Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 1 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Implementasi Profil Pelajar Pancasila Dalam Satua Bali: Membentuk Karakter dan Moderasi Beragama Pada Anak Ida Bagus Made Wisnu Parta*. I Gusti Ayu Putu Istri Aryasuari Universitas Dwijendra. Denpasar. Indonesia *wisnu. goes@gmail. Abstract Satua is a Balinese traditional fairy tale or literary work in prose that contains life values, one of which is Satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir! as the object of research. The purpose of this study is to determine whether Balinese satua can educate children's character and foster a sense of religious moderation in Bali. This study uses transformation theory, sociological theory, and ethnopedagogy theory supported by analytical descriptive methods and reading techniques in analyzing data. The results of this study are . revitalizing Balinese language satua by transforming books into learning videos that contain the values of the Pancasila student profile dimensions. There are three basic frameworks of Hinduism in satua, including: . Tatwa . there are five philosophies of faith as the basis of belief called Panca Sradha, . Susila . there are Tat Twam Asi and Tri Kaya Parisudha which emphasize the attitude of mutual belonging and feeling as fellow living beings. Ceremony . there is a sincere holy sacrifice called Yadnya which consists of five parts called Panca Yadnya. Based on the responses of teaching teachers and the responses of 161 students from 9 elementary schools in Bali, 20. 36% chose neutral, 87% agreed, and 29. 76% strongly agreed. Thus, the use of learning video media can increase students' interest in learning and shape children's character according to the profile of Pancasila students, as well as foster an attitude of religious moderation in Bali. Keywords: Pancasila Students. Unity. Character. Religious Moderation Abstrak Satua merupakan sebuah dongeng atau karya sastra tradisional Bali berbentuk prosa yang memuat nilai-nilai kehidupan, salah satunya Satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir! menjadi objek penelitian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui satua Bali dapat mendidik karakter anak dan menumbuhkan rasa moderasi beragama di Bali. Penelitian ini menggunakan teori transformasi, teori sosiologi, dan teori etnopedagogi ditunjang dengan metode deskriptif analitik dan teknik baca dalam menganalisis data. Hasil penelitian ini adalah . merevitalisasi satua berbahasa Bali dengan transformasi buku menjadi video pembelajaran yang mengandung nilai-nilai dimensi profil pelajar Pancasila. Terdapat tiga kerangka dasar agama Hindu dalam satua, meliputi: . Tatwa . terdapat lima filsafat keimanan sebagai dasar kepercayaan disebut Panca Sradha, . Susila . terdapat Tat Twam Asi dan Tri Kaya Parisudha yang menekankan sikap saling memiliki dan merasakan sebagai sesama makhluk hidup. Upacara . terdapat korban suci yang tulus ikhlas yang disebut Yadnya yang terdiri dari lima bagian yang disebut Panca Yadnya. Berdasarkan respon guru pengajar dan respon 161 siswa dari 9 SD di Bali memilih netral 20. 36%, setuju 49. 87%, dan sangat Sehingga, penggunaan media video pembelajaran dapat meningkatkan minat belajar siswa dan membentuk karakter anak sesuai profil pelajar Pancasila, serta menumbuhkan sikap moderasi beragama di Bali. Kata Kunci: Pelajar Pancasila. Satua. Karakter. Moderasi Beragama https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pendahuluan Menurut penelitian Ethnologue: Language of The World menyatakan bahwa Indonesia memiliki sekitar 742 bahasa atau 10% dari total bahasa yang ada di Penelitian dari Australian National University (ANU) pada tahun 2021 menemukan bahwa akhir abad ke-21, sekitar lebih dari setengah bahasa daerah di Indonesia akan mengalami kepunahan (Eberhard et al. , 2. Berdasarkan hal ini, tidak dipungkiri lambat laun Bahasa Bali juga akan mengalami kepunahan, jika para generasi muda malu dan tidak mau menggunakan Bahasa Bali itu sendiri. Untuk melestarikan Bahasa Bali agar tidak punah salah satunya dengan tradisi masatua. Satua merupakan sebuah dongeng atau karya sastra tradisional Bali berbentuk prosa yang memuat nilainilai kehidupan (Candrika, 2. Di dalam satua Bali memuat banyak nilai-nilai filsafat hidup yang dapat membentuk karakter pada anak. Peran pemerintah dalam memasukkan sastra ke dalam kurikulum Merdeka mendapatkan respon yang positif dari masyarakat. Hal ini disebabkan didalam karya sastra terkandung berbagai nilai-nilai yang adiluhung dalam kurikulum Merdeka disebut dimensi profil Pelajar Pancasila. Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024, yang diatur melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020, ditekankan bahwa pelajar Indonesia harus mengembangkan kompetensi pada bertaraf dunia sekaligus mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Prioritas utama dalam pendidikan adalah membentuk karakter Pelajar Pancasila, yang mencerminkan identitas pelajar Indonesia. Pelajar ini memiliki enam karakteristik utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, berwawasan global, bergotong royong, mandiri, kritis, dan kreatif. Profil ini menjadi acuan bagi pendidik dalam membentuk karakter dan meningkatkan kompetensi siswa. Oleh sebab itu, semua pemangku kepentingan harus memahami betapa pentingnya profil Pelajar Pancasila dalam proses pendidikan. Profil ini disusun sedemikian rupa agar dapat dengan mudah dihafal dan diaplikasikan dalam aktivitas sehari-hari, baik oleh guru maupun siswa (Juliani & Bastian, 2021. Santoso et al. , 2. Pendidikan karakter idealnya dimulai sejak usia dini, mengingat pembentukan pribadi yang berkarakter adalah cita-cita luhur bangsa yang masih menghadapi berbagai tantangan (Ramadhan et al. , 2. Pengaruh budaya global menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada degradasi moral generasi muda. Sastra memiliki peran penting dalam pembentukan dan transformasi karakter, karena perkembangan moral, pemikiran, serta sikap anak belum bisa berkembang secara mandiri dan membutuhkan bimbingan dari orang tua dan guru (Suryaman, 2. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah tahap pendidikan sebelum memasuki pendidikan dasar yang bertujuan membimbing anak-anak mulai dari kelahiran hingga mencapai usia enam tahun. Pendidikan yang diberikan melalui berbagai rangsangan bertujuan mendukung perkembangan fisik dan mental anak, sehingga mereka siap secara optimal untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya (Sugiarti, 2. Pendidikan ini diselenggarakan melalui jalur formal, nonformal, dan informal (Syaadah et al. , 2. Dalam hal ini, terdapat tiga lingkungan utama yang berperan dalam membentuk individu yang terdidik, yakni keluarga sebagai lingkungan pertama, sekolah sebagai lingkungan kedua, dan masyarakat sebagai lingkungan ketiga. Pendidikan nonformal berfungsi melengkapi pendidikan formal (Sudarsana, 2. Di dalam membentuk karakter anak dapat dilakukan dengan tradisi masatua. Tradisi masatua atau mendongeng kepada anak semakin jarang dilakukan oleh para orang tua di masyarakat. Padahal, mendongeng biasanya dilakukan oleh orang tua sebelum anak-anak mereka tidur sebagai salah satu bentuk pendidikan karakter. Orang tua, terutama ibu dan ayah, merupakan pendidik utama sebelum anak menerima pendidikan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dari guru di sekolah. Peran mereka sangat penting dalam membentuk karakter anak. sisi lain, guru di sekolah berperan sebagai pendidik kedua yang membantu dalam pengajaran dan pembentukan karakter anak. Kegagalan