Dewan Redaksi SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah Editor in Chief Yeni Asmara. Pd. (Universitas PGRI Silampar. Section Editor Ira Miyarni Sustianingsih. Hum (Universitas PGRI Silampar. Reviewer/Mitra Bestari Prof. Dr. Sariyatun. Pd. Hum. (Universitas Sebelas Mare. Prof. Kunto Sofianto. Hum. Ph. (Universitas Padjadjara. Dr. Umasih. Hum. (Universitas Negeri Jakart. Administrasi Dr. Viktor Pandra. Pd. (Universitas PGRI Silampar. Dr. Doni Pestalozi. Pd. (Universitas PGRI Silampar. Dewi Angraini. Si. (Universitas PGRI Silampar. Alamat: Jl. Mayor Toha Kel Air Kuti Kec. Lubuklinggau Timur 1 Kota Lubuklinggau 31626 Website: http://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JS/index Email: jurnalsindang@gmail. SINDANG: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH DAN KAJIAN SEJARAH Vol. 7 No. 2 (Juli-Desember 2. Halaman Dewan Redaksi . Daftar Isi . Prasasti Batu Gong : Studi Historis Peninggalan Sejarah Lokal Jember yang Terbengkalai Septian Andi Cahyo. M Agus Gunawan. Moch Lukman Hakim. Ilfiana Firzaq Arifin . Dekonstruksi dan Transformasi Makna Tradisi Mandi Kasai dalam Masyarakat Lubuklinggau Agus Susilo. Warto . Penerapan Model Problem Based Learning Berbatuan Wordwall Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Sejarah Hasanah. Hudaidah. Wardiyah . Analisis Kedudukan Sejarah dalam Studi Hadis dan Ilmu Hadis Ainun Nuriyah R. Zaahidah Aufaa A. Nurwadjah Ahmad. Dendi Yuda S . Analisis Tari Silampari Kayangan Tinggi (Studi Etnografi Di Kota Lubuklingga. Isbandiyah. Supriyanto . Vol. No. 2 (Juli-Desember 2. : 50-56 ISSN-P: 2684-8872 ISSN-E: 2623-2065 PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING BERBATUAN WORDWALL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH Hasanah1. Hudaidah2. Wardiyah3 Universitas Sriwijaya1. SMAN 2 Palembang3 Alamat korespondensi: hasanahrf. 27@gamil. Diterima: 11 September 2024. Direvisi: 05 2025. Disetujui: 13 Juli 2025 Abstract This study was motivated by the low critical thinking skills of students in understanding history, as indicated by their lack of analysis, interpretation, and evaluation of historical events. The research method used was Classroom Action Research (CAR) conducted in two cycles. Each cycle consisted of planning, implementation of actions, observation, and reflection. Data collection techniques used instruments in the form of observation sheets, written tests, and student Wordwall was used as an interactive tool that could increase student engagement during the learning process. The results showed that there was a significant increase in students' critical thinking skills. In Cycle I, critical thinking skills reached 39. 53%, and increased to 83. 72% in Cycle II. This indicates that the implementation of the PBL model assisted by Wordwall media is effective in improving students' critical thinking skills. Thus, this model can be used as an alternative innovative learning strategy in History lessons in secondary schools. Keywords: Problem Based Learning. Wordwall. Critical Thinking Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam memahami materi sejarah, yang ditunjukkan oleh kurangnya analisis, interpretasi, dan evaluasi terhadap peristiwa-peristiwa sejarah. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen berupa lembar observasi, tes tertulis, dan lembar kerja peserta didik. Media Wordwall digunakan sebagai alat bantu interaktif yang dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik selama proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan dalam kemampuan berpikir kritis peserta didik. Pada siklus I, kemampuan berpikir kritis mencapai 39,53%, dan meningkat menjadi 83,72% pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model PBL berbantuan media Wordwall efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Dengan demikian, model ini dapat dijadikan alternatif strategi pembelajaran inovatif pada mata pelajaran Sejarah di sekolah menengah. Kata Kunci: Problem Based Learning. Wordwall. Berpikir Kritis http://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JS/index SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah. Vol. No. 2 (Juli-Desember 2. : 50-56 PENDAHULUAN Pembelajaran disengaja antara pendidik dan peserta didik, yang melibatkan transformasi informasi dan pengaturan komponen pembelajaran guna mencapai keberhasilan pengetahuan baru yang relevan dengan (Sugihartono. Sistem