2025 Jurnal Bahana Kesehatan Masyarakat (Bahana of Journal Public Healt. Vol 9 No 2 p-ISSN: 2580-0590/ e-ISSN: 2621-380X DETERMINAN YANG MEMPENGARUHI PERILAKU MEROKOK ELEKTRIK PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI (SMAN) SE-KOTA JAMBI Mhd. Fathul Rozi1. Ridwan1*. Rifqi Azhary1. Puspita Sari1. Vinna Rahayu Ningsih1 Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. Universitas Jambi Korespondensi penulis: fkm. ridwan@unja. ABSTRAK Latar Belakang: Penggunaan rokok elektrik . semakin meningkat di kalangan remaja, termasuk pelajar SMA. Rokok elektrik sering dianggap lebih aman dibandingkan rokok konvensional, padahal tetap mengandung zat berbahaya seperti nikotin dan formaldehid. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan yang memengaruhi perilaku merokok elektrik pada siswa SMA Negeri se-Kota Jambi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional ini melibatkan 96 responden yang dipilih menggunakan teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan dengan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square (=0,. Hasil: Sebanyak 68,9% siswa memiliki perilaku menggunakan rokok elektrik. Terdapat hubungan signifikan antara riwayat merokok konvensional . =0,. , persepsi . =0,. , aksesibilitas . =0,. , uang saku . =0,. , dan paparan media . =0,. dengan perilaku penggunaan rokok elektrik. Namun tidak terdapat hubungan antara pengaruh orang tua . =0,. , guru . =0,. , dan teman sebaya . =0,. Kesimpulan: Faktor predisposisi dan pendukung seperti riwayat merokok, persepsi, dan aksesibilitas berperan penting terhadap perilaku penggunaan rokok elektrik pada remaja. Diperlukan edukasi, pengawasan keluarga, dan regulasi akses terhadap rokok elektrik. Kata Kunci: Rokok elektrik. Siswa SMA. Perilaku DETERMINANTS INFLUENCING ELECTRONIC CIGARETTE SMOKING BEHAVIOR AMONG STUDENTS OF PUBLIC SENIOR HIGH SCHOOLS IN JAMBI CITY ABSTRACT Background: The use of electronic cigarettes . is increasingly prevalent among adolescents, including high school students. E-cigarettes are often perceived as safer than conventional cigarettes, although they still contain harmful substances such as nicotine and formaldehyde. This study aimed to determine the determinants influencing electronic cigarette smoking behavior among high school students in Jambi City. Methods: This quantitative study employed a cross-sectional design involving 96 respondents selected through proportional random sampling. Data were collected using questionnaires and analyzed using the Chi-Square test ( = 0. Results: A total of 68. 9% of students reported using electronic cigarettes. There were significant associations between smoking history . = 0. , perception . = 0. , accessibility . = 0. , pocket money . = 0. , and media exposure . = 0. with electronic cigarette use behavior. However, no significant relationships were found with parental influence . = 0. , teacher influence . = 0. , or peer influence . = 0. Conclusion: Predisposing and enabling factors such as smoking history, perception, and accessibility play a crucial role in adolescentsAo electronic cigarette use behavior. Education, family supervision, and regulation of e-cigarette access are necessary to reduce usage among teenagers. Keywords: Electronic cigarette. High school students. Behavior Jurnal Bahana Kesehatan Masyarakat (Bahana of Journal Public Healt. Vol 9 No 2 Tahun 2025 PENDAHULUAN METODE Rokok elektrik atau vape kini