ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia KEKERABATAN BAHASA TERINGIN DAN BAHASA KAMPUNG BARU KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT: KAJIAN LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF Alfi Fadhila ya . Kundharu Saddhono ya . Sarwiji Suwandi yc ya Universitas Sebelas Maret, alfifadhila28@student. ya Universitas Sebelas Maret, kundharu_s@staff. yc Universitas Sebelas Maret, sarwijiswan@staff. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan kekerabatan variasi Bahasa Melayu yang ada di Kotawaringin Barat, yaitu Bahasa Teringin dan Bahasa Kampung Baru. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif deskriptif yang dilakukan adalah menentukan pasangan kosakata yang berkerabat identik, pasangan kosakata fonemis, dan pasangan kosakata fonetik. Penelitian ini juga menggunakan metode kuantitatif, yaitu leksikostatistik untuk menghitung persentase hubungan kekerabatan . , dari metode penelitian ini dapat didefinisikan kata-kata secara statistik kemudian menetapkan pengelompokan bahasa itu berdasarkan persentase. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah teknik simak dan catat. Hasil 75% dari perhitungan leksikostatistik menunjukkan bahwa kedua bahasa yaitu Bahasa Teringin dan Bahasa Kampung Baru memiliki hubungan family language . eluarga bahas. Hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan kekerabatan kedua bahasa sangat dekat, banyak kosa kata yang sama. Perbedaan lebih terletak pada dialeknya saja. Dari 36 kosakata dasar, didapatkan hasil 27 kata yang memiliki pasangan kerabat . Di antara 27 kosakata, kata yang berkerabat dengan kategori identik 16 pasang, memiliki korespondensi fonemis 5 pasang, kemiripan secara fonetik 4 pasang, dan tidak berkerabat 9 pasangan. Kata Kunci: bahasa melayu, kekerabatan bahasa, linguistik historis komparatif How to Cite: Fadhila. Saddhono. , & Suwandi. KEKERABATAN BAHASA TERINGIN DAN BAHASA KAMPUNG BARU KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT: KAJIAN LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF. Bahtera Indonesia. Jurnal Penelitian Bahasa Dan Sastra Indonesia, 9. , 604Ae612. https://doi. org/10. 31943/bi. DOI: https://doi. org/10. 31943/bi. PENDAHULUAN Bahasa merupakan alat komunikasi menyampaikan informasi dan bersosialisasi dengan manusia lain. Bahasa dapat diucapkan atau ditulis. Kedudukan bahasa Indonesia dan bahasa daerah mempunyai keterkaitan yang erat, artinya bahasa daerah berperan sebagai pendukung bahasa nasional. Bahasa daerah di Indonesia sangat beragam. Faktor-faktor Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia seperti perpindahan penduduk, geografi Nusantara sendiri dengan banyak pulau dan pegunungan, dan faktor sosial serta komunikasi menyebabkan terbentuknya keragaman bahasa di Indonesia (Collins. Bahasa memiliki peran sentral dalam membentuk identitas suatu masyarakat dan menjadi cerminan perjalanan sejarahnya. Salah satu daerah di Indonesia dengan keragaman bahasanya adalah Kalimantan. Bahasa Melayu juga berkembang di Kalimantan serta memiliki banyak variasi bahasa yang menjadi warisan, cerminan Kabupaten Kotawaringin Barat. Kalimantan Tengah, panggung bagi ragam kekayaan budaya dan perbendaharaan Bahasa Melayu setempat. Dua variasi bahasa Melayu, yakni Bahasa Teringin (BT) dan Bahasa Kampung Baru (BKB) tumbuh dan berkembang dalam konteks sejarah dan geografis yang unik. Bahasa Teringin merupakan bahasa yang Kotawaringin Barat secara umum dan Bahasa Kampung Baru merupakan bahasa yang digunakan oleh masyarakat kelurahan Kampung Baru di Kabupaten Kotawaringin Baratt. Kajian memberikan landasan yang kokoh untuk memahami perubahan dan evolusi dalam