Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Akreditasi No. 32a/E/KPT/2017 DOI: 10. 24034/j25485024. p-ISSN 2548 Ae 298X e-ISSN 2548 Ae 5024 PENGARUH DEMOGRAFIS TERHADAP TINGKAT PREFERENSI. KEPUASAN DAN PERSEPSI RISIKO MASYARAKAT PADA PRODUK HIJAU DI SEKTOR OBAT TRADISIONAL Rizka Zulfikar rizkazulfikar@gmail. Prihatini Ade Mayvita Purboyo Fakultas Ekonomi Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin ABSTRACT This study aims to examine the relationship model of the demographic, level of preference, satisfaction and risk perception of people who consume traditional medicines and later can be used by traditional drug product developers to develop marketing policies. This research was conducted in Banjarmasin city with the time of the study starting from October 2018 to March 2019. The target population in this study was the piblic of Banjarmasin using as many as 150 respondents. Sampling uses purposive sampling method. Data collection uses a questionnaire uses an analysis of SEM (Structural Equation Mode. The results of the study found that: . the level of preference, satisfaction and risk perception of the people of the city of Banjarmasin on traditional medicinal products is quite good because the majority of respondents are in the middle category. The structural equation model obtained from the study met the standards of goodness of fit index and could explain the relationship of all variables studied, . Demographic variables had a significant effect on variables satisfaction and risk perception but did not have a significant influence on preference levels . Demographic variables have a correlation with satisfaction variables . ositive-moderat. , with preference variables . ositive-wea. and with risk perception variables . egative-wea. Key words: preference, satisfaction, risk perception, traditional medicine, structural equation model. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji model hubungan demografis, tingkat preferensi, kepuasan dan persepsi risiko masyarakat produk obat tradisional yang nantinya dapat digunakan oleh para pengembang produk obat tradisional untuk menyusun kebijakan pemasaran. Penelitian ini dilaksanakan di kota Banjarmasin dengan waktu penelitian mulai dari bulan Oktober 2018 sampai dengan Maret 2019. Populasi target dalam penelitian ini adalah masyarakat kota Banjarmasin sebanyak 150 responden. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dianalisa dengan SEM (Structural Equation Mode. Hasil penelitian menemukan bahwa: . tingkat Preferensi, kepuasan dan persepsi risiko masyarakat kota Banjarmasin terhadap produk obat tradisional sudah cukup baik karena penilaian responden mayoritas berada dalam kategori sedang. Model structural equation model yang didapat dari penelitian telah memenuhi standar goodness of fit index dan dapat menjelaskan hubungan seluruh variabel yang diteliti, . Variabel demografis berpengaruh signfikan terhadap variabel kepuasan dan persepsi risiko namun tidak memiliki pengaruh secara signifikan terhadap tingkat preferensi . Variabel demografis memiliki korelasi dengan variabel kepuasan . ositifAesedan. , dengan variabel preferensi . ositif-lema. dan dengan variabel persepsi risiko . egatif-lema. Kata kunci: preferensi. persepsi risiko. produk obat tradisional. structural equation model. PENDAHULUAN Dari sudut pandang manajemen, beberapa studi menunjukkan bahwa penge- lolaan lingkungan yang baik memiliki pengaruh terhadap kondisi keuangan suatu perusahaan yang biasanya diaplikasikan Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 168 Ae 187 melalui komitment terhadap green management (Molina-AzorAon, et al, 2009. Huang dan Kung, 2. Bahkan, beberapa perusahaan telah mengadopsi strategi green marketing dan meneliti atribut-atribut ling kungan sebagai sumber keunggulan bersaing (Chen dan Chai, 2. Hal inilah yang mendasari betapa pentingnya untuk memahami profil dan perilaku konsumen hijau sehingga perusahaan dapat mengembangkan target dan strategi segmentasi yang lebih baik (D'Souza et al, 2. Meskipun ada beberapa faktor yang mempengaruhi green marketing, namun dampak negatif atas penggunaan suatu produk seperti global warming penipisan ozon, kerusakan hutan atau meningkatnya bencana banjir masih menjadi hal utama yang harus dipertimbangkan (Do Paco et al, 2. Perusahaan juga harus memperhatikan keterkaitan antara perilaku konsumen, kegiatan pemasaran dan lingkungan, karena dengan mengintensifkan kegiatan yang dapat meningkatkan kesadaran dan perhatian terhadap lingkungan dapat menjadi hal yang positif dalam penerapan green management (Akehurst et al, 2. Faktor-faktor seperti gender, usia, tingkat penghasilan dan jenis pekerjaan berpengaruh terhadap kepuasan produk hijau dalam rangka meningkatkan minat beli terhadap produk hijau (Schiffman dan Kanuk, 2008. Widyastuti dan Widagda, 2012. Hamzan dan Bayu, 2013. Hendrani et al. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh (Yahya, 2011. Syahbandi, 2012. Aryant et al, 2014. Yasa dan Ekawati, 2015. Muzayanah et al, 2. , menunjukkan hasilnya yang berbeda sehingga diperlukan bukti empiris lebih lanjut untuk melihat hubungan antara demografis dengan faktor-faktor yang berkaitan dengan preferensi, kepuasan dan persepsi konsumen. Penelitian yang dilakukan ini merupakan pengembangan hasil penelitian (Zulfikar dan Mayvita, 2. yang meneliti tingkat kepercayaan dan minat beli masyarakat Banjarmasin terhadap produk hijau dan menemukan segmen potensial ber- dasarkan tingkat kepercayaan dan minat beli masyarakat Banjarmasin untuk produkproduk fast moving consumer goods, namun penelitian ini masih belum mengukur tingkat preferensi dan kepuasan masyarakat. Dalam penelitiannya. Zulfikar . juga menyatakan bahwa tingkat kepercayaan dan minat beli masyarakat Banjarmasin sudah berada dalam kategori sedang dan dapat dikembangkan sebagai potensi pasar untuk produk hijau. Selanjutnya (Zulfikar dan Mayvita, 2. mengembangkan model hubungan antara persepsi nilai, risiko dengan tingkat kepercayaan masyarakat Banjarmasin terhadap produk hijau, dimana dinyatakan bahwa persepsi risiko memiliki pengaruh yang signifikan dalam membentuk kepercayaan masyarakat Banjarmasin terhadap produk hijau, namun belum dijelaskan peran lain dari persepsi risiko dalam membentuk tingkat kepuasan masyarakat dan tingkat preferensi masyarakat terhadap produk hijau. Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah: . Bagaimanakah model yang dapat menjelaskan hubungan antara variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian? . Apakah terdapat hubungan baik pengaruh maupun korelasi antara variabel demografis terhadap tingkat preferensi, kepuasan dan persepsi risiko masyarakat Banjarmasin pada produk obat TINJAUAN TEORETIS Kesadaran Lingkungan Mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan (Waskito. J, dan Harsono. M, 2. direspon oleh banyak perusahaan untuk dapat memanfaatkan peluang isu ini demi kepentingan bisnis mereka (Haden et al, 2. Konsumen hijau . reen consume. adalah konsumen yang peduli terhadap lingkungan dan memiliki perilaku yang berwawasan lingkungan (Soonthonsmai. V, 2. Kontribusi konsumen hijau akan meningkatkan kualitas lingkungan melalui kegiatan pembelian produk-produk yang ramah lingkungan Pengaruh Demografis Terhadap Tingkat Preferensi. Kepuasan Dan . Ae Zulfikar. Mayvita. Purboyo (Muhmin, 2. Kondisi kesadaran lingku ngan yang meningkat ini menimbulkan adanya green consumerism yang semakin meningkat dan menyebabkan adanya beberapa perusahaan mulai membuat konsep ramah lingkungan dalam pemasaran produknya melalui kegiatan green marketing ( Baker dan Ozaki, 2. Produk dan Konsumen Hijau Secara umum, produk hijau adalah produk yang berwawasan lingkungan tidak berbahaya bagi manusia dan lingkungannya, tidak boros sumber daya, tidak menghasilkan sampah berlebihan, dan tidak melibatkan kekejaman pada binatang (Soonthonsmai. V, 2007. Shaikh dan Mustaghis. Sebagai pengguna produk hijau, terdapat suatu bentuk konsumen corak baru yang menamakan dirinya konsumen hijau . reen consume. yaitu konsumen yang peduli lingkungan hidup dan memiliki perilaku yang berwawasan lingkungan (Soonthonsmai. V, 2. Populasi konsumen produk organic sulit untuk diketahui jumlahnya karena berkembangnya perdagangan produk organik sendiri belum terlalu lama di Indonesia. Tidak hanya jumlah yang sulit diukur, tapi juga kelompok konsumennya tidak mudah ditemukan (Hendrani et al. Kontribusi konsumen hijau akan meningkatkan kualitas lingkungan melalui kegiatan pembelian produk-produk yang ramah lingkungan (Muhmin, 2. sehingga kegiatan untuk lebih memahami kosumen hijau dan karakteristiknya sangatlah penting bagi para pengembang produk hijau untuk kepentingan targeting dan segmenting pasar (D'Souza et al, 2. Sikap dan Perilaku Konsumen Hijau Dalam membeli produk, konsumen hijau tidak hanya mengutamakan faktor lingkungan, tetapi juga mempertimbangkan faktor lain seperti kualitas produk (Thygersen dan Zhou, 2. Secara umum atribut berwawasan lingkungan yang melekat pada produk hijau masih memiliki pengaruh yang sedikit terhadap sikap penerimaan dan perilaku konsumen terhadap produk hijau (Solomon et al, 2. Pengaruh yang lebih besar ditunjukkan oleh faktor kepuasan terhadap sikap penerimaan konsumen yang dapat mendorong peningkatan permintaan, perluasan pasar dan kesetiaan terhadap merek (Singh et al, 2. Determinan Minat Beli Konsumen Hijau Berbagai penelitian menunjukkan bahwa atribut lingkungan pada produk hijau masih memiliki peranan yang sedikit terhadap sikap dan perilaku konsumen dibandingkan dengan faktor kepuasan (Chang dan Fong, 2. Para peneliti sepakat bahwa sikap penerimaan konsumen terhadap produk hijau lebih mempertimbangkan faktor kepuasan dan kegiatan perusahaan yang tidak merugikan lingkungan (Leonidos et al. Sehingga perusahaan perlu mengembangkan produk yang memiliki atribut selain keramahan lingkungan tetapi juga atribut produk yang bernilai tinggi untuk meningkatkan niat pembelian konsumen. Selain itu, salah satu elemen kunci strategi pemasaran hijau adalah kredibilitas (Leonidos et al, 2. dan menurunkan persepsi risiko pelanggan dalam mengkonsumsi produk hijau dapat membantu untuk menurunkan skeptisisme pelanggan dan meningkatkan kepercayaan mereka (Chang dan Chen. Selanjutnya dalam penelitian Chen dan Chang . menemukan bahwa kepuasan terhadap produk hijau dapat berperan sebagai mediasi untuk membentuk persepsi risiko menjadi kepercayaan terhadap suatu produk hijau. Persepsi risiko didefinisikan sebagai bentuk penilaian konsumen tentang kemungkinan bahwa hasil negatif akan terjadi apabila membeli produk. Persepsi risiko terdiri dari komponen-komponen: . Risiko Fisik, . Risiko Psikologis dan . Risiko Waktu (Mowen dan Minor, 2. Bagi kegiatan pemasaran, upaya-upaya untuk menurunkan persepsi risiko akan sangat membantu dalam meningkatkan kepercayaan konsumen (Chang dan Chen, 2. dan Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 168 Ae 187 tingkat risiko yang dirasakan oleh konsumen akan mempengaruhi keputusan konsumen untuk mempercayai atau tidak mempercayai suatu produk atau perusahaan (HarridgeMarch, 2. yang dapat menimbulkan konsekuensi konsumen enggan membeli produk tersebut karena ketidakpercayaan mereka pada produk atau perusahaan yang memproduksi produk tersebut (Gregg dan Walczak, 2. , sehingga setiap pengembang produk hijau harus menyediakan unit layanan konsumen yang dapat menindak lanjuti setiap keluhan atau informasi yang menunjukkan kelemahan produk untuk tetap menjaga kepercayaan konsumen dan selanjutnya akan diwujudkan dalam bentuk pembelian kembali (Zulfikar dan Mayvita. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Kota Banjarmasin pada bulan Oktober 2018 hingga Maret 2019 dan merupakan penelitian survey dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen yang menggunakan skala Likert dengan gradasi dari sangat positif sampai sangat negative. Populasi adalah masyarakat kota Banjarmasin dan jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 150 sampel dan jumlah minimum sampel didapat dengan menggunakan rumus slovin sebagai berikut (Arikunto. Z21OeOy/2. Oe. n =. cAOe. ycc2 Z2 1OeOy/2. Oe. Dimana: n = Besar sampel minimum Z = Nilai distribusi normal baku . abel Z) pada Oy = 0. p = Proporsi di populasi d = Kesalahan (Absolu. yang dapat N = Besar populasi Menurut BPS Banjarmasin, jumlah penduduk Banjarmasin hingga tahun 2017 mencapai 675. 440 jiwa, dengan proporsi populasi =10 % dan tingkat kesalahan absolut yang dapat ditolerir adalah 5 %, maka besar sampel minimum yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 440 x . 2 x 0. 1 x 0. = 138 sampel . 2 x 0. 1 x 0. n = . Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 150 orang sehingga telah memenuhi syarat minimum jumlah sampel. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non purposive sampling selanjutnya dilakukan penyuntingan data . diting dat. Variabel dan definisi operasional yang diamati dalam penelitian disajikan pada Tabel 1. Tabel 1 Variabel dan Indikator Penelitian Variabel Indikator Green Preferences (GPF)/Preferensi . Availability (GPF. Need Recognition (GPF. Evaluation of Alternatives (GPF. -Social Value (PV. Purchase Decision (GPF. Green Satisfaction (GS)/Kepuasan . Quality (GS. Cost Satisfaction (GS. Service and Claim (GS. Green Perceived Risk/Persepsi . Phsycal Risk (GR. Risko (GPR) . Phsycological Risk (GR. Time Risk (GR. Pengaruh Demografis Terhadap Tingkat Preferensi. Kepuasan Dan . Ae Zulfikar. Mayvita. Purboyo Demografis (D) . Gender . Usia . Tingkat Pendidikan . Jenis Pekerjaan . Tingkat Penghasilan Gambar 1 Model Penelitian Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah Structural Equation Model (SEM) (Gambar . sedangkan teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini Uji Kualitas Data (Validitas dan reliabilitas konstruk instrume. untuk melihat kevalidan dan reliabilitas konstruk. Analisis Kategorisasi Variabel dan Indikator. Analisis Perbandingan Rata-rata Penilaian Responden Terhadap Indikator Structural Equation Model untuk pembuktian hipotesis dalam penelitian. Dalam analisis SEM dilakukan uji kesesuaian model dan harus memenuhi kriteria goodness of fit index sesuai Tabel 2. Tabel 2 Goodness Of Fit Index Goodness of Fit (GOF) Index Chi Square Probability GFI AGFI TLI CFI CMIN/DF RMSEA Cut Off Value Kecil Ou 0. Ou 0. Ou 0. Ou 0. Ou 0. O 2,00 O 0. Sumber: (Ferdinand, 2. Adapun hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 168 Ae 187 Demografis memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Tingkat Preferensi (GPF). Kepuasan (GS) dan Persepsi Risiko (GPR) masyarakat pada produk obat Terdapat korelasi antara demografis dengan variabel tingkat preferensi (GPF), kepuasan (GS) dan persepsi risiko masyarakat (GPR) pada produk obat tradisional. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Responden yang digunakan dalam penelitian ini (Tabel . didominasi adalah perempuan . %), umur antara 41-50 tahun . %), karyawan swasta . %), berpenghasilan Rp 2,5 Juta Ae Rp 4,9 Juta . %) dan berpendidikan Sarjana . %). Tabel 3 Karakteristik Responden Demografis Respon Frek Gender Laki-laki Perempuan Usia < 20 Tahun 21 Ae 30 Tahun 31 Ae 40 Tahun 41 - 50 Tahun > 50 Tahun Pekerjaan Tidak Bekerja Pelajar/Mhswa Pegawai Negeri Kary. Swasta Demografis Respon Demographics Factor Frek Wirausahar Profesional Pendapatan < Rp 1 Million Rp 1Ae Rp 2,49 Million Rp 2,5Ae Rp 4,9 Million Rp 5Ae Rp 9,9 Million > Rp 10 Milion Education Elementary/Junior/High School Diploma (D1,D2. Under Graduate Graduate Post Graduate Analisis Kategorisasi Variabel Variabel Preferensi Hasil analisis deskriptif pada variabel preferensi nilai mynimum sebesar 38,00. maksimum sebesar 68,00. mean sebesar 52,6. dan standar deviasi sebesar 5,39 dan kategorisasi untuk variabel preferensi disajikan pada Tabel 4. Tabel 4 menunjukkan bahwa sebanyak 26 responden . %) memberikan penilaian terhadap variabel preferensi dalam kategori tinggi. Sebanyak 103 responden . %) memberikan penilaian terhadap variabel preferensi dalam kategori sedang, dan sebanyak 21 responden . %) memberikan penilaian terhadap variabel preferensi dalam kategori rendah. Data tersebut me- nunjukkan bahwa sebagian besar responden memberikan penilaian pada variabel preferensi terhadap produk obat tradisional dalam kategori sedang, sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat preferensi masyaTabel 4 Kategorisasi Variabel Preferensi Kategori Tinggi Sedang Rendah Interval Skor Frek. X Ou 57,99 47,21 O X < 57,99 X < 47,21 Jumlah Pengaruh Demografis Terhadap Tingkat Preferensi. Kepuasan Dan . Ae Zulfikar. Mayvita. Purboyo rakat terhadap produk obat tradisional sudah cukup baik karena mayoritas penilaian responden sudah pada kategori Untuk hasil analisa deskriptif variabel preferensi berdasarkan demografis dapat dilihat pada Tabel 5 di bawah ini: Tabel 5 Variabel Preferensi Berdasarkan Demografis Faktor Demografis Gender Laki-laki Perempuan Usia Dibawah 20 Tahun 21 Ae 30 Tahun 31 Ae 40 Tahun 41 - 50 Tahun Di atas 50 Tahun Pekerjaan Tidak Bekerja Pelajar atau Mahasiswa Pegawai Negeri Karyawan Swasta Wiraswasta Jasa Profesi Penghasilan < Rp 1 Juta Rp 1AeRp 2,49 Juta Rp 2,5AeRp 4,9 Juta Rp 5AeRp 9,9 >Rp 10 Juta Pendidikan SD/SLTP/SLTA Diploma (D1,D2,D. S-1 S-2 S-3 Tinggi Sedang Rendah Berdasarkan Tabel 5, maka dapat disampaikan hal-hal sebagai berikut: Berdasarkan gender, nilai preferensi kategori tinggi cenderung lebih banyak diberikan oleh responden perempuan . %) daripada lakiAelaki . %). Untuk kategori sedang, persentase perempuan . %) juga cenderung lebih banyak daripada