Vol. 3 No. Desember 2025, pp. https://journal. id/index. E-ISSN: 3089-6150 Implementasi Program Pembiasaan Salat Dhuha Dalam Upaya Menstimulasi Kecerdasan Spiritual Anak Usia 5-6 Tahun Shouja Harfiyani Zain*. Baldwine Honest G2. Bety Vitriana3. Sri Purwanti4. Yamani5 PG-PAUD. Universitas Mulia. Indonesia *Penulis Korespondensi: shoujazain@students. ABSTRAK Latar belakang penelitian ini adalah menurunnya praktik keagamaan anak usia dini di era digital dan meningkatnya paparan gawai yang berpotensi menggeser stimulasi nilai spiritual. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berperan penting sebagai fondasi, di mana pembiasaan ibadah seperti salat dhuha di KB IT Mumtaz Foundation diamati mampu menstimulasi kecerdasan spiritual anak. Tujuan penelitian adalah: . mendeskripsikan implementasi program pembiasaan salat dhuha sebagai stimulus kecerdasan spiritual anak usia 5Ae6 tahun, dan . mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan implementasi program yang sistematis berdasarkan SOP, pendekatan keteladanan . , dan pendampingan . efektif menstimulasi aspek spiritual anak. Faktor pendukung utama berupa konsistensi sekolah, peran guru, dan dukungan orang tua, sedangkan faktor penghambat meliputi karakteristik perkembangan anak dan kendala teknis. Dengan demikian, program pembiasaan salat dhuha yang terstruktur dan konsisten terbukti mampu menstimulasi kecerdasan spiritual anak usia dini. Kata Kunci: Pembiasaan. Salat Dhuha. Kecerdasan Spiritual. Anak Usia Dini. Riwayat Artikel Diterima: 03/11/2025 Direvisi: 10/11/2025 Disetujui: 20/11/2025 Dipublikasi: 15/12/2025 PENDAHULUAN Perkembangan teknologi dan globalisasi membawa tantangan serius terhadap pendidikan karakter dan spiritual anak usia dini. Laporan Kementerian Agama RI . menunjukkan kecenderungan menurunnya praktik keagamaan anak akibat pengaruh media digital dan perubahan pola asuh keluarga. Hal ini diperkuat oleh data KPAI . serta BPS . yang menunjukkan tingginya penggunaan gawai dan akses internet pada anak usia dini, bahkan sejak usia di bawah satu tahun. Kondisi ini menegaskan pentingnya penanaman nilai spiritual dan pembiasaan ibadah sejak dini untuk menyeimbangkan perkembangan anak di era digital. Anak usia dini berada pada masa golden age, yaitu periode perkembangan yang sangat pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Pada fase ini, seluruh aspek perkembangan anak berkembang secara simultan dan sangat peka terhadap stimulasi lingkungan (Santrock. Anak belajar melalui pengalaman langsung, peniruan, dan pembiasaan yang bermakna (Papalia, 2. Oleh karena itu. PAUD memiliki peran strategis dalam membentuk dasar kepribadian, karakter, serta nilai spiritual anak (Suyadi, 2017. Hasanah, 2. Pembentukan kebiasaan pada anak usia dini terjadi melalui pengulangan perilaku yang dilakukan secara konsisten dalam lingkungan yang mendukung, di mana perilaku yang sering dilakukan akan melekat dan berkembang menjadi kebiasaan serta bagian dari karakter (Hurlock, 1. Proses ini sejalan dengan teori belajar sosial Bandura . yang menjelaskan bahwa anak belajar melalui pengamatan terhadap perilaku orang di sekitarnya, sehingga keteladanan guru dan orang tua dalam melaksanakan ibadah secara konsisten memudahkan anak meniru dan menginternalisasi perilaku religius secara alami dan berkelanjutan. Pembiasaan ibadah yang dilakukan secara konsisten tersebut pada akhirnya bertujuan untuk mengembangkan kecerdasan spiritual anak. Kecerdasan spiritual merupakan kemampuan individu dalam memaknai kehidupan dan mengaitkan perilaku dengan nilai ketuhanan (Zohar & Marshall, 2. Kecerdasan ini menjadi kecerdasan terdalam yang memungkinkan individu Jurnal Pelangi. Vol. 3 No. Des 2025, pp. memberi makna terhadap kehidupan dan tindakan, serta mengintegrasikan IQ dan EQ secara Pada anak usia dini, kecerdasan spiritual masih bersifat dasar, namun dapat distimulasi melalui pembiasaan ibadah dan penanaman nilai religius sesuai tahap perkembangan (Wahyudi. Abdullah, 2005. Tebba, 2005 dalam Yaumi & Ibrahim, 2. Indikator kecerdasan spiritual anak usia 5Ae6 tahun tampak pada kemampuan melakukan ibadah dasar (Rosad, 2. , pemahaman nilai baik dan buruk (Indragiri, 2. , sikap sopan dan