Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektur) Vol. 1 No. 1 – Maret 2022 DOI: 10.37477/lkr.v1i1.261 ISSN: ISSN (e): 2828-9234 EFISIENSI PROSES PRODUKSI MELALUI DESAIN TATA LETAK MESIN MENGGUNAKAN METODE FROM TO CHART 1* 2 Ignatius Adhitjahjo L. Marsudi , Meiadi Edi Wibowo , Yakobus Desiano 3 1,2,3 Akademi Teknik PIKA Semarang, Indonesia Korespondensi Author: adhi.spf@gmail.com 1* Abstract: One factor that determines factory productivity is the layout of the machine. Excessive fatigue, irregular processing, longer processing time can be caused by improper machine layout. The redesign strategy to the layout is an effective strategy to improve plant performance efficiency. This study aims to improve efficiency in furniture factories, namely CV. Mebel Internasional Semarang. Production of furniture components, in the form of panels, at CV. Mebel Internasional Semarang is carried out by the Division or Division of Peneling. In this division, there are one unit of CNC machine, two units of table saw, one hot press, one wide belt sander and one spindle moulder. Laying of production machinery in this division is based on experience, at the time the actual production process has not yet occurred. Laying machines in this way, which does not allow the existence of data related to the character and the number of component crossings. The absence of data related to the number and crossing of components, causes not yet possible to do calculations to obtain a layout that provides optimal production functions. This research is a re-design study of the layout of machines in order to find a more efficient layout. Increased efficiency is done by comparing the weight of the displacement of furniture components that are processed from one machine to the next. The method used is Fro m To Chart to determine the Weight of Displacement. The layout design experiment was carried out through 3 stages of engine layout design. The initial layout displacement weight was 488.3. Alternative-1 layout design produces displacement weight 331.24. The alternative layout design-2 produces the smallest displacement weight, which is 239.96.Alternative -3 layout design produces displacement weight 247.68 Keywords: from to chart method, weight of displacement, layout. Abstrak: Salah satu faktor yang menentukan produktivitas pabrik adalah tata letak mesin. Kelelahan yang berlebihan, proses yang tidak teratur, waktu proses yang lebih lama dapat disebabkan oleh tata letak mesin yang kurang tepat. Strategi perancangan ulang terhadap tata letak merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan efisiensi kinerja pabrik. Penelit ian ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi di pabrik furnitur, yaitu CV. Mebel Internasional Semarang. Produksi komponen-komponen furniture, berupa panel, di CV. Mebel Internasional Semarang dilaksanakan oleh bagian atau Divisi Peneling. Pada divisi in i terdapat satu unit mesin C NC, dua unit mesin table saw, satu unit mesin hot press, satu unit mesin wide belt sander dan satu unit mesin spindle moulder. Peletakan mesin-mesin produksi di div isi ini disusun atas dasar pengalaman, pada waktu proses produksi yang sesungguhnya belum terjadi. Peletakan mesin-mesin dengan cara ini, dimana belum memungkinkan adanya data terkait dengan karakter dan jumlah perlintasan komponen. Tidak adanya data terkait jumlah dan perlintasan komponen, menyebabkan belum memungkinkan untuk dilakukan penghitungan untuk memperoleh tata letak yang memberikan fungsi produksi yang optimal. Penelitian ini merupakan penelitian perancangan ulang tata letak mesin-mesin dalam rangka menemukan tata letak yang lebih efisien. Penin gkatan efisiensi dilakukan melalui perbandingan bobot perpindahan komponen furnitur yang