orang tua dalam mendidik karakter anak dapat menimbulkan beberapa konsekuensi. Pertama, anak akan memiliki kontrol diri yang lemah. Anak yang tidak mampu membedakan perilaku yang dapat diterima dan tidak, atau meskipun sudah mengetahui perbedaannya tetapi tidak bisa mengendalikan diri, akan cenderung terjerumus pada perilaku negatif. Kedua, anak berisiko salah pergaulan. Lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan sikap anak, dan jika mereka terlibat dalam pergaulan yang tidak tepat, hal ini dapat memicu perilaku yang menyimpang (Setiawati, 2. Pengalaman yang diperoleh anak selama di sekolah pendidikan anak usia dini akan mempengaruhi perubahan sikap, perilaku, serta kemampuan bersosialisasi dengan orang lain. Dalam peran orang tua saat anak mulai bersekolah, mereka seharusnya meluangkan waktu untuk berdialog dengan anak mengenai apa yang dipelajari di sekolah, suasana kelas saat pembelajaran, bagaimana sikap gurunya, serta bagaimana hubungan anak dengan teman-temannya. Sayangnya, perhatian semacam ini seringkali terabaikan. Padahal, perhatian kecil semacam ini sangat diharapkan oleh anak, yang biasanya ingin orang tuanya mendengarkan cerita dan keluhan mereka terkait pengalaman di sekolah maupun pergaulan sehari-hari. Peran orang tua dalam mendidik karakter anak memiliki dampak besar terhadap perkembangan anak tersebut. Orang tua tidak hanya bertugas menyekolahkan dan mengantar jemput anak ke sekolah, tetapi juga perlu menjalin kerja sama dengan pihak sekolah. Kolaborasi ini penting untuk memastikan keberhasilan anak dalam pendidikannya, yang merupakan sebuah proses jangka panjang. Keberhasilan pendidikan sangat dipengaruhi oleh peran orang tua dalam mendidik dan mengawasi Jika orang tua lalai dalam memberikan bimbingan dan pengawasan, maka anak berpotensi tumbuh tanpa karakter yang baik (Ningsih, 2. Namun, tidak semua anak mendapatkan pendidikan karakter yang memadai dari keluarganya. Masih banyak anak yang menghadapi kondisi memprihatinkan akibat kesalahan dalam pola pendidikan oleh orang tuanya. Misalnya, ada anak-anak yang dipaksa untuk meminta-minta atau mengamen di jalan oleh orang tuanya, meskipun didorong oleh masalah ekonomi. Tindakan ini sangat tidak pantas diajarkan kepada anak, karena dapat merusak perkembangan karakter mereka. Kurangnya pengawasan, bimbingan, serta kasih sayang dari orang tua menjadi salah satu faktor utama dalam degradasi karakter anak. Oleh karena itu, pendidikan karakter sebaiknya sudah dimulai sejak usia dini (Sakti et al. Keunggulan penelitian ini dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya, yang mengkaji mengenai sastra dan budaya sebagai pembentuk karakter siswa, seperti yang dilakukan oleh (Suyitno, 2012. Untari et al. , 2012. Wulandari, 2. terletak pada jangkauan data yang lebih luas, yaitu dengan pengambilan sampel pada 9 Sekolah Dasar (SD) di Provinsi Bali. Penelitian ini melihat respon dari guru pengajar Bahasa Bali dan juga melihat respon dari siswa yang sudah mendapatkan media video pembelajaran satua Bali. Memanfaatkan konsep revitalisasi pada satua Tong Ceng Pung Pung Jir yang memuat nilai pendidikan untuk membentuk karakter dan menumbuhkan moderasi beragama. Nilai kearifan lokal Bali juga terkandung didalam satua Bali yang nantinya mudah diserap dan dilaksanakan bagi siswa. Selama ini, cerita tradisional seringkali kurang dimanfaatkan dalam upaya pengembangan karakter siswa di sekolah. Padahal, pendidikan karakter yang berbasis kearifan lokal lebih mudah dipahami dan diinternalisasi oleh siswa (Anoegrajekti et al. , 2018. De Costa, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan memperoleh data deskriptif yang diambil dari interaksi partisipan serta tindakan yang diamati. Sumber data utama berasal dari pernyataan dan aktivitas individu yang terlibat dalam wawancara dan hasil tes. Data tersebut kemudian didokumentasikan melalui berbagai media, seperti catatan, rekaman video, audio, dan foto, untuk menghasilkan gambaran komprehensif yang terorganisir secara sistematis terkait fakta serta fenomena yang dianalisis. Pendekatan etnopedagogi digunakan bertujuan untuk menguraikan dan mengeksplorasi berbagai fenomena, kejadian, aktivitas sosial, sikap, keyakinan, persepsi, dan pandangan, baik secara individu maupun kelompok. Penelitian ini tidak berfokus pada kata-kata, namun ditunjang dengan angka-angka guna lebih pada kedalaman pemahaman terhadap interaksi konsep-konsep yang tengah dikaji. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dengan metode studi pustaka, metode wawancara, dan metode tes. Hal ini dilakukan dengan menganalisis Satua Bali untuk melihat nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Selanjutnya. Satua Bali ini disebarkan kepada siswa SD di Bali untuk mendapatkan data. Setelah data terkumpul dilakukan analisis data dengan menggunakan metode deskriptif analitik dengan menganalisis Satua Bali. Selain itu, menganalisis respon guru dan respon siswa terhadap video pembelajaran Satua Bali yang Di dalam penelitian ini, data kualitatif dan data kuantitatif dikumpulkan. Data kualitatif yang dikumpulkan berasal dari 4 Kabupaten di Bali, yakni Badung. Klungkung. Karangasem, dan Buleleng. Di setiap kabupaten, cerita anak telah dikumpulkan melalui sayembara dan telah dibukukan dalam Bahasa Indonesia oleh Balai Bahasa Bali. Salah satu cerita. Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir! karya Ida Bagus Made Wisnu Parta, dipilih sebagai objek penelitian karena mengandung nilai-nilai profil Pelajar Pancasila. Buku yang berbahasa Indonesia ini kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Bali dan diubah menjadi video pembelajaran dalam Bahasa Bali. Cerita Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir! menyajikan beberapa dimensi dari profil Pelajar Pancasila, di antaranya: beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. gotong royong. berkebhinnekaan global. bernalar kritis. Video animasi ini nantinya akan digunakan sebagai media pembelajaran oleh para guru di sekolah dasar di seluruh Bali. Sedangkan, data kuantitatif dilakukan pada penelitian ke lapangan yang menekankan pada 1 sekolah dasar setiap Kabupaten di Bali. 9 sekolah dasar ini dipilih berdasarkan atas letak lokasinya yang berada pada pertengahan antara perkotaan dan pedesaan. Hal ini untuk melihat tingkat kemampuan memahami Bahasa Bali dari video pembelajaran satua Bali. Dari 9 sekolah dasar ini akan melihat respon guru dan respon siswa dalam penggunaan media pembelajaran berupa satua Bali. dalam upaya melestarikan satua Bali, transformasi menjadi hal yang penting dalam revitalisasi Bahasa Bali. Teori transformasi menjadi fondasi utama penelitian ini, didukung oleh teori sosiologi sastra dan teori etnopedagogi. Transformasi di sini mengacu pada perubahan struktur, penampilan, atau karakter dari sebuah kondisi. Proses penciptaan ulang teks dalam bentuk yang berbeda, baik dalam hal bahasa, jenis, maupun fungsi, merupakan fenomena transformasi teks. Perubahan bentuk ini terlihat dalam transisi satua lisan menjadi buku Bahasa Indonesia dan diterjemahkan menjadi buku Bahasa Bali, kemudian diubah menjadi video sebagai media pembelajaran. Video pembelajaran satua Bali ini menjadi bentuk revitalisasi Bahasa Bali yang bertujuan untuk membantu membentuk karakter siswa di tingkat sekolah dasar. Variasi dalam bentukbentuk teks yang berbeda menunjukkan adanya pergeseran nuansa, yang sesungguhnya merupakan wujud dari transformasi yang mengikuti perkembangan zaman dan pemikiran Sementara itu, teori transformasi, teori sosiologi sastra dan teori etnopedagogi digunakan untuk menilai sejauh mana pengaruh karya sastra, khususnya