pertama, studi keagamaan/doktrin, yang menjelaskan enam sifat, sistem khurj, dan perbandingan doktrin JT dengan kelompok Islam lainnya. Kedua, studi sosiologis/antropologis, yang menganalisis pola rekrutmen, transformasi identitas, dan peran JT dalam masyarakat. Ketiga, studi pendidikan, yang beberapa di antaranya mengkaji pola pengasuhan atau pendidikan agama pada komunitas tertentu, tetapi penelitian yang secara spesifik mengkaji hubungan antara mekanisme Taklim Keluarga JT yang khas dengan hasil Pendidikan Akhlak Anak dalam konteks lokal Bengkulu masih sangat terbatas . Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. Desember 2025 | Pages. 264-275 | 267 Kajian sebelumnya sering kali menggeneralisasi Pendidikan Akhlak dari keluarga Islam secara umum, tanpa mendalami metode, materi, dan dampak spesifik dari Taklim yang diterapkan oleh JT. Hal ini menunjukkan adanya celah signifikan dalam riset terdahulu, khususnya pada fokus mekanisme khusus, di mana belum ada penelitian mendalam, terutama di Kota Bengkulu, yang menganalisis secara mendalam bagaimana kurikulum informal (Taklim Fadhail AAomal, dll. ) dan metodologi dakwah JT yang unik . istem masywarah, penekanan pada khur. terintegrasi atau bertentangan dengan upaya Pendidikan Akhlak Anak secara holistik. Selain itu, celah terletak pada dimensi akhlak ganda, di mana kajian sebelumnya cenderung memandang akhlak hanya dari dimensi ritual . isiplin salat/puas. Penelitian ini akan mengisi celah tersebut dengan mengukur dan menganalisis dimensi akhlak sosial . oleransi, empati, interaksi dengan non-JT) sebagai hasil dari Taklim keluarga JT. Penelitian ini tidak hanya bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena, tetapi secara mendasar berupaya mengisi kesenjangan riset yang telah diidentifikasi, sehingga menghasilkan kontribusi akademis dan metodologis yang signifikan. Kebaruan . penelitian ini terletak pada tiga pilar utama: Pertama, terletak pada Pendekatan Integratif yang digunakan untuk menganalisis fenomena ini. Kajian-kajian sebelumnya cenderung memisahkan antara studi Sosiologi Keluarga . hususnya pola pengasuha. dan Studi Gerakan Islam . nalisis terhadap ideologi dan struktur Jamaah Tablig. Penelitian ini secara sadar mengintegrasikan kedua disiplin ilmu tersebut. Analisis tidak hanya memandang output akhlak anak sebagai produk pola pengasuhan orang tua secara umum, tetapi menelusuri bagaimana input berupa mekanisme dakwah dan ajaran khas dari Gerakan Islam (Jamaah Tablig. melalui Taklim keluarga yang terstruktur secara langsung membentuk lingkungan sosial internal keluarga tersebut. Dengan kata lain, penelitian ini memandang keluarga Jamaah Tabligh sebagai unit sosiologis yang terbentuk dan dibingkai oleh ideologi gerakan keagamaan, sehingga analisis Pendidikan Akhlak harus mempertimbangkan interaksi dinamis antara struktur keluarga dan struktur dakwah. Kedua, kebaruan terletak pada Fokus Lokal dan Eksplisit dari objek penelitian. Meskipun Jamaah Tabligh merupakan gerakan global, efektivitas praktik mereka sangat dipengaruhi oleh adaptasi dan pelaksanaan di tingkat lokal. Penelitian ini merupakan salah satu studi pertama yang secara eksplisit mengkaji efek kausal . enggunakan desain quasi-eksperimental untuk mendekati hubungan sebab-akiba. dari Taklim Keluarga Jamaah Tabligh terhadap Pendidikan Akhlak Anak di wilayah spesifik Kota Bengkulu. Fokus ini memberikan relevansi tinggi terhadap konteks sosiokultural lokal Bengkulu dan menyediakan data empiris yang dapat dimanfaatkan oleh komunitas setempat, seperti Madrasah yang menaungi lembaga pendidikan agama, dalam mengevaluasi efektivitas program internal mereka. Dengan memfokuskan pada dimensi