menjadi tren di kalangan remaja karena dianggap lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Padahal, cairannya tetap mengandung nikotin serta bahan kimia berbahaya seperti formaldehid dan logam berat yang dapat menimbulkan ketergantungan dan gangguan kesehatan paru maupun jantung1. Menurut World Health Organization (WHO, 2. , prevalensi penggunaan rokok elektrik meningkat pesat secara global, terutama pada kelompok usia 15Ae24 tahun. Indonesia, hasil Survey Konsumsi Individu (SKI) dan Global Youth Tobacco Survey (GYTS) tahun 2023 pengguna rokok elektrik pada remaja usia 15Ae19 tahun mencapai 6,4%, meningkat dua kali lipat dibandingkan Di Provinsi Jambi, data Dinas Kesehatan tahun 2023 melaporkan bahwa 4 dari 10 remaja pernah mencoba rokok elektrik, dan sebagian besar memperoleh produk tersebut melalui toko daring3. Sedangkan di Kota Jambi, peningkatan penggunaan rokok elektrik pada siswa SMA semakin terlihat akibat pengaruh media sosial dan lemahnya pengawasan lingkungan sekolah. Remaja merupakan kelompok rentan terhadap perilaku berisiko, termasuk penggunaan rokok elektrik yang sering didorong oleh persepsi salah bahwa produk ini aman dan modern5. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan yang memengaruhi perilaku merokok elektrik pada siswa SMA Negeri se-Kota Jambi. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri seKota Jambi. Sampel sebanyak 96 responden diperoleh menggunakan teknik proportional random sampling. Instrumen kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Variabel independen meliputi riwayat merokok konvensional, persepsi, aksesibilitas, uang saku, paparan media, pengaruh orang tua, guru, dan teman sebaya. Variabel dependen adalah perilaku penggunaan rokok elektrik. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (=0,. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden Karakteristik Responden Usia 14 Tahun 15 Tahun 16 Tahun 17 Tahun 18 Tahun Kelas Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pekerjaan Orang Tua PNS/TNI/POLRI Wiraswasta Buruh/Petani Tidak Bekerja Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di seluruh SMA Negeri di Kota Jambi, penelitian dilakukan dengan cara pengisian kuesioner kepada Determinan yang Mempengaruhi Perilaku Merokok Elektrik Pada Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Se-Kota Jambi Mhd. Fathul Rozi. Ridwan. Rifqi Azhary. Puspita Sari. Vinna Rahayu Ningsih responden dengan sebesar 96 siswa. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Determinanan Perilaku Merokok Elektrik Pada Siswa SMA se-Kota Jambi Variabel 1 Perilaku Merokok Elektrik Tidak Merokok Elektrik Total Riwayat Rokok Konvensional Ada Riwayat Tidak Ada Riwayat Total 3 Persepsi Persepsi Positif Persepsi Negatif Total Kemudahan Akses Akses Mudah Akses Sulit Total 5 Uang Saku Banyak Sedikit Total 6 Media Terpengaruh Tidak Terpengaruh Total 7 Pengaruh Orangtua Terpengaruh Tidak Terpengaruh Total 8 Pengaruh Guru Terpengaruh Tidak Terpengaruh Total Pengaruh Teman Sebaya Terpengaruh Tidak Terpengaruh Total Berdasarkan tabel 2, perilaku penggunaan rokok elektrik pada siswa menunjukkan proporsi hampir seimbang antara yang merokok elektrik . ,0%) dan tidak merokok elektrik . ,0%). Riwayat konvensional juga relatif merata, dengan 47,9% memiliki riwayat dan 52,1% tidak. Persepsi siswa terhadap rokok elektrik terbagi sama, yaitu 50% positif dan 50% Sebagian besar responden memiliki akses yang mudah terhadap