Jurnal Bisnis dan Kewirausahaan (Journal of Business and Entrepreneurshi. Vol. No. 2 November 2025, e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119. Hal 62-79 doi: 10. 46273/jobe. Teknik PBBL: Model Penyederhanaan dalam Penyusunan Laporan Laba Rugi untuk UMKM Randy Kuswanto Accounting Program. Wiyatamandala School of Business. Jakarta. Indonesia randy@wym. Original Research Received 6 Nov 2025 Revised 29 Nov 2025 Accepted 30 Nov 2025 Additional information at the end Abstract: This study aims to develop and evaluate the effectiveness of the PBBL method (Pendapatan. Bahan Baku. Biaya Lain, and Laba/Rugi Ae Revenue. Raw Materials. Other Expenses, and Profit/Los. as a simplified financial recording model designed specifically for Micro and Small Enterprises (MSE. The study was motivated by the persistent issue of low accounting literacy among MSEs in Indonesia, which has caused most business owners to be unable to determine their monthly profits accurately. Using a developmental research approach, this study was conducted in three stages: . identifying problems through interviews with ten MSE owners in Jakarta, . designing the PBBL technique based on the principle of accounting simplicity, and . conducting a limited field trial involving twenty-five MSEs through an implementation and mentoring program facilitated by STIE Wiyatamandala students. Findings reveal that all interviewed MSE owners lacked proper financial records and only relied on daily cash inflows to assess performance. The implementation of the PBBL method significantly improved financial awareness and recordkeeping discipline. The main challenges identified were inconsistent recordkeeping habits and difficulties in estimating month-end inventory values. Overall, this study concludes that the PBBL method serves as an effective transitional accounting model that enhances financial literacy and profit awareness among MSEs. It can be adopted as a practical, relevant, and educational tool in community-based financial empowerment programs. Keywords: PBBL technique. accounting bookkeeping. SMEs. income statement. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi efektivitas teknik PBBL (Pendapatan. Bahan Baku. Biaya Lain, dan Laba/Rug. sebagai model pencatatan keuangan sederhana yang dirancang khusus bagi pelaku Usaha Mikro. Kecil dan Menengah (UMKM). Latar belakang penelitian ini berangkat dari permasalahan rendahnya literasi akuntansi di kalangan UMKM, yang menyebabkan mayoritas pelaku usaha tidak mampu mengetahui besaran laba usaha bulanan secara Penelitian menggunakan pendekatan penelitian pengembangan . evelopment researc. dengan tiga tahap utama, yaitu . identifikasi masalah melalui wawancara dengan 10 pelaku UMKM di wilayah Jakarta, . perancangan teknik PBBL berbasis prinsip kesederhanaan akuntansi, dan . uji coba terbatas terhadap 25 pelaku UMKM melalui program implementasi dan pendampingan mahasiswa STIE Wiyatamandala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh pelaku UMKM yang diwawancarai tidak memiliki sistem pencatatan yang mampu menghasilkan informasi laba, dan hanya berfokus pada perhitungan pendapatan kas harian. Melalui penerapan teknik PBBL, pelaku usaha mulai mampu mencatat transaksi secara rutin, memisahkan kas pribadi dan kas usaha, serta menyusun laporan laba rugi berbasis kas dengan menggunakan empat catatan sederhana. Kendala utama dalam penerapan metode ini adalah ketidakdisiplinan pencatatan dan kesulitan dalam mendata stok akhir bahan baku. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa teknik PBBL efektif sebagai model akuntansi transisional yang mampu meningkatkan literasi keuangan dan kesadaran laba pada pelaku UMKM. Metode ini layak diadopsi dalam program pemberdayaan UMKM sebagai instrumen pencatatan keuangan yang sederhana, relevan, dan edukatif. Kata Kunci: Teknik PBBL, pembukuan akuntansi, laporan laba rugi. UMKM, pemberdayaan *Randy Kuswanto, randy@wym. e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119. Hal 62-79 PENDAHULUAN Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia memainkan peranan penting dalam perekonomian nasional, tetapi banyak tantangan yang dihadapi, terutama terkait dengan pembukuan akuntansi. Akuntansi memainkan peran yang sangat penting bagi Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Dalam konteks pengelolaan usaha, akuntansi membantu pemilik UMKM untuk mengelola keuangan mereka dengan lebih efektif, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kinerja usaha. Salah satu aspek penting yang sering diabaikan adalah pemisahan antara catatan keuangan pribadi dan bisnis, yang jika tidak dilakukan, dapat menyebabkan kebingungan dalam pengelolaan keuangan dan berpotensi mengganggu keberlangsungan usaha Saraswati . Pentingnya akuntansi juga tercermin dari kemampuannya dalam menyediakan data yang relevan untuk pengambilan keputusan. Pemilik UMKM yang memiliki catatan keuangan yang jelas dan terperinci dapat lebih mudah dalam membuat rencana strategis, menentukan apakah mereka perlu membeli aset baru, atau melakukan evaluasi terhadap performa usaha (Mahmudah et al. , 2. Penelitian menunjukkan bahwa penerapan akuntansi dapat membantu para pelaku UMKM untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk mengevaluasi kondisi keuangan mereka dan menghindari risiko keuangan yang tidak perlu (Tobing et al. , 2. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak pelaku UMKM menghadapi berbagai tantangan dalam menerapkan akuntansi yang efektif. Kendala seperti kurangnya pemahaman tentang praktik akuntansi yang benar dan minimnya literasi keuangan sering kali menjadi hambatan utama (Hutauruk, 2. Temuan menunjukkan bahwa edukasi dan pelatihan akuntansi sederhana yang menggunakan teknologi, seperti aplikasi akuntansi, dapat sangat membantu pelaku UMKM dalam mengatasi masalah administrasi ini dan menjalankan usaha mereka dengan lebih efisien (Hutauruk, 2. Hal ini juga mencerminkan perlunya upaya peningkatan pengetahuan mengenai akuntansi untuk mendapatkan manfaat maksimal dari pencatatan dan pelaporan keuangan (Banea, 2. Lebih lanjut, penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro. Kecil, dan Menengah (SAK EMKM) sangat dianjurkan untuk meningkatkan transparansi laporan keuangan usaha (Bahri et al. , 2023. Imawan et al. , 2. Dengan mengikuti standar tersebut. UMKM tidak hanya menjadi lebih siap dalam menghadapi audit, tetapi juga meningkatkan kredibilitas mereka di mata penanam modal dan bank dalam memperoleh akses pembiayaan (Periska. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa akuntansi tidak hanya penting, tetapi juga krusial bagi keberlanjutan dan perkembangan usaha UMKM di Indonesia. Salah satu hambatan utama adalah tingkat literasi akuntansi yang rendah di kalangan pemilik UMKM. Sekitar 80% pelaku UMKM belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai pentingnya akuntansi untuk pengelolaan usaha mereka (Hikmahwati & Irwansyah. Mayoritas dari mereka menggunakan sistem pencatatan akuntansi yang sangat sederhana atau bahkan tidak melakukan pencatatan sama sekali Nugroho et al. Hal ini menunjukkan bahwa minimnya pemahaman dan keterampilan dalam akuntansi dapat menghambat kemampuan mereka untuk merencanakan dan mengelola keuangan dengan baik. Kendala lain yang signifikan adalah ketidaktersediaan sumber daya untuk melakukan pencatatan yang efektif. Banyak pelaku UMKM yang berfokus pada aktivitas produksi dan pemasaran, sehingga mereka seringkali mengabaikan pentingnya pencatatan transaksi keuangan Nugroho et al. Sebagai contoh, pada UMKM di Desa Pojok, kesulitan dalam menyusun laporan keuangan atau menangani pembukuan yang rapi menjadi masalah umum yang dapat menghambat pertumbuhan usaha mereka Ubaidillah & Devi . Keterbatasan informasi dan aksesibilitas terhadap teknologi pembukuan yang lebih modern juga menjadi masalah yang perlu diatasi Chairia et al. Randy Kuswanto e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119. Hal 62-79 Pelatihan dan edukasi tentang pembukuan akuntansi yang sederhana sangat penting untuk memberdayakan pelaku UMKM dan meningkatkan pengelolaan keuangan mereka. Kegiatan pengabdian masyarakat yang memberikan pelatihan metodologi penggunaan teknologi, seperti aplikasi akuntansi digital, menunjukkan dampak positif dalam meningkatkan pengetahuan dasar akuntansi di kalangan UMKM Rini et al. Namun, meski pelatihan ini sudah dilakukan, aksesibilitas dan ketersediaan informasi yang terus-menerus masih sangat dibutuhkan untuk memastikan pemahaman yang mendalam dan berkelanjutan (Nurhidayati & Cahyani, 2. Kedisiplinan dalam pencatatan dan akuntansi yang baik tidak hanya membantu UMKM memenuhi kewajiban perpajakan, tetapi juga dalam pengambilan keputusan bisnis yang lebih Untuk mencapai hal ini, pelaku UMKM memerlukan dukungan dalam bentuk bimbingan teknis dan pengembangan kompetensi berkelanjutan, sehingga mereka mampu menyesuaikan diri dengan berbagai regulasi yang ada (Wirawan et al. Saraswati et al. , 2. Dengan demikian, menjadikan pelatihan dan peningkatan literasi akuntansi sebagai prioritas dapat menjadi kunci dalam mengatasi hambatan yang dihadapi oleh UMKM di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengenalkan Teknik PBBL (Pendapatan. Bahan Baku. Biaya Lain. Laba/Rug. sebagai alternatif pencatatan transaksi keuangan dengan menggunakan konsep akuntansi dasar. Metode ini dapat solusi yang efektif bagi Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam mengelola keuangan mereka dengan lebih baik. Sistem ini tidak hanya memfokuskan pada pencatatan transaksi penerimaan dan pengeluaran kas, melainkan mengenalkan konsep perhitungan laba rugi yang tidak mengandalkan basis kas secara penuh. Metode ini memiliki keunggulan terkait kesederhanaan dalam penerapannya membuatnya sangat cocok bagi pelaku UMKM yang mungkin tidak memiliki latar belakang akuntansi. Teknik PBBL tidak menghilangkan prinsip-prinsip dasar akuntansi, namun lebih kepada membuatnya lebih mudah dipahami dan diterapkan. Melalui pelatihan dan pendampingan, para peserta diingatkan mengenai pentingnya memisahkan catatan pribadi dengan catatan usaha, yang merupakan langkah krusial dalam pengelolaan keuangan yang baik (Turi et al. , 2. Dengan demikian, informasi dari laporan keuangan dapat dengan mudah diakses dan digunakan dalam pengambilan keputusan bisnis yang lebih baik. Keberhasilan penerapan teknik PBBL ini juga bergantung pada dukungan dan keterlibatan komunitas. Kegiatan bimbingan teknis yang diarahkan kepada UMKM di level komunitas terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman mereka tentang pentingnya akuntansi serta cara mengimplementasikannya (Budyastuti & Dirman, 2. Oleh karena itu, penting untuk melibatkan pemangku kepentingan lokal dalam setiap langkah agar teknik ini dapat diterima dan diterapkan secara luas oleh pelaku UMKM. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan Teknik PBBL untuk diterapkan oleh pelaku UMKM. Dengan demikian, diharapkan akan ada peningkatan dalam proses pencatatan dan pelaporan keuangan. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Teknik PBBL yang telah diterapkan terhadap pengelolaan keuangan UMKM. Hal ini ditujukan untuk mengetahui dampak dari penerapan sistem akuntansi sederhana terhadap kinerja keuangan dan pengambilan keputusan bisnis. Secara keseluruhan, penelitian ini ingin memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan praktik akuntansi di kalangan UMKM, sehingga dapat berperan dalam mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan bagi ekonomi lokal. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan . evelopment researc. dengan pendekatan kualitatif. Penelitian pengembangan merupakan sebuah pendekatan penelitian yang bertujuan untuk menciptakan dan mengevaluasi produk atau intervensi baru dengan fokus pada konteks dan kebutuhan pengguna akhir (Richey & Klein, 2. Penelitian ini melibatkan desain ulang atau pengembangan produk yang relevan dengan pengguna yang diharapkan dapat Randy Kuswanto e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119. Hal 62-79 memberikan dampak positif. Dalam konteks ini, penelitian pengembangan melibatkan kombinasi dari berbagai pendekatan dan metodologi untuk memastikan bahwa Teknik PBBL dapat diterapkan sesuai dengan skala UMKM dan memudahkan perhitungan laba usaha. Objek dan Subjek Penelitian Objek penelitian ini adalah penerapan teknik PBBL (Pendapatan. Bahan Baku. Biaya Lain, dan Laba/Rug. sebagai metode pencatatan keuangan sederhana bagi pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMKM) di wilayah Jakarta. Fokus penelitian terletak pada efektivitas teknik PBBL dalam membantu pelaku usaha menghitung laba usaha bulanan secara sistematis, memahami struktur biaya, serta meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya laporan keuangan bagi pengambilan keputusan. Teknik ini diuji sebagai model alternatif sistem pencatatan yang dirancang berdasarkan prinsip kesederhanaan akuntansi . ccounting simplicity principl. dan pendekatan berbasis pengguna . ser-centered accountin. , yang memungkinkan pelaku UMKM tanpa latar belakang akuntansi dapat menerapkannya secara mandiri. Subjek uji coba dalam penelitian ini melibatkan 15 pelaku UMKM yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta dan mewakili beragam sektor usaha, terutama bidang kuliner, jasa, dan perdagangan kecil. UMKM tersebut antara lain Dimsumlicious. All Risol. The Uhuk. The Prestige Display. Dapoer Siel (Mangga Du. Mie Ayam Jagoan MK (Mangga Du. Warkop Agam (Mangga Besa. Sri Chicken. Selang Maxxflex. NgelAos Food. CF Laundry. Nyemil Yuk. Ayam Bakar Manopi (Gang Kanci. , dan Seafood Tumpah (Cengkaren. Berdasarkan klasifikasi omzet tahunan, tiga belas di antaranya dikategorikan sebagai usaha mikro, sedangkan dua sisanya, yakni Ayam Bakar Manopi dan Seafood Tumpah, termasuk dalam kategori usaha kecil. Pemilihan subjek dilakukan secara purposif dengan mempertimbangkan karakteristik usaha yang belum memiliki sistem pembukuan formal, namun aktif menjalankan kegiatan operasional harian dan memiliki kesediaan