Jurnal Citra Magang dan Persekolahan (JCMP) Volume 4 Nomor 2 Tahun 2026 ISSN 3025-0455 Hal. https://jurnalilmiahcitrabakti. id/jil/index. php/jcmp/index PENGUATAN SUASANA BELAJAR MENGAJAR YANG KONDUSIF UNTUK MEWUJUDKAN SEKOLAH SEHAT DI SD Ngurah Mahendra Dinatha. Ni Putu Juni Artini. Antonius Poma Aso. Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi. STKIP Citra Bakti Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Triatma Mulya ngurahm87@gmail. com, . artini@triatmamulya. id, . antoniuspomaaso3@gmail. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya suasana belajar mengajar yang kondusif sebagai dasar dalam mewujudkan sekolah sehat di sekolah Lingkungan belajar yang bersih, aman, nyaman, dan didukung interaksi sosial yang positif berperan penting terhadap efektivitas pembelajaran dan perkembangan peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran SDK Wolopogo dalam penguatan suasana belajar mengajar yang kondusif demi mewujudkan sekolah sehat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, guru, dan peserta didik yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, verifikasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SDK Wolopogo berperan aktif melalui penyediaan lingkungan belajar yang bersih dan sehat, penerapan pembelajaran interaktif, penanaman nilai kebersihan, serta kolaborasi antara sekolah, siswa, dan orang tua. Disimpulkan bahwa penguatan suasana belajar yang kondusif mendukung terwujudnya sekolah sehat secara berkelanjutan. Abstract This study was motivated by the importance of a conducive teaching and learning atmosphere as a foundation for creating a healthy school in primary education. A learning environment that is clean, safe, comfortable, and supported by positive social interaction plays an important role in the effectiveness of learning and student development. This study aimed to describe and analyze the role of SDK Wolopogo in strengthening a conducive teaching and learning atmosphere to realize a healthy school. The study employed a qualitative approach with a descriptive method. The research subjects included the principal, teachers, and students selected Data were collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed through data reduction, data display, verification, and conclusion drawing. The results showed that SDK Wolopogo played an active role through providing a clean and healthy learning environment, implementing interactive learning, instilling cleanliness values, and fostering collaboration among the school, students, and parents. It can be concluded that strengthening a conducive learning atmosphere supports the sustainable realization of a healthy school. Sejarah Artikel Diterima: 16 April 2026 Direview: 16 April 2026 Disetujui: 17 April 2026 7 Kata Kunci Suasana Belajar Kondusif. Sekolah Sehat. Sekolah Dasar. Lingkungan Belajar. Article History Received: April 16, 2026J Reviewed: April 16, 2026J Published: April 17, 2026J Key Words Conducive Learning Atmosphere. Healthy School. Primary School. Learning Environment. Jurnal Citra Magang dan Pembelajaran (JCMP) || 193 PENDAHULUAN Sekolah dasar merupakan institusi yang memegang peran strategis dalam membentuk kemampuan akademik, karakter, dan kebiasaan hidup peserta didik sejak usia dini. Pada jenjang ini, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang tumbuh yang menentukan cara siswa memandang belajar, disiplin, kebersihan, dan relasi sosial. Karena itu, suasana belajar mengajar yang kondusif perlu dipahami sebagai bagian integral dari upaya mewujudkan sekolah sehat. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa iklim sekolah pada jenjang pendidikan dasar berkaitan erat dengan kesejahteraan, rasa aman, serta pengalaman belajar siswa, sehingga kualitas suasana sekolah tidak dapat dipisahkan dari tujuan pendidikan yang holistik (Aldridge & Blackstock, 2024. Donaldson et al. Dengan demikian, penguatan suasana belajar mengajar yang kondusif menjadi fondasi penting dalam membangun sekolah sehat yang mendukung perkembangan peserta didik secara menyeluruh. Sekolah sehat tidak hanya ditandai oleh terselenggaranya pembelajaran secara tertib, tetapi juga oleh tersedianya lingkungan fisik yang bersih, aman, nyaman, dan menunjang aktivitas belajar. Aspek tersebut mencakup kebersihan ruang kelas, ketersediaan air bersih, sanitasi yang layak, sirkulasi udara yang baik, serta sarana dan prasarana pembelajaran yang Bukti penelitian menunjukkan bahwa kondisi WASH atau water, sanitation, and hygiene di sekolah merupakan fondasi penting bagi kesehatan dan kehadiran siswa di sekolah, meskipun besarnya dampak dapat berbeda menurut konteks implementasi (Bick et , 2. Di sisi lain, studi tentang ventilasi ruang kelas memperlihatkan bahwa ruang belajar dengan ventilasi di bawah standar berpotensi menurunkan kenyamanan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, sedangkan penelitian di sekolah dasar Indonesia menegaskan bahwa ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai berkontribusi positif terhadap motivasi belajar siswa (Harrington et al. , 2023. Susanti et al. , 2. Oleh sebab itu, penguatan sekolah sehat perlu dimulai dari pembenahan lingkungan fisik yang secara langsung memengaruhi kualitas proses belajar mengajar. Selain aspek fisik, suasana belajar yang kondusif juga dibentuk oleh kualitas interaksi sosial dan pedagogis di dalam sekolah. Hubungan yang hangat, suportif, dan timbal balik antara guru dan siswa terbukti memiliki peran penting terhadap kesejahteraan belajar siswa sekolah dasar, karena siswa belajar lebih baik ketika merasa dihargai, didengar, dan dibimbing secara positif (Yli-Pietily et al. , 2. Penelitian lain pada anak usia 7 sampai 11 tahun menunjukkan bahwa persepsi yang lebih positif terhadap iklim sekolah dan iklim kelompok belajar berkaitan dengan kondisi kesehatan mental yang lebih baik. Temuan ini menegaskan bahwa sekolah sehat bukan hanya persoalan fasilitas, tetapi juga menyangkut rasa aman psikologis, keteraturan kelas, komunikasi yang baik, dan budaya sekolah yang mendukung perkembangan emosi peserta didik (Donaldson et al. , 2. Dengan kata lain, suasana Jurnal Citra Magang dan Pembelajaran (JCMP) || 194 belajar mengajar yang kondusif merupakan hasil dari perpaduan antara lingkungan fisik yang sehat dan lingkungan sosial yang mendukung. Penciptaan sekolah sehat juga tidak dapat dilepaskan dari kerja sama antarpemangku kepentingan, baik pihak sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Kolaborasi sekolah dan keluarga penting karena keterlibatan orang tua berhubungan dengan kesejahteraan sekolah siswa dan dapat memperkuat implementasi kebijakan pendidikan serta praktik yang mendukung kesehatan peserta didik (Dan et al. , 2023. Obermeier et al. , 2. Dalam konteks ini, sekolah perlu membangun budaya bersama yang menempatkan kebersihan, keteraturan, kedisiplinan, kenyamanan, dan kepedulian sebagai nilai yang dihidupi setiap hari. SDK Wolopogo sebagai lembaga pendidikan dasar memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan lingkungan belajar yang sehat melalui dukungan sarana prasarana, pengelolaan kelas yang baik, kebijakan sekolah yang berpihak pada kesehatan, serta pelibatan orang tua dan masyarakat sekitar. Apabila unsur-unsur tersebut berjalan secara sinergis, maka sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang pembiasaan hidup sehat bagi peserta Kajian-kajian terdahulu telah banyak membahas iklim sekolah, kesejahteraan siswa, sanitasi, fasilitas pendidikan, dan keterlibatan orang tua, tetapi pembahasan tersebut umumnya masih berdiri secara parsial sesuai fokus masing-masing penelitian. Belum banyak kajian yang secara khusus menelaah bagaimana penguatan suasana belajar mengajar yang kondusif diposisikan sebagai strategi terpadu untuk mewujudkan sekolah sehat pada konteks sekolah dasar tertentu, khususnya di SDK Wolopogo. Di sinilah letak kebaruan artikel ini, yaitu pada upaya mendeskripsikan dan menganalisis secara lebih terfokus peran sekolah dalam membangun suasana belajar yang kondusif sebagai jalan menuju sekolah sehat. Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan penelitian ini adalah bagaimana peran SDK Wolopogo dalam penguatan kegiatan belajar yang kondusif demi mewujudkan sekolah yang sehat. Adapun tujuan kajian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran SDK Wolopogo dalam penguatan suasana belajar mengajar yang kondusif demi mewujudkan sekolah sehat. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena yang terjadi di lingkungan sekolah, khususnya mengenai peran sekolah dalam menciptakan suasana belajar mengajar yang kondusif untuk mewujudkan sekolah sehat di SDK Wolopogo. Penelitian kualitatif berfokus pada penafsiran terhadap realitas sosial yang terjadi pada objek penelitian berdasarkan pengalaman, pandangan, dan interaksi para subjek yang terlibat. Sejalan dengan itu, metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai kondisi yang ditemukan di lapangan. Dengan Jurnal Citra Magang dan Pembelajaran (JCMP) || 195 demikian, penelitian ini diarahkan untuk memperoleh gambaran utuh tentang pelaksanaan, peran, serta upaya sekolah dalam membangun lingkungan belajar yang sehat dan kondusif. Subjek dalam penelitian ini adalah warga sekolah yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan pelaksanaan program sekolah sehat di SDK Wolopogo. Subjek tersebut meliputi kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan dan penanggung jawab program sekolah, guru sebagai pelaksana utama proses pembelajaran, serta peserta didik sebagai pihak yang mengalami secara langsung suasana belajar mengajar di sekolah. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu pemilihan subjek secara sengaja berdasarkan pertimbangan bahwa mereka memiliki informasi yang relevan dengan fokus penelitian. Pemilihan subjek ini dilakukan agar data yang diperoleh benar-benar sesuai dengan tujuan penelitian. Dengan teknik tersebut, peneliti dapat menggali informasi secara lebih mendalam dari pihak-pihak yang dianggap paling memahami permasalahan yang Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara, dan Observasi dilakukan untuk memperoleh data secara langsung mengenai kondisi lingkungan sekolah, suasana pembelajaran, interaksi antarsubjek, serta bentuk-bentuk penerapan sekolah sehat di SDK Wolopogo. Wawancara dilakukan kepada kepala sekolah, guru, dan peserta didik untuk menggali informasi yang lebih mendalam mengenai peran sekolah, pengalaman, pandangan, serta kendala yang dihadapi dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif. Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data hasil observasi dan wawancara, seperti catatan sekolah, foto kegiatan, serta dokumen pendukung lainnya yang relevan dengan penelitian. Ketiga teknik tersebut digunakan secara terpadu agar data yang diperoleh lebih lengkap dan mampu memberikan gambaran yang menyeluruh. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Analisis dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, verifikasi data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan memilih, memfokuskan, dan menyederhanakan data mentah yang diperoleh dari lapangan sesuai dengan fokus penelitian. Selanjutnya, data disajikan dalam bentuk uraian deskriptif agar hubungan antartemuan dapat dipahami secara lebih jelas. Tahap berikutnya adalah verifikasi data untuk menelaah kembali kebenaran dan konsistensi informasi yang diperoleh, kemudian diakhiri dengan penarikan kesimpulan sebagai hasil akhir penelitian mengenai peran SDK Wolopogo dalam penguatan suasana belajar mengajar yang kondusif untuk mewujudkan sekolah sehat. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel-tabel berikut disusun berdasarkan temuan lapangan mengenai peran SDK Wolopogo dalam penguatan suasana belajar mengajar yang kondusif untuk mewujudkan sekolah sehat, meliputi kondisi lingkungan sekolah, pelaksanaan pembelajaran, keterlibatan Jurnal Citra Magang dan Pembelajaran (JCMP) || 196 warga sekolah, serta bentuk dukungan yang diberikan oleh setiap unsur sekolah. Data ini menunjukkan bahwa upaya mewujudkan sekolah sehat tidak hanya tampak pada aspek fisik, tetapi juga pada pembiasaan, kerja sama, dan strategi pembelajaran yang diterapkan di Tabel 1. Hasil Observasi di SDK Wolopogo Aspek yang Diamati Lingkungan fisik sekolah Temuan Hasil Observasi Makna Temuan Lingkungan sekolah tampak diarahkan untuk mendukung suasana belajar yang sehat melalui perhatian pada kebersihan lingkungan dan penyediaan tempat cuci tangan. Sekolah membiasakan nilai kebersihan lingkungan dalam kegiatan sehari-hari peserta didik. Sekolah berupaya membangun kondisi fisik yang bersih, aman, dan nyaman sebagai dasar terciptanya sekolah sehat. Pembiasaan hidup sehat Kegiatan Proses pembelajaran berlangsung dengan memanfaatkan metode interaktif dan kontekstual. Keterlibatan peserta didik Peran guru di Dukungan Peserta didik terlibat dalam menjaga kebersihan sekolah, membuang sampah pada tempatnya, dan merawat lingkungan sekitar sekolah. Guru tampak berperan dalam mengarahkan, membimbing, dan memastikan aturan kebersihan dan kenyamanan lingkungan Terdapat kerja sama antara sekolah, guru, siswa, dan orang tua dalam mendukung kegiatan yang berkaitan dengan kebersihan dan kesehatan sekolah. Pembiasaan ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya mengajarkan konsep, tetapi juga menanamkan praktik hidup sehat secara langsung. Pembelajaran yang aktif membuat peserta didik lebih terlibat dan lebih mudah memahami makna sekolah Keterlibatan aktif peserta didik menunjukkan adanya pembentukan tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan sekolah. Guru menjadi tokoh kunci dalam membangun suasana kelas dan lingkungan belajar yang kondusif. Sekolah sehat terbentuk melalui kolaborasi seluruh warga sekolah, bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Tabel 2. Hasil Wawancara dengan Warga Sekolah Informan Kepala Fokus Wawancara Kebijakan sekolah dalam sekolah sehat Hasil Wawancara Inti Temuan Kepala sekolah menegaskan bahwa sekolah memiliki komitmen untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat melalui penguatan kebersihan, penyediaan sarana pendukung, dan pembiasaan di lingkungan Peran kepala sekolah tampak pada kebijakan dan dukungan program sekolah sehat. Jurnal Citra Magang dan Pembelajaran (JCMP) || 197 Guru Pelaksanaan yang kondusif Guru Penanaman nilai sekolah Peserta Pengalaman belajar di Orang tua Dukungan Guru menjelaskan bahwa pembelajaran dilakukan dengan metode interaktif seperti diskusi kelompok, bermain peran, studi kasus, kunjungan lapangan, dan Project Based Learning. Guru menyampaikan bahwa nilai kebersihan, kerja sama, gotong royong, dan kepedulian lingkungan ditanamkan melalui pembelajaran dan pembiasaan sehari-hari. Peserta didik menyatakan bahwa mereka dilibatkan dalam kegiatan menjaga kebersihan sekolah dan belajar melalui kegiatan yang lebih aktif dan nyata. Orang tua mendukung kebijakan sekolah melalui partisipasi dalam kegiatan seperti penanaman pohon, penyediaan alat kebersihan, dan dukungan terhadap aturan sekolah. Guru berperan sebagai pelaksana utama yang menerjemahkan nilai sekolah sehat ke dalam kegiatan belajar Penanaman nilai dilakukan secara terintegrasi dalam proses pendidikan formal dan nonformal di sekolah. Peserta didik tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengalami secara langsung praktik hidup sehat di sekolah. Dukungan orang tua keberhasilan program sekolah sehat dan suasana belajar yang Tabel 3. Sintesis Hasil Penelitian Fokus Hasil Penelitian Identifikasi nilainilai sekolah Strategi suasana belajar Peran warga Deskripsi Hasil SDK Wolopogo secara aktif mengidentifikasi dan menginternalisasi nilai gotong royong, musyawarah, kebersihan lingkungan, dan perilaku hidup sehat dalam kegiatan sekolah. Penguatan