Raqib: Jurnal Studi Islam Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 ISSN: x-x | E-ISSN: x-x PENDIDIKAN ISLAM DI ERA DISRUPSI DALAM SUDUT PANDANG IBNU KHALDUN (Isam Education in the Era of Disruption from Ibnu Khaldun's Point of Vie. Moh Safik Al Mubarok Universitas PTIQ Jakarta email: safikpele04@gmail. Suci Nurrahmadani Universitas PTIQ Jakarta email: sucinurrahmadani93@gamil. Abstract Islamic education is an effort in planning to prepare people to recognize, understand, appreciate, and believe in the teachings of the Islamic religion accompanied by demands to respect other religions in inter-religious relations to create national unity and integrity. This article aims to provide readers with new knowledge about the concept of Islamic education in the era of disruption based on the perspective of Ibn Khaldun's Islamic education. This study uses a literature study approach by using descriptive analysis. The results of this study indicate that Islamic education is used as a filter for students to be able to balance the development of technology and Islamic law as a process where students are able to appreciate, absorb and even capture events throughout the ages. Keywords: Islamic education. The Age of Disruption. Ibn Khaldun. Abstrak Pendidikan Islam sebagai upaya dalam rencana menyiapkan manusia untuk mengenal, memahami, meghayati, dan mempercayai ajaran agama Islam dengan dibarengi tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan antar umat beragama untuk menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa. Artikel ini bertujuan agar pembaca mendapat pengetahuan baru tentang konsep pendidkan islam di era disrupsi dengan berdasarkan prespektif pendidikan islam Ibnu Khaldun. Penelitian ini menggunkan pendekatan studi pustaka dengan memakai analisis Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pendidikan Islam dijadikan filter bagi siswa untuk bisa mengimbangi perkembangan teknologi dan syariat Islam sebagai proses dimana para peserta didik mampu menghayati, menyerap bahkan menangkap dari pristiwa- peristiwa sepanjang zaman. Kata kunci: Pendidikan Islam. Era Disrupsi. Ibnu Khaldun. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan suatu yang penting bagi kehidupan manusia, manusia dibentuk oleh pendidikan dan lembaga pendidikan. Apalagi pendidikan islam itu hal yang mendasar yang sangat penting dipelajari untuk kehidupan pada era sekarang ini. Permasalahan moral dan karakteristik bangsa menjadi momok dalam dunia pendidikan. Banyak permasalahan yang belum terselesaikan yang mengikuti karakteristik bangsa, maka dari itu permaslahan itu juga melibatkan pendidikan Islam yang belum tuntas atau tidak sesuai. Masyarakat atau lingkungan pendidikan Islam sangatlah penting dalam proses pendidikan islam. Masyarakat memiliki fungsi sebagai penerus ilmu yang akan dilanjutkan dari generasi ke generasi. Proses ini berlangsung secara dinamis, sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat. Jadi dalam sebuah proses transfernilai lingkungan sangat berpengaruh dalam mencetak peserta didik sesuai dengan karakteristik bangsa. Maka perlu adanya lingkungan yang kondusif untuk mendukung keberhasilan peran dalam pendidikan Islam. Pendidikan Islam masa kini sangat penting untuk membentuk karakteristik bangsa yang sesungguhnya. Salah satu pemikiran tentang pendidikan Islam yang bisa berkembang untuk masa kini adalah Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun adalah satu dari sekian banyak tokoh islam yang dikenal di dunia Islam. Berkat buah pikirannya yang dipaparkan dalam kitab Muqoddimah sebagai karya monumentalnya mengangkat nama dan martabatnya didunia keilmuan. Sehingga pemikir-pemikir barat mengagumi sebagai seorang tokoh yang