lakilaki . %), sedangkan dikategori rendah, perempuan memiliki persentase yang lebih kecil daripada laki-laki. Berdasarkan usia, nilai preferensi kategori tinggi cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dalam kelompok usia 21Ae30 Tahun . %) dan kelompok usia 31-40 Tahun . %) dibandingkan kelompok usia lainya. Untuk kategori sedang, cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dalam kelompok usia 21Ae30 Tahun . %) dan kelompok usia 4150 Tahun . %) dibandingkan kelompok usia lainya sedangkan dikategori rendah, kelompok usia di atas 50 tahun memiliki persentase yang lebih tinggi daripada kelompok usia lainnya. Berdasarkan jenis pekerjaan, nilai preferensi kategori tinggi cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dengan pekerjaan pegawai atau karyawan swasta . %), dibandingkan kelompok pekerjaan Untuk kategori sedang, cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dengan pekerjaan sebagai wiraswasta . %) dibandingkan kelompok usia lainnya sedangkan dikategori rendah, kelompok responden dengan pekerjan sebagai pelajar atau mahasiswa memiliki persentase yang lebih tinggi daripada responden dengan jenis pekerjaan lainnya. Berdasarkan tingkat penghasilan, nilai preferensi kategori tinggi cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dengan tingkat penghasilan di bawah Rp 1 Juta . %), dibandingkan kelompok usia lainnya. Untuk kategori sedang, cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dengan tingkat penghasilan antara Rp 1 JutaAeRp 2,49 Juta . %) dibandingkan kelompok tingkat penghasilan lainnya sedangkan dikategori rendah, kelompok responden dengan tingkat penghasilan Rp 2,5 JutaAeRp 4,999 Juta . %) dan memiliki persentase yang kelompok responden dengan penghasilan Rp 5 JutaAeRp 9,999 Juta . %) lebih tinggi daripada Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 168 Ae 187 kelompok responden dengan tingkat penghasilan lainnya. Berdasarkan tingkat pendidikan, nilai kepercayaan kategori tinggi cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dengan tingkat pendiikan Diploma . %), dibandingkan kelompok responden dengan tingkat pendidikan lainya. Untuk kategori sedang, cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dengan tingkat pendidikan S-2 . 9%) dibandingkan kelompok tingkat penghasilan lainnya sedangkan dikategori rendah, kelompok responden dengan tingkat pendidikan S1 memiliki persentase yang lebih tinggi daripada responden dengan tingkat pendidikan lainnya. Namun secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa berdasarkan demografis, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap produk hijau sudah cukup baik dan masih dapat ditingkatkan untuk seluruh kelompok faktor demografis. Variabel Kepuasan Hasil analisis deskriptif pada variabel kepuasan diperoleh nilai minimum sebesar 10,00. nilai maksimum sebesar 14,00. sebesar 0,79. dan standar deviasi sebesar 4,58. Selanjutnya data atribut produk dikategorikan dengan menggunakan skor ratarata ideal (M. dan simpangan baku ideal (SD. Kategorisasi untuk variabel kepuasan disajikan pada Tabel 6. Tabel 6 Kategorisasi Variabel Kepuasan Kategori Tinggi Sedang Rendah Interval Skor X Ou 5,37 -3,79 O X < 5,37 X < -3,79 Jumlah Frek. Tabel 6 menunjukkan bahwa sebanyak 78 responden . %) memberikan penilaian pada variabel kepuasan dalam kategori Sebanyak 65 responden . %) mem- berikan penilaian terhadap variabel kepuasan dalam kategori sedang, dan sebanyak 7 responden . %) memberikan penilaian terhadap variabel kepuasan dalam kategori Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden memberikan penilaian pada variabel kepuasan dalam kategori tinggi, sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat kepuasan masyarakat terhadap produk obat tradisional sudah sangat Untuk hasil analisa deskriptif variabel kepuasan berdasarkan demografis dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7 Variabel Kepuasan Berdasarkan Demografis Faktor Ting Seda Renda Demografis Gender Laki-laki Perempuan Usia Dibawah 20 Tahun 46% 21 Ae 30 Tahun 31 Ae 40 Tahun 41 - 50 Tahun Di atas 50 Pekerjaan Tahun Tidak Bekerja Pelajar/Mhsisw aPegawai Negeri Karyawan Wiraswasta Swasta Jasa Profesi Penghasilan < Rp 1 Juta Rp 1Ae Rp 2,49 Jt Rp 2,5Ae Rp 4,9 Jt Rp 5Ae Rp 9,9 Jt >Rp 10 Juta Pendidikan A SD/SLTP/SLTA A D1,D2. A S-1 A S-2 A S-3 Berdasarkan Tabel 7, maka dapat disampaikan hal-hal sebagai berikut: Pengaruh Demografis Terhadap Tingkat Preferensi. Kepuasan Dan . Ae Zulfikar. Mayvita. Purboyo . Berdasarkan gender, nilai kepuasan kategori tinggi cenderung lebih banyak diberikan oleh responden perempuan . %) daripada laki-laki . %). Untuk kategori sedang dan rendah, nilai kepuasan masih didominasi oleh responden laki-laki. Berdasarkan usia, nilai kepuasan kategori tinggi cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dalam kelompok usia 21 Ae 30 tahun . %) dibandingkan kelompok usia lainnya. Untuk kategori sedang, cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dalam kelompok usia di bawah 20 Tahun . %) dibandingkan kelompok usia lainya sedangkan dikategori rendah, kelompok usia di atas 50 Tahun . %) memiliki persentase yang lebih tinggi daripada kelompok usia . Berdasarkan jenis pekerjaan, nilai kepuasan kategori tinggi cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dengan pekerjaan pelajar atau mahasiswa . %), di- bandingkan kelompok jenis pekerjaan Untuk kategori sedang, cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dengan pekerjaan sebagai jasa profesi . %) dibandingkan kelompok usia lainnya sedangkan dikategori rendah, kelompok responden yang tidak bekerja . %) memiliki persentase yang lebih tinggi daripada responden dengan jenis pekerjaan lainnya. Berdasarkan tingkat penghasilan, nilai kepuasan kategori tinggi cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dengan tingkat penghasilan di bawah Rp 1 JutaRp 2,49 