ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 1, 31 Mei 2024 Preferensi Petani Terhadap Pola Kemitraan pada Usaha Tani Cabai Merah FarmerAos Preference for Partnership Patterns in the Red Chili Farming Bussiness Rudi Hartono1*. Momon Rusmono1. Nafisa Nur Oktafiani1. Kodrad Winarno2 Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan. Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor Cibalagung. Kecamatan Bogor Barat. Kota Bogor. Provinsi Jawa Barat 16119. Indonesia The University of Queensland. Gatton. Australia *E-mail korespondensi: rhartono69@gmail. Diterima: 05-02-2024 Direvisi: 31-05-2024 Disetujui terbit: 31-05-2024 ABSTRACT The risks of pumpkin cultivation are very high due to the fluctuations in pumpkin prices and the high OPT attacks, so the partnership system is one of the solutions. Business partnerships are one way of improving the welfare of farmers through cooperation on the principle of mutual benefit. The study aims to describe the level of preference of farmers towards the partnership patterns of red pepper farmers by analyzing the factors that influence farmers' preferences, and formulate strategies for increasing farmersAo preferences understood as partnerships in red peppers farms. The research was conducted from April to June 2023 at Cipanas Prefecture. Cianjur District. West Java Province. The sample of the study involved 56 farmers who planted special commodities for red pepper crops. Sampling technique using proportional random sampling. Data analysis using descriptive methods and double linear regression analysis. The findings show that: . farmers' preference for red chili usahatani partnership patterns is in the middle category. farmersAo preference to red chilli usahani partnerships pattern is significantly influenced by the farming enterprise partnership model factors. strategies to increase farmers 'preference for partnership models can be achieved by optimizing the entire aspect of the business partnership paradigm factors, which include indicators of assurance of financing, technical guidance, market assurance assurances, and partnership performance. Keywords: Partnership patterns, capital guarantees, market certainty ABSTRAK Resiko budidaya cabai sangat tinggi akibat dari fluktuasi harga cabai dan tingginya serangan OPT, oleh karena itu sistem kemitraan menjadi salah satu solusinya. Kemitraan usahatani merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan petani melalui kerja sama dengan prinsip saling Pengkajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat preferensi petani terhadap pola kemitraan usahatani cabai merah dengan cara menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi petani, dan merumuskan strategi peningkatan preferensi petani terhdap pola kemitraan dalam usaha tani cabai merah. Penelitian ini dilaksanakan bulan April sampai dengan Juni 2023 di Kecamatan Cipanas. Kabupaten Cianjur. Provinsi Jawa Barat. Sampel penelitian melibatkan 56 petani yang usaha taninya khusus komoditas tanaman cabai merah. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan proportional random sampling. Analisis data menggunakan metode deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . Preferensi petani terhadap pola kemitraan usahatani cabai merah berada pada kategori sedang. Preferensi petani terhadap pola kemitraan usahatani cabai merah secara nyata dipengaruhi oleh faktor pola kemitraan usaha tani. Strategi meningkatkan preferensi petani terhadap pola kemitraan dapat dilakukan dengan mengoptimalkan seluruh aspek pada faktor pola kemitraan usahatani, yang meliputi indikator jaminan permodalan, pemberian