untuk mengikuti proses pendampingan. Pelibatan UMKM dari berbagai jenis usaha diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih representatif mengenai tingkat penerimaan, tantangan, dan kebermanfaatan teknik PBBL sebagai alat pencatatan keuangan sederhana di sektor usaha kecil di Indonesia. Evaluasi Teknik PBBL dirancang melalui tiga tahap: . identifikasi masalah melalui wawancara dengan pemilik UMKM, . desain teknik berbasis prinsip kesederhanaan akuntansi, dan . uji coba terbatas. Data dianalisis secara tematik untuk mengevaluasi kebermanfaatan teknik. Pengumpulan dan pengolahan dilakukan dengan bantuan tiga orang asisten penelitian. HASIL Tahap 1: Identifikasi Masalah melalui Wawancara dengan Pemilik UMKM Tahap pertama dalam evaluasi metode Pendapatan. Bahan Baku. Biaya Lain, dan Laba/Rugi (PBBL) dilakukan melalui proses identifikasi masalah yang diperoleh dari hasil wawancara mendalam terhadap sepuluh pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah Jakarta. Tahapan ini bertujuan untuk memahami kondisi aktual praktik pencatatan keuangan di tingkat usaha mikro, menelusuri kendala yang mereka hadapi dalam menerapkan sistem akuntansi, serta menemukan akar permasalahan yang dapat dijadikan dasar dalam merancang sistem pencatatan yang sesuai dengan karakteristik dan kapasitas pelaku UMKM. Hasil wawancara menunjukkan pola yang sangat seragam di antara seluruh responden, yaitu tidak adanya pemahaman yang memadai tentang bagaimana menghitung laba usaha secara sistematis. Dari sepuluh pelaku UMKM yang diwawancarai, seluruhnya mengaku tidak pernah melakukan perhitungan laba bulanan secara formal. Ketika ditanya mengenai hasil usaha, jawaban yang umum muncul bukan berupa angka laba atau rugi, melainkan Aurata-rata Randy Kuswanto e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119. Hal 62-79 pendapatan per hariAy atau Aukas yang tersisa di tanganAy setelah beroperasi. Sebagai contoh, seorang pelaku usaha makanan ringan menyebutkan bahwa ia Aumendapatkan sekitar enam ratus ribu rupiah per hari,Ay namun ketika ditanya berapa laba bersihnya setelah dikurangi bahan, sewa, dan biaya lain, ia menjawab. Autidak tahu pasti, yang penting ada sisa uang untuk belanja bahan lagi besok. Ay Pernyataan ini menggambarkan fenomena umum di kalangan pelaku UMKM, yaitu menilai keberhasilan usaha berdasarkan perputaran kas semata, bukan berdasarkan hasil kinerja keuangan yang sesungguhnya. Temuan ini mempertegas bahwa sebagian besar UMKM di tingkat akar rumput masih beroperasi dengan mindset kas harian, bukan dengan logika akuntansi periodik. Pola pencatatan yang digunakan bersifat spontan dan tidak terstruktur, biasanya hanya mencatat pengeluaran besar seperti pembelian bahan baku atau pembayaran sewa. Beberapa pelaku usaha menyimpan catatan sederhana di buku tulis atau ponsel, namun isinya hanya berupa daftar pengeluaran tanpa ada upaya untuk mengelompokkan transaksi atau menghitung laba Kondisi ini disebabkan oleh dua faktor utama: keterbatasan pengetahuan akuntansi dan persepsi bahwa pembukuan adalah hal rumit yang hanya relevan bagi perusahaan besar. Selain tidak mengetahui laba, hampir semua responden juga tidak memiliki sistem pemisahan antara keuangan pribadi dan keuangan usaha. Mayoritas pelaku UMKM menggabungkan pendapatan usaha dengan pengeluaran rumah tangga. Salah satu responden yang mengelola usaha laundry mengaku bahwa uang hasil usaha Aulangsung dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, nanti kalau perlu beli sabun atau bensin baru diambil dari uang yang Ay Pola seperti ini menyebabkan arus kas usaha menjadi tidak terpantau dan membuat perhitungan kinerja keuangan menjadi mustahil dilakukan. Dalam konteks teori literasi keuangan, hal ini menunjukkan rendahnya kemampuan pelaku usaha dalam melakukan financial planning dan cash flow management, dua komponen dasar yang sangat menentukan keberlanjutan usaha mikro. Masalah berikutnya yang ditemukan dari wawancara adalah ketidaktahuan pelaku usaha terhadap konsep persediaan . tok bahan baku dan produ. Hampir semua pelaku UMKM tidak melakukan pencatatan stok secara periodik. Sebagian hanya memperkirakan kebutuhan bahan setiap kali stok habis, tanpa menghitung nilai ekonominya. Ketika ditanyakan apakah mereka mengetahui nilai bahan baku yang masih tersisa pada akhir bulan, sebagian besar menjawab tidak tahu. Akibatnya, mereka tidak dapat membedakan antara pengeluaran yang sudah menjadi biaya dan pengeluaran yang masih berupa aset berupa bahan yang belum Misalnya, seorang pelaku usaha minuman menyebutkan bahwa ia membeli sirup dan botol dalam jumlah besar, namun tetap menganggap seluruh pembelian tersebut sebagai biaya bulan itu. Padahal, sebagian besar bahan masih tersimpan untuk produksi bulan berikutnya. Praktik seperti ini menyebabkan perhitungan laba menjadi tidak akurat karena biaya yang diakui tidak sesuai dengan konsumsi aktual. Selain persoalan teknis pencatatan, wawancara juga mengungkapkan aspek psikologis dan perilaku yang memperburuk rendahnya disiplin administrasi keuangan. Sebagian besar pelaku UMKM menyatakan bahwa mereka tidak memiliki waktu untuk melakukan pencatatan secara rutin karena fokus utama mereka adalah melayani pelanggan dan menjaga operasional Salah satu responden pemilik warung kopi menyebutkan bahwa Aukalau sedang ramai, tidak sempat mencatat. Malam sudah capek, jadi ditunda, besoknya lupa. Ay Pola seperti ini mengindikasikan bahwa kegiatan pencatatan belum menjadi bagian dari rutinitas bisnis yang dianggap penting, melainkan hanya aktivitas tambahan yang dilakukan jika ada waktu luang. Dalam teori perilaku usaha mikro, fenomena ini disebut sebagai time preference bias, di mana pelaku usaha cenderung memprioritaskan aktivitas jangka pendek yang menghasilkan uang langsung dibanding aktivitas administratif yang manfaatnya bersifat jangka panjang. Faktor lain yang turut memperparah kondisi ini adalah minimnya literasi terhadap istilah dan konsep akuntansi. Istilah seperti Aulaba kotorAy. Aubiaya operasionalAy, atau Auharga Randy Kuswanto e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119. Hal 62-79 pokok penjualanAy tidak dikenal oleh sebagian besar responden. Dalam wawancara, pelaku UMKM lebih sering menggunakan istilah non-akuntansi seperti Aumodal jalanAy. Auuang belanjaAy, atau Auhasil bersih. Ay Kesulitan memahami terminologi akuntansi membuat mereka enggan berinteraksi dengan sistem pencatatan formal. Hal ini menjelaskan mengapa banyak program pelatihan akuntansi bagi UMKM yang kurang berhasil, karena pendekatan yang digunakan terlalu teoretis dan tidak sesuai dengan konteks bahasa serta kebiasaan pelaku usaha mikro. Selain itu, wawancara juga menyingkap bahwa tidak ada satu pun responden yang memiliki laporan laba rugi atau neraca sederhana. Beberapa usaha yang sudah berjalan lebih dari lima tahun bahkan tidak pernah melakukan perhitungan kinerja tahunan. Penilaian terhadap keberhasilan usaha hanya dilakukan berdasarkan kelancaran penjualan atau kemampuan membayar kewajiban harian. Dalam