Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P -ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Prodi Pendidikan Sosiologi Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 Sosiologi http://journal. id/index. php/equilibrium Strategi Penguatan Nasionalisme Peserta Didik Berbasis Budaya Sekolah di SMA Negeri 1 Belitang Tiar Hajunilato1. Sumaryati2 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Universitas Negeri Yogyakarta E-mail: tiarhajunilato. 2022@student. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Universitas Ahmad Dahlan E-mail: sumaryati@ppkn. Abstract. As civilization and scientific and technological knowledge advance, the understanding of nationalism is tested as to whether it will continue to exist or even disappear in the face of globalization or ethnicity. Nationalism is a doctrine of nationality, where a nation of a country has a sense of love for the nation and the This research aims to understand the cultural-based school nationalism strengthening strategy at SMA Negeri 1 Belitang. The method used in this research is qualitative with a descriptive approach, while data collection techniques used include interviews, documentation, and observation. The subjects in this study are the vice principal for curriculum, the vice principal for student affairs, the Pancasila and Citizenship Education (PPK. teachers, and four students from SMA Negeri 1 Belitang, while the object of this study is the cultural-based school nationalism strengthening strategy at SMA Negeri 1 Belitang. The data analysis techniques used include data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this research show that the cultural-based school nationalism strengthening strategy at SMA Negeri 1 Belitang includes the normalization of school programs/rules such as the 5S program . mile, greet, say hello, be polite and courteou. , singing the national anthem in every classroom before the start of the learning process, the installation of posters of heroes, the Zone Armed program . military program for new student. , and the planning of a scorebook for recording students' violations in school. Normalization is also achieved through extracurricular activities such as Student Intra-School Organization (OSIS). Marching Band. Flag Raising Troop (PASKIBRAKA). Young Scouts (PRAMUKA). Red Cross Youth (PMR). Youth Scientific Group (KIR), and finally through school competitions, such as gravity-making competitions, singing compulsory/regional songs competitions, regional cultural arts performances, making short films about local culture, etc. Keywords : Nationalism. School Culture. Students Abstrak. Semakin maju peradaban dan teknologi ilmu pengetahuan, disitu paham nasionalisme diuji apakah akan tetap eksis atau bahkan hilang ditelan arus globalisasi atau etnisitas. Nasionalisme adalah suatu paham kebangsaan, dimana suatu bangsa dari suatu negara memiliki perasaan cinta terhadap bangsa dan negara Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi penguatan nasionalisme berbasis budaya sekolah di SMA Negeri 1 Belitang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif dengan pendekatan deskriptif, sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan diantaranya wawancara, dokumentasi serta Subjek dalam penelitian ini yaitu wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Wakil Kepala sekolah bidang kesiswaan, guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. , dan 4 orang siswa SMA Negeri 1 Belitang, sedangkan, objek pada penelitian ini adalah strategi penguatan nasionalisme berbasis budaya sekolah di SMA Negeri 1 Belitang. Teknik analisis data yang digunakan diantaranya pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa strategi penguatan nasionalisme berbasis budaya sekolah di SMA Negeri 1 Belitang adalah dengan pembiasaan program/peraturan sekolah seperti program 5s . enyum, salam, sapa, sopan dan santu. , menyanyikan lagu wajib di setiap kelas sebelum di lakukannya pembelajaran, pemasangan poster pahlawan. Program Zone Armed . rogram militer bagi siswa bar. , dan merencakan adanya buku skor pelanggaran peserta didik yang diguankan untuk mencatat saat peserta didik yang melakukan pelanggaran di sekolah, pembiasaan melalui ekstrakurikuler diantaranya: Organisasi Siswa Intera Sekolah (OSIS). Marching Band. Pasukan Pengibar Bendera (PASKIBRAKA). Praja Muda Karana (PRAMUKA). Palang Merah Remaja (PMR). Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) dan yang terakhir yaitu Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P -ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 dengan pembiasaan Melalui kompetisi sekolah contohnya: kompetisi membuat gravity, kompetisi menyanyikan lagu wajib/daerah, kompetisi pentas seni kebudayaan daerah, kompetisi membuat film pendek tentang budaya lokal,dll. Kata Kunci : Nasionalisme. Budaya Sekolah. Peserta Dididk PENDAHULUAN Kemajuan teknologi di Indonesia yang semakin pesat berdampak positif dan negatif. Salah stau dampak negatifnya adalah norma-norma yang terkandung didalam pancasila mulai memudar perlahan-lahan. Gencarnya teknologi yang terus menerus disertai dengan nilai-nilai intrinsik yang diberlakukan di dalamnya, telah menimbulkan isu mengenai globalisasi yang kemudian pada akhirnya menimbulkan nilai baru yaitu nilai tentang kesatuan dunia (Suneki, 2012: . Beliau juga menjelaskan bahwa nilai-nilai nasionalisme dan kebudayaan yang ada di Indonesia telah terpengaruh dengan adanya globalisasi. Berbagai masalah telah muncul karena hal tersebut misalnya: terjadinya erosi nilai-nilai budaya, hilangnya budaya asli suatu daerah atau suku bangsa, menurunya jiwa nasionalisme, memudarnya sifat kekeluargaan, serta gaya hidup yang tidak sesuai dengan adat Indonesia. Nasionalisme adalah suatu paham kebangsaan, dimana suatu bangsa dari suatu negara memiliki perasaan cinta terhadap bangsa dan negara tersebut (Yusuf & Rohmah, 2. Semakin maju peradaban dan teknologi ilmu pengetahuan, disitu paham nasionalisme diuji apakah akan tetap eksis atau bahkan hilang ditelan arus globalisasi atau etnisitas (Hendrastomo, 2. Deras arus globalisasi dan semakin kuat semangat etnisitas menyebabkan rasa nasionalisme di Indonesia lambat laun cenderung mulai memudar seiring waktu berjalan. Adanya kecenderungan masyarakat memprioritaskan kepentingan dan keunggulan kelompok mereka lebih dari apa yang mereka berikan kepada negara yang pada dasarnya apa yang mereka lakukan tersebut cenderung bertentangan dengan aturan atau hukum di negara Indonesia. Disisi lain, munculnya identitas-identitas yang mengakibatkan terjadinya konflik baru sehingga mengancam stabilitas internasional yaitu kolektivisme melawan individualisme (Hendrastomo, 2. Sehingga menimbulkan adanya perpecahan dan nasionalisme akan luntur seiring berjalannya waktu. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi nasionalisme, salah satu unsur tersebut adalah lembaga pendidikan atau sekolah. Suryono, . menyatakan Pendidikan di lingkungan sekolah, tepatnya pada tingkat menengah atas dilakukan dengan hal pembiasaan dan dimulai dari hal yang sederhana seperti menjaga kerapian, kebersihan, dan sopan santun. Setelah memasuki era globalisasi sekarang ini, tugas sekolah semakin bertambah, termasuk tugas dalam mengarahkan peserta didik agar lebih bijak dan tanggung jawab dalam memantau dan mengarahkan peserta didik agar lebih