lokal, temuan ini dapat memberikan rekomendasi kebijakan yang lebih aplikatif dibandingkan studi global . Ketiga, dan yang paling krusial secara metodologis, adalah Pengukuran Dampak NonRitual. Mayoritas kajian tentang keberhasilan pendidikan agama cenderung berhenti pada pengukuran dimensi Akhlak Ritual, seperti frekuensi salat, puasa, atau cara berpakaian. Penelitian ini menawarkan kontribusi metodologis dengan mengembangkan instrumen yang secara kualitatif mengukur dampak Taklim terhadap kompetensi sosial . ocial competenc. dan penalaran moral . oral reasonin. Penelitian akan menguji This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 268 | Wahyu Hidayat1. Lydia Margaretha2 apakah disiplin ritual yang tinggi dari Taklim keluarga JT sejalan dengan kemampuan anak untuk berempati, menunjukkan toleransi, dan membuat keputusan etis dalam lingkungan sosial yang beragam. Pengukuran dampak di luar kepatuhan ritual ini merupakan kunci untuk memberikan gambaran yang utuh dan holistik tentang keberhasilan Pendidikan Akhlak, menjadikannya sebuah penelitian yang komprehensif dan terkini. Taklim Keluarga Jamaah Tabligh terhadap Pendidikan Akhlak Anak di Kota Bengkulu memiliki urgensi yang sangat tinggi, baik dari perspektif akademis, kebijakan publik, maupun komunitas itu sendiri. Sehingga penelitian ini akan menyediakan data empiris yang valid dan reliabel mengenai efektivitas model pendidikan agama informal yang terstruktur di lingkungan rumah tangga. Di tengah dominasi kajian tentang pendidikan formal dan non-formal . ekolah dan madrasa. , literatur mengenai Pendidikan Islam berbasis komunitas dan keluarga masih memerlukan penguatan. Dengan menganalisis secara mendalam bagaimana Taklim yang diatur oleh sebuah gerakan Islam transnasional beroperasi di tingkat mikro keluarga, penelitian ini akan memperkaya khazanah keilmuan tentang Pendidikan Islam dan Sosiologi Keluarga di Indonesia. Temuan ini penting untuk membandingkan keberhasilan pola pengasuhan agama berbasis doktrin gerakan dengan pola pengasuhan umum, sehingga memperluas pemahaman tentang mekanisme transmisi nilai-nilai keagamaan dalam masyarakat modern. Selanjutnya penelitian ini memiliki Kontribusi Kebijakan yang nyata. Masalah akhlak dan karakter pada generasi muda memerlukan respons kebijakan yang adaptif dan berbasis bukti. Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan penting bagi Kementerian Agama dan lembaga pendidikan terkait di Bengkulu. Data tentang keberhasilan Taklim dalam aspek Akhlak Ritual, serta potensi kelemahannya dalam mengembangkan Akhlak Sosial, dapat digunakan untuk merumuskan program penguatan karakter yang lebih Kebijakan ini dapat berupa pengembangan kurikulum suplemen yang dirancang secara adaptif, khususnya bagi komunitas keagamaan yang sudah memiliki sistem pendidikan internal yang kuat, seperti Jamaah Tabligh, agar anak-anak mereka tetap memiliki kompetensi sosial yang tinggi dan mampu berinteraksi secara toleran dalam masyarakat Bengkulu yang beragam. Terakhir, penelitian ini memberikan Kontribusi Komunitas yang bersifat reflektif dan Jamaah Tabligh sebagai sebuah gerakan selalu berusaha untuk memperbaiki diri . Hasil penelitian yang objektif ini akan menjadi refleksi kritis bagi komunitas Jamaah Tabligh sendiri mengenai kekuatan dan kelemahan model Taklim keluarga yang mereka praktikkan. Jika ditemukan bahwa metode Taklim yang ada unggul dalam aspek ritual tetapi kurang optimal dalam menyiapkan anak menghadapi tantangan moral dan sosial di era modern . isalnya dalam hal literasi media, penalaran etika, atau tolerans. , komunitas dapat secara internal memodifikasi materi Taklim mereka. Dengan demikian, penelitian ini membantu memastikan bahwa Taklim yang dilakukan bukan hanya menghasilkan anak yang saleh secara individual, tetapi juga saleh secara sosial . ocially competen. , sehingga dakwah dan praktik mereka dapat menjadi lebih komprehensif dan relevan bagi kemaslahatan umat secara keseluruhan. METODE Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. Desember 2025 | Pages. 