juta . %), dibandingkan kelompok usia lainya. Untuk kategori sedang, cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dengan tingkat penghasilan Rp 2,5 JutaAeRp 4,9 Juta . %) dibandingkan kelompok tingkat penghasilan lainnya sedangkan dikategori rendah, kelompok responden dengan tingkat penghasilan Rp 5,9 JutaAeRp 9,9 Juta memiliki persentase yang lebih tinggi daripada responden dengan tingkat penghasilan . Berdasarkan tingkat pendidikan, nilai kepuasan kategori tinggi cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dengan tingkat pendidikan S-1 . %), dibandingkan kelompok responden dengan tingkat pendidikan lainya. Untuk kategori sedang, cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dengan tingkat pendidikan SD/SLTP/SLTA . %) dibandingkan kelompok tingkat pendidikan lainnya sedangkan dikategori rendah, kelompok responden dengan tingkat pendidikan S3 . %) memiliki persentase yang lebih tinggi daripada responden dengan tingkat pendidikan lainnya. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa berdasarkan demografis, tingkat kepuasan masyarakat terhadap produk obat tradisional hijau mayoritas dalam kategori tinggi untuk seluruh kelompok faktor Variabel Persepsi Risiko Hasil analisis deskriptif pada variabel persepsi risiko memberikan nilai mynimum sebesar 5,00. nilai maksimum sebesar 25,00. mean sebesar 16,57. dan standar deviasi sebesar 3,75. Selanjutnya data variabel prefrensi dikategorikan dengan menggunakan skor rata-rata ideal (M. dan simpangan baku ideal (SD. Hasil kategorisasi untuk variabel persepsi risiko disajikan pada Tabel 8 berikut. Tabel 8 Kategorisasi Variabel Persepsi Risiko Kategori Tinggi Sedang Rendah Interval Frekuensi Skor . X Ou 20. 82 O X < X < 47,21 Jumlah Berdasarkan Tabel 8 terlihat bahwa sebanyak 38 responden . %) memberikan penilaian terhadap variabel persepsi risiko dalam kategori tinggi. Sebanyak 65 respon- Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 168 Ae 187 den . %) memberikan penilaian terhadap variabel persepsi risiko dalam kategori sedang, dan sebanyak 47 responden . %) memberikan penilaian terhadap variabel persepsi risiko dalam kategori rendah. Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden memberikan penilaian pada variabel persepsi risiko terhadap produk obat tradisional masih dalam kategori Sedangkan respoden yang menilai persepsi risiko obat tradisional pada kategori rendah masih lebih baik dibandingkan kategori tinggi, yang berarti masyarakat menilai bahwa risiko mengkonsumsi obat tradisional masih cukup rendah. Berdasarkan hal ini maka tingkat penilaian masyarakat masyarakat terhadap persepsi risiko obat tradisional sudah cukup baik karena mayoritas penilaian responden masih pada kategori sedang. Untuk hasil analisa deskriptif variabel persepsi risiko berdasarkan demografis dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9 Variabel Preferensi Berdasarkan Demografis Faktor Demografis Gender Laki-laki Perempuan Usia Dibawah 20 21 Ae 30 Tahun Tahun 31 Ae 40 Tahun 41 - 50 Tahun Di atas 50 Tahun Pekerjaan Tidak Bekerja Pelajar/Mahasisw aPegawai Negeri Karyawan Swasta Wiraswasta Jasa Profesi Penghasilan < Rp 1 Juta Rp 1Ae Rp 2,49 Jt Rp 2,5Ae Rp 4,9 Jt Juta Juta5Ae Rp 9,9 Jt Tinggi Sedang Rendah >Rp 10 Juta Pendidikan SD/SLTP/SLTA Diploma (D1,D2. S-1 S-2 S-3 Berdasarkan Tabel 9 maka dapat disampaikan hal-hal sebagai berikut: Berdasarkan gender, nilai persepsi risiko kategori tinggi cenderung lebih banyak diberikan oleh responden laki-laki . %) daripada perempuan . %). Untuk kategori sedang, persentase perempuan . %) cenderung lebih banyak daripada lakilaki . %), sedangkan dikategori rendah, responden perempuan . %) lebih banyak dibandingkan dengan responden laki-laki . %). Sehingga dapat dikatakan bahwa responden perempuan memiliki penilaian risiko terhadap obat tradisional yang lebih baik daripada responden lakilaki. Berdasarkan usia, nilai persepsi risiko kategori tinggi cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dalam kelompok usia di bawah 20 Tahun . %) dibandingkan kelompok usia lainnya. Untuk kategori sedang, cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dalam kelompok usia 41Ae50 Tahun . %) dibandingkan kelompok usia lainnya sedangkan dikategori rendah, kelompok usia antara 21Ae30 Tahun memiliki persentase yang lebih tinggi daripada kelompok usia lainnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa responden yang berusia antara 2130 Tahun memiliki penilaian risiko terhadap obat tradisional yag lebih baik daripada responden pada kelompok usian lainnya. Berdasarkan jenis pekerjaan, nilai persepsi risiko kategori tinggi cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dengan pekerjaan sebagai jasa profesi . %), dibandingkan kelompok pekerjaan Untuk kategori sedang, cenderung lebih banyak diberikan oleh responden Pengaruh Demografis Terhadap Tingkat Preferensi. Kepuasan Dan . Ae Zulfikar. Mayvita. Purboyo dengan pekerjaan sebagai wiraswasta . %) dibandingkan kelompok lainnya sedangkan dikategori rendah, kelompok responden dengan pekerjan sebagai pegawai negeri . %) memiliki persentase yang lebih tinggi daripada responden dengan jenis pekerjaan lainnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa responden yang bekerja sebagai pegawai negeri memiliki penilaian risiko terhadap obat tradisional yang lebih baik daripada responden pada kelompok usia lainnya. Berdasarkan tingkat penghasilan, nilai persepsi risiko kategori tinggi cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dengan tingkat penghasilan di bawah Rp 1 Juta . %), dibandingkan kelompok penghasilan lainnya. Untuk kategori sedang, cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dengan tingkat penghasilan di atas Rp 10 Juta . %) dibandingkan kelompok tingkat penghasilan lainnya sedangkan dikategori rendah, kelompok responden dengan tingkat penghasilan Rp 1 