bijak dalam penggunaan teknologi. Tetapi pembentukan karakter bangsa ini tidak boleh serahkan secara keseluruhan kepada sekolah karena wali dari peserta didik juga ikut bertanggung jawab dalam hal pendidikan anaknya. Diharapkan kerjasama antara wali dengan pihak sekolah menciptakan pendidikan yang baik dan dapat mencetak generasi penerus yang mempunyai jiwa nasionalisme. Hal ini selaras dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Indriani et al. menjelaskan bahwa Salah satu cara untuk membentuk karakter profil siswa sebagai pelajar Pancasila adalah dengan melaksanakan proyek penguatan profil pelajar Pancasila. Agar manfaatnya dapat dirasakan secara keseluruhan, semua pemangku kepentingan, termasuk kepala sekolah, orang tua, siswa, pendidik, mitra, pengawas sekolah, komite sekolah, dan utusan dinas pendidikan kebudayaan kota atau provinsi, harus bekerja sama dan bekerja sama dengan baik. Bentuk keseriusan SMAN 1 Belitang dalam mengupayakan ditanamkannya nilai-nilai nasionalisme pada peserta didik dengan menjadikan nasionalime sebagai salah satu misi sekolah. Misi SMA N 1 Belitang yaitu menumbuhkan penghayatan ajaran-akaran agama dan budaya, sebagaimana kita ketahui bahwa penghayatan dalam ajaran agama dan budaya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kadar jiwa nasionalisme (Lan & Manan, 2. Penguatan melalui budaya 5S . alam, senyum, sapa, sopan dan santu. adalah salah satu bentuk keseriusan dalam meningkatkan jiwa Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P -ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 nasionalisme peserta didik. Hal tersebut serupa dengan ppenelitian terdahulu yang dilakuakn oleh Salmawati & Pilo . yang mejelaskan bahwa program 5S . alam, senyum, sapa, sopan dan santu. perlu kembali teguhkan karena sering waktu mulai di lupakan peserta didik dalam kehidupan seharihari, dengan adanya hal tersebut diharapkan mampu menepis budaya asing yang banyak mempengaruhi generasi muda. Penelitian ini mengeksplorasi lebih dalam mengenai bagaimana SMA Negeri 1 Belitang menguatkan nilai karakter kebangsaan bagi peserta didiknya yaitu jiwa nasionalisme sebagai salah satu upaya mewujudkan misi dan tujuan sekolah. Hal tersebut selaras dengan tujuan pembelajaran Nasional dalam UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam pencapaian tujuan tersebut, sehingga penelitian yang berjudul AuStrategi Penguatan Nasionalisme Peserta Didik Berbasis Budaya Sekolah Di SMA Negeri 1 Belitang Kabupaten Oku TimurAy diharapkan memiliki dampak pada kebaharuan dalam bidang pendidikan begitu juga pembelajaran khusus pada penguatan nasionalisme peserta didik di seluruh wilayah Indonesia termasuk di Kabupaten OKU Timur. Sumatera Selatan ini. METODE PENELITIAN Subjek dalam penelitian ini yaitu wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Wakil Kepala sekolah bidang kesiswaan, guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. dan 4 orang siswa SMA Negeri 1 Belitang, sedangkan objek pada penelitian ini adalah strategi penguatan nasionalisme berbasis budaya sekolah di SMA Negeri 1 Belitang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hal ini berdasarkan kajian yang ingin diteliti yaitu Strategi Penguatan Nasionalisme Berbasis Budaya Sekolah di SMA Negeri 1 Belitang. Pemilihan jenis kualitatif karena metode ini mencakup metode penelitian yang lebih luas, kerja peneliti bukan saja memberikan gambaran terhadap fenomena-fenomena, tetapi juga menerangkan hubungan, menguji hipotesahipotesa, membuat prediksi serta mendapatkan makna dan implikasi dari suatu masalah yang Penelitian ini juga menghasilkan data deskriptif yang diperoleh dari data-data berbentuk observasi, wawancara dan dokumentasi dengan pihak terkait. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri yang terjun langsung ke lapangan untuk mencari informasi melalui teknik penelitian yang telah dipilih. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini diperoleh dari pengumpulan data berdasarkan observasi, wawancara dan Berikut hasil yang ditemui peneliti selama penelitian di SMA Negeri 1 Belitang. Hasil Penelitian Strategi Penguatan Nasionalisme Melalui Budaya Sekolah di SMA Negeri 1 Belitang Program dan kegiatan yang dilakukan sekolah dalam strategi penguatan nasionalisme di SMA Negeri 1 Belitang tersebut terdiri dari: Penguatan Nasionalisme Melalui Program/Peraturan Sekolah Strategi yang diberikan sekolah untuk menumbuhkan dan meningkatkan nasionalisme terdapat beberapa contoh seperti program 5 S . enyum, sapa, salam, sopan, santu. , menyanyikan lagu wajib di setiap kelas sebelum dilakukan nya pembelajaran, pemasangan poster pahlawan. Program Zone Armed . rogram militer bagi siswa bar. , dan merencanakan adanya buku skor pelanggaran peserta didik, buku ini digunakan untuk mencatat saat peserta didik yang melakukan pelanggaran di sekolah. Semua program atau kegiatan tersebut dibuat sekolah bertujuan untuk meningkatkan nasionalisme melalui hal-hal yang dilakukan setiap hari di sekolah guna memberikan kebiasaan baik berupa nasionalisme bagi seluruh peserta . Penguatan Nasionalisme Melalui Ekstrakurikuler Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P -ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Ekstrakurikuler yang merupakan kegiatan positif yang bertujuan untuk memaksimalkan dan mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik, tetapi kegiatan ini juga merupakan bagian dari strategi penguatan nasionalisme melalui budaya sekolah di SMA Negeri 1 Belitang, contoh beberapa ekstrakurikuler tersebut yaitu Organisasi Siswa Intera Sekolah (OSIS). Siwa Pecinta Aalam (SISPALA). Marching Band. Pasukan Pengibar Bendera (PASKIBRAKA). Praja Muda Karana (PRAMUKA). PMR (Palang Merah Remaj. KIR (Karya Ilmiah Remaj. Pada dasarnya kegiatan ekstrakurikuler berkaitan dengan penguatan nasionalisme, karena di dalam kegiatan tersebut terselip beberapa hal yang mengajarkan untuk memiliki serta menanamkan nasionalisme di dalam dirinya. Maka dari itu peran sekolah disini adalah memaksimalkan kegiatan-kegiatan yang ada, dengan cara memberikan fasilitas yang baik, memberikan dukungan moral, serta membimbing kegiatan tersebut agar bisa terlaksana dengan sesuai tujuan. Penguatan Nasionalisme Melalui Kompetisi Sekolah Kegiatan meningkatkan nasionalisme yang terakhir adalah perlombaan sekolah. Berbagai macam perlombaan yang direncanakan oleh SMA Negeri 1 Belitang di seitap tahun salah satu tujuannya adalah menanamkan dan menguatkan nasionalisme yang dimiliki peserta Contoh kegiatan perlombaan tersebut berupa lomba membuat Gravity . ukisan di dinding paga. yang bertuliskan kata-kata mutiara atau kalimat penyemangat, ada juga lomba menyanyikan lagu wajib/daerah, lomba pentas seni kebudayaan daerah, dan ada lomba membuat film pendek tentang budaya lokal. Semua kegiatan tersebut dilakukan oleh SMA Negeri untuk menjadikan peserta didik memiliki pengetahuan dan penghayatan dari budaya asli Indonesia, agar nantinya peserta didik tidak lupa dengan jati diri bangsa nya, yaitu bangsa Indonesia. Upaya penguatan nasionalisme yang ada di SMA Negeri 1 Belitang terbagi menjadi tiga jenis yaitu pengautan nasionalisme melalui program/peraturan sekolah, penguatan nasionalisme melalui ekstrakurikuler, dan penguatan nasionalisme melalui perlombaan sekolah. Hal terkait dengan strategi penguatan nasionalisme kepada peserta didik juga