264-275 | 269 Penelitian ini dirancang untuk memperoleh pemahaman mendalam terhadap fenomena sosial terkait implementasi dan pemaknaan proses Taklim Keluarga di kalangan Jamaah Tabligh Kota Bengkulu, serta kontribusinya dalam membentuk akhlak anak. Dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif melalui pendekatan fenomenologi interpretif, studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna subyektif, pengalaman, dan persepsi anggota Jamaah TablighAiterutama orang tua dan anakAimengenai rutinitas Taklim Keluarga, bukan untuk menguji hubungan kausalitas secara statistik. Pendekatan fenomenologi ini dipilih untuk menangkap esensi pengalaman hidup keluarga di Bengkulu, khususnya dalam konteks pendidikan akhlak, serta mendeskripsikan realitas sosial yang mereka konstruksi di lingkungan rumah tangga. Lokasi penelitian dipilih di Kota Bengkulu, dengan fokus pada keluarga anggota aktif Jamaah Tabligh yang secara konsisten menjalankan Taklim Keluarga harian. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada keberadaan komunitas Jamaah Tabligh yang terorganisir dengan baik, sehingga menjadi konteks ideal untuk mengamati praktik keagamaan informal yang terstruktur. Sumber data utama meliputi narasumber seperti orang tua inti . yah dan ib. sebagai aktor utama yang merancang serta melaksanakan Taklim, anak usia sekolah (SD/SMP) yang memberikan perspektif langsung tentang pengalaman dan penerapan nilai-nilai tersebut dalam interaksi sosial sehari-hari, serta tokoh kunci seperti koordinator Taklim di markaz setempat untuk konteks struktural. Data sekunder diperoleh dari dokumen pendukung, termasuk catatan harian atau jadwal Taklim, transkrip materi seperti Fadhail AAomal, dan data demografi komunitas. Teknik penentuan subjek menggunakan purposive sampling untuk memilih keluarga yang memenuhi kriteria keaktifan, diikuti snowball sampling untuk memperluas jaringan berdasarkan rekomendasi narasumber hingga mencapai saturasi data. Pengumpulan data dilakukan melalui triangulasi tiga teknik utama untuk memastikan kedalaman kualitatif. Wawancara mendalam semi-terstruktur digunakan sebagai teknik primer untuk mengeksplorasi perspektif narasumber secara fleksibel, memungkinkan mereka menceritakan pengalaman Taklim, pemaknaan akhlak, serta tantangan sosial Observasi partisipatif melibatkan peneliti langsung dalam kegiatan Taklim di rumah tangga terpilih dan pertemuan komunitas, dengan fokus pada interaksi, ritual, dan perilaku akhlak selama pembacaan materi. Studi dokumentasi melengkapi dengan mengumpulkan materi Taklim, catatan keluarga, dan laporan kegiatan untuk memperkuat Validitas data dijamin melalui triangulasi sumberAidengan membandingkan informasi dari orang tua, anak, dan tokoh kunciAiserta triangulasi metode, yang melibatkan perbandingan data dari wawancara, observasi, dan dokumen. Analisis data mengikuti model interaktif Miles. Huberman, dan Saldana, yang meliputi tiga kegiatan simultan: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data melibatkan pemilihan, pemfokusan, penyederhanaan, dan abstraksi data mentah dari transkrip wawancara serta catatan observasi, dengan penekanan pada isu inti implementasi Taklim dan dampaknya terhadap akhlak anak. Penyajian data mengorganisir informasi yang telah direduksi dalam bentuk narasi, matriks, atau