pendidikan sebagai suatu entitas kompleks terdiri dari berbagai komponen saling terkait, seperti tujuan prasarana, lingkungan belajar, dan metode Keterkaitan antara berbagai komponen pembelajaran, mulai dari perumusan tujuan hingga evaluasi hasil pembelajaran yang holistik. Efektivitas sistem ini sangat menentukan keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, termasuk pengembangan kemampuan berpikir kritis. (Fitri et al. , 2023:. Berdasarkan UU no. 20 tahun 2003 Indonesia, didefinisikan sebagai upaya yang dilakukan dengan kesadaran dan perencanaan yang matang untuk menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan peserta didik berpartisipasi secara aktif. Berpikir kritis telah menjadi kompetensi esensial dalam era informasi yang dinamis. Kemampuan menganalisis informasi secara mendalam, mengevaluasi argumen secara objektif, dan mengambil keputusan mandiri merupakan prasyarat mutlak bagi individu untuk dapat berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan akademik. Abad ke-21 menuntut individu yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis. Peserta didik dituntut untuk mampu menganalisis informasi yang beragam. Pengembangan kemampuan berpikir kritis merupakan investasi jangka panjang bagi individu. Melalui proses berpikir kritis, peserta didik dilatih untuk menjadi pembelajar mandiri yang mampu mengkonstruksi pengetahuan baru, memecahkan masalah kompleks, dan mengambil keputusan yang rasional. (No et , 2. Pembelajaran sejarah memiliki potensi kemampuan berpikir kritis siswa. Melalui analisis mendalam terhadap peristiwa sejarah dari berbagai sudut pandang, siswa evaluasi, penalaran, dan pemecahan Namun, praktik pembelajaran sejarah yang masih didominasi oleh hafalan fakta-fakta sejarah secara mekanis seringkali menghambat pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi ini. Pendekatan pembelajaran sejarah yang menghasilkan pemahaman yang dangkal dan bersifat pasif. Sebaliknya, pendekatan pembelajaran yang menekankan pada analisis kritis, interpretasi, dan evaluasi sumber sejarah dapat mendorong siswa untuk menjadi pembelajar aktif yang mampu menghubungkan pengetahuan sejarah dengan konteks kehidupan nyata. (Sukowati & Harjono, 2. Sama halnya, dalam praktiknya, pembelajaran sejarah seringkali terjebak dalam model pedagogi yang berpusat pada guru, di mana penekanan utama diberikan pada menghafal tanggal dan peristiwa sejarah secara mekanis. Pendekatan yang pengembangan kemampuan berpikir Akibatnya, mensintesis informasi sejarah menjadi kurang optimal. Oleh karena itu, perlu dikembangkan model pembelajaran yang lebih inovatif dan berpusat pada peserta Menurut Phandini et al. , 2023 dalam (Indonesia et al. , 2024:. Model pembelajaran PBL dengan bantuan media wordwall dianggap sebagai salah satu alternatif yang efektif untuk mencapai tujuan tersebut. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menguji penerapan model PBL berbasis Wordwall yang merupakan metode pembelajaran berkombinasi, yang di mana Problem Based Learning (PBL) adalah metode pendekatan pedagogis yang memusatkan siswa pada pemecahan masalah autentik pembelajaran yang mengembangkan kompetensi pada siswa, seperti kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan komunikasi. menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran melalui pemecahan masalah nyata, dapat ditingkatkan efektivitasnya dengan pemanfaatan platform digital seperti wordwall. Pembelajaran Berbasis Masalah atau PBL merupakan pendekatan pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai pusat kegiatan belajar. Dalam model ini, guru berperan sebagai fasilitator dengan menyajikan permasalahan autentik. Siswa kemudian secara aktif terlibat dalam proses penyelidikan, analisis, dan sintesis informasi untuk menemukan solusi yang (Ontowijoyo 2022:. Hasanah. Hudaidah. Wardiyah. Penerapan Model Problem Based Learning Berbatuan Wordwall Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Pada Mata Pelajaran SejarahLubuklinggau Wordwall, dengan beragam fitur interaktifnya, memungkinkan siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses keterampilan berpikir tingkat tinggi, dan mengaplikasikan pengetahuan mereka dalam konteks yang relevan. Kombinasi PBL dan Wordwall ini tidak hanya mendorong siswa untuk berpikir kritis dan kreatif, tetapi juga memfasilitasi kolaborasi dan komunikasi antar siswa, sehingga