disampaikan oleh Aulia & Trihantoyo, . bahwa terdapat beberapa strategi yang diberikan kepada peserta didik untuk membangun karakter siswa melalui budaya nasionalisme yaitu strategi pertama adalah punishment atau hukuman berupa petugas upacara. Strategi kedua adalah modelling yaitu pada saat hari besar nasionalisme oleh guru dan strategi terakhir adalah penguatan lingkungan yaitu berupa pemutaran lagu kebangsaan dan pemasangan poster pahlawan. Hal tersebut ditemui pada saat peneliti melakukan penelitian bahwa ada beberapa hal yang dilakukan untuk mewujudkan nya, yaitu penguatan nasionalisme melalui program/peraturan sekolah, penguatan nasionalisme melalui ekstrakurikuler serta penguatan nasionalisme melalui kompetisi sekolah. Dengan hasil demikian, bisa disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan relevan dengan teori di atas, dikarenakan hasil penelitian dan teori diatas menyimpulkan hal yang sama yaitu salah satu strategi penguatan nasionalisme berbasis budaya sekolah dilakukan dengan cara memberikan punishment atau hukuman. Kendala SMA Negeri 1 Belitang dalam Penguatan Nasionalisme Strategi penguatan nasionalisme yang dilakukan melalui budaya sekolah sebenarnya berjalan dengan cukup lancar, tetapi bagiaimanapun itu, pasti ada kendala yang dihadapi juga dalam melaksanakan nya, baik itu berasal dari peserta didik, ataupun dari sekolah sendiri. Adapun hasil penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 1 Belitang tentang kendala dalam strategi penguatan nasionalisme berbasis budaya sekolah terbagi menjadi dua, kendala dari guru dan kendala dari peserta didik. Kendala yang dihadapi oleh guru seperti kurang efisiennya waktu di dalam beberapa kegiatan, dana yang turun untuk sekolah tergolong lama, dan beberapa peserta didik yang kurang disiplin, sedangkan kendala yang dihadapi peserta didik itu muncul dari diri sendiri seperti rasa malas, kurang motivasi, ataupun suasana hati yang kurang bagus. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P -ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Hal ini selaras dengan teori dari (Widiatmaka, 2. , beliau mengatakan bahwa salah satu faktor penghambat dari peserta didik dalam membangun karakter nasionalisme di sekolah yaitu kemalasan dan terlalu sering bermain game. Kedua hal tersebut sangat berkaitan karena jika peserta didik diberikan kelonggaran untuk bermain terlalu sering bisa mengakibatkan peserta didik memiliki rasa malas dalam belajar, bahkan rasa malas tersebut nantinya bisa berakibat peserta didik membolos pelajaran bahkan membolos sekolah. Maka dari itu, penelitian ini selaras dengan teori tersebut yang menyimpulkan bahwa salah satu faktor kendala yang dihadapi sekolah dalam mengembangkan atau menguatkan nasionalisme adalah kemalasan dari peserta didik. Adapun kendala yang dihadapi oleh strategi penguatan nasionalisme di SMA Negeri 1 Belitang . Kendala dari peserta didik Kendala ini muncul yang disebabkan oleh peserta didik itu sendiri, kendala tersebut berupa malas, atau tidak patuh terhadap aturan sekolah. Adapun penyebab dari kelakuan yang dilakukan peserta didik, penyebab yang pertama biasanya muncul karena peserta didik kurang mendapatkan perhatian di rumah nya, jadinya peserta didik ingin mendapatkan perhatian tersebut di sekolah dengan mencari masalah yang melanggar aturan di sekolah. kedua adalah kurang nya motivasi yang diberikan kepada peserta didik baik dari keluarga, kerabat, maupun guru yang mengakibatkan peserta didik kurang semangat dalam menjalani kegiatan yang ada di sekolah. ketiga adalah suasana hati yang kurang baik, hal ini muncul biasanya diakibatkan karena kurang stabilnya emosi peserta didik yang dominan para