JutaAeRp 2,499 Juta . %) memiliki persentase yang tinggi daripada kelompok responden dengan tingkat penghasilan lainnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa responden yang memiliki penghasilan antara Rp 1 JutaAeRp 2,49 Juta memiliki penilaian risiko terhadap obat tradisional yang lebih baik daripada responden pada kelompok dengan tingkat penghasilan lainnya. Berdasarkan tingkat pendidikan, nilai persepsi risiko kategori tinggi cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dengan tingkat pendidikan S-2 . %), dibandingkan kelompok responden dengan tingkat pendidikan lainnya. Untuk kategori sedang, cenderung lebih banyak diberikan oleh responden dengan tingkat pendidikan diploma . %) dibandingkan kelompok tingkat pendidikan lainnya sedangkan dikategori rendah, kelompok responden dengan tingkat pendidikan SD/SLTP/SLTA memiliki persentase yang lebih tinggi daripada responden dengan tingkat pendidikan lainnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa responden yang memiliki pendidikan SD/ SLTP/SLTA memiliki penilaian risiko terhadap obat tradisional yang lebih baik daripada responden pada kelompok dengan tingkat pendidikan lainnya. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa berdasarkan demografis, tingkat persepsi risiko masyarakat terhadap produk obat tradisional sudah cukup baik dan masih dapat ditingkatkan untuk seluruh kelompok faktor demografis. Analisis Deskriptif dan Kategorisasi Indikator Penelitian ini terdiri dari 10 indikator . Ketersediaan atau Avalaibility (GPF. Pengenalan Kebutuhan atau Need Recognition (GPF. Evaluasi alternatif produk lain atau Evaluation Of Alternatives (GPF. Keputusan Pembelian atau Purchase Decision (GPF. Kepuasan Akan Kualitas atau Quality Satis- faction (GS. Kepuasan Akan Biaya Produk atau Cost Satisfaction (GS. Kepuasan Akan Pelayanan dan Proses Klaim atau Service and Claim (GS. Risiko Fisik atau Physicall Risk (GR. Risiko Psikologis atau Phsycological Risk (GR. Risiko Waktu atau Time Risk (GR. Hasil uji deskriptif dan kategorisasi indikator disajikan pada Tabel 10. Tabel 10 menunjukkan bahwa mayoritas responden memberikan penilaian kategori sedang pada seluruh indikator, sehingga dapat disimpulkan bahwa kategori indikator pada variabel preferensi, kepuasan dan persepsi risiko masyarakat terhadap produk obat tradisional yang diteliti mayoritas sudah cukup Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 168 Ae 187 Tabel 10 Hasil Uji Deskriptif dan Kategorisasi Indikator Indikator GPF1 GPF2 GPF3 GPF4 GS1 GS2 GS3 GR1 GR2 GR3 Sdi Penelitian ini juga melakukan analisis perbandingan rata-rata indikator yang bertujuan untuk melihat indikator-indikator yang dianggap dominan. Hasil analisis perbandingan indikator prefrensi, kepuasan dan persepsi nilai masyarakat terhadap produk obat tradisional disajikan pada Tabel 11. Tabel 11 Hasil Analisis Perbandingan Rata-Rata Penilaian Responden Terhadap Seluruh Indikator Indikator Rata-rata Tingkat Preferensi Ketersediaan Pengenalan Kebutuhan Evaluasi produk alternatif Keputusan Pembelian Kepuasan Kepuasan Terhadap Kepuasan Terhadap Biaya Kualitas Kepuasan Terhadap Persepsi Risiko Pelayanan dan Klaim Risiko Fisik Risiko Psikologis Risiko Waktu 1,2,3,. Urutan prioritas indikator berdasarkan nilai rata-rata tanggapan responden Berdasarkan Tabel 11, maka dapat di- Kategorisasi Indikator Tinggi Sedang 75%*) 74%*) 51%*) 61%*) 62%*) 63%*) 69%*) 65%*) 59%*) Rendah gambarkan hal-hal sebagai berikut: 1 Indikator pada variabel preferensi yang dianggap lebih prioritas bagi responden untuk dipertimbangkan berdasarkan hasil rata-rata penilaian tertinggi adalah . indikator pengenalan kebutuhan . eed recognition/GPF. , i. Ketersediaan (GPF. , . Evaluasi produk alternatif (GPF. dan i. keputusan pembelian (GPF. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa konsumen cenderung mengutamakan kebutuhannya sebagai pertimbangan dominan dalam menentukan tingkat referensi mereka terhadap produk obat tradisional. 2 Indikator pada variabel kepuasan yang dianggap lebih prioritas bagi responden untuk dipertimbangkan berdasarkan hasil rata-rata penilaian tertinggi adalah . indikator kepuasan terhadap kualitas (GS. , i. indikator kepuasan terhadap biaya dan . kepuasan terhadap pelayanan dan klaim. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa konsumen cenderung mengutamakan faktor kualitas sebagai pertimbangan dominan dalam menentukan tingkat kepuasan mereka terhadap produk obat Pengaruh Demografis Terhadap Tingkat Preferensi. Kepuasan Dan . Ae Zulfikar. Mayvita. Purboyo Gambar 2 Structural Equation Model Penelitian 3 Indikator pada persepsi risiko yang dianggap lebih dominan bagi responden untuk dipertimbangkan berdasarkan hasil rata-rata penilaian tertinggi adalah . risiko waktu, i. risiko fisik, . risiko Sehingga dapat dikatakan bahwa konsumen cenderung lebih mengutamakan efisiensi waktu atau ketersedia- an produk dibandingkan pertimbangan risiko lainnya seperti fisik dan psikologis. Model SEM Penelitian Hasil penelitian ini menghasilkan model SEM . dengan hasil uji berdasarkan berdasarkan kriteria Goodness of Fit (GOF) sesuai dengan Tabel 12. Tabel 12 Hasil Uji Model Penelitian GOF Index Chi Square Probability GFI AGFI TLI CFI RMSEA Cut Off Value Kecil Ou 0. Ou 0. Ou 0. Ou 0. Ou 0. O 0. Hasil Penel. Evaluasi Model Besar Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Baik Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 168 Ae 187 Dari hasil perhitungan nilai Chi Square pada model penelitian diperoleh nilai sebesar 215. 522 dan termasuk dalam kategori nilai Chi Square yang cukup besar, dengan nilai probablitas sebesar 0,000 masih di bawah 0,05 yang merupakan syarat nilai Model penelitian belum memberikan nilai Godness Of Fit Index (GFI) dan nilai Adjusted Godness Of Fit Index (GFI) yang sesuai dengan standar GOF, kedua nilai tersebut masih di bawah 0,9. Untuk nilai Tucker Lewis Index (TLI) diperoleh sebesar 0,818 dan nilai Comparative Fit Index (CFI) sebesar 0,851 dimana kedua nilai yang diperoleh ini masih di bawah nilai 0,95 yang merupakan nilai TLI dan CFI yang disyaratkan. Namun model penelitian sudah mampu memberikan nilai nilai Root Mean Square Error of Approximatian (RMSEA) sebesar 0,077 O 0,080 yang merupakan syarat yang harus dipenuhi model SEM. Berdasarkan hasil ini, maka dapat dikatakan bahwa model penelitian belum memiliki tingkat Goodness Of Fit (GOF) yang baik, sehingga harus terlebih dahulu dilakukan modifikasi agar seluruh kriteria GOF dapat Tabel 13 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kontsruk Hubungan Gender <--Age <--Education <--Occupation <--Income <--Preference_1 <--Preference_2 <--Preference_3 <--Risk_1 <--Risk_2 <--Risk_3 <--Satisfaction_1 <--Satisfaction_2 <--Satisfaction_3 <--Satisfaction_4 <--- Demographics Demographics Demographics Demographics Demographics GPF GPF GPF GPR GPR GPR Estimate Standardized Measurement AVE CR Loading Error Uji Kualitas Data (Validitas dan Reliabilitas Konstru. Uji kualitas data dilakukan dalam bentuk menguji tingkat validitas dan reliabilitas konstruk yang digunakan dalam penelitian Uji kualitas data dilakukan dengan mengamati nilai Estimate Standardized Loading. Variance Extracted (AVE) dan Construct Reliability (CR). Indikator dari variabel akan dikatakan valid jika nilai AuEstimateAy > 0,05 dan dikatakan reliabel jika nilai AVE > 0,7 dan CR > 0,5. Berdasarkan Tabel uji kualitas data pada Tabel 13, terlihat bahwa seluruh nilai estimate. AVE dan CR indikatorindikator variabel memiliki nilai melampaui ketentuan validitas dan reliabilitas konstruk (Estime > 0,05. AVE > 0,7, dan CR > 0,. Jadi dapat dikatakan bahwa seluruh indikator valid dan reliabel untuk digunakan dalam Pengaruh Demografis Terhadap Tingkat Preferensi. Kepuasan Dan . Ae Zulfikar. Mayvita. Purboyo Modifikasi Model Gambar 3 Model SEM Hasil Modifikasi Tahapan modifikasi model dilakukan berdasarkan Tabel modification indices yang disarankan oleh software AMOS, yaitu dengan menghubungkan covariance-covariance yang disarankan. Setelah tahapan modifikasi dilakukan sesuai modification indices, maka model penelitian yang didapatkan adalah sesuai dengan Gambar 3. Selanjutnya model hasil penelitian yang telah dimodifikasi diuji kesesuaiannya dengan kriteria GOF yang disajikan pada Tabel 14. Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 168 Ae 187 Tabel 14 Hasil Uji Model Penelitian Setelah Modifikasi Goodness of Fit (GOF) Index Cut Off Value Hasil Penelitian Chi Square Kecil Probability Ou 0. GFI Ou 0. AGFI Ou 0. TLI Ou 0. CFI Ou 0. RMSEA O 0. Berdasarkan Tabel 14, terlihat bahwa hasil uji kesesuaian model dengan GOF telah memenuhi standar yang di- tentukan untuk semua kriteria, sehingga model penelitian yang telah dimodifikasi selanjutnya dapat digunakan lebih lanjut untuk menguji hipotesis penelitian. Pengujian Hipotesis Setelah model penelitian telah memenuhi kriteria GOF, maka tahapan selanjutnya adalah melakukan pengujian hipotesis untuk menguji hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak. Pengujian hipotesis 1 dilakukan dengan mengamati nilai CR dan Sig variabel yang diteliti berdasarkan maximum likelihood estimates dengan melihat tabel regression weights, dimana dikatakan memberikan pengaruh yang signifikan apabila nilai CR variabel > 1,96 dan probabilitas < 0,001. Hasil uji pengaruh antar variabel yang diuji berdasarkan model yang telah dimodifikasi ditampilkan pada Tabel 15 dengan hasil uji hipotesis adalah sebagai berikut: Variabel demografis tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat preferensi masyarakat dimana nilai CR (-0,. < 1,96 dan probabilitas . ,0. > 0,05 sehingga H0 diterima. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan dari Berkowitz dan Lutterman,1968. Anderson dan Cunningham, 1972. dalam Jaolis . Yahya . Syahbandi . Aryanti et al. , . Muzayanah et al. , . yang menyatakan bahwa faktor demografis tidak memiliki pengaruh ter- Evaluasi Model Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik hadap variabel-variabel yang berkaitan dengaan minat beli masyarakat terhadap produk hijau, namun tidak selaras dengan penelitian Hendrani et al . Variabel demografis berpengaruh signifikan terhadap kepuasan masyarakat dimana nilai CR . > 1,96 probabilitas . < 0,05 sehingga H0 ditolak. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Leonidos . dan Chen . , yang menemukan bahwa faktor kepuasan konsumen terhadap produk hijau dipengaruhi secara signifikan oleh faktor demografis Variabel demografis berpengaruh signifikan terhadap persepsi risiko masyarakat dimana nilai CR . > 1,96 dan probabilitas . < 0,05 sehingga H0 Hal ini mendukung pernyataan dan hasil penelitian dari Widyastuti dan Widagda . Hamzan dan Bayu . yang menemukan bahwa faktor demografis berpengaruh signifikan terhadap pembentukan persepsi risiko konsumen pada produk hijau. Variabel kepuasan berpengaruh signifikan terhadap persepsi risiko masyarakat dimana nilai CR . > 1,96 dan probabilitas . < 0,05 sehingga H0 Variabel persepsi risiko berpengaruh signifikan terhadap preferensi masyarakat dimana nilai CR . > 1,96 dan probabilitas . < 0,05 sehingga H0 Pengaruh Demografis Terhadap Tingkat Preferensi. Kepuasan Dan . Ae Zulfikar. Mayvita. Purboyo Tabel 15 Hasil Uji Pengaruh (Regression Weights-Maximum Likelihood Estimate. Preferensi Kepuasan Persepsi Risiko Persepsi Risiko Preferensi Ia Ia Ia Ia Ia Demografis Demografis Demografis Kepuasan Persepsi Risiko Selanjutnya adalah melakukan pengujian hipotesis 2 yang dilakukan dengan mengamati nilai estimasi korelasi, dimana dikatakan memiliki korelasi yang signifikan apabila nilai CR variabel > 1,96 dan probabilitas < 0,05. Semakin mendekati nilai 1 maka tingkat korelasi semakin kuat, sedangkan nilai positif