https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH satua, dalam membentuk karakter dan menumbuhkan moderasi beragama pada anak di Bali. Nilai-nilai yang terdapat dalam satua Bali mencerminkan budaya masyarakat Bali yang nantinya dapat digunakan untuk mendidik karakter generasi muda. Penelitian ini mengajukan hipotesis bahwa terdapat perbedaan tingkat perkembangan kecerdasan moral pada anak-anak yang mendapatkan pendidikan melalui satua Bali dibandingkan dengan anak-anak yang tidak terpapar metode pendidikan tersebut. Hal ini terlihat dari respon guru pengajar Bahasa Bali dan respon siswa yang mendapatkan media video pembelajaran di sekolah. Hasil dan Pembahasan Revitalisasi Satua Bali Untuk Membentuk Karakter Dan Moderasi Beragama Pada Anak Di Bali Dalam Bingkai Profil Pelajar Pancasila. Revitalisasi satua berbahasa Bali dilakukan dengan mentransformasikan satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir! yang semula menggunakan bahasa Indonesia kemudian dialihbahasakan ke dalam Bahasa Bali. Setelah proses penerjemahan, satua ini selanjutnya diubah menjadi video yang digunakan sebagai media pembelajaran. Transformasi yang dilakukan tidak hanya merubah sebagian maupun total dari bentuk aslinya, akan tetapi perubahan itu dengan tetap mempertahankan nilai-nilai yang terkandung pada satua Bali (Parta, 2022. Transformasi ini tidak hanya merubah bentuk penyajian cerita, tetapi juga menjaga nilai-nilai dimensi profil pelajar Pancasila yang terkandung didalamnya. Selain itu, nilai-nilai kearifan lokal budaya Bali yang tersirat di dalamnya agar lebih mudah dipahami pada kalangan pelajar di Bali. Transformasi satua Bali bertujuan tidak hanya merubah media menjadi lebih baik, namun lebih bersifat mentransformasikan isi dari satua Bali agar lebih menarik dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya dapat dijadikan pedoman hidup oleh anak-anak. Fenomena terkait pluralisme agama di tengah kehidupan masyarakat saat ini sering dipandang sebagai masalah yang cukup serius. Di dalam teologi kerukunan menyatakan semua pemeluk agama meyakini mengajarkan kedamaian, keharmonisan, dan kebahagiaan akan menghasilkan cinta dan kasih saying sesama umat manusia. Namun, ada juga pemeluk agama yang memperlihatkan fanatik agama berlebihan yang akan menimbulkan perbedaan dan perpecahan di masyarakat (Heriyanti, 2. Di dalam Agama Hindu memiliki banyak ajaran untuk mempersatukan dan menciptakan suasana yang harmonis dalam suatu masyarakat seperti dalam kitab Reg Weda. 4, sebagai Samani va akutih, samana hrdayani vah, samana astu vo mano, yatha va suhasasati. Terjemahannya: Samalah hendaknya tujuanmu, samalah hendaknya hatimu, samalah hendaknya pikiranmu, semoga semua hidup bahagia bersama (Titib. Kitab Reg Weda diatas menggambarkan semua manusia memiliki tujuan yang sama, hanya untuk hidup harmonis dan berbahagia. Untuk menumbuhkan karakter dan moderasi beragama pada anak dapat dilakukan dengan menereapkan nilai Pancasila. zaman sekarang ini, perbedaan keyakinan yang ada pada siswa menjadi salah satu alasan dalam melakukan perundungan di sekolah. Oleh sebab itu, pemerintah dengan sigap menyikapi permasalah itu dengan mengeluarkan profil pelajar Pancasila yang ada dalam kurikulum Merdeka. Profil pelajar Pancasila artinya kumpulan karakter dan kompetensi yang sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Adapun nilai-nilai profil pelajar Pancasila yang terkandung dalam media pembelajaran satua Tong Ceng Pung Pung Jir antara lain: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH a. Dimensi Beriman. Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia. Akhlak mulia yang dimiliki pelajar akan tercermin dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa tidak hanya sekadar memahami ajaran agama dan keyakinannya, tetapi juga mampu mengaplikasikan pemahaman tersebut secara konsisten dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, termasuk dalam sikap, perilaku, serta keputusan yang diambil. Penerapan Profil Pelajar Pancasila pada dimensi Beriman Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dapat melatih siswa untuk menjadi pribadi yang berorientasi pada Tuhan (Azizah et al. , 2. Para siswa diharapkan dapat memahami ajaran agama atau kepercayaan yang dianutnya dengan baik sehingga dapat menerapkan karakter tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam Satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir!, karakter Putu Bagus, yang berperan sebagai tokoh utama menjadi representasi dari nilai beriman, bertakwa kepada Tuhan, dan berakhlak mulia yang terlihat pada gambar di bawah ini. Gambar 1. Satua Tong Ceng Pung Pung Jir Bahasa Bali Gambar di atas terlihat Putu bagus bersama keenam temannya berkumpul untuk mengarak Barong Bangkung setelah mereka selesai melakukan sembahyang pada hari suci Galungan. Momen ini tergambarkan dengan jelas dalam adegan yang menunjukkan bagaimana mereka tidak hanya merayakan tradisi, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dalam setiap tindakan mereka, menjadikan aktivitas sehari-hari sebagai perpanjangan dari ajaran spiritual yang mereka anut. Pada hari Galungan, setelah menyelesaikan persembahyangan. Putu Bagus dan teman-temannya berkumpul, penuh semangat, untuk mengarak Barong Bangkung. Tindakan sederhana ini mencerminkan nilai keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, di mana ritual keagamaan dijadikan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Sebagai Pelajar Pancasila, sifat-sifat Tuhan tidak hanya dipahami, tetapi juga disadari bahwa esensi dari sifat-sifat-Nya adalah cinta dan kepedulian. Hal ini tercermin dalam setiap perilaku Putu Bagus dan teman-temannya, yang selalu berusaha menerapkan kebaikan, kejujuran, dan rendah hati dalam interaksi mereka dengan sesama. Pemahaman mendalam mengenai sifat-sifat Tuhan menjadi dasar kuat yang membimbing Putu Bagus sepanjang hidupnya. Ibadah tidak hanya dilaksanakan dalam bentuk ritual, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-harinya. Dalam setiap tindakannya. Putu Bagus memegang teguh nilai-nilai luhur seperti kejujuran, keadilan, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kerendahan hati, dan penghormatan terhadap orang lain. Prinsip-prinsip ini tidak hanya diterapkan saat sembahyang, tetapi juga dalam interaksi sehari-hari dengan orang di Sebagaimana dijelaskan oleh (Yamasaki, 2. , cerita anak memiliki kekuatan untuk memengaruhi cara individu dan komunitas memandang dunia, membentuk apa yang mereka anggap nyata, mungkin, dan layak untuk dilakukan. Narasi seperti Satua Tong Ceng Pung Pung Jir ini tidak hanya membentuk pemahaman, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kepercayaan yang menjadi pedoman bagi perilaku anak. Dimensi Berkebhinekaan Global. Pelajar Indonesia selalu memelihara warisan budaya, kearifan lokal, dan jati dirinya, namun tetap bersikap terbuka ketika berhubungan dengan budaya lain. Sikap ini tidak hanya memperkuat rasa saling menghormati, tetapi juga memungkinkan lahirnya budaya baru yang positif tanpa bertentangan dengan nilai-nilai utama bangsa. Kejadian perundungan di Indonesia terus meningkat setiap tahunya (Rohman et al. , 2. Hal itu membuat pemerintah membuat inovasi baru seperti dimensi berkebhinekaan global dalam profil pelajar Pancasila yang berkolaborasi yang baik antara siswa, sekolah, dan orang tua. Program ini akan menghasilkan siswa berkarakter terpuji seperti memiliki sifat empati, mampu menghilangkan sikap prasangka buruk, dan toleransi antar umat Di dalam satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir!, karakter Putu Bagus dengan jelas menggambarkan