remaja, suasana hati yang kurang baik bisa berakibat timbulnya rasa melawan kepada guru atau cenderung melanggar aturan sekolah. Kendala dari sekolah Kendala ini muncul karena adanya masalah yang timbul dari sekolah itu sendiri, kendala tersebut berupa waktu yang sering bertabrakan antara kegiatan pembelajaran dan kegiatan di luar pembelajaran. Menurut keterangan yang diberikan oleh narasumber yang ada di SMA Negeri 1 Belitang, hal ini terjadi karena kurang baik nya koordinasi antar lini, kemudian berakibat salah/kurang nya informasi yang di dapat. Kendala dari luar sekolah Kendala yang terakhir adalah kendala yang muncul dari luar sekolah, kendala tersebut adalah dana, dana yang diterima sekolah biasanya baru bisa cair setelah tahun pelajaran berakhir bukan sebelum tahun pelajaran di mulai. Tentunya hal ini berakibat banyak nya kegiatan yang tertunda dan kadang gagal karena kurang nya dana yang tersedia. Berdasarkan temuan dati pembahasan di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa pelaksanaan strategi penguatan nasionalisme melalui budaya sekolah tidak terlepas dengan kendala yang ada. Baik itu dari kendala yang muncul dari peserta didik, kendala dari sekolah, maupun kendala dari luar sekolah. Menurut (Ismayanti dkk, 2. kendala yang dihadapi sekolah dalam mengembangkan atau menguatkan nasionalisme peserta didik adalah kemajuan teknologi di era globalisasi, bangga menggunakan produk luar negeri, dan kurangnya kedisiplinan peserta Sehingga, penelitian ini selaras dengan dikarenakan hasil penelitian yang dilakukan dan teori di atas menyimpulkan bahwa kurangnya kedisiplinan dan kemalasan merupakan kendala yang dihadapi sekolah dalam mengembangkan atau menguatkan nasionalisme untuk peserta didik Solusi SMA Negeri 1 Belitang dalam menangani Kendala Penguatan Nasionalisme Berbasis Budaya Sekolah Dari hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa solusi yang diberikan SMA Negeri 1 Belitang dalam mengatasi kendala-kendala yang ada dalam pelaksanaan strategi penguatan nasionalisme berbasis budaya sekolah: Koordinasi harus diperbaiki, baik guru yang mengajar, peserta didik. OSIS, maupun guru lainya yang bersangkutan seperti wakil ataupun kepala sekolah. Koordinasi bertujuan Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P -ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 untuk kedepan nya informasi bisa tersampaikan dengan jelas supaya waktu kegiatan pembelajaran yang ada tidak bertabrakan dengan kegiatan diluar pembelajaran. Memberi masukan kepada peserta didik akan adanya refleksi terhadap masalah-masalah yang ada. Ini bertujuan untuk memberikan solusi dari permasalahan yang dihadapi para peserta didik, diharapkan dari refleksi yang dilakukan ini, nantinya dapat membantu peserta didik dalam menghadapi masalah yang ada. Memberikan sanksi, sanksi ini nantinya diberikan kepada peserta didik yang melakukan pelanggaran di sekolah, baik sengaja maupun tidak sengaja, sanksi ini bersifat disiplin dan Diberikannya sanksi tersebut bertujuan agar dapat mengurangi pelanggaran yang dilakukan peserta didik. Memberikan reward atau penghargaan, penghargaan diberikan kepada peserta didik yang berprestasi, dengan adanya penghargaan ini, diharapkan peserta didik lain nya bisa terpacu dalam belajar untuk meraih prestasi. Penghargaan yang dimaksud disini berupa pujian, nilai, atau bahkan hadiah. Peneliti menemukan bahwa solusi yang diberikan SMA Negeri 1 Belitang yaitu memperbaiki koordinasi antar lini, memberikan refleksi kepada peserta didik, memberikan sanksi, dan memberikan penghargaan. Semua ini dilakukan SMA Negeri 1 Belitang untuk dapat memaksimalkan strategi penguatan nasionalisme melalui budaya