rokok elektrik . ,4%) serta uang saku dalam kategori banyak . ,7%). Paparan media terhadap rokok elektrik juga cukup tinggi . ,2%). Namun, peran orang tua dalam mencegah perilaku merokok elektrik masih rendah . ,8% peran kuran. , dan pengaruh guru juga belum optimal . ,1% peran buru. Sementara itu, pengaruh teman sebaya menunjukkan pengaruh tinggi dan 51% pengaruh rendah. Tabel 3. Hubungan Riwayat Rokok Konvensional dengan Perilaku Merokok Elektrik pada Siswa SMA Negeri se-Kota Jambi Perilaku Merokok Elektrik Riwayat Tidak Merokok Rokok Merokok Total Elektrik Konvensional Elektrik Ada Riwayat 41 89,1 5 10,9 46 100 Tidak Ada Total Berdasarkan tabel 3, diketahui bahwa siswa dengan riwayat merokok merokok elektrik lebih tinggi . ,1%) dibandingkan yang tidak memiliki riwayat . ,0%). Hasil uji Chi-Square . = 0,000. p < 0,. menunjukkan adanya hubungan signifikan antara riwayat merokok konvensional dan perilaku merokok elektrik pada siswa SMA Negeri di Kota Jambi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Dini Alfitri Zahra dan Rini Rahani . serta Hedman et al. yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara riwayat merokok konvensional dengan perilaku merokok elektrik pada remaja6. Remaja yang pernah merokok konvensional cenderung lebih mudah mencoba atau PValue . %C. 0,000 43,050 . ,001Ae 142,. Jurnal Bahana Kesehatan Masyarakat (Bahana of Journal Public Healt. Vol 9 No 2 Tahun 2025 beralih ke rokok elektrik karena sudah memiliki ketergantungan nikotin dan menganggap rokok elektrik sebagai pilihan yang lebih modern dan aman, meskipun belum terbukti secara ilmiah dapat membantu berhenti merokok7. Selain itu, penelitian Abdullah et . juga menunjukkan adanya hubungan signifikan antara riwayat penggunaan rokok konvensional dengan penggunaan rokok elektrik, dengan tingkat ketergantungan nikotin yang lebih tinggi pada pengguna rokok elektrik . -value = 0,. Temuan ini menegaskan bahwa riwayat merokok konvensional berperan penting dalam meningkatkan risiko penggunaan rokok elektrik pada siswa. 9 Siswa yang telah merokok sebelumnya lebih mudah terdorong untuk mencoba rokok elektrik karena adanya ketergantungan nikotin, rasa penasaran, serta persepsi bahwa rokok elektrik lebih aman. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan sejak dini melalui edukasi mengenai bahaya kedua jenis rokok, penerapan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), pembinaan konseling, serta kerja sama antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar guna mencegah transisi dari rokok konvensional ke rokok elektrik. Persepsi Persepsi Positif Persepsi Negatif Total Tabel 4. Hubungan Persepsi Perilaku Merokok Elektrik pada Siswa SMA Negeri se-Kota Jambi Perilaku Merokok Elektrik Tidak Merokok PPR Merokok Total Elektrik Value . %C. Elektrik 0,002 3,647 ,570 Ae Berdasarkan tabel 4. Siswa dengan persepsi positif terhadap rokok elektrik memiliki perilaku penggunaan rokok ,7%) dibandingkan dengan yang berpersepsi negatif . ,4%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan hubungan signifikan antara persepsi dan perilaku penggunaan rokok elektrik pada siswa SMA Negeri se-Kota Jambi . = 0,002. p < 0,. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Wahyuni et al. menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara persepsi dengan perilaku penggunaan rokok elektrik. 