JURNAL BASICEDU Volume 8 Nomor 4 Tahun 2024 Halaman 3297 - 3302 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Analisis Gaya Belajar Siswa Sekolah Dasar Kelas 3 untuk Pembelajaran Berdiferensiasi Vica Amifa Utami1A. Rasiman2. Agnes Lita3. Agnita Siska Pramasdyahsari4 Universitas PGRI Semarang. Indonesia1,2,4 Sekolah Dasar Bukit Aksara Semarang. Indonesia3 E-mail: vicaamifa802@gmail. com1, mpdrasiman@yahoo. id2, agneslitahn@gmail. agnitasiska@upgris. Abstrak Penelitian ini ditujukan sebagai media evaluasi gaya pembelajaran siswa kelas 3B di SD Bukit Aksara sebagai langkah mendukung implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Dilangsungkannya penelitian ini untuk melakukan penganalisian gaya belajar siswa untuk diferensiasi pembelajaran pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 3B di SD Bukit Aksara. Hasil analisis menunjukkan bahwa didapati 9 siswa dengan gaya belajar secara visual, 8 siswa secara auditori, dan 5 siswa secara kinestetik. Kepemilikan gaya pembelajaran secara visual pada siswa diberikan LKPD yang menggambarkan denah, bisa membuka maps menggunakan ponsel, dan memiliki karakteristik rapi, gemar membaca, serta kesulitan memahami perintah langsung. Pada siswa dengan gaya belajar auditori mengerjakan LKPD melalui pemindaian barcode berisi audio tentang denah yang disediakan guru, untuk kemudian menuliskan informasi dari audio yang didengar. Gaya belajar auditori juga memiliki karakteristik mendengarkan audio sebagai cara utama belajar, hanya butuh mendengar untuk memahami materi, dan tidak ceroboh dalam pemahaman informasi. Melalui proses pemahaman karakteristik gaya pembelajaran pada siswa, guru mampu mengajar dengan cara kian efektif dan meningkatkan kualitas hasil belajar para siswa. Pembelajaran berdiferensiasi juga memungkinkan guru untuk lebih efektif dalam menyampaikan materi pelajaran dan meningkatkan keterlibatan serta motivasi belajar siswa. Kata Kunci: Gaya belajar. Pembelajaran berdiferensiasi. Visual. Auditori. Kinestetik. Abstract The purpose of this study is to evaluate the learning preferences of Bukit Aksara Primary School pupils in class 3B in order to facilitate the use of differentiated instruction. Analyzing students' learning preferences in order to provide customized instruction in Indonesian language classes 3B at Bukit Aksara Primary School is the aim of this study. Nine pupils have a visual learning style, eight have an auditory learning style, and five have a kinesthetic learning type, according to the analysis's findings. LKPD, which describes floor plans, can open maps with a mobile device, and has precise features like reading and comprehending direct orders, is made available to students who prefer visual learning. When using the LKPD, students who learn best by listening first scan barcodes on teacher-provided designs that contain audio, and then they record information from what they hear. The primary learning method for those with an auditory learning style is listening to audio. they only need to listen in order to comprehend the content, and they don't take their time to absorb it. Teachers can assist each student learn more effectively and efficiently by having a deeper understanding of their learning styles. Additionally, differentiated learning improves student engagement and motivation to study while enabling teachers to deliver lesson plans more effectively. Keywords: Learning styles. Differentiated learning. Visual. Auditory. Kinesthetic. Copyright . 2024 Vica Amifa Utami. Rasiman. Agnes Lita. Agnita Siska Pramasdyahsari A Corresponding author : Email : vicaamifa802@gmail. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Analisis Gaya Belajar Siswa Sekolah Dasar Kelas 3 untuk Pembelajaran Berdiferensiasi Ae Vica Amifa Utami. Rasiman. Agnes Lita. Agnita Siska Pramasdyahsari DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Menurut Kementerian Pendidikan, tujuan pendidikan di Indonesia adalah mewujudkan pendidikan yang menunjang pembelajaran siswa, pendidikan yang memerdekakan, dan menjadikan siswa berkemampuan. Harus ada kelas dalam pendidikan. Asal kata Course berasal dari bahasa latin AucurrereAy yang berarti lari, melakukan pencarian, jalan atau jalur yang mengarahkan kendaraan kepada dirinya sendiri (Wahyuningsari. Undang-Undang Federal No. 2, penerapan kebijakan pendidikan mandiri telah memperkuat banyak peran guru dalam proses pendidikan (Daga, 2. Mengacu pada filosofi Ki Hajar Dewantara, peran guru adalah memberi bimbingan selama proses tumbuh kembang anak dengan disesuaikan pada fitrahnya agar dapat hidup bahagia dan sejahtera. Apabila digunakan pembelajaran yang berdiferensiasi, berarti harus disesuaikan dengan kemampuan, minat, dan keterampilan siswa agar tujuan kebahagiaan dan keberhasilan dapat tercapai (Kurnia Fitra, 2. Sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara, pendidikan di Indonesia kini berubah menjadi praktik dan masyarakat yang baik. Dalam konteks ini, peran guru adalah mendukung dan memberi semangat kepada siswa (Februari 2. Pendidikan dasar penting dalam hal membekali siswa dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap terhadap belajar. Guru pada tingkat ini sering menghadapi kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan orang yang berbeda di kelas. Salah satu perbedaan terpenting adalah gaya belajar, di mana istilah tersebut merujuk pada preferensi siswa dalam mengumpulkan dan memproses informasi. Ada siswa dengan kegemaran belajar melalui metode melihat, namun terdapat pula melalui metode mendengarkan atau bermain permainan. Pembelajar visual cenderung melihat gambar atau gambar, sedangkan pembelajar auditorial lebih suka mendengarkan atau berbicara, dan ada pula yang lebih senang dengan pembelajaran kinestetik, yaitu dipelajari melalui gerak dan gerak fisik. kegunaannya (Sahudra . Oleh karena itu, penting untuk memahami pembelajaran apa saja yang penting di kelas untuk menciptakan metode pengajaran yang tepat. Fleming (Mastari, 2. menjelaskan model pembelajaran adalah kecenderungan seseorang dalam menerima, mengolah dan memahami kurikulum sekolah, sedangkan pembelajaran divergen merupakan konsep yang dapat disesuaikan untuk mencukupi kebutuhan pembelajaran siswa dengan disesuaikan pada gaya belajar masing-masing siswa. Pendidikan berbeda. (Silitonga. dan Ina, 2. mengatakan bahwa keterampilan belajar menjadi wujud proses mengasimilasi, melakukan pengolahan, mengingat dan menggunakan fakta. Pembelajaran terdiferensiasi adalah konsep yang menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa untuk meningkatkan kualitas hasil pengajaran materi sehingga kian baik dan terperinci (Lupita. dan Hidajat. F . A, 2. (Faiz et al. , 2. mendefinisikan metode pembelajaran yang berbeda sebagai guru menciptakan dukungan pembelajaran dengan membuat keputusan yang tepat berdasarkan siswa, menanggapi kebutuhan pendidikan siswa dan meningkatkan kualitas kelas. Pada aktivitas pembelajaran secara diferensiasi, terdapat kesempatan bagi siswa untuk berinteraksi dengan guru juga teman sekelompoknya (Kurniasih. dan Priyanti. , 2. Kesempatan tersebut tentu mendorong terjadinya peningkatan kecakapan kompetensi komunikasi mereka, khususnya kemampuan bicara dan mendengar. Diferensiasi pembelajaran juga penting untuk meningkatkan keterampilan berpikir dan kolaborasi (Afelia. Utomo. dan Sulistyaningsih. , 2. Pembelajaran yang dibedakan penting dalam pendidikan saat ini, terutama ketika gaya belajar pada tiap siswa cenderung beraneka ragam. Tentu tiap siswa memiliki kebutuhan belajar tersendiri sehingga akan mempengaruhi proses pembelajarannya. Memahami proses belajar siswa Anda adalah penting ketika membuat strategi pembelajaran secara efektif. Hasilnya dapat diperhitungkan dalam hasil pembelajaran siswa. Aneka perbedaan metode yang dipergunakan pada penelitian ini dan terdahulu. namun mata kuliah IPA berbeda dengan pendidikan Indonesia, dan dalam pendidikan disebut dengan AuMenyediakan kebutuhan dan hasil pembelajaran siswa melalui metode yang beraneka ragamAy (Herwina, 2. , pembelajaran diferensial hadir secara sukarela untuk membantu siswa mencapai keberhasilan akademik. Sebab, produknya disesuaikan dengan kebutuhan seluruh siswa. Untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa, mereka dapat menentukan mata kuliah dengan disesuaikan pada minat. Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Analisis Gaya Belajar Siswa Sekolah Dasar Kelas 3 untuk Pembelajaran Berdiferensiasi Ae Vica Amifa Utami. Rasiman. Agnes Lita. Agnita Siska Pramasdyahsari DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. keterampilan dan kemampuannya. Keanekaragaman metode yang dipergunakan pada penelitian ini menjadi suatu pembeda. Namun perbedaan antara penelitian-penelitian tersebut adalah bahwa mereka menggunakan metode yang berbeda untuk memberikan hasil akademik kepada siswa. Sementara itu, penelitian ini hanya mengkaji hasil belajar dari berbagai sudut pandang. Siswa Menerima Pembelajaran Karena pembelajaran itu berbeda-beda, ia mengadaptasi, mendukung dan mengakui perbedaan di antara siswa. memungkinkan guru untuk menyesuaikan pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan semua siswa. Penelitian-penelitian ini serupa karena keduanya mengkaji metode yang berbeda. Bedanya, penelitian Wulandari fokus pada keberagaman sebagai solusi permasalahan pendidikan multikultural, sedangkan penelitian ini menganalisis perbedaan dampaknya terhadap pencapaian pendidikan siswa. Metode yang diperoleh dari penelitian berbeda digunakan dalam penelitian. Penelitian ini juga mengeksplorasi bagaimana teknologi mampu berguna dalam mendukung berbagai gaya pembelajaran, di mana cenderung belum banyak dibahas dalam penelitian sebelumnya. Melalui integrasi teknologi, kami berharap dapat menciptakan aktivitas pembelajaran yang terperinci dengan disesuaikan pada kebutuhan tidap individunya. Pada tiap diri siswa mempunyai gaya belajar masing-masing, misalnya didapati yang gemar belajar dengan mendengarkan guru melalui kegiatan membaca, sehingga mereka akan paham bahwa pembelajaran akan lebih mudah jika guru menjelaskan. Sebaliknya jika siswa suka belajar dengan membaca buku sendiri, maka mereka akan lebih memahami pelajaran jika bahan bacaannya lengkap dan mudah dipahami. Melalui kondisi tersebut, dapat diindikasikan bahwa pemberian atensi dan pengarahan khusus oleh guru kepada siswa cenderung bersifat krusial. Nantinya hasil pemberian perhatian tersebut berpotensi meningkatkan kecakapan pemahaman selama aktivitas pengajaran. Sebagai wujud upaya optimalisasi keberhasilan aktivitas pembelajaran mampu terlaksana secara efektif dan efisien, dapat diimplementasikan metode pembelajaran berdiferensiasi. Fokus penelitian ini terletak pada mata pelajaran Bahasa Indonesia materi Arah Mata Angin di kelas 3B. Dari penjelasan di atas didapati bahwa dilangsungkannya penelitian ini sebagai upaya penganalisisan gaya pembelajaran siswa melalui pembelajaran diferensiasi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 3B di SD Bukit Aksara. METODE Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian kualitatif melalui metode deskriptif, di mana lokasi pelaksanaannya terletak di Sekolah Dasar (SD) Bukit Aksara Semarang kelas 3B. Tentu populasi yang