paling besar dalam ilmu masyarakat. Banyak pemikir-pemikir yang memberikan pengakuan terhadap kebesaran Ibnu Khaldun. Menurut Ibnu Khaldun seorang tokoh yang paling besar dizamannya dalam ilmu masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari kemampuannya menghubungkan filsafat sosiologi dengan pendidikan. Hubungan tersebut dapat dilihat dari kemampuannya membaca, mempelajari kitab-kitab, pengamatan, dan pengalaman selama mengembara, serta bergaul bermacam bangsa. Menurutnya, ilmu pendidikan merupakan salah satu dari gejala sosial yang menjadi ciri khas insani. 1 Tantangan manusia dalam mengahadapi perkembangan kebudayaan secara otomatis melahirkan persoalan yang kompleks, yang mendorong manusia untuk memiliki pengetahuan yang Maka lahirlah ilmu-ilmu dengan bertumpuknya pengetahuan, sejalan dengan berjalannya masa, karena ilmu lahir sebagai akibat dari kebimbangan pikiran. Dan untuk menjawab kebimbingan-bimbingan tersebut menurutnya dapat diperoleh melalui membaca, pengamatan, serta bergaul dengan bermacam bangsa. Terdapat kemiripan pemikiran Ibnu Khaldun dengan metode yang digunakan oleh Socrates yang digunakan sebagai metode dasar untuk pemikiran filsafatnya. Metode dialiktik bertolak dari sikap ragu terhadapa kebenaran dan berusaha mencari kebenaran baru sebagai alternative. Pendidikan harus berusaha untuk melahirkan masyarakat yang berkebudayaan serta berusaha untuk melestarikan eksistensi masyarakat selanjutnya. Pendidikan akan mengarahkan kepada pengembangan sumbar daya manusia yang berkualitas. Pendidikan Islam senantiasa mengorientasikan diri menjawab kebutuhan dan tantangan yang muncul dalam berbagai tingkatan. Pendidikan Islam mempunyai kedudukan yang penting dalam sistem pendidikan nasional sesuai dengan UU No 2 tahun 1989 dan UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa fungsi pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam mewujudkan tujuan nasional. Untuk merealisasikan tujuan pendidikan tersebut maka peran pendidikan sangat menentukan, terutama dalam pembentukan sikap mental. Membedakan dengan tegas antara mengajar dengan mendidik. Mengajar menyangkut proses penyampaian ilmu dan pengetahuan, sedangkan mendidik menyangkut proses pembentukan manusia muda secara keseluruhan, seperti pendidikan nilai. Hasan Langgulung. Pendidikan dan Peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna 2. , h. Jalaludin dan Usman Said. Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada 2. , h. Fatahiyya Hasan Sulaeman. Pandangan Ibnu Khaldun Tentang Ilmu dan Pendidikan, (Cet I. Bandung: 2. , h. Azyumardi Azra MA. Pendidikan Islam dan Modernisasi menuju Milenium Baru,( Cet II. Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 2. , h. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 . Terdapat tiga kemampuan yang harus dimiliki terhadap pelaksanaan pendidikan, sesuai dengan tingkatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan zaman yaitu. Kemampuan untuk mengetahui pola perubahan dan kecenderungan yang sedang berjalan, kemampuan untuk menyusun gambaran tentang dampak yang akan ditimbulkan oleh kecenderungan yang sedang berjalan, kemampuan untuk menyusun program penyesuaian yang akan ditempuhnya dalam jangka waktu tertentu. Jika ketiga tuntunan tersebut tidak dapat dipenuhi dan dikembangkan maka sistem pendidikan terperangkap oleh rutinitas. Pada hakikatnya, peranan pendidikan adalah mempersiapkan generasi untuk masa yang akan datang. Oleh karenanya, mulai sekarang harus diprediksikan hal-hal apa saja yang diinginkan atau dihadapi maupun yang tidak dapat dihindari di masa yang akan datang . he coming are for the coming generations ), sehingga nantinya pendidikan dapat menawarkan solusi-solusi terhadap persoalan yang kelak dihadapi peserta didik. Statemen tersebut senada dengan apa yang telah dikemukakan Ibnu Khaldun. Menurutnya pendidikan harus berperan untuk melahirkan budaya masyarakat bekarya guna melestarikan kualitas hidup manusia. Peningkatan kualitas hidup manusia tidak mungkin terwujud jika manusia itu bodoh dan terbelakang dari peradabannya. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan ketidakberdayaan manusia dan diantaranya adalah kelemahan ekonomi dan kebodohan. Pertama, kelemahan membuat seseorang seringkali tidak mampu mempertahankan hak-haknya dan sekaligus tidak mampu bersaing dengan orang lain dalam merebut banyak kesempatan. Kedua, kebodohan menempatkan seseorang pada posisi yang tidak mengenal dengan baik lapangan persaingan sehingga akan kalah bersaing dengan orang-orang yang Para ahli ekonomi dan pendidikan berpendapat, terdapat relasi yang erat antara pendidikan SDM dengan kemiskinan. Rendahnya SDM meurupakan penyebab Oleh karenanya, antara rendahnya SDM dengan kemiskinan terdapat semacam Auvicious circleAy atau lingkaran setan. Peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan merupakan cara yang paling efektif untuk menuntaskan kemiskinan, meskipun hal itu memerlukan waktu yang relatif panjang. Untuk melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas dibutuhkan ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan hanya bisa diperoleh dengan pendidikan. Di era milenial prespektif Ibnu Khaldun, karna pendidikan islam adalah hal yang paling utama untuk membentuk karakter dan sikap setiap anak. Dengan menggabungkan pendidikan islam prespektif Ibnu Khaldun dan pendidikan islam era Pemikiran Ibnu Khaldun telah banyak diterimah di masyarakat dan juga pemikirannya bukan hanya bertahan pada masa lampau tapi juga pada masa sekarang. Artikel ini bertujuan agar pembaca mendapat pengetahuan baru tentang konsep pendidkan islam di era disrupsi dengan berdasarkan prespektif pendidikan islam Ibnu Khaldun. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (Librabry Reseac. Penelitian kepustakaan (Librabry Reseac. karena Muchtar Buchori. Pendidikan dalam pembangunan. Tiara Wacana. Yogyakarta,( Cet Yogyakarta: 2. , h. Ahmadie Thaha. Au Muqoddimah an introduction to the history of the worldAy. Terjemahan (Jakarta: Turos Pustaka 2. Muchasin. AuPendidikan Sebagai Pilihan Utama Dalam Usaha Pemberdayaan UmmatAy,(Yogyakarta: Jurnal Pendidikan Islam FIAI UII No. , h. Teuku Amiruddin. Reorientasi Manajemen Pendidikan Islam, (Cet I. UII Pres, 2016. Yogyakart. , h. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 . dalam mengumpulkan data bersumber dari buku, ensiklopedi, dan karya-karya tulis yang Data dalam penelitian ini berasal dari karya-karya Ibnu khaldun dalam pemikiran tentang pendidikan Islam. Isam education in the era of disruption from ibnu khaldun's point of view. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan Islam dalam Pandangan Ibnu Khaldun Jika membicarakan tentang manusia. Ibnu Khaldun tidak terlalu menekankan pada segi kepribadiannya, sebagaimana yang telah dibicarakan dari para filosof, baik itu Islam ataupun di luar Islam. Ia lebih melihat manusia dalam hubungannya dengan kelompok-kelompok yang ada di masyarakat. Ia mempunyai asumsi-asumsi kemanusiaan sebelumnya lewat pengetahuan yang ia peroleh dalam ajaran Islam. Banyak konsepsi kemanusian dari Ibnu Khaldun yang berasal dari hasil penelitian dan pemikiran Ibnu Khaldun untuk membuktikan dan memahami asumsi dari Al-QurAoan melalui gejala dan aktivitas kemanusiaan. Ibnu Khaldun memandang manusia sebagai makhluk yang berbeda dengan berbagai mahluk lainnya. Menurut Ibnu Khaldun manusia adalah makhluk berpikir. Oleh karena itu, manusia mampu mengembangkan berbagai pengetahuan dan teknologi. Sifat seperti ini tidak bisa dimiliki oleh makhluk lain kecuali hanya manusia semata. Lewat kemampuan berpikirnya manusia mampu membuat suatu kehidupan dengan pola kehidupan masing-masing dan juga mampu menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh makna hidup. Proses seperti ini yang akan mampu melahirkan suatu Untuk mencapai pengetahuan yang bermacam-macam tidak hanya membutuhkan ketekunan, tetapi juga bakat. Berhasilnya suatu keahlian dalam satu bidang ilmu atau disiplin ilmu atau disiplin memerlukan pengajaran. Jadi manusia didik itu orang yang sudah terdidik dengan beberapa ilmu dan bisa mengembangkan ilmunya, juga mewariskan ilmunya untuk generasi selanjutnya. Bukan hanya ilmu tapi juga karakternya sesuai dengan ilmunya. Bukan hanya pandai dalam pengetahuan tapi juga bersosial degan yang lain. Laju perputaran kondisi jaman yang semakin berkembang dan berubah, tentu waktu yang telah berjalan tidak bisa digantikan oleh waktu sekarang, begitu juga dengan kondisi pada masa lalu tidak bisa digantikan atau relevan dengan masa kini. Oleh karena itu, dalam hal cara berpikir dan cara memandang seorang tokoh tentunya tidak selalu relevan untuk diaplikasikan ke segala dimensi waktu dan ruang, terlebih tokoh- tokoh pemikir klasik. Namun pemikiran Ibnu Khaldun banyak yang masih relevan jika diaplikasikan untuk pendidikan Islam masa kini. Hal ini bisa dilihat dalam hal menetapkan tujuan Tinjauan filsafat yang digunakan Ibnu Khaldun sangat nampak, meski juga sangat pragmatis untuk memasukkan unsur mencari kehidupan dalam tujuan Begitu juga dengan pandangan Ibnu Khaldun tentang materi dan kurikulum menunjukkan bahwa Ibnu Khaldun memang matang berpikirnya dan dalam pengajaran Al-QurAoan patut diutamakan sebelum mengembangkan ilmu- ilmu yang lain. Hal yang tidak berbeda jauh adalah prinsip Ibnu Khaldun bahwa belajar. bukan penghapalan di luar kepala, namun pemahaman, pembahasan dan kemampuan berdiskusi. Ibnu Khaldun dalam menjelaskan materi dan kurikulum yang diajarnya dalam metode pendidikan selalu memperhatikan bahasa sebagai jembatan memperoleh ilmu. Ibnu Khaldun menganjurkan agar pada anak- anak sebaiknya terlebih dahulu diajarkan Bahasa Arab sebelum ilmu- ilmu lain, karena bahasa adalah merupakan kunci untuk Muhammad Abdullah Enan. Au Biografi Ibnu Khaldun : kehidupan karya bapak sosiologi dunia terjemahan Machnun HuseinAy, ( Jakarta : Zaman, 2. , h 157. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 . menyingkap semua ilmu pengetahuan. Menurut Ibnu Khaldun, mengajarkan Al-QurAoan mendahului pengajarannya terhadap bahasa Arab akan mengkaburkan pemahaman anak terhadap al-QurAoan itu sendiri, karena anak akan membaca hal-hal yang tidak Tujuan Pendidikan Menurut Ibnu Khaldun Tujuan pendidikan yang dirumuskan oleh Ibnu Khaldun ialah pengembangan kemahiran dalam bidang tertentu, penguasaan ketrampilan profesional sesuai dengan tuntutan zaman, pembinaan pemikiran yang baik. Sedangan tujuan pendidikan nasional yang tertera dalam UU Pendidikan Nasional No 20 th 2003 yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Keberadaan masyarakat sangat penting untuk kehidupan manusia, karena sesungguhnya manusia memiliki watak bermasyarakat. Tatanan sosial akan berubah dari masyarakat yang satu ke masyarakat yang lain kemudian mengikuti fakktor yang dimiliki oleh masyarakat tersebut yaitu menyangkut iklim, cuaca, tanah, makanan sumber tambang, kemampuan berfikir, jiwa dan emosi mereka. Masyarakat manusia akan berjalan mengikuti tahap berjenjang seperti halnya tahapan yang dilalui oleh manusia sejak lahir hingga wafatnya. Begitu pula negara sama dengan individu memiliki umur yang alami. 