diproses dari satu mesin ke mesin pada proses berikutnya. Metode yang digunakan adalah From To Chart untuk mengetahui Bobot Perpindahan. Percobaan perancangan tata letak dilakukan melalui 3 tahap perancangan tata letak mesin. Bobot perpindahan tata letak awal sebesar 488,3. Rancangan tata letak alternatif -1 menghasilkan bobot perpindahan 331,24. Rancangan tata letak alternati-2 menghasilkan bobot perpindahan paling kecil, yaitu 239,96. Rancangan tata letak alternatif -3 menghasilkan bobot perpindahan 247,68. Kata kunci: metode from to chart, bobot perpindahan, tata letak. 1. PENDAHULUAN Divisi Paneling di CV. Mebel Internasional Semarang adalah bagian yang memproduksi komponen-komponen furnitur berupa panel. Tata letak yang ada saat ini dibuat atas dasar pengalaman terkait dengan tahapan proses produksi furnitur. Setelah digunakan untuk proses produksi, tata letak yang disusun atas dasar pengalaman, seringkali tidak sesuai lagi, 63 Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektur) Vol. 1 No. 1 – Maret 2022 DOI: 10.37477/lkr.v1i1.261 ISSN: ISSN (e): 2828-9234 mengingat produk atau komponen-komponen produk yang diproduksi bisa berbeda. Tata letak sebaiknya disusun atas dasar proses produksi yang sesungguhnya terjadi di pabrik. Saat ini proses produksi telah dilaksanakan. Belum pernah dilakukan pengukuran atau penelitian terhadap layout mesin-mesin, apakah sudah memberikan hasil yang paling optimal. Untuk memastikan apakah layout yang ada sudah memberikan hasil yang optimal atau belum, maka dilakukan penelitian terhadap tata letak mesin di divisi ini. Tata letak mesin dalam pabrik merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi produktivitas pabrik. Tata letak yang tidak sesuai, dapat menyebabkan proses yang tidak teratur, kelelahan bagi operator, kerusakan barang maupun penggunaan ruang yang tidak efisien. Jarak momen perpindahan material, gerakan bolak-balik (back tracking), dan biaya material handling dapat diminimumkan melalui perencanaan tata letak pabrik yang baik (Sofyan, 2015). Salah satu teknik konvensional yang dapat digunakan untuk perencanaan tata letak pabrik dan pemindahan bahan dalam suatu proses produksi adalah Metode From To Chart (Pratiwi, 2012). Metode ini merupakan salah satu cara untuk mengetahui jarak antar mesin, yang dengan mempertimbangkan perpindahan barang dalam proses akan dapat digunakan untuk menghitung bobot perpindahan. Untuk menghitung bobot perpindahan diperlukan data jumlah barang yang didistribusikan dari mesin ke mesin dan jarak antar mesin. Penghitungan jarak antar mesin dilakukan menggunakan jarak Rectilinear. Jarak Rectilinear atau jarak Manhattan adalah jarak yang diukur tegak lurus dari pusat fasilitas ke fasilitas yang lain. Cara ini banyak digunakan sebab mudah dalam perhitungan, mudah dimengerti, dan cocok untuk beberapa permasalahan pada bidang tata letak fasilitas. Misalnya untuk menentukan jarak antar kota, jarak antar fasilitas yang mengggunakan sistem pemindahan material yang hanya bisa bergerak tegak lurus (Pratiwi, 2012). Gambar 1. Pengukuran jarak Rectilinear Penelitian ini dilakukan untuk menemukan tata letak yang lebih efisien, ditunjukkan dengan jumlah bobot perpindahan yang lebih kecil dibanding tata letak yang sekarang digunakan. 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode From To Chart. Jarak antar mesin diukur dengan menggunakan jarak Rectilinear. Dari data yang diperoleh, tata letak digambar dengan menggunakan skala. Data jumlah perlintasan barang (komponen) atau distribusi barang diukur dengan cara mengikuti perpindahan barang dari satu mesin ke mesin selanjutnya. Produk yang diikuti prosesnya adalah Pearl Coffee Table, Wenge Side Table, AccentTable. Ketiga produk ini merupakan produk yang diproduksi di bagian Paneling. Data perlintasan atau distribusi barang yang diproses, digunakan untuk menghitung bobot perpindahan. 