Menurut Purnamalia & Parlina . tujuan dari kajian linguistik historis komparatif adalah untuk mengetahui fakta dan derajat kekerabatan antarbahasa yang berkaitan erat dengan pengelompokan bahasa-bahasa yang berkerabat dalam kelompok bahasa yang sama. Hubungan ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. Leksikostatistik merupakan sebuah teknik dalam pengelompokan bahasa yang mengutamakan penghitungan kata-kata secara statistik kemudian menetapkan pengelompokan bahasa itu berdasarkan persentase kesamaan dan perbedaan suatu bahasa dengan bahasa lain (Keraf, 1. Berikut tabel pengelompokan kekerabatan bahasa berdasarkan persentase statistiknya. Level Presentase Kekerabatan Bahasa . 81-100% Keluarga . 36-81% Rumpun . 12-26% Mikrofilium 4-12% Mesofilium 1-4% Makrofilium 0-1% Keraf . menyatakan bahwa sebuah pasangan kata akan dinyatakan kerabat bila memenuhi salah satu ketentuan . pasangan itu identik, . pasangan itu memiliki korespondensi fonemis, . kemiripan secara fonetis, atau . satu fonem berbeda. Penelitian mengenai kekerabatan bahasa sudah banyak dikaji sebelumnya dengan objek kajian bahasa yang beragam. Persebaran variasi bahasa di Indonesia menjadi objek penelitian yang banyak diteliti. Beberapa penelitian relevan tersebut yaitu pertama, penelitian analisis kekerabatan Bahasa Jawa dan Bahasa Madura. Penelitian oleh Ruriana . menghasilkan temuan bahwa Bahasa Jawa dan Bahasa Madura memiliki hubungan kekerabatan dalam kelompok rumpun . Kemudian, penelitian oleh Mualita . menghasilkan temuan hubungan kekerabatan antara Bahasa Batak Toba dan Bahasa Batak Angkola masuk dalam kelompok keluarga bahasa . Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Penelitian relevan yang menggunakan Bahasa Melayu di Kalimantan juga sudah pernah dikaji oleh para peneliti. Penelitian tersebut dilakukan oleh Jamzaroh . dan Sigiro . Penelitian Jamzaroh mengkaji tentang kekerabatan Bahasa Barangas dan Bakumpai di Kalimantan Selatan, yang menghasilkan temuan bahwa hubungan kekerabatan kedua bahasa tersebut sangat Statistiknya menunjukkan presentase Kemudian, penelitian Sigiro . juga meneliti bahasa di Kalimantan. Namun. Bahasa yang dikaji yaitu Bahasa Dayak. Penelitian tersebut menghasilkan temuan bahwa hubungan antara Bahasa Tamuan. Waringin. Dayak Ngaju. Kadorih. Maanyan, dan Dusun Lawangan adalah keluarga . dan rumpun . Bahasa Melayu juga diteliti oleh Muda & Hamzah . Penelitian ini menelaah hubungan kekerabatan Bahasa Melayu dan Bahasa Che Wong. Masyarakat Malaysia umumnya menggunakan Bahasa Melayu, namun daerah Pahang Tengah didiami oleh sebagian masyarakat Austroasia yang menggunakan Bahasa Che Wong. Temuan dalam penelitian ini adalah adanya kekerabatan antara Bahasa Melayu dan Bahasa Che Wong sebesar 76%, hasil tersebut menunjukkan hubungan family language. Penelitian dengan fokus kajian yang sama juga dilakukan oleh Harijati . tentang kekerabatan Bahasa Wolio dan CiaCia di Kabupaten Buton. Temuan dari kekerabatan antara Bahasa Wolio dan Cia-Cia menunjukkan persentase kognat sebagai family language. Pada penelitian tersebut, peneliti menggunakan teori penyebaran bahasa oleh Ayatrohaedi yang berisi penjelasan bahwa perkembangan suatu bahasa dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor waktu dan faktor tempat. Kedua hal tersebut saling berkaitan dan melengkapi. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang sudah ada sebelumnya adalah penggunaan Bahasa Melayu yang digunakan oleh masyarakat Kabupaten Kotawaringin Barat, yaitu Bahasa Teringin dan Bahasa Kampung Baru. Penelitian dengan objek kajian tersebut belum pernah ada sebelumnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman kekerabatan Bahasa Teringin (BT) dan Bahasa Kampung Baru (BKB). Penelitian ini diharapkan dapat membuka jalan bagi pemahaman yang lebih dalam tentang kompleksitas kekerabatan Bahasa Teringin (BT) dan Bahasa Kampung Baru (BKB) dalam kajian linguistik historis METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif deskriptif yang dilakukan adalah menentukan pasangan kosakata yang berkerabat identik, pasangan kosakata fonemis, dan pasangan kosakata Penelitian ini juga menggunakan metode kuantitatif, yaitu leksikostatistik untuk menghitung persentase hubungan kekerabatan . Leksikostatistik merupakan teknik pengelompokan bahasa yang cenderung mengutamakan analisis katakata secara statistik, pengelompokan tersebut berdasarkan persentase kesamaan dan perbedaan suatu bahasa dengan bahasa lain (Mayangsari, 2. Penelitian ini difokuskan pada kajian linguistik historis komparatif pada Bahasa Teringin (BT) dan Bahasa Kampung Baru (BKB). Kosakata yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 36 pasang kata dari Bahasa Teringin dan Bahasa Kampung Baru. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Teknik pengumpulan daya yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simak dan catat (Sudaryanto, 2. Teknik simak dan catat adalah pendekatan yang dapat memberikan wawasan mendalam tentang penggunaan dan perubahan Bahasa Teringin (BT) dan Bahasa Kampung Baru (BKB). Penelitian ini akan mencakup teknik observasi langsung dan pencatatan detaildetail penting selama interaksi antarpenutur. HASIL PEMBAHASAN Dasar identifikasi kekerabatan Bahasa Teringin (BT) dan Bahasa Kampung Baru (BKB) leksikostatistik dengan mengunakan langkahlangkah teknik leksikostatistik, yaitu: . mengumpulkan kosakata dasar bahasa . menetapkan pasangan dari kedua Bahasa tersebut yang berkerabat. menghitung persentase tingkat kekerabatan Bahasa Teringin dan Bahasa Kampung Baru. Pengumpulan Kosakata Dasar Kerabat Bahasa Teringin dan Bahasa Kampung Baru Tabel 1. 1 Kosakata dasar Bahasa Teringin dan Bahasa kampung baru Gloss Bahasa Bahasa Teringin Kampung (BT) Baru (BKB) Piring Piring Pinggan Kamu Pian Pian Saya Ulun Ulun Mereka Sidanya Sidanya Pisau Lading Lading Kotor Kotor Rigat Air Banyu Banyu Makan Makan Makan Susah Uyuh Uyuh 10 Lelah Hongai Lotih Lama Marah Gelas Perempua Laki-laki Nenek Kakek Tidur Ingat Bohong Kalian Dia Sendiri Gelisah Pintu Mau Sarapan Sombong Nampan Jendela Beli Takut Bibi Adik Pulang Tidak ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. Lambat Meraju Gelas Binian Lawas Sarik Galas Betina Lakian Nea Kai Guring Ingat Kerepau Sidakam Dia Sorang Risau Lawang Handak Sarapan Koyo Talam Longkan Tukar Gola Acil Ading Bulik Kada Lelaki Nini Kai Guring Hengat Keramput Sidakam Inya Seko Mucai Lawang Honda Menyoga Koyo Talam Lelongapa Nukar Gola Acil Ading Bulik Tada Pasangan Kosakata Kebabat Bahasa Teringin dan Bahasa Kampung Baru Tabel 1. 2 Pasangan Kosakata Kerabat Gloss Pisau Kamu Saya Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Bahasa Teringin (BT) Lading Pian Ulun Bahasa Kampung Baru (BKB) Lading Pian Ulun ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. Mereka Makan Susah Lama Gelas Perempua Laki-laki Nenek Kakek Tidur Ingat Kalian Sendiri Pintu Mau Sombong Nampan Jendela Beli Takut Bibi Adik Pulang Tidak BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Sidanya Makan Uyuh Lambat Gelas Binian Sidanya Makan Uyuh Lawas Galas Betina Lakian Nea Kai Guring Ingat Sidakam Sorang Lawang Handak Koyo Talam Longkan Tukar Gola Acil Ading Bulik Kada Lelaki Nini Kai Guring Hengat Sidakam Seko Lawang Honda Koyo Talam Lelongapa Nukar Gola Acil Ading Bulik Tada Sebuah dinyatakan sebagai kata kerabat bila memenuhi salah satu ketentuan yaitu jika pasangan itu . identik, . memiliki korespondensi fonemis, . memiliki kemiripan secara fonetis, . memiliki satu fonem berbeda. Berdasarkan daftar tersebut ditemukan bahwa Bahasa Teringin dan Bahasa Kampung Baru mempunyai pasangan kerabat identik yaitu pasangan kata yang semua fonemnya sama betul yaitu 16 pasangan kerabat, seperti yang terdapat pada 3 berikut ini. Tabel 1. 