Kajian Linguistik dan Sastra Vol 5. No 2. Mei 2026 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Kata yang Bertindak: Eksplorasi Verba Aksi Bicara dalam Bahasa Bali When Words Act: Exploring Speech Act Verbs in Balinese Mas Trisnamayuni Universitas Warmadewa gungmast@gmail. Informasi Artikel Riwayat Submisi: Maret 2026 Direvisi: 18 April Diterima: April 2026 Disetujui: Mei 2026 Kata Kunci verba aksi. bahasa Bali. Keywords action verbs. Balinese speech verbs ABSTRACT This study examines speech action verbs in the Balinese language, which exhibit various forms and semantic meanings. The research is motivated by the uniqueness of Balinese, influenced by social stratification and dialectal variation affecting lexical usage. The objectives are to identify the groups and types of verbs meaning Auto speakAy and to describe their semantic structures. A qualitative method was applied using Balinese folktales as data sources, analyzed descriptively through verb classification theory and the Natural Semantic Metalanguage approach. The findings reveal five speech action verbsAimapangarah, mabesen, ngandika, matur, and ngerengkengAiwhich are categorized into two groups based on the presence or absence of a speech target. Semantically, these verbs generally follow a pattern where X performs an action toward Y, with differences in context, purpose, and social relations of the speakers. Abstrak Penelitian ini mengkaji verba aksi AobicaraAo dalam bahasa Bali yang memiliki variasi bentuk dan makna semantis. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada keunikan bahasa Bali yang dipengaruhi oleh sistem sosial serta variasi dialek yang memengaruhi penggunaan leksikon. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelompok dan tipe verba bermakna AobicaraAo serta mendeskripsikan struktur semantisnya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan sumber data berupa cerita rakyat Bali, yang dianalisis secara deskriptif menggunakan teori klasifikasi verba dan pendekatan Metabahasa Semantik Alami. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima verba aksi AobicaraAo, yaitu mapangarah, mabesen, ngandika, matur, dan ngerengkeng, yang terbagi menjadi dua kelompok berdasarkan keberadaan sasaran bicara. Secara semantis, verba-verba tersebut memiliki pola umum tindakan dari X kepada Y dengan perbedaan pada konteks, tujuan, dan relasi sosial penutur. Copyright A 2026 A. Mas Trisnamayuni Pendahuluan Bahasa Bali merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia yang masih digunakan secara aktif oleh masyarakat penuturnya, baik dalam ranah komunikasi sehari-hari maupun dalam konteks adat dan budaya. Secara demografis, sebagian besar masyarakat Bali masih menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa ibu, sehingga keberadaannya memiliki peran penting dalam merepresentasikan identitas kultural masyarakat. Dalam kajian sosiolinguistik, bahasa daerah dipandang sebagai simbol identitas budaya sekaligus sarana Mas Trisnamayuni: Kata yang Bertindak: Eksplorasi Verba Aksi Bicara dalam Bahasa Bali Kajian Linguistik dan Sastra Vol 5. No 2. Mei 2026 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 pewarisan nilai-nilai sosial (Koentjaraningrat, 1. Upaya pelestarian bahasa Bali juga diperkuat melalui kebijakan pemerintah daerah, seperti Instruksi Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang perlindungan dan penggunaan bahasa, aksara, dan sastra Bali. Namun demikian, di tengah perkembangan globalisasi, terjadi kecenderungan penurunan penggunaan leksikon tertentu, khususnya pada generasi muda, yang berdampak pada terbatasnya pemahaman terhadap variasi makna dalam bahasa Bali. Fenomena ini sejalan dengan temuan dalam studi bahasa daerah yang menunjukkan adanya pergeseran leksikal akibat perubahan sosial dan dominasi bahasa global (Allan. Secara