64 Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektur) Vol. 1 No. 1 – Maret 2022 DOI: 10.37477/lkr.v1i1.261 ISSN: ISSN (e): 2828-9234 Selanjutnya dicari alternative tata letak, dengan cara coba-coba, sampai ditemukan tata letak yang memiliki tptal bobot perpindahan yang paling kecil. Dengan cara ini, fokus perhatian diarahkan pada perlintasan mesin yang memiliki bobot paling besar. Jarak antar mesin yang memiliki bobot perpindahan terbesar, sebaiknya didekatkan. Diagram alir langkah penelitian ini dapat dilihat pada gambar 2. Pengukuran ruang dan jarak antar mesin Penggambaran tata letak Pengukuran perlintasan barang Penghitungan bobot perpindahan Penggambaran tata letak alternative (3 alternatif) Pengukuran jarak antar mesin Penghitungan bobot perpindahan Pembandingan bobot perpindahan tata letak alternative dengan tata letak awal Pemilihan tata letak terbaik Gambar 2. Diagram alir penelitian 65 Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektur) Vol. 1 No. 1 – Maret 2022 DOI: 10.37477/lkr.v1i1.261 ISSN: ISSN (e): 2828-9234 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah perlintasan dari mesin ke mesin dihitung untuk produk Pearl Coffee Tabel sebanyak 10 unit, produk Wenge Side Table sebanyak 6 unit dan produk AccentTable sebanyak 4 unit, seperti ditampilkan pada tabel 1. Metode From To Chart digunakan untuk menghitung bobot perpindahan (Pratiwi, 2012) dan jarak antar mesin menggunakan jarak Rectilinear, yaitu jarak yang diukur tegak lurus dari mesin ke mesin yang lain seperti pada tabel 2. Perhitungan bobot perpindahan, yang merupakan perkalian antara jarak dan jumlah lintasan / distribusi, ditampilkan pada tabel 3. Total bobot perpindahan tata letak awal sebesar 488,31. Tabel 1. Urutan proses No A 1 2 3 B 1 2 3 C 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Komponen Kode Jumlah Jumlah Distribusi Urutan Proses (mesin ke mesin) Produk: Pearl Coffee Table 10 Top table A1 10 1 TS1 - HP - CNC - WBS - S Kaki 1 A2 10 1 TS1 - CNC - WBS - S Kaki 2 A3 10 1 TS1 - CNC - WBS - S Produk: Wenge Side Table 6 Top table B1 6 1 TS1 - HP - WBS - S Dinding samping B2 12 1 TS1 - HP - WBS Tundan B3 12 1 TS1 - HP - WBS Produk: AccentTable 4 Top table C1 4 1 TS1 - WBS - S Dinding samping C2 8 1 TS1 - WBS Dinding belakang C3 4 1 TS1 - WBS Muka laci C4 12 1 CNC - TS1 - WBS Kaki meja C5 16 1 TS1 - S Dinding samping laci C6 24 1 TS1 - WBS Dinding depan laci C7 12 1 TS1 - WBS Dinding belakang laci C8 12 1 TS1 - WBS Dasar laci C9 12 1 TS1 - WBS Keterangan: TS1 = Table Saw 1, HP = Hot Press, WBS = Wide Belt Sander, S = Spindle Gambar 3. Tata Letak Awal Divisi Paneling 66 Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektur) Vol. 1 No. 1 – Maret 2022 DOI: 10.37477/lkr.v1i1.261 ISSN: ISSN (e): 2828-9234 Tabel 2. Jarak antar mesin tata letak awal Mesin CNC Table Saw 1 (TS1) Table Saw 2 (TS2) Hot Press (HP) Wide Belt Sander (WBS) Spindle (S) Koordinat Mesin x CNC y 22, 6 17, 2 10,2 7 15,8 5 9,4 17,4 7 17,4 7 6,8 4 13,47 1,6 7 9,2 1 17, 5 7,6 8 Table Saw 1 Table Saw 2 Hot Press WB Sander Spindle 13,47 20,4 9,31 29,03 15,11 6,93 11,98 15,56 17,78 16,21 8,63 10,85 24,84 7,48 20,4 6,93 9,31 11,98 16,21 29,03 15,56 8,63 24,84 15,11 17,78 10,85 7,48 17,36 17,36 Tabel 3. Bobot perpindahan tata letak awal From - To Jarak Distribusi CNC-TS1 CNCWBS 13,47 TS1-CNC 13,47 TS1-HP 11,98 TS1-WBS 15,56 TS1-S 17,78 HP-CNC 9,31 HP-WBS 24,84 WBS - S 17,36 29,03 Kode Komponen A1 A2 A3 B1 B2 B3 C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 1 1 Bobot Perpindahan 1 13,47 1 1 3 87,09 1 1 2 26,94 4 47,92 8 124,48 1 17,78 1 9,31 3 74,52 5 86,8 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Total