dipilih berupa peserta didik dari SD tersebut sebanyak 21 siswa, di mana tiap individunya memperoleh selembar aktivitas pembelajaran awal untuk dilakukan uji formatif awal atau tes diagnostik gunamengetahui karakteristik, kebutuhan, dan gaya belajar para siswa, asesmen diagnostik yang digunakan yaitu asesmen diagnostik non-kognitif. Proses pengumpulan data didasarkan pada aktivitas pengamatan selama kegiatan pembelajaran di kelas danhasil penyebaran kuesioner. Penelitian ini dilaksanakan selama 1JP 2x35 menit di kelas 3B pada saat pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan topik Arah Mata Angin. Subyek penelitiannya adalah seluruh siswa kelas 3B sejumlah 21 orang. Perolehan data didapatkan melalui kegiatan pengamatan di kelas dan survei. Kegiatan penagamatan atau observasi dilakukan secara langsung selama waktu ajar melalui pengimplementasian metode pembelajaran secara diferensiasi. Teknik penganalisisan data yang dipergunakan adalah model analisis Miles dan Huberman, meliputi tahap reduksi . , penyajian . , dan pembuatan kesimpulan atau verifikasi . onclusion drawing/verificatio. data (Salsabila. Vanisa, dkk, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan di Kelas 3B SD Bukit Aksara Semarang. Siswanya berjumlah 21 orang, 12 laki-laki dan 9 perempuan, yang mana pengklasifikasian tersebut bersifat krusial. Muatan isi pada angket gaya Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Analisis Gaya Belajar Siswa Sekolah Dasar Kelas 3 untuk Pembelajaran Berdiferensiasi Ae Vica Amifa Utami. Rasiman. Agnes Lita. Agnita Siska Pramasdyahsari DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. pembelajaran siswa terdiri dari 10 item, dengan opsi visual, auditori, dan kinestetik pada tiap item. Instrumen ini dikembangkan berdasarkan sifat dan karakteristik gaya belajar dengan mengacu pada Teori Bobbi De Potter & Mike Hernacki, di mana ia juga mengklasifikasikan gaya belajar dengan tiga opsi yang sama pula (Alhafiz, 2. Selain melakukan observasi, timbul harapan dari instrumen ini untuk mampu menyajikan hasil akurat mengenai gaya pembelajaran siswa Kelas 3B di SD Bukit Akasara. Perolehan hasil pengamatan membuktikan bahwa persiapan kegiatan mengajar oleh guru kepada siswa tentu didasarkan pada kebutuhan mereka melalui penganalisisan perbedaan gaya belajar antar individu. Oleh karena itu SD Bukit Akasara Kelas 3B tidak semata berfokus pada aspek pengetahuan namun turut mengembangkan kompetensi siswa seperti menari, bernyanyi, dan menggambar. Keberhasilan penelitian ini terbukti dari taraf kepuasan perolehan hasil. Persentase gaya belajar dihitung berdasarkan hasil survei siswa. Gambar 1. Gaya Belajar Kelas 3B SD Bukit Aksara Berdasarkan skema model pembelajaran yang dapat digunakan sebanyak 21 siswa, 5 orang diantaranya merupakan siswa model pembelajaran kinestetik, 8 orang siswa model pembelajaran visual dan 21 siswa merupakan siswa model pembelajaran auditori. Hasilnya menunjukkan bahwa jenis pembelajaran yang paling umum pada siswa hingga usia 9 tahun adalah pembelajaran visual, diikuti dengan mendengarkan dan berpikir. Untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa, guru menggunakan metode pembelajaran yang berbeda-beda di (Jatmiko dan Putra, 2. menyatakan pembelajaran berbeda adalah upaya pemberian pengajaran di kelas untuk mencukupi wawasan pengetahuan siswa. Dalam penelitian ini guru menyediakan LKPD yang mendukung gaya belajar dengan menjelaskan rencana pondasi di sekitar SD Bukit Aksara bagi siswa dengan gaya belajar visual bahasa Indonesia. Mengacu pada pernyataan oleh De Petter dan Hearchi (Zagoto, 2. , metode untuk meningkatkan pembelajaran visual dapat dengan menyiapkan video, menggunakan gambar biasa, dan meningkatkan frekuensi pengumpulan