JURNAL RUPA VOL 9 NO 1 2024 DOI address: https://doi. org/10. 25124/rupa. Atraksi Wisata KeteAo Kesu sebagai Representasi Identitas Kelokalan Tana Toraja Sri Rustiyanti*1. Wanda Listiani2. Sriati Dwiatmini1. Anrilia E. Ningdyah3. Suryanti4 1Program Studi Antropologi Budaya. Fakultas Budaya dan Media. Institut Seni Budaya Indonesia Bandung. Bandung. Indonesia 2Program Studi Desain Komunikasi Visual. Fakultas Seni Rupa dan Desain. Institut Seni Budaya Indonesia Bandung. Bandung. Indonesia 3Program Studi Magister Psikologi Profesi. Fakultas Psikologi. Universitas 17 Agustus 1945. Surabaya. Indonesia 4Program Studi Humanitas. Fakultas Seni Pertunjukan. Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Padang. Indonesia Abstract. Tana Toraja is a captivating destination for tourists situated in South Sulawesi. The Tana TorajaAos traditional iconic that famous for their rich local heritage are Tongkonan and KeteAo Kesu. These architectural treasures serve as tangible expressions of Tana TorajaAos distinct cultural identity. Tongkonan and KeteAo Kesu represent non-verbal forms of folklore, categorized among the ancient legacies that include grave sites resembling boats affixed to and suspended along cave cliffs. Within these stone graves lie numerous remains of skulls and human bones, some dating back decades or even centuries, moreover, alongside these hanging stone graves. There exist grandiose tombs reserved for nobility, adorned with unique features and displaying identity photographs of the This research used a qualitative approach and ethnographic methods. The ethnographic method is one of the methods of cultural anthropology studies. This research delved into the essence of Tana TorajaAos tourist allure. Researchers directly experience the daily lives of local people, collecting data through observation and interviews. The research results mapped the elements of Tana Toraja tourist attractions in various types of folklore consisting of oral folklore, partially oral folklore, and non-oral folklore. Keywords: folklore. Kete' Kesu, local identity. Tana Toraja, tourist attraction Abstrak. Tana Toraja merupakan desa wisata yang berada di Sulawesi Selatan. Salah satu identitas kelokalan dari desa wisata ini adalah bentuk rumah adat yang dinamakan Tongkonan dan KeteAo Kesu. Kedua peninggalan ini merupakan representasi identitas kelokalan Tana Toraja. Tongkonan dan KeteAo Kesu merupakan bentuk folklor bukan lisan dalam kategori warisan purbakala yang berbentuk kuburan seperti perahu yang menempel dan menggantung di sepanjang tebing-tebing goa. Kuburan batu tersebut banyak menyimpan tulang tengkorak dan tulang manusia yang telah berusia puluhan tahun bahkan ratusan tahun. Selain kuburan batu yang menggantung, ada juga kuburan megah milik bangsawan dengan identitas foto-foto yang terpajang di depan kuburan yang berukuran besar dan Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Metode etnografi merupakan salah satu metode studi antropologi budaya. Peneliti secara langsung merasakan keseharian kehidupan masyarakat setempat, mengumpulkan data melalui observasi dan wawancara. Correspondence address: * Sri Rustiyanti Email : rustiyantisri@yahoo. Address : Jl. Buah Batu No. Cijagra. Kecamatan Lengkong. Kota Bandung. Jawa Barat 40265 Hasil penelitian ini memetakan elemen atraksi wisata Tana Toraja dalam berbagai jenis folklor yang terdiri atas folklor lisan, folklor sebagian lisan, dan folklor bukan lisan. Kata Kunci: atraksi wisata, folklor, identitas kelokalan. KeteAo Kesu. Tana Toraja PENDAHULUAN Tanah Toraja menjadi salah satu ikon wisata budaya yang menarik di wilayah Sulawesi Selatan. Tana Toraja juga dikenal sebagai tempat berkembangnya Seni Pencak Senden. Bahkan di Sulawesi Selatan terdapat sekelompok komunitas pemain pencak silat yang dikenal denga istilah PamancaAo yaitu pemain pencak silat. Penampilan yang dilakukan oleh para pemain pencak silat ini disebut mancaAo kanrejawa. Para pesilat mancaAo kanrejawa ini dapat dilakukan baik secara induvidu, berpasangan maupun rampak Pertunjukan mancaAo kanrejawa menjadi identitas pencak silat khas di Makassar Gowa Sulawesi Selatan. Adapun iringan