kondisi seperti ini, pengambilan keputusan bisnis menjadi sangat intuitif. Pelaku usaha memutuskan pembelian bahan, kenaikan harga, atau ekspansi berdasarkan perasaan dan pengalaman, bukan berdasarkan data keuangan yang Hal ini berpotensi menimbulkan keputusan yang tidak efisien dan mengancam keberlanjutan usaha, terutama ketika terjadi penurunan penjualan atau kenaikan harga bahan Hasil identifikasi masalah melalui wawancara ini memperlihatkan bahwa permasalahan utama UMKM bukan pada kemauan untuk mencatat, melainkan pada ketiadaan sistem yang sederhana, relevan, dan mudah diterapkan. Mayoritas pelaku usaha menunjukkan minat untuk memahami kondisi keuangan mereka, namun mereka membutuhkan metode yang tidak membebani waktu dan tidak menuntut kemampuan teknis tinggi. Dalam konteks inilah, teknik PBBL dikembangkan. Teknik ini dirancang untuk menanggapi tiga inti persoalan yang muncul dari tahap identifikasi, yaitu . ketidaktahuan pelaku UMKM terhadap laba usaha, . tidak adanya pemisahan antara kas pribadi dan usaha, serta . ketiadaan sistem pencatatan yang praktis untuk menghitung harga pokok penjualan. Dengan demikian, hasil wawancara tahap pertama memberikan dasar empiris yang kuat bagi pengembangan Teknik PBBL. Data lapangan menunjukkan bahwa kebutuhan utama pelaku UMKM bukan sekadar pelatihan akuntansi, tetapi sebuah sistem pencatatan yang menyederhanakan konsep akuntansi menjadi aktivitas praktis yang relevan dengan rutinitas harian mereka. Teknik PBBL menjawab kebutuhan tersebut dengan memperkenalkan empat catatan yang mampu mengubah pola pikir pelaku usaha dari sekadar menghitung kas menjadi memahami laba. Tahap identifikasi ini membuktikan bahwa rendahnya literasi akuntansi di tingkat UMKM bukanlah hambatan permanen, melainkan tantangan yang dapat diatasi melalui rekayasa metode pencatatan yang tepat guna. Oleh karena itu, hasil wawancara ini menjadi pijakan konseptual bagi tahap kedua penelitian, yaitu perancangan teknik PBBL berbasis prinsip kesederhanaan akuntansi yang dapat diimplementasikan secara luas oleh pelaku UMKM. Tahap 2: Desain Teknik PBBL Berbasis Prinsip Kesederhanaan Akuntansi Berdasarkan hasil identifikasi masalah pada tahap pertama, ditemukan bahwa mayoritas pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMKM) tidak mampu mengetahui besaran laba usaha yang mereka hasilkan setiap bulannya. Mereka hanya mengetahui rata-rata pendapatan harian, tanpa memperhitungkan biaya bahan baku, biaya operasional, atau nilai stok akhir. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup besar antara aktivitas operasional sehari-hari dengan kemampuan untuk menghasilkan informasi keuangan yang berguna bagi pengambilan Oleh karena itu, tahap kedua penelitian difokuskan pada perancangan sebuah teknik pencatatan yang sederhana, praktis, dan sesuai dengan konteks pelaku UMKMAiyakni teknik PBBL (Pendapatan. Bahan Baku. Biaya Lain, dan Laba/Rug. Prinsip dasar dari perancangan teknik PBBL adalah kesederhanaan dan keterpahaman. Sistem akuntansi formal umumnya dirancang untuk perusahaan dengan kapasitas administratif Randy Kuswanto e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119. Hal 62-79 yang memadai dan tenaga kerja khusus di bidang keuangan. Sebaliknya, sebagian besar UMKM dijalankan oleh pemilik tunggal yang berperan sebagai produsen, penjual, sekaligus pengelola kas. Oleh karena itu, rancangan teknik PBBL didesain agar dapat dioperasikan secara mandiri oleh pelaku UMKM tanpa memerlukan pelatihan teknis yang mendalam. Teknik ini menekankan pada learning by doing, yaitu pembelajaran akuntansi yang dibangun melalui pengalaman langsung mencatat dan menghitung hasil usaha sendiri. PBBL terdiri atas empat jenis catatan utama yang saling berkaitan. Keempat catatan ini dirancang dengan alur logika yang menyerupai siklus sederhana penyusunan laporan laba rugi, dimulai dari pencatatan pendapatan, pengakuan biaya bahan baku, pencatatan biaya operasional, hingga perhitungan laba bersih. Urutan dan desain keempat catatan disusun sedemikian rupa untuk meniru prinsip akuntansi dasar tanpa menggunakan istilah teknis yang Gambar 1. Catatan 1 AePenjualan CATATAN 1 - PENJUALAN Bulan:____________ PENJUALAN HARIAN Keterangan: _____________ Tanggal Jumlah Penjualan Tanggal Jumlah Penjualan Total Penjualan Harian Bulan ini (A): PENJUALAN MINGGUAN Keterangan: _____________ Mgg Tanggal Jumlah Penjualan Catatan Total Penjualan Mingguan Bulan ini (B): PENJUALAN LAINNYA Keterangan: _____________ Tanggal Sumber Jumlah Penjualan Catatan Total Penjualan Lainnya Bulan ini (C): Perhitungan Total Penjualan A Penjualan Harian B Penjualan Mingguan C Penjualan Lainnya TOTAL PENJUALAN BULAN INI Catatan pertama adalah Catatan Penjualan, yang berfungsi untuk mencatat seluruh penerimaan kas dari kegiatan usaha. Catatan ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu penjualan harian, penjualan mingguan, dan penjualan lainnya. Pembagian ini bukan untuk menambah kompleksitas, tetapi justru untuk menyesuaikan dengan kebiasaan pelaku UMKM yang memiliki ritme penerimaan berbeda-beda. Sebagai contoh, usaha makanan ringan yang menjual langsung kepada konsumen akan mencatat penjualan harian, sedangkan usaha yang menjual melalui sistem titip jual . akan memiliki penjualan mingguan atau bulanan. Dengan pola ini, pelaku usaha dapat merekam seluruh arus kas masuk secara periodik tanpa Randy Kuswanto e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119. Hal 62-79 kehilangan jejak transaksi. Pada akhir bulan, seluruh nilai dari ketiga bagian ini dijumlahkan untuk menghasilkan total penjualan bulanan. Angka ini kemudian akan diposting ke Catatan 4 sebagai komponen pendapatan utama dalam laporan laba rugi. Desain Catatan Penjualan yang sederhana membuat pelaku UMKM dapat memantau pola pendapatan mereka secara kasat mata. Bagi banyak pelaku usaha mikro, kejelasan visual seperti ini jauh lebih efektif dibanding grafik digital atau laporan kompleks. Mereka dapat melihat kapan penjualan meningkat, kapan menurun, dan berapa total penerimaan kas selama satu bulan. Dengan demikian, pencatatan tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai alat kontrol kas dan indikator performa usaha. Gambar 2. Catatan 2 - Bahan Baku dan Produk CATATAN 2 - BAHAN BAKU DAN PRODUK Bulan:____________ Produk dan Bahan Baku Awal Bulan Nama Kuantitas Biaya Satuan Total Bahan Baku Awal (A) Pembelian Bahan Baku dan Lainnya Tanggal Pembelian Jumlah Total Pembelian (B) Nilai Barang Catatan Produk dan Bahan Baku Akhir Bulan Nama Kuantitas Harga Satuan Total Bahan Baku Akhir (C) Nilai Barang Perhitungan Biaya Bahan Baku: Produk dan Bahan Baku Awal Bulan Total Pembelian Bulan ini A B Produk dan Bahan Baku Akhir Bulan BIAYA PRODUK & BAHAN BAKU BULAN INI Catatan kedua adalah Catatan Bahan Baku dan Produk, yang menjadi komponen kunci dalam perhitungan laba. Berdasarkan temuan lapangan, banyak pelaku UMKM gagal mengetahui laba karena tidak memahami bahwa sebagian pengeluaran bukanlah biaya, melainkan masih berbentuk aset berupa bahan baku. Oleh sebab