linguistik, bahasa Bali memiliki kompleksitas yang dapat dianalisis melalui berbagai aspek, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Salah satu aspek yang menarik untuk dikaji adalah verba, khususnya verba aksi yang berkaitan dengan tindakan AobicaraAo. Dalam kajian semantik, verba yang berada dalam satu medan makna yang sama tidak selalu memiliki makna yang identik, melainkan dapat menunjukkan perbedaan fitur semantik yang halus (Goddard, 1. Selain itu, dalam teori semantik leksikal dijelaskan bahwa makna kata terbentuk melalui relasi antarunsur dalam sistem leksikon, sehingga perbedaan makna dapat dianalisis melalui komponen semantisnya (Jeek. Dalam konteks bahasa Bali, terdapat berbagai variasi verba yang bermakna AobicaraAo, seperti mapangarah, mabesen, ngandika, matur, dan ngerengkeng, yang penggunaannya dipengaruhi oleh faktor jumlah lawan bicara, relasi sosial, serta tujuan komunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa verba AobicaraAo dalam bahasa Bali memiliki kompleksitas makna yang tidak hanya bersifat leksikal, tetapi juga pragmatis. Temuan ini sejalan dengan penelitian Suryasa . yang menunjukkan bahwa variasi makna verba dalam bahasa Bali sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan tingkat tutur. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa setiap bahasa memiliki potensi data yang luas untuk dianalisis dalam kaitannya dengan struktur dan relasi makna antarunsur leksikal (Allan, 2. Selain itu, klasifikasi verba yang dikemukakan oleh Givyn . membedakan verba menjadi kategori keadaan, proses, dan tindakan berdasarkan dinamika temporalnya. Dalam konteks kajian bahasa Bali. Sudipa . menemukan bahwa verba aksi memiliki pemetaan makna yang berbeda meskipun berada dalam domain semantik yang sama, sehingga diperlukan analisis yang lebih mendalam untuk mengungkap struktur Sementara itu. Tama . dalam penelitiannya menunjukkan bahwa analisis komponen semantik dapat mengidentifikasi perbedaan makna secara rinci dan berkontribusi pada upaya revitalisasi bahasa daerah. Penelitian mengenai verba dalam bahasa Bali telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya, khususnya dalam kajian semantik. Lestari . mengkaji verba ujaran dalam bahasa Bali dengan mengombinasikan pendekatan semantik dan tindak tutur, yang menunjukkan bahwa verba AobicaraAo memiliki fungsi ilokusi yang beragam seperti assertive, directive, commissive, expressive, dan declarative. Selain itu. Sudipa et al. menganalisis struktur semantik verba ujaran dalam bahasa Bali menggunakan pendekatan Metabahasa Semantik Alami (MSA) dan menemukan bahwa setiap verba Mas Trisnamayuni: Kata yang Bertindak: Eksplorasi Verba Aksi Bicara dalam Bahasa Bali Kajian Linguistik dan Sastra Vol 5. No 2. Mei 2026 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 memiliki pola eksplikasi makna yang berbeda meskipun berada dalam domain yang sama. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa kajian verba dalam bahasa Bali telah dilakukan dalam berbagai ranah, seperti verba dalam bidang pertanian (Aryani & Widiantana, 2. dan perkebunan (Adnyana, 2. , yang menegaskan bahwa pendekatan MSA efektif untuk mengungkap struktur makna verba secara rinci. Bahkan, kajian terhadap satu verba tertentu, seperti verba AomemukulAo, menunjukkan bahwa satu konsep tindakan dapat direalisasikan melalui berbagai variasi leksikal dengan nuansa makna yang berbeda (Saputra et al. , 2. Selain itu. Tama . mengkaji verba indra penglihatan dalam bahasa Bali dan menunjukkan bahwa setiap verba memiliki komponen makna spesifik yang berkaitan dengan persepsi, yang turut memperkaya pemahaman tentang sistem leksikal bahasa Bali. Secara teoretis, penelitian ini berlandaskan pada pendekatan Metabahasa Semantik Alami (MSA) yang dikembangkan oleh Wierzbicka . 6, 2. dan Goddard . , serta Goddard dan Wierzbicka . Pendekatan ini berasumsi bahwa makna bahasa dapat dijelaskan melalui sejumlah unsur makna dasar . emantic prime. yang bersifat universal dan tidak dapat didefinisikan lagi. Melalui kombinasi unsur-unsur tersebut, makna kata atau verba dapat dieksplikasi secara sistematis dan eksplisit tanpa menggunakan istilah teknis yang kompleks. Sebagai contoh, verba AoberkataAo atau AobicaraAo dalam kerangka MSA dapat dieksplikasi secara sederhana sebagai: AuX mengatakan sesuatu kepada Y. X mengatakan ini karena X ingin Y mengetahui X berpikir sesuatu tentang ini. Ay Eksplikasi tersebut menunjukkan bahwa makna verba ujaran tidak hanya mencakup tindakan mengucapkan sesuatu, tetapi juga melibatkan niat, pikiran, dan hubungan antara penutur (X) dan mitra tutur (Y). Variasi verba AobicaraAo dalam bahasa Bali kemudian dapat dianalisis lebih lanjut dengan menambahkan komponen makna tertentu, seperti intensitas, sikap emosional, tujuan komunikasi, atau konteks sosial, sehingga menghasilkan perbedaan makna yang lebih spesifik. Dengan demikian, pendekatan MSA sangat relevan untuk mengkaji verba aksi AobicaraAo dalam bahasa Bali yang memiliki variasi bentuk dan nuansa makna yang kompleks. Namun demikian, kajian yang secara khusus membahas variasi dan struktur semantis verba aksi AobicaraAo dalam bahasa Bali dengan fokus pada klasifikasi tipe dan eksplikasi makna secara sistematis masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut dengan mengkaji secara lebih mendalam verba aksi AobicaraAo dalam bahasa Bali. Penelitian ini difokuskan pada permasalahan utama, yaitu bagaimana variasi dan struktur semantis verba aksi AobicaraAo dalam bahasa Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelompok dan tipe verba bermakna AobicaraAo serta mendeskripsikan struktur semantis masing-masing verba tersebut. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian semantik, khususnya dalam analisis verba aksi dalam bahasa daerah. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam memahami variasi Mas Trisnamayuni: Kata yang Bertindak: Eksplorasi Verba Aksi Bicara dalam Bahasa Bali Kajian Linguistik dan Sastra Vol 5. No 2. Mei 2026 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 makna verba bahasa Bali serta mendukung upaya pelestarian bahasa daerah di tengah perubahan sosial yang terjadi. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan sifat deskriptif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam fenomena linguistik terkait verba aksi AobicaraAo dalam bahasa Bali. Pendekatan ini dipilih karena mampu menggambarkan data secara kontekstual serta mengungkap makna yang terkandung dalam setiap leksikon secara komprehensif. Data dalam penelitian ini diambil dari Buku Cerita Rakyat Bali Madya 1 dan 2 yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Bali tahun 2015. Terdapat 4 judul cerita rakyat yang digunakan sebagai sumber data yaitu. Pan Balang Tamak. Manuk Dewata. Kripa lan Kripi dan Asal Usul Selat Bali. Cerita Rakyat Bali digunakan sebagai sumber data dalam penelitian ini karena bahasa Bali memiliki beragam dialek dan variasi terutama pada kata verba aksi walaupun kata tersebut mengacu pada makna semantik yang sama. Banyak faktor yang mempengaruhi adanya perbedaan atau variasi tersebut. Banyak generasi muda yang sudah asing dengan leksikon-leksikon dalam bahasa Bali sehingga terhambatnya komunikasi antar generasi, sehingga leksikon dalam bahasa Bali melalui cerita rakyat bali patut dibahas dan diulas kembali dengan tujuan melestarikan leksikon bahasa Bali terutama yang mengacu pada kata verba Pengumpulan data adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan dan mengukur informasi dari berbagai sumber. Metode observasi digunakan dalam mengumpulkan data pada penelitian ini. Observasi dilakukan secara langsung terhadap objek, kemudian