musik pertunjukan pencak silat mancaAo kanrejawa disebut ganrang pamancaAo. Gerak langkah dan gerak serang tangkis para pamancaAo diiringi oleh sejenis musik alat pukul yang dinamakan Aotunrung pamancaAo. Pertunjukan yang ditampilkan oleh para pamancaAo ini sering juga ditampilkan untuk upacara adat perkawinan masyarakat Makassar dengan penyajian 3 jenis musik alat pukul yang digunakan yaitu tunrung pannyungke, tunrung pamancaAo dan tunrung pannongkoAo. Anggota seperguruan silat pamancaAo ada yang melangsukan perkawinan, maka wajib ditampilkan pencak silat ini sebagai wujud penghormatan terhadapa teman Tana Toraja yang juga dikenal dengan julukan AoNegeri di atas AwanAo. Perjalanan dari Makassar menuju Tana Toraja ditempuh selama 8 jam melalui jalan darat. Salah satu informan adalah pengelola Sanggar Tari Kinawa Art Studio pimpinan Novita Lepong. Sn. Sepanjang perjalanan sebelah kanan dan kiri banyak terlihat keunikan dan keindahan rumah adat tongkonan di Tana Toraja baik yang berukuran kecil maupun besar. Perjalanan sepanjang malam tiba di Tana Toraja menjelang pagi hari, sehingga nampak keindahan alam menyaksikan fenomena awan pada dini hari di Tana Toraja. Indonesia memang sangat kaya dengan keindahan alam dan keragaman budaya. Riset lapangan untuk mendapatkan data, sekaligus dapat merasakan Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) wisata alam, wisata budaya, dan wisata religi. Urgensi penelitian ini adalah untuk memetakan identitas kelokalan Tana Toraja merupakan warisan peninggalan budaya baik yang besifat tangible maupun intangible. Budaya tangible yaitu benda-benda artefak yang masuk dalam kategori Folklor Bukan Lisan (FBL), seperti rumah adat, senjata tradisional, baju adat, alat-alat musik, perkakas dapur dari tanah liat, dan sebagainya. sedangkan budaya intangible merupakan kearifan lokal dalam bentuk yang tidak immanent . idak nampa. , seperti nilai-nilai, filosofi, pandangan hidup, norma dan etika, ajaran, petuah, spirit, dan sebagainya yang dapat membentuk karakter untuk melakukan kebersamaan dalam bermusyawarah, gotong royong, toleransi, atensi, dan etos kerja. Contohnya silih asih asah asuh (Sund. , mikul dhuwur mendhem jero (Jaw. , alua patuik raso pareso (Minan. , dan sebagainya . Kearifan lokal Folklor Lisan (FL) yang terdapat dalam etika dan estetika pada setiap daerah, disampaikan secara lisan atau oralisasi melalui pewarisan tegak . aris vertika. , pewarisan mendatar . aris horizonta. , dan pewarisan diagonal . aris mirin. seperti peribahasa, teka-teki, pepatah, filosofi, manuskrip, dan sebagainya. Menurut Yasraf Amir Piliang, dalam bukunya yang berjudul Dunia yang Berlari, bahwa manusia dikejar oleh perubahan yang selalu terjadi dalam kehidupan manusia. Perubahan itu merupakan keniscayaan. Perubahan terhadap tradisi yang bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan zaman tanpa batas. Suku atau masyarakat yang kuat dan survive yang mampu bertahan dengan identitas yang dimilikinya . Dalam konsep perubahan atau difusi yang terjadi, namun tetap tidak kehilangan roh atau soul dari identitas yang menjadi kearifan lokal genius, seperti yang dikemukakan oleh Alo Liliweri yaitu identitas dalam masyarakat . Perbedaan tersebut juga terjadi di Tana Toraja sehingga masuk pengaruh-pengaruh yang menyebabkan perubahan yang tentu saja dapat menimbulkan dua hal yang dapat menimbulkan konsekuensi yaitu penetration pasifique dan penetration violante. Pengaruh masuk secara damai . enetration pasifiqu. tidak memunculkan pertikaian, perdebatan, paksaan bahkan konflik, justru pengaruh ini menambah nafas baru, akulturasi, inovasi, enkulturasi, modifikasi, dan sebagainya. Sebaliknya penetration violante memberikan pengaruh yang masuk dalam budaya secara penjajahan, penyerangan, pemaksaan yang dapat menimbulkan konflik karena perbedaan, pertikaian, perdebatan, dan paksaan . Sedangkan identitas sosial, dapat telihat sebagai anggota masyarakat yang menetap dan mendukung kebudayaan. Masyarakat sangat membutuhkan kebudayaan, sebaliknya kebudayaan tidak akan kokoh jika masyarakat sebagai penyangga kebudayaan merasa tidak membutuhkannya lagi, sebaliknya masyarakat sebagai penyangga kebudayaan yang membutuhkan ide-ide cemerlang dari anggota masyarakatnya. Hubungan keduanya ibarat uang logam yang saling membutuhkan. Identitas yang paling kecil wilayahnya, yaitu identitas pribadi yang meliki keunikan atau kekhasan yang menjadi pembeda dan pendanda dengan orang lain. Empat hal yang menjadi karakter sebagai kepribadian orang Tana Toraja yaitu Sugi. Barani. Manarang, dan Kinawa. Hal ini menjadi mayoritas yang mendominasi bahwa karakter yang dikatakan Sugi. Barani. Manarang, dan Kinawa, merupakan latar belakang budaya, status pewarisan, status keturunan, stratifikasi sosial, dan upacara ritual adat. Makna dari sugi yaitu mempunyai kekayaan tidak hanya kaya secara materi dan finansial, tetapi juga mempunyai potensi ide gagasan, kreativitas, ilmu pengetahuan, kebijakan, kekuasaan, keluarga, sebagainya. Sedangkan kepribadian barani, yaitu tidak takut kepada siapapun karena benar, rela berkorban untuk kepentingan orang lain, berani bertanggung jawab, berprinsip dan Selanjutnya sifat manarang yaitu kecerdasan yang dimiliki oleh orang Tana Toraja tidak hanya sekedar cerdas secara ilmu pengetahuan, atau secara akademik saja, melainkan keseimbangan ceras baik lingkungan alam sekitar, organisasi masyarakat maupun memiliki kebijaksanaan, dapat mengetahui masalah untuk mencari solusi dan eksekusi. Terakhir sifat kinawa sebagai orang Tana Toraja yang memiliki sifat yang lemah lembut, tidak pemarah, ramah terhadap siapapun, tidak pilih kasih dan status seseorang, rendah hati, tidak sombong, tidak pendendam, dan sebagainya. Dengang demikian, keempat kepribadian yang menjai kearifan lokal masyarakat Tana Toraja, hingga sampai saat ini masih dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Sifat tersebut diaplikasikan melaui berbagai kegiatan baik ritual maupun adat yang diwariskan secara turun temurun dalam kegiatan leneneman rohani dan mental anak-anak sejak usia dini yang dinamakan dengan istilah Uleleang Pare. Berdasarkan pendapat dari Alo Liliweri, bahwasannya identitas budaya yang terbentuk tidak lepas dari identitas pribadi dan identitas sosial yang dimiliki oleh seseorang. Hal ini sependapat dengan pernyataan yang disampaikan oleh Yakob Sumardjo, dalam orasi ilmiah Pengukuhan Guru Besarnya, bahwa manusia dibesarkan dengan kebudayaan yang dimilikinya, bahkan tidak dapat menolak kebudayaan di mana dilahirkan dan dibesarkan, meskipun setelah dewasa dapat menghindar dari mana budaya yang telah membesarkannya dan memasuki dunia budaya lain, manusia tidak dapat lepas dari budaya masa lalunya yang terus menjadi beban dengan budaya asalnya . Budaya yang terus melekat dan membebani manusia menjadi nada dasar identitas dirinya yang tak dapat dipungkiri, seperti yang disampaikan pernyataan oleh Claire Holt, bahwasanya dengan perilaku gaya menari yang ditampilkan akan memperlihat dari mana asal usulmu . Pemahaman seni budaya folklor sangatlah holistik karena mencakup semua bidang seni baik Seni Sastra . Seni Pertunjukan . maupun Seni Rupa . Berdasarkan pengelompokkan yang disampaikan oleh J. Brunvard, seorang ahli Folklor dari Amerika Serikat, bahwa bentuk Folklor memiliki tiga bentuk kelompok besar yaitu: . Folklor Lisan, yang bentuknya memang murni lisan. Folklor Sebagian Lisan. Folklor Bukan Lisan yang bentuknya bukan lisan, meskipun cara pembuatannya diajarkan secara lisan . Tanah Toraja memiliki berbagai bentuk folklor yang terdapat di KeteAo Kesu di antanya: tongkonan, erong, patane, kuburan gantung, simbuang, pengrajin ukiran/pahat, dan museum. METODE Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode etnografi. Menurut Sugiyono . mendefinisikan metode penelitian kualitatif sebagai pendekatan yang sering digunakan dalam ilmu humaniora dan sosial budaya, karena banyak mengemukakan data secara deskriptif menggambarkan peristiwa apa adanya baik dalam bentuk tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku masyarakat Tana Toraja yang diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar belakang masyarakat Tana Toraja untuk mengetahui identitas kelokalan baik secara individu, sosial maupun budayanya, ke dalam analisis dan hipotesis, sebagai unity complexity dan intencity secara menyeluruh. Dalam metodologi penelitian kualitatif menyebutkan bahwa perolehan sumber data dari pendekatan kualitatif dapat berupa struktur kalimat yang sistematis, aktivitas dari perilaku masyarakatnya, dan sebagainya seperti inventarisasi dokumentasi, baik dari data primer maupun data sekunder. Dalam proses pengumpulan data yang dilakukan di Tana Toraja menggunakan teknik yang bersifat aktif dan non-aktif. Teknik aktif antara lain meliputi: wawancara dan observasi. Sementara itu, teknik non-interaktif meliputi: analisis dan interpretasi dokumen, fenomena budaya yang terdapat di Tana Toraja khususnya di Kampung Adat KeteAo Kesu. Selain menemui informan, tim peneliti juga melakukan pemotretan dan nyantrik tarian sebagai bagian dari pengumpulan data idiom gerak seni Sanggar Tari Kinawa Art Studio memiliki berbagai kegiatan yaitu pelatihan tari, seni lukis dan aktivitas seni budaya lainnya. Materi kelas tari berupa dasar-dasar gerak menari dengan kordinasi badan secara keseluruhan dari tungkai kaki, torso, lengan, dan kepala, sehingga anak-anak dapat melakukan kordinasi berbagai ragam gerak dengan baik dan Sedangkan Kelas Melukis, anak-anak boleh duduk di mana saja mencari objek lukis yang disukai anak-anak. Berikut gambar tim peneliti, informan dan anggota sanggar: Gambar 1. Kegiatan Sanggar Tari Kinawa Art Studio. Tana Toraja. Sulawesi Selatan. Sumber: Penulis 2023-2024. Anak-anak yang belajar di sanggar ini datang dari berbagai pelosok daerah di Toraja. Mereka dengan semangat belajar tinggi, jarak tempuh yang cukup jauh, bahkan ada yang diantar oleh keluarga seperti ibu, bapak, kakek atau pun anggota keluar yang lain seperti Hal ini menunjukkan betapa antusiasnya orang tua ingin putra-putrinya mengenal seni tradisi. Berikut gambar tim peneliti bersama pengelola dan anggota sanggar: Gambar 2. Tim Peneliti bersama Anak-anak Sanggar dan Pengelola Sanggar Tari Kinawa Art Studio di Tana Toraja. Sumber: Penulis 2023-2024. Pembelajaran menggali potensi ini tidak ada paksaan, tetapi mengalir bakat anak-anak dalam berkesenian. Tekad kuat dari para pengelola sanggar tari ini memberikan inspirasi kepada anak-anak sejak dini. Instruktur Sanggar Kinawa Art ini terdiri atas para mahasiswa jurusan Tari dan koreografer muda yang ingin mewujudkan Sanggar Tari Kinawa menjadi salah satu pusat pembinaan seni tradisi bagi generasi penerus di Tana Toraja. Gambar 3. Tim Peneliti mengikuti aktivitas kegiatan Sanggar Kinawa Art Studio pimpinan Koreografer Muda. Novita Lepong. Sn di Tana Toraja. Sumber: Penulis 2023-2024. PEMBAHASAN Sulawesi Selatan memiliki salah satu Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) Religi dan Budaya di KeteAo Kesu Tana Toraja. Rumat adat KeteAoKesu sebagai wisata budaya, wisata religi, wisata alam, dan wisata belanja berada di wilayah Kabupaten Tana Toraja persisnya di Kampung Bonoran, di daerah kelurahan PantaAonakan lolo Kecamatan Kesu. Dalam stratifikasi masyarakat Tana Toraja, istilah stratifikasi atau pelapisan masyarakat berdasarkan status kedudukan garis keturunan disebut dengan istilah tanaAo . yang cukup menentukan perkembangan masyarakat dan kebudayaan Tana Toraja, termasuk dalam wilayah rumah adat KeteAokesu. Tana Toraja mempunyai empat jenis kasta sebagai stratifikasi masyarakatnya, yaitu TanaAo Bulaan. TanaAo Bassi. TanaAo Karurunge. TanaAo KuaAo-kuaAo. Tingkatan kasta tersebut menjadi pegangan adat dalam masyarakat Tana Toraja sebagai pedoman dalam pelaksanaan kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hubungan perekonomian, sosial budaya, dan ritual daur kehidupan seperti kelahiran, kematian, pemakaman, pengangkatan penghulu/ketua adat, dan sebagainya . Pada umumnya sebagian besar penduduknya mata pencahariannya adalah petani dan pedagang. Keberadaan objek wisata KeteAokesu menarik perhatian masyarakat di Kawasan KeteAokesu yang semula petani dan pedagang, berangsur-angsur banyak yang berpindah menjadi pedagang-pedangang souvenir dan menjadi pengrajin berbagai jenis ukiran kayu. Perpindahan mata pencaharian ini lebih menjanjikan secara ekonomi karena keberadaan keteAokesu yang dapat mendongkrak perekonomian di Tana Toraja Identitas Folklor Lisan di Tana Toraja Folklor Lisan (FL) merupakan bentuk Seni Sastra, yang disampaikan baik secara verbal maupun tulisan membahas seputar peristiwa dalam kehidupan sehari-hari merupakan mantifact yang menggambarkan penyampaian secara oralisasi dalam fenomena kesenian, peristiwa upacara adat, pamenan anak nagari, teater tradisi, tari tradisi, dan pesta rakyat . FL bentuk penyampaian adat istiadat, budaya, dan sebagainya dalam pewarisannya dilakukan secara lisan atau oralisasi. FL pada mulanya lahir di lingkungan budaya yang sama sekali memang tidak mengetahui media lain kecuali secara lisan, bahkan belum mengenal aksara yang mengajarkan nilai-nilai etika, nilai-nilai religi, adat istiadat, mitos, dongeng, petuah, teka-teki, kidung, serta doa-mantra yang dilakuka secara terus menerus mentradisi di wilayah tersebut. Pewarisan nilai-nilai baik itu dalam bentuk sejarah, kearifan lokal, maupun kebudayaan seperti bahasa idiolek dan dialek cukup beragam yang dimiliki oleh masyarakat Tana Toraja hingga kini masih dipertahankan oleh generasi penerusnya. Salah satu bentuk folklor lisan yaitu fungsi dari maAobadong dalam upacara Rambu Solo Tana Toraja, di antaranya mempunyai makna sebagai ritual spiritual untuk membedakan stratifikasi masyarakat dalam kasta Tana Toraja, dan yang tak kalah penting sebagai media untuk menjalin silaturahmi antar kekerabatan dalam kekeluargaan yang cukup berdampak sebagai peningkatan ekonomi bagi masyarakatnya. Dalam lantunan irama maAobadong dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu badong umbating . adong ratapa. , badong pasakke . adong selamat atau berka. , badong pakilala . adong nasiha. , dan badong maAopalao . adong Konteks dalam budaya ini merupakan perilaku dalam kehidupan sehari-hari yang sering terjadi di masyarakat dalam berkehidupan bersama dalam menjaga nilai-nilai, pandangan hidup, adat istiadatnya. Keterkaitan antara masyarakat dan budaya secara antropologis dan sosiologis merupakan satu-kesatuan yang tak terpisahkan satu sama lain. Masyarakat membutuhkan budaya, sebaliknya budaya membutuhkan ide-ide cemerlang dari masyarakat pendukungnya. Keunikan budaya dari Tana Toraja ini mempunyai kekerabatan keluarga yang cukup menarik dari peristiwa Rambu Solo ketika pemindahan seseorang yang telah meninggal dunia dibawa oleh masyarakat dari rumah duku menuju Rumah adat ini menjadi ajang perkenalan antar keluarga yang hidup di rantau, tidak pernah berjumpa karena tinggal di perantauan sehingga tidak mengenal lagi, tetapi dengan meninggalnya salah seorang anggota keluarganya mereka bejumpa dan saling memperkenalkan diri, dan saling bercerita tentang silsilah keluarga yang masih dalam garis keturunan keluarga. Identitas Folklor Sebagian Lisan di Tana Toraja Folklor Sebagian Lisan (FSL) membahas seputar peristiwa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sosiofact yang menggambarkan fenomena kesenian, peristiwa upacara adat, upacara ritual, teater tradisi, tari tradisi, pesta rakyat . aulinan barudak, pamenan anak FSL merupakan bentuk Seni Pertunjukan, yang terdiri atas beberapa medium seni seperti seni tari, seni musik/karawitan, wayang . ayang kulit, wayang, golek, wayang beber, dan wayang pohac. , dan seni teater . Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) FSL di Tana Toraja memiliki berbagai ragam bentuk upacara religi sebagai upacara ritual bersifat sakral, namun selain berfungsi sebagai upacara sakral, ternyata terjadi pergeseran alih fungsi menjadi profan yang menarik wisatawan datang untuk menikmati berbagai adat istiadat dan upacara ritual yang ada di Tana Toraja. Keunikan identitas dari upacara religi banyak menarik wisatawan yang ingin mengunjungi Tana Toraja, tentu saja hal ini dapat untuk meningkatkan sektor ekonomi bagi masyarakatnya. Adapun beberapa FSL yang cukup menjadi ODTW bagi wisatawan di antaranya: . Rambu Solo, merupakan upacara yang dilaksanakan oleh suku Toraja sebagai penghormatan atas meninggalnya keluarga, sekaligus sebagai media untuk mengantarkan arwah dengan nyanyian mantra-mantra sebagai doa menuju alam akhirat. Biasanya tradisi ini dilakukan dalam rangkaian agenda yang cukup padat. Pemotongan kerbau secara massal hingga pemakaman sangat mebutuhkan waktu yang cukup panjang dan biaya yang tidak sedikit, karena menelan beberapa puluh ekor untuk mengantarkan jenazah. Semakin banyak kerbaunya maka semakin dekat untuk menuju alam sorga kehidupan yang abadi. Tinggoro Tedong, merupakan pemotongan kerbau sebagai hewan yang dikorbankan untuk dipotong dengan atraksi budaya yang menjadi kekhasan dari tinggoro tedong yaitu penyembelihan dengan cara potong sekali tebas sehingga kepala kerbau terlepas dari badan kerbau. Petongan kerbau ini menjadi persyaratan yang dipercaya oleh masyarakat Tana Toraja sebagai kendaraan menuju sorga. Silaga Tedong, pada tahap ketiga yang masih dalam rangkaian upacara Rambu Solo yaitu adu kerbau sebelum ditebas oleh orangorang yang ahli dalam pemotongan kerbau ini. Atraksi mengadu kerbau ini menjadi ajang hiburan bagi keluarga yang sedang mengalami kesedihan dan para pelayat yang datang dapat menikmati pertunjukan silage tedong yang dilaksanakan biasanya di tempat yang penuh lumpur basah dan becek. SisembaAo, berikutnya masih dalam rangkaian Rambu Solo yaitu permainan dengan cara berkelahi dengan mengadu kaki. Adu kaki ini dinamakan sisembaAo yang terdiri atas dua tim yang bertarung cukup sengit untuk mendapatkan kemenangan dari pertarungan adu kaki sisembaAo. Pertarungan ini dipimpin oleh wasit karena kedua tim yang bertarung ini ingin saling mengalahkan dan bahkan berbuat kecurangan, sehingga wasit ini yang betugas untuk memisahkan dan melerai jika ada tim yang melakukan kecurangan atau bahkan ada yang mengalami cedera bertarung. MaAo Nene, merupakan upacara yang dilakukan sebagai penghormatan dan mengenang kembali jasad keluarga yang sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Pelaksanaan maAonene mengeluarkan jasad dari peti, biasanya dilakukan minimal tiga tahun sekali. Jasad yang sudah meninggal ini dibongkar untuk kemudian dibersihkan dan diganti baju dengan yang baru setelah beberapa tahun bajunya telah usang dan sobek. Jasad ini juga didandani ibarat seperti manusia hidup. MaAonene dilakukan dalam upacara ritual, di mana kaum lakilaki berdiri membuat lingkaran besar mengelili jasad sambil menyanyikan lagi-lagu mantra sebagai doa kepada jasad dan sebagai hiburan bagi keluarga yang ditinggalkannya. Identitas Folklor Bukan Lisan di Tana Toraja Folklor Bukan Lisan (FBL) membahas seputar peristiwa dalam kehidupan sehari-hari merupakan artefact yang menggambarkan fenomena kesenian, peristiwa upacara adat, pamenan anak nagari, teater tradisi, tari tradisi, pesta rakyat . aulinan barudak, pamenan anak nigar. FBL merupakan bentuk artefak yang dikelompokkan dalam keilmuan Seni Rupa . Tanah Toraja selain memiliki banyak keragaman berbagai seni budaya FL. FSL, juga Folkor Bukan Lisan (FBL) mempunyai banyak aretefak yang dikenal dengan berbagai misteri, karena terdapat pada jimat benda-benda yang dikeramatkan dan dipercaya oleh masyarakat Tana Toraja. Beberapa bentuk benda-benda artefak yang dimiliki yaitu di antaranya: . Kandaure, bentuknya seperti kerucut, yang terbuat dari manik-manik yang berjuntai ke bawah seperti souvenir hiasan interior yang diberi ukiran-ukiran di sekeliling kandaure. Artefak FBL ini biasanya digunakan untuk upacara adat baik peristiwa pemakaman maupun peristiwa pernikahan, karena kandaure ini mempunyai jimat yang dipercaya oleh Tana Toraja untuk mendatangkan berkat dan perlindungan bagi pemiliknya, tetapi juga dapat mendatangkan musibah mala petaka jika melanggar aturan yang sudah dipercaya. Rante babi, benda artefak FBL ini memiliki jimat bagi orang yang mempunyai rante babi ini akan kebal terhadap mara bahaya, seperti kebal terhadap tusukan pisau, tembakan pistol, tusukan anak panah akan terpental tidak dapat menembus dalam tubuhnya. Rumah Adat Tongkonan, ini menjadi khas identitas Tana Toraja yang paling dikenal setiap berkunjung di kota wisata ini. Atapnya yang berbentuk seperti tanduk kerbau, seperti Rumah Gadang adat di Minangkabau yang menjulang ke atas arah ke samping kanan dan kiri, sedangkan Rumah Adat Tongkonan lebih menyerupai tanduk seekor kerbau yang menjulang ke atas arah depan dan belakang. Tongkonan berdiri di atas pondasi kayu yang sangat kokoh dan dihiasi berbagai macam motif ukiran yang didominasi warna merah, hitam, dan kuning. Sama seperti di Minangkabau ketiga warna ini dinamakan warna bendera merawa yang terdiri atas merah, hitam, dan kuning. Tongkonan ini, selain sebagai identitas FBL masyarakat Tana Toraja, juga mempunyai fungsi sebagai tongkonan layuk, karena tempat ini digunakan untuk melaksanakan pemerintahan, tongkonan pekamberan ini merupakan rumah adat milik keluarga dengan keturunannya, dan yang paling sederhana yaitu tongkonan batu yang dimiliki oleh keluarga biasa. Pekuburan Adat Tana Toraja, artefak FBL cukup banyak bentuknya ada yang tersimpan dalam goa, pemakaman batu ukir, pemakaman yang digantung menyerupai bentuk perahu, pemakaman di pohon, dan pemakaman yang disimpan dalam bentuk seperti tabung yang sangat besar memuat beberapa mayat yang ada di dalamnya. Gambar 4. Berbagai macam bentuk artefak FBL di Tana Toraja, seperti kandaure . , rumah adat tongkonan . , rante babi . , pekuburan adat yang di tebing . , perkuburan di goa . (Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti, 2023-2. Pengelompokkan keragaman budaya yang dimiliki Tana Toraja, berdasarkan jenis folklor yang terbagi dalam 3 . bentuk yaitu . Folklor Lisan (FL) terdiri atas sugi, barani, manarang, dan kinawa. Folklor Sebagian Lisan (FSL) terdiri atas upacara rambu tukaAo toraja, upacara pemakaman toraja rambu soloAo, maAotinggoro tedong, dan Ritual Adat MaAonene. Folklor Bukan Lisan (FBL) terdiri atas kandaure, rante babi, tongkonan, dan Berikut tabel Identitas Kelokalan KeteAo Kesu di Tana Toraja: Tabel 1. Makna dan simbol pada Folklor Lisan (FL) sebagai identitas kelokalan KeteAo Kesu. Sumber: berbagai referensi, diolah kembali oleh penulis. Sugi Barani Manarang Kinawa berarti kaya, bukan hanya kaya materi, melainkan juga kaya memiliki gagasan/pengetahuan, kebijaksanaan, keluarga bahagia, dan berbagai hal lainnya. berarti berani, yaitu mau berkorban, keberanian untuk berkata jujur atau berani dalam hal kebenaran, bertanggung jawab, termasuk berani dalam mempertahankan prinsip hidup. berarti cerdas. tidak hanya secara IQ intelegensi saja, melainkan juga cerdas dalam EQ bermasyarakat bijaksana dan cerdas SQ spiritualnya. berarti rendah hati dan lemah-lembut, sopan, beretika, ramah dan tidak suka berbalas dendam, suka membantu dan bergotong royong dalam kehidupan sehari-hari. Tabel 2. Makna dan simbol pada Folklor Sebagian Lisan (FSL) sebagai identitas kelokalan KeteAo Kesu. Sumber: berbagai referensi, diolah kembali oleh penulis. Upacara Rambu TukaAo Toraja Upacara Pemakaman Toraja Rambu SoloAo MaAotinggoro Tedong Ritual Adat MaAonene merupakan upacara yang dilaksanakan oleh suku Toraja sebagai tanda penghormatan kepada arwah keluarga yang meninggal sekaligus sebagai media untuk mengantarkan arwah dengan nyanyian mantramantra sebagai doa menuju alam akhirat. upacara pemakaman dari rumah duka menuju rumah adat tongkonan dengan pemotongan hewan yang dikorbankan yaitu kerbau sebagai kendaraan untuk menuju sorga tempat yang abadi. Semakin banyak kerbau yang disembelih oleh para pejagal dengan sekali tebas, maka arwah juga semakin cepat menuju peristirahatan sebagai bentuk penghargaan dan juga penghormatan terakhir bagi keluarga yang meninggal. Tana Toraja upacara kematian justru dilaksakan lebih mahal karena kehidupan yang abadi ada di puya. merupakan upacara yang dilakukan sebagai penghormatan dan mengenang kembali jasad keluarga yang sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Proses ini mengeluarkan jenazah dari petinya untuk dibersihkan dan diganti bajunya yang telah usang dengan baju yang baru. Tabel 3. Makna dan simbol pada Folklor Bukan Lisan (FBL) sebagai identitas kelokalan KeteAo Kesu. Sumber: berbagai referensi, diolah kembali oleh penulis. Upacara Rambu TukaAo Toraja Upacara Pemakaman Toraja Rambu SoloAo MaAotinggoro Tedong bentuknya seperti kerucut, yang terbuat dari manik-manik yang berjuntai ke bawah. Artefak FBL ini biasanya digunakan untuk upacara adat baik peristiwa pemakaman maupun peristiwa pernikahan. Kandaure dipercaya dan diyakini mempunyai kekuatan untuk melindungi diri. benda artefak ini memiliki jimat bagi orang yang mempunyai rante babi ini akan kebal terhadap mara bahaya, seperti kebal terhadap tusukan pisau, tembakan pistol, tembakan anak panah akan terpental tidak dapat menembus dalam tubuhnya. Rante babi ini ada yang terbuat dari bulu babi, kalung tali yang membuat seseorang mempunyai kekebalan tubuh. menjadi khas identitas Tana Toraja yang paling dikenal setiap berkunjung di kota wisata ini. Atapnya yang berbentuk menyerupai tanduk seekor kerbau yang menjulang ke atas arah depan dan belakang dengan pondasi kayu yang kokoh bahkan sampai berusia puluhan tahun Ritual Adat MaAonene cukup banyak bentuknya ada yang tersimpan dalam goa batu, pemakaman batu ukir, pemakaman yang digantung menyerupai bentuk perahu, pemakaman di pohon, dan pemakaman yang disimpan dalam bentuk seperti tabung yang sangat besar memuat beberapa mayat yang ada di dalamnya. KESIMPULAN Keunikan yang dimiliki di Tana Toraja sebagai daya tarik objek wisata (ODTW) yaitu sebuah bangunan rumah adat tongkonan KeteAo Kesu. Tradisi yang masih kental dalam kehidupan sehari-sehari seperti pelaksanaan upacara daur kehidupan dari kelahiran, pernikahan, dan kematian mempunyai pemahaman ritus yang tidak dapat ditinggalkan. Justru dengan masih kentalnya kepercayaan yang masih berbau mistis. Tana Toraja dikenal secara mendunia dengan berbagai ritual dan pseudo ritual yang digemari oleh para pelancong turis wisatawan lokal atau dari luar. Berdasarkan bentuk folklor, pengelompokkan keragaman budaya yang dimiliki Tana Toraja, terdiri atas tiga jenis bentuk folklor yaitu: . Folklor Lisan (FL) terdiri atas sugi, barani, manarang, dan kinawa. Folklor Sebagian Lisan (FSL) terdiri atas upacara rambu tukaAo toraja, upacara pemakaman toraja rambu soloAo, maAotinggoro tedong, dan Ritual Adat MaAonene. Folklor Bukan Lisan (FBL) terdiri atas kandaure, rante babi, tongkonan, dan pemakaman. Mayoritas masyarakat Tana Toraja memeluk agama Kristen Protestan penganut di Gereja Toraja. Mayoritas ini menunjukkan identitas budaya sebagai penganut Gereja Toraja, meskipun sebagian kecil ada juga yang memeluk agama lain, seperti Islam. Katolik. Hindu, dan Budha menjadi minoritas. Tana Toraja memiliki adat istiadat masyarakatnya mempunyai toleransi yang cukup tinggi untuk saling menghormati antar perbedaan suku, agama, dan ras. Multikulturalisme ini terbangun tidak mencari perbedaan, justru keberagaman yang membuat kerukunan beragama terbangun. Dalam kehidupan seharihari apabila ada hajatan, mereka saling mengundang dan mengunjungi berbagai hajat seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian. Multikulturalisme yang terjadi dalam budaya yang saling memengaruhi dan toleransi partisipasi dapat mewujudkan terbentuknya moderniasi beragama. Hal ini karena mereka mempunyai kesadaran beranggapan bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, banyak jalan untuk menuju kebaikan. Umat islam di masjid, umat hindu di pura, umat budha di vihara, umat kristen/katholik di gereja. Semuanya mempunyai ajaran yang sama untuk menuju kebaikan. Setiap budaya pada dasarnya mempunyai identitas dari suatu daerah. Rumah adat tongkonan keteAo kesu merupakan simbol jati diri masyarakat Tana Toraja Sulawesi Selatan yang mempunyai makna tidak hanya sekedar tempat tinggal, tetapi juga mempunyai fungsi yang lain yang digunakan untuk pelaksanaan upacara adat. Oleh karena itu, budaya Tana Toraja memiliki berbagai keunikan yang menjadi identitas kearifan lokalnya, penting untuk dirawat ketradisiannya, dibina, dan dilestarikan secara kontinyu dan simultan agar tetap dapat bertahan mengikuti perkembangan zaman. Peralihan fungsi dan bentuk berbagai budaya perlu dilakukan sebagai media komunikasi dan silaturahmi yang mampu bertahan dan menjadi identitas lokal genius Tana Toraja itu sendiri di antara berbagai negara di Budaya rumah adat tongkonan keteAokesu seharusnya dapat dikemas menjadi lebih menarik lagi sehingga masyarakat lebih tertarik untuk mengunjungi berbagai wisata yang menarik dengan berbagai kemasan bentuk wisata yang ada di wilayah desa wisata KeteAoKesu Tana Toraja Sulawei Selatan. DAFTAR PUSTAKA