11 Sebagian besar remaja memiliki persepsi negatif terhadap rokok elektrik, namun sebagian lainnya menganggap vape lebih aman dan modern dibandingkan rokok Persepsi yang salah ini dapat mendorong meningkatnya jumlah pengguna baru yang tertarik mencoba rokok elektrik. Penelitian Wirajaya et al. juga menemukan adanya hubungan antara persepsi terhadap vape Banyak remaja memiliki keyakinan keliru bahwa vape lebih aman dibanding rokok konvensional, sehingga mereka menggunakan vape sebagai alternatif Hasil serupa ditunjukkan oleh Indriyawati et al. yang menyatakan bahwa persepsi informan mengenai bahaya rokok elektrik masih rendah, dan banyak yang belum memahami efek kesehatannya secara Secara penelitian ini menegaskan bahwa persepsi memiliki peranan penting terhadap perilaku penggunaan rokok elektrik pada siswa. Oleh karena itu, perlu dilakukan edukasi dan penyuluhan kesehatan di sekolah agar siswa memiliki persepsi yang tepat mengenai Determinan yang Mempengaruhi Perilaku Merokok Elektrik Pada Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Se-Kota Jambi Mhd. Fathul Rozi. Ridwan. Rifqi Azhary. Puspita Sari. Vinna Rahayu Ningsih risiko dan bahaya rokok elektrik. Aksesibilitas Mudah Akses Sulit Akses Total Tabel 5. Hubungan Aksesibilitas dengan Perilaku Merokok Elektrik pada Siswa SMA Negeri se-Kota Jambi Perilaku Merokok Elektrik Tidak Merokok PPR Merokok Total Elektrik Value . %C. Elektrik 0,019 1,845 ,077 Ae Berdasarkan tabel 5. Siswa dengan akses sulit terhadap rokok elektrik lebih banyak memiliki perilaku merokok elektrik . ,8%) dibandingkan yang merasa mudah mengaksesnya. Hasil uji Chi-Square hubungan signifikan antara kemudahan akses dan perilaku penggunaan rokok elektrik . = 0,019. p < 0,. Penelitian ini sejalan dengan temuan Wirajaya et al. yang menunjukkan adanya hubungan kuat antara kemudahan akses dengan perilaku vaping pada remaja12. Vape mudah diperoleh, harganya terjangkau, dan dapat dibeli baik di toko fisik maupun secara online, sehingga mempermudah remaja untuk menggunakannya. Dalam penelitian Indriyawati et al. juga ditemukan bahwa remaja memilih tetap menggunakan vape karena lebih mudah didapatkan, lebih hemat, lebih nyaman, serta memiliki banyak pilihan rasa. Faktor kenyamanan ini berhubungan dengan kebiasaan penggunaan vape yang terus berlanjut di kalangan remaja13. Penelitian Zita Arieselia et al. Penelitian ini menunjukkan ada hubungan signifikan antara ketersediaan suplai vape dan cairan dengan perilaku penggunaannya . < 0,. Vape yang mudah diperoleh, baik online maupun toko fisik, membuat mahasiswa lebih mudah mencoba dan menggunakan vape secara rutin14. Dengan demikian, hasil penelitian ini menegaskan bahwa kemudahan akses berhubungan dengan perilaku penggunaan rokok elektrik pada siswa, di mana ketersediaan vape yang mudah dan harga yang terjangkau dapat meningkatkan peluang siswa untuk Oleh karena itu, diperlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap penjualan rokok elektrik, terutama di sekitar lingkungan sekolah, serta edukasi kepada siswa dan orang tua mengenai risiko penggunaannya agar dapat menekan aksesibilitas dan mencegah peningkatan jumlah pengguna vape di kalangan pelajar. Tabel 6. Hubungan Uang Saku dengan Perilaku Merokok Elektrik pada Siswa SMA Negeri se-Kota Jambi Perilaku Merokok Elektrik Tidak Uang Merokok PMerokok Total Saku Elektrik Value Elektrik Banyak 9 18,4 40 81,6 49 100 0,005 Sedikit 40 84,3 7 15,7 47 100 Total Berdasarkan tabel 6. Siswa dengan uang saku sedikit memiliki perilaku penggunaan rokok elektrik