Distribusi 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Total Bobot Perpindahan Untuk mengurangi bobot perpindahan, dilakukan perubahan tata letak. Perubahan tata letak dilakukan sebanyak 3 kali, sehingga ditemukan tata letak alternatif-1, tata letak alternatif-2 dan tata letak alternatif-3. Hasil terbaik diperoleh pada tata letak alternatif-2 dengan bobot perpindahan sebesar 239,96. Tabel 4. Total Bobot Perpindahan Tata Letak Total Bobot Perpindahan Awal 488,31 Alternatif-1 331,24 Alternatif-2 239,96 Alternatif-3 247,68 67 488,31 Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektur) Vol. 1 No. 1 – Maret 2022 DOI: 10.37477/lkr.v1i1.261 ISSN: ISSN (e): 2828-9234 Gambar 4. Tata Letak Alternatif-2 Tabel 5. Jarak antar mesin tata letak alternatif-2 Koordinat x Mesin y Mesin Ta H ble ot Sa Pr w2 ess 14,51 13,99 Ta ble Sa w1 7,11 CNC CNC 22,6 9,4 Table Saw 1 16,07 9,98 7,11 Table Saw 2 16,07 17,38 14,51 7,4 Hot Press 12,97 5,04 13,99 8,04 15,44 Wide Belt Sander 10,87 11,49 13,82 6,71 11,09 8,55 Spindle 7,66 6,7 17,64 11,69 19,09 6,97 WB Sander Spindl e 13,82 17,64 8,04 6,71 11,69 15,44 11,09 19,09 8,55 6,97 7,4 8 8 Tabel 6. Perhitungan bobot perpindahan tata letak alternatif-2. From - To Jarak Distribusi CNC-TS1 CNCWBS 13,82 TS1-CNC 7,11 TS1-HP 8,04 TS1-WBS 6,71 TS1-S 11,69 HP-CNC 13,99 HP-WBS 8,55 WBS - S 8 Kode Komponen A1 A2 A3 B1 B2 B3 C1 C2 C3 7,11 C4 C5 C6 C7 C8 C9 1 1 Bobot Perpindahan 1 7,11 1 1 3 41,46 1 1 2 14,22 4 32,16 8 53,68 1 11,69 1 13,99 3 25,65 5 40 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Total Distribusi 1 1 1 1 1 1 Total Bobot Perpindahan 68 1 1 1 239,96 Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektur) Vol. 1 No. 1 – Maret 2022 DOI: 10.37477/lkr.v1i1.261 ISSN: ISSN (e): 2828-9234 4. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa tata letak alternatif-2 memiliki tingkat efisiensi yang lebih baik, yang ditunjukkan dengan bobot perpindahan yang lebih kecil daripada tata letak awal Divisi Paneling. Bobot perpindahan tata letak alternatif-2 adalah 239,96, lebih kecil dari pada bobot perpindahan tata letak awal Divisi Paneling, sebesar 488,31. Guna memperoleh efiensi kerja, perlu diperhatikan tata letak fasilitas di dalam suatu bidang ruang, terutama untuk mengurangi banyaknya beban kerja yang disebabkan oleh perpindahan benda kerja. 5. Ucapan Terima Kasih (Acknowledgement) Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Christian Prabowo, sebagai Direktur CV. Mebel Internasional Semarang, yang telah memberi kesempatan dilakukan penelitian di perusahaannya. Terima kasih yang sebesar-besarnya juga disampaikan kepada seluruh karyawan, terutama pada Divisi Paneling, sehingga pengambilan data dapat dilakukan dengan baik. 6. DAFTAR PUSTAKA Anwar & Bakhtiar. (2015). Usulan Tata Letak Pabrik Dengan Menggunakan Systematic Layout Planning di CV. Arasco Bireuen. Malikussaleh Industrial Engineering, 4 (2), 4-10. Iskandar, N. & Fahin, I. (-). Perancangan Tata Letak Fasilitas Ulang (Relayout) Untuk Produksi Truk Di Gedung Commercial Vehicle (CV) Mercedes Benz Indonesia. Pasti, XI (1), 66-75. Pratiwi, I. & Muslimah, E. (2012). Perancangan Tata Letak Fasilitas di Industri Tahu Menggunakan Blocplan. Jurnal Ilmiah Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Surakarta, 11 (2), 102-112. Purnomo, H. (2004). Pengantar Teknik Industri. Graha Ilmu,Yogyakarta. Sofyan, D & Syarifuddin. (2015). Perancangan Ulang Tata Letak Fasilitas Dengan Menggunakan Metode Konvensional Berbasis 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu Dan Shitsuke). Teknovasi, 2, 27 – 41. Render, B. & Heizer, J. (2001). Prinsip-Prinsip Manajemen Operasi. Salemba Empat, Jakarta. Wignjosoebroto, S. (2009). Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Guna Widya, Surabaya. 69