informasi oleh guru. Barcode mulai bekerja di LKPD yang mempunyai audio yang berkaitan dengan denah, kemudian mereka mengetikkan kata-kata yang didengarnya dalam audio tersebut. Hasil Penelitian (Kyandaru, 2. Pembelajaran dengan mendengarkan memungkinkan siswa mengasimilasi informasi yang disampaikan melalui suara. Petter dan Hearchi (Zagoto, 2. menyarankan sejumlah metode yang mendorong pembelajaran mendengarkan dengan menambahkan kegitan berdiskusi secara berkelompok dan mengharuskan siswa untuk membaca secara lantang. Tapi tidak mungkin, mereka akan memutusnya dan mematikan respons terhadap LKPD. Pembelajar kinestetik enggan berucap secara lantang, cenderung sulit mengingat suatu lokasi, sering berpindah-pindah saat mengingat, menggunakan isyarat jari untuk membaca, dan memiliki tulisan tangan yang buruk. Telah dilakukan penelitian (Lestari, 2. Pembelajaran kinestetik mengarah pada gerak. Sekolah yang siswanya lebih leluasa dan mengembangkan pembelajaran aktif dalam proses pembelajaran. Menurut Alhafiz . , pembelajaran kinestetik guru memungkinkan siswa bergerak untuk memperoleh informasi, dan pembelajaran yang beragam tidak hanya tentang hasil belajar siswa, namun turut memicu timbulnya ketertarikan pada lingkup pembelajaran hingga tercukupinya kebutuhan fisik dan Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Analisis Gaya Belajar Siswa Sekolah Dasar Kelas 3 untuk Pembelajaran Berdiferensiasi Ae Vica Amifa Utami. Rasiman. Agnes Lita. Agnita Siska Pramasdyahsari DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. Pembelajaran yang dibedakan dapat meningkatkan motivasi dan prestasi akademik siswa. Guru juga harus memberikan pendidikan yang setara sesuai dengan minat seluruh siswa. Guru selalu mempunyai satu tujuan utama, yaitu pengembangan siswanya. Setiap keputusan yang diambil guru hendaknya didasarkan pada minat belajar siswa. KESIMPULAN Penelitian gaya belajar dilakukan di kelas 3B di SD Bukit Aksara Semarang dengan 21 siswa, mempertimbangkan visual, auditori, dan kinestetik. Instrumen angket digunakan untuk mengetahui ketetapatan gaya pembelajaran siswa dan hasil pengamatam membuktikan jika proses persiapan aktivitas ajar guru kepada siswa berguna sebagai dasar petunjuk untuk mengembangkan keterampilan. Pola belajar siswa terbagi menjadi visual, auditori, dan kinestetik, di mana dari ketiganya para siswa cenderung gemar belajar melalui metode visual. Untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa, guru menerapkan diferensiasi pembelajaran melalui pemahaman pada sejumlah aspek, seperti konten, proses, produk, dan lingkup pembelajaran. Fasilitasi gaya belajar siswa dilakukan dengan mempertimbangkan ketiga opsi gaya pembelajaran. Guru memanfaatkan metode yang sesuai, seperti memvisualisasikan konsep untuk visual mereka menggambar denah sekolah dan lingkungan sekitar, melakukan diskusi kelompok untuk audiotori mereka memindai dan mendngarkan audio yang telah di buat oleh guru, dan demonstrasi untuk kinestetik mereka menggunting dan menempel denah yang masih kosong. Guru juga membuat LKPD dengan disesuaikan pada gaya belajar para muridnya. Aktivitas pengjaran secara diferensiasi membantu meningkatkan motivasi dan kualitas hasil pembelajaran. Guru perlu memahami karakteristik siswa guna tercipta lingkup pembelajaran inklusif dan responsif, serta menjaga hubungan yang baik dengan siswa. Membela peserta didik dan memprioritaskan perkembangan mereka merupakan nilai dan peran penting dari seorang pengajar. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih atas seluruh kontribusi dan keterlibatan oleh seluruh pihak terkait selam proses penyusunan penelitian insi. Hal ini dimaksudkan agar hasil penelitian dapat menunjang dan memajukan bidang pendidikan. DAFTAR PUSTAKA