10 Perkembangan negara melalui beberapa tahapan sebagai berikut: . Tahap primitif, perhatian individu dalam tahap ini hanyalah bertuju kepada penghidupannya. Dia memiliki sifat yang keras untuk menghidupi dirinya bahkan siap mencaplok orang lain dengan kejam, tanda yang lainnya yaitu fanatisme terhadap garis keturunannya, . Tahap kepemilikan, pada tahap ini kekuasaan masyarakat terpusat pada tangan seseorang, keluarga, atau golongan, fanatisme pada tahap ini dilakukan secara terang-terangan. Bahkan selalu melekat pada jiwa setiap Masyarakat dalam tahap ini beralih dari penghematan kepada pemborosan, dari masyarakat primitif kepada masyarakat beradab, . Tahap beradab dan Pada tahap ini individu masyrakat telah melupakan kekerasannya. Mereka telah meninggalkan fanatisme dan kesukaan berperangnya, mereka telah meninggalkan masa produktifnya dan suka bersenang-senang sehingga memberatkan Kemampuan para penguasa menurun, tapi keterlibatan mereka dalam bersenang-senang meningkat, . Tahap kelemahan, kerusakan akhlak, dan Pada tahap ini negara menjadi mangsa yang empuk untuk serangan musuh dari luar. Jadi dalam pemikirn Ibnu Khaldun ini sangat relevan dengan kehidupan sekarang, karna tujuan pendidikan Islam nya juga berisikan tentang kemahiran terhadap bidang dan profesi tertentu utuk mengikuti zamanya. Juga membahas tentang karakter dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakat. Ibnu Khaldun berpendapat bahwa tujuan pendidikan islam yang ideal serta praktis yang mencapai 2 unsur diantaranya: . Pengembangan Kemahiran dalam bidang Potensi pada setiap manusia tidak dapat diraih kecuali ia telah memahami dan mendalami satu ilmu tertentu. Ibnu Khaldun mengatakan bahwa Au sebabnya karena ketrampilan dalam ilmu pengetahuan akan aspeknya yang beragam serta penguasaan atasnya merupakan hasl dari kemahiranAy. Penguasaan ketrampilan profesional sesuai dengan tuntutan zaman. Pendidikan ditujukan untuk mendapatkan ketrampilan yang kreatif pada profesi tertentu untuk menunjang kemajuan dan kontinuitas kebudayaan serta peradaban umat manusia. Muhammad Abdullah Enan. Au Biografi Ibnu Khaldun : kehidupan karya bapak sosiologi dunia terjemahan Machnun HuseinAy, ( Jakarta : Zaman, 2. , h 158. Husayn Ahmad Amin. AuSeratus Tokoh dalam Sejarah IslamAy. Bandung: Rosda Karya, 2. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 . Tujuan pendidikan harus dikaitkan antara teori dan praktek agar dapat memperoleh keetrampilan dan menguasai pengetahuan hal ini merupakan perbuatan yang bersifat jasmaniah sehingga kemudian pengetahuan yang diperoleh dapat melekat dengan baik dan kemudian tujuan akhirat juga harus dicapai dengan baik. Pandangan Ibnu Khaldun terhadap pendidikan tidak lepas dari realitas yang terjadi ditengah-tengah Pengalaman hidup beliau merumuskan formulasi pendidikan yang membumi dikalangan para intelektual. Sebagai seorang filosof sosiolog, orientasi pemikiran beliau sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat. Sebab masyarakat selalu dinamis sesuai budaya masyarakat sehingga kemudian terjadi perkembangan dikalangan masyarakat yang sesuai cermatan dan pengamatan pemikirannya. Ibnu Khaldun telah menuangkan pemikirannya tentang pendidikan dalam karyanya yaitu Muqaddimah. Dalam buku tersebut beliau mengatakan bahwa :Aubarang siapa tidak terdidik oleh orangtuanya, maka akan terdidik oleh zaman, maksudnya barangsiapa yang tidak memperoleh tata krama yang dibutuhkannya sehubungan pergaulan bersama melalui orangtua mereka yang mencakup guru-guru dan para sesepuh, dan tidak mempelajari hal itu dari mereka, maka ia akan mempelajarinya dengan bantuan alam dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang zamanAy12 Tujuan pendidikan yang dirumuskan oleh Ibnu Khaldun ialah pengembangan kemahiran dalam bidang