dilakukan melalui pembelajaran muatan lokal, kegiatan ekstrakurikuler, pelatihan, pembiasaan harian, serta penggunaan metode pembelajaran interaktif dan kontekstual. Kepala sekolah berperan dalam kebijakan, guru sebagai pelaksana pembelajaran, peserta didik sebagai pelaku pembiasaan, dan orang tua sebagai pendukung program Dampak terhadap Lingkungan sekolah yang bersih, nyaman, dan sehat mendukung proses belajar efektivitas pembelajaran, meningkatkan keterlibatan peserta didik, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab. Makna umum Sekolah sehat di SDK Wolopogo dibangun melalui perpaduan antara lingkungan fisik yang mendukung, pembelajaran yang aktif, dan kolaborasi seluruh warga sekolah. Pembahasan Berdasarkan hasil observasi dan wawancara. SDK Wolopogo menunjukkan bahwa suasana belajar yang kondusif dibangun melalui perpaduan antara kebersihan lingkungan, keteraturan kegiatan sekolah, keterlibatan warga sekolah, dan pembelajaran yang aktif . Temuan ini sejalan dengan pandangan bahwa iklim sekolah pada jenjang dasar bukan hanya Jurnal Citra Magang dan Pembelajaran (JCMP) || 198 berkaitan dengan keteraturan proses belajar, tetapi juga dengan rasa aman, kenyamanan, dan pengalaman positif siswa selama berada di sekolah. Dalam konteks tersebut, suasana belajar yang sehat menjadi fondasi penting bagi keterlibatan dan kesejahteraan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Penelitian pada sekolah dasar menunjukkan bahwa persepsi siswa terhadap iklim sekolah berkaitan erat dengan kualitas pengalaman belajar mereka, sementara iklim sekolah dan iklim kelompok belajar yang positif juga berasosiasi dengan kondisi mental yang lebih baik pada anak usia sekolah dasar. Selain itu, kesejahteraan siswa di sekolah dasar juga berkaitan dengan kapasitas guru dalam membangun praktik pembelajaran yang mendukung, sehingga lingkungan belajar yang sehat harus dipahami sebagai hasil kerja pedagogis dan relasional, bukan semata-mata kondisi fisik sekolah (Aldridge & Blackstock. Donaldson et al. , 2025. Yli-Pietily et al. , 2. Hasil penelitian yang menunjukkan peran guru dalam mengarahkan kebersihan, menegakkan aturan, dan melaksanakan pembelajaran interaktif menegaskan bahwa guru merupakan aktor sentral dalam membentuk suasana kelas yang kondusif. Di SDK Wolopogo, guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menanamkan nilai hidup sehat melalui diskusi, bermain peran, studi kasus, kunjungan lapangan, dan pembelajaran berbasis proyek. Pola ini sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa dukungan guru dan iklim kelas yang positif berhubungan dengan meningkatnya self-agency, rasa percaya diri, dan keterlibatan siswa dalam belajar. Penelitian lain juga menegaskan bahwa umpan balik yang dipersepsikan positif dapat memperkuat subjective well-being dan rasa memiliki terhadap sekolah, sedangkan iklim sekolah yang negatif justru dapat menurunkan school belonging dan memperbesar risiko masalah emosional. Dengan demikian, pembelajaran yang interaktif dan suportif di SDK Wolopogo dapat dipahami sebagai strategi yang relevan untuk memperkuat kenyamanan belajar sekaligus mendukung tujuan sekolah sehat (Mucherah et al. , 2024. Li et , 2024. Yin et al. , 2. Temuan mengenai keterlibatan siswa dalam menjaga kebersihan sekolah dan mematuhi kebiasaan positif juga menunjukkan bahwa suasana belajar kondusif di SDK Wolopogo tidak dibangun secara sepihak, melainkan melalui partisipasi aktif peserta didik. Keterlibatan seperti membuang sampah pada tempatnya, merawat lingkungan sekolah, dan mengikuti kegiatan pembiasaan mencerminkan tumbuhnya school belonging serta tanggung jawab sosial. Hal ini penting karena penelitian mutakhir menunjukkan bahwa school belonging berkaitan dengan motivasi, keterlibatan akademik, relasi sosial yang sehat, dan kepuasan hidup siswa. Dalam dimensi yang lebih luas, keterlibatan orang tua juga memperkuat proses tersebut, sebab parental involvement terbukti