itu, rancangan catatan ini mengadopsi prinsip perhitungan persediaan periodik dalam format yang sangat Pada awal bulan, pelaku usaha diminta menuliskan daftar bahan baku dan produk yang masih tersedia beserta perkiraan nilainya . agian A). Selanjutnya, setiap kali melakukan pembelian bahan baku atau perlengkapan produksi, mereka mencatat total pengeluaran tanpa harus merinci setiap item . agian B). Pada akhir bulan, pelaku usaha kembali mendata bahan baku atau produk yang tersisa . agian C). Dengan tiga data sederhana ini, pelaku usaha dapat menghitung biaya bahan baku dan produk menggunakan formula A B Ae C, yang pada dasarnya merupakan representasi sederhana dari perhitungan Cost of Goods Sold (COGS) atau harga pokok penjualan. Randy Kuswanto e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119. Hal 62-79 Desain ini sengaja tidak menggunakan istilah AupersediaanAy agar tidak menimbulkan Istilah yang digunakan adalah Aubahan baku dan produkAy, yang lebih akrab di telinga pelaku UMKM. Pendekatan linguistik ini penting untuk menjembatani pemahaman konsep akuntansi dalam konteks praktis. Selain itu, catatan ini juga mengajarkan pentingnya melakukan stock opname secara rutin di awal dan akhir bulan. Melalui praktik sederhana ini, pelaku usaha belajar bahwa stok yang belum terjual masih memiliki nilai ekonomi dan tidak boleh langsung diakui sebagai biaya. Secara konseptual, inilah inti pendidikan akuntansi mikro yang ingin dibangun melalui PBBL: menanamkan pemahaman tentang hubungan antara pengeluaran, aset, dan biaya tanpa menggunakan terminologi teoretis. Catatan ketiga adalah Catatan Biaya Lainnya, yang mencakup semua pengeluaran operasional yang tidak terkait langsung dengan produksi. Biaya-biaya seperti listrik, transportasi, sewa, keamanan, promosi, dan iuran lingkungan dicatat dalam format tabel sederhana berisi tanggal, jenis biaya, nilai, dan catatan tambahan. Catatan ini bersifat fleksibel, karena tidak semua usaha memiliki jenis biaya yang sama setiap bulan. Tujuannya bukan untuk melakukan klasifikasi biaya secara mendalam seperti dalam akuntansi perusahaan, tetapi untuk membantu pelaku UMKM memahami bahwa biaya usaha tidak hanya berasal dari pembelian bahan baku. Dengan menyadari keberadaan biaya-biaya kecil yang selama ini tidak dicatat, pelaku usaha dapat menilai efisiensi operasionalnya dengan lebih baik. Gambar 3. Catatan 3 Ae Biaya operasional lainnya CATATAN 3 - BIAYA OPERASIONAL Bulan:____________ DAFTAR BIAYA OPERASIONAL Tanggal Nama Biaya Nilai Pengeluaran Catatan Dst TOTAL BIAYA OPERASIONAL BULAN INI Catatan keempat adalah Laporan Laba Rugi, yang merupakan hasil akhir dari tiga catatan sebelumnya. Format laporan ini dirancang sangat ringkas agar mudah dipahami. Bagian pertama memuat total penjualan dari Catatan 1, kemudian dikurangi dengan biaya bahan baku Randy Kuswanto e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119. Hal 62-79 dan produk dari Catatan 2 untuk menghasilkan laba kotor. Selanjutnya, laba kotor dikurangi dengan total biaya operasional dari Catatan 3, sehingga diperoleh laba bersih. Dalam tahap ini, pelaku UMKM mulai diperkenalkan pada konsep laba kotor dan laba bersih secara empiris, bukan teoritis. Mereka dapat melihat bagaimana setiap pengeluaran memengaruhi laba usaha dan bagaimana efisiensi biaya berdampak pada peningkatan hasil bersih. Desain empat catatan ini mencerminkan penerapan prinsip akuntansi dasar secara bertahap: pengakuan pendapatan, pencocokan biaya dengan pendapatan, dan penentuan hasil bersih periode. Namun, seluruh proses dilakukan dengan bahasa dan format yang disesuaikan dengan realitas pelaku UMKM. Sistem ini juga tetap menggunakan basis kas, sehingga seluruh pencatatan hanya dilakukan ketika uang benar-benar diterima atau dikeluarkan. Meskipun demikian, hasil akhirnya tetap menghasilkan gambaran laba yang lebih akurat dibanding pencatatan kas biasa, karena memperhitungkan nilai bahan baku yang belum digunakan. Kekuatan utama teknik PBBL terletak pada keterpaduan antara kesederhanaan, relevansi, dan fungsi edukatifnya. Kesederhanaan muncul karena formatnya tidak membutuhkan keahlian teknis atau alat bantu teknologi. Relevansinya terletak pada kesesuaian sistem dengan pola usaha kecil yang berorientasi kas dan beroperasi dengan sumber daya Sementara itu, fungsi edukatifnya terletak pada kemampuan PBBL untuk memperkenalkan logika akuntansi secara praktis. Setiap kali pelaku usaha menghitung laba dengan menjumlahkan hasil catatan, sebenarnya mereka sedang mempraktikkan prinsip dasar akuntansi: mencocokkan pendapatan dengan biaya dalam satu periode. Gambar 4. Catatan 4 Ae Laporan laba rugi CATATAN 4 - LAPORAN LABA RUGI Bulan:____________ Total Penjualan . mbil dari Catatan . Total Biaya Produk & Bahan Baku . mbil dari Catatan . Laba Kotor (A - B) Total Biaya Operasional . mbil dari Catatan . Laba Bersih Dengan demikian, teknik PBBL tidak hanya berfungsi sebagai alat pencatatan, tetapi juga sebagai media pembelajaran akuntansi mikro yang mendorong peningkatan literasi keuangan di tingkat akar rumput. Teknik ini menegaskan bahwa akuntansi bukanlah disiplin yang eksklusif, melainkan keterampilan praktis yang dapat dikuasai siapa pun jika disajikan dalam bentuk yang sederhana dan relevan. Rancangan Teknik PBBL pada tahap ini menjadi dasar untuk tahap berikutnya, yaitu uji coba terbatas terhadap pelaku UMKM guna menilai efektivitas, tingkat penerimaan, serta kebermanfaatannya dalam membantu pelaku usaha memahami dan mengelola keuangan mereka dengan lebih baik. Tahap 3: Uji Coba Terbatas dan Evaluasi Kebermanfaatan Teknik PBBL Randy Kuswanto e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119. Hal 62-79 Tahap ketiga dari penelitian ini merupakan uji coba terbatas terhadap pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMKM) yang dilakukan melalui kolaborasi antara peneliti dan mahasiswa STIE Wiyatamandala. Uji coba ini bertujuan untuk menilai sejauh mana teknik Pendapatan. Bahan Baku. Biaya Lain, dan Laba/Rugi (PBBL) dapat diimplementasikan secara efektif oleh pelaku usaha kecil, serta untuk mengidentifikasi manfaat dan kendala yang muncul selama Kegiatan ini dilaksanakan dalam rentang waktu antara Maret hingga Juni 2025, melibatkan sekitar dua puluh lima pelaku UMKM yang tersebar di wilayah Jakarta, dengan fokus utama pada sektor kuliner, perdagangan eceran, dan jasa rumah tangga. Uji coba dilakukan dalam tiga fase kegiatan, yaitu pelatihan awal, pendampingan praktik pencatatan, dan evaluasi hasil akhir. Pada fase pelatihan awal, mahasiswa yang bertindak sebagai fasilitator memberikan pengenalan mendalam mengenai empat catatan PBBL kepada pelaku usaha. Pelatihan ini menekankan pada pemahaman praktis tentang fungsi masing-masing catatan, alur pencatatan, serta hubungan antara catatan dengan perhitungan laba Metode penyampaian dilakukan secara tatap muka dengan pendekatan partisipatif, di mana pelaku UMKM tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi langsung mencoba mengisi format catatan berdasarkan transaksi usahanya