peta tematik untuk mengidentifikasi pola, tema, dan hubungan antarvariabel. Penarikan kesimpulan dilakukan secara tentatif sejak awal pengumpulan data dan diverifikasi terus-menerus, menghasilkan deskripsi mendalam dan interpretif tentang esensi Taklim Keluarga sebagai model pendidikan akhlak di Kota Bengkulu. Melalui pendekatan ini, penelitian This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 270 | Wahyu Hidayat1. Lydia Margaretha2 menghasilkan narasi komprehensif yang menjelaskan proses efektivitas atau tantangan Taklim dalam membentuk akhlak anak secara holistik. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data-data yang di himpun dari sumber primer dan sekunder, peneliti memperoleh temuan lapangan melalui wawancara mendalam dengan informan utama, yaitu ayah, ibu, dan tokoh masyarakat Jamaah Tabligh, yang diperkuat oleh observasi serta analisis literatur terkait, sehingga menghasilkan temuan berikut. Temuan ini diklasifikasikan ke dalam kategori tematik untuk memfasilitasi pemahaman mengenai implementasi Taklim Keluarga dan dampaknya terhadap pendidikan akhlak anak di kalangan Jamaah Tabligh di Kota Bengkulu. Klasifikasi temuan mencakup: . Karakteristik Pelaksanaan Taklim Keluarga, . Peran Taklim Keluarga dalam Pendidikan Akhlak Anak, . Bentuk-Bentuk Akhlak Anak yang Terbentuk, dan . Faktor Pendukung serta Penghambat. Karakteristik Pelaksanaan Taklim Keluarga Pada bagian Karakteristik Pelaksanaan Taklim Keluarga, yang berfokus pada aspek pelaksanaan, temuan menguraikan bagaimana Taklim Keluarga dijalankan dalam rumah tangga Jamaah Tabligh di Kota Bengkulu, mencakup frekuensi, materi, dan metode yang Taklim Keluarga dilaksanakan secara rutin setiap hari, umumnya setelah shalat Maghrib atau Isya, dengan durasi berkisar antara 15 hingga 30 menit. Materi utama berasal dari Fadhail A'mal dan Hayaatus Shahabah serta kitab-kitab keagamaan dasar lainnya, yang menekankan enam sifat dasar Jamaah Tabligh. Metode penyampaian dominan menggunakan pembacaan dan penyampaian secara bergantian antara suami, istri, dan anak yang telah mampu, dengan penekanan pada pemahaman dasar keutamaan Peserta Taklim melibatkan seluruh anggota keluarga, yaitu ayah, ibu, dan anak, serta sering kali mencakup kerabat dekat yang tinggal serumah. Peran Taklim Keluarga dalam Pendidikan Akhlak Anak Dari segi peran dalam pendidikan akhlak anak. Taklim Keluarga berfungsi sebagai sarana penanaman nilai keimanan, ketaatan ibadah, kejujuran, serta pembiasaan amalan sunnah seperti doa harian dan adab berpakaian, yang diperkuat melalui kisah sahabat untuk menumbuhkan sikap berbakti kepada orang tua dan berbuat baik kepada sesama, serta internalisasi keikhlasan dan pengorbanan untuk dakwah. Akhlak anak yang terbentuk mencakup ketaatan ibadah seperti rajin shalat berjamaah dan adab berpakaian, sikap hormat kepada orang tua, rendah hati, gemar menolong, serta komunikasi yang Bentuk-Bentuk Akhlak Anak yang Terbentuk Akhlak Anak yang Terbentuk: Akhlak utama meliputi rajin shalat berjamaah, adab berpakaian sesuai syariat, dan sikap hormat kepada orang tua. akhlak sosial mencakup rendah hati dan gemar menolong. akhlak komunikasi melibatkan penggunaan bahasa sopan dan menghindari perkataan sia-sia. Faktor Pendukung: Konsistensi program khuroj memperkuat komitmen orang tua. peran ibu sebagai madrasah pertama memastikan kelancaran kegiatan. lingkungan masjid dan komunitas Jamaah Tabligh mendukung nilaiPublish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. Desember 2025 | Pages. 264-275 | 271 nilai yang diajarkan. Faktor Penghambat: Pengaruh teknologi seperti gadget dan media sosial mengurangi fokus anak. keterbatasan variasi materi dapat menimbulkan kebosanan pada anak usia tertentu Faktor Pendukung serta Penghambat Faktor pendukung meliputi konsistensi program khuroj, peran sentral ibu sebagai madrasah pertama, dan lingkungan komunitas masjid yang mendukung nilai-nilai tersebut, sedangkan faktor penghambat terdiri dari pengaruh teknologi seperti gadget dan media sosial, serta keterbatasan variasi materi yang dapat menimbulkan kebosanan pada anak. Pembahasan ini menyajikan analisis mendalam terhadap temuan penelitian di Kota Bengkulu, yang dikaitkan dengan data empiris hasil wawancara, serta didasarkan pada prinsip-prinsip syariat Islam untuk menjelaskan peran Taklim Keluarga dalam pendidikan akhlak anak di kalangan Jamaah Tabligh. Karakteristik Pelaksanaan Taklim Keluarga: Konsistensi sebagai Pondasi Temuan penelitian menunjukkan bahwa Taklim Keluarga dilaksanakan secara rutin setiap hari . , biasanya setelah salat Maghrib atau Isya, dengan materi yang berfokus pada Fadhail A'mal dan Hayaatus Shahabah. Konsistensi ini merupakan ciri khas yang membedakannya dari majelis taklim yang tidak rutin. Konsistensi pelaksanaan ini diperkuat oleh pernyataan Bapak H. Rahmat, "Kami taklim setiap malam habis Maghrib, tidak boleh bolong," serta Bapak Irfan yang menganggapnya sebagai "makanan pokok rohani. Harus ada setiap hari, walau hanya 5 menit. Hal ini menunjukkan bahwa Taklim telah diinternalisasi sebagai kebutuhan utama, bukan sekadar pelengkap. Konsistensi dalam amal saleh sejalan dengan Hadis Nabi Muhammad SAW: "Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang dikerjakan terus-menerus . , meskipun sedikit. " (HR. Bukhari dan Musli. Peran Taklim Keluarga dalam Pendidikan Akhlak Anak: Keteladanan dan Motivasi Internal Peran utama Taklim Keluarga adalah sebagai sarana penanaman keyakinan . dan nilai-nilai akhlak melalui pendekatan naratif . isah sahaba. serta praktis . a'lim oleh anggota keluarg. Bapak Arif menjelaskan, "Kami lebih banyak fokus pada kisah sahabat (Hayaatus Shahaba. biar anak Pernyataan ini menegaskan fungsi kisah sebagai media keteladanan . Selain itu, melalui rotasi penyampai Taklim, anak diajarkan tanggung jawab dan adab majelis, seperti yang dicontohkan dalam keluarga Bapak H. Rahmat. Penggunaan teladan sejalan dengan perintah Al-Qur'an untuk mengikuti Nabi SAW: This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 272 | Wahyu Hidayat1. Lydia Margaretha2 "Sesungguhnya telah ada pada . Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu . bagi orang yang mengharap . Allah dan . hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. " (QS. Al-Ahzab: . Dalam konteks keluarga Jamaah Tabligh, kisah sahabat menjadi perpanjangan dari keteladanan Nabi, yang diyakini dapat menumbuhkan motivasi . orongan fadhila. untuk beramal dan berakhlak mulia secara sadar dari dalam diri. Bentuk-Bentuk Akhlak Anak yang Terbentuk: Prioritas Ubudiyah dan Muamalah Hasil penelitian menunjukkan bahwa akhlak yang paling menonjol yang terbentuk adalah akhlak ubudiyah . etaatan beribadah, khususnya salat berjamaah dan adab berpakaia. serta akhlak muamalah . ormat kepada orang tua dan tolong-menolon. Ketaatan beribadah ditekankan oleh Bapak H. Rahmat, "anak-anak kalau dipanggil azan sudah tahu diri langsung ke masjid. Sementara itu, adab sosial dijelaskan oleh Bapak Arif, "Anak yang besar ini, kalau lihat ada orang butuh tolong, dia cepat sekali. Pembentukan akhlak ini bersifat holistik. Keluarga Ibu Fatimah juga mencatat, "Anak perempuan saya sudah tahu adab berpakaian. Taklim mengajarkan malu dan menjaga Ketaatan ini didasari oleh penekanan Islam terhadap shalat. Seperti yang di terangkan di dalam al-quran Al-AoAnkabut: 45 sebagai berikut: "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qura. dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari . erbuatan-perbuata. keji dan " (QS. Al-'Ankabut: . Taklim Keluarga secara langsung mengarahkan anak kepada praktik ibadah ini, menjadikannya benteng akhlak . encegah keji dan mungka. Akhlak terhadap orang tua (Birrul Walidai. juga menjadi prioritas, sebagaimana firman Allah: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. " (QS. AlIsra': . Faktor Pendukung dan Penghambat: Pertarungan Mahall dengan Teknologi Faktor pendukung utama adalah konsistensi orang tua . ermasuk peran ibu saat ayah khuro. , sedangkan faktor penghambat terbesar adalah pengaruh teknologi (HP/gadge. Tantangan teknologi secara eksplisit disebutkan oleh Bapak H. Rahmat, "HP. Kalau sudah pegang HP, kadang Taklim harus ditunggu sebentar," dan tantangan pergaulan eksternal oleh Bapak Zul, "Anak sudah sekolah umum, pengaruh pergaulan lebih kuat. Taklim ini harus jadi Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. Desember 2025 | Pages. 264-275 | 273 Di sisi lain, peran ibu sangat mendukung, seperti yang dilakukan Ibu Fatimah, "Meskipun bapak sedang khuroj . Taklim tetap jalan. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan fenomena antara nilai ideal yang diajarkan Taklim . okus pada yakin dan fadhilah ukhraw. dengan realitas modern . ominasi gadget dan informasi duniaw. Taklim Keluarga berfungsi sebagai benteng moral . untuk menjaga mahall . tmosfer spiritua. rumah tangga dari pengaruh luar. Bapak Irfan merangkum tantangan ini sebagai upaya. "mempertahankan mahall . di rumah agar tidak tercemar urusan duniawi yang sia-sia. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa pelaksanaan Taklim Keluarga secara rutin setiap hari, atau yang dikenal sebagai konsistensi, diyakini oleh para informan sebagai faktor utama dalam keberhasilan penanaman akhlak. Temuan ini selaras dengan hasil penelitian sebelumnya mengenai praktik pendidikan di komunitas berbasis agama, seperti yang dikemukakan oleh Faqihuddin . , yang menyatakan bahwa konsistensi dalam ibadah harian merupakan metode paling efektif untuk menanamkan karakter pada anak usia dini. Lebih jauh, temuan ini memperkuat teori Al-Nahlawi . tentang Al-Tarbiyah bi Al-'Adah, atau pendidikan pembiasaan, di mana pengulangan amal saleh secara bertahap menginternalisasi nilai-nilai akhlak tanpa memerlukan paksaan yang berlebihan. Meskipun konsep konsistensi ini serupa, penelitian ini menunjukkan perbedaan penting, yaitu bahwa konsistensi dalam Jamaah Tabligh (JT) didorong oleh struktur gerakan dakwah itu sendiri, khususnya melalui kegiatan khuroj atau keluar selama tiga hari yang memperbarui komitmen para peserta. Hal ini berbeda dari penelitian Ramadhan . , yang melihat konsistensi pembiasaan hanya berasal dari kesadaran individu orang Dalam konteks JT di Bengkulu, faktor komunal seperti masjid atau mahala memainkan peran krusial dalam menjaga keberlangsungan Taklim Keluarga. Pengaruh Kurikulum Narratif Berbasis Fadhail A'mal dan Hayaatus Shahabah Materi Taklim yang berfokus pada keutamaan amal dan kisah hidup para sahabat terbukti memiliki peran penting dalam pembentukan akhlak anak, khususnya dalam aspek ubudiyah atau ketaatan ibadah, serta tawadhu' atau rendah hati. Penggunaan kisah atau storytelling dalam pendidikan akhlak ini sejalan dengan penelitian Hasbi . , yang menekankan efektivitas kisah para nabi dan sahabat sebagai media modeling yang kuat. Materi tersebut memberikan teladan konkrit atau uswah hasanah, sehingga nilai-nilai abstrak seperti ikhlas dan pengorbanan menjadi lebih mudah dipahami oleh anak-anak. Namun, penelitian ini menyoroti kebaruan bahwa materi