sekolah. Selaras dengan pemaparan Ferry Kurniawan. Ruslan . mengatakan bahwa solusi dalam mengatasi adanya hambatan dari pelaksanaan penanaman nilai-nilai nasionalisme dapat dilakukan dengan menjalin hubungan yang baik antara peserta didik supaya nantinya peserta didik nyaman dalam melaksanakan kegiatan yang ada di sekolah serta dapat memanfaatkan media pembelajaran yang Hasil penelitian yang dilakukan peneliti sejalan dengan hasil penelitian yang relevan dilakukan oleh (Ferry Kurniawan & Ruslan . , dikarenakan penelitian yang dilakukan dan teori di atas menyebutkan untuk menghadapi kendala yang ada dalam menguatkan atau menanamkan nasionalisme kepada peserta didik haruslah melakukan pendekatan dengan cara menjalin hubungan yang baik antara guru dan peserta didik. Pembahasan Strategi penguatan nasionalisme melalui budaya sekolah di SMA Negeri 1 Belitang dipahami oleh guru sebagai wujud nyata dari strategi untuk mengembangkan atau menguatkan nasionalisme peserta Strategi tersebut diantaranya: upaya penguatan sikap unggul berprestasi melalui budaya sekolah, upaya penguatan sikap menjaga kekayaan budaya bangsa melalui budaya sekolah, upaya penguatan sikap disiplin melalui budaya sekolah dan upaya penguatan sikap cinta tanah air melalui budaya sekolah. Penguatan sikap unggul berprestasi melalui budaya sekolah di SMA Negeri 1 Belitang dilakukan dengan bekerja sama dengan bimbingan belajar setempat, mendukung peserta didik dalam mengikuti kegiatan kejuaraan dan memaksimalkan ekstarkurikuler dan kurikulum yang ada. Upaya tersebut telah sesuai dengan panduan Kemendikbud yang menyatakan bahwa sikap nasionalis ditunjukkan melalui sikap apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, unggul berprestasi, disiplin, dan cinta tanah air. Hal ini juga memperjelas jika strategi yang dilakukan SMA Negeri 1 Belitang sesuai dengan Pendidikan Penguatan Karakter (PPK) berbasis budaya sekolah yang dipaparkan oleh Kemendikbud melalui kegiatan branding sekolah, keteladanan pendidik dan ekosistem sekolah. Peningkatan sikap menjaga kekayaan budaya bangsa melalui budaya sekolah di SMA Negeri 1 Belitang dilakukan dengan menyelenggarakan kompetisi antar kelas berupa menyanyikan lagu daerah, tari daerah, dan kompetisi membuat film pendek tentang budaya-bidaya Indonesia. Penelitian yang dilakukan Funika & Tyas berjudul Nilai Pembentuk Karakter Kebangsaan Pada Budaya Lokal Kerja Banyak (Fusnika & Tyas, 2. Beliau juga mengatakan bahwa dalam Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) semua komponen yang ada . harus dilibatkan, termasuk juga komponen- Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P -ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 komponen pendidikan itu sendiri, yaitu proses pembelajaran, kualitas hubungan, penanganan mata pelajaran, pemberdayaan sarana dan prasarana, maupun isi dari kurikulum sekolah. Upaya menguatkan sikap disiplin melalui budaya sekolah di SMA Negeri 1 Belitang dilakukan dengan memberikan program Zone Armed, penerapan peraturan sekolah dan menerapkan rencana program skor bagi peserta didik. Hal ini sejalan dengan (Aulia & Trihantoyo, 2. yang memaparkan bahwa upaya dalam meningkatkan nasionalisme sangat diperlukan adanya strategi yang bertujuan untuk membangun karakter peserta didik, salah satunya dengan metode punishment, yaitu hukuman yang bersifat mendidik dan mengajar. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya penyimpangan perilaku terhadap norma dan nilai yang dapat dilakukan dengan memberikan sanksi sepadan dan bersifat mendidik. Strategi penguatan sikap cinta tanah air melalui budaya sekolah di SMA Negeri 1 Belitang dilakukan dengan memberikan program Zone Armed, program 5S . enyum, sapa, salam, sopan dan santu. , upacara bendera, piket kelas dan gotong royong. Penerapan tersebut sesuai dengan anjuran Kementerian Pendidikan Nasional meliputi 18 nilai yang harus ditanamkan pada peserta didik yaitu: jujur, religius, toleransi, kerja keras, disiplin, mandiri, kreatif, rasa ingin tahu, demokratis, nasionalisme, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Dari hasil penelitian yang dilakukan melalui berbagai analisis seperti wawancara, observasi, dan Strategi penguatan nasionalisme berbasis budaya sekolah dilakukan dengan berbagai perencanaan program serta kegiatan yang dibuat dengan tujuan agar peserta didik memiliki dan menguatkan nasionalisme yang ada di dalam peserta didik itu sendiri. Hal ini selaras dengan apa yang dipaparkan oleh Aulia & Trihantoyo . bahwa dalam meningkatkan adanya pendidikan yang berkaitan dengan nasionalisme atau semangat kebangsaan diperlukan adanya strategi untuk membangun karakter dari peserta didik dengan menerapkan budaya nasionalisme di sekolah itu KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, strategi penguatan nasionalisme melalui budaya sekolah di SMA Negeri 1 Belitang telah terlaksanakan dengan cukup baik. Secara khusus dapat dirumuskan kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Upaya yang dilakukan SMA Negeri 1 Belitang dalam strategi penguatan nasionalisme melalui budaya sekolah yaitu dengan pembiasaan program/peraturan sekolah, diantaranya: program 5 (Lim. S . enyum, sapa, salam, sopan, santu. , menyanyikan lagu wajib di setiap kelas sebelum di lakukan nya pembelajaran, pemasanagan poster pahlawan. Program Zone Armed . rogram militer bagi siswa bar. , dan merencakan adanya buku skor pelanggaran peserta didik, buku ini diguankan untuk mencatat saat peserta didik yang melakukan pelanggaran di sekola. Berikutnya yaitu dengan pembiasaan melalui ekstrakurikuler, diantaranya: Organisasi Intera Sekolah (OSIS). Marching Band. Pasukan Pengibar Bendera (PASKIBRAKA). Praja Muda Karana (PRAMUKA). Palang Merah Remaja (PMR). Karya Ilmiah Remaja (KIR). Adapun yang terakhir yaitu dengan pembiasaan Melalui perlombaan sekolah, diantaranya: kompetisi membuat gravity, kompetisi menyanyikan lagu wajib/daerah, kompetisi pentas seni kebudayaan daerah, kompetisi membuat film pendek tentang budaya lokal. Pelaksanaan strategi penguatan nasionalisme melalui budaya sekolah tidak terlepas dari adanya kendala yang dihadapi, kendala-kendala yang ada tersebut bisa membuat rencana dari sekolah terhambat atau gagal. Kendala yang pertama yaitu kendala internal yang muncul dari dalam diri peserta didik masing-masing atau dari dalam sekolah itu sendiri, kendala nya meliputi kemalasan peserta didik, waktu yang sering bertabrakan antara kegiatan pembelajaran dan kegiatan di luar Kendala yang kedua adalah kendala eksternal yang muncul dari luar sekolah, kendala ini meliputi dana yang diterima sekolah biasanya baru bisa cair setelah tahun pelajaran berakhir bukan sebelum tahun pelajaran di mulai yang mengakibatkan terkendala nya beberapa program atau kegiatan sekolah, dan kendala dari luar sekolah. Solusi terhadap kendala dengan bisa berakibat terhambat atau gagalnya kegiatan yang dilaksanakan, tentunya sekolah harus mencari solusi atau jalan keluar untuk menyelesaikan kendala Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P -ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Adapun solusi yang diberikan yaitu memberi masukan kepada peserta didik akan adanya refleksi terhadap masalah-masalah yang ada, memberi masukan kepada peserta didik akan adanya refleksi terhadap masalah-masalah yang ada, memberikan sanksi, dan memberikan reward atau DAFTAR PUSTAKA