tertentu, penguasaan ketrampilan profesional sesuai dengan tuntutan zaman, pembinaan pemikiran yang baik. Sedangan tujuan pendidikan nasional yang tertera dalam UU Pendidikan Nasional No 20 th 2003 yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini saya menyimpulkan bahwa tujuan Ibnu Khaldun dengan penddikan Islam masih relevan sebab yang ditinjau dari pemikirannya yaitu mengembangkan potensi peserta didik serta membina peserta didik dengan baik. Disisi lain. Ibnu Khaldun sangat mementingkan pembentukan individu peserta didik guna untuk mempersiapkan dalam menghadapi perubahan sosial yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Maka dari itu, beliau tidak hanya terfokus pendidikan secara teoritis akan tetapi secara praktikum ditengah-tengah masyarakat. Beliau juga bermaksud untuk menjadikan peserta didik bukan hanya sebagai pengabdi Allah dalam keagamaan saja akan tetapi manusia harus paham secara jelas dan lengkap seluruh isi ajaran Allah dalam Al-QurAoan agar dapa mempraktekkan dalam kehidupan sehari hari. Kurikulum Pendidikan Menurut Ibnu Khaldun Konsep kurikulum pendidikan menurut Ibnu Khaldun, meliputi tiga hal, yaitu: pertama, kurikulum sebagai alat bantu pemahaman . lmu bahasa, ilmu nahwu, balagah dan syai. Kedua, kurikulum sekunder yaitu matakuliah untuk mendukung memahami Islam . eperti logika, fisika, metafisika, dan matematik. Ketiga kurikulum primer yaitu inti ajaran Islam . lmu Fiqh. Hadist. Tafsir, dan sebagainy. Yang merupakan dasardasar dalam mengkaji ilmu pengetahuan agama. Orientasi Kurikulum Pendidikan Islam menurut Ibn Khaldun, adalah harus mengutamakan Alquran dan hadis sebagai sumber pokok untuk mendapat pengetahuan yang lain. Disamping itu juga. Alquran mengajarkan semua ilmu Syariat kepada peserta Ketika Alquran ditanamkan kepada peserta didik maka Alquran akan menjadi pegangan hidupnya yang mesti diajarkan kepada peserta didik. Al-Quran mengajarkan anak tentang syariat serta menjadi pegangan bagi ahli agama dan dijunjung tinggi oleh setiap umat Islam. Masturi Irham. Au Ibnu Khaldun. MuqoddimahAy. Vol 2, (Jakarta: pustaka al-Kaustar, 2. h Ahmad FuAoad al-Ahwani, al-Tarbiyah fi al-Islam, (Mesir: Dar al-MaAoarif, t. , hal. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 . Karena memang pegangan orang Islam adalah Al-QurAoan dan Hadist. 2 itu harus ditanamkan sejak dini kepada peserta didik, hal yang harus dijadikan pegangan dalam kehidupa bermasyarakat. Ilmu syariat Islam terdapat di Al-QurAoan dan Hadist yang menjadi pedoman umat muslim. Ciri khas pendidikan Ibnu Khaldun adalah pendidikan Islam, memberikan perinsip moral religius yang ukhrawi tanpa mengabaikan masalah-masalah duniawi, yang memberikan perhatian kepada subjek akal, pengetahuan, kecerdasan hidup yang beragama dan bermoral. Hal ini penulis sangat setuju, karena inti dari tujuan pendidikan adalah melahirkan dan menciptakan generasi yang berwawasan tinggi dan berakhlak Hal ini telah dilaksanakan oleh Ibnu Khaldun pada zamannya ketika bergelut dalam dunia Pendidikan. KESIMPULAN Pendidikan Islam ini menjadikan filterasi bagi masyarakat untuk bisa mengimbangi perkembangan teknologi dan syariat Islam. Dalam pendidikan Islam juga ditekankan tentang karakter dan akhlaq setiap anak dan pendidik. Pendidikan bukan hanya proses belajar mengajar yang dibatasi oleh ruang dan waktu, akan tetapi pendidikan merupakan proses dimana para peserta didik mampu menghayati, menyerap bahkan menangkap dari pristiwa- peristiwa sepanjang zaman. Maka dari itu, beliau menegaskan bahwa ilmu dan pendidikan merupakan gejala sosial yang menjadi ciri khas jenis insani. Tujuan pendidikan menurut beliau yaitu Pengembangan Kemahiran dalam bidang tertentu dan pembinaan pemikiran yang baik. DAFTAR PUSTAKA