Fadhail A'mal dan Hayaatus Shahabah tidak hanya bertujuan menanamkan akhlak, tetapi juga menumbuhkan yakin atau keyakinan kepada Allah serta fadhilah atau keutamaan. Ini merupakan perbedaan signifikan dari penelitian Syarifuddin dan Zahra . , yang lebih menekankan dimensi kognitif dalam pendidikan akhlak di sekolah, seperti pengetahuan tentang baik dan Sebaliknya. Taklim Keluarga dalam JT menekankan dimensi afektif dan motivasi internal yang berbasis pada pahala, sehingga menghasilkan ketaatan ibadah yang tinggi sebagai ciri khas pendidikan JT, sebagaimana tercermin dalam temuan selanjutnya. Akhlak yang terinternalisasi. prioritas ketaatan di tengah tantangan modernitas. Temuan penelitian menunjukkan bahwa akhlak yang paling menonjol pada anak-anak adalah ketaatan ibadah, terutama shalat berjamaah, serta sikap hormat kepada orang This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 274 | Wahyu Hidayat1. Lydia Margaretha2 Penekanan pada shalat dan birrul walidain ini sesuai dengan hierarki nilai dalam berbagai studi pendidikan Islam keluarga, seperti yang dikemukakan oleh Mujahid . , di mana shalat dianggap sebagai tiang agama dan indikator utama keberhasilan pendidikan orang tua. Meskipun demikian, penelitian ini mengidentifikasi tantangan signifikan dari teknologi atau gadget sebagai faktor penghambat internalisasi akhlak tersebut. Penelitian Susanto . tentang keluarga modern menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dapat menggeser waktu kebersamaan keluarga. Dalam konteks JT di Bengkulu, fenomena ini menciptakan gap fenomena, yaitu perjuangan nyata orang tua untuk mempertahankan atmosfer spiritual Taklim di tengah arus globalisasi dan digitalisasi. Dengan demikian, penelitian ini menjadi studi yang relevan dalam mengukur ketahanan model pendidikan berbasis tradisi seperti Taklim menghadapi budaya kontemporer. Penelitian ini berhasil mengisi gap riset yang masih jarang mengkaji implementasi Taklim Keluarga Jamaah Tabligh secara spesifik dan mendalam di tingkat rumah tangga, khususnya di wilayah Kota Bengkulu. Penelitian sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh Al-Habsyi . , cenderung fokus pada kegiatan khuroj dan dakwah di tingkat masjid. Sebaliknya, penelitian ini mengalihkan perhatian ke dimensi mikro, yaitu keluarga, dengan menunjukkan bahwa keberhasilan gerakan dakwah sangat bergantung pada penguatan basis internal rumah tangga melalui Taklim Keluarga. Implikasi ini menegaskan urgensi model pendidikan ini dalam konteks sosial dan budaya saat ini. KESIMPULAN Pelaksanaan Taklim Keluarga di kalangan Jamaah Tabligh Kota Bengkulu ditandai oleh konsistensi harian . , sehingga berfungsi sebagai kurikulum informal yang efektif dalam pemben tukan akhlak anak. Kurikulum ini menekankan pendekatan naratif melalui Hayaatus Shahabah dan motivasi intrinsik melalui Fadhail A'mal, yang secara langsung mendukung penguatan akhlak ubudiyah, seperti kepatuhan terhadap shalat berjamaah dan etika berpakaian, serta akhlak muamalah, seperti penghormatan kepada orang tua dan gotong royong, sesuai dengan ajaran Al-Qur'an dan Hadis mengenai istiqamah serta keteladanan. Meskipun efektif dan konsisten. Taklim Keluarga dihadapkan pada tantangan signifikan dari faktor eksternal, khususnya pengaruh teknologi dan gadget serta lingkungan pergaulan, yang dapat mengganggu fokus serta atmosfer spiritual rumah Dalam konteks tersebut. Taklim Keluarga berperan sebagai benteng moral . untuk menjaga atmosfer mahall spiritual di rumah, dengan keberhasilannya sangat bergantung pada peran aktif dan konsistensi seluruh anggota keluarga, terutama peran ibu ketika kepala keluarga sedang melakukan khuroj. DAFTAR PUSTAKA