akhlak mulia (Muhtar, 2. , empati dan tolong-menolong (Zohar & Marshall, 2. , serta kedisiplinan beribadah (Ariawan et , 2. Indikator tersebut berkembang bertahap sesuai kematangan anak dan dukungan lingkungan, dan dapat diperkuat melalui pembiasaan ibadah seperti salat dhuha (Zahrudin et al. Stefani Aprillia et al. , 2. Penelitian Aprillia et al. menunjukkan bahwa pembiasaan salat dhuha yang terstruktur mampu meningkatkan nilai agama dan moral anak usia 5Ae6 tahun serta memperkuat karakter positif seperti kejujuran, kepedulian, dan rasa hormat. Kegiatan keagamaan yang dilakukan secara konsisten juga berperan dalam membentuk perilaku religius dan empati sosial anak (Nurhayati, 2019. Fitriani, 2. KB IT Mumtaz Foundation merupakan salah satu lembaga PAUD yang menerapkan program pembiasaan salat dhuha berjamaah setiap hari sebelum kegiatan pembelajaran. Hasil observasi awal menunjukkan antusiasme anak yang cukup tinggi dalam mengikuti kegiatan tersebut, baik dari aspek kemandirian, keteraturan saf, maupun kemampuan mengikuti gerakan dan bacaan salat. Namun demikian, masih ditemukan kendala berupa rendahnya fokus anak, keterbatasan pemahaman terhadap makna ibadah, serta kecenderungan anak menghafal bacaan tanpa memahami nama gerakan dan bacaan salat. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini penting dilakukan untuk mengkaji secara mendalam implementasi program pembiasaan salat dhuha dalam menstimulasi kecerdasan spiritual anak usia 5Ae6 tahun serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya di KB IT Mumtaz Foundation. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengkaji implementasi pembiasaan salat dhuha dan kontribusinya terhadap kecerdasan spiritual anak usia 5Ae6 tahun di KB IT Mumtaz Foundation, dengan peneliti sebagai instrumen utama (Sugiyono, 2023. Bogdan & Biklen, 2022. Patton, 2. Penelitian dilaksanakan pada NovemberAeDesember 2025 dengan subjek kepala sekolah, guru, orang tua, dan 12 anak kelompok B. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, bersumber dari data primer dan sekunder. Analisis data menggunakan model interaktif meliputi reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan (Miles & Huberman, 1. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi dan member checking, serta pelaksanaan penelitian memperhatikan prinsip etika penelitian (Sugiyono, 2023. Fariska & Diana, 2024. Sovia, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Implementasi Program Pembiasaan Salat Dhuha Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pembiasaan salat dhuha di KB IT Mumtaz Foundation dilaksanakan secara rutin, terencana, dan konsisten sebagai bagian dari budaya Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai rutinitas ibadah, tetapi sebagai sarana pendidikan spiritual yang terintegrasi dalam kegiatan harian anak. Pelaksanaan yang dilakukan setiap pagi dengan alur kegiatan yang relatif sama mencerminkan implementasi program yang sistematis sebagaimana konsep implementasi dalam administrasi pendidikan (Nisa et al. , 2. Implementasi program ini selaras dengan teori pembiasaan . abit formatio. Hurlock . , yang menekankan bahwa perilaku anak terbentuk melalui pengulangan yang konsisten. Anak secara bertahap terbiasa mengikuti rangkaian salat dhuha, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, dan menunjukkan peningkatan kemandirian seiring berjalannya waktu. Hal ini menunjukkan bahwa pembiasaan ibadah yang dilakukan secara berkelanjutan efektif dalam menginternalisasi perilaku religius pada anak usia dini. Copyright A 2025. Zain et al, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 3 No. Des 2025, pp. Pelaksanaan program juga didukung oleh keberadaan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang menjadi acuan pelaksanaan kegiatan, sehingga salat dhuha dilaksanakan secara terstruktur dan tidak bersifat insidental. Hal ini sejalan dengan prinsip penyelenggaraan PAUD yang menekankan perencanaan dan sistematisasi kegiatan pembelajaran. Dari perspektif teori belajar sosial Bandura . , anak belajar melalui peniruan terhadap keteladanan guru. Guru berperan sebagai model dalam pelaksanaan salat dhuha, sementara guru lain mendampingi dan memberikan