sendiri. Tujuannya adalah agar proses belajar tidak bersifat teoretis, melainkan berbasis pengalaman aktual . xperiential learnin. Setelah pelatihan, pelaku UMKM mulai menerapkan pencatatan menggunakan teknik PBBL selama minimal satu bulan. Mahasiswa melakukan pendampingan mingguan, baik secara langsung maupun daring melalui WhatsApp group, untuk memastikan konsistensi Dalam beberapa kasus, mahasiswa juga membantu melakukan stock opname akhir bulan, terutama bagi pelaku usaha yang baru pertama kali mengenal konsep stok awal dan stok Fase ini menjadi penting karena secara empiris menunjukkan sejauh mana teknik PBBL dapat diterapkan tanpa kehilangan esensi kesederhanaannya. Hasil implementasi menunjukkan bahwa teknik PBBL diterima dengan baik oleh sebagian besar pelaku UMKM. Berdasarkan laporan pendampingan, lebih dari 70 persen peserta mampu melakukan pencatatan rutin minimal tiga minggu berturut-turut. Hal ini merupakan peningkatan signifikan dibanding kondisi awal, di mana hampir seluruh pelaku usaha tidak memiliki sistem pencatatan yang konsisten. Para pelaku usaha yang berhasil menerapkan PBBL melaporkan adanya peningkatan pemahaman terhadap posisi keuangan usaha mereka. Mereka mulai mampu membedakan antara uang pribadi dan kas usaha, serta dapat menjelaskan dengan lebih jelas sumber pendapatan dan jenis pengeluaran yang mereka Selain itu, sebagian pelaku usaha juga mulai menggunakan laporan laba rugi sederhana dari Catatan 4 untuk menilai kinerja bulanan. Salah satu peserta, pemilik usaha makanan ringan All Risol, mengungkapkan bahwa sebelum mengikuti program ini, ia tidak mengetahui berapa besar keuntungan yang diperoleh setiap bulan. Setelah menggunakan format PBBL, ia menyadari bahwa pengeluaran bahan baku yang terlalu besar menyebabkan penurunan margin laba. Dengan meninjau kembali catatan pembelian bahan baku, ia melakukan penyesuaian pembelian secara lebih efisien dan berhasil meningkatkan laba bersih sekitar delapan persen dibanding bulan sebelumnya. Kasus lain terjadi pada usaha kuliner Seafood Tumpah, yang mulai mengontrol biaya operasional setelah memahami bahwa biaya promosi dan listrik selama ini menyerap porsi signifikan dari pendapatan. Contoh-contoh ini memperlihatkan bahwa penerapan teknik PBBL mampu menumbuhkan kesadaran analitis dan perilaku reflektif terhadap kondisi keuangan usaha. Selain dampak langsung pada kemampuan mencatat dan menghitung laba, implementasi PBBL juga memberikan pengaruh terhadap perilaku finansial pelaku UMKM. Sebagian besar peserta mulai memisahkan dana pribadi dan dana usaha dengan membuka rekening tersendiri atau menggunakan dompet digital berbeda untuk transaksi bisnis. Tindakan sederhana ini merupakan indikator peningkatan literasi keuangan karena menunjukkan Randy Kuswanto e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119. Hal 62-79 pemahaman tentang pentingnya pemisahan entitas usaha dari pribadi. Dengan kata lain, teknik PBBL tidak hanya menghasilkan perubahan administratif, tetapi juga perubahan perilaku ekonomi yang lebih sehat. Meskipun hasil implementasi menunjukkan keberhasilan yang cukup tinggi, terdapat sejumlah kendala yang menjadi catatan penting dalam evaluasi ini. Kendala paling dominan adalah kurangnya kedisiplinan dalam pencatatan. Banyak pelaku UMKM yang lupa mencatat transaksi harian karena sibuk melayani pelanggan atau karena pencatatan belum menjadi kebiasaan yang melekat dalam aktivitas bisnis. Beberapa pelaku usaha menunda pencatatan hingga akhir minggu, yang pada akhirnya menyebabkan kehilangan data transaksi kecil seperti pembelian bahan tambahan atau biaya transportasi. Fenomena ini menunjukkan bahwa keberhasilan teknik PBBL tidak hanya bergantung pada rancangan sistemnya, tetapi juga pada konsistensi perilaku pencatat. Oleh karena itu, dalam praktiknya, faktor pendampingan dan reminder system menjadi elemen penting dalam memastikan keberlanjutan metode ini. Kendala lain yang muncul adalah kesulitan dalam melakukan pendataan stok akhir. Sebagian pelaku UMKM belum terbiasa menghitung atau menaksir nilai bahan baku yang tersisa pada akhir bulan. Hal ini menyebabkan perhitungan biaya bahan baku (HPP) kurang Tim pendamping mencoba mengatasi kendala ini dengan membantu proses stock opname dan memberikan panduan visual sederhana untuk memperkirakan nilai sisa bahan. Kendala ini menegaskan pentingnya pelatihan lanjutan terkait manajemen persediaan bagi pelaku UMKM, terutama bagi usaha yang bergerak di bidang produksi makanan atau barang Selain itu, beberapa pelaku usaha yang sudah memiliki sistem pencatatan sederhana sebelumnya merasa bahwa Teknik PBBL terlalu mendasar. Namun, setelah memahami bahwa teknik ini bukan pengganti sistem akuntansi formal, melainkan tahap awal untuk menumbuhkan kebiasaan pencatatan yang benar, sebagian besar kemudian menerima Artinya. PBBL memiliki efektivitas optimal pada usaha mikro dan kecil tahap awal, sedangkan bagi usaha yang sudah lebih maju, metode ini dapat berfungsi sebagai sarana penyegaran konsep akuntansi dasar. Hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas dan keterlibatan mahasiswa memiliki peran signifikan dalam keberhasilan implementasi. Pelaku UMKM cenderung lebih terbuka dan aktif ketika pendampingan dilakukan oleh mahasiswa dibandingkan oleh lembaga formal. Faktor kedekatan sosial ini memperkuat efektivitas teknik PBBL karena menciptakan suasana pembelajaran yang egaliter dan komunikatif. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai rekan diskusi yang membantu menerjemahkan konsep keuangan ke dalam bahasa yang mudah dipahami pelaku UMKM. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa keberhasilan transfer pengetahuan akuntansi sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan cara penyampaian yang humanis. Secara keseluruhan, hasil uji coba terbatas menunjukkan bahwa teknik PBBL efektif meningkatkan kemampuan pelaku UMKM dalam mengenali dan menghitung laba usaha. Sistem empat catatan yang diperkenalkan terbukti cukup sederhana untuk diterapkan tanpa memerlukan perangkat teknologi, tetapi juga cukup informatif untuk menghasilkan laporan laba rugi yang relevan bagi pengambilan keputusan. Kendala yang muncul sebagian besar bersifat perilaku dan dapat diatasi dengan pendampingan berkelanjutan. Secara teoretis, hasil ini memperkuat asumsi bahwa pendekatan akuntansi sederhana berbasis kas dapat menjadi entry point bagi literasi keuangan mikro di Indonesia. PBBL menjadi bentuk konkret penerapan prinsip kesederhanaan akuntansi . implicity principl. yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna akhir . ser-centered desig. Dengan demikian, tahap uji coba ini tidak hanya membuktikan kebermanfaatan teknik PBBL, tetapi juga menegaskan bahwa peningkatan literasi akuntansi tidak selalu harus dimulai dari pengenalan teori kompleks. Sebaliknya, pemahaman praktis melalui pengalaman langsung Randy Kuswanto e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119. Hal 62-79 mencatat transaksi dan menghitung laba dapat membentuk fondasi kesadaran finansial yang Teknik PBBL terbukti bukan sekadar model pencatatan, melainkan sarana pemberdayaan ekonomi yang membangun jembatan antara kebiasaan tradisional pelaku UMKM dan praktik akuntansi modern yang lebih terstruktur. PEMBAHASAN Hasil implementasi teknik Pendapatan. Bahan Baku. Biaya Lain, dan Laba/Rugi (PBBL) pada pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMKM) di wilayah Jakarta menunjukkan bahwa permasalahan utama yang dihadapi oleh sektor ini bukan pada keengganan untuk mencatat, melainkan pada ketiadaan sistem pencatatan yang sederhana dan sesuai dengan kapasitas mereka. Seluruh temuan empiris dari uji coba memperkuat hasil wawancara tahap pertama bahwa mayoritas pelaku UMKM tidak mengetahui besaran laba usahanya secara pasti. Mereka menilai performa bisnis hanya berdasarkan pendapatan harian tanpa memahami bagaimana biaya dan stok memengaruhi hasil akhir. Dalam konteks ini, teknik PBBL hadir sebagai bentuk inovasi praktis yang mampu menjembatani kesenjangan antara kebutuhan informasi keuangan dan keterbatasan literasi akuntansi. Secara teoretis, keberhasilan PBBL dapat dijelaskan melalui penerapan prinsip usercentered accounting design, yaitu perancangan sistem akuntansi yang berorientasi pada pengguna akhir. Prinsip ini menekankan bahwa efektivitas suatu sistem pencatatan tidak semata-mata diukur dari kepatuhannya terhadap standar akuntansi, tetapi dari sejauh mana sistem tersebut dapat digunakan dan dipahami oleh penggunanya. PBBL dibangun dengan landasan bahwa pelaku UMKM bukanlah akuntan, melainkan praktisi usaha dengan keterbatasan waktu dan sumber daya. Karena itu, metode ini mengutamakan operational usability dan conceptual simplicity dibandingkan kompleksitas teknis. Empat catatan yang diperkenalkanAipendapatan, bahan baku, biaya lain, dan laba/rugiAibukan hanya berfungsi sebagai dokumen transaksi, tetapi juga sebagai alat pembelajaran konseptual yang menginternalisasi logika akuntansi secara bertahap. Temuan lapangan menunjukkan bahwa pelaku UMKM yang menerapkan PBBL mulai memahami bahwa laba bukanlah uang yang tersisa di kas, melainkan hasil perbandingan antara pendapatan dan biaya dalam satu periode tertentu. Kesadaran sederhana ini menandai terjadinya perubahan paradigma dari cash-flow mindset menjadi profitability mindset. Dalam kerangka literasi keuangan, perubahan ini penting karena menggeser orientasi pengelolaan usaha dari jangka pendek . enjaga arus ka. menuju jangka menengah . eningkatkan efisiensi dan lab. Secara psikologis, pelaku usaha yang mampu mengidentifikasi komponen laba cenderung lebih reflektif dalam mengambil keputusan keuangan, misalnya dalam menekan pengeluaran bahan baku, mengendalikan biaya operasional, atau menilai efektivitas promosi. Selain menghasilkan perubahan kognitif. PBBL juga memiliki efek perilaku . ehavioral effec. yang nyata. Sebagian besar pelaku usaha yang didampingi mulai memisahkan kas pribadi dan kas usaha, membuka rekening khusus bisnis, serta mencatat transaksi harian secara rutin. Hal ini menunjukkan bahwa pencatatan sederhana dapat menjadi behavioral trigger untuk membangun disiplin finansial. Dalam konteks teori financial behavior, perubahan perilaku seperti ini merupakan indikator keberhasilan intervensi keuangan Pelaku usaha tidak perlu memahami debit-kredit atau jurnal transaksi untuk menjadi tertib, melainkan cukup memiliki sistem yang mudah dijalankan dan memberikan umpan balik langsung berupa informasi laba. Namun demikian, keberhasilan PBBL juga tidak terlepas dari tantangan implementatif yang bersifat kultural dan kebiasaan. Faktor kedisiplinan muncul sebagai determinan utama keberlanjutan teknik ini. Beberapa pelaku UMKM yang tidak konsisten mencatat transaksi umumnya memiliki orientasi jangka pendek dan memandang pencatatan sebagai beban Hal ini sesuai dengan temuan Saraswati . dan Hutauruk . bahwa Randy Kuswanto e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119. Hal 62-79 rendahnya literasi akuntansi di kalangan UMKM lebih banyak disebabkan oleh persepsi negatif terhadap pembukuan yang dianggap rumit dan tidak memberikan manfaat langsung. Oleh karena itu, teknik PBBL perlu diikuti dengan strategi pendampingan berkelanjutan yang berfungsi sebagai habit formation mechanismAimembangun kebiasaan pencatatan secara bertahap hingga menjadi rutinitas. Dari sisi metodologis, hasil implementasi PBBL memperkuat relevansi prinsip kesederhanaan . implicity principl. dalam akuntansi mikro. Simplicity tidak berarti reduksi makna akuntansi, tetapi adaptasi terhadap konteks pengguna. Pelaku UMKM tidak membutuhkan laporan keuangan lengkap sebagaimana perusahaan besar. yang mereka butuhkan adalah informasi minimum yang relevan untuk pengambilan keputusan. PBBL berhasil menjawab kebutuhan ini dengan menghasilkan laporan laba rugi berbasis kas yang tetap merefleksikan realitas ekonomi usaha. Meski bersifat kas, pencatatan bahan baku dan stok akhir yang diperkenalkan melalui Catatan 2 secara tidak langsung memperkenalkan elemen akrual sederhana. Hal ini menjadikan PBBL sebagai hybrid system antara pencatatan kas dan akrual yang tetap menjaga keterpahaman pengguna. Selain itu, keberhasilan PBBL juga menunjukkan pentingnya dimensi sosial dalam transfer pengetahuan akuntansi. Pendekatan berbasis komunitas dan pendampingan oleh mahasiswa menciptakan lingkungan belajar yang egaliter dan kontekstual. Pelaku UMKM cenderung lebih terbuka kepada fasilitator yang dekat secara sosial dan memahami realitas mereka dibanding terhadap pelatih formal. Hasil ini sejalan dengan pandangan Budyastuti dan Dirman . yang menegaskan bahwa keterlibatan komunitas lokal merupakan faktor kunci dalam keberhasilan adopsi praktik akuntansi di sektor mikro. Dengan demikian, efektivitas teknik PBBL bukan semata hasil desain sistemnya, tetapi juga hasil dari interaksi sosial yang mendukung pembelajaran partisipatif. Secara teoritis. PBBL dapat dikategorikan sebagai model transitional accounting literacy, yaitu tahapan peralihan dari sistem pencatatan informal menuju sistem akuntansi formal berbasis SAK EMKM. Metode ini mengajarkan prinsip akuntansi secara implisit melalui praktik pencatatan yang konkret, sehingga pelaku UMKM memperoleh pemahaman yang aplikatif sebelum diperkenalkan pada konsep akrual dan neraca. Dalam konteks pembangunan ekonomi, model seperti PBBL dapat menjadi strategi efektif untuk memperkuat tata kelola keuangan mikro yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Dengan demikian, pembahasan ini menegaskan bahwa teknik PBBL memiliki nilai ganda: sebagai alat manajemen usaha dan sebagai sarana pendidikan literasi akuntansi. Implementasi lapangan membuktikan bahwa pelaku UMKM dapat memahami dan menggunakan sistem akuntansi jika sistem tersebut dirancang dengan mempertimbangkan realitas mereka. Tantangan utama ke depan adalah bagaimana memastikan keberlanjutan praktik ini melalui pendampingan rutin, digitalisasi ringan, dan pengintegrasian metode ini dalam program pelatihan UMKM nasional. Jika dilakukan secara konsisten, teknik PBBL berpotensi menjadi model standar pembukuan sederhana yang tidak hanya membantu pelaku UMKM menghitung laba, tetapi juga menumbuhkan budaya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan usaha kecil di Indonesia. SIMPULAN Penelitian ini berhasil mengembangkan dan menguji teknik PBBL (Pendapatan. Bahan Baku. Biaya Lain, dan Laba/Rug. sebagai model pencatatan keuangan sederhana yang dirancang berdasarkan prinsip kesederhanaan akuntansi . nduh di: Template PBBL. Melalui tiga tahap evaluasi yang meliputi identifikasi masalah, perancangan teknik, dan uji coba terbatas, penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa teknik PBBL merupakan solusi efektif untuk mengatasi rendahnya literasi akuntansi dan ketidakmampuan pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMKM) dalam mengetahui laba usaha mereka secara akurat. Randy Kuswanto e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119. Hal 62-79 Tahap identifikasi menunjukkan bahwa seluruh pelaku UMKM yang diwawancarai tidak mampu menentukan laba usaha bulanan secara sistematis. Mereka menilai performa bisnis hanya berdasarkan pendapatan kas harian dan tidak memisahkan keuangan pribadi dengan usaha. Kondisi ini menunjukkan lemahnya kesadaran akuntansi serta tidak adanya sistem pencatatan yang terstruktur. Berdasarkan temuan tersebut, teknik PBBL kemudian dirancang dengan empat catatan sederhana yang menggambarkan siklus dasar akuntansi, yakni pencatatan pendapatan, pengakuan biaya bahan baku dan produk, pencatatan biaya operasional, serta penyusunan laporan laba rugi berbasis kas. Format ini memungkinkan pelaku UMKM untuk memahami konsep laba tanpa harus menguasai terminologi dan prosedur akuntansi formal. Hasil uji coba lapangan memperlihatkan bahwa teknik PBBL dapat diterapkan dengan baik dan diterima secara luas oleh pelaku UMKM. Sebagian besar peserta mampu mencatat transaksi secara rutin dan memahami hubungan antara pendapatan, biaya, serta laba usaha. Pelaku UMKM yang sebelumnya tidak pernah melakukan pencatatan kini mulai mampu memisahkan kas pribadi dan kas usaha, serta menggunakan laporan laba rugi sederhana untuk mengevaluasi performa keuangan bulanan. Beberapa pelaku usaha bahkan melakukan penyesuaian strategi pembelian bahan baku dan pengendalian biaya setelah memahami struktur biaya melalui catatan PBBL. Temuan ini menegaskan bahwa penerapan sistem pencatatan sederhana dapat menghasilkan perubahan kognitif dan perilaku yang signifikan dalam pengelolaan keuangan usaha kecil. Meskipun demikian, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa efektivitas PBBL sangat dipengaruhi oleh faktor kedisiplinan dan kebiasaan pelaku usaha. Keterbatasan waktu dan beban operasional sering menyebabkan pelaku UMKM lupa atau menunda pencatatan Hal ini menjadi tantangan utama dalam menjaga keberlanjutan penerapan teknik ini. Oleh karena itu, diperlukan mekanisme pendampingan berkelanjutan dan sistem pengingat yang mendorong terbentuknya kebiasaan mencatat. Selain itu, kesulitan dalam menentukan stok akhir bahan baku menunjukkan perlunya penguatan pemahaman dasar tentang manajemen persediaan dalam pelatihan lanjutan. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat konsep akuntansi berbasis pengguna . sercentered accountin. , di mana rancangan sistem akuntansi harus disesuaikan dengan kapasitas dan kebutuhan pengguna akhir. Dalam konteks UMKM, keberhasilan penerapan akuntansi tidak bergantung pada tingkat formalitas sistem, tetapi pada kemampuannya untuk dipahami, dijalankan, dan memberikan informasi yang relevan bagi pengambilan keputusan. Teknik PBBL membuktikan bahwa prinsip kesederhanaan akuntansi dapat diterapkan tanpa mengurangi nilai informatif laporan keuangan. Sistem empat catatan yang digunakan menjadi entry point menuju literasi akuntansi yang lebih kompleks, seperti SAK EMKM, dengan tetap menjaga konteks lokal dan keterbatasan pelaku UMKM. Dari perspektif praktis, hasil penelitian ini memiliki implikasi strategis bagi lembaga pendidikan, pemerintah, dan organisasi pemberdayaan ekonomi. Bagi lembaga pendidikan tinggi, terutama program studi akuntansi dan manajemen, teknik PBBL dapat dijadikan model pengabdian masyarakat berbasis literasi keuangan mikro. Melalui keterlibatan mahasiswa dalam pendampingan, kegiatan akademik dapat langsung berdampak pada peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat. Bagi pemerintah dan lembaga pemberdayaan UMKM. PBBL dapat digunakan sebagai standar minimal pencatatan keuangan sederhana dalam pelatihan dan program pendampingan usaha mikro. Dengan adopsi yang lebih luas, metode ini berpotensi meningkatkan transparansi keuangan, mempermudah akses pembiayaan, dan memperkuat daya saing sektor UMKM nasional. Penelitian ini juga membuka peluang untuk pengembangan lanjutan, terutama dalam bentuk digitalisasi teknik PBBL. Mengingat sebagian pelaku UMKM sudah terbiasa menggunakan ponsel cerdas, aplikasi sederhana berbasis format empat catatan dapat Randy Kuswanto e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119. Hal 62-79 dikembangkan untuk memudahkan pencatatan otomatis. Integrasi sistem digital ini akan mengatasi kendala lupa mencatat sekaligus mempercepat proses rekapitulasi laporan laba rugi. Selain itu, penelitian lanjutan juga dapat menguji efektivitas PBBL di wilayah lain atau pada sektor usaha berbeda untuk menilai konsistensi hasilnya. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa teknik PBBL merupakan inovasi metodologis yang mampu menjawab kebutuhan mendesak pelaku UMKM terhadap sistem pencatatan keuangan yang sederhana, relevan, dan edukatif. PBBL bukan sekadar alat pencatatan, tetapi juga sarana pembelajaran akuntansi praktis yang menumbuhkan kesadaran finansial dari bawah. Dengan pendekatan yang berbasis konteks dan berorientasi pengguna, teknik ini mampu menjadi jembatan antara praktik pencatatan tradisional dan sistem akuntansi formal yang lebih komprehensif. Dalam jangka panjang, adopsi luas terhadap teknik PBBL berpotensi memperkuat fondasi literasi keuangan nasional dan mendorong terbentuknya budaya akuntabilitas keuangan yang berkelanjutan di kalangan pelaku usaha mikro dan kecil di Indonesia. Ucapan Terima Kasih Penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mahasiswa STIE Wiyatamandala yang telah berperan penting dalam pelaksanaan kegiatan implementasi teknik PBBL pada pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di wilayah Jakarta. Kegiatan lapangan ini tidak hanya menjadi bagian integral dari penelitian, tetapi juga wujud nyata sinergi antara kegiatan akademik dan pemberdayaan masyarakat. Ucapan terima kasih khusus disampaikan kepada tiga mahasiswa yang telah menunjukkan dedikasi tinggi dalam proses pendampingan, pengumpulan data, serta pelaporan hasil kegiatan, yaitu Windya Gwen Alfian (NIM 2022165. Lisa (NIM 2022165. , dan Jane Febelia (NIM 2022165. Ketiganya telah berperan aktif dalam melakukan pelatihan, observasi, serta monitoring penerapan teknik PBBL di berbagai UMK selama periode Maret hingga Juni 2025. Referensi