berkaitan dengan capaian belajar dan kesejahteraan siswa. Oleh karena itu, kolaborasi antara sekolah, siswa, dan keluarga di SDK Wolopogo merupakan modal penting dalam menjaga kesinambungan suasana belajar yang positif dan sehat (Elizondo-Gonzylez et al. , 2025. Koivuhovi et al. , 2025. Obermeier et al. Jurnal Citra Magang dan Pembelajaran (JCMP) || 199 Hasil penelitian juga menegaskan bahwa dukungan orang tua dan kerja sama antarpihak menjadi unsur penting dalam mewujudkan sekolah sehat. Di SDK Wolopogo, orang tua tidak hanya berperan secara pasif, tetapi ikut mendukung kebijakan sekolah melalui partisipasi dalam kegiatan kebersihan dan penyediaan sarana pendukung. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang menempatkan kolaborasi sekolah dan keluarga sebagai komponen penting dalam penguatan kebijakan pendidikan dan praktik kesehatan di lingkungan sekolah. Dari sisi kesehatan lingkungan, kajian kualitatif maupun kajian sintesis menunjukkan bahwa fasilitas WASH yang memadai berhubungan dengan kesehatan siswa, kehadiran di sekolah, dan kualitas pengalaman belajar. Artinya, ketika SDK Wolopogo menyediakan tempat cuci tangan dan mendorong kebiasaan hidup bersih, langkah tersebut tidak hanya bersifat simbolik, tetapi memiliki dasar empiris yang kuat dalam mendukung proses belajar mengajar yang sehat dan berkelanjutan (Dan et al. , 2023. Sharma et al. , 2024. Bick et al. , 2. Aspek lain yang penting dari hasil penelitian ini adalah penggunaan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, yang membuat konsep sekolah sehat tidak berhenti pada slogan, tetapi hadir dalam pengalaman nyata peserta didik. Ketika siswa belajar melalui metode kontekstual dan proyek yang berhubungan dengan kebersihan, lingkungan, dan tanggung jawab bersama, maka pembelajaran menjadi lebih bermakna dan lebih mudah diinternalisasi. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa kualitas fasilitas air dan sanitasi di sekolah dasar masih menjadi isu penting yang harus ditangani secara serius, dan pada saat yang sama pendekatan active learning dapat meningkatkan kesadaran anak untuk bertindak terhadap isu lingkungan. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa pendidikan sains yang terintegrasi dengan identitas lingkungan dapat membantu siswa sekolah dasar membangun praktik keberlanjutan sejak dini. Dengan demikian, hasil penelitian di SDK Wolopogo memperlihatkan bahwa penguatan suasana belajar yang kondusif menuju sekolah sehat akan lebih efektif apabila ditopang oleh fasilitas yang layak, pembelajaran aktif, dan pembiasaan nilai kepedulian lingkungan secara konsisten (Addie, 2025. Granato et al. , 2025. AlAli et al. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa SDK Wolopogo memiliki peran yang penting dalam penguatan suasana belajar mengajar yang kondusif untuk mewujudkan sekolah sehat melalui penyediaan lingkungan belajar yang bersih, nyaman, dan aman, penerapan pembelajaran yang interaktif dan kontekstual, penanaman nilai kebersihan serta kepedulian terhadap lingkungan, dan kolaborasi yang baik antara kepala sekolah, guru, peserta didik, serta orang tua. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sekolah sehat tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan sarana prasarana, tetapi juga oleh pembiasaan, dukungan sosial, serta keterlibatan aktif seluruh warga sekolah dalam menjaga kualitas lingkungan Oleh karena itu, disarankan agar SDK Wolopogo terus memperkuat program sekolah Jurnal Citra Magang dan Pembelajaran (JCMP) || 200 sehat melalui peningkatan sarana pendukung kebersihan dan sanitasi, pengembangan metode pembelajaran yang lebih partisipatif, pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat secara berkelanjutan, serta memperluas kerja sama dengan orang tua dan masyarakat agar upaya menciptakan suasana belajar yang kondusif dapat berlangsung secara konsisten dan memberi dampak yang lebih optimal bagi perkembangan peserta didik. DAFTAR PUSTAKA