3 Pasangan Kosakata Kerabat Identik Gloss Bahasa Teringin (BT) Pisau Lading Kamu Pian Saya Ulun Mereka Sidanya Air Banyu Makan Makan Susah Uyuh Kakek Kai Tidur Guring Kalian Sidakam Pintu Lawang Sombong Koyo Nampan Talam Takut Gola Bibi Acil Adik Ading Bahasa Kampung Baru (BKB) Lading Pian Ulun Sidanya Banyu Makan Uyuh Kai Guring Sidakam Lawang Koyo Talam Gola Acil Ading Selain identik, ditemukan pula pasangan yang memiliki korespondensi fonemis. Pasangan ini disebut sebagai pasangan yang memiliki korespendensi fonemis bila perubahan fonemis antara kedua bahasa itu terjadi secara timbal-balik dan teratur, serta tinggi frekuensinya, maka bentuk yang berimbang antara kedua bahasa tersebut dianggap Terdapat 5 pasangan kerabat Bahasa Teringin dan Bahasa Kampung Baru yang memiliki korespondensi fonemis seperti yang dapat dilihat pada tabel 1. 4 berikut ini. Tabel 1. 4 Pasangan Kerabat Korespondensi Fonemis Gloss Bahasa Teringin (BT) Bahasa Kampung Baru (BKB) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Gelas Ingat Jendela Beli Tidak Gelas Ingat Longkang Tukar Kada Galas Hengat Lelongapan Nukar Tada Pasangan kerabat Bahasa Teringin dan Bahasa Kampung Baru ditemukan bila tidak dapat dibuktikan bahwa sebuah pasangan kata dalam kedua bahasa itu mengandung korespondensi fonemis, tetapi pasangan kata itu ternyata mengandung kemiripan secara fonetis dalam posisi artikulatoris yang sama. Ditemukan 4 pasangan kerabat Bahasa Teringin dan Bahasa Kampung Baru yang memiliki kemiripan secara fonetis seperti yang terdapat pada pasangan kata dalam tabel 1. 5 berikut. Tabel 1. 5 Pasangan Kerabat Korespondensi Fonetis No Gloss Bahasa Teringin (BT) Gelas Gelas Ingat Ingat Mau Handak Tidak Kada Bahasa Kampung Baru (BKB) Galas Hengat Honda Tada Persentase Tingkat Kekerabatan Bahasa Teringin dan Bahasa Kampung Baru Setelah diketahui pasangan-pasangan kata berkerabat pada setiap pasangan bahasa kekerabatan antara Bahasa Teringin dan Bahasa Kampung Baru dengan menghitung Persentase tingkat kekerabatan berdasarkan data yang diperoleh dengan mengacu pada rumus dari Crowley dan Keraf yaitu sebagai berikut. ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. ya y 100% ya C = cognates . ata yang berkeraba. K = jumlah kosakata berkerabat G = jumlah gloss Dari 36 kosakata yang diteliti, terdapat 27 kata yang berkerabat antara Bahasa Teringin dan Bahasa Kampung Baru. Dengan demikian, dapat dihitung tingkat kekerabatan antara keduanya dengan menggunakan perhitungan leksikostatik seperti rumus di atas. ya ya = y 100% ya ya= ya= y 100% ya = 0,75 y 100% ya = 75% Hasil 75% dari perhitungan tersebut menunjukkan bahwa kedua bahasa yaitu Bahasa Teringin dan Bahasa Kampung Baru memiliki hubungan family language . eluarga bahas. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kekerabatan kedua Bahasa sangat dekat, banyak kosa kata yang sama. Perbedaan lebih terletak hanya pada Penelitian tentang kekerabatan bahasa yang menghasilkan temuan persentase kognat pada tingkat family language . eluarga bahas. ditemukan dalam penelitian Fatinah . Penelitian tersebut menggunakan Bahasa Kulawi dan Bahasa Kaili di Provinsi Sulawesi Tengah. Keberadaan bahasa tersebut digunakan secara berdampingan oleh Kecamatan Kulawi menggunakan Bahasa Kulawi dan masyarakat Donggala pada umumnya menggunakan Bahasa Kaili. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Berdasarkan letak geografisnya. Kecamatan Kulawi berada di Kabupaten Donggala. Oleh karena itu. Bahasa Kulawi dan Bahasa Kaili memiliki hubungan keluarga bahasa. Hal yang sama juga ditemukan dalam penelitian Abidin . yang meneliti kekerabatan Bahasa Akit dan Duanu di Provinsi Riau. Kedua bahasa tersebut menghitung masing-masing variasi Bahasa Akit dan Duanu secara leksikostatistik menghasilkan persentase rata-rata 53,5%. Berdasarkan kekerabatan bahasa oleh Crowley . , kedua bahasa tersebut memiliki kognat pada family language . eluarga bahas. Bahasa Akit dan Duanu merupakan subkeluarga Bahasa Melayu Kepulauan-Bahasa Talang Mamak. Merujuk Rachmawati et al. , bahasa-bahasa yang terdapat di daerah kepulauan termasuk dalam kategori Bahasa Melayu Dialek Kepulauan. Penelitian serupa yang meneliti kekerabatan bahasa dengan letak geografis penutur berada di dalam satu provinsi atau pulau ada pada penelitian Muhammad & Hendrokumoro . dan Salamun . Kedua penelitian tersebut menghasilkan temuan variasi-variasi bahasa pada pulau kecil di Aceh memiliki hubungan satu keluarga, kemudian temuan pada variasi bahasa yang ada di Provinsi Maluku memiliki hubungan satu keluarga dan dialek. Sejalan dengan hal tersebut, penelitian Erdayani . mengkaji tentang hubungan Bahasa Rejang yang digunakan oleh Suku Rejang di Provinsi Bengkulu dan Bahasa Bulungan yang digunakan oleh Suki Bidayuh di Provinsi Kalimantan Utara. Secara geografis, letak masyarakat penutur berbeda pulau namun hasil perhitungan leksikostatistik menghasilkan temuan bahwa kedua bahasa tersebut memiliki hubungan keluarga. Penyebab hal tersebut adalah kedua bahasa tersebut tergolong dalam Bahasa Austronesia, khususnya pada Bahasa Proto Melayu Polynesia. Penelitian-penelitian yang sudah ada sebelumnya sangat relevan dengan hasil penelitian ini. Penelitan ini memiliki kesamaan hasil kognat bahasa berupa family Penggunaan bahasa masyarakat dalam satu pulau, kabupaten dan juga masyarakat kelurahan atau kecamatan dalam perkembangan bahasa. Faktor geografis tersebut yang memengaruhi dekatnya korespondensi bunyi dari kosakata yang digunakan masyarakat. Hasil penelitian tersebut beririsan dengan hasil penelitian ini, yang mana hasil persentase kekerabatan bahasa berupa family language . eluarga bahas. dan bahasa yang diteliti merupakan bahasa yang digunakan oleh masyarakat dengan letak geografis yang dekat di suatu Adanya hubungan kekerabatan bahasa oleh faktor geografis dalam penelitian ini didukung dengan hasil penelitian Sudirman et . mengenai kekerabatan Bahasa Melayu dan Bahasa Lampung. Variasi bahasa yang berkembang merupakan hasil dari kontak penutur Bahasa Melayu dan Bahasa Lampung sesuai situasi pemakai dan pemakaian dalam dua wilayah yang Akibat adanya persentuhan wilayah geografis dan budaya, maka terbentuklah bahasa dan budaya yang berkerabat antar penutur dalam sebuah lingkungan geografis. SIMPULAN Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Berdasarkan analisis data pada Bahasa Teringin dan Bahasa Kampung Baru, ditemukan 27 kata yang memiliki pasangan kerabat . dari 36 pasang kosakata Bahasa Teringin dan Bahasa Kampung Baru memiliki hubungan kekerabatan pada tingkat keluarga . dengan persentase 75% setelah dihitung menggunakan metode Temuan ini menguatkan hasil penelitian yang yang sudah ada sebelumnya mengenai faktor penyebab tersebarnya Kekerabatan dan variasi bahasa bisa terbentuk karena adanya interaksi masayarkat melalui komunikasi. Letak geografis masyarakat pengguna bahasa memengaruhi perkembangan variasi bahasa itu sendiri. DAFTAR PUSTAKA