dan negatif pada estimasi korelasi hanya menunjukkan arah dari hubungan korelasi antar variabel yang diamati. Di dalam SEM, variabel-variabel yang ditampilkan hanyalah variabel yang terindikasi berkorelasi di dalam model penelitian dan hasil uji korelasi antar variabel yang terindikasi memiliki korelasi di dalam model ditabulasikan pada Tabel 16. Berdasarkan hasil uji korelasi, maka didapatkan 4 korelasi antar variabel yang signifikan yaitu: . Variabel demografis berkorelasi secara signifikan dengan preferensi konsumen dimana sifat korelasi adalah positif dan kekuatan lemah . , . Variabel demografis berkorelasi secara signifikan dengan tingkat kepuasan dimana sifat korelasi adalah positif dan kekuatan sedang . , . Variabel demografis berkorelasi secara signifikan dengan persepsi risiko dimana sifat korelasi adalah negatif dan kekuatan lemah berkorelasi negative - lemah (-0,. , . Variabel kepuasan berkorelasi secara signifikan dengan tingkat persepsi risiko dimana sifat korelasi adalah negatif dan kekuatan lemah . SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis data dan temuan fakta penelitian, maka beberapa kesimpulan yang dapat diambil adalah Estimate *** *** *** *** Simpulan Terima H0 Tolak H0 Tolak H0 Tolak H0 Tolak H0 sebagai berikut: . Tingkat preferensi masyarakat kota Banjarmasin terhadap produk OT mayoritas sudah cukup baik secara demografis karena sebagian besar responden yakni sebesar 69% memberikan penilaian pada tingkat preferensi terhadap produk OT dalam kategori sedang. Begitu pula penilaian masyarakat terhadap indikator ketersediaan atau availability (GF. Pengenalan Kebutuhan atau Need Recognition (GP- F. Evaluasi alternatif produk lain atau Evaluation of Alternatives (GPF. dan Keputusan Pembelian atau Purchase Decision (GP-F. juga mayoritas berada dalam kategori sedang. Tingkat Kepuasan masyarakat kota Banjarmasin terhadap produk OT mayoritas sudah sangat baik secara demografis karena sebagian besar responden . %) memberikan penilaian pada variabel kepuasan terhadap produk OT sudah dalam kategori tinggi. Begitu pula penilaian masyarakat terhadap indikator-indikator kepuasan seperti kepuasan akan kualitas atau Quality Satisfaction (GS. , kepuasan akan biaya produk atau Cost Satisfaction (GS. dan Kepuasan Akan Pelayanan dan Proses Klaim atau Service and Claim (GS. juga mayoritas sudah berada dalam kategori sedang. Tingkat persepsi risiko masyarakat kota Banjarmasin terhadap produk OT mayoritas sudah cukup baik secara demografis karena sebagian besar responden . %) memberikan penilaian pada variabel persepsi risiko terhadap produk OT sudah dalam kategori Begitu pula penilaian masyarakat terhadap indikator-indikator persepsi risiko seperti Risiko Fisik atau Physicall Risk (GR. Risiko Psikologis atau Phsycological Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 168 Ae 187 Tabel 16 Hasil Uji Korelasi Hubungan Preferensi <--- Demogafis Kepuasan <--- Demografis Persepsi Risiko <--- Demografis Persepsi Risiko <--- Kepuasan P Estimate Kesimpulan 004 H0 ditolak. Korelasi positif, lemah 553 H0 ditolak ,Korelasi positif, sedang 050 H0 ditolak. Korelasi negatif, lemah 163 H0 ditolak. Korelasi positif, lemah Risk (GR. dan Risiko Waktu atau Time Risk (GR. juga mayoritas sudah berada dalam kategori sedang. Indikator pada variabel preferensi yang dianggap lebih prioritas bagi responden untuk dipertimbangkan berdasarkan hasil rata-rata penilaian tertinggi adalah . indikator pengenalan kebutuhan . eed recognition atau GPF. , i. Ketersediaan (GPF. , . Evaluasi produk alternatif (GPF. dan i. keputusan pembelian (GPF. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa konsumen cenderung mengutamakan kebutuhannya sebagai pertimbangan dominan dalam menentukan tingkat referensi mereka terhadap produk obat Indikator pada variabel kepuasan yang dianggap lebih prioritas bagi responden untuk dipertimbangkan berdasarkan hasil rata-rata penilaian tertinggi adalah . indikator kepuasan terhadap kualitas (GS. , i. indikator kepuasan terhadap biaya dan . kepuasan terhadap pelayanan dan klaim. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa konsumen cenderung mengutamakan faktor kualitas sebagai pertimbangan dominan dalam menentukan tingkat kepuasan mereka terhadap produk obat tradisional. Model penelitian telah fit dengan data yang digunakan dalam penelitian karena telah memenuhi kriteria GOF yang dipersyaratkan berdasarkan nilai Chi Square. Probabilitas. GFI. AGFI. TLI. CFI dan RMSEA. Berdasarkan model penelitian, maka hubungan antar variabel adalah sebagai berikut: Pertama. Demografis tidak memberikan berpengaruh yang signifikan terhadap variabel tingkat preferensi masyarakat karena nilai nilai CR (-0,. < 1,96 dan probabilitas . ,0. > 0,05 sehingga H0 di- terima. Kedua. Demografis memberikan berpengaruh yang signifikan terhadap variabel kepuasan karena nilai CR . > 1,96 probabilitas . < 0,05 sehingga H0 ditolak. Ketiga. Demografis memberikan berpengaruh yang signifikan terhadap variabel persepsi risiko karena nilai CR . > 1,96 dan probabilitas . < 0,05 sehingga H0 Dari hasil penelitian ini didapatkan 4 . korelasi antar variabel, yaitu: Pertama. Variabel demografis berkorelasi secara signifikan dengan preferensi konsumen secara positif - lemah. Kedua. Variabel demografis berkorelasi secara signifikan dengan tingkat kepuasan dimana secara positif - sedang. Ketiga. Variabel demografis berkorelasi secara signifikan dengan persepsi risiko secara negatif -lemah. Keempat. Variabel kepuasan berkorelasi secara signifikan dengan tingkat persepsi risiko secara negatif - lemah. Saran Beberapa saran yang dapat disampaikan untuk penelitian di masa yang akan datang antara lain adalah Model penelitian dapat lebih dikembangkan dengan meneliti peranan pengetahuan konsumen dalam mengintervensi preferensi, persepsi risiko dan tingkat kepuasan masyarakat DAFTAR PUSTAKA