prinsip berkebhinekaan global ini. Dia tidak pernah memilih-milih teman berdasarkan latar belakang, dan dengan tulus berinteraksi dengan semua orang yang tinggal di lingkungan perumahannya. Adegan ini menunjukkan Putu Bagus menerima keberagaman dengan terbuka, tanpa kehilangan jati dirinya, mencerminkan nilai-nilai kebhinekaan yang menjadi ciri khas seorang Pelajar Pancasila. Hal ini tergambarkan pada gambar adegan sebagai berikut. Gambar 2. Bentuk Transformasi Revitalisasi Satua Tong Ceng Pung Pung Jir Gambar di atas terlihat transformasi dari satua berbahasa Indonesia diterjemahkan ke dalam Bahasa Bali dan ditransformasikan menjadi video pembelajaran satua berbahasa Bali. Pada gambar buku berbahasa Indonesia dan Bali tidak terlihat perbedaan yang ditemukan saat pertunjukan di areal perumahan. Namun, dalam video pembelajaran terlihat jelas ada sosok Ibu dan anak yang menggunakan jilbab ikut menonton pertunjukkan itu. Berkebhinekaan global sudah tercipta pada perumahan Putu Bagus. Berdasarkan transformasi yang telah dijelaskan sebelumnya, karakter Putu Bagus hidup di lingkungan perumahan yang sangat beragam, di mana warganya berasal dari berbagai latar belakang agama dan status sosial. Pada pergaulannya. Putu Bagus tidak memandang perbedaan agama atau status sosial teman-temannya. Rasa kebhinekaan yang dimiliki Putu Bagus sangat nyata saat ia mengajak teman-teman di perumahannya untuk bersamasama membuat Barong Bangkung. Sikap berkebhinekaan global ditekankan pada cuplikan video pembelajaran saat seorang ibu berjilbab yang sedang memeluk anaknya menonton pertunjukan Barong Bangkung. Sikap toleransi ditunjukkan oleh warga https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH perumahan itu. Selain itu. Nia salah satu temannya juga beragama Kristen, sejak awal turut membantu mengumpulkan barang bekas untuk pembuatan Barong Bangkung, bahkan mengecat topengnya dan ikut serta memukul gambelan kentongan. Keberagaman ini, tidak terlihat secara eksplisit dalam versi buku berbahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Bali. Oleh karena itu, pengarang satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir! ingin menegaskan bahwa cerita ini mengandung unsur kebhinekaan yang dapat diterapkan pada sekolah dasar di seluruh Indonesia. Elemenelemen kunci dari berkebhinekaan global, seperti mengenal dan menghargai budaya lain serta kemampuan komunikasi lintas budaya. Selaras dengan pandangan (Akun & Andreani, 2. menyatakan bahwa keberagaman mencakup banyak aspek unik seperti budaya, agama, dan bahasa. Sikap terhadap keberagaman ini mungkin tidak selalu tampak secara langsung, namun melalui refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman keberagaman, kita dapat membangun lingkungan yang damai dan harmonis. Dimensi Bergotong Royong Dampak negatif dari perkembangan teknologi, yaitu meningkatnya sikap Padahal sikap gotong-royong sudah menjadi nilai-nilai luhur yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia (Widirahayu et al. , 2. Pelajar Indonesia seharusnya memiliki kemampuan bergotong-royong, yaitu kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan suka rela. Pemerintah sebagai penjamin pendidikan terus berupaya menjaga nilai-nilai luhur yang menjadi kebanggaan bangsa sampai sekarang yang masih terus digalakkan. Salah satunya dengan dimensi profil pelajar Pancasila, yaitu gotong-royong. Pencapaian karakter gotong-royong bisa didapatkan dengan berbagai proses pembelajaran. Dimensi gotong royong memiliki dua indikator dalam berkolaborasi untuk mencapai keberhasilan, yaitu koordinasi dan Sikap koordinasi dan kerjasama diperlukan seorang guru dalam mengimplementasikan berbagai kegiatan pembelajaran di kelas antar peserta didik. Kerjasama antar peserta didik ditumbuhkan oleh guru melalui kegiatan diskusi kelompok (Noppitasari et al. , 2. Di dalam satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir! tergambarkan Putu Bagus dan teman-temannya memiliki sikap gotong royong. Mereka Bersama-sama saling membantu untuk mewujudkan keinginan dari Putu Bagus dalam membuat Barong Bangkung. Selain itu, sikap gotong royong ditunjukkan dalam pementasan Barong Bangkung yang dilakukan bersama-sama di perumahan. Hal ini terlihat dalam gambar adegan sikap bergotong royong pada Satua Tong Ceng Pung Pung Jir sebagai berikut. Gambar 3. Satua Tong Ceng Pung Pung Jir Bahasa Bali https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar di atas menunjukkan adegan saling bekerja sama yang ditunjukkan oleh Putu Bagus dan teman-temannya saat membuat Barong Bangkung menggambarkan esensi gotong royong yang kuat dalam budaya Indonesia. (Jeon et al. , 2. menekankan bahwa prinsip gotong royong merupakan elemen penting dalam sinematografi, mencerminkan bagaimana nilai ini telah menjadi fondasi kehidupan sosial di Indonesia. Hasil transformasi satua Tong Ceng Pung Pung Jir menjadi salah satu sinematografi yang menjadi media pembelajaran bagi siswa di sekolah. Gotong royong membantu masyarakat menghadapi berbagai tantangan, termasuk di masa pandemi, dengan mengandalkan kepercayaan dan kerja sama, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam seni. Putu Bagus membagi tugas dengan teman-temannya, ada yang bertanggung jawab membuat rangka Barong Bangkung, ada yang mengecat topeng, serta ada yang menyiapkan gamelan, sehingga semuanya siap digunakan untuk pertunjukan. Selain itu, kolaborasi juga sangat penting dalam pertunjukan Barong Bangkung, di mana harmoni antara penari dan pemukul gamelan diperlukan agar pertunjukan berjalan dengan sukses dan penuh semangat. Elemen gotong royong seperti kerja sama, kepedulian, dan berbagi terlihat jelas dalam sikap Putu Bagus dan teman-temannya, yang mencerminkan nilainilai dari profil Pelajar Pancasila. Di dalam satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir!, kegiatan yang mereka lakukan bersama-sama, dengan sukarela dan penuh semangat, memastikan bahwa semua pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih lancar dan ringan. Dimensi Mandiri Pelajar Indonesia adalah individu yang mandiri, yang bertanggung jawab penuh atas proses dan hasil belajarnya. Kemandirian ini, yang tercermin dalam kemampuan untuk merenung tentang kondisi diri sendiri dan menghadapi berbagai tantangan, merupakan salah satu karakter penting yang harus dibentuk dalam diri siswa. Menurut (Salo, 2. menyoroti bahwa di era abad ke-21, penguatan karakter mandiri menjadi semakin krusial dalam mempersiapkan siswa menghadapi dinamika kehidupan dan perubahan yang cepat di dunia pendidikan. Berdasarkan atas kesadaran tersebut, siswa akan mampu memahami kebutuhan pengembangan dirinya sesuai dengan perkembangan Kesadaran ini juga akan membantunya menetapkan tujuan yang tepat, memilih strategi yang sesuai untuk mengembangkan diri, serta siap menghadapi berbagai tantangan yang mungkin muncul. Pemahaman bahwa setiap individu memiliki kebutuhan, minat, tujuan, kekuatan, dan kelemahan yang unik secara psikologis, emosional, dan etika juga penting (Parta & Maharani, 2. Di dalam Satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir!, karakter Putu Bagus digambarkan sebagai sosok yang mandiri, terutama saat kedua orang tuanya sering sibuk bekerja dan meninggalkannya di rumah sendirian. Kemandirian Putu Bagus juga tercermin saat ia memiliki keinginan untuk mendapatkan Barong Bangkung. Ia memeriksa tabungannya, yang ternyata belum mencukupi, dan kemudian mempertimbangkan untuk memintanya kepada orang tuanya. Adegan ini menggambarkan Putu Bagus mampu mengelola keinginannya dan mengambil tindakan mandiri dalam situasi tersebut seperti yang ada pada adegan gambar di bawa ini. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar 4. Satua Tong Ceng Pung Pung Jir Bahasa Bali Pada gambar di atas terlihat sosok Putu Bagus yang menunjukkan sikap mandiri untuk mencapai keinginannya. Awalnya, dia memeriksa tabungannya untuk melihat cukup tidaknya untuk membeli Barong Bangkung. Setelah menyadari bahwa uangnya tidak mencukupi, ia pun mencoba meminta kepada kedua orang tuanya, namun permintaannya ditolak. Meskipun begitu. Putu Bagus tidak menyerah. Ia tetap bertekad untuk memiliki Barong Bangkung dan menarikan di perumahannya agar suasana Hari Raya Galungan terasa meriah, seperti di kampung halamannya. Putu Bagus juga memahami alasan penolakan orang tuanya, seperti kesulitan karena Barong Bangkung itu berat dan tidak mungkin ditarikan sendirian, serta ketiadaan alat musik gambelan untuk Namun, kesadaran ini tidak mengurangi semangatnya. Sebaliknya. Putu Bagus terus berusaha dan mengajak teman-temannya untuk bersama-sama membuat Barong Bangkung serta menarikan dengan iringan seadanya. Semua keinginan Putu Bagus akhirnya terwujud berkat sikap mandiri yang ditunjukkannya, di mana ia mampu bertindak tanpa bergantung pada orang lain dan tidak mudah putus asa. Kemandiriannya mencakup elemen kunci berupa kesadaran diri dan regulasi diri, di mana ia bisa mengatur pikiran, perasaan, dan perilakunya untuk mencapai tujuannya. Dalam hal ini. Putu Bagus mampu menetapkan tujuan untuk pengembangan dirinya dan merancang strategi yang sesuai dengan kemampuan serta tantangan yang dihadapinya, baik dalam konteks akademik maupun non-akademik. Dimensi Bernalar Kritis Pelajar yang memiliki kemampuan bernalar kritis tidak hanya mampu memproses informasi secara objektif, tetapi juga mampu menghubungkan berbagai pengetahuan dari beragam bidang, seperti ekonomi, kesehatan, dan ilmu pengetahuan, untuk menganalisis dan menarik kesimpulan yang tepat. Menurut (Mena Araya, 2. menyatakan bahwa bernalar kritis berkaitan erat dengan literasi mendalam, di mana anak-anak diajarkan untuk berpikir reflektif dan rasional dalam menentukan keyakinan dan tindakan berdasarkan informasi yang mereka terima. Di dalam Satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir!, karakter Putu Bagus menunjukkan kemampuan bernalar kritis saat ia berusaha keras mewujudkan keinginannya untuk memiliki Barong Bangkung dan menarikan di perumahannya saat perayaan Galungan. Putu Bagus dengan cermat memanfaatkan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH teknologi internet untuk mencari cara membuat Barong Bangkung, menunjukkan bagaimana dia menggabungkan keterampilan analitis dengan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuannya. Adegan ini menggambarkan proses berpikir kritis yang terintegrasi dalam tindakan konkret, mencerminkan karakter anak yang mampu menggunakan pengetahuan dengan cara yang relevan dan praktis. Adegan Putu Bagus mampu berpikir kritis dalam Satua Tong Ceng Pung Pung Jir terlihat pada gambar di bawah ini. Gambar 5. Satua Tong Ceng Pung Pung Jir Bahasa Bali Berdasarkan gambar di atas, terlihat Putu Bagus menunjukkan sikap bernalar kritis dengan terus mencari desain Barong Bangkung yang paling mudah dibuat melalui perhitungan yang matang. Dipandu tutorial dari YouTube dan bekerja sama dengan teman-temannya, ia berhasil mewujudkan keinginannya. Tidak hanya itu. Putu Bagus juga menggunakan pemikiran kritisnya saat memanfaatkan barang-barang bekas yang ada untuk membuat Barong Bangkung. Sehingga hasilnya pun tetap terlihat bagus dan indah. Sikap kritisnya kembali terlihat ketika ia merancang alat musik gambelan yang akan digunakan untuk mengiringi pertunjukan Barong Bangkung. Meski dengan keterbatasan bahan-bahan, ia mampu menemukan solusi kreatif untuk setiap tantangan yang dihadapi, seperti yang terlihat dalam adegan tersebut. Selanjutnya, adegan lain juga ditunjukkan oleh Putu Bagus yang bernalar kritis mampu mengkoordinasikan teman-temannya. Awalnya teman-temannya tidak mengerti membuat Barong Bangkung, dituntun oleh Youtube dan didampingi Putu Bagus sehingga mereka mengerti. Gambar di bawah ini mempertegas bahwa Putu Bagus memiliki sikap bernalar kritis. Sebuah kemampuan yang sangat penting dimiliki oleh anak-anak Indonesia agar mereka dapat berpikir maju dengan memahami realitas yang ada. Elemenelemen bernalar kritis meliputi kemampuan untuk mengumpulkan dan memproses informasi, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, serta merefleksi proses berpikir dalam pengambilan keputusan. Sebagai seorang Pelajar Pancasila. Putu Bagus memanfaatkan nalar sesuai dengan prinsip sains dan logika dalam mengambil keputusan dan bertindak, dengan melakukan analisis serta evaluasi terhadap gagasan dan informasi yang ia peroleh. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar 6. Satua Tong Ceng Pung Pung Jir Bahasa Bali Gambar di atas terlihat Putu Bagus mampu mengemukakan alasan yang jelas dan akurat dalam menyelesaikan masalah pembuatan Barong Bangkung. Selain itu, tercermin dalam cara dia memutuskan untuk menciptakan alat musik gambelan untuk mengiringi Barong Bangkung. Dengan memanfaatkan bahan seadanya, ia berhasil menciptakan Barong Bangkung dan alunan gamelan yang harmonis. Meski awalnya teman-temannya meragukan dan menertawakannya, pada akhirnya mereka kagum dengan hasil karya Putu Bagus, yang menunjukkan bahwa penalaran kritisnya mampu menghasilkan solusi yang kreatif dan efektif. Pemikiran kritisnya membuktikan bahwa ia mampu memberikan argumen yang kuat dan logis dalam mengambil keputusan serta mewujudkan idenya dengan baik. Dimensi Kreatif Seorang pelajar kreatif memiliki kapasitas untuk mengubah dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, serta bermanfaat, yang dapat memberikan dampak Inti dari kreativitas terletak pada kemampuan untuk menciptakan gagasangagasan baru serta menghasilkan karya dan tindakan yang inovatif, dengan fleksibilitas dalam menemukan berbagai solusi terhadap tantangan. Pelajar yang kreatif mampu melahirkan ide-ide segar, mulai dari hal sederhana seperti mengekspresikan perasaan atau pikiran, hingga gagasan-gagasan yang lebih rumit. Pertumbuhan ide-ide tersebut sangat dipengaruhi oleh emosi, pengalaman hidup, serta pengetahuan yang diperoleh selama perjalanan hidup mereka. Inovasi guru dalam memberikan pelajaran sangat berperan penting (Yana. et al. , 2. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat pada peserta didik mampu untuk membentuk kreatif dalam diri peserta didik. Inovasi dari seorang guru dalam pembelajaran yang semula hanya menggunakan metode ceramah saat ini harus dengan menggunakan teknologi dalam penyampaian materi agar mampu menarik minat belajar pada peserta didik dan menuntut peserta didik menjadi lebih aktif fan kreatif. Di dalam Satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir!, sosok Putu Bagus menunjukkan kreativitasnya dengan menciptakan Barong Bangkung beserta gamelannya. Dengan belajar secara otodidak melalui internet, ia berhasil memberikan arahan kepada temanhttps://jayapanguspress. org/index. php/JPAH temannya untuk membuat Barong Bangkung dan alat musik pengiring dari bahan-bahan bekas yang ada di sekitarnya. Barong Bangkung tersebut terinspirasi dari pengalamannya menyaksikan tarian Barong Bangkung di kampungnya saat Hari Raya Galungan. Namun, karena kesibukan orang tuanya. Putu Bagus tidak dapat kembali ke kampung untuk menikmati pertunjukan tersebut. Berbekal ingatannya tentang bentuk, rupa, dan tarian Barong Bangkung yang pernah dilihatnya. Putu Bagus memutuskan untuk menciptakan suasana serupa di perumahan tempat tinggalnya pada Hari Raya Galungan. Ide kreatif Putu Bagus ini tidak