bimbingan teknis, jaminan kepastian pasar, dan kinerja kemitraan. Kata kunci: Pola kemitraan, jaminan permodalan, kepastian pasar Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 1, 31 Mei 2024 PENDAHULUAN Salah satu komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan dan memiliki produktivitas tinggi di Kecamatan Cipanas adalah cabai merah yakni 127 ha (Badan Pusat Statistik, 2. Meskipun demikian, pada beberapa kasus faktor cuaca yang sulit diprediksi dan serangan hama penyakit menyebabkan produksi menurun. Pada saat produktivitas stabilitas harga sangat diperlukan, sehingga daya saing cabai merah dapat hortikultura lainnya. Salah satu strategi yang dapat meningkatkan daya saing cabai merah adalah melalui kemitraan usaha tani cabai (Lestari. Widjayanthi dan Kusmiati, 2. Kemitraan dengan pola kerja sama berpotensi memperkuat hubungan kelembagaan antara petani dengan swasta yang difasilitasi oleh Dengan permasalahan petani dapat terbantu melalui pembiayaan usaha pertanian, peningkatan akses pasar bagi produk usaha taninya. Saat ini sudah banyak petani yang telah melakukan kerja sama kemitraan dengan beberapa pihak, diantaranya perusahaan kemitraan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Sugih Mukti Cianjur. JICA, dan Sayurbox. Meskipun demikian, sebagian petani lainnya masih tetap persyaratan bermitra dengan pihak perusahaan lebih rumit, dan sudah terjadi ketergantungan yang kuat dengan para tengkulak terutama masalah permodalan. Hal ini dikarenakan dalam program kemitraan, perusahaan dan petani tidak memiliki posisi tawar yang sejajar meskipun keduanya merupakan pihak yang saling bekerja sama. Hal yang sama ditemukan pada pelaksanaan pola kemitraan di Kabupaten Aceh Jaya, bahwa perusahaan dan petani mitra tidak memiliki kedudukan yang sejajar. Dari segi keadilan . , perusahaan inti merupakan pihak yang mempunyai posisi yang lebih kuat dibandingkan masyarakat yang cenderung punya nilai tawar yang lebih rendah. Sebagai contoh, dalam hal penentuan isi perjanjian, perusahaan pemodal mempunyai kewenangan lebih tinggi dibandingkan petani (Milsa, 2. Oleh karena itu, penyusunan model kemitraan yang mempertimbangkan daya tawar petani sebagai mitra penting dilakukan untuk menciptakan hubungan kemitraan yang adil dan mematuhi aturan perjanjian yang ada serta mencapai keuntungan yang diharapkan bagi kedua belah pihak (Suparjan dan Lathifah, 2. Dalam sebelumnya telah ditemukan bahwa pola kemitraan pasar mampu meningkatkan pendapatan petani. Beberapa alasan petani mau melakukan kemitraan adalah kebutuhan modal tercukupi seperti sarana produksi . upuk, benih, petisida dan lainny. , bisa meminjam modal dengan cepat, dan meskipun sedang gagal panen, memberikan modal ke petani (Harisman. Permatasari dan Rondhi, 2. Berdasarkan beberapa uraian tersebut, maka preferensi petani terhadap pola kemitraan pada usahatani cabai merah dan faktor-faktor penting untuk diteliti, sehingga dapat meningkatkan preferensi petani dalam melakukan kemitraan pada usaha tani cabai merah di Kecamatan Cipanas. Kabupaten Cianjur. METODE PENELITIAN Penelitian telah dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2023 di tiga desa terluas penanaman cabai merah yaitu Desa Cimacan. Ciloto, dan Palasari. Kecamatan Cipanas. Kabupaten Cianjur. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 1, 31 Mei 2024 Populasi berjumlah 124 petani, dengan kriteria sebagai berikut: . petani yang telah dan atau sedang melakukan usaha tani budidaya cabai. petani yang termasuk ke dalam anggota kelompok tani aktif. petani yang mendapatkan rekomendasi penyuluh pertanian wilayah binaan. petani yang telah mendapatkan sosialisasi terkait kemitraan. Sampel pada penelitian ini berjumlah 56 petani, sesuai hasil perhitungan menggunakan rumus slovin. Responden penelitian ditetapkan secara proportional random sampling. Teknik wawancara serta pengamatan sebagai Instrumen telah diuji validitas dan reliabilitas dengan hasil valid dan reliabel . ilai r=0,543 dan ri=0,. Variabel peubah bebas (X) yang diteliti meliputi: . karakteristik petani (X. dengan indikator umur, tingkat pendidikan, luas lahan, dan lama berusaha tan. pola kemitraan usahatani (X. dengan indikator jaminan permodalan, pemberian bimbingan teknis, jaminan kepastian pasar, dan kinerja kemitraan. peran penyuluh (X. dengan indikator motivator, dinamisator, innovator, dan fasilitator, serta . variabel terikat (Y) adalah preferensi petani dengan indikator penerapan, kepentingan, dan keinginan. Metode analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif dan statistik Analisis statistik deskriptif dilakukan menggunakan tabulasi untuk menjelaskan indikator penyusun masingmasing peubah penelitian. Data yang dikumpulkan mengunakan skala likert 1-4 dan hasilnya dikelompokkan kedalam tiga kriteria berdasarkan nilai rata-rata yang diperoleh yakni > 3. 5 kategori tinggi, 2,63,5 kategori sedang, dan < 2,5 kategori Analisis statistik inferensial yang dilakukan adalah Analisis Regresi Linear Berganda menggunakan bantuan software SPSS Versi 25 untuk menganalisis pengaruh antara peubah bebas (X) terhadap peubah terikat (Y) dengan rumus Y=a bX1 bX2 bX3. Hasil dari analisis regresi linear berganda pada faktor yang paling berpengaruh dijadikan strategi peningkatan preferensi. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Petani Dominasi petani berumur dibawah 46 tahun . %), pendidikan dominan SMA/SMK . %), sedangkan kepemilikan luas lahan diatas 1 hektar . ,2%), dan lama berusaha tani diatas lima tahun . ,9%). Karakteristik petani cabai merah dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Karakteristik petani cabai merah di Kecamatan Cipanas Karakteristik Petani Frekuensi Persentase (%) Umur Ou 57 tahun 47-56 tahun 37-46 tahun O 36 tahun Tingkat Pendidikan SMP SMA/SMK Perguruan Tinggi 30,35 17,85 50,02 1,78 Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 1, 31 Mei 2024 Karakteristik Petani Frekuensi Persentase (%) Luas Lahan < 0,1 ha 0,1 - 0,5 ha 0,6 Ae 1,0 ha >1 ha Lama Berusahatani O 5 tahun 6-10 tahun 11-15 Tahun Ou 16 tahun Umur, tingkat pendidikan, dan lama berusahatani sangat mendukung untuk pengembangan usaha tani yakni tergolong menengah, dan berpengalaman. Menurut Rosadillah. Anna dan Djoko . , menyebutkan bahwa usia yang produktif dapat mempengaruhi seseorang, baik dalam kemampuan fisik, pola pikir, serta pelaksanaan dan pengembangan usaha Selain itu, tingkat pendidikan yang pengetahuan yang berhubungan dengan berdampak pada kecepatan dalam mengadopsi suatu inovasi. Berdasarkan Manyamsari dan Mujiburrahmad . berusaha tani memegang peranan penting dalam peningkatan kompetensi petani. Meskipun demikian, lahan yang dimiliki petani dominan termasuk kriteria sempit yakni < 1 ha, sehingga jumlah produksi yang dihasilkan relatif sedikit. Menurut Ayinun dan Indriana . bahwa lahan merupakan faktor produksi yang sangat penting dan berpengaruh terhadap komoditas serta produksi pertanian yang Pola Kemitraan Usaha Tani Pola kemitraan yang sudah ada di Kecamatan Cipanas dianggap masih kurang dalam memberikan jaminan kepastian pasar dan kinerja kemitraan seperti dalam hal banyaknya petani yang tergabung dan bertahan pada Tabel 2. Tabel 2. Keragaan pola kemitraan usaha tani cabai merah di Kecamatan Cipanas Kategori % Pola