mencatat hal-hal penting yang diperoleh pada saat observasi. Adapun beberapa langkah dalam mengumpulkan data, seperti: mencari buku cerita rakyat khusus daerah Bali, membaca buku cerita rakyat tersebut kemudian mengklasifikasikan kata yang ada pada cerita rakyat tersebut yang termasuk pada verba aksi AobicaraAo. Kegiatan analisis data dalam penelitian ini diawali dengan identifikasi data, menentukan bentuk verba AobicaraAo dalam bahasa Bali dan menentukan bentuk eksplikasi dari verba AobicaraAo yang ditemukan dalam data. Dalam penelitian ini, data dianalisis secara deskriptif. Data yang telah diklasifikasikan dianalisis satu per satu dengan menyajikan beberapa contoh dari masing-masing variasi verba aksi AobicaraAo. Setiap contoh dijelaskan secara rinci sesuai dengan teori yang diterapkan dalam penelitian ini. Sudaryanto . menyatakan bahwa terdapat dua macam cara dalam menyajikan hasil analisis data yaitu teknik formal dan teknik informal. Teknik formal adalah penyajian hasil analisis data dengan menggunakan kaidah, aturan atau suatu pola dalam bahasa seperti rumus, bagan/diagram, tabel dan Teknik penyajian informal adalah penyajian hasil analisis data dengan menggunakan kata-kata biasa (Sudaryanto, 1993:145. Kesuma, 2007:. Dalam penelitian ini, hasil analisis disajikan secara informal yaitu dengan menjelaskan setiap data satu per satu secara deskriptif. Mas Trisnamayuni: Kata yang Bertindak: Eksplorasi Verba Aksi Bicara dalam Bahasa Bali Kajian Linguistik dan Sastra Vol 5. No 2. Mei 2026 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Hasil dan Pembahasan Verba AobicaraAo yang diperoleh dalam bahasa Bali berjumlah 5 variasi dengan mewakili satu bentuk satu makna. Secara umum variasi verba ini bermakna bicara, hanya saja secara spesifik mengandung makna yang berbeda-beda, baik dari hubungan subjek-objek, properti, cara, dan bentuk Kata-kata yang ditemukan, seperti: Mapangarah, mabesen, ngandika, matur, ngrengkeng. Kelompok Verba dan Tipe Verba Bermakna AoBicaraAo dalam Bahasa Bali Berdasarkan sumber data, ada 5 verba aksi Bahasa Bali yang bermakna AobicaraAo yang terdapat dalam contoh kalimat berikut ini. Kelian banjare AomapangarahAo apang kramane ngalih kayu satondene ngayah ka pura . adya 1:. Kelian banjar AoberbicaraAo agar warganya mencari kayu sebelum gotong royong ke pura. Kelian banjare AomabesenAo ring wargane . adya 1:. Kelian banjar AoberbicaraAo kepada warganya. Ring pasemedian. Ida Hyang Guru AongandikaAo. Auih cening apa ane tunas cening?Ay . adya 1: . Di tempat bersemedi. Ida Hyang Guru AoberbicaraAo. Auih nak apa yang kamu minta nak?Ay Ipun, warga petanine. AomaturAo ring Bhagawan Saradwan mangda ida kayun madarma wecana . adya 2:. Lalu, warga petani. AoberbicaraAo kepada Bhagawan Saradwan agar beliau mau Ida raris AongerengkengAo. AuSidi Mantra biasane teka ngidih tulung nganggo mantra lan bajra. Ada apa?Ay . adya 2: . Beliau langsung AoberbicaraAo. AuSidi Mantra biasanya datang minta tolong menggunakan mantra dan bajra. Ada apa?Ay Sesuai dengan sejumlah contoh kalimat di atas, ternyata verba aksi Bahasa Bali yang termuat dalam Buku Madya 1 dan 2 yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Bali tahun 2015, berjumlah 5 buah. Deskripsi telaah MSA pada verba AobicaraAo dikelompokkan menjadi 2, yaitu . adanya sasaran bicara, baik tunggal maupun jamak . apangarah, mabesen, ngandika, matu. tanpa sasaran bicara . Struktur Semantis Verba AoBicaraAo dalam Bahasa Bali . Mapangarah Leksikon AomapangarahAo memiliki fitur semantik berupa tindakan berbicara terhadap sasaran . yaitu kepada lawan bicara/mitra wicara. Dalam hal ini, kata AomapangarahAo digunakan dalam konteks pembicara berbicara kepada lawan bicara yang berjumlah lebih dari 1 . biasanya sasaran . berupa sekelompok orang, komunitas, masyarakat, dan lain-lain. Tujuan dari tindakan/aksi