pembelajar mandiri dan produktif serta menyampaikan materi yang akan diajarkan (Aprilia et al. , 2023:1. Hal ini dilakukan agar guru dapat memiliki fleksibilitas yang tinggi dalam merancang berbagai jenis aktivitas pembelajaran yang interaktif dan menarik, sehingga dapat mengakomodasi beragam gaya belajar Dalam konteks PBL. Wordwall dapat digunakan untuk menyajikan skenario masalah autentik, memfasilitasi diskusi kelompok, dan memberikan umpan balik instan melalui kuis dan teka-teki yang telah dirancang secara khusus sesuai dengan matreri pembelajaran. Oleh sebab itu, solusi Menghadapi tantangan dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran sejarah, penelitian ini mengusulkan inovasi melalui integrasi model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) dan media digital Wordwall. Berdasarkan pertimbangan di atas, penerapan model problem based learning berbantuan media wordwall untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada mata pelajaran sejarah di SMAN 2 Palembang. Metode Penelitian Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK merupakan suatu siklus penelitian yang bersifat reflektif, di mana guru sebagai peneliti melakukan tindakan perbaikan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas pada proses dampaknya, merefleksikan hasil yang diperoleh, dan melakukan siklus perbaikan Tujuan utama PTK adalah (Hutauruk, 2019:. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan desain siklus tunggal. Model Kemmis dan McTaggart dipilih sebagai kerangka kerja penelitian ini. Desain siklus tunggal ini melibatkan tahap perencanaan yang cermat, pelaksanaan tindakan perbaikan, pengamatan terhadap dampak tindakan, dan refleksi kritis terhadap hasil yang diperoleh. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk melakukan perbaikan pada praktik pembelajaran secara efisien dalam satu siklus penelitian ((Shoimin, 2014, 2. pelaksanaan, observasi dan refleksi yaitu: Gambar 1. Siklus penelitan Tindakan Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI. 5 di SMA Negeri 2 Palembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas model pembelajaran berbasis Problem Based Learning yang dimediasi Wordwall meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam mata pelajaran sejarah. Instrumen penelitian yang digunakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berupa modul. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), serta tes tertulis dan non-tes. Tes tertulis yang disusun mengacu pada Higher Order Thinking Skills (HOTS) Selain itu, instrumen non-tes digunakan untuk diperoleh dari hasil tes. Instrumen non-tes berisi rubrik penilaian untuk kerja LKPD disertai dengan indikator kemampuan berpikir kritis menurut Puspitasari et al. , 2020 yaitu keterampilan memecahkan masalah, menyimpulkan, evaluasi atau menilai. Teknik Tindakan pengamatan . , dokumentasi, dan tes. Tabel 1. Kategori Kemampuan berpikir Presentasi Skor Keterangan 0 O N O 24,95% Sangat Rendah 24,95% < N O 41,56% Rendah 41,56% < N O 58,35% Sedang 58,35% < N O 75,5% Tinggi 75,5% < N O 100% Sangat Tinggi Sumber: Anggiasari et. dalam (Fitri et al. , 2. Adapun rumus yang digunakan dalam menganalisis kemampuan berpikir peserta didik selama pembelajaran berlangsung yaitu (Emaini et. , 2. ycu ycE = N x 100% SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah. Vol. No. 2 (Juli-Desember 2. : 50-56 Keterangan: P= Presentase ketuntasan berpikir kritis n= Jumlah peserta didik yang mencapai skor tes > 75 dari skor maksimal 100 pembelajaran berbasis masalah (PBL) yang akan digunakan. Guru memberikan penjelasan tentang materi, dan peserta didik menerima lembar kerja peserta didik (LKPD) dalam kelompok untuk membahas masalah yang Mereka menyelesaikan permainan kuis teka-teki silang yang tersedia di media wordwall. Meskipun demikian, dalam kegiatan diskusi dan presentasi, terlihat bahwa tidak semua peserta didik berpartisipasi Beberapa cenderung mengandalkan hanya beberapa anggota saja. Ketika mempresentasikan temuan dan solusi masalah di depan kelas, terlihat bahwa keterlibatan peserta didik lain dalam memberikan komentar atau mengajukan pertanyaan masih kurang optimal. Setelah menyampaikan tanggapan dan komentar terhadap hasil diskusi kelompok, guru melanjutkan dengan memberikan evaluasi kepada siswa melalui kuis interaktif berformat teka-teki silang kelompok. Pengamatan Sebagai langkah untuk mengetahui sejauh mana kemampuan berpikir kritis siswa meningkat setelah siklus 1, peneliti keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran serta menganalisis hasil belajar siswa melalui berbagai instrumen Adapun kemampuan berpikir kritis peserta didik pada siklus 1 dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 2. Hasil Observasi Kemampuan Berpikir Kritis Siklus I Skor Juml Present Sanga 4,65% 24,95 Rend 24,95 Rend 11,62% % < N O 41,56 41,56 Sedan 18,60 % % < N O 58,35 58,35 Tingg 39,53% % < N O N= Jumlah peserta didik keseluruhan Kriteria ketuntasan belajar peserta didik terhadap kemampuan berpikir krtis dapat dinyatakan sebagai berikut Daya serap perorangan yaitu seorang peserta didik dikatakan berpikir kritis apabila telah mencapai skor <75 dari skor tes maksimal 100 Daya serap klasikal yaitu suatu kelas dikatakan berpikir kritis apabila minimal 80% peserta didik yang tuntas dengan nilai >75 sumber. Pembahasan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk peserta didik di kelas XI SMA Negeri 2 Palembang. Dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) dengan bantuan media wordwall, peneliti ingin meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Dalam siklus I dan siklus II, peneliti melakukan sejumlah tindakan. Penelitian ini dimulai dengan observasi kemampuan berpikir kritis peserta didik. Berdasarkan ditemukan, peneliti percaya bahwa ada perlunya perbaikan pada perencanaan, pelaksanaan, dan kegiatan peserta didik dalam pembelajaran sejarah. Oleh karena itu, peneliti berharap dapat menerapkan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) berbatuan dengan wordwall sebagai media dalam pembelajaran sejarah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis Siklus 1 Kegiatan pembelajaran pada siklus 1 terbagi atas beberapa tahapan yang Tahap perencanaan Pada tahap perencanaan, peneliti menggunakan model problem based learning (PBL). Menyusun modul ajar materi Koloniaslisme dan perlawanan bangsa Indonesia, menyiapkan media pembelajaran power point dan media wordwall. Menyusun lembar kerja peserta didik (LKPD) untuk kegiatan kelompok dan juga mempersiapkan alat evaluasi untuk mengukur kemampuan berpikir kritis peserta didik. Pelaksanaan Guru memulai kegiatan pembelajaran dengan membuka kelas, mengucapkan salam, doa, memeriksa kerapian, dan melihat absensi. Guru juga menjelaskan tujuan pembelajaran dan skenario Hasanah. Hudaidah. Wardiyah. Penerapan Model Problem Based Learning Berbatuan Wordwall Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Pada Mata Pelajaran SejarahLubuklinggau % < N O Sanga Tingg menyampaiakn tujuan pembelajaran dan pemberian motivasi dengan mengajak peserta didik kedalam materi. Pada kegiatan inti, guru mengawali dengan pemberian pertanyaan pemantik dan kolonialisme dan perlawanan bangsa Indonesian. Kemudian guru membagi peserta didik kedalam beberapa kelompok dan memberikan LKPD yang berisikan permasalahan yang harus dianalisis. Setelah mempresentasikan hasil temuannya di depan kelas, guru juga memberikan kuis teka-teki silang melalui media wordwall yang harus peserta didik selesaikan dengan anggota kelompoknya. Setelah ituu guru memberikan soal evaluasi untuk mengukur kemampuan berpikir kritis melakukan observasi dan penilaian terhadap hasil kerja peserta didik. Pada kegiatan penutup diakhiri dengan guru dan peserta didik menyimpulkan materi yang telah dipelajari, guru melakukan refleksi dengan bertanya mengenai bagaimana perasaan peserta didik setelah mengikuti pembelajaran pada hari ini. Kemudian terakhir ditutup dengan doa Pengamatan 39,53% (Sumber: Hasil analisis dat. Refleksi Dari hasil observasi kemampuan berpikir kritis peserta didik dengan penerapan model pembelajaran problem based learning berbantuan media wordwall dalam hal ini didapatkan hasil yang paling dominan yaitu dengan klasifikasi sangat tinggi dengan jumlah 17 orang. Namun masih terdapat peserta didik yang belum mencapai skor yang diharapkan, sehingga masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan hasil siklus I, perlu dilakukan perbaikan pada siklus II dengan menyusun LKPD dan soal yang lebih kompleks dan berbasis HOTS untuk merangsang kemampuan berpikir kritis peserta didik. Selain itu, untuk meningkatkan kualitas diskusi, jumlah anggota dalam setiap kelompok akan dibatasi agar setiap siswa memiliki kesempatan yang lebih besar untuk aktif Siklus 2 Melihat hasil siklus 