Kemitraan (X. Nilai RataRendah Sedang Tinggi Jaminan Permodalan Pemberian Bimbingan Teknis Jaminan Kepastian Pasar Kinerja Kemitraan 8,90 5,40 Petani sudah mendapatkan jaminan permodalan yang lebih pasti dan bimbingan teknis dari mitra untuk menjaga kualitas sudah baik, akan tetapi untuk jaminan kepastian pasar dan kinerja masih perlu ditingkatkan lagi. Kerjasama jaminan permodalan sangat menguntungkan bagi 35,80 41,00 57,10 71,40 64,20 59,00 34,00 23,20 Menurut Yulianjaya dan Hidayat . yang mengamati pola kemitraan jaminan permodalan mampu memberikan pendapatan bagi petani sebesar Rp 558/ha . dan mitra pemodal sebesar Rp 4. 428/ha . ,27%). Pada kemitraan, bimbingan teknis diberikan Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 1, 31 Mei 2024 diberikan untuk mengawal kualitas hasil dan jaminan harga yang lebih baik maka pola kemitraan menghasilkan pendapatan yang lebih menguntungkan dibandingkan 654/ha/musim dengan R/C = 2,06 (Yanuar Jumlah keikutsertaan para petani yang bermitra dan berkelanjutan dianggap petani masih belum maksimal. Berdasarkan (Wulandari dan Tinaprilla, 2. menemukan bahwa kinerja kemitraan yang baik adalah yang memiliki kesamaan persepsi terhadap lingkup kemitraan yang disepakati. Selanjutnya (Suharno. Yuprin dan Barbara, 2. menyimpulkan bahwa kinerja pola kemitraan inti-plasma yang dikelola koperasi lebih baik dibandingkan yang dikelola oleh perusahan maupun Resiko keuntungan yang ditanggung bersama dalam sebuah koperasi memberikan peningkatan jumlah petani mitra dan bertahan dalam kemitraan tersebut. Peran Penyuluh Penyuluh sudah menjalankan perannya dengan baik dalam kemitraan Pengembangan model-model baru dalam bermitra dinilai masih belum maksimal, sehingga pola-pola kemitraan yang ada masih cenderung sama ruang lingkupnya pada Tabel 3. Tabel 3. Keragaan peran penyuluh di Kecamatan Cipanas Peran Penyuluh (X. Kategori % Rendah Sedang Tinggi Motivator 0,00 48,20 51,80 Dinamisator 41,10 58,90 Inovator 57,20 42,80 Fasilitator 55,40 44,60 Dalam pelaksanaan penyuluhan, terdapat kegiatan pembinaan untuk meningkatkan sumberdaya petani di bidang pertanian karena pembawaan materi oleh penyuluh yang mengandung keandalan, kemandirian, profesionalisme dan wawasan global (Chintyasari. Pronoto dan Agustina, 2019. Nurida. Evahelda dan Sitorus. Penyuluh memberikan dorongan kepada petani merah dalam meningkatkan usahataninya, serta mendampingi petani dalam memilih pola kemitraan yang Penyuluh juga telah berperan informasi kepada petani mengenai Akan keterampilan kepada petani dalam Nilai Ratarata 3,05 3,06 3,00 3,04 menggunakan cara baru yang lebih efisien perlu ditingkatkan. Kemitraan merupakan bagian dari pengembangan kelompok tani. Berdasarkan penelitian Marbun. Satmoko dan Gayatri . , menemukan bahwa peran penyuluh pertanian sebagai motivator, komunikator, fasilitator, dan inovator tidak berpengaruh secara bersama-sama terhadap pengembangan kelompok tani. Preferensi Petani Kepentingan dalam bermitra sudah dirasakan oleh petani seiring dengan ketidakpastian harga dan peningkatan harga saprodi. Meskipun demikian, penerapan dan keinginannya masih memerlukan peningkatan . lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 1, 31 Mei 2024 Tabel 4. Keragaan preferensi petani terhadap pola kemitraan cabai merah di Kecamatan Cipanas Preferensi Petani (Y) Kategori (%) Rendah Sedang Tinggi Nilai Ratarata Penerapan 60,70 39,30 3,01 Kepentingan 50,00 50,00 3,04 Keinginan 53,60 46,40 3,00 Sebelum bermitra dengan pihak lain, diperlukan pengetahuan tentang mitra sehingga bisa dijadikan preferensi. Menurut (Kotler, mendefinisikan preferensi sebagai suatu kesukaan seseorang