tersebut adalah untuk memberikan informasi kepada lawan bicara Mas Trisnamayuni: Kata yang Bertindak: Eksplorasi Verba Aksi Bicara dalam Bahasa Bali Kajian Linguistik dan Sastra Vol 5. No 2. Mei 2026 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Dalam bahasa Bali, leksikon AomapangarahAo berarti memberikan sebuah informasi yang mengacu pada pengumuman, sehingga sasaran atau objeknya Deskripsi eksplikasinya dapat dijelaskan sebagai berikut. X melakukan sesuatu pada kelompok Y Karena ini, kelompok Y menerima sesuatu dari X Kelompok Y menerima informasi dari X X melakukan tindakan dengan nada suara sedang-tinggi X melakukan tindakan dengan bahasa tubuh . ontak mata dan gerakan tanga. X menginginkan agar kelompok Y dapat menerima informasi/pengumuman tersebut dengan tepat . Mabesen Leksikon AomabesenAo memiliki fitur semantik berupa tindakan berbicara terhadap sasaran . yaitu kepada lawan bicara/mitra wicara. Dalam hal ini, kata AomabesenAo digunakan dalam konteks pembicara berbicara kepada lawan bicara yang berjumlah 1 . atau lebih dari 1 . Namun dalam data, sasaran . dari verba aksi ini berupa sekelompok orang/komunitas/masyarakat. Tujuan dari tindakan/aksi tersebut adalah untuk memberikan informasi kepada lawan bicara baik tunggal/jamak. Dalam bahasa Bali, leksikon AomabesenAo berarti memberikan sebuah informasi yang mengacu pada sebuah pesan/masihat, sehingga sasaran atau objeknya bisa tunggal dan Deskripsi eksplikasinya dapat dijelaskan sebagai berikut. X melakukan sesuatu pada Y/ kelompok Y Karena ini. Y/ kelompok Y menerima sesuatu dari X Y/ kelompok Y menerima informasi dari X X melakukan tindakan dengan nada suara rendah-sedang X melakukan tindakan dengan bahasa tubuh . ontak mata dan gerakan tanga. X menginginkan agar Y/ kelompok Y dapat menerima informasi/pesan/nasihat tersebut dengan tepat . Ngandika Leksikon AongandikaAo memiliki fitur semantik berupa tindakan berbicara terhadap sasaran . yaitu kepada lawan bicara/mitra wicara. Dalam hal ini, kata AongandikaAo digunakan dalam konteks pembicara berbicara kepada lawan bicara yang berjumlah 1 . atau lebih dari 1 . Namun dalam data, sasaran . dari verba aksi ini berupa objek tunggal. Tujuan dari tindakan/aksi tersebut adalah untuk memberikan informasi kepada lawan bicara baik tunggal/jamak. Dalam bahasa Bali, leksikon AongandikaAo berarti memberikan sebuah informasi yang mengacu pada sebuah pesan/masihat namun dalam data, verba aksi AongandikaAo tidak untuk memberikan informasi, namun untuk memberikan kalimat tanya kepada lawan bicara. Bahasa Bali memiliki 3 tingkatan penggunaan yaitu bahasa bali alus singgih, madya dan sor tergantung konteks, pembicara dan lawan bicara. Kata AomabesenAo dan AongandikaAo sebenarnya memiliki makna semantis yang sama. Mas Trisnamayuni: Kata yang Bertindak: Eksplorasi Verba Aksi Bicara dalam Bahasa Bali Kajian Linguistik dan Sastra Vol 5. No 2. Mei 2026 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 namun kedua leksikon ini penggunaannya berbeda. Leksikon AomabesenAo termasuk pada alus madya, sementara leksikon AongandikaAo termasuk alus Pada data, leksikon AongandikaAo digunakan karena pembicara merupakan orang suci/orang yang terhormat. Deskripsi eksplikasinya dapat dijelaskan sebagai berikut. X melakukan sesuatu pada Y/ kelompok Y Karena ini. Y/ kelompok Y menerima sesuatu dari X Y/ kelompok Y menerima informasi dari X X melakukan tindakan dengan nada suara rendah-sedang X melakukan tindakan dengan bahasa tubuh . ontak mata dan gerakan tanga. X menginginkan agar Y/ kelompok Y dapat menerima informasi yang dimaksud dengan tepat . Matur Leksikon AomaturAo memiliki fitur semantik berupa tindakan berbicara terhadap sasaran . yaitu kepada lawan bicara/mitra wicara. Dalam hal ini, kata AomaturAo digunakan dalam konteks pembicara berbicara kepada lawan bicara yang