lebih tinggi . ,3%) dibandingkan dengan siswa beruang saku banyak . ,4%). Hasil uji Chi-Square hubungan signifikan antara uang saku dan perilaku penggunaan rokok elektrik pada siswa SMA Negeri se-Kota Jambi . = 0,005. p < 0,. Penelitian ini sejalan dengan temuan Firda Aulya Murti et al. yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara uang saku dengan perilaku merokok . = 0,000. OR = %C. 1,175 . ,043Ae 1,. Jurnal Bahana Kesehatan Masyarakat (Bahana of Journal Public Healt. Vol 9 No 2 Tahun 2025 7,. , di mana siswa dengan uang saku lebih besar cenderung mampu membeli rokok secara mandiri15. Yossi Fitria Damayanti et al. juga menemukan hasil serupa . = 0,. , bahwa remaja dengan uang saku tinggi lebih banyak menjadi perokok berat karena memiliki kemampuan finansial yang cukup16. Magdarani Kuku . turut menunjukkan adanya hubungan antara uang saku dengan perilaku merokok pada remaja . = 0,001. PR = Meskipun penelitian ini menunjukkan bahwa uang saku tidak selalu menjadi faktor utama dalam perilaku penggunaan rokok elektrik pada siswa. Siswa dengan uang saku terbatas tetap dapat mengakses vape melalui cara lain, seperti meminjam alat, patungan membeli liquid, atau membeli produk dengan harga murah. Oleh karena itu, upaya pencegahan tidak hanya berfokus pada pembatasan akses finansial, tetapi juga perlu disertai dengan pengawasan lingkungan sekolah, edukasi bahaya vape, dan pengendalian penjualan rokok elektrik kepada pelajar. Media Terpengaruh Tidak Terpengaruh Total Tabel 7. Hubungan Paparan Media/Iklan dengan Perilaku Merokok Elektrik pada Siswa SMA Negeri se-Kota Jambi Perilaku Merokok Elektrik Tidak Merokok PPR Merokok Total Elektrik Value . %C. Elektrik 34 64,2 19 35,8 53 100 3,340 0,004 . ,440 Ae 15 30,6 28 69,4 43 100 49 51,0 47 49,0 96 100 Berdasarkan tabel 7, siswa yang terpengaruh media/iklan lebih banyak berperilaku merokok elektrik . ,2%) dibandingkan yang tidak terpengaruh . ,9%). Hasil chi-square signifikan antara pengaruh media/iklan dengan perilaku merokok elektrik . = 0,004. p < 0,. Penelitian ini sejalan dengan temuan penelitian Egidea. Ridwan, & Ningsih . ditemukan hubungan yang signifikan antara pengaruh teman sebaya dengan perilaku peralihan dari rokok konvensional ke rokok elektrik, dengan nilai p-value = 0,001 . < 0,. Penelitian Adinda S, dan M. Ridwan juga menunjukkan hubungan signifikan antara iklan dan dukungan media sosial dengan perilaku peralihan ke rokok elektrik, dengan p-value = 0,001 . < 0,. 20 M. Ridwan & Lestari Indah . , ditemukan hubungan yang signifikan antara media gambar bungkus rokok dengan tingkat pengetahuan siswa, dengan nilai p-value = 0,000 . < 0,. Secara penelitian ini menunjukkan bahwa paparan media dan iklan berperan penting dalam membentuk perilaku penggunaan rokok elektrik pada 22 Pesan dan promosi di media sosial cenderung menggambarkan vape sebagai tren gaya hidup yang aman, sehingga memicu rasa ingin tahu dan keinginan untuk mencoba. 23 Oleh karena itu, diperlukan pengawasan terhadap iklan dan konten vape di media digital untuk mencegah meningkatnya perilaku penggunaan rokok elektrik di kalangan Berdasarkan tabel 8, siswa yang terpengaruh orang tua dan memiliki perilaku merokok elektrik sebesar 50%, sedangkan pada siswa yang tidak terpengaruh orang tua sebesar 51,1%. Hasil uji chi-square menunjukkan tidak Determinan yang Mempengaruhi Perilaku Merokok Elektrik Pada Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Se-Kota Jambi Mhd. Fathul Rozi. Ridwan. Rifqi Azhary. Puspita Sari. Vinna Rahayu Ningsih terdapat hubungan yang signifikan antara pengaruh orang tua dengan perilaku merokok elektrik . = 0,966. > 0,. Orangtua Terpengaruh Tidak Terpengaruh Total Tabel 8. Hubungan Pengaruh Orang Tua dengan Perilaku Merokok Elektrik pada Siswa SMA Negeri se-Kota Jambi Perilaku Merokok Elektrik Tidak Merokok PMerokok Total Elektrik Value Elektrik 2 50,0 2 50,0 4 100 0,957 ,129 0,966 47 51,1 45 48,9 92 100 49 51,0 47 49,0 96 100 Penelitian ini sejalan dengan temuan Zaklikha et al. yang menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara faktor keluarga dengan penggunaan rokok elektrik . = 0,. Meskipun keluarga dapat menjadi contoh perilaku merokok, tidak semua remaja menirunya karena adanya pengaruh pribadi dan lingkungan yang lebih kuat25. Nanda Afriska Maulidia et . juga menemukan hasil serupa . = 0,. , di mana pengaruh teman sebaya lebih dominan dibandingkan pengaruh keluarga26. Ellyta Handayani et al. turut melaporkan bahwa dukungan atau ketidaksetujuan keluarga tidak berhubungan signifikan dengan perilaku merokok elektrik . = 0,. Secara penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh keluarga tidak secara langsung menentukan perilaku penggunaan rokok elektrik pada siswa. Remaja lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan luar seperti teman sebaya, tren sosial, dan media digital dibandingkan arahan orang tua. Vape juga sering dipersepsikan sebagai bagian dari gaya hidup modern, sehingga pengaruh keluarga menjadi kurang 28 Dengan demikian, meskipun pembentukan karakter, faktor eksternal memiliki pengaruh lebih besar terhadap perilaku merokok elektrik pada remaja. Tabel 9. Hubungan Pengaruh Guru dengan Perilaku Merokok Elektrik pada Siswa SMA Negeri se-Kota Jambi Perilaku Merokok Elektrik Tidak Merokok Guru Merokok Total Elektrik Elektrik Terpengaruh 38,1 13 27,7 31 100 Tidak 41 83,7 34 72,3 75 100 Terpengaruh Total 49 51,0 47 49,0 96 100 Berdasarkan tabel 9, siswa yang terpengaruh guru dan berperilaku merokok elektrik sebesar 38,1%, sedangkan pada siswa yang tidak terpengaruh guru sebesar 54,7%. Hasil uji chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara pengaruh guru dengan perilaku merokok elektrik . = 0,179. p > 0,. Penelitian ini sejalan dengan temuan Nanda Afriska Maulidia et al. yang menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara pengaruh guru dan perilaku merokok elektrik . = 0,. , karena guru tidak merokok di sekolah dan tidak menjadi contoh langsung bagi siswa26. Mugi Wahidin et . juga melaporkan hasil serupa . = 0,. , bahwa pengaruh guru belum cukup kuat dalam mencegah remaja menggunakan vape29. Maulidia dkk . menambahkan bahwa variabel pengaruh guru memiliki OR = 0,976 . % CI: 0,646Ae1,. , sehingga tidak terdapat hubungan signifikan antara pengaruh guru dengan perilaku merokok elektrik siswa30. Secara penelitian ini menunjukkan bahwa PValue . %C. Jurnal Bahana Kesehatan Masyarakat (Bahana of Journal Public Healt. Vol 9 No 2 Tahun 2025 pengaruh guru tidak berhubungan signifikan dengan perilaku penggunaan rokok elektrik pada siswa. Meskipun guru berperan dalam memberikan edukasi dan keteladanan di sekolah, pengaruh tersebut masih terbatas karena interaksi guru lebih berfokus pada aspek 31 Keputusan siswa untuk menggunakan vape lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti teman sebaya, media sosial, dan tren gaya hidup remaja. Selain itu, penggunaan vape umumnya dilakukan di luar sekolah sehingga pengawasan guru menjadi terbatas. Oleh karena itu, pencegahan perilaku merokok elektrik perlu melibatkan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial agar dapat lebih efektif menekan angka pengguna vape di kalangan pelajar. Teman Sebaya Banyak Sedikit Total Tabel 10. Hubungan Teman Sebaya dengan Perilaku Merokok Elektrik pada Siswa SMA Negeri se-Kota Jambi Perilaku Merokok Elektrik Tidak Merokok PPR Merokok Total Elektrik Value . %C. Elektrik 27 57,4 20 42,6 47 100 1,657 0,219 ,739Ae 22 44,9 27 55,1 49 100 49 51,0 47 49,0 96 100 Berdasarkan tabel di atas, siswa yang terpengaruh teman sebaya memiliki perilaku merokok elektrik sebesar 57,4%, sedangkan siswa yang tidak terpengaruh sebesar 44,9%. Hasil uji chisquare menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengaruh teman sebaya dengan perilaku merokok elektrik . = 0,219. p > 0,. Penelitian ini sejalan dengan temuan Ellyta Handayani et al. yang menunjukkan tidak terdapat hubungan antara dukungan teman sebaya dengan perilaku merokok elektrik . = 0,. Komunitas vape cenderung memiliki perilaku yang seragam sehingga faktor lingkungan tidak terlihat Alvin Febri Hartadi . juga menemukan tidak ada hubungan signifikan antara teman sebaya dengan penggunaan rokok elektrik . = 0,. , meskipun siswa yang memiliki teman pengguna vape memiliki risiko sedikit lebih tinggi (PR = 1,078. 95% CI: 0,954Ae 1,. Wiga Jatih Asgara et al. melaporkan hasil serupa . = 0,. , bahwa meskipun remaja memiliki teman yang menggunakan vape, hal tersebut tidak selalu memengaruhi keputusan mereka untuk ikut merokok elektrik, pengetahuan dan sikap turut berperan dalam menolak pengaruh teman Secara penelitian ini menunjukkan bahwa berhubungan signifikan dengan perilaku penggunaan rokok elektrik pada siswa. Keputusan untuk menggunakan vape tidak sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan pertemanan, tetapi juga dipengaruhi oleh paparan media sosial, tren gaya hidup, serta faktor internal seperti kontrol diri dan pengetahuan Remaja dengan pemahaman dan kepercayaan diri yang baik lebih mampu menolak ajakan dari teman. Oleh karena itu, intervensi pencegahan perlu difokuskan pada penguatan kontrol diri, edukasi bahaya vape, dan pembentukan lingkungan sosial positif untuk menekan perilaku penggunaan rokok elektrik di kalangan pelajar. KESIMPULAN Determinan yang Mempengaruhi Perilaku Merokok Elektrik Pada Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Se-Kota Jambi Mhd. Fathul Rozi. Ridwan. Rifqi Azhary. Puspita Sari. Vinna Rahayu Ningsih Berdasarkan tentang determinan perilaku merokok elektrik pada siswa SMA Negeri se-Kota Jambi, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat merokok konvensional, persepsi, aksesibilitas, uang saku, dan paparan media dengan perilaku penggunaan rokok elektrik. Sementara itu, pengaruh orang tua, guru, dan teman sebaya tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa perilaku penggunaan rokok elektrik pada remaja lebih banyak dipengaruhi oleh faktor individu dan kemudahan aksesibilitas dibandingkan faktor sosial. Oleh karena itu, disarankan agar sekolah memperkuat edukasi tentang bahaya rokok elektrik dan pengawasan terhadap perilaku siswa, sementara pemerintah dan keluarga diharapkan memperketat pengendalian aksesibilitas rokok elektrik bagi remaja serta mendorong penelitian psikososial secara lebih mendalam. DAFTAR PUSTAKA