hanya mewujudkan keinginannya untuk membawa tradisi kampungnya ke lingkungan perumahannya, tetapi juga menjadi solusi yang cerdas dalam menghadirkan kebahagiaan dan semangat perayaan bagi dirinya dan teman-temannya, hal ini terlihat pada gambar di bawah ini. Gambar 7. Satua Tong Ceng Pung Pung Jir Bahasa Bali Berdasarkan atas gambar di atas terlihat barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai dapat digunakan untuk dijadikan Barong Bangkung. Ide kreatif dari Putu Bagus yang mengajak teman-temannya untuk membantu membuat Barong Bangkung. Bambu yang sudah tidak terpakai dianyam sehingga menjadi kerangka dari Barong Bangkung. Selanjutnya, saat kerangka sudah jadi barulah kardus bekas digunakan untuk melapisi rangka itu dari dalam agar tidak sakit saat ditarikan. Kain bekas digunakan sebagai penutup badan Barong Bangkung. Sapu ijuk yang tidak terpakai dicuci dan dijemur lalu dirangkai sehingga menyerupai rambut dari Barong Bangkung. Selain itu, kreativitas Putu Bagus juga terlihat saat membuat tapel Barong Bangkung yang terbuat dari bubur rendaman koran bekas yang dihancurkan. Dengan sikap kreatif dan jiwa seninya Putu Bagus mampu membentuk tapel Barong Bangkung yang sangat indah. Hal ini terdapat pada adegan pada Satua Tong Ceng Pung Pung Jir di bawah ini. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar 8. Satua Tong Ceng Pung Pung Jir Bahasa Bali Berdasarkan gambar di atas tampak jelas bahwa Putu Bagus berhasil membuat topeng atau tapel Barong Bangkung hanya dengan menggunakan bahan seadanya. Warna tapel tersebut dibuat dari arang yang ditumbuk, kemudian dicampur dengan sisa-sisa cat Teman-temannya di sekolah sudah lama mengakui bahwa Putu Bagus adalah anak yang kreatif dan memiliki jiwa seni. Seorang pelajar yang kreatif memiliki kemampuan berpikir fleksibel dalam menemukan solusi alternatif untuk berbagai masalah. Ia mampu mengambil keputusan yang tepat saat dihadapkan dengan beberapa pilihan, mengidentifikasi, membandingkan gagasan, serta mencari pendekatan lain saat solusi awal tidak berhasil. Kemampuan ini juga terlihat saat Putu Bagus memikirkan cara membuat gamelan untuk mengiringi Barong Bangkung. Ia memanfaatkan kaleng bekas yang saat dipukul, mengeluarkan bunyi Tong!. Tutup panci saat dicakupkan mengeluarkan bunyi Ceng!, dan bambu yang dibuat menjadi kentongan menghasilkan bunyi Pung! saat dipukul. Ketika alat-alat tersebut dimainkan secara bersamaan, bunyi yang dihasilkan awalnya terdengar kacau. Namun. Putu Bagus dengan sigap mengatur ritme sehingga alunan yang muncul berbunyi Tong! Ceng! Pung! Pung!. Namun. Putu Bagus merasa ada sesuatu yang kurang pas, yakni bunyi gong yang seharusnya menghasilkan suara Jir!. Akan tetapi, karena tidak ada bahan yang bisa menciptakan bunyi tersebut. Putu Bagus dengan cerdik menyarankan teman-temannya untuk mengisi kekurangan itu dengan Bersama-sama mengucapkan kata Jir!. Akhirnya, mereka menciptakan alunan gamelan yang harmonis untuk mengiringi tarian Barong Bangkung. Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir!. Putu Bagus merupakan sosok anak yang kreatif yang dapat diteladani oleh para Transformasi media pembelajaran berupa video satua Bali salah satu bentuk kreatif para guru yang dikemas dalam proses pembelajaran agar para siswa mudah memahami materi yang disampaikan. Menurut (Halimah et al. , 2. menyatakan metode pembelajaran, seperti bercerita mampu mengasah kreativitas anak, karena membantu mereka mengorganisir pengalaman dan mengembangkan keterampilan berpikir. Oleh karena itu, literasi yang menekankan kreativitas dalam pemecahan masalah harus menjadi fokus utama dalam pendidikan, karena keterampilan ini memungkinkan siswa untuk menghasilkan solusi yang bermanfaat dan memberikan dampak signifikan dalam kehidupan mereka. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Video Pembelajaran Satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir! Dapat Mendidik Karakter Anak. Pendidikan yang harus berkembang sesuai dengan perubahan era teknologi mewajibkan pendidik dan peserta didik mampu berkreasi dan berinovasi guna menghadapi tantangan zaman. Pendidikan karakter menstimulasi dan meningkatkan sikap self responsibility anak yang dapat dimulai dengan menggunakan storytelling atau masatua yang wajib diperkenalkan pada anak. Perkembangan teknologi yang sangat pesat memberikan pengaruh negatif kepada anak. Selain itu, peran pendidik yang memiliki keterbatasan media dan metode pembelajaran menyebabkan anak didik menjadi bosan dan kurang tertarik mengikuti pembelajaran. Sehingga, segala pembelajaran tidak dapat diterimanya dengan baik (Laia et al. , 2. Pada kurikulum merdeka mewajibkan guru lebih inovatif dalam memberikan pembelajaran di kelas. Guru menekankan siswanya agar berpikir lebih kreatif (Iskandar et al. , 2. Kurikulum ini memberikan ruang kepada guru untuk memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik. Projek untuk menguatkan pencapaian profil pelajar Pancasila dikembangkan berdasarkan tema tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah. Salah satu pembelajaran yang inovatif dapat berupa video pembelajaran satua Bali. Video pembelajaran satua Bali sebagai media pembelajaran yang sangat efektif bagi sekolah dasar karena dianggap sangat menarik dan tidak membosankan dalam belajar Bahasa Bali. Pelajaran Bahasa Bali yang selama ini dianggap menakutkan bagi siswa menjadi menarik karena dikemas dengan video pembelajaran satua Bali. Nilai-nilai profil pelajar Pancasila pun mudah dipahami oleh siswa dengan media video pembelajaran satua Bali. Berdasarkan atas penelitian dilapangan yang memilih 1 sekolah dasar setiap kabupaten di Bali. 9 seolah dasar ini dipilih berdasarkan atas letak lokasinya yang berada pada pertengahan antara perkotaan dan pedesaan. Hal ini untuk melihat tingkat kemampuan menyerap Bahasa Bali karena video animasi pembelajaran berbahasa Bali. Adapun 9 sekolah dasar yang dijadikan lokasi penelitian pada tabel di bawah ini. Tabel 1. Lokasi Penelitian SD di Bali Kab/Kota Nama Sekolah Jumlah Siswa 1 Denpasar SD N 2 Ubung 2 Badung SD N 1 Lukluk 3 Gianyar SD N 2 Mas 4 Tabanan SD N 1 Dauh Peken 5 Klungkung SD N 1 Tangkas 6 Bangli SD N 2 Sulahan 7 Jembrana SD N 2 Medewi 8 Karangasem SD N 5 Peringsari 9 Buleleng SD N 4 Kalibukbuk Total Berdasarkan 9 sekolah dasar di atas difokuskan penelitiannya pada kelas i sampai dengan kelas VI. Penelitian yang dilakukan berdasarkan atas observasi lapangan, kemudian menggunakan pretest dan post test yang nantinya hasil yang didapat menjadi acuan dalam penelitian berikutnya. Hasil simpulan berupa data kualitatif ditunjukkan pada proses wawancara yang dilakukan kepada masing-masing guru kelas yang terdiri dari 5 pertanyaan mengenai pemberian media pembelajaran satua Bali sebagai berikut. Sejauh mana media video pembelajaran memudahkan bagi guru dalam mengajar Satua Bali kepada siswa. Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan sangat memudahkan karena video yang menarik dan interaktif dapat meningkatkan minat belajar siswa, media video pembelajaran memiliki potensi yang sangat besar https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH untuk memudahkan guru dalam mengajarkan Satua Bali kepada siswa. Dengan pemilihan video yang tepat dan strategi pembelajaran yang efektif, video dapat menjadi alat yang sangat berharga untuk memperkaya pengalaman belajar siswa dan melestarikan budaya Bali. Seberapa besar pengaruh media Satua Bali dalam meningkatkan karakter siswa sesuai dengan nilai-nilai Profil Pancasila. Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan sangat berpengaruh karena video yang menarik dan relevan dengan kehidupan siswa dapat meningkatkan minat belajar, elemen visual, audio, dan animasi membuat pembelajaran lebih menarik. Video pembelajaran dapat menjadi pemantik diskusi yang seru di kelas agar para siswa tidak bosan dalam menerima pembelajaran. Seberapa besar media video pembelajaran untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar Satua Bali. Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan video pembelajaran dapat menanamkan nilai-nilai luhur. Satua Bali mengandung banyak nilai-nilai luhur seperti beriman, bertakwa kepada Tuhan, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan Tokoh-tokoh dalam Satua Bali dapat menjadi contoh teladan bagi siswa yang relevan dengan kehidupan sehari-hari dikaitkan dengan situasi nyata yang dihadapi siswa. Seberapa besar pengaruh media pembelajaran video untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam Satua Bali tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan sangat berpengaruh karena memudahkan pemahaman yaitu visualisasi yang jelas membantu siswa memahami cerita dengan lebih baik. Selain itu, meningkatkan daya ingat, yaitu informasi yang disampaikan melalui video lebih mudah diingat dan membantu menganalisis cerita dengan mudah melalui video dapat menjadi bahan analisis untuk mengidentifikasi alur cerita, tokoh, dan pesan moral. Bagaimanakah peningkatan pemahaman siswa dalam mempelajari bahasa Bali dengan media video pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan dengan video pembelajaran dapat meningkatkan kosakata, yaitu siswa dapat belajar kosa kata baru melalui video. Selanjutnya, melalui video pembelajaran dapat memperbaiki pelafalan, artinya video pembelajaran satua Bali dapat menjadi model pelafalan yang baik. Selain itu, dengan video pembelajaran para siswa lebih memahami konteks penggunaan Bahasa Bali, seperti siswa dapat melihat bagaimana bahasa Bali digunakan dalam konteks yang berbeda, contohnya Bahasa Bali memiliki tingkatan Bahasa atau anggah ungguhing basa. Dengan demikian, berdasarkan atas hasil wawancara yang dilakukan terhadap para guru yang mengajar di sekolah dasar di Provinsi Bali, sangat menyarankan memberikan media pembelajaran berupa video pembelajaran yang menarik agar dapat meningkatkan minat belajar pada siswa. Selanjutnya, data kualitatif ini ditunjang dengan data kuantitaif dari 161 respon para siswa yang diberikan 10 pertanyaan mengenai media pembelajaran satua Bali sebagai berikut. Tabel 2. Kreteria Penilaian Penilaian No. Kriteria Penilaian 1 2 3 4 5 Saya memahami tujuan pembelajaran. Materi dan ilustrasi yang disajikan mudah untuk dipahami. Materi yang disajikan sesuai dengan tujuan pembelajaran. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar yang ditayangkan memudahkan saya memahami Materi yang disajikan lengkap. Bahasa yang digunakan dalam menyampaikan materi mudah dipahami. Materi disajikan membuat saya memahami materi secara Tampilan video menarik untuk disimak. Suara penyampaian materi jelas dan dapat didengar. Durasi video tidak membuat bosan Keterangan: 5 = Sangat Setuju 4 = Setuju 3 = Netral 2 = Tidak Setuju 1 = Sangat Tidak Setuju Tabel 3. Hasil Respon Siswa Netral Setuju Sangat Setuju Total Gambar 9. Grafik Respon Siswa Terhadap Media Vidio Pembelajaran Satua Bali Berdasarkan atas tabel penilaian di atas, hasil respon para siswa dari 10 pertanyaan yang diberikan kepada 161 siswa yang terdiri dari 9 SD di Bali. Setelah mereka menonton satua Bali yang ditransformasikan menjadi video pembelajaran. Respon siswa tidak ada yang memilih nilai sangat tidak setuju dan tidak setuju mengenai pemberian media video Sebaliknya, respon siswa sangat antusias pada media video pembelajaran https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH satua Bali dengan memilih netral 20. 36%, setuju 49. 87%, dan sangat setuju 29. Hal ini membuktikan hasil revitalisasi video pembelajaran satua Bali dapat diterima dengan baik oleh siswa Sekolah Dasar di Bali. Selain itu, nilai-nilai profil Pancasila yang terkandung dalam video pembelajaran satua Bali juga mudah dipahami. Nilai-Nilai Kearifan Lokal Dalam Satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir! Nilai kearifan lokal memainkan peran yang sangat krusial karena menjadi identitas budaya dan jati diri suatu daerah. Bahasa daerah juga berperan dalam membentuk identitas individu dan komunitas. Menguasai dan menggunakan bahasa daerah dapat menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap budaya lokal, yang pada gilirannya dapat memperkuat karakter positif seperti kepercayaan diri dan rasa memiliki. Ketika anak-anak merasa terhubung dengan budaya mereka, mereka cenderung lebih menghargai dan melestarikan nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai ini memiliki berbagai fungsi, antara lain: . untuk menjaga dan melestarikan sumber daya alam, . pengembangan kualitas sumber daya manusia, . memperkaya budaya dan ilmu pengetahuan, . sebagai sumber nasihat, kepercayaan, sastra, dan pantangan, . sebagai alat untuk membangun dan memperkuat integrasi komunal, . sebagai dasar etika dan moral, serta . memiliki fungsi dalam politik (Islami, 2022. Pratama et al. , 2. Salah satu contohnya di Bali, tradisi masatua dipandang sebagai salah satu bentuk kearifan lokal yang memiliki fungsi penting sebagai sarana pendidikan. Tradisi ini digunakan untuk menanamkan nilai-nilai luhur serta menyampaikan pesan-pesan moral yang mendalam kepada anak-anak, sehingga dapat membantu membentuk karakter dan budi pekerti mereka sejak dini. Melalui cerita-cerita yang disampaikan dalam tradisi ini, anak-anak tidak hanya diajarkan tentang etika dan norma sosial, tetapi juga diajak untuk memahami dan menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, anak-anak dapat menjadikan nilai-nilai yang terkandung dalam satua sebagai pedoman dalam bersikap dan berperilaku baik di lingkungan sosial mereka. Satua merupakan cerita berbentuk prosa fiksi yang menggunakan bahasa Bali. Sedangkan, masatua berarti Satua Bali dapat digolongkan menjadi dongeng jenaka . atua banyo. , dongeng panji . atua panj. , dongeng biasa . isah hidup seseoran. Selain itu, terdapat satua tantri yang merupakan salah satu jenis satua tentang Binatang (Bagus, 1. Bila dikaitkan dengan ilmu folklore, satua termasuk dalam kelompok folklor lisan. Dalam kehidupan masyarakat Bali, umumnya peminat cerita bentuk tutur . atau cerita rakyat . kian menurun seiring dengan perkembangan zaman (Antara, 2. Tradisi masatua sudah ada sejak lama yang diwariskan dari nenek moyang kita sebagai media hiburan dan media pendidikan. Namun demikian, dengan perkembangan zaman yang modern, tradisi masatua semakin ditinggalkan dan dilupakan oleh Masyarakat (Dewi, 2. Hal ini disebabkan oleh perkembangan zaman di era modern yang kebanyakan para orang tua lebih sibuk bekerja daripada meluangkan waktunya untuk membacakan cerita kepada anaknya. Selain hal itu, anak-anak juga cenderung lebih suka menonton tv dan bermain gawai ketimbang mendengarkan satua Bali. Dengan penerapan nilai-nilai yang ada pada satua-satua Bali, anak tersebut akan belajar mencari teman dan belajar menghargai orang-orang yang ada di sekelilingnya. Nilai kearifan lokal yang terdapat dalam satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir! adalah nilai agama Hindu. dalam buku Upadeya Agama Hindu tersebut memiliki tiga kerangka dasar, yang meliputi: Tatwa . , . Susila . , . Upacara . (Santika, 2. Pada ajaran Tatwa . , diantaranya ada lima filsafat keimanan sebagai dasar kepercayaan agama Hindu yang disebut dengan Panca Sradha, yang meliputi: . Percaya dengan adanya Sang Hyang Widhi Wasa, . Percaya dengan adanya Atma, . Percaya dengan adanya Hukum Karma Phala, . percaya dengan adanya Samsara, dan . https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Percaya dengan adanya Moksa (Sucipta et al. , n. Di dalam Satua Tong Ceng Pung Pung Jir ini menerapkan ajaran Panca Sradha yang terlihat pada Putu Bagus dan temantemannya melakukan persembahyangan sebelum mementaskan Barong Bangkung. Apalagi persembahyangan itu bertepatan pada hari raya Galungan yang bagi umat beragama Hindu sebagai pemaknaan kemenangan kebaikan . melawan kejahatan . Di dalam ajaran Susila . , terdapat konsep penting yang dikenal dengan Tat Twam Asi, yang menekankan sikap saling memiliki dan merasakan sebagai sesama makhluk hidup. Konsep ini mengajarkan bahwa setiap individu terhubung satu sama lain, sehingga harus memperlakukan sesama dengan empati dan kebaikan. Ajaran ini diperkuat oleh prinsip Tri Kaya Parisudha dalam agama Hindu, yang mengajarkan tiga perilaku utama yang harus dimurnikan, yaitu: . Manacika, yaitu berpikir positif dan benar, . Wacika, yang mengacu pada berkata yang baik dan benar, serta . Kayika, yang berarti bertindak dengan cara yang baik dan benar. Selain itu, ajaran ini juga diperdalam melalui berbagai konsep etika lain, seperti Dasa Yama Bratha dan Dasa Nyama Bratha. Dasa Yama Bratha mengacu pada sepuluh bentuk pengendalian diri, yang berfokus pada pengendalian diri terhadap pengaruh eksternal yang berada di luar individu. Prinsipprinsip ini menjadi pedoman penting dalam menjalani kehidupan yang selaras dengan norma etika dan spiritual dalam agama Hindu. Ajaran Susila . yang terdapat dalam Satua Tong Ceng Pung Pung Jir terlihat pada tokoh Putu Bagus saling menghargai dan sangat menghormati teman-temannya. Selain itu, pikiran, perkataan, dan perbuatan Putu Bagus yang selalu baik kepada semua orang. Sikap pengendalian diri yang baik digambarkan Putu Bagus dalam Satua Tong Ceng Pung Pung Jir dapat dipakai sebagai pedoman anak di Bali. Ajaran Dasa Yama Bratha, meliputi: . Anresangsia Aotidak mementingkan diri sendiriAo, . Ksama Aosuka mengampuni dan tahan uji dalam kehidupanAo, . Satya Aojujur tidak berdustaAo, . Ahimsa Aotidak menyakiti atau membunuh makhlukAo, . Dama Aosabar dan dapat menasehati diri sendiriAo, . Arjawa Aotulus hati dan berterus terangAo, . Priti Aocinta kasih sayang terhadap sesame makhlukAo, . Prasada Aoberpikir dan berhati suci tanpa pamrihAo, . Madhurya Aomanis tutur kata dan pandangannyaAo, . Mardawa Aorendah hati dan tidak sombongAo. Sedangkan ajaran Dasa Nyama Bratha artinya sepuluh pengendalian diri dalam arti pengendalian sebagian besar mengarah ke dalam diri sendiri. Ajaran Dasa Nyama Bratha mencakup sepuluh prinsip penting yang diharapkan untuk dijalankan oleh umat Hindu sebagai jalan menuju kesempurnaan hidup. Di antara prinsip tersebut adalah: . Dana, yaitu tindakan berderma dan beramal dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan, . Ijya, yang merujuk pada pemujaan kepada Hyang Widhi dan leluhur sebagai bentuk penghormatan, . Tapa, yakni kemampuan untuk mengekang hawa nafsu jasmani serta memiliki ketahanan dalam menghadapi cobaan, . Dhyana, yaitu ketekunan dalam memusatkan pikiran kepada Hyang Widhi, . Swadhyaya, yang berarti rajin mempelajari kitab suci Weda untuk memperdalam pengetahuan spiritual, . Upasthanigraha, pengendalian atas hawa nafsu seksual, . Brata, ketaatan pada sumpah atau janji yang telah diambil, . Upawasa, berpuasa sebagai bentuk pengendalian diri terhadap hasrat makanan dan minuman, . Mona, membatasi ucapan sebagai bentuk pengendalian diri dalam berbicara, dan . Snana, ketekunan dalam menyucikan diri melalui mandi atau sembahyang. Semua prinsip ini diharapkan untuk dipatuhi dengan penuh kesadaran oleh umat Hindu agar dapat mencapai kehidupan yang lebih baik, seimbang, dan selaras dengan ajaran agama (Gunada, 2. Pada ajaran upacara . , lahirlah berbagai ajaran diantaranya, tentang korban suci yang tulus ikhlas yang disebut Yadnya. Ajaran Yadnya ini terdiri dari lima bagian yang disebut dengan Panca Yadnya artinya lima macam korban suci yang tulus ikhlas, meliputi: . Dewa Yadnya Aokorban suci terhadapTuhan/Ida Sang Hyang Widhi WasaAo, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH . Pitra Yadnya Aokorban suci terhadap roh leluhurAo, . Manusa Yadnya Aokorban suci terhadap manusiaAo, . Rsi Yadnya Aokorban suci terhadap orang suci/rsiAo, . Bhuta Yadnya Aokorban suci terhadap para Bhuta Kala/makhluk gaibAo (Wartayasa, 2. dalam Satua Tong Ceng Pung Pung Jir terkandung ajaran upacara . yang ditunjukkan oleh tokoh Putu Bagus dengan melaksanakan persembahyangan hari raya Galungan kepada Tuhan. Berdasarkan atas penjelasan di atas mengenai kerangka Agama Hindu dalam Satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir! terdapat nilai kearifan lokal berupa tradisi masatua sebagai media pendidikan untuk membentuk karakter anak. Selain itu, dalam Satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir! memuat nilai Agama Hindu, yaitu pelaksanaan hari raya Galungan. Makna Galungan dapat dipelajari dari tatanan filsafat hingga pelaksanaan rangakaian upacaranya, yaitu artinya kemenangan dharma melawan adharma. Dengan demikian, tokoh utama dalam Satua Tong Ceng Pung Pung Jir sangat sarat akan nilai budaya Bali dengan melaksanakan hari raya Galungan lebih pada berkipir, berkata, serta berbuat yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, tercipta moderasi beragama dengan memiliki kesadaran semua manusia dapat hidup berbahagia dan harmonis. Kesimpulan Berdasarkan atas hasil pembahasan di atas dapat disimpulkan Satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir! karya Ida Bagus Made Wisnu Parta memuat beberapa dimensi profil pelajar Pancasila yang terdapat tokoh utama Putu Bagus, yaitu . beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. bergotong royong. berkebhinnekaan global. bernalar kritis. Selanjutnya, hasil revitalisasi Satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir! berupa transformasi video pembelajaran Satua Bali dari bentuk buku Bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi buku berbahasa Bali kemudian ditransformasikan menjadi video animasi pembelajaran nantinya dapat digunakan sebagai media pembelajaran di kelas oleh guru pada seluruh SD di Bali. Hasil wawancara terhadap respon guru pengajar Bahasa Bali disimpulkan sangat menyarankan penggunaan media video pembelajaran agar dapat meningkatkan minat belajar siswa khususnya belajar Bahasa Bali dan menumbuhkan karakter pada anak sesuai profil pelajar Pancasila. Selain itu, pemilihan video yang tepat dan strategi pembelajaran yang efektif dapat menjadi alat yang sangat berharga untuk memperkaya pengalaman belajar siswa sebagai pedoman siswa sesuai nilai profil pelajar Pancasila dan dapat melestarikan budaya Bali. Sedangkan, respon 161 siswa dari hasil 10 pertanyaan yang terdiri dari 9 SD di Bali. Setelah mereka menonton satua Bali yang ditransformasikan menjadi video Respon siswa memilih netral 20. 36%, setuju 49. 87%, dan sangat setuju Hal ini membuktikan hasil revitalisasi video pembelajaran satua Bali dapat diterima dengan baik oleh siswa Sekolah Dasar di Bali. Selain itu, nilai-nilai profil Pancasila yang terkandung dalam video pembelajaran satua Bali juga mudah dipahami. Nilai kearifan lokal yang terdapat dalam Satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir! memuat tradisi masatua sebagai media pembelajaran untuk dapat mendidik karakter anak sudah sangat tepat. Begitu juga dalam Satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir! dapat membentuk karakter dan menumbuhkan moderasi beragama pada anak di Bali. Daftar Pustaka