berjumlah 1 . atau lebih dari 1 . Namun dalam data, sasaran . dari verba aksi ini berupa sekelompok orang/jamak. Tujuan dari tindakan/aksi tersebut adalah untuk memberikan informasi kepada lawan bicara baik tunggal/jamak. Dalam bahasa Bali, leksikon AomaturAo berarti memberikan sebuah informasi yang mengacu pada ssebuah permintaan. Bahasa Bali memiliki 3 tingkatan penggunaan yaitu bahasa bali alus singgih, madya dan sor tergantung konteks, pembicara dan lawan bicara. Kata AomaturAo dan AongandikaAo sebenarnya memiliki makna semantis yang sama, namun kedua leksikon ini penggunaannya berbeda. Letak perbedaannya yaitu pada pembicara dan lawan bicara. Pada data, leksikon AomaturAo digunakan karena pembicara merupakan orang biasa namun lawan bicara merupakan orang suci/orang yang terhormat. Deskripsi eksplikasinya dapat dijelaskan sebagai X/ kelompok X melakukan sesuatu pada Y Karena ini. Y menerima sesuatu dari X/ kelompok X Y menerima informasi dari X/ kelompok X X/ kelompok X melakukan tindakan dengan nada suara rendahsedang X/ kelompok X melakukan tindakan dengan bahasa tubuh . ontak mata dan gerakan tanga. X/ kelompok X menginginkan agar Y dapat menerima informasi/permintaan dengan tepat . Ngarengkeng Leksikon AongarengkengAo memiliki fitur semantik berupa tindakan berbicara, namun dalam hal ini tanpa sasaran . /lawan bicara. Tujuan dari tindakan/aksi tersebut adalah hanya untuk berbicara kepada diri sendiri. Mas Trisnamayuni: Kata yang Bertindak: Eksplorasi Verba Aksi Bicara dalam Bahasa Bali Kajian Linguistik dan Sastra Vol 5. No 2. Mei 2026 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 mengingatkan diri sendiri atau berkeluh kesah sendiri. Deskripsi eksplikasinya dapat dijelaskan sebagai berikut. X melakukan sesuatu pada X X melakukan tindakan dengan nada suara rendah X melakukan tindakan dengan bahasa tubuh . erakan mata, gerakan tanga. dan lebih berekspresi Simpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan di atas, dapat dipahami bahwa verba aksi AobicaraAo memiliki muatan dan bentuk yang berbeda-beda. Pendeskripsian struktur semantis verba yang bermakna AobicaraAo dalam bahasa Bali dapat diringkas menjadi dua simpulan. Kedua simpulan yang dimaksud sebagai berikut, yaitu . ada 5 buah verba aksi bermakna AobicaraAo dalam Bahasa Bali, dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu berdasarkan ada sasaran/lawan bicara . apangarah, mabesen, ngandika, matu. dan tanpa sasaran/lawan bicara . struktur semantis verba yang bermakna AobicaraAo dalam bahasa Bali dominan memiliki pola sintaksis MSA X melakukan sesuatu pada Y dan Y menerima sesuatu dari X. Hasil penelitian ini memiliki implikasi teoretis dan praktis dalam kajian linguistik, khususnya pada bidang semantik dan studi bahasa daerah. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat penggunaan pendekatan Metabahasa Semantik Alami (MSA) dalam menganalisis verba aksi, terutama dalam mengungkap perbedaan makna yang halus dalam satu medan semantik yang Temuan mengenai variasi dan struktur semantis verba AobicaraAo dalam bahasa Bali menunjukkan bahwa analisis berbasis MSA mampu memberikan deskripsi makna yang lebih sistematis dan komprehensif, sehingga dapat menjadi rujukan bagi penelitian linguistik selanjutnya, khususnya pada bahasa daerah di Indonesia. Secara praktis, penelitian ini memberikan kontribusi dalam upaya pelestarian bahasa Bali, terutama dalam memperkenalkan kembali variasi leksikon yang mulai jarang digunakan oleh generasi muda. Pemahaman terhadap perbedaan makna verba AobicaraAo dapat membantu penutur bahasa Bali dalam menggunakan bahasa secara lebih tepat sesuai konteks sosial dan Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran bahasa Bali, baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi, khususnya dalam materi semantik dan pragmatik. Daftar Pustaka