atas berbagai produk atau jasa. Menurut Varanita. Indra dan Muslimah . , preferensi atau minat merupakan motivasi yang mendorong orang untuk melakukan yang mereka Berdasarkan responden, penerapan kemitraan untuk meningkatkan usahatani cukup menarik di kalangan petani cabai merah. Sebagian besar petani pernah menjalin kemitraan dengan berbagai macam pola kemitraan mulai dari kemitraan sarana produksi, pelatihan budidaya hingga pemasaran Sebagian memahami bahwa menjalin kemitraan sangat penting untuk dilakukan di masa Menjalin kemitraan dianggap sebagai kebutuhan guna meningkatkan taraf hidup Jaminan pasar yang stabil menghindari adanya fluktuasi harga cabai Keinginan dalam diri petani untuk menjalin kemitraan usahatani cabai merah cukup besar. Keinginan dalam diri petani muncul karena adanya keberhasilan dari orang-orang terdahulu atau petani lainnya yang telah sukses menjalin kemitraan. Hal ini didukung oleh penelitian Purnaningsih . , yang menyatakan bahwa interaksi dengan sesama petani menyebabkan petani memutuskan untuk bermitra karena melihat petani lain hidupnya lebih baik setelah ikut bermitra. Faktor yang Mempengaruhi Preferensi Petani terhadap Pola Kemitraan Variabel bebas pola kemitraan usaha tani (X. ditemukan mempengaruhi sebesar 48,3% terhadap preferensi petani (Y) pada Tabel 5. Tabel 5. Hasil uji regresi linier berganda Variabel Koefisien Sig. Karakteristik Petani (X. Pola Kemitraan Usaha Tani (X. Peran Penyuluh (X. Konstanta R Square Hasil persamaan regresi linear pada Persamaan 1. Dengan mengabaikan dua faktor yang tidak signifikan maka dapat dinyatakan bahwa preferensi petani dipengaruhi sebesar 48,30% oleh pola Keterangan Tidak Berpengaruh Berpengaruh Tidak Berpengaruh kemitraan usaha tani dan sisanya sebesar 70 % dipengaruhi oleh faktor lain diluar penelitian ini. Y=138. 020X1 0. 709X2-0,182X3 A. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 1, 31 Mei 2024 Pengaruh Karakteristik Petani terhadap Preferensi Petani. Berdasarkan hasil uji statistik, ternyata faktor karakteristik petani yang meliputi usia, tingkat pendidikan, luas lahan, dan lama berusahatani tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap preferensi petani dalam menjalin kemitraan uasahatani. Menurut Syaifullah. Aryo dan Sudarko, . , baik petani muda maupun tua tidak mempengaruhi tingkat partisipasi penyuluhan dalam pengetahuan informasi. Oleh karena itu, kemampuan seseorang dalam berpikir dan pengambilan keputusan dalam kemitraan usahatani tidak dipengaruhi oleh usia. Petani dengan tingkat pendidikan rendah lebih memerlukan penyuluhan dari pada petani dengan pendidikan cukup tinggi. Selanjutnya. Purnaningsih menunjukkan bahwa luasan lahan secara negatif berpengaruh nyata terhadap keputusan bermitra. Pola kemitraan cenderung diadopsi oleh petani lahan Petani lahan sempit membuat keputusan untuk bermitra dengan pihak lain dalam hal pemasaran, khususnya agar konsentrasi petani khusus untuk proses Peningkatan luas lahan petani akan membuat petani berusaha untuk mencari peluang sendiri, mandiri, keluar dari pola kemitraan sebelumnya. Pengaruh Pola Kemitraan Usaha Tani terhadap Preferensi Petani. Berdasarkan hasil uji regeresi linear berganda, ternyata faktor pola kemitraan usaha tani yang meliputi jaminan permodalan, pemberian bimbingan teknis, jaminan kepastian pasar, dan kinerja kemitraan berpengaruh secara nyata terhadap preferensi petani. Purnaningsih et al. , . menemukan bahwa keputusan bermitra sangat dipengaruhi oleh adanya bimbingan teknis pada kemitraan dengan membuka aksesibilitas petani dalam mengikuti pelatihan/kursus, melihat demfarm, dan mengunjungi atau mengikuti pameran produk pertanian. Selanjutnya penelitian Septiani HLD. Sumarwan. LN Yuliari . , juga menemukan bahwa kinerja kemitraan memiliki pengaruh positif terhadap penerimaan Peer to Peer Landing dimanasemakin baik kinerja kemitraan, maka preferensi petani akan meningkat. Berdasarkan Purnaningsih et al. menemukan bahwa pendorong petani bermitra adalah adanya jaminan pasar dan pasokan saprodi. Selanjutnya. Ardiansyah dan Aulawi . , menemukan bahwa kunci keberhasilan pada pola kemitraan inti plasma adalah komunikasi, kerjasama, kepercayaan, komitmen, dan hubungan nilai yang dibangun dengan baik. Pengaruh Peran Penyuluh terhadap Preferensi Petani. Berdasarkan hasil uji statistik ternyata bahwa faktor peran penyuluh yang meliputi motivator, dinamisator, innovator, dan fasilitator tidak memberikan pengaruh nyata terhadap preferensi Hal ini berarti penyuluh belum sepenuhnya mampu berperan dalam mempengaruhi petani dalam menjalin Hal ini selaras dengan penelitian Purnaningsih et al. , yang menyatakan bahwa interaksi antara penyuluh dengan petani biasanya terbatas pada petani-petani yang berhasil di suatu komunitas, dan penyebaran ke petani lain dilakukan melalui proses interaksi antar petani, baik melalui ketua poktan ataupun pengurus poktan. Oleh karena itu, penyebaran inovasi melalui teman atau tetangga adalah yang paling banyak Interaksi dengan sesama petani menyebabkan petani memutuskan untuk bermitra karena melihat petani lain hidupnya lebih baik setelah ikut bermitra. Keputusan tersebut tidak didasari oleh pengetahuan ataupun persepsi tentang inovasinya, tetapi semata-mata meniru. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 1, 31 Mei 2024 Virginia Chintyasari. Pronoto dan Agustina . yang menyatakan bahwa peran penyuluh masih dianggap kurang karena kemampuannya menggunakan media informasi yang belum sesuai dengan kebutuhan petani. Strategi Peningkatan Preferensi Hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa hanya faktor pola (X. memberikan pengaruh nyata terhadap preferensi petani dengan nilai pengaruh 70,9% (Tabel . Dari empat indikator pola kemitraan rata-rata nilai yang diperoleh kepastian harga (X2. dan kinerja kemitraan (X2. dan tertinggi pada indikator pemberian bimbingan (X2. Untuk meningkatkan preferensi petani maka dapat sisusun model strategi dengan meningkatkan indikator pada faktor pola kemitraan pada Gambar 2. Gambar 2. Model peningkatan preferensi petani terhadap pola kemitraan usahatani cabai merah Strategi yang dapat dilakukan agar preferensi petani meningkat adalah: . permodalan kepada petani cabai merah dengan persyaratan yang menguntungkan keberlangsungan usahatani cabai merah dapat terjamin. pihak mitra melakukan pembinaan dan memberikan bimbingan teknis kepada petani cabai merah dalam aspek teknologi, manajemen dan pasca . pihak mitra memberikan jaminan kepastian pasar sebagai off taker dengan harga dan kualitas yang ditetapkan menguntungkan kedua belah pihak. jumlah petani yang SIMPULAN DAN SARAN Preferensi petani terhadap pola kemitraan pada usahatani cabai merah di Kecamatan Cipanas dominan berada pada katagori sedang berdasarkan pada aspek penerapan, kepentingan dan Preferensi petani terhadap pola kemitraan pada usahatani cabai merah di Kecamatan Cipanas dipengaruhi oleh faktor pola kemitraan usahatani. Strategi Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 1, 31 Mei 2024 untuk meningkatkan preferensi petani terhadap pola kemitraan dapat dilakukan jaminan kepastian harga dan kinerja Juga disarankan untuk memperhatikan posisi petani dalam kegiatan kemitraan ini agar menjadi ketertarikan bagi petani untuk bergabung. DAFTAR PUSTAKA