1 yang kurang memuaskan, penelitian dilanjutkan ke siklus 2 dengan melakukan penyesuaian dan perbaikan untuk mengatasi kendala yang ditemui sebelumnya. Pada tahap perencanaan, peneliti menyiapkan rencana pembelajaran berupa modul dengan menggunakan model problem based learning (PBL), menggunakan media kuis wordwall, membuat LKPS kelompok, dan menyiapkan alat evaluasi untuk mengukur kemampuan berpikir krtitis peserta ddik. adapun kegiatan yang dilakukan selama proses pembelajaran pada siklus II, terdiri dari beberapa tahapan, yaitu: Perencanaan Dalam tahap perencanaan, peneliti menyusun rencana pembelajaran yang berpusat pada masalah (PBL) dengan mengembangkan modul pembelajaran yang dilengkapi dengan kuis interaktif menggunakan platform Wordwall, lembar kerja kelompok (LKPD), serta instrumen penilaian yang dirancang khusus untuk mengukur kemampuan berpikir kritis peserta didik. Pelaksanaan Tahap pelaksanaan diawali dengan kegiatan pendahuluan dengan memberi salam, menanyakan kabar peserta didik, melakukan absensi, melakukan apersepi dengan menanyakan materi pada Untuk kemampuan berpikir kritis siswa setelah siklus II, peneliti melakukan pengamatan langsung terhadap aktivitas siswa selama pembelajaran dan menganalisis hasil belajar yang diperoleh siswa. Hasil pengamatan tersebut disajikan pada tabel di bawah ini. Tabel 3. Hasil Observas Kemampuan Berpikir kritis siklus II Sko Klasifi Juml Presen Sangat N O Renda Renda < N Sedang 4,65% < N O SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah. Vol. No. 2 (Juli-Desember 2. : 50-56 Tinggi < N O Sangat % < Tinggi N O (Sumber: Hasil analisis dat. Berdasarkan hasil penelitian pada siklus I dan II, dapat disimpulkan bahwa kemampuan peserta didik dalam mencari pengetahuan secara mandiri mengalami Hal ini terlihat dari . semakin aktifnya peserta didik dalam mengamati media pembelajaran yang pertanyaan pemantik yang relevan dengan konteks budaya dan pengalaman hidup . Peserta didik memiliki kemampuan untuk menganalisis informasi pengumpulan dan pemecahan masalah LKPD. Peserta didik menunjukkan peningkatan keaktifan dalam berdiskusi dan bekerja sama dengan teman 11,62% 83,72% Dilihat pada tbel diatas, menunjukkan adanya peningkatan pada kemampuan berpikir kritis peserta didik pada siklus II yaitu dengan kategori sedang 4,65%, kategori tinggi 11,62% dan kategori sangat tinggi 83,72%. Refleksi Setelah melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran sejarah yang (PBL) memanfaatkan media wordwall, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media wordwall dalam model pembelajaran PBL kemampuan berpikir kritis peserta didik. Menurut (Pendidikan, 2024:. dalam Penerapan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) yang dimediasi wordwall telah menunjukkan hasil yang signifikan berpikir kritis peserta didik. Peningkatan ini dapat dikaitkan dengan perencanaan pembelajaran yang matang serta penyajian masalah autentik yang merangsang peserta didik untuk berpikir secara kritis dan Temuan ini sejalan dengan penelitian (Rahmah et al. , 2019:. yaitu bahwa PBL dapat meningkatkan keterlibatan aktif peserta didik dan mengasah keterampilan berpikir kritis mereka. Peningkatan kemampuan berpikir kritis peseta didik tidak terlepas dari penerapan model problem based learning (PBL) berbantuan media wordwall. Dari hasil yang didapatkan penerapan model problem based learning (PBL) berbantuan wordwall dapat membangun semangat belajar peserta didik melalui permasalahan yang disajikan melalui LKPD dan pemecahan masalah melalui kuis teka-teki silang pada media wordwall. Pada penelitian ini, orientasi masalah disajikan melalui LKPD kelompok yang diberikan dan kuis pada Permasalahan yang disajikan dapat merangsang rasa penasaran yang ada didalam pikiran peserta didik, cepat tanggap dan menstimulus kemampuan berpikir kritis peserta didik. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, penerapan model pembelajaran problem based learning berbantuan media wordwall dari siklus I dan II dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik, hal ini terlihat pada adanya peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik presentase 39,3% pada siklus I dengan peningkatan menjadi 83,72% pada siklus 2. Ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran problem based learning berbantuan media wordwall efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Saran