penguatan. Proses ini memungkinkan anak mengamati, meniru, dan mengulang perilaku ibadah secara alami. Selain itu, pola pendampingan guru mencerminkan penerapan konsep scaffolding Vygotsky, di mana bantuan diberikan secara bertahap sesuai kemampuan anak hingga mereka mampu melaksanakan ibadah dengan lebih Implementasi pembiasaan salat dhuha terbukti menstimulasi kecerdasan spiritual anak yang tampak melalui lima indikator utama, yaitu kemampuan melakukan ibadah dasar, pemahaman nilai baik dan buruk, sikap spiritual dalam kehidupan sehari-hari, empati dan tolongmenolong, serta kedisiplinan beribadah. Temuan ini sejalan dengan konsep kecerdasan spiritual Zohar dan Marshall . , yang menekankan bahwa SQ berkembang melalui pengalaman bermakna, keteladanan, dan internalisasi nilai dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan Faktor Pendukung Pelaksanaan Pembiasaan Salat Dhuha Faktor pendukung meliputi konsistensi pelaksanaan kegiatan setiap hari, keberadaan SOP sebagai pedoman operasional, keteladanan dan pendampingan guru berbasis scaffolding, serta ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai. Selain itu, dukungan orang tua, baik dalam memastikan kehadiran anak tepat waktu maupun dalam memperkuat pembiasaan ibadah di rumah, turut mempercepat internalisasi nilai-nilai spiritual pada anak. Sinergi antara sekolah dan keluarga ini sejalan dengan teori pembiasaan Hurlock . dan konsep kecerdasan spiritual Zohar dan Marshall . Faktor Penghambat Pelaksanaan Pembiasaan Salat Dhuha Faktor penghambat meliputi keterbatasan rentang perhatian dan ketidakstabilan emosi anak usia dini, gangguan teknis seperti kondisi sarana yang kurang optimal, serta variasi tingkat pembiasaan ibadah di lingkungan keluarga. Ketidakkonsistenan antara pembiasaan di sekolah dan di rumah berpotensi memperlambat proses internalisasi kebiasaan religius pada anak. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa implementasi program pembiasaan salat dhuha di KB IT Mumtaz Foundation Balikpapan telah dilaksanakan secara sistematis, terstruktur, dan konsisten sebagai bagian dari kegiatan harian sekolah. Program ini dijalankan berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) dengan tahapan persiapan, pelaksanaan, dan penutup, serta didukung oleh keteladanan guru, pendampingan berbasis scaffolding, dan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Konsistensi pelaksanaan membentuk rutinitas ibadah . abit formatio. pada anak. Program pembiasaan salat dhuha terbukti efektif dalam menstimulasi kecerdasan spiritual anak usia 5Ae6 tahun, yang terlihat melalui perkembangan lima indikator, yaitu kemampuan melakukan ibadah dasar, pemahaman nilai baik dan buruk, penerapan sikap spiritual dalam kehidupan sehari-hari, empati dan perilaku tolong-menolong, serta kedisiplinan beribadah. Perkembangan tersebut tercermin dari peningkatan kategori capaian perkembangan anak selama masa observasi. Keberhasilan program didukung oleh faktor internal dan eksternal, meliputi konsistensi pelaksanaan, keberadaan SOP, peran guru sebagai teladan dan pendamping, penerapan strategi pembelajaran yang tepat, ketersediaan sarana prasarana, serta dukungan orang tua dalam memperkuat pembiasaan di Adapun faktor penghambat meliputi karakteristik perkembangan anak seperti kondisi emosi yang belum stabil, kendala teknis sarana prasarana, serta perbedaan tingkat konsistensi pembiasaan di lingkungan keluarga. Secara teoretis, temuan penelitian ini menguatkan teori Copyright A 2025. Zain et al, e-ISSN 3089-6150 Jurnal Pelangi. Vol. 3 No. Des 2025, pp. pembiasaan Hurlock, teori belajar sosial Bandura, konsep scaffolding Vygotsky, serta konsep kecerdasan spiritual Zohar dan Marshall, yang menunjukkan bahwa pembiasaan ibadah yang dilakukan secara konsisten dan didukung keteladanan mampu menstimulasi perkembangan kecerdasan spiritual anak usia dini. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih banyak kepada KB IT Mumtaz Foundation atas kesempatan yang diberikan kepada Peneliti untuk melakukan penelitian di Lembaga tersebut. Terima kasih banyak kepada Pembimbing dan Penguji yang telah berkontribusi terhadap penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA